"Apa maksudmu, Tazaki-san...?" tanya Sakuma masih ragu.

Tazaki lalu menggeser gulungan itu ke tengah meja sehingga dapat dilihat oleh mereka. Tampak gulungan itu bercoretan kutip, spasi dan titik yang diatur sedemikian berbeda. Gulungan kusut itu cukup panjang sehingga Jitsui harus meluruskan dua ujungnya untuk dapat melihat keseluruhan kode yang ditulis di sana.


Titik kutip kutip kutip

spasi titik spasi

titik kutip titik

Spasi kutip kutip spasi

Titik kutip spasi

Kutip titik spasi

Titik kutip titik kutip titik kutip.

.

.

"Jerman..." bisik Amari menerjemahkan kodenya.


Titik titik titik titik

Spasi titik spasi

Titik kutip titik kutip titik kutip

.

.

"He..." Jitsui meneruskannya.


Kutip titik titik titik

Spasi titik kutip

Spasi kutip titik kutip titik

Spasi kutip titik kutip.

.

.

"Back..." Jemari tangan Fukumoto menelusuri satu kode terakhirnya.

Yuuki menatap sangar gulungan itu. Tangan kanannya dikepalkan cukup geram. Ia lalu berkata, "Aku melihat sendiri Miyoshi-san terbaring di sana... Tidak bernyawa sama sekali. Ternyata dia melebihi dugaanku. Sekarang, biarkan dia tenang dulu. Kondisi ini masih belum stabil untuk memulai kembali misi memata-matai. Mata-mata sekaliber dia, pasti sanggup mengatasinya sendiran; yah, dengan luka macam begitu aku kurang yakin."

"Yuuki-san, bukankah-."

"Tenanglah, Sakuma!" pekiknya tegas. Sakuma langsung terdiam mendengar perintahnya, dan Yuuki kembali melanjutkannya seraya menatap burung kecil milik Tazaki dengan penuh arti; ia mengharapkan sesuatu darinya, "Pasti ada seseorang yang membantunya. Salah satu 'tangan tak terlihat' kita... Itu pasti."

.

.

.

Joker Game ~ Encounter

© Himomo Senohara (is now Sakurasakakihara-P)

Disclaimer : Kayak di depan~

Warning : AU. Masih penuh dengan intrik mata2. Pokoknya absurd wwww *dor*

A/N : Back back~~ karena di depan baru prolog, jadi ga tau kudu piye ini :"D pokoknye hepi reading :3

Eh iya, ekor cicak di chap sebelumnya = bawahan yang dibuang. Gitu :3

A/N (lagi) : SIYAL TANDA MORSE NYA SUSAH BENER BUAT DI-FIX! Ah sudahlah, pakai teks aja /3 btw ini how 2 lepas dari writerblock aaaaaaaa *depresi* btw teks narasi titik spasi narasinya disatuin aja hingga membentuk kata. Biar ngerti. Ohoho.

.

.

.

[ Berlin, Jerman, di saat yang sama. ]

"Bagaimana dengan makanan siangmu? Kita belum makan sedari tadi 'kan, Elisabet?" George menawarinya sepotong brownies.

Partner pekerjaannya tampak menggangguk lemah. Elisabet McGlory, namanya, adalah perempuan ayu berdarah Inggris yang pemberani tersebut. Setahu George, wanita berperawakan lima senti lebih tinggi darinya itu datang jauh-jauh dari Manchester untuk menunaikan tugas menafkahi keluarganya. Belum menikah; walau usianya sudah mencapai pertengahan 30 tahunan. Luwes dalam berbahasa asing; suatu hal yang biasa bagi jurnalis spesialisis berita internasional.

George lalu memberikan separuh dari brownies yang dibelinya dari warung di pinggiran kota Berlin tersebut, dan kemudian dimakannya beramai-ramai. Selagi Elisabet memakannya dengan rakus, George memilih untuk menyimpannya selagi memandang kotanya yang sudah hancur bagai makanan yang terpanggang hingga hitam legam.

Hancur, eh... Bagaimana dengan Jepang sendiri...?

Lantas Elisabet membuka topik selagi mulutnya masih penuh dengan makanan, "Eh, George, bagaimana dengan oplah koran kita?"

George mengedikkan bahunya sambil membaca ulang catatan yang ditulisnya barusan, "Kurang tahu, tetapi dengan jumlah pembaca yang kurang dan populasi penduduk terdidik yang merosot karena perang, kemungkinan kecil. Tetapi, kita tidak boleh menyerah. Koran mingguan ini cukup besar untuk ukuran perusahaan media kelas menengah, jadi aku memutuskan untuk bergabung dengan kalian. Menurutku, minggu ini akan ada sekitar 12.359 kali oplah."

"Keluar deh, ramalan George!" seru Elisabet senang, dan kemudian meneruskannya, "Ramalan George hampir selalu tepat tuh! Jadi penasaran lagi~."

"Ya..."

George lalu menengadahkan kepalanya menghadap ke langit. Seolah berharap semua rencananya berjalan mulus.

Aku akan tetap memata-matai, apapun keadaanku... Semoga pesan itu sudah sampai.

.

[xXx]

.

[Tokyo, Jepang]

"Yo." sapa Sakuma berdiri dengan wajah merem begitu fajar menyapa kantor mereka lewat jendelanya.

Di depannya persis di dalam kantin, muncul Jitsui yang sudah berpakaian lengkap; satu stel kemeja dipadu dengan vest berwarna cokelat plus celana panjang senada dengan vest. Ia menyapa Sakuma dari dekat jendela dengan melambaikan tangannya yang memegangi koran harian, "Selamat pagi, Sakuma-san! Aku menemukan koran bagus nih. Lihat nih, di halaman lima, beritanya tentang keterangan pengakuan dari pihak Jerman."

Sakuma yang dipancing oleh perkataan Jitsui, lalu berjalan mendekatinya. Kepalanya lalu ia condongkan ke koran tersebut; sayang beribu sayang, ternyata korannya justru berbahasa asing alias bahasa Jerman. Sakuma langsung memasang wajah bingung dan segera meliriknya; meminta penjelasannya. Seolah tersenyum licik, Jitsui mengejeknya seraya menutup koran tersebut, "Kau kan belum dapat pelatihan, jadi maaf ya. Hehehehe."

Sialan kau, kulempar ke luar jendela baru tahu rasa! Mau tidak mau, Sakuma dengan senang hati mengutuki kelakukan jeleknya.

"Jadi, intinya di sini ada pesan tersembunyi darinya." jelas Jitsui membaca lagi halaman yang ditunjukkannya tadi.

"Nya?"

"Duh, lupa ya? Yang ada di surat itu kemarin malam."

Oh, Miyoshi ya... Sakuma teringat kejadian kemarin tersebut. Tidak ada kejadian menghebohkan yang berarti, kecuali Yuuki meminta semua anggotanya untuk tetap kalem dan kembali melanjutkan bermain Joker. Sungguh, Sakuma tidak habis berpikir, mengapa si atasannya malah bersikap santai seolah hanya kejadian normal. Bukankah dari yang ia ketahui, Miyoshi seharusnya sudah mati sejak saat itu? Dan suratnya justru baru datang delapan tahun setelahnya? Ini yang membuatnya tak habis berpikir.

Manusia macam apa yang bisa survive selama delapan tahun tanpa melapor ke pusat-.

Melihat Sakuma yang terpaku seolah menolak fakta tersebut, Jitsui lalu menjelaskannya selagi mata cokelatnya melahap semua informasi yang tersajikan di depannya, "Di sini berbeda dengan yang kau bayangkan, Sakuma-san. Meski kau pernah mengenyam pendidikan militer, kau tak akan mengerti konsep menjadi mata-mata. Amari-san pernah mengatakan 'kan, bahwa mata-mata itu jauh lebih mengerikan dari yang kau kira."

"Memangnya-."

"Misalnya, kami pernah disuruh berenang dalam cuaca bersalju sepanjang lima kilometer. Para prajurit pastinya sudah terbiasa dengan ini kan?"

... Benarkah...? Sakuma sedikit terkejut mendengar perkataan Jitsui. Benarkah mereka sudah pernah mencicipi hal seperti itu...?

Jitsui lalu kembali menutup dan menaruh korannya di meja bulat yang biasa dipakai untuk bermain dan kemudian duduk serta mengamininya, "Menjadi mata-mata itu sama dengan menjadi monster. Karena mereka hidup sendiri. Tidak didukung siapapun. Tidak tahu siapa sekutu dan musuh. Hanya itu saja."

"Kalau begitu, aku pasti-."

Bentakan Sakuma terhenti ketika melihat Tazaki, lengkap dengan piyama yang masih menempel di badannya, di mulut pintu kantin tersebut. Sembari mengucek matanya, Tazaki menyapa mereka berdua, "Selamat pagi... Hoaahhm. Ada apa, Jitsui... Oh, koran apa itu?"

"Deutsch Zeitungen!" teriak Jitsui melambaikan korannya.

"Ada apa? Tumben ada koran begituan... Diantar sama siapa?" tanya pria spike dengan poni belah kiri ini, mengambil dan membaca koran tersebut.

"Nggak tahu. Pagi-pagi aku piket membersihkan dan mengambil surat di depan, koran itu sudah ada." jawab Jitsui bernada kekecewaan.

Seolah acuh mendengar keluhan Jitsui, Tazaki membaca koran tersebut. Semua informasi sudah ia lahap dalam kurang dari sepuluh detik, hingga ia menemukan halaman lima dari koran tersebut. Sepintas artikel koran di halaman tiga itu memuat berita politik, ia bisa menangkap sedikit kejanggalan pada artikel tersebut. Warna di beberapa huruf tampak sedikit memudar; sangat kecil lingkupnya. Ia membaca ulang artikel itu; dengan mata yang sangat dekat dengan koran tersebut, dan kemudian dijauhkannya dengan helaan napas.

Jitsui lalu menyela kegiatannya, "Kau menyadarinya, Tazaki-san?"

Pertanyaan itu dijawab dengan satu anggukan pasti; ia menyadarinya. Sakuma lalu menoleh ke mereka berdua; meminta penjelasannya. Tazaki yang menyadari wajah Sakuma yang benar-benar bingung, lalu melipat dan menunjukkan artikel yang barusan dibacanya di halaman lima, "Coba kau perhatikan baik-baik, Sakuma-kun. Di sana dan sini terdapat sedikit pemudaran warna pada huruf, membentuk kata yang dipecah menjadi huruf yang tersebar dalam satu paragraf."

Ia lalu menunjukkan kata yang memiliki 'kesalahan kecil', yang selanjutnya bisa disingkat sebagai berikut :

n ic mi n ie je st.

"... Apa artinya?" tanya Sakuma, masih loading.

"Dalam bahasa Polandia, artinya I am fine. Tampaknya kesalahan percetakan ini disengaja; entah siapa yang pintar mengirimnya hingga dimari." ujar Tazaki kagum.

Sakuma lalu memekik pelan, "Jadi itu kode dari Miyoshi-san?!"

"Mungkin. Kalau memang bukan dari dia, untuk apa koran ini berada di sini?" jawab Tazaki membolak-balik koran tersebut.

"Benar juga... Aneh kalau koran berbahasa asing bisa ada di sini." Sakuma ikut mengamininya; walau tidak begitu memahami secara detail.

"Dari pagi aku membaca koran itu berkali-kali, hanya di artikel halaman itu yang janggal." keluh Jitsui memeriksa ulang halaman lainnya, bersama pria pesulap itu.

"Apa sebaiknya dilaporkan ke atasan?" tanya Tazaki kepadanya.

"Hmmm. Kurasa tidak. Hanya penghibur untuk kita, barangkali?" Jitsui malah bertanya balik.

Tazaki lalu menggaruk rambutnya, dan kemudian melipat koran itu hingga seperti semula serta menaruh kembali di meja bundar tersebut. Ia lalu menggerutu sembari menguap sedikit lebar, "Akhir-akhir ini aku makin tumpul... Mesti mengasah kemampuan lagi. Jitsui, mau bertanding martial art bareng aku di basement? Hitung-hitung mengasah kembali setelah seminggu absen berturut-turut."

Jitsui lalu mengangguk yakin dan memberi kode setuju. Tazaki lalu menepuk pundak Sakuma sekali; dan kemudian keluar dari kantin tersebut. Jitsui lalu tersenyum kepada Sakuma dan bertanya, "Mau ikut berlatih martial arts bareng aku dan Tazaki nanti? Aku rasanya juga sedang tumpul sih. Nggak enak kalau tiap hari mainnya Poker terus; kemampuan otak lancar, tetapi tumpul di bagian perlindungan diri. Maukah kau?"

"Oh, boleh juga. Jangan remehkan aku." cengir Sakuma percaya diri.

"Try me." Jitsui balik menantangnya, plus senyuman jahanamnya.

.

[xXx]

.

[ Abu Dhabi, beberapa hari kemudian pada tengah malam. ]

"Hah?! Kau serius?"

Tampak sesosok pria dengan rambut cokelat yang dibungkus dengan topi fedora, memuntahkan whiskey mendengar salah satu koleganya mengobrol di depan konter pub yang berada di pinggiran kota tersebut. Ditemani para kawula muda yang kedapatan menggodanya, pria ini kemudian mencondongkan kepalanya mendekat si koleganya, "Yakin nih? Apakah informasi itu betul-betul sudah dikonfimasi oleh atasanmu?"

Koleganya menggangguk pelan, "Tidak salah lagi. Pak Chamberlain sudah mengonfirmasinya."

Pria itu lalu kembali ke posisi semula; ia lalu menampakkan senyuman tipis. Ia lalu berkata begitu memastikannya, "Tampaknya akan sedikit sibuk usai beres-beres setelah Perang Dunia ini. Kau sendiri bagaimana? Mau ganti haluan atau bagaimana?"

"Hm. Mungkin. Tetapi prediksiku kita akan berpisah cukup lama." jawab si kolega itu menenggak beer dengan ganas.

"Bisa jadi. Well, seperti kabut, ya." Pria itu lalu tertawa kecil selagi ia menyorongkan gelasnya ke bartender. Ditemani hanya dengan koleganya yang lebih tepat disebut rekrutannya, ia lalu mengeluarkan satu kotak bungkus yang bermerek; sebuah merek rokok. Lantas ia menawarkannya kepada kawula muda yang menggodainya, dan kemudian koleganya. Keadaan pub itu begitu hiruk pikuk sehingga ia tak lagi mampu memendam kebisingannya.

"Yah, trims ya. Aku akan senang jika kau mau menghilang seperti kabut; sepertiku." goda pria itu menyengir kecil.

"Terserahlah."

Pria itu lantas menenggak whiskey terakhirnya, dan kemudian menaruhnya di meja serta membayarnya. Ia kemudian mengambil jaket panjang miliknya dari sisi kirinya dan lalu memakainya dengan pelan; tidak mau merusak suasana senangnya. Ia kemudian turun dari kursi konter tersebut dan melepas sedikit topi fedoranya; mengucapkan kalimat perpisahan kepada koleganya. Ketika si koleganya kembali melanjutkan minum, pria ini berjalan dengan pelan ditengah ramainya manusia di sana, menuju pintu keluar.

Kemudian pria itu membuka pintu itu, dan lantas keluar seraya sesekali mengambil oksigen; di sana sudah terlalu ramai tampaknya.

Mengesalkan... Apa boleh buat.

Coooo.

Tiba-tiba ada seekor burung yang melintas jauh diatas kepalanya. Burung itu tampak terbang agak lamban; tampaknya ia masih asing dengan situasi kota tersebut. Burung itu lalu mendarat persis di tiang lampu yang tak jauh dari lokasi pubnya. Ketika pria itu hendak mengabaikannya, mata ia menangkap sesuatu yang mencurigakan. Pada salah satu kaki burung itu tampak sesuatu yang seperti perban; dan ia tahu bahwa burung tak akan mampu terbang jika salah satu kakinya terluka.

... Jangan-jangan...!

Pria itu lalu berlari pelan, mencoba menarik perhatian burung abu-abu yang indah tersebut. Ia berkali-kali bersiul memanggilnya, dan pada siulan ke tujuh barulah burung itu menengok kepadanya. Dengan mempertahankan ciri khas siulannya, ia mencoba menariknya terbang kemari; rupanya misi itu cukup sukses. Burung itu perlahan turun mendekatinya, dan ia kemudian menarik perhatiannya hingga masuk ke salah satu gang yang cukup gelap.

Begitu si burung itu mengikutinya ke gang itu, keburu pria itu menangkap dan menyembunyikan burung itu dengan sterofoam; membuatnya pingsan.

Ini... Pria misterius itu tampak kaget melihat burung itu.

Meski ia tak terlalu akrab dengan berbagai burung yang ia kenal, ia tahu ada satu darinya yang cukup familiar pada ingatannya. Burung itu memiliki satu lembar bulu yang berwarna hitam pada sayap kirinya; bulu itu cukup kecil untuk dilihat dari dekat. Ia lalu mengelus bagian kakinya, dan membuka perban yang sudah dekil tersebut. Ia lalu menyimpan burung itu dibalik jas kulitnya, dan membuka lembaran tersebut.

Meski dalam kegelapan yang mendekati sempurna, ia masih mampu menangkap apa yang hendak disampaikannya.

Nic mi nie jest.

Hmph.

Ia lalu menyimpan lembaran kecil tersebut dalam saku lain dibalik jasnya, dan kemudian berjalan seolah tidak ada apa-apa.

"Thanks, Tazaki-chan. Sepertinya aku bisa memulainya~!" cengirnya jahil, entah kepada siapa.

.

.

.

[Te be ce. U cannot say te be ce without te be cooo cooo. /DOR]