Mianhae Hyung CH2
Title: Mianhae Hyung –Vkook- CH2
Author : Han Eun Kyo a.k.a Kyo051096
Main Cast :
Kim Taehyung
(Jeon) Kim Jungkook
(Jung) Kim Daehyun
(Byun) Kim Baekhyun
Genre : Brothership, Family,Hurt & Angts
Rated : T a.k.a remaja
Disclaimer : Semua cast milik diri mereka sendiri, Tuhan, orangtua mereka dan BigHit entertaiment. Ide dan cerita milik author. Jika ada kesamaan plot cerita, maka hal itu bukan karena unsur kesengajaan.
Warning : JANGAN MEMPLAGIAT CERITA TANPA IZIN! OOC, Pendeskripsian tokoh kurang, typo(s), aneh, alur membosankan, DON'T LIKE DON'T READ! Please don't bash the pairing!
Note : GS for Baekhyun & Leeteuk. FF ini remake dari FF author beberapa tahun lalu dengan cast utama Kibum dan Kyuhyun Super Junior.
Summary : Taehyung & Jungkook. Baekhyun –eomma Taehyung dan Jungkook- meninggal saat melahirkan Jungkook. Daehyun –sang appa- meninggal saat menyelamatkan Jungkook dari kecelakaan. Dan sekarang Taehyung sangat membenci Jungkook atas kejadian yang menimpa orang tua mereka. Apa yang harus dilakukan Jungkook untuk membuat hyungnya berhenti membencinya? Bagaimana nasib Jungkook selanjutnya?
Penasaran?
Check it out!
Mianhae Hyung
Chapter 2
TaeKook
Han Eunkyo
Present
HAPPY READING
Kepalaku mulai terasa sakit. Pandanganku berputar. Aku merasakan cairan kental berwarna merah mengalir dari hidungku. Aku mengusapnya, cairan kental berwarna merah ini datang disaat yang tidak tepat.
Aku harus segera keluar dari sini dan meminum obat-obatku yang kusimpan di tas. Tapi bagaimana caranya? Aish! Darah ini kenapa terus-terusan mengalir?
Aku menggedor pintu kamar mandi pelan. Aku sudah kehabisan tenaga. Aku sudah tidak kuat. Kali ini biarkan aku menyerah terhadap penyakitku.
"Jangan lupa minum obat, Tuan muda Jungkook. Jika kau terlambat memakannya -bahkan dalam selang waktu tujuh jam saja- kau bisa dirawat di rumah sakit. Juga jaga kesehatan dan emosimu. Jika kau stres dan mempunyai banyak beban pikiran, penyakitmu bisa kambuh. Kanker otak ini bukan penyakit biasa Tuan muda Jungkook. Saya harap Tuan muda bisa mengerti."
Nasehat Cha ahjusshi terngiang-ngiang di kepalaku. Aish! Aku baru ingat kalau sejak kemarin sore aku belum minum obat. Eotteokkhae? Apakah aku benar-benar akan mati disini?
Namun tiba-tiba aku mendengar seseorang menggedor pintu.
"Jungkookie? Apa kau ada di dalam?"
Author POV
Sementara itu didalam kelas XII IPA 3 –kelas Jungkook dan Taehyung- terlihat seorang namja sedang duduk gelisah di tempat duduknya. Ia tidak lagi memperhatikan guru Kimia yang sedang menerangkan di depan kelas. "Jungkookie dimana?" gumamnya.
Namja yang memakai name tag Jung Hoseok itu sedari tadi mengkhawatirkan sahabatnya –Jungkook- yang tidak kembali ke kelas sejak teman-teman Taehyung mendorongnya entah kemana.
Ia pun mengacungkan tangannya. "Jeosonghamnida seonsaengnim. Saya ingin ke kamar mandi. Permisi." Pamitnya sopan sambil meninggalkan ruang kelasnya setelah melihat sang guru menganggukkan kepalanya.
.
.
.
.
.
Hoseok langsung berlari menuju toilet. Entah apa yang difikirkannya untuk memutuskan mencari Jungkook di toilet.
Ia menggedor pintu toilet keras. "Jungkookie? Apa kau ada di dalam?"
"H...hyung." Hoseok yang mendengar lenguhan pelan dari arah toilet langsung menjadi panik.
"Jungkookie? Aish! Kenapa pintunya tidak bisa terbuka?" racaunya sambil mencoba membuka pintu toilet.
"Aku akan mendobraknya. Jangan berdiri di depan pintu ne Kook!" sambung Hoseok. Sesuai perintah sahabatnya, Jungkook langsung menggeser tubuhnya pelan menjauhi pintu toilet.
Setelah yakin Jungkook telah pindah, Hoseok langsung mendobrak pintu toilet dengan keras.
"Omo!" dan namja pemilik marga Jung ini langsung kaget saat melihat darah yang tidak berhenti mengalir dari hidung Jungkook. Ditambah lagi wajah Jungkook yang sangat pucat dan matanya yang kini terpejam.
Tanpa berfikir lebih lama ia menggendong Jungkook ke ruang kesehatan.
.
.
.
"Bagaimana, seonsaengnim? Apa yang terjadi pada Jungkookie?" tanya Hoseok cemas setelah menunggu Han seonsaengnim -guru yang bertugas di ruang kesehatan- selesai memeriksa Jungkook.
"Sebaiknya Jungkook-sshi dibawa ke rumah sakit. Kelihatannya Jungkook-sshi punya penyakit serius. Saya akan memanggilkan ambulans." Balas Han seonsaengnim.
Tak lama kemudian ambulans datang. Para petugas mengangkat Jungkook dengan tandu dan membawa Jungkook masuk ke dalam ambulans.
Namun saat tandu yang membawa Jungkook melewati lapangan olahraga, Hoseok berhenti sebentar dan menghampiri Taehyung yang sedari tadi tidak mengalihkan tatapannya dari wajah pucat Jungkook yang dibawa menggunakan tandu.
"YAK! Kenapa kau diam saja? Ayo ikut kami mengantar dongsaengmu ke rumah sakit!" ajak Hoseok sembari menarik tangan Taehyung untuk mengikutinya.
Taehyung yang baru saja sadar dari lamunannya, menghentakkan tangan Hoseok kasar.
"Wae?" tanya Hoseok heran.
"Kau tidak lihat aku sedang latihan basket? Menganggu saja." Jawab Taehyung kasar.
"Aigoo, hyung macam apa kau ini? Kasihan sekali Jungkook menjadi dongsaeng dari namja kasar sepertimu." Sindir Hoseok.
"Itu bukan urusanku dan Kim Jungkook bukan dongsaengku, Jung Hoseok. Pergi sana! Ga! Hush hush!" usir Taehyung sembari melakukan gesture mengusir.
"Neo jinjja!" bentak Hoseok sambil menunjuk-nunjuk wajah Taehyung dengan kasar.
"Mwo? Kalau kau kasihan padanya, angkat saja anak itu menjadi dongsaengmu. Ah, rumah besarku pasti nyaman sekali jika anak itu tidak ada." Ujar Taehyung, tak lupa pula menunjukkan senyum sinisnya.
Plak!
Hoseok yang merasa emosinya sudah mencapai ubun-ubun, menampar Taehyung dan membentaknya, "Jangan sampai kau menyesal, bodoh. Pikirkan kembali kata-kata kasarmu itu!" dan iapun berjalan ke parkiran untuk membawa mobilnya pergi menyusul ambulans yang telah membawa Jungkook ke rumah sakit.
Taehyung pun memutuskan untuk kembali latihan basket bersama teman-temannya. Namun perhatiannya bercabang sekarang. Sekuat apapun egonya, ia tetap mengingat wajah pucat Jungkook yang tadi dibawa ke rumah sakit. Percakapan –atau perdebatannya- dengan Hoseok tadi mulai terngiang-ngiang di kepalanya.
"Kau benar-benar merepotkan, Kim Jungkook babbo." Gumam Taehyung pelan.
.
.
.
.
.
Seoul Hospital (XX/XX/2011)
"Jungkookie, ireona!" perintah Hoseok pelan sembari menggenggam tangan Jungkook lembut.
"Aku sudah mendengar dari dokter tentang penyakitmu. Benarkah kau mengidap kanker otak? Aish! Aku rasa dokter itu berbohong. Kau itu anak yang ceria. Kau juga anak yang tegar. Saat Taehyung dan teman-temannya membullymu, kau hanya pasrah dan tersenyum miris. Mengapa hidupmu rumit dan sedih sekali? Kau itu juga anak yang pintar, wajahmu imut. Mengapa takdir begitu mempermainkanmu?" sambung Hoseok. Air mata telah jatuh di pipi chubby nya.
"Seandainya kau menjadi dongsaengku, mungkin kau akan bahagia. Ah, apa yang kufikirkan? Kau sendiri yang bilang bahwa kau sangat bahagia mempunyai hyung seperti Taehyung, bukan? Cih, apanya yang bahagia hidup satu atap dengan namja seperti itu?" kesal Hoseok.
"..."
"..."
"H..hyung"
"JUNGKOOKIE!" dengan segera Hoseok memeluk Jungkook erat.
"Se...sesak hyung."
"Ah! Mianhae Jungkookie." Sesal Hoseok sambil melepas pelukan eratnya.
"Perasaanmu bagaimana? Apa ada yang sakit? Katakan saja ne! Atau kau menginginkan sesuatu? Kau lapar?" setelah melepas pelukannya, Hoseok malah menyerang Jungkook dengan sederet pertanyaan.
"Hyung, kau berbicara tanpa henti sejak tadi. Aku jadi tidak bisa tidur~" rengek Jungkook sembari menggembungkan pipinya.
"Haha, mianhae Jungkookie. Tidurlah lagi! Hyung akan menelepon halmeonimu dan meminta beliau untuk menjagamu. Kau pasti tidak leluasa jika hyung yang menjagamu." Ujar Hoseok sambil berdiri dari kursinya.
"Ah,hyung! Hyung disini saja ne. Jika halmeoni datang, pasti disini akan ramai. Karena halmeoni pasti membawa banyak ahjusshi dan ahjumma –para pelayan di rumah- kesini. Gwaenchanayo? Ne? Ne? Ne Hyung?" pinta Jungkook memelas.
"Eum..." Hoseok terlihat berpura-pura berfikir untuk menggoda Jungkook. Tentu saja Hoseok mau menemani Jungkook. Setidaknya ia bisa menggantikan Taehyung untuk menjadi hyung Jungkook selama Jungkook dirawat di rumah sakit. Yah, begitulah tekadnya. Mulai saat ini ia akan melindungi Jungkook seperti dongsaengnya sendiri.
"Hyung~"
"Ne. Ne. Ne, Jungkookie." Jawab Hoseok, tak lupa ia memberikan senyum manisnya pada namja di hadapannya.
"Yeah! Hoseok hyung daebak!" seru Jungkook senang sambil mengayun-ayunkan tangan Hoseok.
.
.
.
.
.
Sudah lima hari Jungkook dirawat di rumah sakit. Sudah lima hari Hoseok, halmeoni, dan para pelayan menemani Jungkook. Sudah lima hari pula Taehyung merasa kesepian dengan perasaan tak tentu di rumah besarnya.
Kim Taehyung. Namja tampan yang terkenal akan sikap dingin dan senyum kotaknya itu merasa bodoh sekali. Beberapa hari ini ia tanpa sadar termenung dan memikirkan dongsaengnya.
"Apa yang kupikirkan? Aku memikirkan Kim Jungkook? Tidak akan pernah terjadi. Aku pasti kesepian karena tidak ada halmeoni disini." Gumam Taehyung.
"Disekolah juga tidak ada Jungkook untuk kubully... Eh, ani ani. Aku malah senang tidak ada anak sial itu disini. Tidak akan ada yang mengikutiku dan berbicara tanpa henti padaku lagi,bukan?"
Ah, lihatlah Kim Taehyung! Kau jelas-jelas merindukan dongsaengmu, bukan? Saat ini batinmu sedang bertarung, eoh? Egomu benar-benar keras. Namun perasaan rindu dan khawatirmu sebagai seorang hyung juga tidak akan mengalah begitu saja. Kita lihat saja gelap atau terang dalam hatimu yang akan kau percayai.
Drrt drrt drrt
Nae sarangi, seoseohi jugeoganeun byeong~
Jogeum apeujman natgo shipeun mameun eobneun geol~
Namgimeobshi, gieogi jiwojyeo beoryeo~
Seoroga namiyeotdeon shiganeuro dwedoragaseo~
Ijen shwigo shipeo~
Lagu 'Love Disease' dari Super Junior, boyband favorit Taehyung membuyarkan renungan pemuda bermarga Kim itu.
"SMS?" tanyanya entah kepada siapa.
From: Jung Hoseok
Annyeong Tae-hyungie~ Ini dari dongsaengmu yang paling tampan dan baik hati sedunia, Kim Jungkook imnida! Hosiki-hyung sedang pergi. Untung dia lupa membawa ponselnya. Jadi daripada tergeletak begitu saja di sofa, kupinjam saja untuk mengirim pesan pada hyungku tersayang :D
"Cih, anak sial itu diam-diam menggunakan ponsel Hoseok? Seperti pencuri saja. Memalukan." Batin Taehyung kesal. Ia melanjutkan membaca pesan Jungkook.
Apa kabar, hyungie? Lima hari ini aku lewati tanpa sedetikpun melupakan hyung. Mengapa hyung tidak pernah menjengukku? Kata halmeoni hyung sibuk,ne? Aish, padahal aku sangat merindukan hyungie~ Aku akan cepat sembuh dan pulang ke rumah. Tunggu saja ne hyung! Saranghaeyo Tae-hyungie 3
Tanpa sadar seulas senyum tipis tercetak di bibir Taehyung. "Anak bodoh." Gumamnya pelan sebelum memutuskan untuk berpetualang ke dalam dunia mimpi.
.
.
.
.
.
Seoul Hospital (XX/XX/2011)
Setelah Park Joongsoo –halmeoni Taehyung dan Jungkook- sejak tadi pagi bersusah payah 'membujuk' Taehyung agar putra sulung Kim Daehyun itu mau menjenguk dongsaengnya di rumah sakit.
Dengan berbekal kalimat "Jika tidak mau, maka seluruh gadgetmu akan disita." Ia akhirnya dengan separuh hati mengunjungi dongsaengnya.
"Annyeong Kookie." Sapa yeoja berumur hampir tujuh puluh tahun yang akrab dipanggil Leeteuk pada cucu bungsunya yang sedang berbaring di tempat tidur kamar rawat Very Very Important Person atau sering disingkat VVIP di Seoul Hospital.
"Halmeonie!" panggil Jungkook sembari duduk di tempat tidurnya.
"Eoh? TAE-HYUNG!" seru Jungkook setelah menyadari Taehyung yang sedari tadi berdiri di belakang sang halmeoni.
"Shikkureo! Ini rumah sakit, bodoh. Kalau kau ingin berteriak ke hutan saja sana!" balas Taehyung sinis.
"Yak! Sopanlah sedikit,Taehyungie! Jungkookie kan sedang sakit." Tegur Leeteuk sambil mengelus surai kecoklatan Jungkook lembut.
"None of my bussiness." Jawab Taehyung santai. Leeteuk hanya menggelengkan kepalanya pasrah.
"Ah, karena Taehyungie sudah disini, halmeonie dan para pelayan pulang sebentar ne. Jaga dongsaengmu baik-baik, Taehyungie. Annyeong!" pamit Leeteuk yang terus menarik lima orang pelayan di kamar rawat Jungkook tanpa mendengar kalimat protes dari Taehyung.
"Aish! Halmeoni hanya melakukan apa yang dia inginkan tanpa memikirkan perasaan orang lain." Gerutu Taehyung setelah hanya ada dirinya dan Jungkook di ruang rawat Jungkook.
"Hyung~" panggil Jungkook dan mengangkat tangannya, bermaksud ingin memeluk Taehyung.
"Singkirkan tangan hinamu dariku, bodoh! Jangan mentang-mentang kau sakit maka aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Dasar lemah!" maki Taehyung.
'Bukankah kau yang selalu menyiksaku, hyung? Bukankah kau yang beberapa hari lalu mengurungku setelah menyiksaku?' batin Jungkook menatap hyungnya dengan pandangan sedih.
Setelah beberapa saat keheningan tercipta di kamar rawat mewah bercatkan warna putih bersih itu. Tiba-tiba seorang namja memasuki ruang rawat tersebut dengan sebuah majalah di tangannya.
"Kook... Eoh? Kim Taehyung? Kau disini?" tanya Hoseok heran.
Bukankah Taehyung sendiri yang mengatakan kalimat-kalimat kasar dan menghina Jungkook beberapa hari lalu? Bahkan namja itu mengatakan bahwa ia tidak menganggap Jungkook sebagai dongsaengnya. Lalu mengapa ia datang? Apa saat ini ia sedang menelan kata-katanya sendiri?
"Geurae. Kalau aku tidak ada disini berarti kau tidak melihatku, bodoh. Aish, beberapa hari dekat dengan Jungkook kau tertular penyakit bodohnya ne? Ck ck, kasihan sekali teman sekelasku ini." Ujar Taehyung sambil memasang tatapan pura-pura iba kepada Hoseok.
"Sudahlah hyung. Hoseokie-hyung, apa yang kau bawa itu?" tanya Jungkook mengalihkan keadaan. Ia mulai takut dengan suasana yang sedang terjadi saat ini.
"Ah, iya. Ini majalah yang hyung ceritakan kemarin, Kook. Lihatlah! Edisi spesial Super Junior. Bukankah kau menyukai Super Junior?" pamer Hoseok semangat sambil memperlihatkan majalah yang ia bawa kehadapan Jungkook.
"Wah~ Aku pinjam ya hyung? Oh iya, Tae hyungie juga suka Super Junior lho, hyung! Iyakan, Tae-hyung?" tanya Jungkook, ia menatap wajah Taehyung dengan ekspresi berbinar.
"Ne. Tapi sekarang aku tidak menyukai boyband itu lagi karena Jungkook juga menyukai mereka. Aku tidak sudi bahkan untuk menyukai hal yang sama dengan anak hina ini." Maki Taehyung.
"Dia selalu mengikutiku dan meniru apapun tentangku. Dia tahu bahwa dia membuatku kesal, tapi dia tetap melakukan hal itu seakan aku tidak pernah memarahinya. Itu membuatku muak." Sambungnya.
Taehyung berbicara seakan hanya ada ia dan Hoseok diruangan ini. Apakah sekalipun ia tidak pernah memikirkan perasaan Jungkook? Dongsaengnya itu manusia seperti dirinya. Jungkook itu punya perasaan, Kim Taehyung!
"Jika kau kesini hanya berniat membuat suasana hati Jungkook rusak, lebih baik kau pergi, Tuan Muda Kim Taehyung." Usir Hoseok 'halus'.
Taehyung langsung beranjak pergi dari ruang rawat Jungkook. Namun sebelumnya ia sempat mengahadiahkan Jungkook tatapan sinis, yang seakan mengatakan 'selamat-atas-hyung-barumu-yang-cerewet-itu'.
"Hiks~"
Hoseok yang mendengar isakan kecil itu langsung membawa Jungkook ke dalam pelukannya.
Ia memeluk Jungkook sampai namja bermarga Kim itu tertidur.
Setelah ia yakin Jungkook sudah tidur, ia membaringkan Jungkook di tempat tidurnya.
Ia menatap Jungkook iba. 'Berjuanglah menghadapi hidupmu yang sulit, Kim Jungkook. Hyung akan selalu berada di pihakmu' batinnya.
.
.
.
.
.
(XX/XX/2013)
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun telah berganti tahun. Kebanyakan manusia akan berusaha membuat hidupnya lebih baik dari tahun ke tahun, bukan? Ada yang berhasil, namun ada juga yang gagal. Yah, itulah takdir Tuhan.
Namun tidak dengan dua orang namja tampan bermarga Kim ini. Kim Taehyung masih terus membully dongsaengnya dan memakinya dengan kata-kata yang kasar. Taehyung juga masih memaksa Jungkook memasakkan sarapan untuknya.
Begitu pula dengan Kim Jungkook. Magnae Kim ini tetap menyayangi hyungnya dan pasrah terhadap apapun perilaku hyungnya. Ia masih merasa senang jika Taehyung tertawa lepas karena mengerjainya. Huh, anak ini benar-benar anak yang baik.
Kini dua namja –hampir- dewasa tersebut telah duduk di bangku kuliah. Kyunghee University, sebuah universitas ternama di Korea Selatan. Taehyung mengambil jurusan hukum, sedangkan Jungkook mengambil jurusan seni musik. Mereka berdua kini telah berada di tahun kedua di universitas mereka. Dan teman-teman Taehyung yang dahulu sering membully Jungkook telah sekolah ke luar negeri.
Kyunghee University (XX/XX/2013)
Saat ini Jungkook tengah berlari mengejar Taehyung yang tetap berjalan meninggalkannya tanpa menoleh sekalipun padanya.
"Hyung! Hosh...hosh...Gidaryeo jaebal!" pinta Jungkook dengan nafas terengah-engah.
Taehyung yang memang memakai earphone tentu tidak bisa mendengar suara dongsaengnya.
Taehyung terus berjalan keluar gerbang sekolahnya sambil melihat –entah apa- di ponsel kesayangannya.
"Aish! Cepat sekali." Keluh Jungkook.
Taehyung terus berjalan, berniat untuk menyebrang jalan raya tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. Ia bahkan tidak sadar ada sebuah truk yang akan melintasinya.
"Omo! HYUNG!" teriak Jungkook.
"..."
"HYUNG MINGGIR!" sambungnya.
"..."
Taehyung masih tidak menyadari hal apa yang akan menimpanya.
Tanpa berfikir panjang, Jungkook langsung berlari menuju Taehyung dan mendorong tubuh hyungnya ke pinggir jalan raya.
Bruk
Duak
Tak lama setelah itu, jalan raya itu dipenuhi oleh banyak orang yang kebetulan melihat kejadian itu.
"Anak muda, kau baik-baik saja?"
Taehyung yang masih mengumpulkan kesadarannya tersentak mendengar suara seorang ahjusshi tua yang menanyakan keadaannya.
Tanpa ba-bi-bu Taehyung langsung berlari ke tempat tubuh Jungkook terbaring.
"J..Jungkook-ah?" panggilnya pelan sambil menghampiri tubuh bersimbah darah Jungkook.
Perlahan ia mengguncang tubuh Jungkook pelan.
"..."
"Tenanglah anak muda. Saya sudah menelepon ambulans." Ucap seorang ahjumma tua menenangkan Taehyung.
Taehyung tidak membalas ucapan ahjumma itu.
Kini ia sibuk mengelus surai kecoklatan sang dongsaeng yang selama ini ia acuhkan.
Kini ia sadar. Kim Jungkook yang selama ini diacuhkannya sangat menyayanginya. Rela melakukan apapun untuk kebahagiaannya. Magnae Kim itu tetap menyayanginya dan pasrah terhadap apapun perilakunya. Demi Tuhan, Jungkook bahkan merasa senang jika Taehyung tertawa lepas karena mengerjainya.
Jungkook rela menukar apapun untuknya, bahkan nyawanya sekalipun. Tapi mengapa ia baru menyadari semuanya sekarang? Haha, Kim Taehyung babbo ya! Bagaimana bisa kau menyadarinya sekarang? Setelah semua yang Kim Jungkook lakukan dan korbankan untukmu kau menyadarinya selama ini?
Yah, bagaimanapun pepatah yang orang-orang katakan itu benar. 'penyesalan selalu datang terlambat'.
.
.
.
.
.
Taehyung pov
Seperti biasa, hari ini aku menjenguk sekaligus menemani Jungkookie di rumah sakit. Sepertinya menemani Jungkookie adalah hobi baruku. Aku sangat suka menemani dongsaeng kecilku itu. Jungkook juga sangat senang kutemani. Buktinya dia lebih memilih aku yang menyuapinya dan memandikannya daripada halmeoni.
Saat ini aku sedang menyuapi Jungkook memakan bubur –yang menurutku amat sangat tidak enak- yang disediakan pihak rumah sakit besar ini.
Jungkook memakan suapan buburnya untuk siang ini dengan senyuman lebar yang tidak pernah menghilang dari bibir manisnya.
"Cha! Saatnya minum obat." Ujarku sambil menggiling obat-obatan Kookie dan menaruhnya di sebuah sendok yang telah diisi sedikit air.
"Ada pesawat terbang yang akan memasuki gua. Oh tidak! Ayo Kookie-chagi buka mulutmu! Suing... Aaa~" Jungkookpun membuka mulutnya dan menelan obatnya.
"Aish, aku bukan anak kecil lagi hyungie~" rajuknya sambil mempoutkan bibirnya.
"Kau itu tetap dongsaeng kecilku, Kookie chagi. Dongsaengku yang paling manis-"
"Tampan hyung! Aku ini tampan." Belum selesai aku berbicara, ia sudah memotong ucapanku dengan kalimat yang menurutku cukup narsis.
"Ne. Dongsaengku yang tampan dan sangat pintar. Belum lagi baik, penolong, berhati mulia, dan tulus. Ah, kau benar-benar namja impian, Kookie. Pasti ada banyak yeoja yang mengejarmu dan memberikan hatinya padamu." Pujiku tulus.
Namun wajahnya terlihat muram. Ada apa? Apa aku salah bicara?
"Tapi aku ini penyakitan, hyung. Aku bahkan tidak tahu aku akan kembali ke kehidupan normal seperti manusia lainnya atau menetap di rumah sakit ini. Atau kemungkinan terburuknya aku mungkin akan pergi."
Aku benci kalimatnya yang seperti ini. Aku langsung membawanya kedalam pelukanku dan mengelus rambutnya lembut.
"Tae hyungie akan selalu bersama Kookie. Jadi Kookie tenang saja ne!"
Dia tidak membalas ucapanku. Aku merasa bahunya bergetar dan kemeja depanku basah. Menangis lagi, eoh? Adikku belakangan ini suka sekali menangis. Aku mengeratkan pelukanku dan terus mengelus surai kecoklatannya.
Kira-kira dua puluh menit kemudian aku mendengar deru nafas teratur darinya. Aku rasa ia sudah tertidur. Akupun membaringkan tubuh lemahnya di kasur.
Kookie-ya, cepatlah sembuh. Hyung merindukanmu yang dulu. Mian karena dulu hyung selalu mengerjaimu dan menghiraukanmu. Jeongmal mianhae. Hyung benar-benar menyesal Kookie-ya.
These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase
.
.
.
.
.
Author pov
"Hyung, jaga kalung ini untuk Kookie ya!" pinta Jungkook pada Taehyung saat Jungkook selesai meminum obatnya.
Taehyung menatap kalung berantai hitam berbandul hati itu heran. Dalam kalung itu ia bias melihat fotonya dan Jungkook. Yang entah kapan foto itu diambil, Taehyung juga tidak tahu.
"Wae? Kenapa harus hyung yang menjaganya?" Tanya Taehyung heran.
"Pokoknya hyung janji harus menjaga kalung ini! Dan mulai saat ini kalau hyung menangis dan sedih, maka Kookie akan membenci hyung." Sambung Jungkook.
"…" Taehyung hanya mampu menatap dongsaengnya dengan perasaan bercampur aduk. Ia kembali teringat dengan percakapannya dengan halmeoninya tadi malam.
"Mengapa halmeoni menangis?"
"Jungkookie…"
"Ada apa dengan Kookie?"
"Kata dokter penyakit kanker otak Jungkookie kumat kembali. Dokter bilang penyakitnya sudah mencapai stadium akhir, tidak bisa disembuhkan lagi. Hiks…"
"Mwo? Jangan bercanda, halmeoni!"
"Halmeoni tidak bercanda, Tae-ya. Dokter memang benar-benar mengatakan itu. Dokter juga bilang umur Kookie tidak akan mencapai satu bulan lagi."
"Hyung?"
"Aniyo. Pokoknya kita akan menjaga kalung ini bersama-sama. Hyung dan Kookie akan selalu bersama selamanya." Ucap Taehyung sambil tersenyum meyakinkan.
"Mianhae hyung." Sesal Jungkook sembari memeluk Taehyung erat.
Taehyung langsung membalas pelukan erat Jungkook. Ia mulai merasakan sesak didadanya. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
"Saranghae hyung. Good bye."
Teet….
Suara alat pendeteksi jantung yang berbunyi nyaring menyadarkan Taehyung.
"Kookie…Kim Jungkook babbo!" ucapnya. Ia sama sekali tidak melepaskan pelukannya pada tubuh tak bernyawa dongsaengnya.
Bahkan saat halmeoni, dokter dan para suster datang. Mereka menarik Taehyung agar melepaskan Jungkook. Namun Taehyung tetap tidak bergeming.
"Mianhae Jungkook-ah." Ucapnya pelan sebelum kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
.
END
Selesai~
Maaf ini brothership bukan incest hehe
Makasi buat semua yang udah baca, review, follow ataupun favorite ya~
Mohon Review nya…
Kritik dan saran sangat diperlukan. Tapi mohon dengan kata-kata yang tidak kasar dan menyinggung.
Wanna review?
Terimakasih sudah membaca~ \^O^/
GAMSAHAE (_ _)* bow 90 ͦ *
Salam hangat yeosaeng nya Kyuhyun dan Taehyung noona nya Jungkook.
Han EunKyo
