;Jeon Wonwoo's Pair [2]
;romance, fantasy, yaoi, very OOC, typo(s), gaje(s), AU, etc.
Kim Mingyu.
Mari kita berbicara tentang Kim Mingyu.
Kim Mingyu adalah ide-ide yang setengah terealisasi dan setengah tidak. Gen tampannya didapatkan seolah tanpa kesalahan dari persatuan ayah dan ibunya. Matanya sipit tanpa kelopak ganda, hidungnya mancung alami, dan bibirnya tipis, senyumnya manis, sering sekali membuat para gadis merasa baper.
Kecerdasannya melebihi rata-rata. Ia pintar sekali, dalam hal apapun. Ia bisa memecahkan segala masalah hanya dengan permainan bahasa. Banyak orang yang bilang ia keras kepala. Sesungguhnya tidak. Kalau ia boleh membalas, mungkin ia akan bilang kalau ia hanya suka mempertahankan pendapatnya.
Kim Mingyu, selebihnya, adalah anak yang baik, berbakti kepada orangtua. Ketika dua orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat, Mingyu melanjutkan baktinya pada kakek dan neneknya. Ketika mereka pun pergi, Mingyu berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Ia sudah paham bahwa tidak selamanya sesuatu akan bersama dengannya.
Mingyu mendapat harta warisan yang banyak, yang turun ketika ia sudah mencapai usia yang cukup. Di usia itu juga, ia berpikir untuk memiliki sebuah toko yang menjual berbagai jenis kopi dan tanamannya. Dari sekolah menengah, Mingyu sudah tertarik dan mengenal berbagai jenis kopi dan cara membuatnya.
Ketika ia hendak membangun relasi luas, ia malah ditawari masuk ke sebuah agensi permodelan. Akhirnya, sebelum ia sempat memulai toko kopinya, ia sudah sukses duluan dengan model. Kim Mingyu, model unik yang memiliki gigi agak berantakan dan taring yang lucu, baik, dan bisa diandalkan. Patuh pada peraturan, dan gampang diatur. Ia dengan sangat cepat memiliki karir yang menanjak.
Pada suatu waktu, ia terpikir lagi soal toko kopinya. Mingyu ingin menuju kafe langganannya untuk menikmati berbagai bau kopi lagi. Tapi, menyedihkan. Di tikungan, demi menyelamatkan sekelompok anak anjing yang sedang menyebrang, Mingyu harus membanting setir mobilnya ke kiri, menabrak warung kecil yang berada di pinggiran, lalu mobilnya berasap.
Seharusnya Kim Mingyu bisa diselamatkan, karena ia tak terluka begitu parah di permukaan kulitnya. Tapi begitu tubuhnya sudah sampai unit gawat darurat, dokter dan suster menunduk. Mereka menyerah. Ada gegar otak parah di kepala Kim Mingyu yang tak dapat diselamatkan.
Begitulah, kehidupan Mingyu berakhir begitu saja. Tak lama kemudian, koran dan surat kabar beredar dengan headline 'Kim Mingyu, model yang sedang naik daun, kecelakaan mobil, demi menyelamatkan anak anjing'.
Mingyu pergi, meninggalkan seluruh warisan dan uang-uangnya, meninggalkan agensinya, meninggalkan manajernya yang menangis-nangis sampai seperti mayat hidup. Begitupun, Mingyu tak akan pernah kembali ke kehidupannya di dunia manusia biasa.
Begitu sadar—atau hidup untuk kedua kalinya, Mingyu sedang dipenuhi serbuk-serbuk yang seperti berpendar dalam gelap. Ia berada di ruang yang remang-remang, tak ada cahaya yang bisa membuat pupilnya mengecil sempurna. Pada beberapa menit pertama, Mingyu hanya berbaring dan menikmati tubuhnya yang terasa ringan lebih dari apapun. Seperti habis diet berbulan-bulan—padahal Mingyu belum pernah diet begitu.
Beberapa saat kemudian, ia mencoba duduk. Lalu berdiri. Serbuk-serbuk itu berjatuhan dari sela-sela rambut coklat gelapnya, dari sela kaos putih polos longgarnya, terutama dari sela jemarinya.
"Halo?" Mingyu mencoba peruntungannya. Tapi tidak ada orang.
Akhirnya ia melihat sebuah pintu. Mingyu berjalan perlahan. Membuka pintu itu dan melihat sinar yang sangat terang. Mingyu menyipitkan matanya—bebarengan dengan itu, terdengar suara yang menggema, sangat keras. Seperti sebuah pemberitahuan. "Kim Mingyu, pembawa serbuk."
Di hadapannya, terbentang sebuah negeri yang bentuknya aneh. Seperti berada di atas awan, namun tetap di bawah langit. Seperti berada di antara galaksi. Warna-warna aurora berpendar memenuhi langit, bercampur-campur dan tak dapat dideskripsikan.
"Halo, Kim Mingyu."
Mingyu menoleh, mendapati orang yang barusan menyapanya. Orang itu berambut hitam gelap dan wajahnya seperti wajah orang Hispanic—tampan dan lembut. Walaupun ia tak lebih tinggi dari Mingyu, tapi ia kelihatan sangat baik. Mingyu bisa saja langsung percaya pada orang ini.
"Aku… aku tidak tahu apa-apa." Mingyu bicara kelewat jujur. Orang itu hanya tertawa.
"Aku tahu, Mingyu. Aku juga seperti itu saat datang pertama kali ke dunia ini. Tapi itu tidak masalah, kau akan belajar. Pelan-pelan saja."
Mingyu merasa tidak adil karena orang itu tahu namanya dan ia tidak tahu nama orang itu. "Dan kau siapa?"
"Aku Choi Seungcheol. Kau bisa percaya padaku. Dan kuharap kau tidak membuatku menjadi pasangan kuilmu, karena aku sudah punya." Seungcheol tertawa lagi. Wajahnya seperti pemimpin dari negeri ini.
Mingyu tak paham apa-apa, tapi ia mengangguk saja. Toh, ia tak punya apa-apa di sini.
Dunia atas adalah dunia bagi orang-orang yang sudah mati di dunia biasa namun memiliki sesuatu yang rumit di hatinya. Tidak semua orang begitu. Mingyu sendiri tidak tahu kenapa ia bisa disebut 'mempunyai sesuatu yang rumit di hati'. Tapi ia memutuskan untuk melupakannya dan fokus pada acara jalan-jalan dengan Seungcheol, yang ternyata adalah salah satu orang yang terkemuka, pilar dunia atas, tapi bukan pemimpin.
Dalam setengah hari pertama ia sampai di dunia atas, Mingyu sudah dibawa kemana-mana oleh Seungcheol. Kantor utama. Gedung pertemuan. Gedung santai. Kantor distribusi pekerjaan. Kantor yang membuatkan kuil. Kantor hubungan antar pengatur. Gedung elektronik. Ini hampir seperti dunia manusia, hanya dalam bentuk yang lebih rumit tapi sekaligus mudah.
Mingyu adalah anak dari ide-ide, maka ia suka penggabungan kata rumit sekaligus mudah itu. Ia kembali menemukan 'diri'nya saat ia dan Seungcheol berbincang di semacam rest area di market. Mingyu heran, ternyata ada juga kopi di dunia ini. Ia pilih yang paling murah, karena Seungcheol yang mentraktirnya. Mingyu sendiri belum punya kekayaan.
"Apa yang bisa kulakukan untuk mendapat kekayaan?" tanya Mingyu.
Seungcheol menyeruput kopinya sebelum menjawab Mingyu. "Apa? Tentu saja dengan bekerja sesuai keahlianmu."
"Maksudnya?"
Seungcheol berdeham, paham sekali kalau Mingyu bingung. "Begini, semua yang datang ke sini itu pengatur. Mereka punya keahlian sendiri-sendiri yang tidak bisa dikategorikan. Seperti aku, punya keahlian untuk memberi harapan di hati orang. Ada juga keahlian membuat badai. Ada juga keahlian bersuara. Macam-macam."
Mingyu diam sebentar. Ia jadi paham kenapa Seungcheol kadang-kadang menyebut dunia atas sebagai dunia pengatur. "Lalu? Bagaimana aku tahu aku punya keahlian apa?"
"Apa yang kau lihat pertama kali saat datang ke sini?"
Mingyu berpikir-pikir, agak bingung. Ia rasanya hanya melihat kegelapan—sesuatu yang remang-remang. Tapi rasanya ada sesuatu yang… berpendar? Yang mengalir dari sela-sela jarinya?
"Bubuk yang bercahaya? Entahlah." jawab Mingyu, bahunya terangkat sekilas.
Tapi Seungcheol tertarik. "Tahukah kau, Mingyu, bahwa pengatur yang sudah terlalu lama bekerja akan kehilangan kerumitan di hatinya lalu meninggalkan dunia ini dengan tenang. Abad kemarin, seseorang yang punya keahlian sepertimu baru saja pergi."
Mingyu hanya menatap Seungcheol dengan bingung. Abad?—Wow, lama sekali. Ia masih belum dapat memikirkan bagaimana waktu berjalan di tempat ini. "Lalu?"
"Lalu, lihat. Sekarang kau ada di sini, menggantikan. Tugasmu adalah menyebarkan serbuk bercahaya itu ke tanaman-tanaman di dunia biasa. Kau akan dibantu banyak peri."
Mingyu masih bingung. "Kapan aku akan membagikan serbuk itu?"
"Kau akan dipanggil nantinya, dan jangan khawatir soal tidak mendapat pekerjaan. Kau pasti akan kedapatan. Kau itu dibutuhkan, bukan membutuhkan." jelas Seungcheol. Mingyu jadi agak lega mendengarnya.
Dalam beberapa abad saja, Mingyu sudah bisa memenuhi kebutuhan dirinya. Ia sudah paham konsep-konsep yang ada di dunia atas ini (ingat, ia pintar). Misalnya konsep pasangan. Ia memahaminya ketika bertemu dengan Junghan, pasangan Seungcheol. Junghan menjelaskan berbagai budaya dan aturan yang ada di dunia atas dengan lengkap dan jelas, bahkan memberi Mingyu semacam buku saku sebagai petunjuk. Mingyu, sih, oke-oke saja.
Mingyu juga sudah punya teman akrab, namanya Kwon Soonyoung. Ia pembuat badai angin. Mingyu sebenarnya tidak begitu mengerti kenapa badai harus diatur sedemikian rupa, tapi ia hanya menyimpannya dalam hati. Toh, Soonyoung adalah orang yang baik.
"Mingyu, kau jangan sering hilang, dong."
Suatu hari, di tempat seperti kafe yang menjual makanan-makanan kecil juga, Mingyu yang sedang menikmati kopi—kali ini yang mahal, karena ia beli sendiri—bertemu dengan Soonyoung.
"Memang kenapa? Lagipula aku tidak benar-benar hilang," ia menjawab Soonyoung di sela sesapan kopinya.
"Minimal belilah ponsel. Kalau ada yang mencarimu, aku jadi yang repot. Ditanya-tanyai terus. Lagipula kau kemana saja?" Soonyoung membuka bungkus coklat kacang yang barusan dibelinya. Matanya yang sipit makin menyipit ketika sedang menggigit coklat itu.
"Yah, ke tempat-tempat biasa." jawab Mingyu. Diam-diam mengeluh karena kopinya sudah tinggal seperempat gelas.
"Merenung lagi?"
"Tidak juga. Hanya melihat pemandangan. Aurora di sekeliling gunung es itu bagus sekali, lho. Apalagi belakangnya bukan langit biasa, tapi langit galaksi." jelas Mingyu, matanya menerawang—tapi berpendar. Soonyoung mengangkat alis, bagus sekali ekspresi Mingyu sekarang.
"Memang bagus, sih. Itu 'kan yang paling dekat dengan garis luar dunia atas. Jadi galaksinya paling kelihatan jelas. Tapi di sana dingin. Tidak masalah bagimu karena kau punya bubuk-bubuk hangat yang selalu mengelilingimu." kata Soonyoung.
Mingyu kembali sadar dari keadaan menerawangnya. Ia hanya tertawa, menampilkan gigi taringnya yang memesona. "Hehe."
Mereka terdiam sebentar, menikmati suasana yang tenang. Aurora berpendar di dekat kafe itu dan warnanya indah, seperti biasa Mingyu suka. Soonyoung tahu itu, jadi ia membiarkan Mingyu fokus pada kegiatannya. Soonyoung menoleh ke pintu masuk ketika ada dua pengatur masuk ke kafe.
"Itu Seungkwan, 'kan?"
Suara Mingyu tiba-tiba terdengar. Soonyoung menoleh ke arah Mingyu. "Kukira kau sedang fokus melihat aurora. Dan iya, itu Seungkwan."
Tapi Seungkwan tidak menyadari Soonyoung dan Mingyu—ia sedang asyik dengan orang di sebelahnya.
"Dan di sebelahnya siapa?" suara Mingyu terdengar lagi.
"Itu Wonwoo. Jeon Wonwoo. Kudengar ia teman baik Junghan. Ia itu pembawa embun." jelas Soonyoung. Ia agak heran. Biasanya Mingyu tidak peduli. "Kenapa?"
Mingyu terdiam sebentar, memperhatikan Wonwoo. "Tanya saja. Soalnya Wonwoo itu tinggi juga."
Soonyoung jadi agak sweatdrop. "Iya, tinggi."
Mingyu tertawa lagi. "Bukan maksud menyindir. Eh, Wonwoo matanya sipit sekali,"
"Tertarik padanya?"
Mingyu diam saja. Harusnya Soonyoung tahu, kalau Mingyu tidak tertarik, mungkin Mingyu tak akan bilang macam-macam. "Biasa saja."
"Kuanggap kau tertarik."
"Seharusnya tadi tidak usah kujawab."
Soonyoung tertawa keras-keras. Mereka jadi memperhatikan si Wonwoo dan Seungkwan yang mengobrol asyik. Seperti teman lama yang baru saja dipertemukan, Mingyu berpikir. Tiba-tiba ada Vernon datang. Mingyu tahu Vernon—mereka pernah bekerja bersama. Nama aslinya Choi Hansol, wajahnya campuran. Setahu Mingyu, Vernon itu pasangan Seungkwan—walau mereka belum punya kuil.
"Eh," Mingyu mengangkat alis saat melihat Wonwoo tiba-tiba pergi.
"Yah, Wonwoo sudah pergi," celetuk Soonyoung, ia melirik Mingyu. Tapi Mingyu 'kan pintar akting, jadi ekspresinya sudah berubah jadi normal lagi.
"Kalau begitu, aku juga sudah," Mingyu menjauhkan cangkir kopinya dan berdiri.
"Mau mengejar Wonwoo?"
"Menurutmu?" wajah Mingyu datar, dan Soonyoung tertawa keras-keras lagi.
Mingyu merasa biasa saja, tidak rindu atau merasa ingin sekali melihat Wonwoo. Tapi saat petinggi menyuruhnya bekerja sama dengan pembawa embun, Mingyu jadi berpikir ulang. Rasanya ia tahu siapa pembawa embun. Itu 'kan Jeon Wonwoo.
Ia memakai pakaiannya yang biasa—hoodie, celana longgar hitam panjang, dan tidak pakai alas kaki—untuk bertemu Wonwoo di langit depan gedung petinggi.
Sesuai apa yang dilihatnya saat di kafe, itu benar-benar Jeon Wonwoo. Matanya masih sesipit kemarin dan rambutnya masih sama, dengan poni yang entah ingin lurus ke depan atau agak menyamping. Ia mengenakan kaos dan semacam kardigan abu-abu lalu celana warna aprikot selutut. Seperti orang baru bangun tidur, pikir Mingyu. (Mingyu belum mengaca.)
Mingyu menyapanya duluan untuk memberi kesan baik. "Halo, aku Kim Mingyu. Kau itu Jeon Wonwoo, ya? Pembawa embun?"
Wonwoo di depannya mengangguk, tersenyum kecil. "Iya, panggil saja Wonwoo. Ayo kita bekerja, ini akan memakan waktu lumayan."
"Siaaap."
Mingyu dan Wonwoo segera terbang ke padang-padang bumi. Mingyu mengikuti Wonwoo—setelah ia memercikkan embun, maka Mingyu akan bekerja sama dengan angin yang menyebarkan serbuk berpendarnya untuk masuk ke tanah dan membuat tumbuhan sehat dan bisa berumur panjang. Mereka bekerja dengan cepat, walaupun Mingyu tidak kehilangan kebiasaannya untuk mengamati pemandangan.
Mingyu terhenyak. Angin menyatukan embun dan serbuk itu lalu berputar-putar dengan gerakan yang indah.
"Wonwoo!" panggilnya segera, sambil menunjuk pusaran angin kecil itu.
"Itu hebat!" kata Wonwoo. Mingyu senang melihat binarnya yang sungguh-sungguh. Wonwoo berkata, "Bisa kau buat lagi?"
Mingyu tertawa. "Itu hanya kebetulan. Dan kau tidak bisa membuat sebuah kebetulan."
Wonwoo mengangguk sambil tersenyum. Sisa waktu itu untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Mingyu sendiri terus menerus beterbangan, lompat dari satu bagian tanaman ke bagian yang lainnya, mengajak bicara. Itu sudah hobi Mingyu sejak awal ia ditugaskan menjadi pembawa serbuk, dan ia menikmatinya. Tanaman dan dirinya mempunyai hubungan khusus yang dekat.
Beberapa saat kemudian, mereka beristirahat di bagian padang rumput yang teduh. Mingyu melambaikan tangan ke dandelion manis yang digoda angin, ketika suara Jeon Wonwoo terdengar.
"Mingyu,"
Mingyu menoleh, mengangkat alisnya yang membentuk kurva mengagumkan. "Ya?"
Wonwoo berdeham. "Kau terlihat akrab dengan tumbuhan. Bagaimana bisa?"
"Aku? Kau berpikir begitu?"
Wonwoo mengangguk. "Tentu. Kau terlihat begitu… berteman dengan mereka. Sebagai pengamat, aku melihatmu begitu bahagia. Benarkah?"
Wonwoo benar, Mingyu memang bahagia. "Tentu saja aku bahagia. Jika tidak, mungkin aku sekarang sudah mati dalam arti sebenar-benarnya. Kau sendiri? Bahagia?"
Wonwoo terdiam sebentar sebelum menjawab. "Aku bahagia, jelas. Tapi ada satu hal yang akhir-akhir ini menggangguku."
Mingyu jadi heran. "Apa?"
Tapi Wonwoo menggeleng-geleng. "Aku merasa tidak enak mencurahkan isi hati pada orang yang baru kukenal."
"Apa bedanya aku yang sekarang dan aku beberapa waktu kemudian? Tidak ada. Jadi kalau mau cerita, ya cerita saja." kata Mingyu. Memang benar, ia sekarang dan ia yang kemudian tidak akan ada bedanya.
"Kenapa tidak ada?"
Mingyu membalas. "Kenapa ada?"
Raut Wonwoo jadi lebih datar. "Kau malah membuat ini jadi rumit."
Tapi Mingyu malah tertawa. Ia suka sekali berbalas kalimat-kalimat yang tidak jelas artinya seperti ini. "Tidak rumit. Kau saja yang berpikir rumit."
"Hah? Apa?" Wonwoo tidak terima. Tapi Mingyu hanya membelai-belai rumput di dekatnya sembari menyebar serbuk lagi. Sesaat kemudian, ia menatap Wonwoo.
"Ya sudah, Wonwoo, ayo pulang ke dunia kita."
Wonwoo terdiam.
Mingyu menggoyangkan tangan di depan wajah Wonwoo. "Ayo, Wonwoo. Jangan diam begitu."
Wonwoo masih tak bicara apa-apa, tapi ia memandangi Mingyu dan akhirnya mengangguk.
Ia tidak bertemu Jeon Wonwoo sampai beberapa tahun setelah tugasnya itu.
Tapi sesuatu mengganggunya. Ketika ia sedang berada di gunung es lagi untuk melihat aurora, tiba-tiba wajah Wonwoo terbayang. Wonwoo dengan mata sipitnya. Wonwoo seperti kopi dengan satu kubus gula. Manisnya tidak menyakitkan bagi tenggorokan, namun juga tidak tawar. Pas saja. Sebegitu pas sampai Mingyu ingin melihatnya lagi.
Tapi bagaimana caranya? Mingyu berpikir berulang-ulang. Ia terlalu gengsi untuk minta tolong Soonyoung—apalagi sekarang ia sudah punya kuil bersama pengatur bernama Lee Jihoon. Dan juga dulu Mingyu bilang kalau ia biasa saja ketika melihat Wonwoo, tidak tertarik.
Ia tidak menemukan cara yang pas, jadi ia bertahan sendiri sampai beberapa waktu.
Ketika ia sedang berputar-putar di dekat gedung buku, ia secara tidak sengaja bertemu Seungcheol lagi.
"Mingyu!"
Mingyu menoleh. Wajah Hispanic itu ada beberapa meter di hadapannya, mempertahankan tampan dan kelembutan selama beberapa ratus tahun. "Seungcheol-hyung," sapanya balik.
Seungcheol mendekat, menepuk bahu Mingyu. "Apa yang sedang kau lakukan? Mau bertugas?"
"Menenangkan diri?" Mingyu menggeleng-geleng. "Aku tidak sedang ada tugas."
Tapi Seungcheol malah tertawa. "Hahaha, untuk apa menenangkan diri? Kalau tidak ada tugas, mau mampir ke kuilku? Ada Junghan dan tehnya yang siap menjamu."
Mingyu mengangguk. Tentu saja. Kalau di kuil, ia bisa dapat banyak makanan gratis. Juga teh gratis. Mingyu jelas tahu kalau Junghan itu kolektor teh-teh yang harganya selangit. Lumayan.
Mereka berdua beriringan ke kuil Seungcheol yang besar, berada tidak jauh dari tempat itu. Sembari terbang, Mingyu melihat pemandangan di bawahnya. Aurora tidak terlalu tebal hari ini, mungkin karena cuaca cerah. Mingyu pikir ia ingin hujan. Tapi kalau hujan, yang sedang bertugas kasihan. Tidak bisa maksimal. Apalagi kalau Soonyoung iseng untuk menambah angin juga.
"Sudah sampai."
Mingyu nyaris menabrak tiang penyambut tamu kalau suara Seungcheol tidak menyadarkannya.
"Oh, iya."
"Cuci kaki."
Mingyu melengos, lalu mencuci kakinya dengan air yang ada di telaga depan. Padahal Seungcheol juga sudah tahu, kalau dirinya selalu dipenuhi serbuk, jadi tidak pernah terkena debu lainnya.
"Junghan sayang, ada Mingyu!" teriak Seungcheol.
Mingyu mengikuti Seungcheol masuk ke dalam. Biasanya Junghan ada di ruang tengah, jadi ia tak mengikuti Seungcheol—yang hendak ke kamar—dan langsung menuju ruang tengah. Dugaannya tepat. Dari luar, Mingyu melihat Junghan sedang duduk, seperti biasa, dengan anggun. Tapi ekspresi wajahnya agak aneh. Ia kelihatan kaget.
"Ada apa dengan ekspresimu." Mingyu langsung masuk ke dalam.
Bingo.
Pandangannya bertemu dengan pandangan orang lain.
Jeon Wonwoo.
Semuanya canggung dan Junghan membuatnya tampak makin buruk.
"Aku ada urusan dengan Seungcheol. Sebentar ya."
Ia meringis sembari melihat Mingyu yang datar, lalu melesat keluar begitu saja. Ta-ra, tinggallah mereka berdua di ruangan itu. Hanya berdua. Wonwoo yang mengetuk-ngetuk cangkir tehnya dan Mingyu yang…entahlah, tampak berusaha menyatu dengan tembok kayu ruang tengah.
"A-apa kabar?"
Wow. Mingyu tidak menyangka Wonwoo akan memulai percakapan duluan. Ia tanpa sadar mengangguk-angguk. "Aku baik."
Wonwoo jadi ikut mengangguk. "Oh, begitu."
Bodoh sekali! Harusnya Mingyu tanya untuk Wonwoo juga! "Kau bagaimana, Wonwoo?"
"Aku baik-baik saja." jawab Wonwoo.
"Ooh…"
Mingyu tidak tahu harus bicara apa. Ada suara krasak-krusuk dari ruang sebelah. Ia berani bertaruh kalau Junghan dan Seungcheol sedang berusaha mengintip.
"Kenapa canggung sekali…" Wonwoo tertawa aneh. Ia menggaruk tengkuknya.
"Jangan membuatnya jadi tambah canggung dengan mengatakan itu." akhirnya Mingyu bisa mengendalikan diri. "Ini teh apa?"
"Ini Gyokuro Tea. Kata Junghan, beberapa level dibawah Darjeeling Tea. Untuk informasi, itu teh paling mahal. Yang ini tidak." jawab Wonwoo, sepertinya sudah bisa mengendalikan diri juga. Wonwoo jelas pembicara yang cukup baik.
"Benarkah?"
"Biar kutuangkan." kata Wonwoo. Ia mengambil cangkir kosong dan menaruhnya, lalu mengambil teko keramik yang berisi teh itu dan menuangkannya ke cangkir. "Gula?" tanya Wonwoo, untuk pertama kalinya hari ini memandang tepat ke binar berpendar Mingyu.
"Satu kubus." jawab Mingyu, membentuk angka satu dengan jari telunjuknya. Wonwoo memasukkan tepat satu kubus gula ke cangkir Mingyu.
"Silakan," Wonwoo menyerahkan cangkir itu ke Mingyu, yang segera menerima dengan hati-hati.
"Terimakasih," celetuk Mingyu cepat-cepat. Ia merasa merepotkan, apalagi seharusnya Junghan yang membuatkan. Bukan malah Wonwoo. Hmmm.
Dan… suasana kembali menjadi canggung. Mingyu mengulang keinginannya untuk menyatu dengan tembok ruang tengah. Ia juga mendengar bisik-bisik dari ruangan lain—sepertinya Junghan yang gemas karena Mingyu dan Wonwoo tidak bicara apa-apa, dan juga Seungcheol yang menenangkannya.
Rasanya seperti berabad-abad lamanya mereka terdiam. Padahal cuma empat menit.
Setelah mengumpulkan keberanian, Mingyu akhirnya mendongak, menatap Wonwoo yang memainkan ujung kaosnya. "Wonwoo,"
Yang dipanggil jelas saja gelagapan. "Y-ya?"
Mingyu diam sebentar. Menikmati suasana yang menghening. Ia jadi geli sendiri, pasti Junghan dan Seungcheol pasang telinga lebar-lebar dan konsentrasi. Pandangannya menuju Wonwoo yang dari tadi sudah balik menatapnya. Mingyu tersenyum—gigi taringnya keluar sedikit. Tidak ada yang mengalahkan kepercayaan dirinya.
"Yah… jadi… mau coba kencan?"
Kemudian Wonwoo kelihatan manis dengan matanya yang melebar.
Anehnya, yang kelihatan paling senang dengan perkembangan hubungan antara Mingyu dan Wonwoo adalah, well, siapa lagi kalau bukan si ibu—Junghan?
Pertama, ia benar-benar merasa senang karena akhirnya Wonwoo mendapat pasangan. Wonwoo 'kan juga teman terbaiknya, maka ia haruslah ikut senang. Kedua, ia merasa punya menantu yang tampan (padahal ia bukan ibu Wonwoo). Ketiga, ia merasa senang karena tak harus mencarikan dan mendengar Wonwoo mengeluh lagi tentang kuil dan syarat esensialnya.
"Selamat, selamat!"
Junghan tetap bilang begitu ketika pada sore-agak-malam hari, Wonwoo diajak Mingyu kencan yang ke-x kalinya (karena sudah saking seringnya mereka kencan, sampai tidak bisa dihitung lagi). Mingyu menatapnya datar. "Kami sudah mendengarnya ribuan kali."
"Kalau begitu yang tadi itu ribuan tambah satu kali. Mingyu, jaga Wonwoo yang benar. Ia itu seperti anakku." pesan Junghan tak pernah berbeda tiap kali mereka kencan.
Wonwoo, sebagai anak, menghayati perannya. Ia berdiri malu-malu di samping Mingyu yang menggenggam tangannya. "Kalau begitu aku berangkat. Ayo, Wonwoo." Mereka mulai terbang.
"Hati-hati anakku! Dan juga, calon anakku!" teriak Junghan. Ekspresinya sama seperti ibu-ibu yang telah mengijinkan anak gadis mereka diajak kencan oleh menantu idamannya.
"Ogah." kata Mingyu pelan. Wonwoo hanya tertawa mendengarnya.
Baru kali ini, Mingyu mengajak seseorang terbang dalam waktu yang lama. Yah, kalau Mingyu sih senang-senang saja terbang. Tapi ia tidak tahu untuk Wonwoo. Ia melirik, Wonwoo kelihatannya asyik-asyik saja melihat pemandangan. Mereka melewati tempat-tempat yang sudah didatangi untuk kencan sebelum-sebelumnya
Suara Wonwoo terdengar dari belakangnya. "Mingyu, kita kemana?"
"Ikut aku saja," jawab Mingyu.
Setelah beberapa menit, Wonwoo sepertinya mulai merasakan penurunan suhu. "Mulai dingin ya," celetuk Wonwoo. Mingyu memelankan terbangnya, lalu menghadap Wonwoo. Mingyu baru sadar kalau Wonwoo hanya pakai kaos lengan panjang yang tipis.
"Maaf, aku lupa," kata Mingyu. Lalu Mingyu terpejam. Sejenak kemudian, serbuk-serbuk emas itu seolah terhempas dari seluruh tubuhnya. Lalu tangannya melingkupi Wonwoo sehingga serbuk-serbuk yang jumlahnya banyak itu juga mengelilingi Wonwoo. Wonwoo menatapnya bingung.
"Jadi serbuk ini juga hangat?"
Mingyu tersenyum, lagi-lagi gigi taringnya keluar sedikit, memesona. "Begitulah. Jadi tidak begitu dingin, 'kan?"
Wonwoo mengangguk-angguk, kelihatannya masih sedikit-sedikit bingung. Mingyu masih tersenyum, Wonwoo kelihatan manis dikelilingi serbuk bercahaya seperti itu.
Mereka masih melewati lembah-lembah dan setelah Mingyu lihat tempat yang pas, ia berhenti melaju. Ia menggenggam tangan Wonwoo yang sebelah kanan dan mengajaknya untuk mendarat di salah satu gunung es.
"Dingin tidak?"
Wonwoo menggeleng. "Tidak, masih terasa sangat hangat. Terimakasih, ya."
Mingyu mengangguk. "Kalau begitu, duduk di sini. Sebelahku, dan juga jangan berjarak terlalu jauh, agar aku bisa merangkulmu."
Wonwoo diam sebentar, tapi ia menurut dan duduk di sebelah kanan Mingyu, jadi tangan Mingyu merangkulnya dan Wonwoo bisa bersandar dengan nyaman di bahu Mingyu. Untuk kali itu, Mingyu bersyukur dalam-dalam atas tingginya yang melampaui Wonwoo.
"Kau tahu Wonwoo," Mingyu mulai bercerita. "Gunung es ini dekat garis luar dunia atas. Maka di sini auroranya tebal sekali, dan yang ada di belakangnya bukanlah langit biasa, tapi galaksi. Bagus, 'kan?"
Wonwoo menatap langit, pandangannya menerawang dan Mingyu sekali lagi bersyukur karena Wonwoo kelihatan terpesona. "Bagus sekali… Bagaimana kau menemukan tempat seperti ini? 'Kan jauh sekali dari pusat?"
Mingyu mengangkat bahu, tertawa sedikit. "Entahlah, saat itu aku masih awal-awal menjadi pengatur dan aku suka sekali berjalan-jalan. Jadi aku tahu tempat-tempat yang tersembunyi di dunia atas ini."
"Hebat sekali. Ini saja baru pertama aku jalan-jalan sejauh ini, kecuali ke bumi." kata Wonwoo. Mingyu meliriknya.
"Aku hebat, 'kan?"
Raut Wonwoo jadi datar. "Iya, hebat."
Mingyu tertawa. "Hei, berbanggalah! Kau orang pertama yang kuajak ke sini. Itu karena kau istimewa, tahu?"
Wonwoo menatapnya. Ekspresinya masih datar, tapi dari binar matanya, Mingyu bisa sungguh-sungguh mengatakan kalau Wonwoo senang. "Benarkah aku istimewa untukmu?"
Mingyu tertawa lagi, "Kalau tidak benar, mana mungkin aku mengajakmu kencan berkali-kali, he?"
Wonwoo memiringkan kepalanya. "Mungkin karena Soonyoung tak lagi bisa diajak main? Kau pernah bilang kalau seluruh waktunya sekarang untuk Jihoon."
"Memang tidak bisa dielakkan kalau itu mungkin ada di daftar faktor, tapi faktor yang utama itu karena sekarang ada kau, 'kan. Jadi aku lebih memilih bersamamu,"
"Mingyu dan kalimat-kalimatnya mulai beraksi lagi," celetuk Wonwoo. Mingyu tertawa keras-keras. Kebiasaannya datang lagi, mempertahankan pendapatnya dengan bermain kata.
"Maaf," kata Mingyu, tersenyum pada Wonwoo. Tapi Wonwoo malah mengelus rambut Mingyu sebentar, dengan lembut.
"Jawaban dari itu akan selalu 'tidak apa-apa', Mingyu," katanya, tersenyum balik. "Lihat langitnya," kata Wonwoo, sadar duluan. Mereka berdua mendongak, menatap galaksi yang dihiasi aurora cantik berwarna-warni dan melayang-layang seperti sutra yang dihempaskan ke langit dan tak memiliki gravitasi untuk kembali ke pelemparnya.
Mingyu menatap Wonwoo yang masih menatap langit. Apa sekarang saatnya, ya?
"Hei, Jeon," kata Mingyu.
Wonwoo tidak menoleh ke arahnya, "Hmm?"
"Kau… mau bangun kuil bersamaku?" ucap Mingyu pelan.
Suasana jadi benar-benar hening selama beberapa detik. Perlahan, Wonwoo melirik ke arah Mingyu, dimana wajah tampan dan mata tajam itu menatapnya tanpa berkedip.
"…kau sungguh-sungguh bilang begitu?" tanya Wonwoo, kelihatan jelas kalau ia merasa tidak yakin.
"Kalau aku tidak sungguh-sungguh, aku tidak akan bilang."
"…" Wonwoo terdiam, matanya masih menatap Mingyu, sepertinya masih tidak percaya apa yang dikatakan Mingyu tadi.
Mingyu mengeluh. "Demi binar berpendarmu yang menyimpan bahagia itu, Jeon Wonwoo, jawablah,"
Wonwoo menarik nafas. "…kau tahu aku tak akan menolakmu, Kim Mingyu! Akhirnya—! Akhirnya—!"
Mingyu mengangkat alis. Wonwoo kelihatan senang sekali sampai ia tidak bisa menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Matanya berkaca-kaca dan Mingyu tidak tahu apa yang bisa dilakukannya—ia tidak pintar menangani orang yang menangis.
"Jadi… bagaimana?"
Aw, Mingyu bodoh sekali.
"Jadi, tentu saja aku mau! Aku mau membangun kuil denganmu! Aku ingin bersamamu, Kim Mingyu! Selama-lamanya!" jawab Wonwoo keras-keras. Agar Mingyu dengar, agar gunung es dengar, agar langit dengar, agar aurora dengar, agar galaksi dengar.
Mingyu menghela nafas. Senyumnya muncul, dihiasi kelegaan dan kebahagiaan. Ia merengkuh tubuh Wonwoo dalam pelukannya, lagi-lagi bersyukur karena Wonwoo lebih kecil darinya, jadi ia bisa mengistirahatkan dahinya di bahu Wonwoo. Mingyu sudah paham bahwa tidak selamanya sesuatu akan bersama dengannya, tapi untuk kali ini, rasanya masa bodoh saja.
"Terimakasih telah menerima," bisik Mingyu. Rasanya seperti beban berkilo-kilo terangkat dari bahunya.
Dan Wonwoo yang tak hanya membalas pelukannya, tapi juga ucapannya membuat Mingyu makin tenang. "Terimakasih telah tanya begitu,"
"Jeon Wonwoo, aku sayang kau, tahu." Mingyu duduk tegak lagi, dahinya terangkat dari bahu Wonwoo. Ia menatap Wonwoo dengan pandangan yang tidak bisa dideskripsikan. Tentu saja, Wonwoo 'kan kopi dengan satu kubus gula milik Mingyu.
"Aku juga sayang kau, Kim Mingyu,"
Mingyu tak bisa lagi berkata-kata. Ia menangkup kedua pipi Wonwoo dengan lembut, dan perlahan mendekatkan wajahnya pada raut Wonwoo yang memerah.
Lalu Mingyu mencium Wonwoo perlahan. Membiarkan galaksi berbintang itu menjadi saksi, membiarkan aurora layaknya sutra melayang itu berbisik menggoda, membiarkan gunung es itu menjadi pengamat bisu atas mereka.
Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo.
Kedengaran sempurna, bukan?
end
akhirnya—! akhirnya end jugaaaa!
saya seneng banget. nggak tau napa.
mungkin karena uts kemaren lumayan berhasil.
mungkin karena ini udah end.
mungkin karena ini happy ending.
hahahay. yang pasti ini menyenangkan!
walaupun fantasy itu benar-benar menguras otak.
huwaw huwaw. ini panjang sekali. 4k lebih -_-
well ;)
dedicated to :
BSion, 17MissCarat, fallen1004, Anna-Love 17Carats, Siska Yairawati Putri, svtvisual, iniapaseh, NichanJung, Firdha858, Gigi onta, hmm, elfishynurul, peachpeach, A Y P, wonuemo, Sonewbamin,
Chan-min, DaeMinJae, Inne751, Jihyunnn, Kim991, MinoRin91, enellaiz, fierylilacxx, fvcksoo, grayesoul, jungkimyoo, nanaelfindo, thetwinstower, yehetmania, yrae, Jeonwonw, kxmhyxnx, territorialflower,
dan semua readers yang berkenan membaca~!
[yuhu reviewnya ditunggu ;u;]
okesip. maaf kalau ff ini sangat banyak kurangnyaa *bow*
gamsahamnidaa ;u; *bow*
