Chapter 2 ini berdasarkan lagu The Longing for and the Reality of the Science Girl yang dinyanyikan Kagamine Len

Disclaimer: VOCALOID bukan punya Toki no Miko, Campbell dan Post-it juga bukan punya Toki no Miko! Cover image diunduh dari zerochan

Warning: drabble-ish, typo(s)


The Girl

a one-shots collection

#2: Science Girl

"Hmph!"


Lagi-lagi Kagaine Rin mengenakan jas labotariumnya ke home class. Tangan kanannya memegang gelas kimia berisi kopi. Gadis itu meletakkan tasnya diatas mejanya, dan aku berani bersumpah meja itu sempat berdecit. Apa yang gadis itu bawa dia dalam tasnya? Kamus biologi?

Dan seakan-akan membaca pikiranku, Kagaine-san mengeluarkan Campbell Biology edisi kesembilan dari ranselnya.

Para siswi lainnya berbisik – menggosipkan tampilan Kagaine-san yang esentrik. Beberapa diantaranya tertawa ketika mereka membicarakan betapa konyolnya gadis itu.

Aku hanya bisa terdiam dan melirik Kagaine-san, kedua tanganku meraba Campbell Biology edisi kesepuluh di kolong mejaku. Mungkin aku bisa memberitahunya bahwa aku punya buku yang sama sepertinya (tapi satu edisi diatasnya).

Tapi aku hanya terdiam – malu untuk menyapanya.


"Baiklah semuanya! Ada yang bisa jelaskan padaku, apa itu gerak Brown?"

Semua orang terdiam – kelas yang tadinya berisik sunyi seketika. Raut muka para murid memucat, berharap Luka-sensei tidak akan menunjuk mereka dan membiarkan seluruh kelas mengetahui kebodohan mereka.

Sekejap seseorang mengangkat tangannya dengan tinggi, membuat Luka-sensei tersenyum senang. Aku tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang mengacungkan tangan, hanya ada satu orang yang giat menjawab pertanyaan guru kimia kami (atau bisa kubilang, guru kimia, biologi, dan fisika).

"Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu. Jika koloid diamati dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan –"

"Cukup, Kagaine-san. Nah, seperti yang teman kalian bilang sebelumnya – "

Suara Luka-sensei menjadi buyar ketika aku melihat sosok Kagaine-san tersenyum bangga, lalu gadis itu duduk kembali. Merasa ada yang melihat dirinya, gadis itu menatapku – seketika membuat kami berdua bertatap pandang. Aku pun menolehkan pandanganku, berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah.


Gakupo-sensei menyuruhku untuk mengembalikan kerangka manusia yang kelasku gunakan untuk kelas biologi tadi ke labotarium biologi. Aku bergerak agak cepat – risih ketika merasakan tatapan orang melihat punggungku. Bagaimana lagi? Aku hanyalah pecundang di sekolah ini. Ketika aku berada di depan pintu labotarium biologi, aku berusaha untuk menggeser pintu tersebut dengan kakiku. Cahaya masuk dari jendela di ruangan yang lumayan-besar-namun-berdebu itu, menyebabkan efek Tyndall dari debu-debu yang berterbangan. Di sudut ruangan kulihat Kagaine-san sedang tertidur pulas dengan kepala diatas meja.

…tunggu, Kagaine-san?!

Sontak kedua tanganku melemas, menyebabkan barang yang kubawa jatuh karena gravitasi. Suara yang ditimbulkan cukup nyaring, cukup untuk membangunkan Kagaine-san yang sedang tertidur.

Baru kali ini aku melihat gadis itu tanpa kacamata besar miliknya. Aku bisa melihat dengan jelas manik biru matanya (walaupun agak memerah karena seseorang membangunkannya). Rambut honey blondenya berantakan, beberapa jepitan yang dipakainya terlepas. Pita putih yang dipakainya melemas – membuatnya terlihat seperti anak kelinci. Tangan gadis itu meraih kacamatanya lalu membersihkan lensanya.

Uh-oh! Aku merasakan panik yang luar biasa!

"A-Ano! Maafkan aku mengganggu tidurmu!"

"Ah! Tung – "

Aku pun berlari keluar dari labotarium, wajahku memerah seperti Capsicum frutescens.


Beberapa kali aku mencoba untuk mendekatinya, untuk bercakap dengannya. Tapi aku tidak bisa, aku terlalu malu – seorang pecundang.

Aku mendengar suara tawaan dari balik pintu labotarium biologi. Aku mendengar suara Kagaine-san yang bercengkrama dengan beberapa anak klub biologi lainnya. Baru kali ini aku melihat gadis itu tertawa hingga dia membuka kacamatanya untuk mengusap air mata yang keluar.

Mengepalkan tangan, aku menaruh Campbell Biology edisi kesepuluh yang kubeli dengan seluruh uang jajanku selama tiga bulan di lantai depan pintu. Kutulis sesuatu diatas post-it berwarna jingga – warna kesukaan Kagaine-san, lalu meletakkan kertas itu diatas kamus suci pencinta biologi tersebut.

Aku tersenyum kecut, lalu pergi meninggalkan lorong sekolah yang sudah mulai sepi itu.

Aku benar-benar seorang pecundang, eh?


A/N: Buat nulis chapter ini Toki terpaksa buat ngebuka-buka ingatan Toki soal pelajaran kimia disaat liburan haha… (sob)

Dari enam lagu yang ada The Girl Series, jujur Toki paling suka sama lagu yang ini. Kenapa? Soalnya Len shotanya keliatan banget disini hehehe (dor!)

Terima kasih buat para pembaca yang udah sempet baca chapter pertama! Toki's really appreciated it! Semoga para pembaca menyukai chapter ini - seperti Toki menyukai mengetiknya! :3

Sampai ketemu di chapter berikutnya! Ciao!

Ah, sampai lupa! Coba para pembaca tebak, apa yang Len tulis di post-it itu :3