Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
.
.
.
Makasih review dan koreksiannya kemarin. Semoga gak mengecewakan.
.
Selamat membaca.
.
.
.
.
Sakura baru saja keluar dari klinik tempatnya bekerja malam ini, saat kedua mata hijaunya melihat sesosok orang yang sangat dikenalnya sedang bersandar di tembok depan kliniknya. Dia menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Setelah mengeratkan syal yang mengelilingi lehernya, dia berjalan dengan kedua tangan berada di mantel musim dinginnya, melewati laki-laki yang mengenakan masker wajah dan topi rajutnya itu.
"Apa kau tahu arti sopan santun?" suara laki-laki itu terdengar ketus di belakangnya.
Sakura menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dia mengernyitkan dahi menatap sosok bermasker wajah itu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau seorang idola, tapi seperti tidak ada kerjaan keluyuran malam-malam seperti ini," ujar Sakura.
"Aku memang sedang tidak ada kerjaan. Aku free," sahut Sasuke.
"Lalu? Apa ada yang ingin aku lakukan untukmu lagi?" tanya Sakura tanpa basa basi.
Kedua mata hitam Sasuke terpicing menatapnya tidak suka.
"Apa kau pikir aku hanya datang padamu untuk meminta tolong padamu?" tanyanya.
"Apa lagi? Apa ada urusan lain selain masalah Hinata?" sahut Sakura.
Sasuke tampak berpikir sesaat.
"Sebenarnya.. Aku datang memang untuk masalah itu.." jawabnya ragu-ragu.
Bingo! Sakura memutar matanya bosan seraya membuang napas pendek.
"Kenapa, sih, kalian berdua harus serepot itu? Ah, merepotkanku lebih tepatnya. Kalian berdua bernaung di satu agensi yang sama. Apa susahnya kalian bertemu dan membicarakan masalah ini baik-baik?" kata Sakura panjang lebar.
Sasuke seperti tertohok dengan kata-kata itu. Tapi Sakura sudah paham dengan sifatnya. Laki-laki di depannya ini tidak akan mau kalah padanya sekalipun dia sudah kalah telak.
"Aku tidak mau terlibat skandal apapun kalau sampai ada yang memergoki kami. Lagipula apa susahnya kau bertemu dengannya? Kau kan sahabatnya," elak Sasuke.
Nah, benar kan?
"Skandal apa? Kalian hanya bicara baik-baik kan? Kecuali kalau kau berciuman dengannya di tempat umum, baru itu yang namanya skandal," kata Sakura.
Sasuke berdecak tak sabar.
"Kenapa kau jadi susah sekali dimintai tolong?" tanyanya.
"Karena aku juga punya urusanku sendiri, Sasuke Uchiha. Kau lihat jam berapa sekarang? Aku bahkan baru keluar dari klinik kan? Kau tahu artinya? Aku banyak pekerjaan," jawab Sakura, menahan kekesalan yang sudah mengumpul di ubun-ubun kepalanya.
Dan jawabannya kali ini benar-benar membuat Sasuke terhenyak. Dia menatap Sakura dengan pandangan kaget. Meksipun wajahnya tertutup masker, tapi Sakura bisa melihat kedua mata hitam kelamnya tampak meredup dengan jawaban yang dia lontarkan baru saja.
Sakura menarik napas dan menghelanya perlahan.
"Apa kau ada masalah?" tanya Sasuke, dengan suara yang lebih lembut.
Sakura tidak menjawab. Dia malah berbalik dan memunggungi Sasuke tapi tidak beranjak dari tempat itu.
"Bukan urusanmu.." jawab Sakura kemudian.
"Kau ini ... Kau selalu ketus padaku. Bagaimana mungkin kau bisa dapat pacar kalau nada bicaramu seperti itu padaku? Semua laki-laki akan takut padamu," kata Sasuke, seraya berjalan melewati Sakura dan berdiri di depan gadis itu.
"Aku tahu itu. Makanya aku tidak pernah berharap kalau kau juga akan suka padaku!" Sakura menyahut dengan nada kesal.
Dan beberapa saat kemudian, dia langsung mematung di tempatnya.
'EH?! Apa yang baru saja aku katakan?' batinnya panik.
Sakura tidak berani menatap ke arah Sasuke dan hanya menatap tanah di depannya dengan tatapan ngeri. Seolah dia baru saja membocorkan rahasia negara paling besar pada negara musuh. Perlahan-lahan dia merasakan wajahnya yang tadi hampir membeku karena kedinginan kini mulai memanas.
"Apa katamu?" tanya Sasuke.
"Bukan apa-apa. Minggir. Aku mau pulang," Sakura mencoba berkilah dan mendorong tubuh Sasuke untuk pergi dari hadapannya.
Sasuke dengan sigap menahan kedua tangan Sakura dengan tangannya sampai gadis itu tidak bisa pergi dari tempat itu.
"Aku tidak tuli, Sakura. Apa yang kau katakan barusan tadi, apa benar?" tanya Sasuke, kali ini dengan nada yang lebih lembut.
Sakura memberanikan diri untuk menatap laki-laki itu.
"Kalau kau tidak tuli, aku tidak perlu mengulanginya kan? Biarkan aku pergi," kata Sakura seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke.
"Kau benar.." Sasuke tidak meneruska kata-katanya.
Sakura menarik napas panjang dan menghelanya.
"Memang kenapa kalau benar? Anggap saja aku seperti fans-mu yang lain," jawab Sakura.
"Tapi kau tidak pernah menunjukkan padaku kalau kau ... menyukaiku," kata Sasuke.
"Untuk apa? Toh kau juga akan memikirkan orang lain kan? Aku tidak perlu membuat diriku menderita karena itu. Aku tahu perasaanku ini hanya sia-sia saja walaupun aku mengatakan yang sejujurnya padamu. Kau menyukai orang lain dan orang lain itu bukan aku. Aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri kalau aku mengatakan padamu. Dan, yah ... Aku sudah membuat diriku malu karena kau mendesakku terus menerus. Sekarang biarkan aku pergi atau aku akan berteriak. Ada pos polisi di depan sana. Kau mau aku meneriakimu maniak?" kata Sakura.
Sasuke perlahan melepaskan genggaman tangannya. Sakura segera melepaskan dirinya saat pegangan di tangannya mulai mengendur. Dia lalu berjalan melewati Sasuke tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dia sangat malu, jujur saja. Selama ini dia berusaha untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya pada semua orang. Dia memang mengenal laki-laki itu dari Hinata, teman SMA-nya yang sekarang menjadi seorang idola terkenal di Jepang. Tapi Sakura tidak pernah menyangka kalau dia akan jatuh cinta pada laki-laki itu sejak pertama kali mereka bertemu. Awalnya Sakura mengira kalau mungkin perasaannya sama saja dengan para fans yang lainnya. Tapi saat dia menyadari kalau dia benar-benar menyukai laki-laki itu, di luar semua dunia keartisannya, Sakura tidak bisa menampik perasaannya lagi. Dia tahu hubungan Hinata dan laki-laki itu sangat dekat. Makanya Sakura hanya bisa memendam perasaannya sendirian.
Sakura merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan pulangnya ke rumah Naruto. Sejak beberapa hari yang lalu memang Naruto memintanya tinggal di rumahnya karena dia kasihan pada Sakura yang hidup jauh dari orangtuanya. Orangtuanya berada di Yokohama dan satu-satunya saudara yang dekat dengannya adalah Naruto. Sakura mengiyakan saja. Karena itu artinya dia tidak perlu menyisihkan uang untuk biaya sewa apartemen.
Sakura benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri sampai dia lupa diri.
"AHHHH! SAKURA BAKA!" teriaknya keras, tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya dengan pandangan heran, kaget dan kesal.
.
.
.
Ponsel yang tergeletak begitu saja di samping tubuh Sakura, bergetar beberapa kali sejak tadi. Tapi gadis itu masih terpejam dan seolah tidak peduli dengan bunyi ponsel yang bergetar di dekatnya sejak tadi. Sebenarnya Sakura sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Tapi dia terlalu malas untuk membuka matanya. Dan lagipula, ini adalah hari liburnya. Dia ingin menikmati hari liburnya dengan lebih lama. Tadi malam dia baru saja memeriksa beberapa pasien sampai larut.
Dan tadi malam ...
Oh, ya, ampun. Sakura mendecih kesal.
Dia jadi tidak mengantuk lagi saat teringat kejadian yang dialaminya tadi malam.
Kenapa dia jadi selalu berakhir konyol kalau berhubungan dengan laki-laki itu? Beberapa hari yang lalu, mereka berdua ketiduran di lantai dapur karena mati lampu dan membuat mereka berdua tidak bisa ke mana-mana. Dan pagi berikutnya, Sakura merasakan tubuhnya pegal semua karena kelamaan tidur bersandar di tembok dengan kepala miring.
Dan tadi malam, dia sudah mengatakan dengan terang-terangan tentang perasaannya pada laki-laki itu.
Ahh! Sakura mengusap wajahnya yang mulai memanas lagi mengingat kejadian semalam.
'Apa yang harus aku lakukan kalau bertemu dengannya?' batinnya bingung.
Ponselnya kembali bergetar.
Sakura membuang napas keras seraya mengambil ponselnya dengan tidak sabar.
Kedua matanya membelalak lebar saat melihat pemberitahuan di layar ponselnya.
65 panggilan. 20 pesan masuk.
Dan semua dari nama yang sama.
Sasuke Uchiha.
Sakura segera bangkit dari tidurnya dan terduduk di ranjangnya dengan rambutnya yang mencuat ke sana kemari.
'Apa orang itu benar-benar tidak ada kerjaan sampai menelponku sebanyak ini?' batinnya tak habis pikir.
Ponsel di tangannya kembali bergetar, menandakan ada panggilan masuk.
Sakura menarik napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan masuk itu.
"Halo?" Sakura mencoba mempertahankan agar nada suaranya terdengar biasa.
"Apa kau mati suri? Aku menelponmu berkali-kali sejak tadi dan kau sama sekali tidak mengangkatnya. Dan kau hanya bilang 'halo' tanpa dosa setelah mengangkat teleponku?" suara Sasuke di seberang telepon terdengar kesal.
Sakura mengerutkan dahinya.
"Lalu aku harus bilang apa? 'Mati saja kau!' Begitu?" sahutnya tak habis pikir.
Laki-laki ini benar-benar merusak moodku di hari liburku, pikir Sakura.
"Cepat buka pintunya! Aku sudah ada di depan rumah Naruto sejak tadi, kau tahu?!" kata Sasuke dengan nada kesal.
Sakura membelalakkan matanya.
"Ap-apa?" tanyanya kaget.
"Jangan hanya bilang apa. Aku hampir mati kedinginan di sini dan kau masih asik tidur di dalam sana. Cepat buka!" Sasuke kedengaran tidak sabar.
Sakura segera beranjak dari tidurnya dan keluar kamarnya.
'Apa itu salahku? Salah sendiri datang ke sini tanpa pemberitahuan,' Sakura benar-benar dibuat jengkel dengan teman kakak sepupunya yang menyebalkan itu.
Saat dia melewati ruang tengah rumah itu, matanya memicing menatap jam dinding di ruangan itu.
Sakura tambah terbelalak saat matanya mulai bisa terbiasa dengan keadaan ruangan yang masih gelap itu.
"Jam 6?! Apa yang dilakukan orang gila itu sampai bertamu sepagi ini di rumah orang?" kata Sakura.
"Aku masih bisa mendengarmu, Nona!" suara Sasuke masih terdengar di ponsel yang dipegang Sakura.
"Apa yang kau lakukan di rumah ini sepagi ini, sih? Naruto-nii tidak ada di rumah. Dan aku yakin kau tahu itu," kata Sakura seraya berjalan menuju pintu keluar.
"Apa aku bilang aku ada urusan dengan Naruto? Aku ada urusan denganmu. Dan setelah ini, cepat kau berkemas. Aku akan membawamu ke suatu tempat," kata Sasuke.
"Apa?!" Sakura berseru dengan keras sekali sampai dia merasa tenggorokannya sakit. Dia terbatuk pelan.
"Dasar. Sudah, jangan protes. Cepat buka pintunya!"
KLIK.
Sakura menatap ponsel di tangannya dengan tatapan tak percaya. Dia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
'Laki-laki itu ... Benar-benar ...' katanya seraya membuka pintu rumah itu dengan gemas.
.
.
.
Sakura hanya diam saja saat laki-laki itu menarik tangannya dengan agak keras dan membawanya paksa dengan cara yang sama sekali tidak manis ke tempat ini. Gadis itu menatap laki-laki tinggi yang sedang mengenakan makser penutup wajah dan topi rajut yang menutupi kepala dan rambut hitam ravennya itu dengan pandangan heran. Sakura beralih menatap gedung di depannya ini dengan pandangan sama herannya.
"Mau apa ke sini?" tanyanya, seraya membaca tulisan di atas pintu masuk.
Hakone Ropeway.
Dia sudah mempunyai firasat buruk saat melihat tulisan yang ada di sana.
"Aku sudah lama menginginkan ini. Kau harus mengatakan semuanya padaku. Di atas danau Aashi dan di depan gunung Fuji," ujar Sasuke, seraya menarik tangan Sakura dengan paksa.
Sakura membelalakkan matanya.
"T-tunggu.. Aku tidak naik itu. Yang benar saja!" Sakura ingin menolaknya, tapi laki-laki itu menarik tangannya terlalu kuat. Sakura seharusnya mendengar alarm bahayanya tadi. Dia sama sekali tidak suka berada di atas ketinggian, apapun bentuknya.
Tapi sepertinya Sasuke tidak menghiraukannya dan seperti biasanya, selalu melakukan apapun sesukanya. Dia tetap menarik tangan Sakura untuk membeli tiket dan menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya. Sakura hanya bisa pasrah.
Walaupun ditutupi dengan masker wajah seperti itu, tapi Sakura bisa merasakan kalau laki-laki itu sedang tersenyum penuh kemenangan di balik penutup wajah itu.
Sasuke kembali menarik tangannya dengan paksa naik ke sebuah gondola yang kosong di sana. Sakura ragu-ragu melangkahkan kakinya ke atas gondola itu. Dia selalu menghindari untuk naik ini seumur hidupnya. Tapi apa sekarang? Membayangkan kakinya tidak menjejak tanah di ketinggian beratus-ratus meter di atas tanah sudah membuatnya merinding sendiri.
Tapi Sasuke sama sekali tidak menghiraukan ketakutannya dan menarik tangannya dengan paksa sampai dia benar-benar berada dalam gondola itu. Dan saat pintu gondola itu tertutup dan Sakura merasakan alat itu bergerak dengan perlahan, dia merasa sedang berada dalam ruang eksekusi yang menakutkan. Tangannya berpegangan dengan erat sekali pada sebuah besi panjang di dekat jendela saat alat itu perlahan-lahan mulai bergerak melayang di atas kota Kanagawa ini.
Ya, dia ada di Kanawaga sekarang. Laki-laki gila yang datang ke rumahnya pagi-pagi tadi sudah menculiknya dengan paksa sampai ke sini.
Sakura berusaha tidak menatap ke sekelilingnya dan tetap berpegangan pada besi panjang itu.
"Jadi, kenapa selama ini kau menutupi semuanya?" tiba-tiba Sasuke sudah berdiri tepat di depannya. Sakura mendongak ke arahnya.
"Apa aku perlu mengatakan pada semua orang?" sahutnya.
"Setidaknya, aku ada di depanmu selama ini," kata Sasuke.
"Lalu?" Sakura balas menatapnya.
"Kau bahkan tidak menunjukkan sikap kalau kau menyukaiku. Kau sama sekali tidak manis padaku," kata laki-laki itu lagi.
"Untuk apa? Toh kau juga sama sekali tidak akan peduli padaku," kata Sakura lagi.
Sasuke terdiam, membenarkan kata-katanya dalam hati. Tapi bukan itu yang dia inginkan dengan membawa perempuan itu ke sini.
"Kalau begitu, sekarang katakan semuanya padaku. Kalau kau sangat menyukaiku. Di atas kota Kanagawa ini," katanya kemudian.
"Apa? Untuk apa? Tidak mau. Kau sudah tahu. Jadi, ya sudah. Aku tidak perlu mempermalukan diriku sendiri di depanmu seperti orang bodoh," kata Sakura seraya mengalihkan pandangannya dari laki-laki di depannya.
"Apa menyukai seseorang itu memalukan?" tanya Sasuke heran.
"Bagiku iya. Apalagi kalau orang yang kita sukai sama sekali tidak menyukai kita," jawab Sakura seketika.
Sasuke terdiam beberapa saat. Hanya melihat ujung kepala gadis itu yang menghindari tatapannya. Perempuan di depannya berbeda sekali dengan gadis-gadis yang selama ini dikenalnya dan dekat dengannya. Walaupun dia dekat dengan gadis ini, dan akhir-akhir jadi lebih dekat karena dia adik sepupu sahabatnya, tapi dia sama sekali tidak bisa mendekatinya. Mendekatinya secara fisik maupun psikis. Gadis ini seperti punya tembok sendiri yang kuat yang tidak bisa dimasuki sembarangan orang.
Saat mereka terdiam cukup lama dan asik dengan pikiran masing-masing, gondola itu berubah haluan dan itu membuatnya sedikit berguncang.
Sakura yang sejak tadi menahan ketakutannya akhirnya lepas kendali juga. Dia terpekik histeris saat gondala itu berguncang dan kedua tangannya langsung mencengkeram mantel Sasuke dengan erat. Dia perlu berpegangan pada seseorang untuk menenangkannya.
Sasuke yang melihat reaksi luar biasa gadis itu agak terkejut juga.
"Jadi, kau takut ketinggian?" tanyanya.
"Aku sudah bilang padamu aku tidak naik ini," ujar Sakura menahan kekesalan.
Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.
"Kau sama saja dengan Hinata. Dia juga takut dengan ketinggian," katanya kemudian.
Saat Sakura mendengar kata-kata itu, tangannya yang tadi memegangi mantel laki-laki itu dengan begitu erat langsung mengendur begitu saja. Dia melepaskan tangannya dari mantel laki-laki itu dan kembali berpegangan pada besi panjang di belakangnya seraya berbalik dan membelakangi laki-laki itu.
"Kalian pernah pergi ke tempat ini sebelumnya?" tanya Sakura, berusaha membuat suaranya terdengar biasa. Sasuke tidak segera menjawab. Dia tidak pernah membawa Hinata ke tempat ini. Dia hanya tahu gadis itu takut dengan ketinggian dari beberapa artikel yang dia baca.
"Kalau kau mengajakku ke tempat ini untuk mengenang saat-saat indahmu dengan perempuan lain ..." Sakura tidak meneruskan kata-katanya. Dia tahu itu akan kedengaran egois sekali. Jadi, dia diam saja.
Tempat ini benar-benar seperti neraka untuknya. Dia tidak bisa menikmati pemandangan di depannya.
'Apa asiknya melihat pemandangan dari tempat setinggi ini? Kenapa gondola ini lambat sekali dan berada di atas terus? Dan ada danau di bawahnya. Aku bisa gila!' batinnya mulai tidak tenang.
Dia berusaha mati-matian untuk tidak melihat ke bawah dan hanya melihat langit yang mulai menggelap di atasnya.
Sementara Sasuke menyadari kesalahannya. Seharusnya dia tidak menyebutkan nama gadis lain di tempat ini. Dia sudah mempelajari itu. Tidak ada perempuan manapun di dunia ini yang suka dibanding-bandingkan dengan perempuan lain.
Saat mereka berdua fokus pada pikiran masing-masing, tiba-tiba gondola itu berguncang lagi dan tiba-tiba berhenti dengan tiba-tiba. Sakura mulai kebingungan dan menatap sekeliling dengan panik. 'Ada apa ini? Kenapa benda ini tiba-tiba berhenti bergerak? Bagaimana ini?' batinnya panik. Tangannya yang memegang besi mulai basah karena keringat dingin yang keluar dari tangannya.
Sasuke melihat kepanikan yang terpancar di wajah perempuan itu dengan setengah iba dan setengah geli. Baru kali ini dia melihat seseorang yang sepanik itu naik gondola ini. Bahkan Naruto yang penakut itu pun baik-baik saja saat naik benda ini.
Sasuke menghela napas dan mendekat ke arah gadis itu untuk sekedar menenangkannya.
"Kau jangan bergerak! Bagaimana kalau benda ini jatuh? Lihat 'kan? Gara-gara kau bergerak benda ini juga bergerak ... Ahh! Aku bisa gila!" Sakura berseru panik kepada Sasuke dan tangannya memegang pegangan besi dengan erat sekali.
"Benda ini tidak akan jatuh begitu saja. Kenapa kau takut sekali?" Sasuke tidak peduli dan terus mendekati gadis itu.
Saat dia bergerak untuk menghampiri Sakura, gondola itu kembali bergerak lagi dan itu menimbulkan guncangan kecil tapi membuat Sakura terlonjak kaget.
"Aku seperti sedang berada di neraka~!" desis gadis itu kesal.
Sasuke tersenyum samar. Entah kenapa dia seperti melihat tembok kokoh yang selama ini mengelilingi gadis itu tiba-tiba runtuh perlahan-lahan di tempat ini. Dan gadis yang selama ini sok kuat itu jadi kelihatan lemah sekali di matanya sekarang.
Sakura mengernyitkan dahi menatap Sasuke yang tersenyum sendiri di dekatnya.
"Kenapa? Apa kau anggap aku lucu?" ujarnya ketus.
"Tidak. Sekarang aku tahu, bagaimanapun juga ... Kau tetaplah perempuan biasa," kata Sasuke. Sakura tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan laki-laki itu. Dan dia tidak mau pusing-pusing memikirkannya karena dia sedang disibukkan dengan pikiran gondala yang tidak sampai-sampai ini.
"Aku tidak mengerti kau bicara apa," katanya kemudian.
Dengan gerakan yang tiba-tiba, Sasuke mendorong bahu gadis itu sampai tubuhnya merapat pada dinding kaca di belakangnya dengan agak keras.
"Apa kau gila? Kita bisa jatuh kalau terlalu banyak bergerak," Sakura langsung berteriak ketakutan seraya mencengkeram lengan Sasuke yang berada di dekat bahunya.
Sekarang Sasuke bisa melihat dengan jelas kalau perempuan itu sedang benar-benar ketakutan saat ini. Dari caranya memegang lengannya dan raut ketakutan yang terpancar jelas di wajahnya. Sakura memilih untuk menghindari menatap laki-laki itu langsung dan lebih memilih mengalihkan perhatiannya. Tapi tidak dengan Sasuke. Baru kali ini dia bisa melihat wajah gadis itu dengan seksama. Kulit wajahnya yang seputih susu, mata hijaunya yang berbinar indah, rambut merah mudanya yang terasa lembut sekali dan wangi buah cherry yang menguar dari tubuhnya. Dan kenapa jantungnya berdebar-debar sendiri saat melihat raut wajahnya yang sekarang? Dia tidak pernah melihat raut wajah yang begitu membutuhkannya seperti ini sekarang. Dan itu membuat perasaannya sebagai seorang laki-laki tergugah. Dia tidak pernah merasakan hal seperti ini, menjadi tempat bergantung seorang gadis, seperti saat ini. Walaupun dalam keadaan yang tidak disengaja.
"Kapan benda ini akan berhenti dan aku bisa kembali ke tanah?" tanya Sakura kemudian.
"Entahlah.." jawab Sasuke kemudian.
Sakura seperti putus asa dan hanya menghela napas pasrah.
"Aku akan membuatmu melupakan kalau kau sedang berada di ketinggian. Dan membuatmu lupa ketakutanmu sekarang.." kata Sasuke kemudian.
"Apa?" Sakura sekarang mendongak dan menatapnya heran.
Sasuke tidak segera menjawab dan kembali terdiam. Ada perang hebat dalam hatinya, antara melakukan apa yang ingin dia lakukan, atau menahannya dalam-dalam. Selama ini dia berusaha menahannya sekuat tenaga, mengingat statusnya dan juga karena gadis ini adalah adik sahabatnya. Dan karena dia yakin kalau dia menyukai Hinata. Tapi saat melihat wajah Sakura malam itu saat dia mengatakan kalau dia menyukai Sasuke, dan sekarang di tempat ini, serta kenyataan kalau gadis itu ternyata sangat menyukainya selama ini, membuatnya yakin untuk melakukannya.
Dia mengangkat kedua tangannya dan menyentuh wajah Sakura dengan lembut. Sakura terkejut luar biasa saat laki-laki itu mengangkat wajahnya dengan kedua tangannya dan membuat mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. Jantungnya berdegup dengan kencang sekali saat wajah mereka berdua sudah saling berdekatan satu sama lain.
'Apa yang akan dilakukan laki-laki ini padaku?' batinnya panik.
Sasuke tahu kalau Sakura pasti belum siap dengan reaksinya, tapi dia tidak peduli. Dia yakin gadis itu pasti tidak akan menolaknya. Hanya ini kesempatannya untuk mengakui perasaannya pada gadis itu. Di tempat yang tidak akan diketahui orang lain selain mereka berdua.
Sasuke merapatkan bibirnya pada bibir Sakura untuk beberapa saat dengan erat. Sakura hanya mengerjap beberapa kali sebelum dia menyadari kalau laki-laki itu sedang menciumnya. Dia benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi. Ini adalah ciuman pertamanya dengan seorang laki-laki selama hidupnya. Jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat lalu seperti dipacu dengan cepat sekali beberapa saat kemudian saat merasakan bibir laki-laki itu menempel di bibirnya sendiri. Dan laki-laki ini ...
"Apa kau tidak pernah berciuman dengan laki-laki sebelum ini?" Sasuke melepaskan ciumannya dan menatap Sakura tak sabar. Sakura menghela napas keras.
"Ada masalah?" sahutnya. Dia berusaha menahan gemuruh yang sedang terjadi di dadanya.
"Baguslah. Jadi aku laki-laki pertama yang menciummu," kata Sasuke.
"Lagipula apa maksudmu melakukan ini?" Sakura bertanya dengan nada bingung.
"Apa belum jelas? Jadilah kekasihku.." jawab Sasuke kemudian.
Sakura terbelalak kaget. "Ap-apa?" serunya kaget.
"Kenapa baru kaget sekarang setelah aku menciummu? Lakukan lagi dengan benar. Lakukan seperti Romeo dan Juliette atau Jack dan Rose di dek kapal Titanic," kata Sasuke seenaknya. Sakura masih tidak mengerti dengan situasinya. Laki-laki ini mengatakannya dengan begitu tiba-tiba.
"Apa kau gila? Kau tidak-"
Sakura terdiam saat salah satu tangan Sasuke meraih pinggangnya dan merapatkan tubuhnya pada tubuhnya sendiri, lalu tangan yang satu kembali meraih kepala Sakura dan mulai mencium bibirnya lagi. Sakura tidak bisa bergerak karena laki-laki itu merapatkan tubuhnya pada dinding kaca di belakangnya. Jadi mau tidak mau Sakura menerima ciuman laki-laki itu.
Baik dia maupun Sasuke tidak pernah menyangka kalau mereka akan saling mengakui perasaan masing-masing di tempat ini dan melakukan ciuman pertama mereka di tempat ini. Tapi semua orang tidak tahu apa yang kan terjadi walaupun itu tidak mereka rencanakan 'kan?
Butiran salju mulai turun di sekeliling mereka saat Sasuke lebih merapatkan ciumannya pada gadis itu. Dia belum pernah melakukan french kiss dengan siapapun sebelum ini, tapi dia pernah melihatnya beberapa kali di televisi dan dia tahu cara melakukannya. Tapi malam ini dia ingin melakukan ciuman yang lebih panas dengan perempuan ini.
Ini adalah pertama kalinya bagi Sakura melakukan ciuman dengan laki-laki yang sangat disukainya. Bertahun-tahun dia memendam perasaannya pada laki-laki itu dan menyembunyikannya dengan begitu baik untuk menghargai hubungannya dengan sahabatnya. Dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun tentang perasaannya. Dan dia tidak pernah membayangkan akan melakukan ciuman pertamanya dengan laki-laki yang dia sukai. Tapi malam ini, seperti ingin melepaskan semua yang sudah dia simpan rapat-rapat selama ini, dia menerima ciuman laki-laki itu.
Sakura mempererat pegangan tangannya pada lengan Sasuke saat dia merasakan ada yang mendesaknya dalam mulutnya. Rasanya aneh dan geli saat kau pertama kali merasakan lidahmu beradu dengan lidah seseorang. Tapi itu tidak artinya kalau tubuhmu dikuasai oleh perasaan lain yang lebih besar. Baik Sasuke maupun Sakura tidak peduli dengan hal lain selain sensasi kenikmatan yang meletup-letup dalam diri mereka saat melakukan itu. Sasuke meraih bagian belakang kepala Sakura, menyusupkan jemarinya di antara helaian rambut Sakura yang lembut dan semakin mendesaknya ke dalam mulutnya, seolah dia tidak ingin melepaskannya dan menyerahkannya pada siapapun. Napas mereka beradu dan mereka merasa udara semakin panas di sekeliling mereka, tapi mereka tidak peduli. Karena ini adalah pertama kalinya mereka bisa benar-benar jujur mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang mereka sukai.
Gondala itu perlahan bergerak turun ke bawah dengan sedikit berguncang. Tapi meskipun begitu, Sakura sudah tidak mempermasalahkan guncangannya lagi. Karena dia sudah melupakan masalah ketakutannya pada ketinggian itu.
.
.
.
.
TBC
