Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama.

Aku Menemukanmu © Kaizen Katsumoto

Warning: OOC, AU, Typo, Yaoi, R-18, Mature Content, bad language.

.

Summary: Kemunculan Hoseok yang mengejutkan! Siapa sebenarnya Taehyung? YoonMin, slight!TaeMin, HoseMin.

.

.

.

Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini. Bagi yang merasa di bawah umur atau punya phobia homo bisa meninggalkan tempat ini.

Enjoy!

.

Bagian II

.

.

.

Jimin membuka kelopak matanya setelah suara alarm di atas nakas berdering keras. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang tampak asing. Merasa itu bukan kamar lama maupun kamar barunya, oh dia ingat itu kamar Yoongi. Kepalanya pening dan ingatannya mengabur. Bertanya-tanya apa yang telah terjadi semalam. Begitu sadar dia langsung mendesah lemas, tak menemukan sosok Yoongi dimana pun.

Padahal semalam perbincangannya dengan Yoongi sangat menyenangkan. Pemuda itu mampu membuatnya merasa nyaman hingga bicara panjang lebar. Hal yang sangat jarang Jimin lakukan. Terakhir dia bicara panjang lebar adalah saat berada di Junior High School di Busan sana bersama teman baiknya—satu-satunya teman baik Jimin. Namun mengingat Yoongi telah menolaknya semalam seolah memukulnya jatuh hingga ke dasar jurang terdalam.

Jimin melangkahkan kaki keluar kamar. Menelusuri seluruh ruangan hingga tanpa sengaja menemukan Yoongi sedang tertidur pulas di atas sofa. Wajah damai dengan helai cokelat kemerahan mencuat berantakan. Jimin berjalan mendekat, mata tak lepas memandangi seluruh tubuh Yoongi. Tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, tangan kanannya bergerak tepat menuju selakangan Yoongi yang masih berbalut katun, tak memberikan reaksi membahayakan, setidaknya begitu menurut Jimin.

Jimin tersenyum kesenangan, tangan makin berani menekan dan meremas milik Tuan Rumah—tak ada pergerakan berarti dari Yoongi. Pemuda itu sudah terlelap seperti mayat, membuat Jimin mengeluarkan seringaian nakal.

.

Yoongi berulang kali bergerak dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan. Tidurnya terasa semakin tak nyenyak. Ketika matanya terbuka yang pertama ditemuinya adalah wajah Jimin sedang menempel tepat di area selakanganya. Celana sudah ditarik turun sampai lutut meninggalkan dalaman yang utuh basah penuh liur. Jimin menjilati miliknya posesif yang masih terbungkus fabric.

"Selamat pagi, Yoongi-hyung." Bukannya pergi, pemuda itu justru menyamankan diri, melanjutkan kegiatan, wajah polos selalu menyertai senyuman mungilnya.

Sebuah perempatan tak kasat mata bertengger di kepala Yoongi, bangun dari posisinya cepat. Tangannya menjambak kasar helaian raven hingga membuat Jimin menjerit kesakitan, menyingkirkan Si Bocah agar menjauhinya. "Pergi ke kamar mandi dan mandi!" Perintahnya.

"Tapi hyung, aku hampir-"

"MANDI."

Jimin menciut, pergi juga menuju kamar mandi sebelum Yoongi mengulang untuk ketiga kalinya. Suara debaman pintu seketika membuat Yoongi menghela napas panjang. Kepala bersandar di sandaran sofa. Sepertinya dia memungut pemuda yang salah. Tak menyangka Jimin adalah pemuda abnormal penyuka tindakan ekstrim. Bagaimana Yoongi tak meruntuk ketika pagi buta sudah diberi blowjob yang hampir membuatnya ngompol di celana? Tidak. Yoongi menggelengkan kepalanya, meyakinkan diri bahwa dirinya(masih) normal.

Satu hal yang masih menjadi misteri adalah kemarin merupakan kali pertama mereka berkenalan –menurut sepengetahuan Yoongi- tapi bagaimana Jimin bisa berbuat sejauh itu? Yoongi tak pernah ingat melakukan sesuatu yang memancing birahi lelaki lain. Kulit putihnya mungkin jadi pengecualian, mau bagaimana lagi? Memang dia harus mendemo ibunya karena melahirkan anak lelaki yang punya kulit seputih susu? Itu tidak mungkin terjadi kan? Tapi nyatanya sejak mereka bertemu kemarin, Yoongi selalu memberi batasan pada Jimin.

Lalu kenapa pemuda mungil itu bisa sampai tertarik padanya?

"Argh!" Yoongi mengacak helai cokelat kemerahan acak. Semakin dipikir dia semakin bingung. Bingung pada Jimin dan bingung pada orientasi seksnya yang makin ke sini semakin meragukan dari kata 'normal'.

Tuhan, apa salah Yoongi?

Apa ini hukuman karena sering berkata pedas di kampus?

Atau hukum karma karena telah membuat kekasihnya menangis hingga meminta putus?

Suara ketukan dari pintu depan menampar Yoongi hingga ke permukaan dunia nyata. Memacu langkah untuk menghampiri pintu depan. Sedikit mengintip dari celah pintu, wajahnya langsung berubah datar saat menemukan salah satu temannya di Senior High School dulu.

"Pagi Suga-hyung!" Suara keras ceria itu sudah biasa di telinga Yoongi.

"Pagi juga, Hobie." Balas Yoongi cepat. "Bagaimana dengan pesananku semalam?"

Pemuda itu—Hobie. Nama lengkapnya Jung Hoseok namun teman-teman sekolah lebih sering memanggilnya 'Hobie'. Perawakan tinggi tegap dengan helai hitam kelam mencuat tanpa sedikit pun menutupi dahi, senyuman lebar, balutan seragam Bangtan Senior High School pas di badan. Ya. Hoseok satu tahun di bawah Yoongi, tapi mereka berteman sejak Hoseok kelas satu dan Yoongi kelas dua. Persahabatan mereka sedalam lautan, bahkan setelah Yoongi lulus pun keduanya tak pernah memutuskan kontak. Hoseok sering membantu Yoongi begitu pula sebaliknya.

"Tenang saja, hyung~ aku membawanya kok!" Hoseok menunjukkan plastik besar berisi baju di kedua tangannya. "Serius. Kau tak mencuci pakaianmu berapa minggu sampai sebanyak ini?"

Hoseok menggerutu saat Yoongi mempersilahkannya memasuki apartemen. Pemuda itu menaruh kantung-kantung plastik di ruang tengah, sebelah sofa. Yoongi hanya diam tak menyahut, wajah angkernya semakin tertekuk mengingat kejadian semalam dan tadi pagi. Bagaimana jika dia menceritakan tentang Jimin kepada Hoseok?

Sepasang mata sipit melirik Hoseok dengan ujung matanya. Yang ditatap langsung sadar. "Kenapa melihatku begitu, hyung? Aku hanya bertanya. Jangan marah."

Tidak, tidak. Yoongi menggelengkan kepalanya cepat, tak mungkin menceritakan masalah mengenai Jimin pada Hoseok, terlebih bila mengingat pemuda yang sedang duduk di sampingnya itu adalah seorang biseksual. Bisa-bisa malah Yoongi ditarik ke dunia abnormal, masalah semakin runyam, dan tamat sudah karirnya sebagai pemuda baik-baik. Tak sepenuhnya baik karena Yoongi juga sering berbuat kasar, melanggar rambu lalu lintas jalan, dan peraturan lain. Kesimpulan akhirnya adalah Yoongi tak akan menceritakan apapun mengenai Jimin pada Hoseok

"Yoongi-hyung!"

Namun sialnya saat Yoongi baru ingin mengusir temannya tersebut suara Jimin malah mengalun merdu dari arah kamar mandi. Memanggil namanya dengan penuh kasih yang membuat Yoongi ingin melemparnya ke ring basket.

Lain hal dengan Hoseok yang terlihat berbinar mendengar suara lelaki –menurutnya- sedang memanggil nama asli sahabatnya dengan nada sedikit manja. Matanya membola ke arah Yoongi seolah meminta penjelasan, pasalnya setahu Hoseok tak ada lelaki lain yang berani memasuki apartemen Yoongi selain dirinya. Yoongi bungkam. Panggilan dari kamar mandi semakin menjadi. Jimin berteriak-teriak seperti anak kecil, memanggili namanya beberapa kali tanpa jeda.

Hoseok siap membuka mulut untuk mengintrogasi. "Tidak. Dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang pemuda yang kebetulan kutemukan di karnaval kemarin." Yoongi menjelaskan cepat. Hoseok tersenyum penuh arti yang membuat Yoongi salah makna.

Suara langkah kaki mengudara, menggantikan teriakan Jimin yang memekakkan telinga. "Yoongi-hyung! Aku memanggilmu daritadi! Dimana baju-"

Napas Jimin tercekat kala memasuki ruang tengah dimana sepasang iris onyxnya menangkap dua pemuda lain sedang duduk manis. Diam tak bergerak dengan selembar handuk melilit pinggang, mempertontonkan otot perut dan lengan yang menegang saat menemukan sosok itu.

Hoseok terlonjak kaget menyadari keberadaan Jimin. Tanpa diduga berlari hingga menubruk sosok mungil di ambang pintu penuh kegirangan. "CHIMCHIM!" teriaknya hampir meruntuhkan atap apartemen.

"HOBIE-HYUNG!" Tak kalah ribut, Jimin ikut berteriak seperti kesetanan membalas pelukan Hoseok di pinggangnya.

Kedua makhluk itu dipertemukan oleh suasana haru yang menyentuh, ditambah sebuah kecupan berulang yang berujung menjadi ciuman panjang dadakan membuat Yoongi merasa annoying di apartemennya sendiri. Seolah dunia sedang berjungkir balik dan nasip menertawakannya. Dari semua pemuda yang ada di dunia ini kenapa harus dirinya yang menyaksikan pertemuan homo menjijikkan, terlebih di saat Sang Kekasih baru memutuskan ikatannya kemarin.

"Yak! Hentikan perbuatan laknat tak tahu adat kalian sebelum kutendang dari sini!" Yoongi memisahkan dua bibir yang sibuk bertaut menggunakan kedua tangannya kasar. Melemparkan seragam dan pakaian dalam ke muka Jimin. "Pakai pakaianmu!" Perintahnya cepat.

Jimin melepas handuk, bersiap memakai seragamnya saat itu juga sebelum Yoongi benar-benar menendangnya.

"BUKAN-DI-SINI." Suara pemilik rumah menggeram.

Jimin kembali memakai handuknya, berlari tunggang langgang meninggalkan ruang tengah. Hoseok bersiul. Yoongi memijit pelipisnya lelah.

"Jadi yang Suga-hyung temukan di karnaval adalah Chimchim?" Hoseok bertanya seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada setelah kepergian Jimin. "Bagaimana kalian bisa berkenalan?"

Yoongi berdehem, "Bukannya aku yang harusnya bertanya? Bagaimana kalian bisa saling kenal? Bahkan melakukan—kau tahu maksudku kan?" Ia menggunakan jari telunjuk dan jari tengah di kedua tangannya untuk membuat tanda kutip transparan. "Ciuman panas tak tahu malu."

Yang lebih muda tergelak mendengar penuturan Yoongi. Kemudian mengangguk paham seraya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, menyadari kalau memang Hoseok yang sepertinya berhutang penjelasan di sana. "Hyung, kau ingat ceritaku sebelum aku pindah ke Bangtan Senior High School?" Hoseok mengawali. Yoongi hanya mengangguk kecil. "Ya. Sebelumnya aku tinggal di Busan dan sekolah di sana sampai lulus SMP-"

.

Flash back

.

Awalnya Hoseok pemuda baik-baik, normal baik kejiwaan maupun orientasi seksnya sampai dia naik ke kelas dua Junior High School. Dia dipertemukan dengan Jimin yang merupakan hoobaenya. Anaknya pendiam dan tertutup, kerjaannya selalu menyendiri di pojok-pojok sudut sekolah yang sepi. Hoseok sering melihatnya berdiam diri di taman sekolah atau pinggiran lapangan ketika jam olahraga. Semakin diamati, Hoseok merasa semakin tertarik seolah pemuda itu memiliki pesona tersendiri yang dapat menyeret orang-orang tertentu untuk mendekat, sekedar menyapa atau berbincang ringan. Dan itu yang ingin dilakukan Hoseok.

Di satu siang Hoseok memberanikan diri menghampiri Jimin yang sedang termenung di pojok kantin seorang diri. Menegur dan mengajaknya ngobrol. Hoseok pemuda periang dan aktif jadi tak sulit baginya memulai pembicaraan dan mendekatkan diri pada lawan bicara. Awalnya Hoseok merasa pesimis bisa mengajak pemuda itu ngobrol karena Jimin sangat cuek, bahkan hanya menanggapi ucapannya dengan sepatah atau dua patah kata.

Hoseok mulai berpikir mungkin memang belum berjodoh dekat dengan hoobaenya itu, jadi dia akan menjauhinya saja. Namun tiap melihat Jimin yang terus-terusan menyendiri Hoseok semakin tak tahan membiarkannya. Bagaimana mungkin ada orang yang betah berdiam diri berjam-jam untuk memandang rumput atau menatap kakinya sendiri. Apa dia tidak bosan?

Bahkan ketika dia bertanya pada teman sekelas Jimin, kenapa pemuda itu sering menyendiri jawaban mereka selalu sama:

"Kami sudah berusaha mendekat dan bicara padanya, tapi dia bersikap terlalu cuek, menanggapi singkat, jadi kami memutuskan untuk membiarkannya."

Kira-kira begitulah. Semua sama persis seperti yang dia alami saat berusaha mengajak Jimin bicara. Setelah mendengar itu bukannya menyerah, Hoseok malah semakin menggebu-gebu. Ada hal lain menariknya seperti magnet untuk mendekati Jimin. Sebuah perasaan empati sebagai makhluk sosial.

Hanya dengan berbekal topik ringan serta mudah dipahami Hoseok kembali mendekati Jimin, terus mendekati bahkan menempel seperti perangko. Setiap hari menyapa di depan gerbang sekolah, tiap bel istirahat menunggu di depan pintu kelas, tiap pulang sekolah menghampiri kelas Jimin, mengajaknya pulang bersama. Semua terjadi begitu saja selama hampir sebulan lamanya, terlebih Jimin tidak pernah sekalipun menghindarinya. Pemuda itu bergerak teratur sesuai jadwal setiap harinya, ketika senggang maka Jimin akan menyendiri. Bahkan dalam waktu singkat Hoseok sudah hapal semua kegiatan sehari-hari Jimin di luar kepala.

Dia menjadi satu-satunya orang yang bisa mengajak Jimin bicara santai di sekolah. Jimin yang pendiam dan penyendiri—Sang Makhluk Anti Sosial, semakin terlihat menjadi siswa normal hanya ketika bersama Hoseok. Hoseok pun bangga pada dirinya sendiri kala tiap teman sekelasnya memuji betapa gigihnya dia meluluhkan murid kelas satu yang super dingin. Sebutannya sebagai hobie-hope-harapan tak sia-sia dia sandang. Dia bahagia, Jimin bahagia, dan teman-temannya juga bahagia. Semua bahagia. Sampai kejadian itu datang.

Sebuah degupan di dada yang terasa nyeri namun juga nyaman. Saat itu Hoseok masih tak menyadari perasaannya, dia bersikap normal layaknya seorang sahabat pada sahabatnya, layaknya seorang sunbae pada hoobaenya. Tetapi lama-kelamaan dia sadar ada yang tak beres pada dirinya.

Tiap bersama Jimin dadanya selalu berdegup kencang, terutama ketika melihat senyumannya. Begitu sadar dia merasa semakin tidak normal, Hoseok menyukai Jimin. Rasa suka yang melebihi sahabat pada sahabatnya, dan rasa suka melebihi sunbae pada hoobaenya. Hoseok menyukai Jimin sebagai individu terhadap individu lain—suka sebagai kekasih. Tapi jelas itu bertentangan dengan norma yang ada mengingat mereka sesama jenis. Semua orang akan mencemooh dan menghujatnya bila mereka tahu. Hoseok memutuskan untuk menahan perasaannya tapi semakin ditahan malah semakin ingin dikeluarkan. Memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya langsung pada Jimin. Setelah tahu tanggapan pemuda itu mungkin Hoseok bisa tahu keputusan tepat yang lebih baik dia ambil.

"Chim, boleh aku mengatakan sesuatu?"

Jimin tak merasa curiga, kepalanya mengangguk. Mengunyah roti tenang di pojok taman sekolah bersama Hoseok saat jam istirahat.

Yang lebih tua menyiapkan diri, menghirup udara dalam-dalam. "Aku tahu ini gila, entah bagaimana ini bisa terjadi, aku bahkan tak tahu dari mana semuanya berasal tapi akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang membuatku tidak tenang saat bersamamu." Ia mengambil napas gugup, "Kau bisa saja menjauhiku setelah ini… karena yang ingin kukatakan adalah... aku menyukaimu."

Oh, Hoseok ingin menceburkan diri ke kolam di dekat situ.

"Aku juga menyukai Hobie-hyung."

Kalimat tak terduga itu membuat Hoseok sedikit tersenyum namun wajah datar Jimin menyadarkannya, mungkin Jimin salah sangka. "Tidak Jimin, maksudku aku menyukaimu. Benar-benar menyukaimu. Menyukaimu sebagai laki-laki pada laki-laki." Jimin mengangguk.

"Aku juga menyukai Hobie-hyung sebagai laki-laki pada laki-laki." Jimin mengulang.

Hoseok merasa ada yang salah di sini. Bagaimana mungkin ini terjadi? Apa ini hanya kebetulan semata? Semua tampak terlalu menyenangkan seperti mimpi. "Kenapa kau menyukaiku?" Tanyanya ragu.

Jimin menyelesaikan gigitan terakhir rotinya. "Karena Hobie-hyung baik."

Dari situ Hoseok menarik kesimpulan bahwa Jimin benar-benar salah paham. "Kau tak bisa menjadikan itu sebagai alasan, Jimin. Terlalu banyak orang baik. Apa kau juga menyukai mereka? Kalau iya, itu berarti kau salah mengartikan rasa suka yang baru saja kuungkapkan. Aku menyukaimu layaknya sebagai kekasih bukan teman ataupun sunbae."

Jimin menggelengkan kepala. "Aku tidak salah paham, aku juga serius menyukaimu, hyung. Sebagai kekasih." Wajahnya berubah serius.

Hoseok terdiam, berpikir cukup lama. "Kalau begitu buktikan." Tantangnya. "Cium aku."

Wajah Jimin bersemu, matanya sedikit melebar kaget. Detik berikutnya dia mendekati wajah Hoseok untuk mencium tepat di bibir. Kecupan ringan yang hanya saling menempelkan bibir namun itu cukup membuat Hoseok balas menarik kepala belakang Jimin untuk kembali menautkan bibir, kali ini Hoseok menggunakan lidahnya membasahi bibir lawan. Karena kaget tanpa sadar Jimin membuka mulutnya. Diberi kesempatan jelas Hoseok memanfaatkannya dengan baik. Lidah liatnya segera masuk ke dalam mulut, memenuhi undangan. Bermain di sana, berulang kali memojokkan lidah Jimin, menghisap dan melumat. Membuat Jimin melenguh tertahan.

Suara bel tanda masuk kelas mengakhiri ciuman kedua mereka. Hoseok dan Jimin saling bertukar pandang, mereka tersenyum satu sama lain. "Chim, sepulang sekolah datanglah ke kelasku." Jimin tidak bertanya lebih lanjut, hanya mengangguk. Mereka berdua berpisah untuk masuk kelas masing-masing.

.

Sepulang sekolah sesuai ucapan Hoseok, Jimin mengetuk pintu kelas sunbaenya saat semua siswa sudah pulang. Hoseok seperti janjinya menunggu di bangkunya seorang diri. Jimin berjalan mendekati meja Hoseok di pojok belakang, memandangi Hoseok yang tersenyum melihatnya.

Jimin menaruh tas sekolah di salah satu meja nganggur. Hoseok menepuk pahanya sendiri, memberi isyarat agar Jimin duduk tepat di pangkuannya. Jimin menurut, menempelkan pantat di pangkuan Hoseok, wajah mereka berhadapan. Kedua tangan lebih besar menyentuh kedua pipi Jimin, menangkup wajah tembam sangat hati-hati. Hoseok diam. Jimin diam. Mereka beradu pandang cukup lama.

"Jimin, boleh kulanjutkan yang tadi?" Tanya Hoseok pelan-pelan. "Aku ingin meyakinkan perasaanku dan perasaanmu." Jimin mengangguk seolah paham apa yang sunbaenya inginkan.

Hoseok menarik kepala Jimin, mempertemukan kedua bibir dalam sebuah tautan lidah memabukkan. Hoseok dengan cepat memasukkan daging tak bertulangnya, memojokkan lidah Jimin yang banyak pasif. Entah karena kurang pengalaman atau memang tak bisa berciuman, Jimin hanya mendesah tertahan saat isi mulutnya dipermainkan sedemikian rupa hingga lelehan saliva berkali-kali turun melewati ujung bibirnya. Bukan masalah, karena Hoseok tetap menyukai Jimin.

Suara desahan maupun lenguhan Jimin sangat merdu dan mengundang libidonya naik. Bahkan selama punya pacar sampai putus Hoseok tak pernah tergoda hanya dengan sebuah desahan, berbeda ketika dia mendengar suara pemuda itu. Baginya, Jimin terlihat seperti mainan seks yang terus meningkatkan gairah. Tubuh mungil, wajah imut, sentuhan di kulit lembutnya, sifat polos seksi, serta suara merdu. Semua seolah menggelapkan pandangan Hoseok.

Jimin mengalungkan kedua lengannya di leher Hoseok saat yang lebih tua mulai melepas kancing seragamnya. Kedua tangannya masuk ke kaos dalam Jimin, mencubit dan memilin puting mencuat kecokelatan hingga berubah warna menjadi kemerahan. Jimin memejamkan matanya, alisnya mengkerut. Menggigit bibir bawahnya sendiri agar tak mengeluarkan suara-suara aneh.

Hoseok mengganti kerja tangannya menggunakan mulut, kini menghisap kedua puting Jimin bergantian seperti bayi menyusu. Jimin menggelinjang kegelian dibuatnya. Tangannya menekan kepala Hoseok mendekat oleh pelukan. Suara desahan pemuda itu bergetar di dalam ruang kelas kosong. Sementara kedua tangan Hoseok yang bebas bermain di kedua bongkahan kenyal Jimin, meremas kadang menekan lubang di antara pantat dari luar celana. Jimin tersentak seolah mendapat sengatan listrik.

"Jimin, mulai sekarang panggil namaku jika kau ingin mendesah." Suara Hoseok berbisik tepat di telinga Jimin, membuatnya meremang, menganggukkan kepalanya perlahan sebagai balasan.

Saat itu Jimin tidak tahu apa-apa, tak mengerti apa yang Hoseok lakukan padanya. Yang dia tahu adalah dia merasa senang bisa melakukan kegiatan itu bersama Hoseok. Tanpa sadar dia menempatkan sunbaenya itu sebagai orang paling penting di kehidupannya. Karena Hoseok berbeda dari yang lain. Karena Hoseok terus memberinya perhatian tanpa henti. Karena Hoseok menyukainya maka Jimin akan membalas lebih menyukainya.

Celana sekolah Jimin sudah berjatuhan di atas lantai. Hoseok menyuruhnya mengulum jemarinya, Jimin menurut. Menikmati sensasi jemari Hoseok di dalam mulutnya sampai saliva kembali berceceran. Hoseok mengeluarkan jari-jarinya setelah dirasa cukup basah.

"Hobie-hyung, apa yang akan kau lakukan?" Jimin bertanya bingung.

Hoseok tak langsung menjawab, hanya tersenyum sebagai balasan. Membuat Jimin semakin bingung. Pantatnya tiba-tiba diangkat agak tinggi, secara reflek membuat tubuh Jimin jatuh memeluk kepala Hoseok. Dia berusaha melihat ke belakang untuk menyaksikan apa yang akan sunbaenya lakukan pada pantatnya. Namun Jimin tak sempat melakukannya ketika dirasa sesuatu menerobos pertahanannya di bawah sana tanpa kesiapan.

"Anh!" Jimin memekik, tubuhnya menggeliat tak nyaman. "H-hobie...hyungh... apa... yang... kau lakuk...anh..." bisiknya tepat di telinga lawan, Jimin mengeratkan pelukan di leher Hoseok.

Yang lebih tua tidak memberi respon, sibuk menanamkan jari basah di dalam tubuh Jimin. Satu. Dua. Jimin mengerang kesakitan. Hoseok menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan. "Semua akan baik-baik saja." Bisiknya, "Rileks Jimin..."

Akhirnya jari ketiga masuk, Hoseok tak berani menambah jarinya karena Jimin tetap tak mau rileks. Merepotkan, tapi dia maklum mengingat bocah itu baru pertama kali. Jari-jari lentik Hoseok berputar di dalam, menggeliat berkelok-kelok sampai menemukan titik dimana Jimin bisa mendesah nikmat.

"Akhh~!"

Tubuh Jimin menggelinjang, ototnya menegang kala Hoseok berhasil menemukan titik ternikmatnya, menyentuhnya berulang sampai membuat Jimin seperti kesetanan.

"Hobie-hyungh! Ahh~! Jang..anhh..."

Hoseok mendesis, "Tenanglah..."

Namun Jimin menolak. Terpaksa membuat Hoseok bermain cepat. Segera dikeluarkan ketiga jemarinya saat Jimin sudah cukup dipanasi. Ia mengangkat tubuh Jimin ke atas meja, menidurkannya di sana dengan posisi saling berhadapan. Hoseok menatap pemuda itu sejenak, tersenyum singkat sebelum kemudian melumat bibir tebal merah muda penuh gairah. Ia menyangga kedua kaki Jimin di atas bahunya lalu perlahan memasukkan diri ke dalam Jimin.

Jimin mengerang tertahan merasakan sakit luar biasa di bagian bawah tubuhnya, bibirnya masih dibekap ciuman. Hoseok berusaha lembut, memberi jeda sesaat agar Jimin dapat membiasakan diri. Ketika pemuda itu mulai tenang, Hoseok segera menggerakkan pinggulnya depan-belakang, memberikan implus berupa dorongan dan tarikan dalam tempo lambat.

Jimin meremas erat pinggiran meja tempatnya terlentang, mata terpejam erat. Suara derit meja kian kentara memenuhi ruang kelas yang senyap kala Hoseok semakin mempercepat gerakannnya. "Ahh~ Hobie...hyu..nghh... sa...kith..." Jimin merengek. Kedua matanya penuh lelehan bening menatap Hoseok dengan pandangan sayu.

Melihat itu membuat Hoseok tersenyum. "Aku mencintaimu, Jimin..." sebuah kecupan mendarat di kening. "Aku akan bermain pelan." Satu lagi jatuh mengenai hidung Si Mungil. "Apa kau mencintaiku?"

Jimin mengangguk cepat, "Aku mencintai Hobie-hyung..." kedua tangan mungilnya meraih leher Hoseok mendekat, mencium bibirnya, melumat belahan bibir amatir.

Hoseok tersenyum mendengar ucapan Jimin. Hal itu menguatkan dirinya, meyakinkan keputusan yang akan diambilnya—melindungi Jimin. Karena mereka saling mencintai satu sama lain, maka Hoseok mengambil keputusan untuk terus bersama Jimin. Rela menanggung segala beban menjadi seorang abnormal hingga beberapa tahun ke depan. Ia akan selalu ada bersama Jimin. Semua karena Jimin, ia yang merubah Hoseok dan Hoseok juga yang telah merubahnya.

Hoseok membalik tubuh Jimin tanpa melepaskan miliknya. Pemuda lebih muda kini tengkurap di atas meja. Tanpa memberi jeda, Hoseok kembali menggerakkan pinggulnya. Meremas dan menampar kedua bongkahan pantat berisi Jimin gemas hingga kemerahan. Jimin mengerang di bawahnya.

"Hobie...hyung... Ahh~"

Hoseok mencium leher belakang Jimin, menggigit di sana perlahan hingga menimbulkan bercak kemerahan. Sebelah tangannya turun meraih milik Jimin yang tergantung penuh cairan bening. Jimin mendesah menikmati tiap sentuhan yang menyerang tiap inchi kulitnya. Tubuhnya terhentak-hentak membentur meja setiap Hoseok melesakkan miliknya dalam sampai mengenai prostat.

"Akhh~! Hyung di...sana... jang...anhh..." desahan frustasi ditambah kegelisahan bersatu.

"Hmm... dimana...?" Suara bisikan seduktif membuat lehernya merinding—Hoseok menggodanya, Jimin menegang. Mengetatkan jepitan di bawah sana, membuat sunbaenya mengerang tepat di dekat telinga Jimin.

Suara langkah kaki di depan ruang kelas membuat sepasang pemuda itu langsung bungkam seketika. Hoseok menarik tubuh Jimin hingga terduduk di atas pangkuannya, saling berhadapan. Jimin memeluk leher pemuda itu erat ketakutan. Sementara di saat bersamaan Hoseok mendesis ketika miliknya yang belum sempat dikeluarkan terhimpit kuat di bawah sana. Ia mengelus lembut punggung Jimin, berusaha menenangkannya.

Kriiiet

Pintu perlahan dibuka dari luar, sosok lelaki berpostur tinggi tegap disertai seragam keamanan melongokkan kepala ke dalam. Kaget memandang dua siswa yang masih berada di kelas saat jam seusai sekolah.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanyanya tegas. Hoseok gugup. Jimin mengencangkan pelukan di leher sunbaenya. "Kelas ini akan segera ditutup, jadi cepatlah pulang." Ujar Sang Petugas Keamanan tanpa menaruh curiga pada kegiatan kedua siswa tersebut.

Entah bagaimana, tubuh bawah Jimin yang polos tidak terlihat dari arah pintu karena terhalang meja-meja kelas. Dan itu suatu keberuntungan untuk Hoseok. Pemuda itu nyengir untuk menutupi kecanggungannya. "Kami akan segera pulang, sebentar lagi." Balasnya cepat. Petugas itu mengangguk, menaruh kunci kelas di meja depan.

"Kalau sudah selesai kunci pintu dan kembalikan kuncinya ke ruang guru."

Hoseok mengangguk paham, menghela napas lega setelah dirasa Sang Petugas sudah pergi lumayan jauh. Yang tadi itu berbahaya sekali, batinnya. Tangannya mengusap punggung Jimin yang masih ketakutan memeluknya.

"Tenang Chim, dia sudah pergi..." Perlahan Jimin melepaskan pelukan, menatap Hoseok dengan lelehan bening melewati pelupuk mata. "Sssh, kenapa kau menangis? Aku ada di sini."

Jimin menggelengkan kepalanya, mencengkeram kedua bahu Hoseok erat. "Hyung, aku...aku ingin pulang." Sebuah nada kecemasan terselip di antara suara merdu Si Adik Kelas.

Hoseok mengangguk maklum, "Ne. Tapi sebelumnya kita selesaikan yang di bawah dulu."

Hoseok menyentuh milik Jimin yang basah mengenai seragam di perutnya. Jimin mendesah, menggigit bibir bawahnya cepat, takut Sang Petugas akan kembali muncul memergoki kegiatan mereka. Hoseok mengecup bibir bawah Jimin, menggerakkan telunjuknya untuk menekan pucuk ereksi Jimin dan bergerak memutar di sana. Membuat Jimin memejamkan matanya penuh nikmat.

"Bagaimana rasanya, Jimin?"

"A...aneh." Jimin memalingkan wajahnya yang bersemu merah.

Hoseok berusaha tidak tergelak di saat itu juga. "Tapi kau menyukainya?" Tanyanya lagi.

Jimin menganggukkan kepalanya. "Ne. Aku suka."

Hoseok menarik sebelah tangan Jimin, menyuruhnya untuk memanja miliknya sendiri seperti yang Hoseok contohkan. Jimin menurut, mengerang ketika jemarinya bergerak mencari kenikmatannya sendiri. Sedang Hoseok memegang kedua belahan pantat kenyal Jimin, mengangkatnya tinggi-tinggi dan menghempaskannya cepat hingga menimbulkan suara kecipak basah. Jimin mendesah keras ketika Hoseok tak sekali namun berkali-kali menghujamnya tepat di titik sensitif.

Merasa buruk, Hoseok membawa Jimin untuk menyatukan bibir. Lidahnya dengan cepat mengambil kuasa di dalam mulut lawan. Kedua tangannya bekerja semakin cepat memenuhi keinginan biologis yang menuntut. Berulang kali dirinya menubruki sweetspot Jimin, membuat pemuda itu hilang kendali, meremas dan mencakari punggung Hoseok yang masih berbalut seragam.

Jimin mendesah panjang ketika ciuman mereka terlepas, tak lupa menyebut nama sunbaenya gusar. Menandakan ia melewati puncak kenikmatan. Diikuti Hoseok yang menghempas tubuh Jimin di atas pangkuannya. Cairan putih kental mengalir kala Hoseok berusaha menarik dirinya keluar. Jimin memakai seragamnya, jalan sedikit terpincang saat keluar kelas. Melihat hal itu Hoseok berinisiatif untuk menggendongnya.

Tanpa aba-aba tubuh mungil itu diangkat ke pundak. Jimin tekejut, nyaris jatuh ketika tubuhnya meronta-ronta liar meminta diturunkan. Hoseok tidak peduli, tetap menggendongnya, menepuk-nepuk pantatnya berani bahkan saat memasuki ruang guru untuk mengembalikan kunci kelas.

.

Waktu berlalu begitu cepat, Hoseok merahasiakan hubungannya dengan Jimin dari pihak sekolah maupun keluarganya. Walau begitu ia tetap mencintai Jimin, begitu pula sebaliknya. Dua tahun berlalu, Hoseok lulus dari Junior High School. Orangtuanya menyuruhnya kembali ke Seoul karena di Busan ia tinggal bersama kakek dan neneknya. Saat itu dia terpaksa meninggalkan Jimin, memutuskan hubungan mereka sepihak walau sebenarnya mereka masih saling menyukai. Jimin mengerti, paham betul bahwa Hoseok melakukan semua itu bukan atas kemauannya tetapi tuntutan keluarga yang menyuruhnya untuk pergi.

Beberapa bulan setelahnya mereka lost contact. Jimin tak lagi berhubungan dengan Hoseok maupun sebaliknya. Ia kembali berubah menjadi Jimin yang pendiam. Jimin yang jarang berbicara. Jimin yang anti sosial dan selalu menjauhi keramaian. Hingga dia pindah ke Seoul, memaksanya kembali merasakan kerumunan saat Taehyung membawanya ke karnaval.

Disisi lain, Hoseok terus memikirkan Jimin. Menyesal telah meninggalkan pemuda itu. Namun tak diduga mereka kembali dipertemukan di apartemen sahabatnya—Yoongi. Jimin tak banyak berubah, masih mungil dan menggemaskan seperti saat terakhir Hoseok melihatnya di Busan hampir tiga tahun yang lalu, rasa rindu jelas tak bisa ditahan sampai membuat Yoongi jengkel.

.

Flash back off

.

Yoongi terdiam setelah mendengarkan cerita Hoseok. Satu fakta yang dia ambil adalah wajah lugu Jimin bisa sangat menipu. Siapa sangka pemuda itu bahkan sudah pernah melakukan hal macam-macam di usia 13 tahun. Bukannya Yoongi iri, dia juga pernah melakukan hal semacam itu dengan kekasihnya, tapi sekarang hanya tinggal kenangan. Dua kepingan cokelatnya memandang Hoseok yang juga diam merenungi nasip.

Yoongi menghela napas. "Lalu apa yang kau rasakan pada Jimin sekarang?" Rasa penasaran tak mampu dibendung.

Hoseok tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Menggaruk pipinya gelagapan. "Aku... tentu saja masih menyukainya, hyung." Sebuah cengiran. "Walaupun aku sudah memutuskan hubungan dengannya dan kalaupun dia sudah menjadi milik orang lain, aku tetap masih menyukainya."

Yoongi tahu sahabatnya itu berkata tulus dan jujur. Pemuda itu benar-benar mencintai Jimin. "Kalau begitu lamar dia. Nikahi dan making love sana di rumah kalian atau di hotel—dimana saja asal bukan di apartemenku. Merepotkan." Suara Yoongi lebih terdengar seperti gerutuan dibanding nasehat. Hoseok tertawa mendengarnya.

"Kau juga menyukainya, hyung?" bertanya balik.

Yoongi melotot tak percaya. "Apa? Jangan bicara ngawur!"

Hoseok menggelengkan kepalanya. "Aku tidak buta, hyung." Pemuda itu mengulas senyum. "Jimin sangat sulit didekati, aku bahkan butuh sebulan lebih untuk bicara normal padanya."

"Lalu?" Yoongi acuh tak acuh. "Apa hubungannya denganku? Aku bahkan tak punya waktu untuk melakukan pendekatan sepertimu. Lebih baik aku mengurus tugas kuliahku." Tandasnya cepat.

Hoseok tersenyum kecut. "Tapi tanda kemerahan di leher dan perut Jimin tadi mengatakan hal berlawanan dari apa yang kau katakan, hyung." Ia mengingat, Yoongi tercekat. "Bahkan kalau pun kau terpaksa melakukannya itu tetap luar biasa karena Jimin tidak sembarangan membiarkan orang lain mendekatinya." Kalimatnya terhenti saat suara langkah kaki mendekati ruang tengah.

Keduanya menoleh hampir bersamaan pada sosok Jimin yang sudah lengkap dengan seragam Bangtan Senior High School, agak panjang di lengan sampai menenggelamkan jari-jarinya. Ketiganya diam seketika.

"Ada apa?" Jimin bertanya bingung, sepertinya tadi dia masih mendengar percakapan dari kedua orang itu. Hoseok menggeleng cepat, Yoongi hanya membisu.

"Kalau begitu aku berangkat dulu. Sampai nanti di sekolah Chim, dan kau berhutang padaku karena merepotkan pagiku, Suga-hyung!"

"Yaa! Bawa juga bocah ini bersamamu, tolol! Kalian satu sekolah kan?" Ucapan Yoongi tak digubris saat mendengar suara debaman dari pintu depan menandakan Hoseok sudah keluar. Jimin memandang Yoongi intens dalam diam.

"Kenapa kau melihatku begitu? Buat sarapan sana! Aku mau mandi."

Yoongi segera pergi menuju kamar mandi. Jimin memandang kepergian pemilik rumah dalam diam. Kepalanya menggeleng beberapa kali seolah tengah menghalau sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Mungkin dia salah dengar. Kaki kecilnya menapaki arah berlawanan dari Yoongi, menuju dapur. Hanya menemukan mie instant di sana, berpuluh-puluh kotak di kulkas dan puluhan lain di laci penyimpanan makanan.

"Mie lagi?" Gumamnya muram.

Apa Yoongi selalu memakan makanan tak sehat itu?

Setelah menyelesaikan sarapan mie instant Yoongi membawa Jimin memasuki mobil sportnya. Pemuda mungil langsung mengambil tasnya yang tertinggal di dalam mobil sejak kemarin. Hpnya penuh notif panggilan tak terjawab serta message dari kedua orangtuanya serta satu nomor tak dikenal. Jimin membukanya satu per satu.

.

Chim, dimana kau?

.

Jimin, maafkan aku! Aku tak bermaksud meninggalkanmu.

.

Kalau kau membaca pesan ini, segera hubungi aku!

.

Hei!

.

Ini aku, V!

.

Astaga, ini sudah tengah malam. Dimana kau? Hubungi aku!

.

Chim!

.

Dan seterusnya.

Dari situ Jimin tahu bahwa nomor tak dikenal itu milik Taehyung. Darimana pemuda itu mendapatkan kontaknya? Jimin mengerutkan dahinya, berpikir keras. Membuat Yoongi yang duduk di sampingnya menatap heran.

"Ada apa denganmu?" Tanyanya tiba-tiba.

Jimin kaget hampir menjatuhkan hp di genggaman. Kepala menggeleng cepat. "Bu-bukan apa-apa." Jimin gugup.

Yoongi kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Jujur ada sesuatu yang mengganggu pikirannya semenjak berbicara bersama Hoseok tadi pagi. Yoongi menjadi sedikit lebih penasaran pada sosok Jimin. Sepertinya benar kata Hoseok kalau pemuda itu memiliki satu pesona aneh yang mampu menarik orang-orang tertentu untuk mendekat padanya. Buktinya Yoongi kini penasaran, terutama pada sikap Jimin yang kadang polos kadang lagi slut minta diperkosa. Apa pemuda itu punya dua kepribadian? Atau pengidap bipolar? Yoongi makin mengernyit bingung.

"Suga-hyung?" Jimin bersuara pelan, nyaris seperti gumaman.

Merasa dipanggil, Yoongi menoleh. "Ada apa?" Tanyanya. Jimin membola, menatap lawannya kaget karena Yoongi menyahut.

"B-bukan apa-apa!"

Yoongi mendecak tak acuh, "Kau aneh."

Jimin menunduk dalam. Tadi sempat nama 'Suga' disebut Hoseok saat mereka di apartemen, membuatnya mengingat sosok Suga kecil yang selalu muncul dalam mimpi malamnya. Apakah Suga adalah orang yang sama dengan Yoongi di sampingnya? Jimin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Suga-hyungnya pasti bukanlah Yoongi. Sifat mereka terlalu bertolak belakang. Suga-hyungnya seribu kali lipat jauh lebih ramah dan perhatian. Mungkin hanya nama mereka yang kebetulan sama. Jimin meyakinkan diri, lagipula Suga-hyungnya sudah hilang bertahun-tahun lalu. Semenjak Jimin diantar ke tempat orangtuanya sosok Suga-hyungnya lenyap begitu saja seolah ditelan bumi.

"Min... Jimin... Park Jimin? BOCAH!" Yoongi membentak, mengagetkan Jimin dari lamunannya. Kedua matanya berkedip-kedip tanpa dosa di hadapan Yoongi.

"N..ne?"

"Kita sudah sampai di Bangtan Senior High School. Kau mau turun sekarang atau kutendang bokongmu agar keluar paksa?"

Jimin menoleh ke luar jendela mobil. Benar saja bangunan sekolahnya sudah berdiri kokoh di depan. Jimin buru-buru turun dari mobil. Yoongi menahan pergelangan tangan yang tenggelam sebelum pemuda itu benar-benar keluar dari mobil, Jimin reflek menolehkan kepala.

"Jangan hilang lagi. Langsung pulang ke rumahmu setelah pulang sekolah." Wajah Jimin memanas seketika. Yoongi mengerutkan alisnya. "Apa yang kau pikirkan, bodoh?" Ia heran melihat perubahan raut muka pemuda itu, mendekati telinga Jimin untuk berbisik. "Apa kepribadianmu berubah lagi?"

Jimin menutup matanya rapat, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"CHIIIIM! CHIIIIMCHIIIIIIM!" Seorang pemuda berlarian ke arah mereka berdua.

Yoongi dan Jimin menoleh hampir bersamaan, mendapati seorang siswa Bangtan berambut orange acak terengah ketika menghentikan langkah tepat di depan Jimin. Memeluk si raven begitu erat hingga Yoongi terpaksa melepaskan pergelangan tangan Jimin.

"Ya Tuhan! Untung saja kau masih hidup!" Pemuda itu menangis meraung di bahu Jimin. Seolah saraf malunya putus, mengabaikan lemparan pandangan aneh oleh beberapa siswa yang kebetulan melewati mereka.

"V, tenanglah..." Jimin menepuk bahu sahabatnya perlahan. "Aku... tercekik." Ujarnya berusaha menyelamatkan diri. Taehyung tak melepaskan pelukannya, malah merengek menyalahkan diri.

"Kalau begitu sampai jumpa." Yoongi memotong adegan persahabatan konyol di depannya. Entah kenapa dia merasa muak melihat tingkah Taehyung. Mungkin karena acara pelukan mereka mengingatkannya pada adegan homo. Yoongi bukan homophobic, hanya merasa jijik.

"Terima kasih, Yoongi-hyung." Jimin sempat membungkukkan badan walau Taehyung terus bergelayutan memberatkan pundaknya.

Yoongi mengangguk, pergi menginjak gas meninggalkan mantan sekolahnya. Menyisakan Taehyung dan Jimin yang masih berdiri di depan gerbang sekolah, mendadak menjadi tontonan masa.

"Eh, bukannya itu V-oppa?"

"Dia ngapain, sih?"

"Yang dipeluk itu siapa? Kayaknya baru lihat?"

"Itu kan anak baru kemarin? Katanya mereka sekelas."

"Ih, aku iri deh bisa dipeluk V-oppa begitu."

Kasak-kusuk bisikan siswi membuat Jimin risih, berusaha keras melepaskan pelukan pemuda orange dengan susah payah. "V, lepaskan aku..." bisiknya agar tak mengundang perhatian.

Jimin tidak suka mencolok, dan keadaannya saat ini jauh lebih terasa menyesakkan daripada pelukan erat Taehyung. Merasa diabaikan, Jimin langsung mengambil jalan pintas dengan menginjak kaki Taehyung keras. Pemuda itu memekik melepaskan pelukan. Jimin segera menggunakan kesempatan itu untuk kabur.

"Ya! Chim! Tunggu!"

Teriakan Taehyung tak digubris, Jimin mengambil sepatu dari loker, berjalan lurus menuju kelasnya. Menurutnya Taehyung sangat menyebalkan, tapi diluar dugaan ternyata Si Orange adalah murid yang sangat populer di sekolah. Buktinya di sepanjang koridor para siswi sibuk membicarakannya. Sebisa mungkin Jimin ingin menjauhi Taehyung karena dia benci mencolok. Bersama Taehyung sama saja mengundang seluruh mata tertuju padanya dan itu buruk untuk Jimin.

.

"Ya, apa kau masih marah padaku?" Sebuah bulpoin ditusuk-tusukkan tepat di pipi, Jimin masih bergeming—menyibukkan diri dengan memandang penjelasan guru di depan kelas. Tetap tak mau diam, Taehyung kini menusuk-nusuk bahu Jimin, bahkan sampai menyenggol-nyenggolkan lutut ke lutut Jimin di bawah meja.

Kesal juga Jimin menoleh cepat ke samping kiri. Mendengus kasar. "Apa maumu?"

Taehyung cemberut. "Aku minta maaf, Chim. Kemarin sungguh aku tak sengaja meninggalkanmu."

Jimin menghela napas. "Aku sudah membalas message-mu tadi pagi dan aku sudah memaafkanmu kan? Jadi jangan ganggu aku."

"Tapi kau tak mengacuhkanku sedari pagi, Chim. Itu artinya kau masih belum memaafkanku." Taehyung membalas.

"Ish, aku bukannya tak mengacuhkanmu." Tolak Jimin meradang.

"Kau tak mengacuhkanku." Taehyung memotong cepat.

"Tidak." Jimin membalas tak mau kalah.

"Lalu kenapa kau mengabaikanku?" masih ngotot.

"Aku tak mengabaikanmu, V." Jimin menukas cepat.

"Tapi kalian mengabaikan saya."

"Huh?"

Suara berat yang tiba-tiba nimbruk membuat Jimin dan Taehyung menoleh heran ke sumber. Di depan meja mereka seongsaengnim berdiri kokoh, kedua lengan terlipat di depan dada. Wajah tersenyum namun mengerikan.

"Ssaem tidak usah ikut-ikutan. Ini masalahku dan Jimin." Taehyung kembali memandang wajah pucat Jimin—mendadak aura membunuh menguar kental di sekitar mereka. Abaikan Taehyung karena saraf pemuda itu sebagian besar hilang atau mungkin telah rusak.

Guru lelaki itu menggeram penuh amarah. "Taehyung-ssi, Jimin-ssi. Keluar dari kelas sekarang!"

Sejurus kemudian Jimin selaku paling waras menarik lengan Taehyung keluar kelas sebelum mereka kembali kena semburan basah. Suara bisik-bisik kembali Jimin dengar ketika melangkahkan kaki melewati meja-meja deret depan.

"Kau lihat itu?"

"Ne. Anak baru itu menyebalkan."

"Dia membuat V-oppa kena marah ssaem."

"Lagian kenapa dia pegang-pegang V-oppa terus sih?"

Jimin langsung melepaskan tarikan lengan Taehyung, membiarkan pemuda itu mengekor di belakangnya keluar ruangan. Jimin berdiri mematung di depan kelas, mendesah lesu beberapa kali. Meruntuk sekaligus menyesali perbuatannya. Ini kali pertama dia diusir dari kelas, semua salah Taehyung. Ekor matanya melirik Taehyung di samping kirinya.

"Apa kau naksir padaku?" menyeringai penuh percaya diri ketika Jimin meliriknya.

Jimin membuang muka, "Dalam mimpimu,"

Taehyung terkekeh. "Ya, mau ke atap sekolah?"

"Apa? Sekarang? Kita sedang dihukum. Ingat?"

Taehyung mengedikkan bahu. "Siapa peduli dengan hukuman? Toh kita juga tak bisa masuk kelas sekarang? Pelajaran ini sampai bel istirahat tahu? Kau mau mati kebosanan? Aku sih ogah."

Jimin mencoba berpikir ulang, terakhir dia mengikuti Taehyung membuatnya hilang dalam kerumunam manusia. Tadi pagi menjadi bahan tontonan. Oke. Dia tak akan pernah mengikuti Tae—

"V?"

Oh bagus, saat Jimin menoleh ke samping kirinya sosok Taehyung seperti lenyap tanpa bekas. Dari kejauhan dia sempat melihat punggung Taehyung hilang di balik tikungan koridor, Jimin menoleh kiri-kanan. Tak ada orang. Detik berikutnya dia sudah berlari mengejar Taehyung menuju atap sekolah.

.

Udara panas menerpa helai-helai rambut orange. Taehyung merentangkan tangannya lebar-lebar setelah sampai di atap. Pemuda itu memejamkan matanya sambil menghirup udara dalam-dalam. Jimin tergelitik.

"Apa yang kau lakukan?"

Taehyung menoleh, "Mencium bau panas."

"Panas?" Jimin bertanya. "Kau sangat aneh. Seperti apa bau panas?" tanyanya asal.

"Kuat, menyengat, dan... kering. Seperti bauku."

Jimin semakin mengerutkan dahi. Tak mengerti sedikit pun maksud ucapan Taehyung. "Sepertimu?" Sebuah anggukan menjadi jawaban. Tanpa sadar Jimin mendekati Taehyung, mengendus tubuhnya sejenak. Tak ada bau apapun. Ia menatap sahabatnya seraya mengerucutkan bibir. "Kau menipuku?"

"Tidak."

"Tapi aku tak mencium apapun." Protesnya kesal.

"Karena aku menciumnya bukan dengan hidung."

"Hah?" Jimin makin tak mengerti. "Lalu bagaimana caramu mencium panas?"

Taehyung kembali merentangkan tangannya, matanya terpejam damai, dan kembali menghirup udara dalam-dalam. "Aku merasakannya dengan hidung, kulit, telinga, dan perasaanku."

Jimin tercengang. Sungguh Taehyung orang paling aneh yang pernah dia temui sekaligus menarik perhatiannya. "V, seperti apa bauku?" Ucapan itu didorong oleh rasa penasaran.

Taehyung berjalan ke depan, menghadap Jimin lalu memeluknya tiba-tiba. Jimin gelagapan, berusaha mendorong bahu pemuda itu cepat. Namun semakin meronta, tubuhnya malah melesak semakin menyamankan diri di pelukan lawan. Jimin tak mengerti, setiap bersama Taehyung membuatnya merasakan gejolak benci serta suka secara bersamaan. Menyebalkan, frustasi, tapi juga menyenangkan, tanpa sadar bibir mungil berisinya tersenyum kecil.

"Baumu seperti permen." Taehyung berbisik di telinga Jimin, membuat tubuh mungil itu berhenti memberontak. Wajah bersemu sangat mudah. "Hangat dan... usang." Seketika pelukan Taehyung terlepas, digantikan suara pekik kesakitan saat kakinya diinjak.

Jimin menatap tak terima, terutama di kata terakhir. "Apa maksudmu usang?" Tanyanya kesal. "Kau kira aku ini apa? Barang tak terpakai?"

Taehyung bengong setelah meredakan rasa sakit di kaki. "Tidak. Tapi aku mencium itu di bajumu."

Jimin menatap bajunya. "Ah, ini baju Yoongi-hyung. Mungkin karena sudah jarang dipakai jadinya agak bau." Mengendus lengan baju yang kedodoran, Jimin sempat melirik Taehyung yang menatapnya aneh.

"Yoongi-hyung? Maksudmu Min Yoongi-sunbae?" Jimin mengangguk.

"Kau tak melihatnya? Tadi pagi dia kan yang mengantarku ke sekolah?"

Taehyung menggeleng, yang ada di otaknya tadi pagi adalah menemukan Jimin dan memeluknya untuk meminta maaf. Sejenak dia ditarik kembali mengingat memori setahun silam ketika dirinya pertama kali masuk ke Bangtan Senior High School, mengingat sosok seorang Min Yoongi. Teman-teman serta kakak kelas sering memanggilnya Setan Bermulut Kotor. Taehyung tak mengerti maksud dari julukan itu sampai akhirnya tanpa sengaja menumpahkan jus jeruk di kepala merah kecokelatan.

Awalnya Taehyung tak tahu siapa yang ditabraknya, saat dia ingin meminta maaf, saat itu pula pemuda itu mendengar suara sumpah serapah, makian, hinaan, serta kata kotor lain dalam berbagai bahasa dan intonasi. Sejak itu Taehyung sadar bahwa yang dia tabrak adalah Min Yoongi—kakak kelas yang sering dibicarakan teman sekelasnya. Mengingat saja sudah membuat Taehyung bergidik ngeri.

"V, kau masih di sana? Annyeong?" Jimin mengibaskan telapak tangan di depan muka pemuda orange. Taehyung mengerjap.

"Ne. Ada apa?"

Jimin menghela napas jenuh, merasa sedari tadi diabaikan. "Bel istirahat sudah berbunyi dari tadi. Apa kau tak ingin pergi?"

Taehyung menggeleng, moodnya berubah buruk setelah mengingat Yoongi. "Aku akan bolos sampai pulang sekolah."

Jimin menghela napas, "Kalau begitu aku turun duluan. Pai pai."

"Eh? Kau tak di sini saja menemaniku?"

Jimin merotasikan matanya lucu. "Aku tak mau kena hukuman lagi. Setiap mengikutimu pasti akhirnya jelek." Taehyung mendengus ketika pintu atap sekolah menghasilkan suara debaman keras menandakan Si Mungil telah pergi.

.

"Ya, kau tahu? Tadi pagi murid baru itu dipeluk V-oppa?"

"Benarkah?"

"Ne. Bahkan saat di kelas dia berani menggandeng tangan V-oppa!"

"Ssst, jangan keras-keras, pabo!"

"Kalian pasti tak percaya ini, katanya kemarin mereka pergi ke karnaval di tengah kota bersama!"

"Jinja? Anak baru itu kurang ajar banget!"

"Kalau tak salah namanya Jimin. Park Jimin."

"Cih, Park Jimin. Lihat saja nanti."

.

"Park Jimin?"

Jimin mengerutkan dahi saat tiga siswi mencegatnya di depan kantin sekolah, kepala ravennya mengangguk, mengiyakan bahwa namanya adalah Park Jimin. Ketiga gadis itu tersenyum senang.

"Bisa ikut kami sebentar? Ada yang ingin kami bicarakan." Seorang gadis pertama mengawali.

"Boleh,"

Jimin mengikuti langkah ketiga siswi itu meninggalkan kantin. Mereka bilang hanya sebentar kan? Lagipula waktu istirahat juga tinggal sedikit. Jimin harap pembicaraan mereka segera berakhir jadi dia bisa segera masuk kelas. Langkah kaki keempatnya berhenti di belakang gedung sekolah. Jimin menengokkan kepala ke kanan dan kiri. Sepi.

Hanya ada bangunan kecil kusam di depan mereka. Seorang siswi membuka kunci pintu bangunan itu, menyuruhnya masuk terlebih dulu karena Jimin adalah laki-laki—sebenarnya Jimin merasa bingung kenapa alasan laki-laki harus membuatnya memasuki ruangan gelap di depannya lebih dulu. Bau debu berterbangan hampir membuatnya bersin. Mereka mengatakan ingin membicarakan sesuatu dengannya di dalam. Dan kini Jimin sudah berada di dalam namun ketiga siswi itu malah terdengar cekikikan dari luar.

"Kenapa kalian tidak masuk?" Jimin bertanya heran. Sungguh yang ada di pikirannya saat itu adalah segera menyelesaikan urusannya dengan ketiga siswi aneh di depannya lalu segera masuk kelas sebelum mendapat hukuman baru.

"Apa kau percaya pada ucapan kami sebegitu gampangnya?"

Salah satu siswi tersenyum licik, seorang temannya mendorong pintu hingga tertutup sempurna. Cepat mereka mengunci ruangan itu, Jimin sempat memberikan perlawanan. Mendorong pintu dari sisi berlawanan namun refleknya kalah cepat oleh rencana mereka. Diakhiri tawa antagonis ketiga siswi itu mengejek Jimin yang kini sibuk menggedor pintu dari dalam.

"Keluarkan aku! Apa mau kalian?" Jimin bahkan tak pernah mengenal ketiga siswi itu. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi target bully di hari kedua sekolah.

"Masih nanya lagi, tentu saja menyingkirkanmu!"

"Kau sudah lancang mendekati V-oppa!"

"Kau itu menyebalkan tahu!"

"Ne, ne! Caramu memancing perhatian V-oppa sangat memuakkan!"

"Bahkan tak ada yang bisa bersanding di sebelah V-oppa tapi kau tiba-tiba saja muncul dan duduk di sebelahnya!"

"Jalang sepertimu membusuk saja di dalam!"

Sekarang Jimin baru paham duduk permasalahannya. Mereka adalah fans Taehyung yang salah sangka padanya—ingatannya kembali pada bisik-bisik siswi tadi pagi. Mereka pasti salah satu dari fans Taehyung.

Taehyung adalah siswa yang cukup populer di Bangtan Senior High School, posisinya seorang idol school dan menjabat sebagai ketua klub sepak bola. sayangnya Jimin sebagai anak pindahan tak mengetahui semua fakta penting itu. Ia bahkan tak mengerti apa istimewanya seorang Kim Taehyung yang aneh baginya. Satu hal pasti, Jimin benci jika harus mencampuri masalah orang lain tapi kali ini keadaan yang membuatnya harus ikut campur. Ssaem yang menyuruhnya duduk bersanding di sebelah Taehyung, itu bukan salahnya.

Taehyung sendiri secara suka rela mengganggu dan mengajaknya berteman, semua atas keinginan Taehyung. Jimin tak masalah tidak punya teman—dia sudah terbiasa sendiri. Di sisi lain, Taehyung juga tak punya teman karena sikap brutal para fansnya—meneror tiap orang yang ingin menjadi teman Taehyung. Wajar saja pemuda itu terkenal, punya banyak fans gadis tapi tak pernah punya teman. Kebetulan Jimin sebagai siswa baru -tak mengerti apa-apa- dijadikan target mencari teman Taehyung, memicu percikan api cemburu diantara para fans.

Ketiga siswi itu segera meninggalkan gudang kecil tak terpakai di belakang sekolah -tempat Jimin dikunci- setelah mendengar bel tanda istirahat berakhir. Membiarkan Jimin sendirian dalam ruang gelap, pengap, penuh benda-benda rusak tak terpakai. Jimin memukul-mukul pintu kayu kuat, ia ingin berteriak meminta bantuan tapi kembali, tak ada yang dikenalnya kecuali Taehyung dan Yoongi di Seoul. Saat ini Si Pemuda Orange itu mungkin sedang tidur siang di atap sekolah, sedangkan Yoongi tak mungkin berada di Bangtan School. Tak akan ada seorang pun yang akan datang menolongnya, kecuali satu orang—Hobie. Ia ingat Hoseok juga sekolah di Bangtan. Hobie, satu-satunya harapan Jimin kala itu.

"Hobie-hyung! HOBIE-HYUNG!" Jimin mulai meneriaki nama Hoseok, berharap ia akan datang menemukan serta mengeluarkannya, tangannya memerah bekas menggedor pintu.

.

Hoseok menoleh saat seorang teman sekelas memanggilnya. "Ya, kau mau kemana? Ingat setelah istirahat ada test!" Temannya memperingatkan.

"Ayolah Namjoon, aku bisa gila kalau belajar terus-terusan." Hoseok memprotes, teman sebangkunya sangat ketat padanya. Ia sadar kalau kelas tiga memang harus giat belajar mempersiapkan ujian tapi belajar melulu kan bikin jenuh. "Sekali-kali kita harus keluar kelas untuk mencari hiburan. Lihat kelas kita. Suram. Menyedihkan." Tudingnya pada seisi kelas, teman-teman mereka sibuk duduk anteng menyilangi jawaban soal dari buku tebal.

Namjoon mengamati keadaan kelasnya, memang miris. Menghela napas, berdiri mengikuti Hoseok. "Ayo kita pergi. Di sini memuakkan."

Hoseok tergelak beberapa kali. Namjoon menyenggol lengannya agar diam. "Bay the way, kau mau kemana?"

Namjoon mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku hanya ingin mencari hiburan sama sepertimu. Kau mau kemana memangnya?" Senyuman kecil membuat Namjoon curiga.

"Ke kelas XI-A."

Seketika Namjoon mengerutkan dahi yang dilapisi helai-helai platinanya."Untuk apa ke sana?"

Hoseok kembali mengulas senyum, "Menemui seseorang."

"Siapa? Aku tak pernah tahu kau punya kekasih adik kelas?" Namjoon mengintrogasi cepat layaknya polisi menanyai maling jemuran.

"Yaa! Dia bukan kekasihku, setidaknya saat ini belum." Ralatnya malu-malu.

Namjoon menghela napas. "PDKT?"

Gelengan menjadi jawaban. "Lebih tepatnya CLBK." Namjoon tertawa renyah mendengarnya.

.

Hoseok menengokkan kepala ke dalam kelas XI-A, kedua iris onyxnya cepat mencari sosok mungil di dalam. "Kau menemukannya?" Tanya Namjoon ikut menyembulkan kepala platinanya ke dalam.

"Belum. Mungkin dia sedang istirahat." Hoseok berujar kecewa. "Ya, apa kau tahu siswa yang bernama Park Jimin di kelas ini?" Hoseok bertanya pada seorang siswa kelas itu yang kebetulan lewat keluar kelas.

"Park Jimin belum kembali ke kelas sejak istirahat pertama." Siswa itu menjawab ramah. Membuat Hoseok mengerutkan kening.

"Apa kau tahu kemana dia pergi?"

Siswa itu mengelus dagunya, terlihat sedang berpikir. "Terakhir kulihat dia pergi keluar kelas bersama V karena dihukum ssaem. Setelah itu mereka berdua tak kembali ke kelas sampai sekarang."

"V?" Hoseok terkejut, sedikit menggeram.

"Sepertinya akan buruk." Namjoon menimpal, seringai tipis tercetak kentara. Semua siswa tahu sesuatu yang berhubungan dengan nama V pasti berakhir buruk. Setelah mengucap terima kasih, mereka berdua segera pergi. "Mau kemana kita?" Namjoon bertanya, berjalan santai di samping Hoseok yang tampak tegang.

"Ke atap. Kita cari V. Perasaanku tak enak." Gumamnya cemas.

.

Pintu atap sekolah didobrak asal. Suara debaman keras membuat Taehyung terbangun dari tidur siangnya, mengusap mata untuk melihat siapa pelaku dari perbuatan keji tersebut. Dari ujung mata, Taehyung menemukan Hoseok dan Namjoon terburu-buru menghampirinya.

"Brengsek, apa yang kau lakukan pada Jimin?" Satu diantara mereka, berambut hitam acak menarik kerah Taehyung, mengguncang tak sabar.

Namjoon ikut mendekat, menghentikan emosi sahabatnya. "Hobie, tenang." Hoseok mendelik kesal ke arah Namjoon, melepas kerah Taehyung kasar. "Nah V, apa kau melihat Jimin?" lanjut Namjoon mengambil alih.

Taehyung tersadar dari mode blank, berkedip-kedip bingung. "Bicara apa kalian? Chim kan sudah masuk kelas sejak jam istirahat pertama." Jawabnya polos.

Hoseok naik darah. "Jangan main-main denganku!"

"Ssst, biar aku yang bicara." sela Namjoon cepat, menatap Hoseok serius lalu beralih ke arah Taehyung. "V kami baru saja ke kelasmu, temanmu mengatakan kalau Jimin tak ada dan masih bersamamu sejak istirahat pertama. Sekarang sudah jam istirahat kedua."

"Hah? Dia memang bersamaku tapi dia kembali ke kelas sejak istirahat pertama." Taehyung mengerutkan dahi.

"Jadi kalau dia tidak ada di kelas juga tidak bersamamu lalu kemana Jimin pergi?"

"Mana aku tahu?" Celetuk Taehyung kesal juga.

Hoseok maju hendak memukul Si Orange jika lengannya tak ditahan Namjoon. "Ini semua pasti ulahmu! Semua yang berhubungan denganmu tak pernah ada yang beres!"

"Ya! Kenapa kau terus menyalahkanku? Aku benar-benar tak tahu kemana Chim pergi! Dia bilang akan kembali ke kelas, setelah itu aku tidur siang jadi mana mungkin kau menyalahkanku begitu?"

"Ssst, kalian berdua diam!" Namjoon kembali angkat suara. "Daripada ribut mending kita cari Jimin." Ia menarik lengan sahabatnya menuju pintu disusul Taehyung dari belakang.

.

Jimin merengut, duduk memeluk lutut di tempat gelap tanpa cahaya. Sekitarnya banyak alat-alat seperti tongkat patah, bola sepak bocor, dan benda-benda rusak lainnya. Dia lelah sedari tadi memanggil pertolongan tanpa hasil. Perutnya bersuara mengingat sejak pagi hanya makan mie, juga belum sempat pergi ke kantin. Kepala bersandar di dinding. Samar tubuhnya menegak saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.

'Hobie-hyung datang!' Serunya dalam hati.

Kunci pintu diputar dari luar, pintu ditarik, dan Jimin hampir menghambur pelukan jika tak melihat teliti bahwa yang membuka pintu bukanlah harapannya. Kedua maniknya memicing membiasakan diri dengan cahaya menyilaukan.

"Nak, apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa ada di dalam situ?" Suara berat membuat Jimin menegang, seragam keamanan sekolah mengingatkannya pada masa lalu. Jimin menggelengkan kepala ketakutan. Tanpa menjawab pertanyaan Sang Petugas Keamanan Sekolah, pemuda itu memacu lari sekuat tenaga tanpa penjelasan. Samar suara petugas meneriakinya namun Jimin tak peduli.

.

"Sial, dia tak ada dimana pun!" Hoseok mengumpat tak lupa melayangkan deathglare pada Taehyung yang dibalas cibiran.

"Tak ada gunanya menyalahkanku terus karena aku memang tak bersalah."

"KALIAN AYOLAH JANGAN MULAI LAGI! AKU SUDAH RELA BOLOS TEST HANYA UNTUK MENCARI JIMIN!" Namjoon untuk kesekian kalinya melerai kedua makhluk di sisi kiri dan kanannya. Mereka bertiga sudah menyusuri seluruh penjuru sekolah, perpus, kantin, bahkan toilet, semua tanpa terkecuali. "Lagian mustahil Jimin pergi jauh, bukannya dia murid pindahan?"

Mendengarnya, Hoseok dan Taehyung hanya mengangguk setuju. Hoseok mendelik tajam, Taehyung sama—mengabaikan status sunbae-hoobae di antara mereka. Hoseok tak akan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi pada Jimin, terlebih setelah tahu kalau Taehyung adalah teman sekelas sekaligus semejanya. Semua juga tahu kalau pemuda orange itu idol sekolah yang punya banyak fans buas, sementara Taehyung sendiri tipikal orang lemot. Bisa bahaya kalau Jimin terlalu dekat dengannya.

Nah.

"Tunggu." Hoseok menghentikan langkah setelah kepikiran, membuat dua pemuda lain ikut berhenti. Menatapnya heran. "Sepertinya aku tahu dimana bisa mencari Chimchim."

"Dimana?" Namjoon dan Taehyung koor kompak.

Hoseok menarik lengan Taehyung mesra. "Tapi aku butuh bantuanmu."

.

Peluh mengalir di pelipis, langkah kaki terpacu kian memelan di bawah sengatan matahari. Jimin berhenti berlari, napasnya tersengal-sengal setelah berlari hampir setengah jam jauhnya. Tubuhnya bersandar di sebuah tiang penyangga halte bus kosong. Kaki kecilnya berjalan mendekati salah satu kursi halte yang lenggang dan mendudukkan diri di sana. Kedua manik onyx mengedarkan pandangan sekitar, menyadari keasingan dimana tempatnya berpijak.

Ya. Dia tersesat. Pikirannya terlalu kalut dalam ketakutan tadi sehingga tanpa pikir panjang kabur begitu saja. Kepala ravennya berulang kali mengamati jalanan senggang di sekitarnya. Hp tertinggal di dalam tas, Jimin tak bisa menghubungi siapapun. Setidaknya tempat itu masih lumayan sepi, jadi dia bisa tenang. Namun seiring berjalannya waktu, beberapa orang mulai berdatangan. Hilir mudik melewati halte, singgah lalu masuk ke dalam bus yang lewat. Jimin diam di tempat, rasa takut menghinggapinya. Ia ingin kabur tapi kakinya sudah tak mampu berlari—terlalu lelah, lapar, dan ketakutan. Napasnya terasa mulai sesak dan perutnya mual.

Sebuah isakan lirih terdengar parau. "Temukan aku... siapapun... kumohon..." sebelah tangannya mengusap liquid yang hampir turun melewati pipi chubby, berusaha keras menahan tangis. "Suga... Suga-hyung... temukan aku..."

.

Yoongi hampir membanting hp saat benda itu terus bergetar di dalam saku celananya. Kini dia sedang sibuk mengerjakan test dalam ruang kelasnya. Seorang dosen yang terkenal killer duduk angkuh di depan sana sambil memicingkan mata ke seluruh penjuru kelas. Yoongi menyelipkan sebelah tangan ke dalam saku celana, mematikan hpnya segera sebelum ketahuan. Seharusnya kelas sudah berakhir dari setengah jam lalu, tapi dosen sialan-nya meminta tambahan waktu untuk melakukan test dadakan. Hampir Yoongi kalap mengumpat bila tak sadar posisinya sebagai seorang mahasiswa. Membuat Seokjin -mahasiswa semester atas yang kebetulan mengulang mata kuliah yang sama dengan Yoongi- tertawa geli.

Test berakhir sepuluh menit kemudian. Yoongi mengumpat berkali-kali setelah Sang Dosen keluar kelas.

"Yoongi-yaa, kau tak perlu sampai sekesal itu kan? Lagipula aku yakin hasil testmu akan baik seperti biasa." Suara Seokjin menginterupsi makian yang meluncur deras dari bibir tipis.

Yoongi mendecak kesal. "Bukan masalah itu, hyung. Hari ini aku ada jadwal latih tanding dengan angkatan atas."

"Basket?" Yoongi menganggukkan kepala sembari memasukkan alat tulis ke dalam tas. "Ah, kau hebat di bidang olahraga satu itu, kudengar kau jadi kapten."

"Sekaligus shooting guard. Aku tak bisa membayangkan mereka bermain tanpaku, pasti mengenaskan." Tandasnya. Mau bagaimana lagi, sebagai pencetak score Yoongi memegang peranan penting dalam tim. Ditambah status kapten yang disandangnya, membuatnya kembali mengumpat bila mengingat Sang Dosen Sialan-nya. "Kalau begitu aku pamit dulu, hyung." Seokjin melambaikan tangan mengiringi kepergian Yoongi.

Pemuda itu melangkahkan kaki cepat menuju lapangan indoor di fakultas sebelah, fakultasnya tak menyediakan lapangan indoor. Baru setengah jalan, dia ingat akan getaran hp yang sedari tadi mengganggunya ketika melakukan test. Mungkin itu dari teman-teman satu timnya. Yoongi menyalakan hp dari saku, kedua manik cokelat mengamati jejeran nama di kotak misscall—Hobie.

Yoongi mengerutkan dahi setelah mengetahui pemanggilnya adalah Hoseok. Jarang juga dia menerima panggilan dari makhluk itu di jam perkuliahan. Penasaran, maka Yoongi menelpon balik.

"Hobie, ada apa?"

"HYUUUUUNG!" Suara memekakkan telinga dari seberang membuat Yoongi menjauhkan hp dari telinga.

"Tenanglah, idiot! Katakan ada apa?" Yoongi akan melempar bola basket kalau saja Hoseok ada di depannya.

Setelah Hoseok menenangkan diri sejenak, ia kembali melanjut. "Ini gawat, hyung! Chimchim hilang!"

"HAH?" Yoongi menyembur, "Bagaimana bisa? Aku sudah mengantarnya ke Bangtan tadi pagi!"

"Aku tahu, tapi beberapa siswi menguncinya di gudang belakang, sekarang saat kami membuka gudangnya Chimchim sudah tak ada di dalam. Petugas bilang dia lari ke luar area sekolah. Ini gawat, hyung! Chimchim itu penderita Agoraphobia—"

—tuuut... tuuut... tuuut...

"Sial, dimatikan!" Umpat Hoseok kesal. Kini dirinya bersama Namjoon sibuk menyusuri jalanan Seoul menggunakan motor, Taehyung juga sama namun ke arah berlawanan.

"Pikirkan itu nanti, sekarang kita fokus mencari di sini." Namjoon mengingatkan, Hoseok mengangguk setuju.

.

"Bocah itu, sudah kukatakan agar segera pulang. Tsk." Yoongi mendecak.

Memutar mobil di parkiran menuju gerbang depan kampus. Sebelah tangan sibuk menyetir, sebelah lagi menekan layar untuk menghubungi teman-teman tim basketnya. Mobil sport putih melaju menelusuri jalanan, mata awas melihat sisi kanan dan kiri. Mencari sosok pemuda raven ke segala tempat.

.

Langit sore mulai menggelap, bintang-bintang tertutup awan mendung. Lalu lalang manusia tak kunjung mereda, lampu-lampu kota dinyalakan. Menerangi sosok pemuda yang sedang memeluk diri di salah satu kursi halte. Jimin menenggelamkam wajah di lutut, mengabaikan tatapan aneh orang yang melewatinya. Tak ada rasa malu, hanya ada ketakutan serta tubuh gemetaran.

"Selamat malam, adik kecil?"

Jimin tersentak ketika merasa rambutnya dibelai sangat lembut oleh seseorang. Perlahan mengangkat wajahnya, menatap dengan mata sembab seorang pria sedang tersenyum ramah ke arahnya. Rambut pirang, setelan jas melekat di atas kulit porselen, matanya tegas tajam. Pria itu memberinya sebuah sapu tangan, tanpa ragu Jimin mengambilnya. Tangan gemuknya mengusap lelehan liquid dari dua manik legam.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya pria itu lagi. Jimin masih bungkam. "Kau tersesat?" Tak mau menyerah, pria itu masih saja menebarkan senyuman. Kepala Jimin mengangguk ragu, pria di sampingnya makin lebar tersenyum terlebih saat mendengar suara gemuruh perut Jimin.

"Kau mau permen?" Pria itu mengeluarkan dua lollipop dari saku jas, satu dibuka untuk dia makan sendiri yang satu disodorkan pada Jimin. Setelah mematung beberapa menit, Jimin meraih lollipop juga.

"Terima kasih." Ucapnya sangat pelan, suara serak.

"Sama-sama. Namaku Wu Yifan. Kau bisa memanggilku Kris."

Jimin mengangguk. "Namaku Park Jimin."

Kini giliran Kris mengangguk senang. "Apa kau lapar?" Mendapat jawaban berupa anggukan kuat membuat Kris hampir tergelak. "Mau makan malam bersamaku?" Kris memberi tawaran, "Selesai makan, aku akan mengantarkanmu pulang, Jimin-ah."

"Aku tak mau pulang." Jimin menolak cepat.

"Hm?"

"Ke tempat Yoongi-hyung... aku ingin ke tempat Yoongi-hyung." Lirihnya pelan.

Kris menjentikkan jari telunjuk dan ibu jari. "Ah, Yoongi! Aku mengenalnya. Rumahnya tak jauh dari sini. Ayo kuantar."

Jimin membelalak senang, "Sungguh? Ayo!" Ujarnya riang.

Kris menggandeng tangan mungil Jimin, membimbingnya menuju sebuah van hitamnya. Di dalam sudah ada pria lain, duduk di bagian depan setir mobil. Kris bilang itu sopir pribadinya. Jimin hanya mengangguk, tanganmya membuka bungkus permen dan melahapnya. Rasanya manis, mengingatkannya pada ucapan Taehyung tadi pagi.

"Baumu seperti permen..."

Jimin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menampik ingatan menyebalkan itu walau tak bisa dipungkiri ada rasa senang saat mendengar ucapan Si Orange.

Van berhenti di pinggir jalan, Kris dan sopirnya membicarakan sesuatu yang tak bisa Jimin dengar. Matanya semakin terasa berat, tak bisa fokus melakukan suatu aktivitas apapun.

"Jimin-ah, kau baik-baik saja?" Suara Kris terdengar mengabur di telinga, terselip nada senang di dalamnya namun Jimin tak tahu apa yang membuat pria itu senang. Semua indranya terasa berat dan susah dikendalikan, tahu-tahu gelap menyergap. Kris memeriksa seluruh tubuh Jimin, meyakinkan bahwa pemuda itu sudah sepenuhnya tak sadarkan diri.

"Obatnya bekerja cukup cepat, lebih baik segera kita bawa sekarang, Kris." Ujar seseorang di kursi kemudi, peran sebagai sopir pribadi Kris hanya sebuah kedok.

"Ish, kau cerewet sekali, Hunnie. Kita bersenang-senang dulu dengannya." Kris memasang seringai yang tak dapat Jimin lihat. Hunnie atau Sehun merotasikan matanya jengah, mengumpati kebiasaan buruk rekannya dalam hati.

.

Wine dituang ke dalam gelas bening, warna cairan kemerahan memantul dari kaca. Seorang pemuda tersenyum memandang Yoongi, bibir tebal merah tak henti mengeluarkan kalimat untuk menenangkan temannya. Tak terhitung sudah berapa kali telinganya menangkap umpatan dari bibir tipis lawan. Kedua maniknya menatap pergerakan Yoongi saat pemuda itu selesai memasukkan hp ke dalam saku.

"Tenang Yoongi-yaa, tergesa-gesa tak akan menghasilkan apapun. Tapi jika kau tenang mungkin malah bisa menemukan satu petunjuk penting yang terlewat."

Yoongi mendengus, memijit pelipisnya. "Tak ada petunjuk apapun, hyung. Hobie dan temannya juga tak menemukan apa-apa. Aku sudah mencarinya ke seluruh sudut kota tiga kali tapi nihil." Mendesah kasar, tangan pucatnya meraih gelas yang diberikan padanya. Menghabiskan isinya dalam sekali teguk, terdiam beberapa saat untuk memandang pemuda di sampingnya. "Lalu ada urusan apa sampai Jin-hyung menyuruhku datang kemari?"

"Bukan apa-apa, hanya kebetulan melihatmu di sekitar sini. Karena aku sendirian, jadi aku mengundangmu kemari. Apa aku mengganggu pencarianmu?" Seokjin bertanya, sedikit cemas. Suaranya hampir tak terdengar kala dentuman musik keras dari lantai bawah kembali mengalun menghibur para pengunjung pub tengah kota Seoul.

Yoongi menggelengkan kepalanya lesu. Lagipula dia sudah cukup dibuat stress dengan pencarian yang tak membuahkan hasil serta kekalahan latih tanding tim basketnya tadi siang. Menyesal sudah sesumbar akan melibas para senior, mirisnya dia malah tak hadir di pertandingan.

Seokjin ikut termenung memandang juniornya yang terus-terusan kalut. Dia tak pernah melihat Yoongi sekacau ini, bahkan ketika Sang Pacar memutusnya, Yoongi malah terlihat cuek-cuek saja dari luar. Pandangan Seokjin beralih ke lantai bawah, banyak orang meliukkan tubuh mereka di sana sesuai irama musik. Seokjin melihat tanpa niat, kedua maniknya beralih ke arah pintu yang baru saja dibuka. Sebuah kurva melengkung atas tercipta begitu melihat kedatangan pengunjung baru.

"Ah, datang lagi rupanya." Ujarnya terdengar menahan tawa.

Yoongi merasa tak tertarik, lebih memilih meneguk wine langsung dari botolnya. Tak sopan? Persetan.

Seokjin tak melepaskan pandangan dari lantai bawah. "Yoongi-yaa, apa kau pernah dengar kabar tentang penculikan anak SMA yang dijual atau dibunuh untuk diambil organ dalamnya?" Pertanyaan Seokjin mengudara. Yoongi merasa tak perlu acuh. "Beberapa bulan terakhir kasusnya makin kerap terjadi di sekitar sini, lho. Bagaimana pendapatmu?" Seokjin melanjut.

Yoongi menghentikan acara minumnya ketika botol sudah kosong, memandang Seokjin tanpa minat. "Tak ada." Sahutnya cepat.

Seokjin merengut. "Tak ada? Kau pasti bercanda. Kritislah sedikit." Yoongi menghela napas tak peduli, Seokjin kecewa lalu ikut menghela napas. "Sebenarnya seperti apa rupa Park Jimin yang kau cari itu sampai membuatmu jadi kacau begini?"

"Aku tidak kacau, hyung!"

"Lalu apa ini?" Seokjin menuding botol wine yang sudah raib isinya. "Tiap kuundang kemari kau bahkan tak menyentuh minuman apapun, tapi ini?"

"Ini karena timku kalah-"

"Tidak. Ini karena Park Jimin." Suara Seokjin memelan lembut namun terdengar sangat yakin. "Ceritakan padaku."

Yoongi mendesah pasrah. Ia tak bisa melawan jika dihadapkan pada situasi semacam ini. Lalu Yoongi mulai menceritakan segalanya tentang pemuda bernama Park Jimin. Awal mereka bertemu, ciri-ciri, bahkan sampai kebiasaan aneh Jimin yang kepribadiannya bisa berubah 180 derajat.

"Sepertinya dia sangat lucu dan menggemaskan." Seokjin berkomentar di tengah cerita.

"Sama sekali tidak. Terlebih saat kepribadiannya berubah, dia sangat menyebalkan." Potong Yoongi cepat.

Seokjin tertawa lepas mendengar penuturan Yoongi. "Seandainya itu Jimin pasti akan jadi sangat menarik."

"Huh? Apa maksudmu, hyung?"

Seokjin menghentikan tawanya sejenak, "Ah, tidak. Tadi ada dua pengunjung yang satu membawa seorang pemuda di gendongannya. Rambutnya hitam dan memakai seragam SMA-"

"Dimana mereka sekarang, hyung!?" Yoongi memotong cepat, mengagetkan Seokjin.

"E-entahlah, kurasa ke kamar pengunjung-Yaa! YOONGI-YAA! MAU KEMANA KAU? Ish..."

Yoongi tahu kemungkinan bahwa yang dimaksud Seokjin adalah Jimin sangat kecil tapi intuisinya berkata lain dan perlu ditegaskan intuisi seorang Min Yoongi jarang meleset. Kemungkinan sekecil apapun akan Yoongi selidiki asal itu masih belum nol persen. Entah sejak kapan pemuda mungil itu menjadi prioritas utamanya saat ini. Yoongi sudah mencapai lantai bawah, langkahnya terpicu menuju kamar tamu, ada banyak kamar. Memilih bertanya pada salah satu pegawai pub, akhirnya Yoongi mendapat satu nomor kamar yang baru saja disewa—93. Kamar paling ujung serta paling jauh dari tempat Yoongi berada.

.

Braaakk

Pintu kamar 93 didobrak kasar dari luar, seorang pria memekik kaget menoleh cepat untuk menemukan sosok Yoongi yang sudah berada di pucuk kesabaran. Iris kecokelatannya menatap tajam Si Pria yang telah menindih tubuh polos seorang pemuda yang semenjak tadi siang mengganggu pikirannya.

"KEPARAT!"

Maju, Yoongi menghampiri pria pirang. Tanpa pikir panjang melayangkan kepalan tinju kuat hingga lawannya terpelanting jatuh tanpa kesiapan. Bercak merah menodai punggung tangan pucatnya. Tak puas dia mengejar pria yang berlari hampir mencapai pintu, menarik kerah baju, lantas menghajarnya kalap.

"KRIIS!"

Satu lengkingan dari arah pintu yang baru dibuka tak dapat menghentikan aksi membabi buta Yoongi. Pemuda itu malah makin gencar menorehkan luka di sekujur tubuh lawan, bahkan siap membunuhnya tanpa ampun.

"Brengsek!" Sehun segera berlari menolong temannya, meninju tepat di pipi kanan Yoongi kemudian menyeret Kris berdiri untuk kabur secepatnya.

Yoongi keluar kamar, melihat arah kepergian mereka, tangan meraih hp dari saku. "Jin-hyung, tutup pintu belakang. Dua orang yang satu terluka, tangkap mereka!" Yoongi memutus sambungan setelah Seokjin –berstatus sebagai anak pemilik pub- mengabulkan permintaannya.

Kepala merah kecokelatan berbalik setelah menutup pintu, berjalan menuju kasur sambil melepas kemeja kotak. Menutupi tubuh polos Jimin yang masih tak bergeming dari posisinya—tertidur atau lebih tepatnya tak sadarkan diri. Kedua tangan dan kaki diikat pada sudut ranjang, mata ditutup kain, dan mulut dilakban. Rahang Yoongi mengeras menahan amarah.

Apa yang akan mereka lakukan pada Jimin jika saja dia tak datang?

"Sial. Sial. Sial." Bibirnya merapal, mengacak rambutnya frustasi.

.

.

.

Tbc

.

.

.

A/N: Sebelumnya saya bener-bener mau minta maaf pada para reader yang bingung di chapter 1. Hontou ni gomenasaaaiii! m(_"_)m Berkat mood yang mendukung akhirnya saya melanjut dan jadilah begini. Bagaimana? Apa kebingungan kalian terjawab? Atau malah semakin bingung? Tunggu chapter berikutnya! #slap

Kemudian, ucapan spesial untuk Suga-san! Yey! Otanjoubi omedetoo Suga swag! Maaf ada EXO nyempil dua biji(?), EXO milik SM Ent.

Untuk visual member BTS di ff ini:

Park Jimin – era MV No More Dream

Kim Taehyung – era MV Boys in Luv

Min Yoongi – era MV Danger

Jung Hoseok – era MV No More Dream

Kim Namjoon – era MV Boys in Luv

Kim Seokjin – era MV Haruman

Yang belum muncul Jungkookie

Bagi yang belum jelas dan merasa nemu plot hole atau kesalahan info silahkan hubungi saya. Terakhir, terima kasih yang udah baca sampai sini. Annyeong!

9-3-16