Title: KISAH CINTA

Main Casts: Luhan, Sehun, etc

Pairing: Hunhan

Genre: Kingdom AU

Rated: T

Disclaimer: Fiksi ini merupakan karya dari Sherls Astrella dengan judul yang sama.

Di sini saya hanya ingin berbagi cerita dengan maincast member EXO.

Jadi cerita ini MURNI MILIK Sherls Astrella.

Untuk link-nya bisa dilihat di akhir cerita :)

Warning: it's Genderswitch!

Happy reading!

.

.

.

Chapter 2

.

.

Sehun bukanlah seorang pria yang suka membanding-bandingkan. Namun perbedaan tingkah laku dua kakak adik seayah yang berbeda ini benar-benar tidak dapat menghentikan Sehun membandingkan mereka.

Tidak perlu menyebut beda lamanya waktu ia menanti dua gadis ini. Sehun tidak pernah dibuat Luhan menanti. Sebaliknya, Luhanlah yang menantinya.

Tentu saja Luhan yang menantinya bersiap diri. Duke Yunho selalu mengantar Luhan ke villa tempat ia tinggal di Trottanilla. Beginilah cara Duke memaksanya menemani putri kesayangannya. Begitu Duke tahu ia punya waktu luang, ia pasti akan langsung mengusulkan ide. Dan seperti takut ia akan ingkar janji, Duke mengantar Luhan lima belas menit sebelum waktu perjanjian mereka.

Perbedaan yang mencolok di antara mereka adalah sikap diam Luhan dan sikap manja Yoona. Perbedaan mencolok lainnya adalah Luhan tidak pernah menyebut apapun tentang keluarganya dan Yoona selalu mengobral gosip keluarganya terutama tentang Luhan.

Sudah rahasia umum kalau Duke Yunho hanya mencintai Luhan dan Duchess Jessica lebih mencintai Yoona di antara dua anak kandungnya. Perbedaan dukungan di antara mereka mungkin membuat Yoona terdesak sehingga ia selalu menjelek-jelekkan Luhan di depannya.

Sehun tidak peduli akan hal itu karena ia sendiri tahu ia tidak akan memilih seorang pun di antara mereka betapapun cantiknya mereka. Sekalipun mereka bisa mentolerir jiwa petualangannya, ia tidak akan mencintai mereka. Mereka berdua bukanlah wanita terbaik yang pernah dikencaninya. Yoona terlalu suka menjelek-jelekkan orang lain dan Luhan, walau tidak diragukan lagi kecantikannya, adalah anak haram.

Sehun tidak pernah lagi berhubungan dengan Luhan semenjak Duke melamarnya untuk Luhan!

Sepanjang hidupnya, itulah lelucon terbesar yang pernah dialaminya. Memang banyak orang tua yang mengajukan putri mereka padanya, tapi tidak ada yang terang-terangan seperti yang dilakukan Duke of Cookelt.

Suatu sore ketika ia baru pulang dari kencannya, pelayan memberitahunya bahwa Duke of Cookelt tengah menantinya di Ruang Tamu.

Sehun pun bergegas menyambut tamunya. Di saat itu Sehun hanya berpikir Duke tengah mencari kesempatan untuk memaksanya pergi dengan Luhan lagi. Kala itu jadwal kencan Sehun mulai sibuk sehingga ia tidak punya waktu luang untuk Luhan. Sehun sama sekali tidak memikirkan maksud lain ketika melihat wajah gembira Duke Yunho melihat kemunculannya.

"Selamat sore, Duke," sambut Sehun, "Apakah Anda telah lama menanti saya?"

"Selamat sore, Yang Mulia Pangeran," jawab Duke, "Saya tidak menanti Anda untuk waktu yang lama."

"Keperluan penting apakah yang membuat Anda datang?"

"Saya datang untuk putri saya, Luhan."

Sehun pun telah menduganya.

"Saya datang untuk mengajukan Luhan sebagai calon mempelai Anda."

Sehun membelalak. Dari sekian ratus orang tua yang mengajukan putrinya padanya, tidak seorang pun mengajukan putrinya secara terang-terangan seperti ini.

"Saya percaya Anda tertarik pada Luhan. Ia adalah gadis tercantik di Trottanilla dan ia adalah seorang gadis yang berhati lembut. Saya dapat mengatakan Luhan adalah gadis impian setiap pria di dunia. Anda pasti menyesal kalau Anda tidak segera menikahinya." Lalu Duke menambahkan, "Saya yakin Luhan akan menjadi pasangan yang cocok untuk Anda. Ia akan menjadi seorang ibu yang lemah lembut dan ratu yang bijaksana."

Kekagetan Sehun membekukan lidahnya.

"Saya akan memikirkannya," Sehun akhirnya mendapatkan kembali suaranya.

"Anda tidak akan menemukan gadis lain sesempurna Luhan di dunia ini," Duke mendesak Sehun.

Ingin sekali Sehun berseru pada Duke namun tata krama membuatnya berkata tenang,

"Tentu, Duke Yunho. Putri Anda adalah gadis yang sempurna namun saya tidak bisa membuat keputusan sepenting ini secara mendadak. Saya akan memikirkannya baik-baik."

"Luhan adalah pilihan terbaik yang Anda buat."

Sehun benar-benar harus menahan emosinya.

"Saa sangat menghargai kepedulian Anda," Sehun berusaha berkata sesopan mungkin, "Bagaimanapun juga ini bukan hanya menyangkut saya tapi juga seluruh rakyat Helsnivia. Berilah saya waktu untuk memikirkannya. Saya yakin tidak seorangpun yang akan meragukan pilihan saya sebelum saya memberi jawaban."

Duke of Cookelt termenung. "Anda benar. Saya tidak bisa memaksa Anda memberi keputusan secara mendadak."

Sehun lega. Bila Duke terus mendesaknya, dapat dipastikan ia akan kehilangan kontrol dirinya. Ia paling tidak suka didesak menikah. Ia lebih membenci orang lain memaksanya menikahi seseorang. Sekalipun itu adalah orang tuanya, Sehun tidak akan membiarkan mereka memaksakan calon pengantin mereka padanya.

"Pastikan Anda memikirkannya baik-baik," kata Duke dengan penuh harapan. Kalimat itu terus diucapkannya berulang kali hingga kereta keluarga Riddick membawanya pergi.

Bagaimana jawaban Sehun?

Tidak perlu diragukan lagi. Jawabannya adalah tidak! Seumur hidup Sehun tidak akan pernah berpikir untuk menjalin affair dengan anak haram itu apalagi menikahinya.

Beberapa hari setelah mengajukan lamarannya, Duke Yunho jatuh sakit dan dari hari ke hari sakitnya kian parah. Dengan terbaringnya Duke di atas tempat tidur, Sehun tidak pernah lagi bertemu Luhan. Ia juga tidak bertemu gadis itu ketika ia mengunjungi Duke.

Luhan melesat dengan cepat melewati tempat mereka berdiri.

Sehun merasa ia sudah gila. Baru saja ia memikirkan gadis itu dan sekarang ia melihat bayangan gadis itu.

"Dasar anak pelacur!" hujat Yoona.

Sehun bingung.

"Lihatlah itu, Pangeran," Yoona menunjuk rumah bordil di ujung jalan.

Sehun melihat Luhan memasuki tempat haram itu dengan tergesa-gesa.

"Anak haram itu memang tidak tahu malu. Papa terbaring sakit dan ia pergi mencari pria jalang."

Sehun tidak terlalu memikirkan di mana Luhan berada ketika ayah yang sangat mencintainya terbaring sakit. Ia juga tidak peduli tapi apa yang dilihatnya benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Luhan memang benar-benar putri seorang pelacur!

"Mama sudah berbaik hati mencarikan suami yang pantas untuknya tapi anak haram itu tidak tahu terima kasih. Ia lebih suka mencari pria jalang daripada pria terhormat. Benar-benar anak pelacur!"

Mulai sudahlah Yoona membuka affair-affair keluarganya. Sehun tidak ingin mendengarnya. Urusan keluarga mereka bukanlah urusannya. Ia berhubungan dengan Yoona hanya untuk bersenang-senang bukan untuk menjadi bagian keluarga itu.

"Papa lebih parah lagi! Earl of Mongar bersedia menjadi suami Luhan sudah baik tetapi ia menolak. Ia terlalu memanjakan Luhan. Ia memberikan segala yang terbaik untuk Luhan tapi ia lupa siapa Luhan itu. Putri haram seperti dia tidak akan pernah diterima di kalangan terhormat seperti kita."

Sehun tidak tertarik. Biarlah Luhan menikah dengan Earl of Mongar atau pria jalang atau siapa pun juga. Itu bukan urusannya dan ia tidak ingin tahu!

"Tapi begitu Papa meninggal, Luhan tidak akan bisa menghindar lagi. Mama sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahannya. Luhan pasti berterima kasih seorang Earl mau menikahinya."

Kepala Sehun berputar cepat untuk menutup mulut Yoona.

"Lady Yoona, bukankah Anda ingin melihat opera?" Sehun bertanya, "Di rumah opera manakah pertunjukan yang menarik Anda itu?"

Yoona langsung mencari-cari rumah opera yang menjadi alasannya meminta Pangeran Sehun menemaninya. Ketika ia menemukannya, ia melingkarkan tangan di siku Sehun dan dengan bangga berjalan di sisinya.

Sesaat sebelum mereka memasuki gedung itu, Sehun melihat kuda Luhan masih ada di depan rumah border.

Itu bukan urusannya, Sehun mengingatkan dirinya. Sehun tidak mau tahu tapi sepanjang hari itu ia tidak dapat menghentikan dirinya sendiri berpikir bagaimana mungkin seorang anak meninggalkan ayah yang sangat mencintainya terbaring sakit di tempat tidur dan bersenang-senang dengan pria jalang di rumah bordir. Inikah yang dinamakan anak durhaka? Sehun tidak dapat mengerti dan ia tidak habis pikir dibuatnya.

Memang seseorang tidak bisa menilai orang lain hanya dari penampilannya.

Sehun ingat Luhan begitu memukai di saat mereka bertemu. Rambut pirang pucatnya yang hampir putih, tertata rapi dan berhiaskan pernak-pernik batu mulia. Gaun biru mudanya senada dengan sepasang mata biru mudanya yang dalam. Bulu matanya yang lentik memahkotai sepasang matanya yang malu-malu. Bibirnya yang memerah tersenyum manis – memberi nuansa menyegarkan pada wajahnya yang manis. Gerakannya yang lemah gemulai begitu memukau. Suaranya yang lembut menenangkan pikiran. Tutur katanya lembut dan di atas semua itu, ia pendiam dan tidak banyak menuntut!

Sehun sempat memberinya nilai wanita terbaik yang pernah ditemuinya. Ia mungkin memantapkan diri untuk memilih Luhan kalau saja ia tidak tahu latar belakang Luhan. Sekarang setelah melihat sendiri Luhan mengabaikan orang tuanya yang sakit parah untuk tindakan yang terhina, Sehun bersyukur atas mulut penggosip Yoona.

Di luar sana masih banyak wanita terhormat yang lebih pantas untuk mendampinginya. Sehun tidak terburu-buru untuk menemukannya, ia masih punya banyak waktu.

"Demi Tuhan, Jongin!" pekik Luhan, "Apa kau sadar apa yang kaulakukan!? Ayahmu terbaring sakit dan kau mempermalukan nama keluarga Riddick. Apa kau pikir Yunho akan senang mendengarnya!? Kau akan membuatnya mati saat ini juga!"

"Biar saja ia mati," balas Jongin, "Ia tidak mencintaiku! Ia hanya mencintaimu!"

Tangan Luhan melayang dengan cepat ke wajah Jongin.

"Hei!" protes Jongin marah.

"Katakan itu lagi," ancam Luhan, "Dan kali ini aku akan memastikan namamu tercoret dari daftar ahli waris Yunho."

"Kau tidak punya hak! Kau bukan kakakku!"

"Ya, aku bukan kakakmu," balas Luhan dingin, "Tapi jangan lupa ayahmu lebih mempercayaiku daripada kalian. Satu saja kalimat keluar dariku, kau tidak akan pernah mewarisi gelar Yunho."

Jongin geram. Ia marah.

"Kau bisa menyingkirkanku saat ini juga," Luhan mengemukakan pikiran Jongin, "Kau bisa membunuhku. Aku tidak peduli. Tapi kau tahu bila aku tidak ada, kau tidak akan mewarisi gelar Duke of Cookelt sampai Duchess Jessica meninggal atau…," Luhan mengancam, "Mungkin tidak akan pernah mewarisinya seumur hidupmu."

Jongin semakin geram dibuatnya.

Jongin boleh lebih tinggi darinya. Ia boleh lebih tegap dan besar dari ia yang hanya tiga tahun lebih tua. Luhan tidak takut. Luhan sadar Jongin tidak dapat berbuat apa-apa padanya. Jongin pun tahu hanya Luhan yang bisa membawanya ke gelar Duke of Cookelt.

Duchess of Cookelt yang gila harta dan kekuasaan tidak akan melepaskan begitu saja kuasanya atas harta keluarga Riddick setelah kematian Duke. Bahkan sudah terlihat tanda-tanda ia rela memberikan gelar itu pada pria lain yang tak bergelar dan jauh lebih kaya dari keluarga Riddick. Semenjak Duke of Cookelt jatuh sakit, Duchess Jessica mulai mencari pria muda yang berambisi dan kaya raya.

Luhan memang bukan bagian dari keluarga Riddick tapi Duke mempercayainya sebagai tangan kanannya. Duke bahkan berniat menunjukkan Luhan sebagai wali Jongin sampai putranya itu cukup usia dan matang.

"Mengapa kau tega mengatakan hal sekejam itu?" air mata Luhan jatuh, "Tidakkah kau sadari besarnya cinta Yunho padamu? Apa yang akan dikatakannya kalau ia tahu perbuatanmu? Tidakkah kau pernah berpikir hatinya akan hancur melihat apa yang telah kau perbuat?"

"Memangnya apa salahku?" Jongin tidak terima, "Papa sendiri juga sudah mempermalukan namanya sendiri," mata Jongin mengejek Luhan.

"Harus berapa kalikah kukatakan padamu, aku bukan putri Yunho."

"Mana buktinya" tantang Jongin, "Aku juga bisa mengatakan aku bukan putra Duke of Cookelt, tapi mana buktinya!? Mama sendiri yang mengatakan kau adalah putri Papa dengan seorang pelacur. Apa salahnya aku pergi ke tempat itu?"

"Kau tahu apa yang dilakukan ayahmu itu tidak benar, lalu mengapa kau mengikutinya!?" suara Luhan meninggi dengan tidak sabar.

"Siapa yang mengatakannya!?" bantah Jongin, "Itu umum. Taemin berkata seorang pria akan terlihat lebih berwibawa dengan mempunyai banyak wanita di sisinya."

Luhan putus asa. Kata-katanya sama sekali tidak berguna untuk Jongin.

Ia datang ke rumah terkutuk itu dengan wajah tebal. Ia sama sekali tidak mempedulikan omongan orang lain. Ia bahkan tidak memikirkan nama baiknya sendiri. Dengan niat bulat, ia datang untuk membawa Jongin pulang.

Sang pemilik menduga ia adalah seorang gadis muda yang hendak bergabung. Para tamu menduga ia adalah salah satu di antara wanita penghibur yang datang terlambat. Para wanita penghibur melihatnya dengan sorot mata tidak suka. Namun Luhan tidak peduli semua itu. Ia menahan rasa malu dan jijiknya. Dengan langkah-langkahnya yang tegas, Luhan mencari Jongin di antara para pria jalang yang menggodanya.

Pemuda yang menjadi penyebab kesialannya ini duduk dengan suka cita di antara para wanita yang berpakaian tidak sopan.

Luhan harus menahan dirinya untuk tidak berteriak pada putra satu-satunya Duke of Cookelt itu. Ia tidak peduli kalau ia mempermalukan Jongin. Luhan hanya tidak mau mempermalukan dirinya lebih dalam lagi.

Ia berdiri tegak di depan Jongin. Matanya menatap tajam pemuda itu dan bibirnya mengatup rapat.

Untuk beberapa saat Jongin tidak mempedulikan keberadaannnya. Ia terus menggoda wanita-wanita di sampingnya. Namun tatapan tajam Luhan membuat mereka tidak nyaman sehingga mereka pergi meninggalkan Jongin berdua dengan Luhan.

"Apa maumu?" itulah kalimat pertama yang diucapkan Jongin. Itupun diucapkannya dengan kasar.

"Pulang saat ini juga sebelum aku bertindak," kata Luhan tegas dan dingin.

"Memangnya apa yang bisa kaulakukan?" tantang Jongin.

"Jangan memaksaku, Jongin," Luhan memperingati dengan tajam.

"Kau kira aku takut padamu?" Jongin menyilangkan tangan di dadanya dan menatap Luhan dengan angkuh.

"Baik," Luhan berkata dingin, "Lakukan apa yang kausuka. Selamat tinggal."

Tidak butuh satu menit untuk menyadarkan Jongin apa yang bisa dilakukan Luhan. Sebelum Luhan mencapai pintu, ia telah mengikuti gadis itu dan tanpa membantah lagi pulang bersama Luhan.

Luhan tak habis pikir rusaknya keluarga Riddick. Di manakah letak kesalahan dalam keluarga ini sehingga tak satupun yang peduli pada Duke? Di mana salah salah pendidikan moral keluarga ini sehingga Jongin yang masih empat belas tahun ini suka menghabiskan waktu bersama pelacur-pelacur hina itu.

Luhan frustasi. Tiba-tiba saja ia merasa masa depan keluarga Riddick dan Cookelt ada di pundaknya. Luhan berusaha melakukan yang terbaik demi Duke Yunho tapi semua itu tidak berguna. Satu-satunya hal yang membuat Jongin segan padanya adalah posisinya di mata Duke Yunho.

Beberapa tahun terakhir ini ketika kesehatan Duke mulai berkurang, ia berusaha mengubah kepribadian Jongin. Setelah Duke terbaring lemah di tempat tidur, ia berusaha mempersiapkan Jongin menjadi penerus Duke Yunho. Tapi apakah yang bisa dilakukannya? Putra satu-satunya yang begitu dijaga Duke Yunho itu sama sekali tidak menghargai cinta ayahnya. Ia bahkan menginginkan kematian ayahnya secepat mungkin.

Duchess of Cookelt sudah tidak perlu dikatakan. Ia tidak mencintai Duke. Ia hanya mencintai harta dan kekuasaan keluarga Riddick ini. Ia bahkan tidak segan-segan merebut kuasa atas harta dan wilayah kekuasaan keluarga Riddick dari putranya.

Yoona juga tidak perlu dibicarakan. Tahu ia tidak bisa turun dalam perebutan antara ibu dan adik setengah darahnya, ia memilih memanfaatkan kecantikannya untuk merebut hati pria kaya raya.

Entah apa jadinya keluarga ini setelah kepergian Duke.

Luhan putus asa. Ia tidak tahu bagaimana ia harus bertanggung jawab pada orang yang telah begitu berjasa padanya.

"Tuan Puteri, Anda baik-baik saja?"

Luhan terkejut. Melalui sela-sela air matanya, ia menatap pengacara kepercayaan Duke of Cookelt, Jongdae.

Pria tengah baya itu berlutut di depan Luhan. "Kuatkan diri Anda," Luhan tersenyum, "Menjaga orang sakit memang tidak mudah. Belum lagi ditambah tingkah keluarga Riddick." Jongdae meletakkan tangan di pundak Luhan dan berkata, "Saya selalu siap membantu Anda."

"Oh, Jongdae," ingin sekali Luhan mengeluarkan segala unek-uneknya, "Kau begitu manis," Luhan tersenyum manis.

"Ini jauh lebih baik," Jongdae menghapus air mata Luhan, "Jangan biarkan Duke melihat wajah sedih Anda."

Jongdae membuat Luhan tersadar. "Apa yang membuatmu datang?" tanyanya ingin tahu.

Jongdae adalah seorang pria yang baik. Ia adalah satu-satunya pria yang benar-benar menghargainya. Hanya ia pula yang tidak terpengaruh Duchess Jessica. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Duke. Namun beberapa hari belakangan ini ia sangat sibuk.

"Duke memanggil saya."

Luhan terperanjat. Apakah ini artinya Duke Yunho tidak tidur seperti dugaannya? Apakah ini artinya Duke mendengar perdebatannya dengan Jongin?

"Jangan khawatir, Tuan Puteri," hibur Jongdae melihat wajah pucat Luhan, "Semua tidaklah seburuk pikiran Anda."

Luhan mencoba tersenyum di atas kekhawatirannya.

"Haruskah kita menemui Duke sekarang?" Jongdae mengulurkan tangannya.

Luhan menerima uluran tangan itu dan membersihkan gaunnya serta menyeka sisa-sisa air matanya sebelum membuka pintu tempat ia bersandar dan menangis.

"Kaukah itu, Luhan?" sambut Duke.

"Ya, Yunho. Ini aku," Luhan berdiri di ujung tempat tidur. Luhan tidak berani mendekat. Ia tidak mau Yunho melihat matanya yang masih memerah. "Dan Jongdae," tambah Luhan.

"Mengapa kau menangis, Luhan?"

Luhan kaget.

"Katakan apakah Jongin membuat ulah lagi? Aku mendengar teriakan kalian."

Luhan semakin pucat pasi.

"Biasalah, Duke," Jongdae tersenyum, "Jongin masih anak-anak. Sudah biasa pemuda seusianya membuat tingkah."

"Kuharap ia tidak melakukan sesuatu yang memalukan."

Sekarang Luhan berharap ia langsung berdebat dengan Jongin di tempat terkutuk itu.

"Jangan khawatir, Yunho," Luhan segera menjawab, "Ia baik-baik saja. Kau bisa mempercayaiku."

"Mendekatlah, Luhan."

Luhan tidak berani mendekat tapi ia tidak bisa mengabaikan permintaan itu.

"Katakan padaku," Yunho meraih tangan Luhan, "Apa yang membuatmu menangis?"

Sebelum Luhan menjawab, Yunho berkata,

"Aku bermimpi bertemu orang tuamu. Mereka menanyakan keadaanmu padaku dan aku berjanji pada mereka aku tidak aku meninggalkanmu seorang diri sebelum aku melihatmu pulang ke Helsnivia."

Pecahlah lagi air mata Luhan. Luhan berlutut di sisi Yunho. "Kaulah, Yunho," isaknya, "Kaulah yang membuatku menangis. Hentikan omong kosong ini. Jangan membuatku semakin bersedih."

"Luhan, putri cilikku yang cantik," Yunho membelai kepala Luhan dengan jari jemarinya yang bergetar, "Aku juga tidak ingin meninggalkanmu namun nyawaku ini bukanlah milikku. Tuhanlah yang memilikinya dan sekarang Ia memberitahu waktuku sudah tidak banyak."

"Jangan mengatakan itu," isak Luhan, "Jangan pernah mengatakan omong kosong ini selama kau masih di sini!"

Yunho tersenyum sedih.

"Tuan Puteri," Jongdae meletakkan tangan di pundak Luhan. Hatinya ikut pedih melihat Luhan. "Kuatkan diri Anda."

"Ah, Jongdae, rupanya kau sudah ada di sini," kata Duke dengan suara lemahnya.

"Ya, Yang Mulia Duke," Jongdae tersenyum.

"Apakah kau sudah siap membuat surat wasiatku?" tanyanya.

Luhan mencengkeram tangan Yunho. Matanya terbuka lebar.

"Kapanpun Anda menginginkannya, Yang Mulia," jawab Jongdae.

"Hentikan omong kosong ini!" sergah Luhan, "Tidak ada surat wasiat! Yunho akan sehat kembali."

"Luhan…," ujar Duke sedih dan ia terbatuk-batuk – membuat Luhan panik.

Luhan menyeka darah yang keluar dari mulut yang bergetar itu dengan sabar.

Jongdae dibuat sedih oleh pemandangan itu.

Luhan melihat wajah tua yang pucat itu. Sekalipun ia menyangkalnya, Luhan tahu Yunho sudah tidak dapat ditolong lagi. Maka ia pun duduk lemas di lantai.

Yunho menggenggam tangan gadis itu seolah-olah ingin memberinya kekuatan.

Jongdae menarik kursi terdekat, duduk dan mengeluarkan secarik kertas dan pena – mempersiapkan diri mencatat segala yang dicuapkan Duke.

Luhan tidak mau mengetahui isi surat wasiat Duke. Ia pun beranjak bangkit.

"Luhan," tangan Duke menarik tangan Luhan dan ia kembali terbatuk-batuk, "Aku ingin kau ada di sini," pintanya.

Satu-satunya hal yang paling tidak diinginkan Luhan adalah mengabaikan permintaan orang yang begitu berjasa padanya. Maka, ia pun kembali duduk di lantai di sisi Duke – menggenggam tangannya.

"Tulislah, Jongdae," kata Duke dengan suara lemahnya, "Aku, Yunho Riddick, Duke of Cookelt ke 27, pada hari ini mewariskan seluruh harta keluarga Riddick beserta wilayah kekuasaannya pada Jongin Riddick, satu-satunya penerusku. Hingga Jongin mencapai usia dua puluh satu tahun, Luhan Yvonne Lloyd akan menjadi walinya."

Jari-jemari Jongdae terhenti.

Luhan membelalak kaget.

"Itu tidak mungkin, aku masih belum…"

"Aku sudah memutuskannya," Duke of Cookelt berkata tegas seperti saat ia masih sehat.

"Itu tidak mungkin, bukankah begitu Jongdae?" Luhan berpaling pada pertolongan yang lain.

"Bila M'lord sendiri yang menunjuk," kata Jongdae, "Maka tak seorangpun bisa berbuat apa-apa."

Luhan terdiam. Ia sudah berkata pada dirinya sendiri. Begitu Yunho meninggal dunia, ia akan memutuskan segala hubungan dengan keluarga ini. Luhan bahkan berancang-ancang untuk memulai petualangannya sendiri. Tapi… nampaknya hal itu tidak mungkin lagi.

"Tidak ada satu keputusan Jongin pun yang dibuat tanpa persetujuan Luhan," Duke meneruskan.

Luhan merapatkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu ia tidak punya suara. Maka ia pun membiarkan Jongdae menulis segala yang dikatakan Duke dan mengantar Jongdae ke pintu setelah Duke selesai.

Luhan tidak mau membahas surat wasiat itu. Ia memilih untuk bersikap tidak tahu apa-apa ketika Duchess bertanya padanya apa keperluan Duke memanggil Jongdae pada saat mereka berkumpul di Ruang Makan malam itu.

"Omong kosong!" seru Duchess Jessica, "Kau bersama tua bangka itu sepanjang hari. Tak mungkin kau tidak tahu apa tujuan tua bangka itu memanggil Jongdae."

Luhan benar-benar tidak mengerti keluarga ini. Selamanya ia tidak akan dapat memahami kesirikan, curiga serta persaingan dalam keluarga ini.

"Bagaimana mungkin ia tahu, Mama," Yoona ikut turun suara, "Kalau sepanjang hari ia menghabiskan waktu di rumah pelacuran."

Mata Duchess Jessica langsung membelalak lebar. Mulutnya menganga.

"Dasar tidak tahu malu!" pekik Duchess setelah ia mencerna kemarahannya. "Apa kau ingin mempermalukan nama keluarga ini, makhluk haram!?"

Luhan tidak mau berpendapat.

"Katakan apa tujuanmu melacur!?" gunung kemarahan Duchess meletus, "Apa kau kurang puas dengan Earl of Mongar!? Apalagi yang kaucari!? Kaukira ada pria yang mau wanita terhina seperti kau!?"

Luhan sama sekali tidak ingin memberi tangggapan. Telinganya sudah kebal oleh caci maki Duchess.

Duke terbaring tak berdaya di kamarnya. Namun sang Duchess lebih tertarik mengetahui kepada siapa kuasa atas harta keluarga Riddick diwariskan. Yoona lebih tertarik menyudutkan dirinya dan Jongin, sang pewaris Duke of Cookelt, berpura-pura menjadi anak baik.

Tingkah keluarga ini membuat perut Luhan mual. Kondisi Duke sudah menghilangkan selera makannya belum lagi ditambah ulah tiga orang ini.

Tanpa memberi tanggapan apapun, Luhan berdiri.

"Mau ke mana kau!?" bentak Duchess of Cookelt, "Aku belum selesai denganmu!"

"Yang Mulia Duchess of Cookelt," akhirnya Luhan membuka mulut, "Bila Anda memang ingin tahu, mengapa Anda tidak langsung bertanya pada Jongdae?" dengan tenangnya Luhan melanjutkan, "Di antara kita tidak ada hubungan darah. Saya tidak akan mencampuri urusan Anda. Saya pun berharap Anda menghormati saya." Kemudian Luhan tersenyum manis, "Selamat malam," dan ia membalik badannya menuju pintu.

"Dasar makhluk hina tidak tahu diri!" seru Duchess.

"Pelacur hina!" timpal Yoona.

Luhan menutup pintu dengan perlahan – menghentikan laju makian kedua wanita itu ke dalam telinganya.

Luhan bersandar di pintu. Air matanya menetes lagi untuk Duke. Ia merasa begitu kasihan pada Duke. Keluarganya lebih mencintai hartanya daripada dirinya sendiri.

Luhan segera menghapus air matanya. Ia tidak mau terlalu berlarut dalam kesedihan. Ia lebih tidak mau seorang dari tiga orang itu melihatnya menangis. Luhan tidak suka membiarkan mereka berpikir ia menangis oleh caci muka mereka. Pikiran itu hanya akan membuat mereka semakin berkuasa atasnya. Sesungguhnya Luhan tidak peduli pada caci maki mereka terutama Duchess dan putrinya.

Luhan menuju kamar Duke.

Duke sudah tidur pulas. Ia tampak begitu tenang. Seulas senyum menghiasi wajah tuanya.

"Selamat malam, Yunho," bisik Luhan, "Bermimpilah yang indah dan segeralah sembuh." Hati Luhan pedih memikirkan Duke akan meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Luhan merapikan selimut Duke, mencium kedua pipinya, memastikan jendela kamar Duke tertutup rapat kemudian kembali kekamarnya.

Baru beberapa langkah Luhan meninggalkan kamar Duke ketika Jongin mencegatnya.

"Jadi," Jongin berkata dengan nada mengejeknya, "Sepanjang hari ini kau melacurkan dirimu."

Luhan tidak menanggapi. Ia terus berjalan menuju kamarnya.

"Kalau kau begitu ingin menemukan pria kaya untuk menunjang kehidupanmu setelah Papa meninggal, mengapa kau tidak tinggal saja di sini? Kau bisa menjadi gundikku."

Luhan terperanjat. Jongin pikir karena siapakah ia pergi ke tempat terkutuk itu? Beraninya ia berkata seperti itu padanya!?

"Atau mungkin kau lebih tertarik pada tawaran Taemin?"

Luhan langsung membalikkan badan. Matanya menatap tajam pemuda itu.

"Jangan berpura-pura suci, Luhan," ejek Jongin, "Aku mengerti kalau kau sudah lelah menjaga tua bangka itu. Kau tidak perlu berpura-pura menjadi anak berbakti. Kau pun mengharapkan kematian tua bangka itu bukan?"

"Beraninya kau!" tangan Luhan melayang.

Jongin menangkap tangan Luhan. "Aku tidak akan membiarkanmu menamparku dua kali dalam sehari."

"Kau anak yang tidak berguna!" maki Luhan, "Bisa-bisanya kau mengharapkan kematian ayahmu sendiri!" Air mata Luhan jatuh lagi.

"Lihatlah dirimu," Jongin tersenyum mengejek, "Walau kau marah, kau masih tetap cantik," Jongin menarik Luhan ke dalam pelukannya, "Aku tidak percaya tidak seorang pria pun yang lolos dari kecantikanmu."

"Lepaskan aku!" Luhan memberontak.

Jongin tertawa geli.

"Apa yang kaulakukan!" Luhan mendorong Jongin kuat-kuat. "Lepaskan aku!"

"Jangan berpura-pura lagi, Luhan," Jongin mengejek Luhan. Matanya menatap Luhan penuh nafsu – membuat Luhan bergidik.

"Kau tertarik pada ide tidur bersamaku, bukan?"

Jantung Luhan melompat kaget. "Kau sudah gila!" makinya.

Jongin tertawa dengan suara tawa yang membuat Luhan jijik. "Ya, aku sudah gila. Aku tertarik pada kakak setengah darahku."

"Aku bukan kakakmu!"

"Ya, kau bukan kakakku."

Luhan tidak menyukai nada pemuda ini.

"Kau memang bukan kakakku. Kita hanya saudara seayah beda ibu. Tidak akan ada yang memprotes kalau kau tinggal bersamaku. Semua pria juga mempunyai simpanan."

"Mati pun aku tidak sudi!"

"Luhan… Luhan…," gumam Jongin, "Kata-katamu dengan keinginanmu berbeda jauh."

"Apa maksudmu!?" Luhan dibuat tidak nyaman olehnya.

"Kau memang pandai berpura-pura," Jongin membelai wajah Luhan. Sepasang mata hijaunya menatap lekat-lekat wajah Luhan dengan penuh nafsu.

Cara Jongin membelainya, cara Jongin menatapnya, membuat Luhan bergidik. Mau tidak mau Luhan teringat pada mata jalang pria-pria di rumah pelacuran. Luhan sadar ia harus segera melepaskan diri dari bahaya yang ditebarkan Jongin.

Luhan menginjak kaki Jongin dengan tumit sepatunya.

Jongin merintih kesakitan.

Luhan memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.

"Mau ke mana kau!?" Jongin menarik tangan Luhan dan mengurungnya di dinding. "Kau tidak akan ke mana-mana!"

"Lepaskan aku!" Luhan mendorong Jongin.

"Kau benar-benar membuatku bergairah," tangan Jongin menuju dada Luhan.

Luhan panik. Tangannya melayang menampar wajah Jongin.

Jongin menangkap tangan Luhan. "Sudah kukatakan aku tidak akan membiarkanmu menamparku dua kali dalam sehari," Jongin menahan kedua tangan Luhan di tembok dan ia menunduk untuk mencium Luhan.

Otak Luhan berputar cepat. Sebelum ia sendiri menyadarinya, kakinya telah melayang ke daerah di antara kedua paha Jongin.

Jongin menjerit kesakitan.

Luhan tidak membuang waktu untuk kabur. Ia berlari secepat mungkin ke dalam kamar Duke.

Begitu ia menutup pintu kamar, Luhan bersandar di pintu dengan lega. Hanya tempat inilah yang bisa melindunginya dari nafsu Jongin. Hanya keberadaan Duke Yunholah yang bisa menghentikan kegilaan Jongin.

Luhan tidak tahu dari mana Jongin belajar menjadi pria jalang. Siapa yang mengisi otak pemuda itu dengan nafsu gilanya? Luhan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya dengan pemuda ini.

Semua pria sama saja. Mereka begitu bangga bila mereka mempunyai banyak wanita simpanan. Tak seorang pun merasa hal itu salah dan mereka telah meracuni pikiran para pemuda. Karena itulah Luhan yakin ia tidak akan pernah menikah.

Namun Jongin bukan hanya diracuni pria-pria itu. ia juga telah diracuni oleh ibu dan kakaknya. Mereka telah merusak pemuda yang akan menjadi pemimpin keluarga Riddick! Bahkan ketiganya mendoakan kematian Duke!

"Teganya…," gumam Luhan, "Teganya mereka…"

"Luhan, kaukah itu?" sebuah suara lirih mengalun dari tempat tidur.

Luhan terperanjat. Ia segera menghapus air matanya. "Ya, Yunho, ini aku," Luhan mendekat.

"Apa yang mereka lakukan padamu?"

"Tidak ada," jawab Luhan, "Mereka tidak melakukan apa pun padaku."

"Mengapa kau menangis?"

Luhan tidak dapat menjawab.

"Aku bermimpi bertemu orang tuamu," Duke berkata, "Mereka mengajakku pergi berlayar namun sebelum aku menjawab, kau yang masih gadis kecil berlari ke arahku sambil menangis."

Pecahlah sudah air mata Luhan. Luhan berlutut di sisi Duke dan menangis tersedu-sedu. Ia tidak perlu diterangkan apa arti mimpi itu.

"Luhan, putriku," Duke Yunho meletakkan tangan keriputnya di kepala Luhan, "Aku telah berjanji pada orang tuamu untuk membuatmu selalu tersenyum. Jangan menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis."

"Baik, Yunho," Luhan menghapus air matanya, "Aku tidak akan menangis lagi."

"Kau jauh lebih cantik kalau tersenyum."

Melalui sinar rembulan yang menyelinap melalui jendela, Luhan melihat seulas senyum di wajah Duke. Luhan pun mencoba tersenyum walau hanya seulas senyum sedih.

"Aku bahagia. Aku bisa berkata pada Changmin, aku telah membesarkan putri tercintanya dengan penuh cinta. Gadis kebanggaannya telah menjadi seorang wanita cantik. Changmin akan sangat bangga melihatmu."

Duke tersenyum bahagia – membuat Luhan pilu.

"Kau begitu mirip ibumu," kata Duke, "Melihatmu, rasanya seperti melihatnya lagi. Ibumu adalah seorang gadis cantik yang periang. Ia tidak pernah menangis. Ia tidak pernah mengeluh bahkan dalam keadaan yang paling sulit."

Duke terbatuk-batuk.

Luhan segera membasahi kain dengan air di dalam baskom yang selalu tersedia di sisi pembaringan. Dengan telaten, ia membersihkan wajah Duke Yunho. Hatinya hancur melihat darah itu.

Duke tersenyum sedih. "Kau mewarisi ketelatenan ibumu dan ketegaran ayahmu. Kau adalah pusaka mereka. Aku akan begitu sedih meninggalkanmu seorang diri." Duke kembali terbatuk-batuk.

"Oh, Yunho," pinta Luhan, "Jangan berbicara lagi."

"Satu-satunya penyesalanku," batuk kembali menghentikan Duke melanjutkan kalimatnya.

Luhan harus menahan kuat-kuat air mata di pelupuk matanya. "Yunho," katanya menahan isak tangis, "Kumohon, beristirahatlah."

"Changmin begitu ingin memulangkanmu ke Helsnivia," Duke Yunho mengabaikan permintaan Luhan.

Luhan tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia menggigit bibirnya rapat-rapat untuk mencegah isak tangisnya terdengar oleh Duke. Dengan mulut tertutup rapat, ia mendengarkan Duke sambil menyeka bibir Duke ketika ia kembali batuk.

Malam ini akan menjadi malam yang melelahkan tapi Luhan tidak akan mengeluh. Saat ini ia hanya ingin melewatkan setiap detik yang berharga ini dengan ayah angkat tercintanya.

Luhan menatap Duke yang sudah tertidur nyenyak tanpa suara.

Sepanjang malam Duke terus mengenang masa mudanya bersama Changmin di sela-sela batuknya yang kian parah.

Kemarin sore batuk Yunho tidaklah parah. Hanya sesekali ia terbatuk darah tapi sepanjang malam batuknya hampir tidak pernah berhenti.

Luhan menatap wajah tua itu dengan pilu. Tidak adakah yang bisa dilakukannya untuk menyenangkan Duke? Tidak adakah yang bisa dilakukannya untuk memenuhi keinginan terakhir sang Duke?

Luhan tidak bisa memenuhi keinginan ayahnya ketika ia sekarat. Hingga detik ini ia terus menyesalinya. Walau pada akhirnya keinginan ayahnya terwujud, Luhan terus berharap ia dapat memenuhi keinginan ayahnya sebelum ia meninggal. Keinginan terakhir ayahnya adalah bertemu dengan Duke Yunho dan menyerahkan sendiri putrinya dalam asuhan Duke. Duke memang datang tapi ia terlambat. Luhan tahu keterlambatan itu telah membuat penyesalan yang mendalam di hati Duke. Sekarang Luhan tidak ingin membuat penyesalan lagi di hati Duke. Ia tidak ingin melihat orang yang dicintainya pergi tanpa dapat mewujudkan keinginan terakhir mereka.

Maka Luhan memutuskan. Selagi ia masih punya waktu, ia akan mewujudkan keinginan terakhir Duke! Sekalipun ia harus membuang wajah dan harga dirinya!

Tak sampai setengah jam kemudian Luhan berdiri di depan sepasang mata menyelidik Sehun.

Berlawanan dengan Luhan, rambut pirang Sehun yang bersinar cemerlang tersisir rapi. Kemeja putihnya yang licin dipadu dengan celana hitam, membuatnya tampak begitu gagah. Satu-satunya yang merusak penampilannya yang menawan adalah sepasang mata biru tuanya yang memandang Luhan dengan penuh tanda tanya dan jijik.

Penampilan Luhan saat ini jauh dari menawan. Rambut kuning pucatnya berantakan. Matanya yang sembab masih membengkak setelah menangis sepanjang malam. Hidungnya memerah. Goresan hitam di bawah matanya membuatnya kian kelam dan terlebih dari itu, gaunnya acak-acakan bahkan sebuah kancing di dadanya jatuh terlepas oleh pergumulannya dengan Jongin semalam.

"Apakah tujuan Anda datang pagi-pagi?" Sehun menahan keinginannya untuk mengusir pemandangan tidak sedap ini.

"Dengan membuang segala harga diri, saya memohon Anda pergi bersama saya ke Sternberg," Luhan langsung ke pokok pembicaraan.

"Ke Sternberg?"

"Saya percaya Duke Yunho telah meminta Anda untuk mengambil saya sebagai istri," Luhan akhirnya mengutarakan pokok pembicaraan yang paling tidak ingin dibahasnya. "Saya mohon kembalilah bersama saya ke Sternberg dan berkata pada Duke bahwa Anda akan mengambil saya sebagai istri."

Tawa Sehun meledak.

Reaksi Sehun tepat seperti dugaan Luhan.

"Saya tidak meminta Anda untuk bersungguh-sungguh," Luhan melanjutkan, "Yang saya minta hanyalah sebuah kalimat persetujuan Anda."

"Apakah yang membuatmu berpikir aku akan pergi denganmu?" cibir Sehun.

"Ini adalah permintaan terakhir orang yang menjelang ajal," terang Luhan, "Anda tentu bersedia membantu saya memenuhi keinginan terakhir orang yang sekarat."

Sehun tertawa geli. "Apakah kau pikir aku akan percaya padamu? Sekalipun aku harus berbohong, aku tidak akan menerima lamaran terkonyol kalian. Engkau memang cantik tapi kau tidak cukup cantik untuk membuatku ingin menikahimu." Dan kau adalah gadis yang melacurkan dirinya ketika ayahnya terbaring sakit, Sehun menambahkan pada dirinya sendiri.

"Sejujurnya saya pun tidak tertarik untuk menikah dengan Anda apalagi berhubungan dengan Anda," Luhan tahu ia telah membuat Sehun kesal namun demi keberhasilan rencananya, ia harus menekan amarahnya dalam-dalam. "Saya hanya ingin Anda membantu saya."

"Aku sudah sering mendengar cerita serupa. Aku tidak akan mempercayaimu."

"Bagaimana Anda tahu hal itu hanya sebuah karangan sebelum Anda melihatnya sendiri?"

"Pernyataan itulah yang membuatku semakin meragukan kebenaran perkataanmu."

Luhan putus asa melihat kekeraskepalaan pemuda ini. Sebelum datang, ia sudah tahu sang Pangeran akan menolak. Namun ia tetap memegang harapan rasa belas kasih sang Putra Mahkota Helsnivia dapat membantunya. Sekarang harapan itupun terasa telah sirna.

Apakah ia juga tidak dapat memenuhi keinginan terakhir ayah angkatnya?

"Tidakkah Anda bersedia menyenangkan hati orang yang sekarat?"

Sehun tertegun melihat air mata Luhan.

"Luhan…" Luhan terperanjat. Ia merasa mendengar suara Duke. Dadanya berdegup kencang tanpa dapat ia kendalikan. Sebuah perasaan tidak enak membuatnya tidak nyaman.

"Anda sungguh mengecewakan saya," kata Luhan tajam dan ia langsung pergi.

Sehun melihat Luhan dengan kebingungan. Ia tidak menyukai gadis ini. Ia datang dengan acak-acakan seperti baru bergulat sepanjang malam, memaksanya menerima lamaran ayahnya, dan pulang tiba-tiba tanpa pamit.

"Benar-benar gadis liar!" maki Sehun.

Mata biru muda yang sembab itu melintas di depan Sehun. Untuk sesaat sepasang mata yang basah itu tampak begitu hancur dan pilu.

Derap kaki kuda menjauh dengan cepat.

Melalui jendela, Sehun melihat Luhan pergi seperti dikejar setan.

.

.

.

TBC

Untuk yang ingin melihat cerita aslinya, bisa berkunjung ke imaginativewonderland (dot) blogspot (dot) co (dot) id