YOUR MAN | Final Chapter
PDA Presents
.
.
.
I hope he buys me flowers
I hope he holds my hand
Gives me all his hours
When he has the chance
-Yoon Jeonghan-
Kembali pada bulan April, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat satu jam lalu. Dan disinilah Yoon Jeonghan sekarang, di tanah negeri sakura yang tengah memasuki musim semi atau Haru. Setelah meletakkan barang-barang di hotel, semua artis di Agensi mendapat sedikit kebebasan untuk berjalan keluar menikmati suasana kota sebelum matahari tenggelam dan Rehearsal konser dimulai.
Jeonghan berdiri di koridor lantai 11, bersandar pada dinding menunggu kedatangan Seungcheol yang menginap di kamar yang berbeda dengannya.
Alasannya karena mereka harus lebih berhati-hati jika diluar.
"Ayo, kita keluar."
Seungcheol datang dengan kaca mata hitam yang bertengger dihidungnya, menepuk bahu Jeonghan membuat pemuda itu berpaling dari layar handphone yang ia pegang.
"Kemana?"
"Jalan-jalan."
Sungguh?
Jeonghan sejenak terperangah dan gugup. Itu semua karena ia sedikit tidak menyangka dengan ajakan Seungcheol, dan senyuman meyakinkan dari pria itu membuat jantungnya sedikit berdegup lebih cepat.
"Kupikir kau hanya ingin mengajakku makan dibawah."
"Aku bosan dengan makanan di hotel ini."
Jawab Seungcheol seadanya, dan mengisyaratkan Jeonghan untuk berjalan mengikuti.
Well, apapun alasannya, setidaknya ini jauh lebih baik dari pada kebiasan mereka yang terkesan begitu-begitu saja. Makan dihotel, konser di venue, lalu kembali lagi ke hotel untuk istirahat. Kalaupun mereka keluar, itu dilakukan tengah malam dan beramai-ramai dengan para member dan teman-teman agensi lain.
Jeonghan dan Seungcheol memang tidak pernah benar-benar keluar berduaan saja. Setidaknya mereka sama-sama mengerti satu hal;
Terlalu beresiko.
Dan yang terbaik dari semua ini, sekarang adalah siang hari di musim semi. Memang keputusan tepat untuk jalan-jalan ke luar. Diam-diam Jeonghan menonaktifkan handphonenya, memendam sebuah ekspektasi agar tak ada yang menganggu selama beberapa jam kedepan yang langka ini.
Seungcheol meminjam sebuah sedan putih dari staff dan membawa Jeonghan mengemudi bersamanya, menuju ketempat yang tidak ia beritahukan pada sang kekasih.
.
.
.
Mereka memang pergi berdua, namun tidak berakhir di tempat yang bisa membuat mereka bisa menghabiskan waktu untuk berdua. Seungcheol ternyata telah memesan meja untuk 6 orang dan tepat, belum lama mereka menunggu, 4 orang pun datang dan Jeonghan bersumpah jika ia tidak benar-benar mengenal siapa pria-pria ini. Jelas, mereka adalah teman Seungcheol. Tapi jika kau bertanya siapa namanya, Jeonghan sungguh tidak mempunyai ingatan apapun mengenai hal itu.
Jeonghan harap tak ada ekspektasi berlebihan dibenaknya sejak awal Seungcheol mengajaknya pergi, sehingga tak ada hal yang perlu dikecewakan atau alasan lain mengapa ia jadi merasa sulit untuk tersenyum dari hati.
"Ini Jeonghan, dan kalian tahu dia siapa."
Sebelah mata Seungcheol berkedip, serta merta membuat sorakkan iseng dan deheman tenggorokkan pun terdengar keras dimeja mereka.
Satu hal yang Jeonghan mengerti, orang-orang ini tahu siapa dirinya bagi Choi Seungcheol. Atau singkatnya, statusnya sebagai kekasih pria ini. Mereka pasti sudah dekat satu sama lain.
"Jeonghan, mereka adalah teman-teman sekolahku yang sekarang tinggal dan bekerja di Jepang. Mereka juga temanku bermain futsal saat kita kebetulan ada disini."
Dan satu per satu, Jeonghan menjabat tangan mereka dan memperkenalkan diri. Tingkah mereka yang "ramai" sempat membuat Jeonghan canggung, karena ia pribadi adalah sosok yang pendiam jika berhadapan dengan orang baru.
Tapi mereka adalah teman Seungcheol. Bagaimanapun, Jeonghan harus bisa mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan sang kekasih dan juga teman-temannya.
Itulah yang ia lakukan selama bertahun-tahun, menjadi seperti apa yang Seungcheol inginkan.
Makan siang mereka berlalu bersama suara tawa keras dan melempar lelucon satu sama lain, obrolan-obrolan random yang tidak benar-benar Jeonghan pahami apa isinya. Saat mereka mengajaknya tertawa, Jeonghan juga berusaha mengembangkan senyum dan menikmati alurnya. Semua terlihat baik-baik saja, tapi Jeonghan tidak yakin apa hatinya juga berkata seperti itu.
1 jam berlalu dan acara makanpun selesai. Seungcheol kembali mengemudikan mobilnya dan mereka bersiap untuk...
"Kita kembali ke hotel."
Dan Jeonghan hanya diam, tidak punya jawaban untuk kalimat sesederhana itu. Sekedar memutuskan ya atau tidak, Jeonghan kira hatinya masih merasa belum benar dengan semua ini.
Tapi degup jantungnya masih berpacu tak sabaran, karena terlalu lama memendam perasaan dan keinginan terdalam yang bergejolak dihatinya.
Jadi Jeonghan buka suara dengan tiba-tiba, dengan keberanian yang datang entah dari mana.
"Kukira tadi itu akan menyenangkan."
Alis Seungcheol menyatu ditengah-tengah, merasa bingung meski setengah pikirannya masih fokus pada setir kemudi dan jalan raya.
"Bukankah tadi sudah sangat menyenangkan?"
"Iya, menyenangkan... Untukmu."
"Oh, jadi begitu. Kau tidak bisa ikut senang atas sesuatu yang membuatku senang?"
Nada bicara Seungcheol mulai terdengar tak enak, dan bagaimanapun itu membuat Jeonghan jadi panik tanpa alasan.
"Bukan begitu maksudku..."
"Lalu?"
"Kukira... Kukira kita bisa melakukan sesuatu berdua saja."
Lantas, suara decit rem yang ditekan paksa dan mendadak membuat badan Jeonghan sedikit tersentak. Seungcheol menghentikan mobilnya dipinggir jalan secara tiba-tiba.
"Kita lakukan apa yang kau mau."
.
.
.
Seungcheol membawanya kembali ke hotel. Pria itu memaksa Jeonghan masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya dengan tidak sabaran.
"A...apa yang kau lakukan, Seungcheol?"
Jeonghan dipojokkan, dengan tangan Seungcheol yang mencengkram kedua pergelangannya dan memenjaranya di dinding.
"Seperti yang kau inginkan, Mine. Inilah yang harusnya kita lakukan jika sedang berduaan saja."
Tembok kamar terasa dingin, namun nafas Seungcheol yang menjalar bersama kecupan-kecupan dilehernya membuat Jeonghan merasakan panas luar biasa. Tapi ini semua tidak benar. Seungcheol salah. Bukan ini yang ia inginkan. Bahkan memikirkan untuk bercinta di tengah hari pun tak pernah terlintas dibenak Jeonghan selama ini.
Seungcheol tidak pernah mengerti...
"S-Seungcheol... Hentikan..."
Jeonghan mencoba mendorong dan melawan, tapi semua terlihat sia-sia karena ini sudah terlambat. Seungcheol sudah terlanjur diselubungi oleh nafsu hingga sweater rajut oversized yang Jeonghan kenakan sudah setengah terbuka dan bahu juga dadanya terekspos jelas.
Tidak ada makan siang berdua yang menyenangkan.
Tidak ada jalan-jalan dipinggir kota atau mencari jajanan kaki lima.
Tidak ada arum manis dan lolipop.
Tidak ada taman dengan pohon sakura, atau melihat hanami sambil mengenggam tangan satu sama lain.
Tidak ada ciuman lembut dibawah sinar matahari di musim semi.
Yang ada hanya cumbuan yang menuntut dan bernafsu. Robekkan pada sweaternya, jeans yang dilepas paksa, serta sex yang membakar peluh disiang hari. Ranjang mereka berderit keras dan tubuh Jeonghan terguncang hebat. Bercinta dengan Seungcheol selalu mematahkan serat-serat implusnya hingga Jeonghan hampir gila. Rasanya sangat intens, dan Seungcheol akan meredakannya dengan ciuman-ciuman yang memabukkan.
Tapi Jeonghan tetap merasakan sakit.
Bercinta dengan paksa, bagaimanapun caranya itu tetap saja menyakitkan bagi hatinya. Sekalipun ia mencintai Seungcheol, sekalipun ia juga membutuhkannya. Namun rasa sakit itu lebih menjerat didadanya, karena Seungcheol seperti monster yang tak dapat ia kenali lagi saat ini.
Terkadang Jeonghan memimpikan kehidupan yang normal, dimana kau bisa berkencan dengan leluasa bersama kekasihmu diantara ribuan pasangan lain di taman kota. Menikmati waktu yang lebih berharga dari sekedar berhubungan badan. Jeonghan ingin berbicara lebih banyak dengan Seungcheol. Mengutarakan segala keluh kesahnya, menceritakan apa saja yang terjadi disaat Seungcheol tidak bersamanya. Ia ingin memakan es krim dari mangkuk yang sama dengan Seungcheol. Ia ingin Seungcheol... Seungcheol menjadi kekasih yang mengerti dirinya.
Tapi itu terdengar sulit...
Dan Jeonghan sungguh takut untuk menyebutnya mustahil.
Saat Jeonghan memalingkan wajah dan Seungcheol masih terbuai oleh nikmatnya anal sang kekasih, air mata itu bergulir dalam kebisuan dan isakkan yang tertahan.
Diluar sedang musim semi. Namun jauh didalam hatinya, Jeonghan terjebak dalam musim dingin yang panjang dan gelap, sendirian.
'Fuyu kitarinaba, haru tookaraji'
Musim dingin bagaikan musibah, musim semi adalah awal cerita bahagia.
Banyak orang memulai lembar baru mereka di musim semi. Menjadi murid di sekolah baru, mahasiswa di universitas baru, pegawai di kantor yang baru, pindah ke rumah baru, atau bahkan menikah. Bunga-bunga negeri empat musim pun bermekaran dengan indah.
Tapi bagi Jeonghan... Ia malah mulai berpikir tentang akhir dari kisah ini, akhir hubungan mereka berdua. Bagaimana cara ia mengakhirinya, dan bagaimana jika semua benar-benar berakhir.
.
.
.
Although it hurts
I'll be the first to say that I was wrong
I know it's probably much too late
To try and apologize for my mistakes
-Seungcheol-
.
.
.
Bercermin tidak selamanya dilakukan didepan sepotong kaca. Melihat refleksi dirimu yang menatap balik mata disana bukan satu-satunya definisi yang terkandung didalam kata bercermin. Ada sesuatu diluar fisik yang tidak dapat terlihat oleh mata telanjang.
Kepribadian.
Seungcheol mencari tahu apa perbedaan diantara kepribadian dengan jati diri. Menemukan jati diri membuatmu tahu bagaimana kepribadianmu. Tapi Seungcheol belajar bahwa perangai tak hanya dibangun oleh kepribadian yang terbentuk seiring waktu, namun juga dari pelajaran yang didapat selama masa pencarian jati diri.
Mungkin Seungcheol masih mencari tahu siapa dirinya, apa yang ia inginkan dalam hidup, dan apa yang menjadi tujuannya sebagai manusia.
Bercermin dari masa lalu, Seungcheol mereview sebagian besar harinya yang dihabiskan semata-mata untuk mencari kesenangan. Ia adalah pria sukses diusia muda, memiliki keluarga harmonis dan teman-teman yang menyenangkan. Logikanya menyimpulkan bahwa dibalik kerja keras ada kebahagiaan yang bisa dipetik. Ia membangun karir sejak umur belasan dan tak lama setelah itu, sebagian dari mimpinya sudah bisa ia capai. Namun benarkah definisi bahagia yang selama Seungcheol anggap itu adalah kebahagiaan yang sesungguhnya?
Seungcheol bahagia saat bisa mencetak gol untuk tim sepak bolanya dan Jeonghan selalu ada untuk mendukung.
Seungcheol bahagia saat konser mereka berjalan sempurna dan Jeonghan ada untuk memeluknya.
Seungcheol bahagia saat matanya melihat dunia dalam keadaan baik, keluarganya sehat, teman-temannya tersenyum, dan Jeonghan tetap ada disampingnya tiap kali ia membuka mata di pagi hari.
Seungcheol bahagia saat Jeonghan tersenyum untuk kebahagiaannya.
Tapi...
Apa ia pernah merasa bahagia untuk kebahagiaan Jeonghan?
Dan... Tahukah ia apa sesuatu yang bisa membuat Jeonghan bahagia?
Ini gila.
Seungcheol tidak pernah tahu apa yang Jeonghan sebut sebagai kebahagiaan.
Yang ia tahu, Jeonghan harus bisa bahagia jika itu menyangkut kepentingan Choi Seungcheol. Seungcheol tertawa diatas kesenangannya sendiri. Dan ia tak pernah tahu jika ada air mata dibalik setiap senyuman indah yang dilihatnya.
Seungcheol telah menyia-nyiakan kekasihnya sendiri, selama ini, bertahun-tahun.
Seungcheol menyetop mobil yang dikendarainya didepan sebuah bangunan cafe sederhana. Tempat ini tidak begitu ramai juga tidak terlihat strategis. Tapi inilah tempat yang sering Jeonghan kunjungi, sendirian, yang hanya dapat ia ceritakan pada Seungcheol bagaimana nikmatnya secangkir vanila latte ditempat ini tanpa sekalipun menerima persetujuan untuk berkunjung kesana berdua.
Jeonghan sudah pernah memintanya, namun Seungcheol bisa dengan mudah menolaknya sama seperti mengabaikan permintaan-permintaan Jeonghan yang lain.
Suara bel diatas pintu berbunyi saat Seungcheol melangkah masuk, membuatnya mendengar sambutan selamat datang yang hangat dari pegawai cafe. Didalam hanya ada 2 meja yang terisi, membuat Seungcheol leluasa memilih dimana ia ingin duduk.
Namun meja di sudut ruangan, dengan kursi yang berdampingan dengan kaca etalase menjadi satu-satunya tempat yang menarik perhatian Seungcheol.
"Mau pesan apa, Tuan?"
Seorang gadis waitress menghampirinya dengan sebuah note dan pulpen ditangannya. Seungcheol jelas melihat bila gadis itu tengah tersenyum padanya dengan malu-malu.
"Vanila latte dengan gula 70% dan sepotong gateux coklat."
Seungcheol memesan menu persis seperti apa yang selalu ia dengar dari Jeonghan.
"Yoon Jeonghan-ssi juga selalu memesan menu yang sama, bahkan duduk ditempat yang sama dengan anda."
Ucap sang waitress setelah mencatat pesanan Seungcheol. Sesudahnya ia menunduk permisi, meninggalkan Seungcheol bersama ribuan serat implusnya yang tengah memikirkan satu nama; Yoon Jeonghan.
Tak sampai 5 menit, pesanannya pun datang dan Seungcheol benar-benar mencium aroma vanila yang lembut berpadu dengan bau manis gateux coklat, menjadi perpaduan yang sempurna bagi indera penciumannya. Hal itu menimbulkan perasaan hangat begitu saja dihatinya, perasaan hangat yang tak dapat dijelaskannya lewat kata-kata.
Pantas, Jeonghan sangat menyukai tempat ini. Batin Seungcheol berbisik dan tanpa sadar, bibirnya menarik segaris senyuman manis.
Seungcheol tak sengaja menjatuhkan garpunya saat hendak memotong gateux. Ia memungut garpu tersebut dan mengambil selembar serbet yang terlipat diatas meja untuk membersihkannya.
Saat Seungcheol membentang serbet kecil itu, irisnya tiba-tiba terpaku pada rangkaian huruf hiragana kecil yang tertulis dengan pulpen dan terlihat sedikit buram diujung kain.
'Someday, Choi Seungcheol will marry me.'
Tubuh Seungcheol membeku. Dalam sekejap, ia tak dapat lagi merasakan apapun lagi karena seluruh tubuhnya kebas dan matanya mulai buram. Buram oleh genangan air mata.
Detik itu juga, Seungcheol mengerti siapa dirinya yang sesungguhnya, apa tujuannya dalam hidup, dan untuk apa ia dilahirkan kedunia.
Choi Seungcheol is born to be Yoon Jeonghan's Man
I should have bought you flowers
And held your hand
Should have gave you all my hours
When I had the chance
Take you to every party cause I remember how much you loved to dance
Do everything I should have done
Cause I am your Man
.
.
.
'Aku menunggu, dibawah lampu jalan menuju kediaman orang tuamu, tempat dimana ciuman pertama kita.
Sampai kapanpun aku akan berdiri disana, menunggu sampai kau datang.
Aku mencintaimu, Angel.'
Jeonghan membanting handphonenya menjauh, berharap benda itu menghilang bersama kemarutan yang melanda batinnya. Matanya memejam mencoba menetralisir pening dikepala, dan merubah posisi baringannya menghadap ke kiri. Jeonghan ingin tidur. Ia harus tidur dan melupakan segala hal yang membuat hatinya menjerit sakit. Ia harus melupakan soal Seungcheol.
Ia tidak peduli lagi.
Semua sudah berakhir.
Dan otaknya terus memproses kalimat serupa berulang-ulang.
Tapi hatinya tidak mendengarkan. Tidak ada sinkronisasi antara tubuh, batin, dan isi kepalanya saat ini.
.
.
.
"Angel..."
Seungcheol terperanjat, seakan-akan hawa dingin yang membalutnya berjam-jam selama berdiri diluar sirna begitu saja melihat kedatangan Jeonghan yang membawa kehangatan kentara yang tak dapat ia lisankan.
"Aku tahu kau pasti datang."
"Dan kau senang sekarang?"
Seungcheol tidak mengerti ini. Bibirnya tergugu ragu ingin membalas ucapan kekasihnya.
"Jeonghan-..."
"Ya, kau benar. Kau selalu mendapatkan apapun yang kau mau. Kau ingin aku begini, kau ingin aku begitu, semua akan aku lakukan. Tch, ini lucu sekali."
Sambil memalingkan wajahnya, Jeonghan tertawa sarkastik. Menertawakan sesuatu yang sama sekali tidak lucu.
"Maafkan aku, sayang..."
Saat Seungcheol hampir mendapatkan tangan itu, Jeonghan langsung menariknya dan tepat, belati yang tak kasat mata menancap di ulu hati Seungcheol, sangat dalam hingga rasanya seperti hampir mati.
"Jika saja kata maaf bisa menyatukan kembali pecahan kaca seperti semula... Sekalipun hatiku patah, setidaknya ia masih sanggup berdetak agar aku tetap hidup. Tapi semuanya sudah tidak terasa sama lagi, Choi Seungcheol..."
Mata Jeonghan memerah dan suaranya terdengar bergetar penuh tekanan. Begitu banyak rasa sesak yang ditanggungnya hingga memaksa air mata ini berkali-kali untuk keluar. Tapi Jeonghan telah berjanji dalam hatinya, tak ada lagi tangisan yang menyedihkan didepan Seungcheol. Tidak lagi.
"Menangislah, Jeonghan... Dan hukum aku."
"Dasar idiot."
"Ya, aku memang idiot. Terlalu idiot hingga tak bisa membuat mataku melihat keberadaanmu selama ini, atau membuat bibirku mengatakan bahwa aku mencintaimu... Sangat mencintaimu."
Satu langkah kaki Seungcheol bergerak maju perlahan. Tangannya terangkat ingin mencapai Yoon Jeonghan, namun kekasihnya itu kembali...
Menjauh.
"Kau gila."
"Ya, aku gila. Aku sangat merindukanmu sampai rasanya aku benar-benar gila!"
Grab!
Seungcheol mendapatkannya.
Jeonghan berada dalam pelukkannya, meski penuh dengan rontaan, meski telinganya harus mendengar berbagai jenis umpatan, Seungcheol tidak peduli lagi.
"And its hard, the days just seem so dark
The moon and the stars are nothing without you
Your touch, your skin, where do I begin?
No words can explain the way I'm missing you..."
Seungcheol tahu suaranya tak semerdu penanyi aslinya, bahkan Jeonghan sering mengatainya king-false-dulu. Bahkan hal-hal sekecil itu, Seungcheol sangat merindukannya. Candaan, lelucon bodoh mereka, sosis gosong, susu asam dari kulkas, atau pelukan hangat sebelum tidur. Seungcheol merindukan semua itu, menginginkannya kembali seperti sedia kala hingga ia rela mempertaruhkan nyawa untuk membuat kisah cinta mereka hidup kembali.
Seungcheol merasakan bahunya semakin hangat... dan basah. Perlahan-lahan, sepasang lengan ringkih merambat membalut tubuhnya, erat... Dan semakin erat.
Pelukkan Yoon Jeonghan. Jeonghan membalas memeluknya.
Pelukkan dengan kehangatan yang tak akan pernah ia temukan dari siapapun.
Hanya Jeonghan yang bisa memeluknya seerat ini, seposesive ini.
Dan Seungcheol ingin Jeonghan merasakan hal yang sama, bahkan lebih dari yang ia rasakan.
Jeonghan pantas mendapatkan cinta yang lebih besar dari yang pernah Seungcheol terima darinya.
"I hope this is not just a sweet dream... neither your sweet lies..."
"This is your reality, Angel."
Dan kenyataan untuk Yoon Jeonghan adalah, Choi Seungcheol yang kini menangkup pipinya, mendaratkan bibir diatas bibirnya, dan membuatnya menyatu dalam kecupan yang dalam.
Rabu malam, dibawah payungan langit dan bulan setengah lingkar, bintang berpencar tanpa rasi yang biasa dibicarakan orang-orang. Cahaya lampu jalan berpijar diatas mereka, warnanya kuning menuju jingga, menggantikan sosok matahari yang selalu sembunyi saat malam.
Saat itu, Seungcheol tak melisankan kata bahwa ia akan berubah, atau berjanji akan membawa seikat mawar, atau berjanji meluangkan sebagian besar waktunya, atau berjanji akan mengajak Jeonghan berdansa.
Seungcheol tidak berjanji.
Tapi Seungcheol melakukannya.
Kamis pagi, seikat mawar dengan korsase.
Jum'at siang, kunjungan ke Cafe Harquess untuk 2 cangkir Vanila Latte dan 2 potong Gateux Chocolate.
Sabtu malam, permainan piano untuk lagu All Of Me dan musik klasik saat berdansa. Dengan tangan yang saling mengenggam, mata yang menatap dalam, dan nafas hangat diwajah sebelum memulai sebuah ciuman.
Hari-hari selanjutnya, Seungcheol melakukan segala hal yang semestinya ia lakukan. Rasanya mungkin terlambat 100 tahun, tapi Yoon Jeonghan, kekasihnya yang pemaaf merentangkan sebuah pelukan dan kesempatan kedua. Seungcheol tak ingin lagi menyia-nyiakannya.
Seungcheol mencintai Jeonghan dan mencoba menjadi seorang pria yang sempurna. Tidak sempurna sebagai manusia, tapi sempurna untuk menjadi kekasih Yoon Jeonghan sampai tutup usia.
I'll do everything that I should have done
Cause I am your Man
.
.
.
End
A/N: JeongCheol is finally make up again! Yeay!
If its love, then nothing can separate them. Troubles is a part of their story. They've passed every struggle, worse things, and then being together forever.
I said
FOREVER
Right after I finish this, I post it immediately.
So I pass the editing part. No Beta. No Proofread. Hahaha i am sorry
KINDLY TO LEAVE YOUR REVIEW HERE PLS
