Sial, sial, sial...

Sedari enam belas menit lalu, hanya kata itu yang berseliweran dalam pikiran mereka—Naruto juga Sasuke.

Putra kebanggaan sekaligus ahli waris Namikaze dan Uchiha itu, menekuk lutut di hadapan si cantik berpenampilan menggoda.

Dada bidang keduanya terekspos, mempertontonkan perut sixpack hasil rutin fitnes dan olahraga ranjang. Mereka berlutut gelisah, mati-matian menahan dingin hembusan AC.

Beruntung, tadi di detik ketiga mereka sempat mengenakan boxer. Pun cara pakainya terbalik, setidaknya potongan kain itu bisa menghalau udara dingin yang berniat membelai si kecil.

Detik memang telah berubah menjadi menit, namun Hinata masih saja bungkam tanpa melepas mata dari dua sosok di atas lantai. Raut muka perempuan itu tak terbaca, benar-benar sulit di terka pikirannya.

"Hi-hinata..." Namikaze Naruto, menjadi yang pertama memecah senyap.

Sambil memeluk tubuhnya yang sedikit menggigil, dia mengemis welas asih Hinata. "Bi-bisakah aku memakai pakaian? A-aku kedinginan~" ucapnya, merengek.

Pupil mata laki-laki itu melebar, bahkan sedikit berkaca-kaca. Ia memandang tak berkedip Hinata, yang sedang duduk di sofa biru kesayangan Sasuke.

"Please~" tambahnya sembari memiringkan kepala ke kanan, agar terlihat menggemaskan.

Karena merasakan derita serupa—atau mungkin tidak ingin kalah, serta-merta Sasuke ikut memohon. "A-aku juga, Hinata! Pleaseeee~"

Roman wajah pemuda itu bahkan dua kali lebih menyedihkan di banding partnernya, si kuning telur.

Naruto, sudah pasti merasa dongkol. Ia menekuk wajah kesal, dan mencibir aksi si raven. "Cih, penjiplak!"

"Egepe!" balas Sasuke acuh, mengangkat kedua bahunya.

Berbeda Naruto, berbeda pula dampaknya pada Hinata. Dahi perempuan itu mengerut, selanjutnya ia menghela napas berat. Keangkuhan yang susah payah dihimpun, dengan mudah dikalahkan oleh ekspresi puppies Naruto dan Sasuke.

Memang, dua laki-laki itu terlihat imut tak sesuai umur. 28 tahun, bukan lagi masanya untuk berekspresi mirip bocah kehilangan permen. Sasuke dan Naruto, tahu betul titik lemah si sulung Hyuuga.

"Baiklah," gumam Hinata, merasa kalah. "Tapi beri aku satu alasan, kenapa kalian saling tikam."

"Eh!?"

Naruto tersentak, kemudian tersenyum malu-malu. Ia memainkan kedua telunjuk di depan dada, sambil bergantian melirik ubin dan Hinata.

"A-alasannya karena Hinata~" jawab Naruto, malu-malu kucing.

Hinata mengedipkan mata dua kali, lalu menunjuk wajahnya sendiri. "Aku?"

"Uhumm~" Naruto mengangguk membenarkan. Kedua tangannya lalu menangkup pipi yang sedikit berhias rona merah, dan matanya mengedip-ngedip genit.

PLAKKK...

"Dasar menjijikkan!"

Tiba-tiba, tanpa diduga sebabnya, Sasuke memukul kuat kepala Naruto.

"Apa sih?!" Naruto sontak kesakitan. Ia meringis, dan mendelik pada Sasuke. "Dasar bebek barbar!" ketusnya sambil mengusap kepala yang sedetik lalu kena hantam.

Iris amethis Hinata berputar malas melihat pemandangan dibawah kakinya. Ia mendengus, kemudian berdiri menghampiri Naruto.

"Apa benar yang kau katakan tadi?" tanya Hinata setelah mensejajarkan tubuh dengan tinggi Naruto.

Jemari lentik gadis itu mencengkeram pipi bergurat Naruto, hingga bibirnya mengerucut lucu. Perlahan, Hinata mengikis jarak wajahnya dengan Naruto. Gadis Hyuuga itu bermaksud mencari kebohongan, yang mungkin bersembunyi dalam manik safir itu.

Tentu saja perbuatan Hinata membuat pipi Naruto kembali memunculkan rona. Satu ide brilian bahkan sedang menari-nari di pikiran si blonde.

Mungkin, satu ciuman bukan masalah. Pikir Naruto, perlahan memajukan kepala berniat mencuri kecupan di bibir Hinata. Tapi belumlah keinginannya terlaksana, Uchiha Sasuke keburu ambil tindakan. Si bungsu yang terkenal pelit pengeluaran, begitu dermawan memberi pukulan. Dan untuk kali ini, bibir Naruto yang menjadi sasaran.

"Kau kenapa sih? Jangan pho ya!"

Sambil mengusap bibirnya yang memerah akibat pukulan ekstra Sasuke, Naruto tak henti-hentinya mengomel. Marah sebenarnya, tapi juga malu karena tertangkap basah ingin mencuri.

"P-pho?" Sasuke mendadak gugup. "A-aku tidak begitu!" ia berusaha menyangkal, tapi Naruto terlanjur bongkar aib.

"Halah~ tukang bohong. Bilang saja kau cemburu. Sasuke pho~ Sasuke~pho... wlekk!"

"Kau—" memandang geram pada Naruto yang sedang menjulurkan lidahnya, Sasuke kembali berniat main hakim sendiri. Sayangnya, dua tangan Sasuke yang ingin mendorong Naruto, tertahan di udara saat suara Hinata kembali terdengar menusuk.

"Bisakah kalian berhenti? Aku cukup lelah disini... Dan oh~ astaga! Aku seperti guru TK saja. Kalian minta dicakar?"

Hinata dan kuku, adalah kombinasi menakutkan bagi lawannya. Sontak Sasuke dan Naruto meneguk ludah ketakutan. Kata-kata Hinata barusan, diyakini bukan sekedar ancaman atau bualan. Naruto serta Sasuke tahu betul akan hal itu, karena merekalah yang kerap merasakan.

"Ma-maafkan aku..." ucap keduanya, kompak.

"Good boy~"

Hinata menghirup napas lega setelah berhasil mengamankan keadaan. Kejadian seperti inilah yang selalu membuatnya pening. Naruto juga Sasuke, seperti anjing dan kucing. Makanya dulu Hinata sempat sanksi, ketika mendapat kabar bahwa dua lelaki itu kedapatan berhubungan seks.

Setelah situasi dirasa kondusif, Hinata sekali lagi bertanya. Dirinya teramat penasaran dengan ucapan Naruto tadi. "Naru, apa benar yang kau katakan barusan? Seks yang selama ini kalian lakukan, adalah murni kesalahanku? Memangnya apa yang pernah aku lakukan hingga kalian jadi homo?" tiga pertanyaan, diucap Hinata dalam sekali hembusan napas.

"Bukan begitu maksud—"

"Itu memang salah Hinata."

Sekali lagi, Naruto memotong ucapan Sasuke. Lelaki pirang itu kembali memainkan telunjuk, pun sesekali mengedipkan mata genit.

"Naruto kangen Hinata~" rengeknya, "siapa suruh pindah ke luar negeri? Dua tahun bukan waktu yang cepat, Hinata."

"Aishh..." Sasuke mengacak rambutnya gemas. Entah mengapa saat ini, dirinya merasa ditikung. Kepalang tanggung, ia akhirnya ikut menjelaskan.

"Jangan salah paham, Hinata! Kami memang melakukan seks, tapi bukan karena cinta atau apapun yang berhubungan dengan asmara. Hinata, Kami ini hanya korban coba-coba. Naruto dan aku tid—"

"Tapi kalian terlihat sangat menikmati!"

"Ng..." Sasuke mati kutu. Ia menggaruk keningnya karena bingung. Menyikut pinggang Naruto pelan, Sasuke meminta bantuan tak tersirat. Sayangnya, maksud Sasuke tidak ditangkap baik oleh si blonde. Naruto, malah keasyikan memandang Hinata.

"Sudahlah!" Hinata bangkit dari jongkoknya, dan menggeleng kepala prihatin. Permata amethis gadis itu melirik Sasuke dan Naruto bergantian. Mungkin, sedikit hukuman bisa menjerakan mereka berdua. Maka dari itu, "Aku ingin kalian berlutut di balkon kamar selama tiga jam, dengan hanya memakai boxer."

"Ebuset~" celetuk Sasuke, spontan.

"Jangan begitu Hina—"

"Pergi, atau ku tambah jadi enam jam." Seru Hinata, dengan mata melotot.

Tak perlu dua kali untuk Hinata mengeluarkan perintah. Naruto dan Sasuke, sudah menghilang menyisakan kepulan asap imajiner.

.

.

.

.

.

Hembusan angin sore, terasa hangat membelai kulit. Layangan aneka rupa, melayang bebas di udara. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau bahkan kelabu.

Summer, memang waktu yang pas untuk bersantai.

"Hahh~... Inilah yang dinamakan kenikmatan dunia."

Segaris senyumam, melengkung manis di bibir kemerahan Hinata. Wajah cantik wanita itu, terlihat berseri karena senang. Sekujur tubuhnya yang letih lelah, benar-benar termanjakan oleh getaran serta gerakan kursi pijat. Apartemen Sasuke, adalah rumah kedua baginya.

"A-anu... Hi-hinata..."

"Hm?"

Suara seseorang, sedikit mengganggu kenyamanan Hinata. Wanita berusia 26 tahun itu membuka matanya perlahan, lantas mencari si pengacau.

"Ada apa, Sasuke?"

Sasuke tersenyum lembut, meski cairan keringat mengucur deras di sekujur tubuh.

"A-apa kau senang?" tanyanya.

Menjawab pertanyaan Sasuke dengan anggukan kepala, iris Hinata mengedar menatap pemandangan sekitar. "Aku sangat menyukai pemandangan ini. Kau pintar memilih apartemen, Sasuke." Hinata tersenyum tulus, namun Sasuke malah meringis.

"Ka-kalau begitu, bisakah hukumanku dicabut?"

Tertawa lebar, Hinata menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Ofcours... no~hihihi... i'm so sorry, Darl."

Batin Sasuke mengumpat frustasi. Otak cerdasnya kembali mencari solusi. Gadis nakalnya ini, benar-benar merepotkan.

"Oh, ayolah Hinata~ maafkanlah kami berdua... lihat, Naruto sebentar lagi pingsan."

Mendengar ucapan itu, Hinata melirik ke arah yang dimaksud. Beberapa langkah di sebelah Sasuke, ada Naruto yang sedang berlutut dengan tampang pucat.

"Are you okay, Naru?"

Naruto mengangguk, mengiyakan dengan terpaksa. Kondisi laki-laki itu setingkat di atas Sasuke. Tubuhnya bermandi peluh, dengan gurat lelah yang kentara.

Hukuman yang diberi Hinata memang terdengar ringan. Keduanya hanya disuruh berlutut, sambil merentangkan tangan di balkon kamar. Namun, siapa sangka jika rasanya akan selelah mencangkul di tanah berbatu selama lima jam. Ditambah rasa malu akibat hanya memakai boxer...

Hinata, benar-benar kejam memperlakukan mereka.

"Baiklah!"

Berdiri dari kursi pijat, Hinata berjalan mendekati Sasuke. Langkahnya terkesan santai, seraya menenteng handuk kecil berwarna putih. Kemeja kotak-kotak berwarna coklat biru di tubuhnya, adalah milik Naruto yang Hinata temukan dilantai. Tidak perlu ijin Naruto untuk memakainya. Laki-laki itu, tidak akan memprotes tingkah sang pujaan yang semena-mena.

"Sebagai hadiah untuk kejujuran kalian, malam ini akan kuberi sesuatu yang menyenangkan." Berbisik sensual sembari menyeka keringat di dada bidang Sasuke, Hinata nampak begitu memikat.

Gerakan tangan gadis itu yang seperti memancing, benar-benar sedap dipandang mata. Sasuke meneguk ludah sekali, dan Naruto kembali kesadarannya.

"A-aku! Aku juga berkeringat, Hinata!" Seru Naruto, semangat.

Hinata beralih fokus pada Naruto. Ia menggeser posisinya mendekati si pirang, lalu kembali bekerja menghapus keringat di leher Naruto.

"Tentu Naruto-kun..." Hinata mulai merayu. "Tapi sebelum bersenang-senang, bisakah kau menyelesaikan hukumanmu?" Jemarinya gemulai membelai sekitar leher Naruto.

Mengabaikan sorot tajam Sasuke, mata Naruto terpejam menikmati belaian Hinata. Rasanya sudah lama ia menanti hal ini terjadi. Seperti mendapat sebuah lotre bernilai ratusan juta, batin Naruto berjingkrak-jingkrak karena senang.

Namun, kelopak tan yang tadi terpejam, dipaksa membuka saat organ tak bertulang milik Hinata, menyapu leher hingga mencapai puncak puting Naruto. Perempuan itu menjilatinya, tanpa perduli asam keringat yang mengecap di lidah.

"A-ahhh~... Hinata..." desah Naruto keenakan, saat Hinata menghisap puting kecilnya yang mulai menegang. Ia mencengkram rambut gadis itu, sebagai bentuk pelampiasan.

"Sialan!!" Umpat Sasuke, marah.

Bersambung...

A/n: Sekilas info tentang hukuman SasuNaru. Itu memang berasal dari pengalaman pribadiku, pas SMP kalau gak salah ingat. Waktu itu aku lupa bikin peer, dan dihukum selama dua jam.

Rasanya sungguh melelahkan, kawan-kawan.

Di dalam ruangan aja aku udah mandi keringat, apa kabar SasuNaru yang dapetnya outdoor?

Ohya, ini fic main pairnya NaruHinaSasu. Porsinya pun imbang antara NaruHina dan SasuHina. Kalau sekarang cenderung NaruHina, next bakalan bagiannya SasuHina.

Tidak ada yang direbut atau merebut disini. Buat kalian NaruHina atau SasuHina addict, mending jangan baca kalau gak mau Hinata dipasangkan dengan karakter selain Sasuke kalian/Naruto kalian.

Aku NHL SHL garis keras.

Fic ini aku buat, sebagai bentuk pelampiasan.

Aku menghormati kalian para pembaca--teman sebutanku-- dan kalian diharapkan menghormati kesukaanku.