Uhm, maaf ya updatenya agak telat coz aku sibuk belajar buat SNMPTN, hehehe, sekarang kan udah masuk hari tenang jadinya bisa nulis fic deh….

Jujur, aku kaget banget ngeliat jumlah review yang wew hebat. Tadinya, pas selesai nulis chapter pertama aku miki "ah paling nggak ada yang review" supaya nanti nggak kecewa kalau reviewnya emang dikit. Ternyata…..yang terjadi malah kebalikannya, hehehe…orang Indonesia itu susah ditebak ya?

Ok, aku akan menjelaskan di sini, setiap Negara kebagian untuk meneliti Indonesia dan bisa sampai 2-3 chapter, pokoknya sampai ceritanya selesai. Beberapa chapter akan melibatkan adik-adik Indonesia jika perlu, juga ada penjelasan bagaimana hubungan Indonesia dengan Negara tersebut.

Untuk yaoi…nggak bakal ada. Aku buat karakter Indonesia jadi laki-laki bukan karena mau buat yaoi. Tapi…emang lebih enak jadi laki-laki kan? Kalau shonen-ai mungkin bakal ada meski samar. Paling banter sama Netherland (wah aku harus riset dulu nih) atau Japan.

Yosh, silahkan nikmati chapter 2!


Chapter 2: America part 2! Learning Indonesia' daily live!

America melihat rumah Indonesia sudah bersih, kinclong, dan segar kembali. Tentu saja, setelah seharian Indonesia banting tulang membersihkan rumahnya (yang ternyata diam-diam lumayan kotor juga) akhirnya rumahnya kembali bersih.

"Fiuh…akhirnya selesai juga, terima kasih ya America-san, kamu jadi repot membantuku," kata Indonesia mencelupkan kembali pel ke ember penuh air kotor.

"Ah, nggak apa-apa. Biasanya aku jarang bersih-bersih, lumayan juga buat bergerak," kata America. Memang benar, semua di tempatnya serba otomatis kalau tidak ia tinggal membayar cleaning service untuk membersihkan tempat tinggalnya.

"Memang iya sih," kata Indonesia yang memang penuh dengan keringat dan kecapekan.

"Lagian, sekarang rasanya aku sedikit mengerti," kata America membuat Indonesia terdiam.

"Aku mengerti sekarang! Kamu melakukan semua ini untuk latihan kan! Daripada repot-repot pergi ke gym, ternyata begitu ya, mencuci baju pakai tangan, membersihkan rumah dengan semua peralatan pembersih yang manual, aku mengerti sekarang. Ya, kau hebat juga," kata America mengoceh sendiri.

"Eh, sebenarnya bukan sih….," gumam Indonesia. Latihan? Gym? Maksudnya olahraga untuk membentuk otot? Untuk apa begitu? Meski memang badan Indonesia itu kayak triplek (bukan sispek) tapi ia tidak merasa perlu melakukan hal-hal seperti itu [1].

Indonesia melirik America yang sedang sibuk mengoceh sendirian. Ah, kalau dilihat-lihat badannya America memang besar dan berotot sekali, membuat Indonesia ingat untuk tidak macam-macam pada Negara adikuasa tersebut kalau tidak mau dijadikan samsak latihan tinju.

"Oh ya, sekarang kita ngapain lagi?" tanya America dengan wajah ceria. Indonesia melirik padanya. Ngapain lagi? Jujur saja yang ingin Indonesia lakukan sekarang ada tidur siang sampai sore, apalagi habis bekerja berat begini. Tapi, karena tampaknya America masih penuh energi tampaknya Indonesia tidak bisa istirahat.

"Bagaimana kalau nonton tv saja, aku agak capek nih," kata Indonesia sambil memijat bahunya. Ia segera mengambil ember dan pel di dekatnya lalu ke luar rumah. Ia lalu membuang air kotor bekas pel ke tanaman-tanamannya [2].

"Memangnya tidak apa-apa dibuang ke sana?" tanya America, mengintip kegiatan Indonesia.

"Memangnya kenapa?" tanya Indonesia, merasa hal yang dilakukannya adalah hal wajar.

"Tidak, aku bukan ilmuwan sih tapi air itu penuh deterjen kan? Nanti bisa membuat tumbuh-tumbuhanmu mati lho," kata America. Itu benar, ilmuwan-ilmuwan di negaranya sering mengeluh bagaimana air limbah rumah tangga sering mencemari lingkungan dan mereka selalu berusaha untuk mencari solusi yang terbaik untuk menanganinya [3].

"Ah, nggak akan kenapa-kenapa kok, aku siram mereka kayak gini tiap hari juga nggak ada yang mati," kata Indonesia cuek dengan santai ia berlalu dan mengembalikan ember dan pel ke tempat semula.

'Pantas negaranya punya tingkat pencemaran yang tinggi,' pikir America dalam hati sambil mengasihani tumbuh-tumbuhan malang yang disiram dengan air berbahan kimia.

IoI

Indonesia yang sudah berganti baju, kembali ke ruang tengah dimana tv kesayangannya berada. Ia melihat America sedang memperhatikan tvnya. Wah, mau apa lagi dia? Daritadi sudah mempermalukan dia terus apa masih belum puas juga?

"Kamu masih pakai tv jenis lama begini ya?" tanya America.

"Memangnya kenapa?" tanya Indonesia dengan wajah merengut. Iya, dia memang sangat sangat ketinggalan jaman [4].

"Nggak, kenapa nggak beli TV plasma? Layarnya jauh lebih sehat buat mata lho, lalu gambarnya lebih jernih, lebih hemat listrik, nggak gampang rusak juga, terus enak buat main PS3," oceh America lagi.

'Aku nggak punya uang untuk belinya…lagian daripada buat tv plasma mending di tabung buat kemudian hari kan?' pikir Indonesia dalam hati mendengarkan ocehan America yang menusuk hatinya.

"Ah tv ini merek cina juga ya," tambah America.

"Ya, soalnya tvku yang bagus rusak sih jadi beli yang cina saja," kata Indonesia jujur.

"Ini kan mengcopy teknologi negaraku, jangan beli yang begini dong! Lagian kan tv begini gampang rusak!" keluh America.

Di suatu tempat, China bersin. "Ukh…ada yang lagi ngomongin aku ya?"

Kembali ke Indonesia. Ia tidak bisa menjawab apapun, mau menjawab apa? China sebagai pembajak teknologi Negara lain? Indonesia bisa membajak semua yang ia temukan, mulai dari film sampai software computer [5]. Karena itu ia tidak bisa mengatakan apa-apa, sesama pembajak tidak boleh saling menghina (?).

"Yah, soalnya murah sih, mau bagaimana lagi?" kata Indonesia dengan sweatdrop besar di kepalanya.

"Oh ya sudahlah, kalau beli TV bilang saja padaku, nanti kutunjukan TV yang bagus," kata America akhirnya duduk kembali di sofanya. Indonesia menarik napas lega dan dalam hati menambahkan sebaiknya bila ia ingin beli barang elektronik jangan sampai ketahuan America. Bbisa-bisa tekor nanti dia.

Indonesia duduk di samping Indonesia dan mengambil remote tv. Ia segera menyalakan tvnya dan mencari siaran yang bagus.

"Kau nggak pasang tv kabel ya?" sela America.

'Aduh…kapan sih dia bakal berhenti mempermalukan aku?' tanya Indonesia, menangis dalam hati.

"Nggak, soalnya aku juga nggak begitu sering nonton tv sih," kata Indonesia, jelas betul dia bohong. Soalnya dia hapal hampir semua jadwal acara di tv karena tv merupakan hiburan dia yang utama. Apalagi diam-diam dia suka nonton sinetron yang diputar di malam hari, jadi ia menontonnya sehabis pulang bekerja [6].

"Wah padahal kalau pakai tv kabel kan bisa nonton beberapa channel dari negaraku juga," tambah America.

'Wah, tambah ribet, mending bisa ngerti pas nontonnya,' pikir Indonesia.

"Mungkin kapan-kapan akan kupasang," kata Indonesia, ya kapan-kapan.

"Oh gitu," kata America.

Indonesia kembali mencari acara yang menarik. Di siang hari begini tidak banyak acara menarik yang disiarkan. Ah, payah deh….pasti di cerca America lagi…

"Eh, tunggu! Apaan tuh!" pekik America membuat Indonesia berhenti pada satu channel. Ia langsung tahu acara macam apa yang sedang disiarkan dengan sekali lihat. Sinetron pada salah satu stasiun tv, campuran antara drama dan juga supranatural. Yah….pasti tahulah acara apa…

"Gyahahaha, efek komputernya parah banget! Itu apa? Burung! Ketahuan banget bohongannya! Ya ampun, ini sih efek computer pas jaman aku baru bisa bikin efek computer, parah banget!" cerca America sambil tertawa.

Indonesia pundung dan menangis dalam hati. Jujur saja, ia ingin sekali membalas ucapan America, tapi apa daya? Yang ia katakan semuanya benar [7].

"Ya ampun Indonesia, kalau kamu memang nggak bisa bikin efek computer buat film, aku ajarin deh," kata America sambil mengelap air matanya gara-gara kebanyakan tertawa.

"Ya…makasih," kata Indonesia dengan nada berat.

"Kalau soal efek computer masih belum ada yang bisa bikin lebih hebat dari aku. Bahkan Japan pun masih belum bisa mengalahkanku! Aku bisa bikin senyata mungkin dan sedahsyat mungkin!" kata America lagi, membanggakan dirinya.

"Uh…iya," gumam Indonesia dengan wajah pucat dan tidak bersemangat. Ia tahu sekarang, jangan pernah mengajak America nonton tv di rumahnya lagi kalau tidak mau menderita stress dan depresi berat karenanya.

IoI

"Wah nggak kerasa sudah sore ya," kata America sambil meregangkan tubuhnya. Indonesia hanya mengangguk dengan wajah agak pucat. Sepanjang mereka menonton tv, America terus mengoceh tentang bagaimana….err….kurang bagusnya acara-acara yang disiarkan di semua stasiun televise. Mulai dari begitu jelek efek computernya, acting para aktris yang kurang menghayati, comedy yang garing sampai isi acara yang tidak penting. Yang paling menyakitkan mungkin America yang sambil tersenyum dan tertawa mengomentari semua itu.

"Sekarang kita akan ngapain lagi?" tanya America.

Indonesia menarik napas panjang, tidak bagus ia pundung terlalu lama. Kalau sampai ketahuan bosnya kalau ia sudah mengecewakan America karena pundung terlalu lama, ia bisa jadi office boy selama sebulan nanti.

"Hm…ngapain ya? Aku juga nggak tahu," kata Indonesia. Biasanya sore-sore begini ia senang main internet, tapi ia tidak mau mengambil resiko dicerca America lagi. Nanti dia diejek lagi karena komputernya sudah usang, internet yang harus bayar dan koneksinya lambat, semua software computernya adalah bajakan dan sebagainya.

"Ah, bagaimana kalau kita ngerujak saja!" kata Indonesia akhirnya terpikir juga ide yang bagus, setidaknya ia tidak akan dicerca lagi seperti tadi.

"Ngerujak itu apa?" tanya America dengan wajah bingung. Senyum Indonesia terhenti dan menjadi wajah plongo.

"Eh…oh iya ya, di tempatmu mana ada kegiatan merujak," kata Indonesia sambil melihat ke samping [8].

"Uh…rujak itu semacam makanan pedas yang terdiri dari buah dan sambal," jelas Indonesia.

"Ha? Buah dikasih sambal? Nggak salah tuh?" tanya America tambah kebingungan.

"Halah….ditempatmu juga ada hot dog tapi dagingnya bukan daging anjing kan?" gumam Indonesia pelan.

"Lihat sendiri saja deh," kata Indonesia. Ia segera bangkit dan berjalan ke halaman rumahnya. Ia tidak begitu punya bahan-bahan untuk ngerujak di kulkasnya, warung sayur jam segini juga sudah hampir habis sayurnya. Jadi, yang bisa ia andalkan adalah halamannya.

Ia tersenyum melihat satu buah mangga yang tampaknya sudah cukup besar dan masih muda menggantung di atas pohonnya yang lumayan tinggi.

Tanpa sandal, Indonesia berlari menghampiri pohonnya dengan America dan komodo melihat aksinya. Memanjat pohon bukan hal sulit bagi Indonesia yang dulu memang terbiasa hidup di hutan belantara. Dengan lincah (kayak monyet) Indonesia memanjat dahan demi dahan. Begitu tangannya berhasil menggapai mangga yang ia maksud, kakinya tergelincir dan ia jatuh.

"GYAAAAA!"

"Uwaa! Indonesia!" America kaget melihat Indonesia jatuh di luar pagar karena memang pohon mangganya menjorok ke luar pagar. Ia berlari ke luar halaman Indonesia dan menemukan Indonesia err…..di posisi yang kurang etis. Indonesia tercebur ke got besar yang memang mengililingi pekarangan rumahnya.

"Err….Indonesia? Kamu nggak apa-apa?" tanya America sambil berusaha menahan tawa.

Indonesia segera bangkit dengan badan belepotan air got dan sampah yang kotor. Got dimana ia tercebur memang besar, dalamnya hampir setengah meter dan lebarnya hampir satu meter. Lebih mirip sungai kecil daripada dibilang got.

"Ya, nggak apa-apa kok, mangganya juga dapet," kata Indonesia mengacungkan mangga yang belepotan air got. America kehilangan selera melihatnya.

"Itu nggak apa-apa?" tanya America, serius buah itu mau dimakan?

"Nanti kalau sudah dicuci juga bersih kok, lagian ini kan masih berkulit jadi dalamnya aman," kata Indonesia sambil tertawa.

"Sebaiknya kamu mandi dulu sebelum melakukan hal itu deh," kata America.

"Iya ya, benar juga."

IoI

Indonesia yang sudah kembali bersih dan wangi (meski samar-samar masih tercium bau khas got dari rambutnya) segera membawa semua buah muda dari kulkasnya, ulekan,bahan-bahan untuk membuat sambal dan piring ke teras rumahnya. Sambil duduk di lantai, ia dengan telaten mengupas semua kulit buahnya sementara America sibuk memperhatikannya.

Lalu ia mengulek gula jawa, cabai, asam dan bahan-bahan lainnya untuk membuat sambal lotis kesukaannya. America ingin mengomentari bahwa di negaranya ada alat untuk menghancurkan dan melembutkan semua bahan seperti itu daripada hari menumbuk dan menghancurkannya dengan piringan dan tumbukan dari batu, tapi karena Indonesia terlihat lumayan serius jadi ia diam saja.

"Nah selesai," kata Indonesia. America penasaran melihatnya.

"Nih, coba saja, ambil potongan buahnya terus dicolek ke sambal ini," kata Indonesia sambil mengambil sepotong mangga muda dan mencelupkannya ke dalam sambal buatannya.

America segera mencontohnya dan melahap mangga berlumuran lotis sebelum Indonesia bisa menghentikannya.

"America-san, sambalnya harusnya…"

"GYAAAA! PEDAAAASSSS!"

"…sedikit saja, sudah telat ya?" kata Indonesia. Ia lupa untuk mengurangi jumlah cabainya lagi, wah ukuran pedas Indonesia kan artanya pedaaaasss sekali untuk America [8].

Indonesia segera menyodorkan segelas air putih pada America yang segera menengguknya dengan tergesa-gesa.

"Uh…masih pedas…huh…hah…," kata America dengan wajah sedikit merah karena kepedasan. Indonesia tertawa melihatnya.

"Tunggu ya, kuambilkan sesuatu untuk mengurangi pedasnya," kata Indonesia dan ia segera menghilang ke dalam rumahnya.

Ia lalu kembali dengan sepiring tempe goreng sisa makan siang tadi.

"Ini, makan ini saja," kata Indonesia. America dengan wajah bertanya-tanya, segera mengambil tempe goreng yang disodorkan padanya lalu melahapnya. Wuah ajaib, rasa pedasnya memudar!

"Wah, sekarang sudah nggak begitu pedas lagi!" kata America.

"Yah, katanya sih makan sesuatu yang berminyak atau gorengan bisa membantu mengurangi rasa pedas di lidah," kata Indonesia, lho? Tapi ia tahu hal itu darimana ya? Lupa deh….[9]

Setelah America sembuh, mereka kembali menikmati rujak buatan Indonesia. America yang mulai terbiasa dengan rasa pedasnya jadi ketagihan dengan rasa pedas manis dari sambal dan asam buah.

"Wuah enak lho! Pedas manis gitu," kata America sambil memakan rujak buatan Indonesia.

"Yah, asal jangan makan banyak-banyak saja kalau tidak mau sakit perut nantinya," kata Indonesia.

IoI

"Indonesia, ini suara apa sih?" tanya America pada Indonesia.

"Ini? Ini adzan, sekarang kan sudah maghrib," jelas Indonesia.

"Memangnya maghrib itu apa?" tanya America lagi, kebingungan.

"Negaraku kan mayoritas Islam, maghrib itu semacam waktu untuk sembahyang," kata Indonesia [10].

"Oh iya, kamu muslim ya," kata America.

"Iya," kata Indonesia sambil tersenyum. "Ada sih daerah-daerah lain yang mayoritasnya Kristen tapi rata-rata penduduk di negaraku beragam Islam."

"Tapi, Islam kan identik dengan teroris," kata America dengan wajah serius. Indonesia tercekat mendengarnya. Ah, iya benar….America memang agak sedikit anti islam karena insiden 11 September ya?

"Memang rata-rata teroris beragama Islam, tapi Islam bukan berarti teroris kok," jelas Indonesia berhati-hati, ia merasa takut sudah menyentuh topic tabu untuk America.

America terdiam sebentar dan kemudian tersenyum. "Iya ya, nyatanya negaramu damai-damai saja dan punya toleransi tinggi, malah kalau soal toleransi kamu hebat sekali bisa hidup dengan berbagai macam suku bangsa dan agama seperti ini," kata America. Ia tahu Indonesia juga dipenuhi dengan masalah dengan teroris, malah kelihatannya itu sudah makanan sehari-hari tapi ia juga tahu Indonesia adalah Negara yang sangat ramah pada siapapun meski berbeda agama ataupun bangsa.

Indonesia terdiam mendengarnya. Jujur saja, setelah seharian dicela tentang bagaimana ketinggalan negaranya ini, dipuji seperti itu rasanya jadi malu.

"Terima kasih," kata Indonesia sambil tersenyum senang.

IoI

"Wah sudah malam lagi, waktu cepat berlalu ya," kata America. Ia baru saja selesai makan malam dengan Indonesia, mereka membeli nasi goreng yang lewat di depan rumah Indonesia…tentu saja maksudnya si abang penjual nasi goreng bersama gerobaknya yang lewat, bukan sepiring nasi goreng lewat di depan rumah Indonesia betulan.

"Yah, sekarang waktunya tidur, aku capek," kata Indonesia.

"Besok aku akan pulang, ah….bekerja lagi deh," kata America. Indonesia tersenyum mendengarnya.

"Yah, aku hanya berharap kamu senang menghabiskan waktu di sini," kata Indonesia. Memang sih tempatnya bukanlah tempat terbaik untuk menghabiskan waktu luang, tapi….ia selalu berusaha untuk menjamu tamu sebaik yang ia bisa.

"Aku senang kok," kata America sambil tersenyum lebar.

IoI

"Lain kali aku pasti datang lagi," kata America. Tak terasa sudah waktunya ia pulang dan Indonesia dengan sangat baik hati mengantarkan ia ke bandara (setelah memaksa America bangun sepagi mungkin karena ia tidak mau terjebak macet sebelum sampai ke bandara).

"Ya, mungkin lain kali aku yang akan pergi ke tempatmu," kata Indonesia. Tapi ia tahu, di sana ia lah yang akan merasakan culture shock.

"Ya, datang saja! Aku akan menyambutmu," kata America. Indonesia mengangguk.

"America-san juga boleh datang ke tempatku kapan saja," kata Indonesia.

Mereka mendengar pengumuman bahwa pesawat yang akan ditumpangi America akan segera berangkat. America berbalik setelah melambaikan tangannya pada Indonesia yang dibalas dengan sebuah lambaian tangan juga.

IoI

"Aku tidak percaya kamu kembali secepat ini, America-san," kata Indonesia dengan wajah "aduh capek deh…" ketika melihat America berada di depan pintunya di malam hari. Belum ada seminggu setelah kunjungan terakhir America di rumahnya.

"Indonesia temani aku nonton film horror ini, Japan kejam sekali ia tidak mau menemaniku! Yang lain juga menolak, cuma kamu pilihan terakhir ku," kata America sambil menangis.

Indonesia menampar dirinya sendiri. Aduh….ia pasti akan kerepotan malam ini. Nasib-nasib…

TBC

Potongan Chapter 3

"Eh? England-san…kenapa anda kemari?"

"Memangnya tidak boleh?"

"Ini teh manis untuk anda."

"Ini bukan teh manis, ini teh melati!"

"Apa? Belajar kutukan…maksud anda…santet!"


[1] Tingkat kesadaran Indonesia akan kesehatan masih rendah, apalagi kebugaran? Wahaha, jangan ditanya. Hanya segelintir orang saja yang pergi ke gym atau rutin melakukan olahraga. Kalau dipikir-pikir karena pada dasarnya kegiatan-kegiatan Indonesia masih banyak yang dilakukan dengan manual, itu sudah termasuk olahraga kan? Hahahaha….

[2] Indonesia suka membuang sampah sembarangan, termasuk limbah rumah tangga. Kalau dipikir-pikir, air pel kotor itu sebenarnya nggak apa-apa dibuah ke tanaman asal tidak memakai sabun untuk mengepel lantai. Kebanyakan orang Indonesia masih pel kering (tanpa sabun maksudnya) aja kan?

[3] Orang barat termasuk America, banyak yang senang melakukan penelitian termasuk bagaimana cara menangani pencemaran. Indonesia? Wuih…jangan ditanya. Kitanya aja nyampah terus, kapan ditelitinya?

[4] Normalnya, di Negara barat, mungkin pemakaian tv plasma atau yang slim gitu sudah hampir merata ya. Soalnya aku mau beli monitor computer versi tabung aja harus beli yang second. Kebanyakan sudah serba LCD plasma. Ealah…itu kan mahal, Indonesia mana kuat belinya. Biarin tv jelek asal bisa buat nonton tv, hahahaha….

[5] Indonesia pernah mendapat predikat sebagai Negara pembajak tertinggi di asia tenggara kalau nggak salah. Karena hampir semua computer di Indonesia memakai software palsu. DVD bajakan juga meraja lela sampai-sampai artis juga ada yang beli DVD bajakan (parah deh, tapi aku juga beli sih). Yang lain tidak usah ditanya kan?

[6] Banyak orang tidak suka sinetron tapi tidak sedikit juga yang suka sinetron, karena itu sinetron masih tayang sampai sekarang. Meski ceritanya diulur ngalor ngidul entah kemana, entah kenapa masih aja ditonton. Hahaha….

[7] Teknik perfilman Indonesia masih belum begitu maju. Efek CG (Computer Graphic)nya masih ancur, ancur banget. Aku aja masih suka ketawa liat efek-efek computer payah yang ditayangin di tv. Kalau dibandingkan dengan America? Jauhnya bagaikan langit dan bumi. Kadang kalau lagi nonton film barat, suka iseng mikirin apa yang sedang aku tonton itu betulan atau efek computer. Bahkan setahuku efek CG Japan masih kalah sama America (karena aku suka nonton tokusatsu jadi aku tahu).

[8] Banyak makanan Indonesia yang pedas, yang manis juga banyak tapi Indonesia juga punya banyak sekali makanan pedas. Ini karena kita kaya akan rempah-rempah dan gaya masakan kita dipengaruhi oleh India dan China pada jaman dulu dan terbawa sampai sekarang. Kalau America? Pedasnya makanan America paling dari saus atau nggak Tabasco, iya kan?

[9] Kayaknya aku baca artilkel tentang itu entah dimana. Kalau nggak salah, minyak bisa mengurangi rasa pedas pada lidah, makanya makan aja gorengan kalau kepedasan. Sebenarnya sih, yang lebih umum di Indonesia itu minum air atau teh panas kalau kepedasan, tapi menurutku itu nggak manjur deh….

[10] Nggak tahu insiden 11 September itu apa? Aku sendiri lupa #plak. Bohong, sebenarnya sih kalau nggak salah ada penyerangan teroris gitu yang menyebabkan hancurnya menara…apa itu namanya? Pokoknya biang keladinya (katanya sih) Osama Bin Laden itu lho, ada kok insiden ini di film My Name Is Khan (walah malah promosi). Insiden ini menyebakan luka mendalam untuk America yang jadi parno sama teroris juga Islam. Malah ada aja orang yang suka membakar al-quran untuk memperingati insiden 11 September. Hueee….. Sementara kelebihan Indonesia mengenai toleransi beragama dan bermasyarakat akan dibahas di chapter depan, penelitian Indonesia oleh Germany.

Uwah….penjelasannya jadi panjang banget nih. Nggak apa-apa kan? Ini semua bukan riset lho, aku sekedar mikir aja dan tahu aja karena pernah baca. Kalau ada yang salah mohon maaf.

Chapter depan tentang England, yosh…reviewnya! Review! Mungkin ada yang bisa membantuku soal mitos-mitos dan hal-hal mistis Indonesia? Kritik dan sarannya ditunggu.