Konnichiwa, Minna-san~ Sugar here!
Sugar akhirnya bisa update juga setelah diijinin~
Pertama, Sugar mau ngucapin terima kasih banyak buat
yang pada review, kasih saran, dan vote buat fic Sugar ini!
Sugar ga nyangka banyak yang suka dan tertarik! Sugar sangat senang!
Yap! Berikut daftar karakter yang sudah di tentukan oleh Sugar dan para
anggota PFFH (Persatuan Fujoshi-Fudanshi Hetalia) dan tentunya
oleh kalian semua yang udah review dan vote! Arigatou!
Daftar karakter :
Yui : Italy (Feliciano)
Mio : England (Arthur) (maaf untuk semua yang vote Kiku jadi Mio. Ini semua persetujuan dari anggota PFFH, dan karena England itu tsundere#alasangajelas#. Dan satu
alasan lagi, Sugar ga mau di Death-glare seluruh anggota PFFH#tambahgajelas)
Ritsu : America (Alfred)
Mugi : Japan (Kiku) (Ini juga, maaf untuk yang vote Austria untuk jadi Mugi. Pas Sugar usul kalo Austria
jadi Mugi ke semua anggota PFFH, semuanya langsung protes dan bilang kalo Mugi itu
cocoknya Kiku. Yah, menurut Sugar sendiri, memang Mugi cocoknya Kiku#dikerubutin
Kenapa? Karena, asal tau aja ya, di anime dan manga Mugi itu suka sama yang namanya
YURI/SHOUJO-AI, karena itu, Kiku kan sering dibilang fudanshi dan suka Yaoi, jadi cocok-cocok
aja hahahaha#disambitparareaders. Lagipula, Mugi itu orangnya murah senyum, lembut dan
sangat perhatian pada teman-temannya. Anggap aja, Kiku itu orang Jepang yang kaya raya,
dan Kiku memang belajar budaya luar kan? Nah, Mugi juga sama seperti Kiku, sedang belajar
tempat-tempat di kota-kota luar)
Azusa : Ya, karakter untuk Azusa belum ditentukan karena belum cukup vote dan Azusa masih
lama munculnya. Jadi, kalau vote untuk karakter Azusa sudah dibuka lagi, tolong vote-nya
ya~
Ui : Liechtenstein (Lily) (Kenapa bukan Romano? Karena kalau Romano jadi Ui, bukannya baik kepada
kakanya, malah kasar pada kakaknya kali!#dilempar tomat. Dan, Lily memenuhi kriteria sifat-sifat
Ui yang baik hati, dewasa, dan dapat mengurus pekerjaan rumah. Sekali lagi maaf untuk yang
vote Romano)
Sawako : Hungary (Elizaveta)
Nodoka : Germany (Ludwig)
Pertama, Sugar mau mengucapkan maaf sebesar-besarnya jika karakter-karakternya tidak sesuai para readers dan kebanyakan vote karakter tidak Sugar pilih. Maaf untuk yang vote-nya tidak Sugar pilih, maaf untuk yang sudah susah payah vote, maaf jika Sugar mengecewakan kalian semua! Gomen...
Err... Langsung dimulai aja kali ya? Oke, langsung aja deh!
On With The Story!
Title : HetaON!
Rating : T
Genre : Humor/Parody/Friendship/Romance ?/Slice of Life/School Life
Summary : "Club Light Music akan dibubarkan jika tidak ada sedikitnya 4 anggota yang bergabung
sampai akhir bulan ini." "APA! ?" My first fic, K-ON! Parody. Read and Review please?
Warnings : K-ON! AU, Gaje, Abal, Hints Sho-ai jika dilihat pake mikroskop, OOC, jalan cerita ngaco
dan warnings-warnings lainnya yang akan ditemukan di fic lain ^ ^
Disclaimer : Hetalia punya Himaruya-san, K-ON! Punya Kakifly ^ ^
Happy Reading~
Side 1 : Recruitment!
Suatu pagi hari yang cerah. Cerah banget. Cerah-cerah banget. Cerah-cerah-ce-*kebanyakan Bu!*
KRIIIINNNNGGGGG
"..."
KRIIIIIINNNGGGGG
"...mmmm"
KRIIINNNN-Clak
"Kakak, ayo bangun. Sudah pagi." Kata seorang gadis kecil berambut pirang dan menggunakan pita manis berwarna ungu di rambutnya, serta menggunakan seragam sekolah sambil memasuki kamar kakaknya. Si kakak? Dia masih molor di tempat tidur dengan gaya tidur yang aneh, kaki di atas dan kepala di bawah (hah? Emang salto apa?)
Tolong abaikan kalimat terakhir di atas.
Akhirnya, si Kakak-pun bangun setelah dibangunkan lagi oleh adiknya. Si Kakak langsung melihat jam wekernya tersebut dengan kekuatan mata masih 0,5 Watt (lu pikir listrik) "...!" Biasanya, kalau orang melihat jamnya dan cengo beberapa saat, beberapa menit kemudian, akan terdengar teriakan dan ledakan-tunggu, coret ledakannya!
"UWWWWAAAAAAA!"
Benar, kan?
"VE-VE-VE-VEEE, Lily! Aku telat! Aku telat Veeee~ !" Si Kakak berteriak sambil berlari dan mengenakan seragamnya (Emang bisa ya?). 'Lily', adik si Kakak hanya bisa bengong melihat tingkah laku kakanya yang udah kayak orang gila kabur dari RSJ.
"Tunggu, kak! Ini kan-!" "Lily, aku pergi dulu ya!" kata si Kakak sambil berlari keluar rumah, "Masih jam 8..." Lily hanya pasrah membiarkan kakaknya itu pergi ke sekolah.
Mari kita lihat si 'Kakak' yang bernama Feliciano Vargas atau lebih sering dipanggil Feli.
Ya, Feliciano masih lari-lari sambil makan roti dengan selai buatan adiknya tercinta (wah-wah, masih bisa ambil makanan biarpun udah 'telat'). Feli kelihatan capek sekali kayaknya (ya, iyalah! Wong dia lari) "AH!" tiba-tiba Feli berhenti dan mundur sepuluh langkah-tunggu, mau ngapain? "Ya-ya, anak baik-anak baik~ veee~" Rupanya, Feli malah nongkrong di tengah jalan sambil ngelus-ngelus anak kucing. Feli, bukannya tadi kamu udah 'telat' ya?
5 menit kemudian~
Akhirnya, sesudah ngelus-ngelus kucing, Feli jalan-maksud saya, lari lagi. Sekarang dia berlari lebih cepat dari sebelumnya. Ya, waktu lagi keenakan main sama kucing, Feli baru inget kalau dia udah 'telat'. Hanya tinggal lurus aja terus belok kiri, belok kanan, belok kiri lagi, dan belok kanan lagi (banyak banget) lalu tinggal luuuuurrrrruuuusssss aja, Feli sampai di sekolahnya dan, perjalanannya tidak akan sampai 20 menit!
Harusnya begitu sih, tapi...
Di tengah jalan, Feli menolong seorang nenek menyeberang jalan
10 menit...
Lalu, dia menolong anak yang tersesat
15 menit...
Terus, manjat pohon mengambil balonnya seorang anak kecil
10 menit...
Alhasil, Feliciano sampai di sekolahnya 35 menit kemudian dengan tenaga yang tersisa dan udah ngos-ngosan. "Sampai... juga... veee?" Feli clingak-clinguk bingung, 'Kenapa semuanya masih di luar dan kelihatan santai ve?' pikir Feli, diapun nengok ke arah jam yang ada di tembok luar gedung sekolah. Jam itu menunjukkan bahwa sekarang pk. 08.40, dan upacara penerimaan kelas 10 dimulai pk. 09.00. itu berarti..."Aku selamat veee..."
Heta-ON!...
Tap, tap, tap
"Artie!"
Tap, tap, tap
"Oi! Artie!"
Tap, tap, tap
"ARTIE!"
"WAAAA!" laki-laki dengan rambut pirang yang dipanggil 'Artie' langsung kaget dan refleks nengok ke arah suara yang *coret*meneriakkan*coret* memanggil dia. Di depannya, ada seorang laki-laki dengan rambut pirang kecoklatan dan ada sehelai rambut yang berdiri sendiri di antara rambut yang lain sedang cengar-cengir gaje. "Huh! Ternyata kamu Alfred! Bikin orang kaget aja!" Alfred malah makin cengar-cengir gaje, " Sorry-sorry! Habis dari tadi kamu ngacangin aku terus!" Arthur hanya menghela nafas. "Aku bukannya ngacangin kamu, git! Aku Cuma ga denger aja kamu manggil aku! Lagipula, ada perlu apa kamu manggil-manggil aku?" "INI!" Alfred menunjukkan formulir pendaftaran club, "Kita ikut Club Light Music!" kata Alfred dengan semangat membara. "He? Tapi, aku sudah mendaftar untuk ikut club Sastra," kata Arthur sambil menunjukkan formulir pendaftaran club miliknya. Alfred hanya menatap kertas tersebut dan merebutnya dari Arthur. "Oi, Al! Apa yang-!
Sreeeettttt!
"W-WAAA ! Apa yang kau lakukan git ! ?" kata Arthur sambil melihat nasib formulir pendaftaran yang sudah dirobek dengan sukses oleh Alfred. "Nah, ayo kita ambil formulir pendaftaran yang baru dan ikut Club Light Music!" kata Alfred sambil menarik tangan Arthur dengan semangat (dan paksa). "Tu-tunggu dulu Al! Oi, Alfred! Dengarkan kata-kataku dulu! !" kata Arthur sambil meneriakkan kata-kata mutiara di tengah hall kelas tanpa sadar kalau mereka berdua dilihat oleh para murid dengan tatapan aneh. Alfred? Dia santai-santai aja sambil masih narik-narik tangan Arthur sampai ke ruang guru.
"He? Dibubarkan?" "Lebih tepatnya hampir dibubarkan. Semua anggotanya sudah lulus, dan tidak ada yang bergabung lagi setelahnya," kata seorang guru dengan rambut coklat panjang bergelombang yang bernama Elizaveta. "APA! ?" teriak Alfred sampai membuat seluruh kaca di skolah pecah (oke, itu lebay). "Apa ada hal yang bisa kita lakukan agar Club Light Music tetap berjalan! ?" tanya Alfred masih tetap ngotot. "Ada, jika tidak ada sedikitnya 4 orang anggota yang bergabung dalam akhir bulan ini, Club Light Music akan benar-benar dibubarkan. Jadi, kalian berdua harus mengumpulkan sedikitnya 4 orang anggota, kalian mengerti?" tanya Elizaveta-sensei. "Baik! Kami mengerti!" jawab Alfred yang langsung semangat lagi, sedangkan Arthur yang dari tadi berada di belakangnya hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tigkah laku Alfred yang kayak anak kecil.
Saat Alfred ingin menanyakan sesuatu kepada Elizaveta-sensei lagi, ada seorang murid yang memanggilnya, "Sensei~" "Ah, baiklah, aku akan segera ke sana," jawab Elizaveta-sensei yang kemudian menengok ke arah Alfred dan Arthur, "Maaf, tapi aku harus segera kembali ke kelas. Kalian berdua berusahalah dengan baik ya." kata Elizaveta-sensei sambil tersenyum dan pergi untuk bicara dengan murid yang tadi memangilnya yang ternyata adalah Feliciano. Tiba-tiba, ga ada angin, ga ada badai Arthur mengatakan "Guru yang cantik ya," kepada Alfred. Alfred langsung nengok ke arah Arthur dengan tatapan aneh dan menjawab, "Yahhh... bukan itu sih masalahnya...Hm?" Alfred tiba-tiba nengok ke arah Feliciano yang dari tadi menatap mereka berdua sambil membawa setumpuk kertas di tangannya.
...
Alfred yang udah mulai kesel diliatin Feli terus, memberi tatapan aneh pada Feliciano. Feliciano tiba-tiba bereaksi pada tatapan aneh yang diberikan Alfred, 'Dia memberiku tatapan menyeramkan!' batin Feli yang langsung gemetar dan menjatuhkan semua kertas yang dipegangnya tadi. Sadar bahwa dia menjatuhkan semua kertasnya, Feli langsung memungut kertas-kertas tersebut sambil dibantu Elizaveta-sensei. 'Tampangnya bodoh dan sepertinya orangnya tidak berguna, reaksinya juga lambat,' pikir Alfred, sambil terus melihat Feliciano yang masih mengumpulkan kertas-kertas tersebut, saat ingin berdiri, kepala Feliciano kejeduk salah satu meja guru dan refleks menjatuhkan semua kertas yang sudah dikumpulkannya. 'Juga agak clumsy, orang yang aneh.' Tambah Alfred masih menatap Feli dengan tatapan kasihan-kau-nak.
Heta-ON! After School, Club Room...
Tik. Tok. Tik. Tok.
"Alfred," "Hm?" "Kau yakin masih mau terus menunggu?" tanya Arthur. "Tentu saja!" jawab Alfred singkat, padat, tapi ga jelas (?). Arthur menghela nafas, "Alfred, ini sudah hampir satu jam kita menungu terus di sini. Sudahlah, lebih baik kita menye-" "TIDAK MAU!" teriak Alfred ngotot. Arthur hanya bisa menghela nafas lagi melihat Alfred yang tingkah lakunya lagi-lagi seperti anak kecil, 'Bener-bener ini anak susah banget nyerahnya.' Batin Arthur. Beberapa menit kemudian, kesabaran Arthur sudah habis. Baru saja dia mau melangkahkan kakinya, tapi...
Cklek
"Permisi," seorang laki-laki Asia dengan rambut hitam dan memiliki hime-cut di bagian pinggir rambutnya masuk ke dalam ruang club. "Ya, ada-" "Selamat Datang! Silahkan masuk!" kata Alfred bersemangat memotong kata-kata Arthur. Alfred membawa laki-laki Asia tadi ke arah Arthur dan Alfred tadi menunggu. "A..Ano, apa ini-" "Club Light Music! ? Ya, ini memang Club Light Music! Kau ingin bergabung! ?" tanya Alfred dengan beribu-ribu pertanyaan yang membuat bingung laki-laki berbadan kecil itu. "Alfred! Sabar sedikit! Dia kan jadi kebingungan!" kata Arthur sambil menggetok kepala Alfred dari belakang yang membuat Alfred merintih kesakitan sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan menggumamkan sesuatu seperti 'ampun' dan 'Arthur-sama'. Arthur-pun menghela nafas untuk kesekian kalinya dan menghadap laki-laki tadi, "Maaf, temanku yang satu ini *coret*sangat*coret* agak kelewat aktif, jadi maaf telah membuatmu bingung. Namaku Arthur, dan temanku yang disana Alfred. Kami ingin merkrut sedikitnya 4 orang anggota agar Club Light Music tetap berjalan, apa kau mau ikut bergabung?" tanya Arthur dengan sopan. Laki-laki tadi hanya malu-malu menjawab, "A...Ano, sebenarnya saya ingin ikut Club Paduan Suara, su..sumimasen." "Oh, tidak apa-apa kalau begitu. Kau dengar Al? Ayo kita menyerah saja. Aku duluan ya," kata Arthur sambil mulai berjalan keluar dari ruang club. "Artie! Apa kau ingin melanggar janji kita waktu itu! ?" tiba-tiba Alfred berteriak ke arah Arthur. Arthur berhenti dan menengok untuk melihat Alfred yang sepertinya sudah ingin menangis. "Alfred..." kata Arthur mulai kasihan pada Alfred. Laki-laki Asia tadi hanya melihat kejadian mengharukan (?) di depan matanya. "Ki...Kita berjanji kan? Kita akan membuat band suatu saat nanti! Aku main drum dan kau main bass, apa kau mau melanggar janji kita! ?" kata Alfred dengan mata berkaca-kaca (?). "..." Arthur hanya diam mendengar perkataan temannya itu. "Lalu...Lalu... Jika sudah jadi pro, pembagian honornya 7 : 3," "Jangan ngelunjak!" teriak Arthur yang langsung menggetok kepala Alfred lagi setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Alfred. 'Aku tarik rasa kasihanku tadi! Rugi aku udah merasa kasihan padanya duluan!' batin Arthur dengan muka merah karena malu sudah hampir termakan kata-kata Alfred. "Pft... fu-fu-fu," "Eh?" Arthur dan Alfred langsung menengok ke arah tawa kecil tadi yang ternyata berasal dari laki-laki Asia yang diajak oleh Alfred. "Kalian berdua menarik, Aku hanya bisa main Keyboard. Tapi, kalau itu sudah cukup, Aku mau ikut bergabung dengan kalian," kata laki-laki itu, "Namaku Honda Kiku, salam kenal, Alfred-san dan Arthur-san." Lanjut Kiku sambil tersenyum kecil. "Salam kenal, Kiku!" kata Alfred, "Salam kenal juga, Kiku. Selamat bergabung di Club Light Music." Kata Arthur. "Yosh! Sekarang kita tinggal mencari pemain gitar!" kata Alfred yang sangat bersemangat karena akhirnya dapat anggota baru.
Heta-ON!...
"Ummmmm..." "Feliciano, kau sedang apa?" tanya Ludwig, teman Feliciano. "Ah! Ludwig! Aku sedang memikirkan akan masuk club apa." Jawab Feliciano sambil memainkan pensil mekanik yang ada di tangannya. "Apa! ? Kau belum memilih untuk masuk club apa! ? Ini sudah dua minggu sejak kita mulai masuk sekolah!" kata Ludwig kaget. "Ha...Habis, Aku tidak bisa olahraga dan Aku tidak tahu harus ikut club apa..." kata Feliciano. Ludwig menghela nafas, "Jadi begini awal lahirnya NEET (1) rupanya," kata Ludwig sedih. "VEEEEE! ? Hanya karena tidak ikut club, akan dianggap NEET! ?" teriak Feliciano tiba-tiba, kaget dengan perkataan Ludwig. "Ba...Bagaimana ini veee..." "Bagaimana kalau Aku menemanimu melihat-lihat papan tawaran club?" ajak Ludwig. "Ve? Benarkah? Baiklah, ayo Ludwig, kita lihat sekarang!" jawab Feliciano, mulai bersemangat.
2 Hari Setelahnya...
"Bagaimana Feli, kau sudah menetukan akan masuk club apa?" tanya Ludwig pada Feliciano saat sedang jam istirahat. "Iya! Aku sudah menentukannya ve!" jawab Feliciano sambil memakan pasta buatan adiknya. "Jadi, kau memilih club apa?" tanya Ludwig, "Club Light Music!" Feliciano menjawab dengan semangat. "Eh? Club Light Music? Lalu kau main alat musik apa?" "Ve? Tidak tau," jawab Feliciano enteng. "Eh? Maksudmu apa?" tanya Ludwig heran. "Tapi, namanya saja Club Light Music ve, pasti memainkan alat musik yang mudah dan enteng kan? Seperti bersiul misalnya." Kata Feliciano. "Mana ada club yang malas dan ga niat seperti itu?" kata Ludwig mendengar perkataan Feliciano yang sepertinya rada ngaco, "Lagipula, di poster Club Light Music kemarin, sepertinya mereka membutuhkan pemain gitar. Apa kau bisa bermain gitar?" tanya Ludwig ragu. Feliciano terdiam sebentar, "Ba...Bagaimana ini? A...Aku ga bisa main gitar veee..." kata Feliciano khawatir. "Sudah kuduga, tapi, kau bisa main apa selain gitar?" "Ve? Kas...Kastanet..." jawab Feliciano ragu. "..." Ludwig terdiam sebentar sebelum akhirnya mengatakan, "Benar-benar khas kamu ya, Feli."
Heta-ON!...
"Teman-teman! Kita dapat anggota baru!" teriak Alfred yang masuk ke dalam ruang club dengan mendobrak pintu yang langsung mengagetkan Arthur dan Kiku yang sedang minum teh. "Alfred! Jangan mengagetkan begitu dong! Ketuk pintu dulu atau masuk pelan-pelan kek!" bentak Arthur pada Alfred yang sekarang sedang cengar-cengir khas-nya. "Sudahlah Arthur-san, Alfred-san kan hanya bersemangat sudah mendapat anggota baru lagi. Jadi, siapa anggota barunya Alfred-san?" tanya Kiku kalem. "Anggota barunya...Namanya Feliciano Vargas, waaa... Dari namanya saja sudah terdengar kalau dia anak yang berbakat ya!" kata Alfred sambil melihat formulir pendaftaran milik Feliciano. "Dengan begini, Club Light Music terselamatkan dan kita bisa meneruskannya." Kata Kiku. "Kau benar Kiku." Balas Arthur. "Yosh! Kita tinggal menunggu si 'Feliciano' ini datang saja!" kata Alfred yang semangatnya sekarang udah kelewat Max.
'Uhhhh... Bagaimana ini ve?' batin Feliciano yang sedang melewati hall sekolah menuju ruang Club Light Music. 'Bagaimana caraku menolaknya? Veeeeee... Aku takut! Ve! ? Bagaimana kalau anggotanya seram semua ve! ?' pikir Feliciano, 'Tidak mau, tidak mau, tidak mau, tidak mau veeeeee!' batin Feliciano lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya terus. Tiba-tiba, ada yang menepuk bahu Feliciano, yang spontan membuat Feliciano kaget dan berteriak, "WA-WA-WA-WA! Maaf, maafkan aku! Aku tidak bersalah VEEEE!" teriak Feliciano ketakutan sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "He? Kau kan..." kata orang yang menepuk bahu Feliciano yang ternyata adalah Alfred. 'Dia kan si tampang bodoh, clumsy, dan yang reaksinya rada lambat,' batin Alfred, "Ah! Apa kau Feliciano Vargas?" tanya Alfred tiba-tiba. "Ve? I...Iya..." jawab Feliciano setelah sadar kalau yang menepuknya tadi bukan orang menyeramkan. "Pas sekali! Kami sudah menunggumu dari tadi! Kau anggota baru Club Light Music yang baru bergabung dengan kita kan? Ayo, masuk kemari!" kata Alfred sambil membawa Feliciano ke dalam ruang club. "Artie! Kiku! Feliciano sudah datang nih!" kata Alfred yang membuat Arthur dan Kiku menengok ke arah Alfred, "Ah, kau yang namanya Feliciano Vargas? Silahkan duduk di sini," sambit-maksudnya sambut Arthur yang memberikan Feliciano tempat duduk, Kiku menyiapkan teh dan kue untuk Feliciano di meja, "Silahkan, Feliciano-san." Kata Kiku dengan ramah sambil tersenyum kecil. Feliciano hanya bengong begitu melihat dia dilayani dengan ramah. "Ada apa? Santai saja dan coba kue dari Kiku." Kata Arthur menawari Feliciano. Feliciano agak ragu tapi dia tetap mencoba kuenya, "...! E...Enak ve!" kata Feliciano terkagum-kagum dengan rasa kue Kiku. 'Mungkin, aku tidak jadi mengundurkan diri saja ya ve~' batin Feliciano. "Feliciano, jenis musik apa yang kau sukai?" tanya Alfred pada Feliciano. "Ve?" tanya balik Feliciano, "Apa band favoritmu, gitaris favorit?" tanya Alfred lagi. "Ehhh...Itu...veeee" kata Feliciano terbata-bata, 'Aku memang harus mengatakan kalau aku tidak bisa main gitar ve...' pikir Feliciano. "J...J...J...J..." "Jimi Hendrix! ?" tiba-tiba, Arthur menebak. Feliciano menggeleng-gelengkan kepalanya, "J...J...J..." "Jimmy Page! ?" tebak Arthur lagi. Lagi-lagi Feliciano menggeleng-gelengkan kepalanya, "J...J..." "Jeff Beck! ?" kali ini Arthur menebak dengan lebih semangat. 'Kenapa banyak sekali gitaris yang mempunyai nama depan J! ?' batin Feliciano. "Jadi, Jeff Beck ya?" Kata Alfred. "Siapa itu?" tanya Kiku. "Di dunia ini hanya ada dua orang gitaris di Rock 'n' Roll : Jeff Beck dan bukan Jeff Beck. Dia adalah gitaris terkenal yang selalu mencari suara baru!" Kata Arthur menjawab pertanyaan Kiku (2) . "Wah..." Kata Kiku kagum, "Pilihanmu boleh juga, Feliciano!" puji Alfred. Sedangkan Feliciano hanya tertawa hambar sambil mengeluarkan suara ve. "Untung ada orang seperti kau masuk, Feliciano!" kata Alfred. "Club ini akan dibubarkan jika tidak mendapatkan sedikitnya 4 orang anggota sampai akhir bulan ini." Tambah Kiku. "Kami ucapkan terima kasih banyak, Feliciano," tambah Arthur. 'Sekarang jadi makin sulit untuk mengundurkan diri vee...' pikir Feliciano, 'Tapi, aku harus...Mengatakannya ve!' lanjut Feliciano. "Maaf! Sebenarnya, aku ke sini untuk mengundurkan diri ve!" teriak Feliciano sambil berdiri dari bangkunya. "He?" kata Alfred, Arthur, dan Kiku serempak. "Sebenarnya, aku masuk ke club ini tanpa tau kalau kalian mencari gitaris ve, dan aku tidak bisa bermain gitar vee..." kata Feliciano sedih. "Jadi, alat musik apa yang bisa kau mainkan, Feliciano-san?" tanya Kiku. "Ve? Kasta-ah! Harmonika!" "Aku punya harmonika, coba mainkan," kata Alfred sambil mengeluarkan sebuah harmonika dari kantong seragamnya. "Ve! ? Maaf, sebenarnya aku tidak bisa memainkannya ve!" kata Feliciano mengaku. "Tapi, kau bergabung dalam club ini karena punya ketertarikan pada musik, kan?" tanya Arthur. "Apa ada club lain yang ingin kau ikuti?" tambah Kiku. "Ve? Soal itu...Tidak ada ve..." jawab Feliciano. Mendengar jawaban Feliciano, Alfred memberi isyarat pada Arthur dan Kiku, 'Kita tidak boleh membiarkan dia lepas begitu saja!', 'Agar club ini tidak dibuarkan, kita harus membuat dia tetap di sini!' batin Arthur dan Kiku membalas isyarat Alfred dengan anggukan. "Vee...Aku benar-benar minta maaf, kalau begitu per-" "Tu-Tunggu dulu!" cegat Alfred, "Apa kau masih mau teh lagi?" tanya Arthur. "Ma-maaf, aku-" "Kita masih punya kue lagi!" bujuk Kiku, 'Dia membujuknya dengan kue!' batin Arthur.
Heta-ON!...
"Enaknyaaa veee~" kata Feliciano sambil memakan kue yang disiapkan Kiku lagi, "Ah! Maafkan aku ve! Aku datang ke sini bukan untuk makan!" kata Feliciano setelah sadar kalau dia dari tadi makan doang. "Tidak apa-apa! Santai saja!" kata Alfred. "Kau bisa datang ke sini setiap hari kalau kau mau," kata Kiku. "Lalu, Feliciano, apa hal lain yang kausuka?" tanya Alfred . "Veeeeee... Apapun yang penting enak dan bisa dimakan khususnya pasta vee~" jawab Feliciano. 'Makanan ya?' pikir Alfred, "Lalu, apa yang biasanya kau lakukan di rumah?" tanya Alfred lagi. "Hanya tidur-tiduran veee..." jawab Feliciano singkat. "Apa ada hal lainnya yang kau sukai Feliciano-san?" tanya Kiku. "Ve? Ah! Aku suka dengan hal-hal yang lucu dan imut vee~" "Ada hal yang kau tidak suka?" tanya Arthur. "Aku tidak tahan dengan dingin maupun panas vee...Aku diam di penghangat pada saat musim dingin dan berguling-guling di lantai saat musim panas vee~" jawab Feliciano sambil tertawa dan ber-veee-ria. 'Dia tangguh!' batin Alfred, Arthur, dan Kiku, 'Bagaimana ini?' batin mereka bertiga lagi. "Vee, kalau begitu per-" "Tunggu! Kumohon, jangan pergi! Kau boleh di sini terus kok!" cegat Alfred sambil menarik tangan Feliciano. "Aku akan membawakan makanan yang lebih enak!" Kiku ikut-ikutan mencegat Feliciano. "Veeeee...Maaf, aku...aku bergabung tanpa melihat dan berpikir panjang, dan memberi kalian semua harapan palsu, aku tidak tau haus berkata apa veeeeeee~" kata Feliciano yang mulai menangis. Alfred, Arthur, dan Kiku hanya diam melihat Feliciano yang menagis, "Kami juga mau minta maaf karena sudah memaksamu," kata Arthur. "Setidaknya, dengarkanlah kami bermain, mau kan?" tanya Alfred pada Feliciano yang masih menangis. "Ve? Benarkah? Aku mau ve!" jawab Feliciano yang langsung berhenti menangis. 'Dia langsung semangat lagi!' pikir Alfred, Arthur, dan Kiku.
Feliciano duduk di sofa ruang club. Alfred bersiap-siap dengan drum-nya, Arthur dengan bass-nya, dan Kiku dengan keyboard-nya. Mereka bertiga saling menghadap satu sama lain, dan mengangguk. Alfred mulai menghitung, "1, 2, 3, 4!" lagu-pun mulai dimainkan oleh mereka bertiga (3). Feliciano memandang mereka dengan pandangan kagum. Begitu lagunya selesai, Feliciano segera bangkit dari tempat duduknya dan bertepuk tangan. "Jadi, bagaimana?" tanya Alfred, "Veeee~ Ini benar-benar tidak dapat disusun dalam sebuah kalimat...Tidak terlalu bagus ve!" jawab Feliciano, "Eh?" Tanya ketiga anggota tersebut. "Ah! Maksudku, seperti ada yang kurang ve! Walau aku tidak bisa main gitar, aku mau mencobanya! Aku...Aku mau ikut bergabung ve!" lanjut Feliciano yang langsung membuat Alfred, Arthur, dan Kiku kaget. Tidak percaya akan kata-kata Feliciano, Alfred mencubit pipi Arthur dan Arthur mencubit pipi Alfred, sampai akhirnya Alfred berteriak kesenengan, "YAHOOO! Kita Berhasil!". "Oh, iya Feliciano, kau harus membeli gitar kan?" tanya Kiku, "Ah! Benar juga ya vee...Oh ya! Bagaimana kalau aku jadi manager saja!" "Err...Feliciano, kita bukan Club olahraga lho..." kata Arthur, yang merasa jawaban Feliciano itu agak aneh. "Heee...Tidak bisa ya vee?" "Tentu saja tidak," lanjut Arthur, "Bagaimana kalau kau minta ijin orangtuamu dulu?" saran Kiku. "Ah! Ide bagus! Ummm..." "Kiku desu, salam kenal Feliciano-san," "Aku Arthur, salam kenal juga Feliciano," "Dan aku ketua club ini! Alfred-sama!" kata Alfred nyamber tiba-tiba. "Sejak kapan kau yang jadi ketuanya?" tanya Arthur, "Sejak aku bergabung di club ini lah!" jawab Alfred ga jelas. "..." Arthur hanya terdiam. "Salam kenal semuanya veeee~" kata Feliciano dengan senang. "Semuanya, lihat ke sini!" kata Alfred sambil membawa-bawa kamera, "Ah, itu kameraku," kata Arthur, "Semuanya, Say Cheese!"
Begitulah, Club Light Music mendapat anggota-anggota yang menarik tahun ini...
~TBC~
Fuhh~ selesai juga chapter 1 ini~ Jadi, menurut kalian gimana?
Hancurkah? Baguskah? Anehkah? OOC-kah?
Tolong review ya~
Sugar ingin tau pendapat Minna-san sekalian!
Yap, lihat omake di bawah ini ya~
OMAKE~
Sehari setelah Feliciano bergabung...
"Eh! ? kau benar-benar bergabung! ?" tanya Ludwig kaget saat istirahat siang di sekolah. "Ve!" jawab Feliciano singkat. "Eh...A-Ah! aku tau! Pasti jadi manager kan?" tebak Ludwig, "Veee...Kenapa kalau orang lain yang bilang kok rasanya nyebelin ya, veee?" tanya Feliciano pada dirinya sendiri, "Aku benar-benar jadi anggota ve!" kata Feliciano berusaha meyakinkan Ludwig. "Aku akan mulai belajar main gitar ve! Mereka juga bilang, kalau mereka mau mengajariku ve!" tambah Feliciano. "Hee...Kalau begitu, kau harus segera membeli gitar kan?" tanya Ludwig. "...ve? apa aku boleh pinjam orang vee?" tanya Feliciano, "Tentu saja tidak boleh," jawab Ludwig. "...veee, kalau begitu, ada kan, yang harganya 50.000-an kan, ve?" tanya Feliciano sambil tetap makan pizza miliknya. 'A-apa Club Light Music tidak apa-apa, dapat orang seperti ini?' batin Ludwig.
END?...
Hahaha~ Omake yang tambah gaje kan? #Disambitreaders.
By The Way, lihat angka-angka yang ada di dalam kurung? ((1))
Ini penjelasannya nyooo~ :
NEET : Not in Education, Employment or Training atau singkatnya pengangguran
Sumpah, Sugar ga tau semua nama pemain gitar yang disebutin di atas, Sugar Cuma ambil adegannya dari K-ON! Ep 1 aja.
Lagu yang dimainkan Alfred, Arthur, dan Kiku adalah Insert song album K-ON! Gekichou Fuwa-Fuwa Time, yang berjudul Tsubasa wo Kudasai (Give Me Wings) yang dinyanyikan oleh seiyuu semua anggota Club Light Music, yaitu band Club Light Music, dengan nama Ho-Kago Tea Time (Yui, Mio, Ritsu, dan Tsumugi)
Ya~ Itu aja deh Chap 1! Sekali lagi, kalau ingin Sugar update lagi,
Review please~! Itu membuat Sugar bersemangat nyan~
~SugarSweetLove
