Binding Fate

Rasanya Chanyeol nyaris bosan melihat pantulan wajahnya di cermin yang selalu berhias kantung hitam di bawah mata. Kelit kehidupan yang dihadapinya begitu membelenggu. Mengurungnya di dalam jurang penyesalan tanpa adanya celah sekedar untuk jalan keluar. Menyeretnya hingga ke dasar tanpa belas kasih, menghantamnya dengan beribu-ribu kesakitan tanpa henti. Penyesalan yang dia rasakan begitu dalam, dan hukuman yang diterimanya memang berdasar. Sebab itu ia tak ingin banyak mengeluh, diam dan mengikuti arus takdir adalah yang ia lakukan saat ini.

Pria itu membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Ia kembali kehilangan tidur malamnya dan pagi juga tampak tidak berminat untuk menunda kemunculannya hanya untuk memberinya waktu memejamkan mata. Sederet agenda sudah menunggunya, dan dia tidak sepengecut itu untuk menghindar.

Lantas kakinya berjalan menuju shower, menyiram tubuhnya disana dengan air dingin di pagi yang menggigil. Tak peduli pada bibir yang sedikit bergetar sesaat setelah kucuran air membasahi tubuhnya yang masih lengkap dengan pakaian. Pria itu selalu terlihat menyedihkan.

Musim panas telah berlalu dan dingin menusuk musim gugur telah menyapa kulit. Waktu berjalan begitu cepat, namun Chanyeol masih disana. Tertinggal di belakang dengan perasaan sesak yang tak pernah mengizinkannya untuk melangkah seincipun.

Selintas bayangan seorang anak perempuan dengan sebuah figura dalam dekapannya kembali berkelebat. Itu putrinya, dengan foto Baekhyun di pelukan gadis kecil itu. Sesungguhnya hal itulah yang menghancurkan Chanyeol tanpa tersisa. Ketika ia menyadari jika dirinya adalah penjahat yang tak terampunkan di dalam hidup putri semata wayangnya. Dialah pelaku utama atas terpisahnya ibu dan anak itu. Dialah penjahat keji yang selama ini berlindung di balik topeng seorang ayah yang dianggap sempurna oleh malaikat kecilnya.

Chanyeol nyaris sekarat oleh penyesalan yang menggerogoti hatinya tanpa henti.

Lantas segera menyudahi mandi paginya, pria itu membalut tubuhnya dengan bathrobe setelah melepas baju basahnya dan menaruhnya di tempat cucian. Ini masih terlalu pagi. Putri kecilnya juga masih bergelung nyaman di balik selimut di atas tempat tidurnya.

Dia segera masuk ke dalam walk in closet dan berganti pakaian dengan setelan formal. Entah sudah berapa kali helaan nafas kasar lolos dari bibir pria itu. Jika orang terdahulu bilang, menghela nafas akan mendatangkan sial maka Chanyeol mungkin sudah mendapatkan segudang kesialan yang menunggunya di depan sana. Lagipula bukankah selama ini hidupnya sudah penuh kesialan meskipun tanpa campur tangan mitos itu?

Pria itu terkekeh menyedihkan, menertawakan bagaimana takdir begitu hebat dalam menyusun skenario untuk mengobak-abrik hidupnya. Bayangan bagaimana selama empat tahun lebih ia menghukum dirinya sendiri nyatanya masih terlihat belum cukup untuk menebus dosa miliknya. Sang penulis takdir masih belum selesai mengganjarnya.

Ia keluar dari sana dengan keadaan sudah rapi. Pria itu menghampiri putrinya yang masih tidur di balik selimut. Lantas berbisik lirih, "Maafkan Papa, hari ini papa tidak bisa menemani Jihan sarapan. Papa berangkat, Baby" Setelah menyambar tas kerjanya, Chanyeol segera bergegas untuk keluar kamar. Jarum pendek jam dinding masih berada di antara angka lima dan enam, sungguh terlalu dini untuk berangkat bekerja. Dan Chanyeol tidak peduli akan hal itu. Itu Perusahaan miliknya, maka ia bebas untuk berangkat kapan saja ia mau.

.

.

.

.

Di tempat yang berbeda Baekhyun juga sudah berkutat dengan berbagai peralatan pembuat Kue di dapur Cafe milik Tao. Wanita itu berada disana semalaman, mencoba berbagai resep baru. Itu hanya sebuah alasan. Wanita itu hanya mencari sebuah alasan yang dapat ia gunakan untuk menyingkirkan segala pikirannya tentang sosok tinggi jangkung yang menemuinya hari lalu.

Sudah dua malam ini Baekhyun melakukannya. Wajah pucatnya membuktikan jika selama dua hari pula mata hazel itu melewatkan waktu istirahatnya. Tao hanya bisa memandang sendu dari sofa cafe yang ia gunakan untuk tidur. Alasan ingin mencoba resep baru dan takut pulang larut keduanya gunakan untuk mengelabuhi nenek.

Tao bangkit dari posisi tidurnya, merapikan selimut yang ia pakai dan menyimpannya di ruang penyimpanan cafe. Cafe kecil mereka biasanya mulai buka pukul 10.00, dan ini masih pukul tujuh pagi. Gadis dengan tubuh tinggi semampai itu segera menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menyikat gigi lantas menghampiri Baekhyun yang terlihat sibuk menghias kue yang baru selesai Baekhyun keluarkan dari Oven.

"Cokelat panas untuk pagimu?" Tao menerima secangkir cokelat yang masih mengepulkan asap dari Baekhyun.

"Terimakasih eonni" Baekhyun tersenyum, meskipun ia sedikit tidak nyaman dengan tatapan sendu yang di berikan Tao padanya. Tao bertahan disana, menatap lekat pada setiap gerak girik Baekhyun. "Eonni"

"Hm?" Baekhyun berdehem masih dengan mata yang terfokus pada Kue buatannya. Lantas tangannya berhenti menghias kala sebuah kertas kaku disodorkan padanya oleh Tao.

"Dia sangat cantik, sepertimu" Tao nyaris menangis saat mengatakannya. Itu adalah Foto Jihan yang di tinggalkan Chanyeol pagi sebelum pria itu kembali ke Seoul kemarin. Pria itu datang ke rumahnya dan menyerahkan foto itu pada Tao saat Tao kembali ke rumah setelah semalaman menemani Baekhyun di Cafe.

Tangan Baekhyun bergetar menerima selembar kertas foto tersebut. Ada rematan kuat di dalam rongga dadanya saat matanya menangkap paras cantik seorang gadis kecil disana. Putrinya.

Tao benar, gadisnya sangat cantik dan telah tumbuh dengan begitu menakjubkan. Rindunya meronta, membawa sesak luar biasa akibat rasa bersalah yang selama ini ia pupuk. Dia ibu yang buruk, hal itulah yang selalu terlintas di benak Baekhyun mengingat bagaimana egoisnya dia meningglakan seorang bayi yang baru saja dilahirkannya beberapa tahun silam.

"Chanyeol oppa bilang, dia akan membawa Jihan kemari akhir pekan nanti jika eonni ingin menemuinya" Baekhyun kembali mengalihkan pandangannya pada Tao, ia linglung. Namun ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya mendengar kalimat tersebut. Dia akan bertemu dengan purtinya.

Namun hal itu tidak bertahan lama. Menyadari bagaimana buruknya ia pada gadis kecil itu berhasil melahirkan ketakutan besar dalam dirinya. Apakah Jihan akan menerimananya? Bagaimana jika gadis kecil itu mengetahui jika selama ini Baekhyun meninggalkannya begitu saja.

Satu tetes air mata miliknya lolos. Tao hanya diam, memandang sendu pada wanita yang telah ia anggap sebagai saudari kandungnya sendiri itu.

"Eonni sudah dua hari tidak tidur, akhir pekan berarti besok lusa. Apa eonni akan menemui mereka dengan keadaan seperti ini? Eonni terlihat sangat pucat" Itu adalah kalimat pembujuk supaya Baekhyun mau mengistirahatkan dirinya setidaknya beberapa jam. Wanita itu sudah dua hari dalam keadaan seperti ini, dan Tao dapat melihat dengan jelas jika tubuh Baekhyun telah memprotes hal tersebut.

Baekhyun masih menunduk, memandang selembar kertas yang berada di tangannya dengan derai air mata. Wanita itu seakan kehilangan kendali atas dirinya. Lantas ketika Tao menuntunnya menuju Sofa dan membantunya berbaring, Baekhyun hanya menurut.

"Tidurlah Eonni" Gadis itu berlalu untuk mengambil selimut untuk Baekhyun dan benar, setelah merebahkan badannya Baekhyun baru sadar jika tubuhnya benar-benar butuh istirahat.

Wanita itu tidur dengan foto Jihan berada di pelukannya, seakan ia benar-benar memeluk malaikat kecilnya.

.

.

.

.

Sepanjang hari ini Chanyeol benar-benar uring-uringan. Hampir setiap orang yang berhadapan dengannya menjadi sasaran empuk kemarahan pria itu. Bahkan hanya tentang sebuah kopi yang sedikit kemanisan, pria itu sampai mampu memecat salah satu pegawainya.

Beberapa meeting sempat ingin dijadwalkan ulang oleh Jongin dan Yoona jika saja Chanyeol tidak berteriak di hadapan mereka ingin segera menyelesaikan meeting-meeting sialan itu.

Seluruh karyawan perusahaan rasanya telah di buat kelabakan oleh sang pemegang kekuasaan tertinggi. Seakan kepulan awan hitam dapat mereka lihat melingkupi diri pria tampan tersebut, mereka hanya bisa menunduk dan berhenti sejenak setidaknya untuk melindungi posisi dan pekerjaan mereka sebab sedikit kesalahan bisa saja menyebabkan mereka di depak dari sana.

Jongin menggerang frustasi di depan ruangan Chanyeol. Selain tenaga dan fikirannya yang terkuras karena meeting yang baru saja selesai, ia juga tengah pusing memikirkan masalah kelit yang di hadapi sahabatnya.

Kemarin, setelah kembali dari mengantar Chanyeol pulang, Jongin kembali ke rumah Luhan dan ia tak bisa menghindar lagi dari pertanyaan Luhan tentang apa yang tengah terjadi sebenarnya. Dan setelah menunggu Sehun pulang, hari itu itu juga ia menceritakan semua yang terjadi di Gangwon-do pada Luhan, Sehun dan Kyungsoo.

"Kau akan pulang?" Jongin bertanya pada Yoona, wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi sekretaris Chanyeol itu mengangguk.

"Busajangnim tidak pulang?"

"Kau duluan saja, aku akan memeriksa Chanyeol dulu. Maaf hari ini pasti terasa berat untukmu dan Seulgi mengingat Chanyeol sedang kumat gilanya" Yoona terkekeh menggeleng mendengar kalimat Jongin.

"Kalau begitu saya pulang dulu Busajangnim, dan notulensi untuk hasil meeting dengan Taesan sudah saya kirim ke email Busajangnim seperti yang anda minta. Sedangkan untuk hasil meeting dengan devisi pengembangan akan dikirimkan oleh Seulgi" Jongin mengangguk dan setelahnya segera masuk ke dalam ruangan Chanyeol.

Di depan sana, Chanyeol tampak melamun memandang figura yang memang berada di meja kerjanya.

"Kau tidak pulang? Jihan pasti mencarimu" Pria itu masih terdiam meskipun Jongin sudah berdiri di sampingnya.

"Kau tau? Kau benar-benar merepotkan hari ini. Aku kasihan pada Yoona dan Seulgi sampai harus mengerjakan notulensi 10 meeting sekaligus" Chanyeol masih terdiam, seakan suara Jongin hanyalah angin lalu.

Pria berkulit tan itu menghela nafas. Chanyeol memang sekeras kepala ini, dan Jongin sudah mengetahuinya dengan baik.

"Ayo kita pulang Chan! Kau tidak memikirkan Jihan di rumah?" Setelah nama putrinya disebut untuk kedua kali, barulah Chanyeol mengalihkan pandangannya yang semula tertuju pada foto Baekhyun ketika mengandung Jihan beralih pada Jongin.

"Oh! Kau disini? Kenapa belum pulang?" Jongin menganga, hampir tak percaya.

"Aku tau, jika seharusnya aku sudah bisa menduganya" Lantas pria tan tersebut segera membawa tangannya untuk meraih tangan Chanyeol. Satu tangan lain begitu cekatan untuk merapikan barang-barang milik sahabatnya.

"Ayo kita pulang, Jihan menunggumu"

"Aku ingin menemui Luhan dulu" Jongin mengangguk, dan segera menggiring Chanyeol untuk segera keluar dari ruanganya.

.

.

.

Brukk

Mata Luhan sudah berkaca-kaca sejak Chanyeol memasuki rumahnya tadi. Dan wanita itu tak lagi bisa menahan luruh air mata miliknya saat Chanyeol tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.

"Chanyeol-ah" Luhan memanggil lirih nama Chanyeol dimana pria itu telah menggegam erat tangannya dan menenggelamkan wajah di lututnya dengan bertumpu tangannya.

Chanyeol terisak seperti anak kecil dengan bahu yang bergetar hebat.

Kai dan Sehun hanya bisa memandang pedih disana, sesekali gerakan tangan Sehun terlihat menyeka bagian bawah matanya setiap kali air matanya nyaris jatuh membasahi pipi.

"Ak-aku.. Aku bersalah padamu Luhan" Luhan berkali-kali mengedarkan pandangannya pada sesuatu lain asal bukan Chanyeol. Wanita itu sudah terisak dengan sangat hebat terlebih ketika suara Chanyeol tertangkap indra pendengarannya. Pria yang saat ini meminta pengampunan darinya benar-benar terlihat menyedihkan, dan Luhan merasa hatinya teremat begitu kuat melihat hal itu. Chanyeol memang telah menyakitinya, namun selama empat tahun terakhir ini pria itu sudah Luhan anggap sebagai saudara sendiri. Luhan terenyuh melihat perjuangan Chanyeol membesarkan Jihan, dan Luhan adalah salah satu saksi dimana Chanyeol terlihat begitu terpuruk dan menyesali kepergian Baekhyun.

"A-aku pernah mencelakaimu, aku memisahkanmu dengan adikmu, aku memisahkan keponakanmu dengan ibunya. Aku benar-benar berdosa padamu Luhan" Tak hanya Chanyeol, Luhan kini juga sudah terisak dengan suara tangis keras layaknya seorang balita. Sehun berkali-kali mengusap air matanya sendiri, dan pada akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi dari sana. Menghindari pemandangan menyedihkan itu.

"Aku—" Sauara Chanyeol terputus-putus oleh isak tangis. "Aku tau aku tak terampunkan, aku—"

"Berhenti Chanyeol-ah, tidak. Kau tak seburuk itu, aku sudah memaafkanmu" Luhan memaksa diri untuk berbicara meskipun sulit. Ia tak akan lagi kuat mendengar segala kalimat Chanyeol yang benar-benar terdengar menyedihkan. Luhan tau pria itu telah begitu kesakitan. "Berdirilah" Luhan meraih pundak Chanyeol dan menuntun pria itu untuk berdiri meskipun sulit karena perbedaan ukuran tubuh mereka. Luhan begitu mungil seperti Baekhyun.

Lantas wanita itu segera menghapus air matanya sendiri, berusaha menguatkan diri. "Dengar, lihat aku!" Luhan memegang kedua pundak Chanyeol. "Jihan akan sangat sedih melihat Papanya seperti ini, tidak ada gunanya lagi kau menyesali semuanya Chanyeol-ah. Aku sudah memaafkanmu sungguh. Aku sudah lama memaafkanmu" Chanyeol begitu terluka, Luhan tau itu.

"Jika memang rasa bersalahmu padaku dan juga Jihan begitu besar, maka berhentilah minta maaf dan berdirilah dengan tegak. Bawa Baekhyun pada kami kembali. Bawa adikku pulang, bawa ibu Jihan pulang. Bawa cintamu pulang Chanyeol" Chanyeol memandang tepat pada mata Luhan. Pria itu dapat melihat ketulusan dari kakak Baekhyun itu. Dan apa yang Luhan ucapkan sedikit membuka matanya. Benar, Chanyeol memang harus membawa Baekhyun pulang pada mereka. Sebab mungkin hanya itulah penebusan yang sidikit sepadan dengan semua kesalahannya.

Lantas wanita itu memeluk Chanyeol layaknya memeluk adik laki-lakinya. Luhan tau, begitu banyak beban yang di pikul pria ini.

.

.

.

.

.

"Papa~" Pekikan riang Jihan menyambutnya. Chanyeol segera berlutut merentangkan tangan menyambut putri kecilnya yang saat ini tengah berlari ke arahnya.

"Baby~" Chanyeol mendekap erat tubuh mungil itu, hari sudah sore, bahkan sinar matahari sudah tidak menampakkan cahayanya lagi.

"Kenapa papa meninggalkan Jihan begitu saja pagi tadi?" Bibir tipis itu mengerucut, mengingatkannya pada bibir seseorang.

"Maafkan Papa" Chanyeol menatap sendu putrinya, dan ia menyadari sesuatu lantas mengubah tatapannya menjadi sorot bingung. "Jihan belum mandi?" Yaa, gadisnya itu terlihat sedikit berantakan dan berkeringat. Baju yang di kenakan Jihan juga sama seperti pagi tadi saat Chanyeol meninggalkannya.

"Dia menolak mandi sejak pagi tadi karena kau pergi begitu saja dan sudah berangkat kerja saat dia bangun" Chanyeol memandang Tuan Park sesaat dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Jihan. Tangannya tergerak untuk merapikan helaian rambut si kecil.

"Oh, sayang. Maafkan Papa hm? Kalau begitu sekarang Jihan mandi bersama Papa bagaimana?" Si kecil mengangguk dan kembali memeluk leher Chanyeol. Lantas pria jangkung itu segera mengangkat tubuh kecil putrinya ke dalam gendongan.

"Jihan melindukan Papa. Apa Papa malah pada Jihan?"

"Oh Tuhan. Tentu saja tidak baby, Papa bersalah, Papa sangat terburu-buru pagi tadi, maafkan Papa" Chanyeol mengecup pipi selembut permen kapas itu, dalam hati berulang kali mengucapkan segala sumpah serapah untuk dirinya sendiri yang begitu kekanakan sampai membuat putrinya berfikir yang tidak-tidak.

Keduanya segera menuju kamar mandi. Sejak kecil, Chanyeol memang tidak mengizinkan siapapun mengambil perannya untuk Jihan, baik memandikan, memakaikan baju pada bayinya semua Chanyeol jalani sendiri. Dia hanya berusaha untuk menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk putrinya.

"Baby, Baby sayang pada papa kan?" Jihan mendongakkan ke belakang memandang Chanyeol mengalihkan fokusnya dari bebek karet yang sedang ia mainkan kemudian mengangguk.

"Papa ingin meminta bantuan pada Jihan, Jihan mau membantu papa?" Mata jernih itu berkedip-kedim lucu, Chanyeol tersenyum memandang paras cantik putrinya.

"Jihan sayang Papa, Papa ingin Jihan melakukan apa?" Si kecil berbalik dan berdiri di atas pangkuan sang ayah, lantas memeluk leher Chanyeol dengan begitu erat.

"Kita akan pergi menjemput Mama, Jihan mau kan bantu Papa untuk membujuk Mama supaya mau pulang bersama kita?" Pelukan itu terlepas, Jihan memang hanya seorang anak kecil berusia hampir 5 tahun, namun atas didikan Chanyeol gadis kecil itu sudah dapat mengerti beberapa perkataan orang dewasa, Jihan adalah anak yang cerdas.

"Mama?" Chanyeol mengangguk, tanpa sadar air matanya lolos begitu saja. Beruntung tetesan air di wajahnya menyamarkan.

"Kita akan menjemput mama, kita jemput mama pulang, hm?"

"Apa kita akan pelgi ke sulga Pa?" Hati Chanyeol mencelos, Ya Tuhan. Dia begitu jahat pada putrinya.

"Tidak, Mama belum pergi ke surga, maka dari itu, Jihan harus membantu Papa untuk mengajak Mama pulang bersama kita, hm?" Anak itu mengangguk berkali-kali sebelum menghambur ke pelukan ayahnya kembali.

.

.

.

.

Hari telah berganti, Chanyeol segera bergegas meninggalkan kantor dan segera pulang sebab sore ini dia akan berangkat ke Gangwon-do bersama putrinya.

"Kau yakin tidak ingin ku temani?" Itu Jongin, pria itu duduk di samping kemudi sebab hari ini ia tidak membawa mobil dan Chanyeol akan mengantarkannya pulang terlebih dahulu.

"Kau akan meninggalkan istrimu lagi? Jangan mengulangi kesalahanku Kim!" Jongin bungkam, ia tau betul bagaimana Chanyeol sedang menghukum dirinya sendiri. Pria itu tidak sedikitpun melakakukan apa yang di perbuatnya dulu pada Baekhyun. Memupuk penyesalannya hingga nyaris membuat pria itu sekarat.

Chanyeol menancap gas cukup kencang untuk segera sampai di rumah Jongin lantas melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Hari suda sore, dan ia harus segera berangkat sehingga saat sampai di Gangwon tidak terlalu larut.

.

.

"Papa" Pekikan bersemangat Jihan menyambutnya. Putri kecilnya itu sedang duduk di depan meja makan dengan menu makan dan tengah menerima suapan dari Yoora. Chanyeol mengeryit heran, tidak biasanya Jihan makan malam seawal ini sebab gadis kecil itu selalu sulit untuk makan malam jika Chanyeol tidak bersamanya.

"Papa, papa belum makan malam kan? Sini makan dengan Hannie, kita halus belgegas supaya Mama tidak lelah menunggu" Sebenarnya Chanyeol malu jika harus menjadi pria lemah, namun ia pun tidak bisa menahan rasa panas pada matanya setiap mendengar penuturan cerdas Jihan terlebih jika itu menyangkut Baekhyun.

Chanyeol menurut pada putrinya, lantas menempatkan diri di kursi samping Jihan. Menerima makanan yang Yoora siapkan untuknya.

"Jihan sudah mandi?" Chanyeol melihat pada putrinya yang sepertinya sudah siap, backpack berwarna biru laut milik gadis kecil itu juga telah bertengger manis di atas meja.

"Jihan dan Yoola imo juga sudah menyiapkan pakaian Papa, benal kan imo?" Yoora mengangguk lantas mencubit gemas pipi tembam keponakannya.

"Dia memaksa ingin menyiapkan semuanya jadi Noona menurutinya. Dia begitu bersemangat Yeol" Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya pada Jihan, memandang gadis kecil itu. Disana, Jihan tengah makan dengan lahap dari suapan Yoora. Kaki kecilnya yang tak sampai pada lantai rumah bergerak riang dengan foto Baekhyun berada di tangan putrinya itu, sesekali bibir tipis khas seseorang tersebut tersenyum setiap memandang figura yang berada di tangan pemiliknya.

'Apa kau sebahagia itu nak?'

Tangan Chanyeol bergerak mengelus lembut surai Jihan.

.

.

.

Mobil Mercedes Benz E-Class berwarna hitam itu melaju membelah jalanan kota di sore yang hangat itu. Chanyeol melirik putrinya yang tampak riang memainkan barbie di tangannya di kursi samping kemudi. Gadis kecil itu terlihat nyaman dengan duduknya, membuat kedua sudut bibir sang ayah tertarik membentuk sebuah senyum hangat.

Perjalanan hampir tiga jam tersebut mereka lalui dengan beberapa kalimat candaan sepasang ayah dan anak tersebut. Bahkan Jihan tidak tertidur sedikitpun dan memilih untuk menemani sanga ayah yang fokus di balik kemudi.

Tepat pukul 19.48 keduanya sampai di Villa keluarga Park. Ini adalah kali pertama Jihan mendatangi tempat itu. Sejak di California gadis itu memang sudah tertarik dengan suasana pedesaan atapun pegunungan sebab tempat mereka tinggal di California juga berada di daerah pegunungan.

"Baby, bisa bantu papa sebentar?" Chanyeol membawa tas berisi baju-bajunya dan juga milik Jihan, lantas pria itu meminta sang putri untuk membukakan pintu. Sebenarnya itu hanya untuk pembelajaran pada si kecil tentang bagaimana caranya menggunakan kunci dan lain-lain. Chanyeol sejak dulu selalu membiasakan putrinya untuk belajar berbagai hal sejak dini meskipun hanya hal sederhana.

"Mama dimana Pa?" adalah pertanyaan pertama yang di tanyakan Jihan sesaat keduanya telah sampai di salah satu kamar yang ada di Villa tersebut, yaa. Itu adalah kamar yang dulu di tempatinya bersama Baekhyun.

Chanyeol menyamakan tinggi badannya dengan Jihan, lantas mengelus lembut surai panjang purtrinya. "Hari sudah malam, Jihan harus beristirahat dulu malam ini hm? Kita akan menemui Mama besok pagi"

"Kenapa halus menunggu besok?" Mata jernih itu berkedip polos, dengan bibir tipis yang mengerucut tanda tak begitu setuju dengan ide sang Papa.

"Karena Mama pasti sudah tidur, kasihan Mama jika kita mengganggu tidurnya. Hannie sabar yaa? Besok pagi, Papa berjanji akan membawa Hannie ke tempat Mama" Gadis kecil itu terdiam sesaat lantas segera memeluk leher ayahnya dengan begitu lembut.

"Hannie dan Mama sangat mencintai Papa, Telimakasih sudah menjadi Papa Hannie" Di balik punggung si kecil, Chanyeol sudah kembali meneteskan air mata harunya. Gadis kecilnya, Putrinya, Jihannya, begitu menakjubkan.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun berkerut kening pada Tao yang hanya duduk di sampingnya. Tangan wanita itu sibuk menyelesaikan pekerjaannya membuat beberapa Kue baru, menu Cafe hari ini.

"Duduk" Sedangkan gadis berkebangsaan China itu hanya menjawab tanpa rasa bersalah pada pertanyaan yang Baekhyun ajukan. Wanita itu memutar bola matanya malas.

"Bukankah aku meminta tolong untuk memetikkan beberapa buah jeruk tadi? Ini sudah jam berapa Taozi? Cafe harus segera dibuka kau tau?" Celotehan Baekhyun menjadi pengisi pagi di Cafe itu. Tao hanya mengangguk santai sembari menyantap Cheese cake yang di berikan Baekhyun padanya.

Hari ini akhir pekan dan seperti biasa, pengunjung Cafe akan semakin ramai. Pagi hari di akhir pekan adalah pagi super sibuk untuk Baekhyun dan Tao, beruntung dua bulan terakhir keduanya telah resmi mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantu mereka sehingga Baekhyun tidak harus mondar mandir antara menyiapkan menu pesanan pengunjung sekaligus mengantarkan ke meja mereka seperti yang ia lakukan sebelumnyam.

"Aku akan membuka cafenya Noona" Jaemin merapikan diri, setelah membersihkan Cafe pemuda itu segera menghampiri Baekhyun, menyesap cairan cafein yang di buatkan Baekhyun untuknya. Percayalah coffe latte buatan Baekhyun adalah yang terbaik.

"Kenapa Renjun lama sekali hari ini?, apa kita berbelanja banyak hari ini eonni?" Tao masih duduk tenang dengan chese cake miliknya yang hampir habis.

"Maka dari itu aku memintamu memetik jeruknya Taozi, Renjun berbelanja banyak hari ini karena persediaan dapur kita hampir habis semuanya" Jaemin hanya tersenyum menyebalkan ke arah Tao, sedangkan wanita panda itu balas melotot tajam pada si menyebalkan Jaemin.

"Aku akan memetikkannya, setelah menghabiskan sarapanku" Baekhyun menggelengkan kepala lantas memilih melanjutkan pekerjaannya.

.

.

.

"Papa wake up" Jarum jam sudah menunjuk angka 9, dan sepertinya sepasang ayah dan anak itu kelelahan hingga baru membuka mata selambat ini. Tepatnya hanya si kecil sebab sang Papa masih terlihat lelap di alam bawah sadarnya.

Jihan memberikan beberapa kecupan di seluruh wajah ayahnya, berharap pria yang dipanggilnya papa itu segera membuka mata. Chanyeol sudah bangun tentu saja setelah pekikan pertama si kecil. Hanya saja, berpura-pura tidur demi lebih banyak kecupan yang akan ia dapat tidak ada salahnya bukan?

"Papa, wake up" Si kecil mulai mengerucutkan bibirnya, lantas segera turun dari atas tubuh ayahnya dan membawa tubuh mungilnya menuruni tempat tidur. Gadis kecil itu berlari keluar kamar dengan rambut berantakan khas bangun tidur. Kaki kecilnya berlarian di sepanjang koridor lantai dua Villa dan segera menuruni tangga lantas berakhir di pembatas dapur. Terdiam beberapa saat disana sembari membawa kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaan.

Setelah itu langkah kecilnya ia bawa menuju lemari pendingin yang ada disana, bibir tipis warisan dari sang ibu itu mengerucut, mata bulatnya kembali mengedar lantas ketika subuah kursi kecil terlihat di sudut ruangan, binar kebahagiaan kembali tercetak jelas di wajah cantiknya. Kaki mungilnya bertumpu pada kursi mini tersebut, mulai dari roti tawar, sekotak susu, beberapa buah-buahan mulai di pindahkannya menuju atas meja makan.

"Umm~" Gumaman kecil menggemaskan keluar dari bibir mungilnya saat satu sendok penuh cokelat mendarat di lidah. Namun beberapa saat berganti menjadi keryitan, tentu saja sayang, itu terlalu manis jika kau memasukkan cokelat satu sendok penuh di mulutmu.

Tangan kecilnya sibuk mengoleskan cokelat pada roti gandum yang ia tata di atas meja. Setelahnya kaki mungilnya kembali berjalan untuk mencapai pantri yang terdapat beberapa gelas disana. Tubuh mungil itu sedikit kesusahan. Jihan bisa di bilang menuruni postur tubuh ibunya, sehingga ia tak setinggi teman-teman seusianya saat ini.

Si mungil itu terlihat begitu sibuk menyiapan sarapan untuk ayahnya. Satu lapis roti dengan selai cokelat yang tercampur dengan strawberry, satu buah pisang, beberapa potongan alpukat yang sebanarnya terlihat berantakan dan tanpa di kupas tentu saja, taburan sereal berbentuk biji-bijian yang umm.., bagaimana mengatakannya?.

Jihan, sayang, itu terlalu sedikit Ya Tuhan. Hanya sejumput yang ada disana, Gadis kecil itu mungkin sedang menirukan Yoora yang biasanya membuat menu sarapan lengkap di atas piring. Terakhir adalah segelas susu yang diletakkan tepat di samping piring berwarna hitam tersebut.

Selesai dengan pekerjaannya, langkah menggemaskannya kembali ia bawa untuk menaiki tangga dan menuju kamar ayahnya lagi.

Di dalam sana, Chanyeol baru selesai merapikan tempat tidur dan bersiap menyusul si kecil yang entah pergi kemana sebelum tubuhnya kembali melompat ke atas kasur sesaat setelah knop pintu terputar. Pria itu pura-pura tidur kembali, astaga.

"Papa, wakie~" Chanyeol menahan senyumannya saat kakinya terasa geli akibat kecupan-kecupan kecil yang di berikan putrinya tepat di telapak kaki miliknya. "Hannie membuat salapan besal untuk Papa" Chanyeol sudah tidak tahan akan rasa gemasnya pada Jihan, maka pria itu segera bangkit dan menyerang Jihan dengan kecupan bertubi-tubi.

"Hwaaa, Papa akan berubah menjadi monster dan memakan putri Hannie" Suara tawa keduanya terdengar begitu riang pagi ini.

"Monstel, monstel Papa lepaskan putli Hannie" Lantas teriakan tawa Jihan terdengar saat tubuhnya di angkat tinggi-tinggi oleh sang Papa dan dibuat layaknya tengah terbang. Chanyeol membawa Jihan untuk turun dan segera menuju dapur.

Keduanya mulai sarapan dengan suara tawa yang tak henti terdengar. Terlebih saat Chanyeol mengeryit dengan wajah lucu ketika merasakan rasa pahit akibat memakan alpukat yang diberikan Jihan, tentu saja karena kulit yang belum di kupas. Gadis kecilnya tertawa sambil bertepuk tangan, sebenarnya lebih kepada tidak mengerti jika wajah ayahnya seperti itu karena rasa getir yang di timbulkan oleh sarapan buatannya.

.

.

.

Baekhyun berhenti sejenak di depan Villa keluarga Park saat matanya menangkap keberadaan sebuah mobil yang tidak asing untuknya. Itu adalah mobil yang sama dengan yang ia lihat beberapa hari lalu saat ia tertangkap basah oleh Chanyeol. Dia baru saja usai mengantarkan makan siang untuk kakek dan nenek Tao sebab Tao sendiri harus memetik beberapa buah jeruk. Salahkan gadis itu sendiri yang sejak pagi memilih bermalas-malasan dan berakhir ia harus barada di kebun saat matahari sudah mulai naik.

Baekhyun bersembunyi di balik tanaman pagar saat terdengar suara gaduh dari arah Villa. Lantas wanita itu segera membekap mulutnya saat matanya menangkap keberadaan dua orang yang sangat ia rindukan.

Di dapan sana, Chanyeol terlihat kepayahan mengejar seorang anak kecil perempuan yang berlari tak ada henti.

"Jihan, biarkan Papa merapikan rambutmu" Gadis kecil itu berlari memutari halaman depan Villa dengan mata melengkung indah akibat tertawa dengan begitu lebar. Di tangannya terdapat satu boneka Barbie yang terombang ambing sebab pemiliknya tak berhenti berlari.

Baekhyun tak lagi mampu menahan air matanya. Itu putrinya, putrinya yang ia tinggalkan tepat di hari ia di lahirkan. Bayi merah yang dulu membuat Baekhyun jatuh cinta pada pandangan pertama kini sudah tumbuh begitu menakjubkan. Putrinya. Chanyeol merawatnya dengan baik.

Lantas wanita itu terkekeh namun dengan air mata yang semakin deras saat menangkap keberadaan Chanyeol yang tengah berlutut terlihat kelelahan untuk terus mengejar Jihan.

"Baby, Papa lelah" tempat Baekhyun bersembunyi tak lebih dari tiga meter dari tempat berdirinya Chanyeol, maka dari itu Baekhyun dapat melihat dengan jelas bagaimana peluh yang menetes di wajah pria itu. "Biarkan Papa merapikan rambutmu setelah itu kita segera ke tempat Mama"

Nafas Baekhyun tercekat. Tetes demi tetes air mata semakin berlomba menuruni pipinya. Chanyeol benar-benar ingin mempertemukan Jihan dengannya?

Rasa bersalah menyeruak menghantam ulu hatinya. Betapa buruk ia sebagai ibu selama ini. Lantas pikirannya berkelana menampilkan bayangan wajah lelah Chanyeol. Bagaimana keadaan pria itu selama ini? Bukankah menjadi orang tua tunggal sangat berat. Baekhyun semakin merunduk saat Chanyeol memandang ke arahnya akibat isak yang lolos dari bibirnya. Lantas dengan perlahan ia mengendap pergi dari sana.

.

.

.

Tao nyaris menjatuhkan satu keranjang jeruk yang berada di tangannya saat atensinya menangkap keberadaan Chanyeol dengan seorang anak perempuan cantik berada di gendongan pria itu berdiri di depan Cafe. Lantas air matanya lolos begitu saja, membuat Jaemin yang berada di sampingnya mengeryit bingung. Pemuda itu mengambil alih keranjang jeruk dari tangan Tao.

Chanyeol tersenyum padanya, sedangkan si cantik yang berada di gendongan pria itu tampak asik merapikan tatanan seikat bunga berbagai warna yang ada di tangannya.

Tao berjalan mendekat, dan isak tangis kerasnya tak lagi ia tahan saat mata bening di depannya teralih bertatapan dengan matanya. Tao mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Jihan.

Mata serupa milik pria yang menggendongnya itu berkedip lucu. "Kau menakutinya" Chanyeol memperingatkan, lantas membuat Tao sadar dan segera menghapus air matanya.

"Hallo, Jihan" semua yang ada disana terdiam untuk sekedar menunggu respon gadis kecil itu. Bahkan Jaemin yang tak mengerti apapun.

Lantas senyum Jaemin dan Chanyeol merekah lebar saat mata sipit Jihan melengkung cantik membentuk bulan sabit akibat dari pemiliknya yang tersenyum hangat. "Hallo, imo" sedangkan Tao justru kembali menangis tersedu-sedu mendengarnya.

.

.

"Pa, Mama will like the flowels light?" Jihan berkali-kali mencium bunga yang berada di genggamannya. Keduanya sudah duduk di salah satu meja Cafe. Jihan tak berhenti berceloteh pada Tao, menanyakan keberadaan Mamanya yang masih belum terlihat sedikitpun sejak mereka mamasuki Cafe itu.

Baekhyun ada disana, menyaksikan semuanya di balik pintu yang menghubungkan bagian depan Cafe dengan bagian penyimpanan bahan baku. Jaemin dan Renjun yang awalnya tidak mengerti keadaan pun kini mulai bisa menebak tentang apa yang terjadi. Tentu saja, bibir tipis khas seseorang yang mereka kenal tercetak jelas disana.

"tentu sayang, Mama akan menyukainya" sedangkan Chanyeol sebenarnya sudah resah sejak tadi. Apa Baekhyun tidak ingin menemuinya dan Jihan? Apa Baekhyun tidak datang hari ini? semua pertanyaan itu berputar-putar di dalam benaknya.

Tao sudah berkali-kali kebelakang dengan berbagai alasan untuk meninggalkan Chanyeol dan Jihan dan beralih membujuk Baekhyun supaya menemui mereka. Namun hasilnya masih nihil, dibelakang sana Baekhyun masih belum berhenti menangis tanpa suara.

Sedangkan hari sudah semakin beranjak sore. Jihan dan Chanyeol masih disana, beruntung si kecil sama sekali tidak terlihat mengeluh ataupun bosan. Gadis kecil cantik itu bahkan berteriak riang saat Renjun mengajaknya memetik jeruk.

"Kembalilah besok Oppa, beri dia waktu" Tao memandang iba, sedangkan Chanyeol mengangguk pasrah.

"Papa lihat, Hannie membawakan banyak buah jeluk untuk Papa" Chanyeol tersenyum, sedangkan Tao sudah merentangkan tangannya menyambut si kecil yang berlari riang ke arah mereka bersama Renjun di belakang tubuh mungil itu.

Cafe sudah sepi sebab hari mulai sore dan sebentar lagi mereka akan tutup.

"Baby, Sepertinya hari ini Mama sedang tidak bisa datang" Bibir itu seketika memberengut, tanpak sedih. Baekhyun membekap bibirnya yang sangat ingin berteriak memanggil nama dua orang yang disayanginya itu di balik pintu.

"Jangan bersedih, besok kita akan kesini lagi dan Imo berjanji, Mama Jihan pasti akan datang" Tao kembali merengkuh tubuh mungil Jihan.

"Janji?" Lantas menyambut kelingking kecil Jihan untuk ia tautkan dengan jari kelingkingnya sebagai tanda kesepakatan.

"Jika Tao imo beltemu dengan Mama, belikan bunga ini untuk mama." Jihan memberikan bunga yang sebelumnya ia bawa, hasil petikannya bersama sang Papa di taman samping Villa.

"Pasti sayang, Imo akan memberikannya pada Mama Jihan nanti"

"Sampaikan pada Mama juga, Jihan dan Papa melindukan Mama. Jihan dan Papa sangaat mencintai Mama. Ingat ya Imo?!" Tao kembali menangis merengkuh tubuh Jihan, sedangkan Chanyeol sudah mendongakkan kepalanya berusaha menghalau air mata yang nyaris lolos dari kedua matanya.

Setelahnya sepasang ayah dan anak itu mulai berlalu dari sana. Jihan berjalan di samping ayahnya dengan beberapa buah jeruk berada di tangannya yang lain.

.

.

"Puas?! Eonni puas?!" Tao berteriak kencang di depan Baekhyun. Jaemin dan Renjun tengah berusaha menengkan gadis bermata panda itu namun emosi Tao terlanjur tersulut.

Baekhyun menangis tersedu-sedu disana. Mendengar bagaimana suara Jihan saat menyebutnya dengan panggilan Mama benar-benar membuat rasa bersalah menghantamnya dengan begitu kuat.

"Bukankah eonni begitu egois? Mereka kesini untuk menemuimu! Astaga, aku benar-benar tak habis fikir dengan—" Kalimat Tao terhenti setelah Baekhyun tiba-tiba berlari bahkan menabrak pundaknya.

"Noona" Renjun ingin mengejar Baekhyun namun di tahan oleh Jaemin.

Baekhyun berlari sekuat yang ia bisa. Deraian air mata masih terlihat begitu deras mengalir dari kedua matanya. Sedangkan bibirnya telah meracau memanggil nama Chanyeol dan Jihan berulang kali.

Di depan sana, Baekhyun dan melihat Chanyeol dan putrinya bergandengan tangan berjalan semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Lantas wanita itu kembali berlari, sekuat mungkin, berharap ia segera bisa merengkuh tubuh mungil itu.

.

.

"Jihan ingin membuatkan hadiah untuk Mama, Papa mau kan membantu Hannie?" Chanyeol tersenyum mengangguk, sebisa mungkin mempersempit langkahnya untuk mengimbangi langkah kecil milik putrinya.

"Besok kita akan kembali menemui Ma—"

Greep..

Kalimatnya terintrupsi, lantas apa yang terjadi di sampingnya berhasil melahirkan sesak luar biasa pada rongga dadanya.

Disana, Baekhyun telah memeluk Jihan dari belakang dengan isak yang begitu menyedihkan.

"Maafkan Mama" Bibir wanita itu terus meracau mengucap kata maaf.

"Mama?" Si kecil tampak ingin berbalik, namun gerakannya terbatas oleh pelukan Baekhyun.

Setelahnya pertahanan Chanyeol runtuh. Pria itu menjatuhkan diri dengan berlutut untuk menyamkana tinggi badannya dengan Jihan dan Baekhyun yang juga tengah berlutut memeluk putrinya. Pria itu menangis, membawa tangan kokohnya memeluk dua perempuan tercintanya. Melepas perasaan rindu yang selama ini nyaris membuatnya sekarat.

.

.

TBC

.

.

Byun Baekhyuuunnnnn.. Happy Birthday my light.

Telat yaa? Wkwkwk, gapapa ya. Jujur ini tuh udah selesai aku ketik dari lama dan rencananya pengen aku Up tanggal 7 tepat keberangkatannya Umin biar kalo mau nangis sekalian gitu hahaha, tapi ternyata pada hari itu diriku tak kuat apa-apa, Cuma nangis nangis dan nangis.

Intinya gitu lah..

.

Marhaban Ya Rhamadhan, selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankan :*

.

Aku gk mau banyak ngomong.

Mian, kalau chapter ini kurang ngefeel. Aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini dan semua story aku ketik dikit demi sedikit gitu.

.

.

Bikin AN gini aja aku mikir banget mau ngomong apa wkwkwk.

Pokoknya gitu lah.

JANGAN LUPA REVIEW

See You :*