Annyeong! Ch 2 is coming. Hehe. Mian rada lama. Pho gak punya waktu buat ke warnet. Kekeke. Mau pake wifi di sekolah ternyata macet. Emang kepsek sialan *curcol

Mian klo chapter ini mengecewakan. Sekali lagi, pho harap readers sekalian sudi meluangkan waktu, energi, dan biayanya untuk mereview epep ini. Gomawo *bow bareng donge

.

.

.

Second meet ~I got u~

.

.

"Eonni, aku berangkat dulu. Ingat, jangan buka pintu apartemen untuk siapapun. Jangan memeriksa email masuk, biar aku nanti yang memeriksanya. Dan jangan angkat telepon kecuali dariku. Arra?" pesan Sungmin panjang sebelum ia berangkat sekolah.

"Arrasseo, Minnie-yah. Kenapa kau jadi lebih cerewet daripada aku? Tenang saja. Aku bisa jaga diri baik-baik." Ucap Heechul sambil mengusap rambut pirang Sungmin.

"Baiklah, aku berangkat dulu! Annyeong!"

"Ne, hati-hati di jalan!"

Sungmin mengacungkan jempolnya dan mengecup pipi Heechul kilat. Ia keluar dan menunggu sampai Heechul menutup pintu apartemen mereka.

Sejak mereka hanya tinggal berdua segalanya menjadi tidak mudah. Orang tua mereka harus mengurus bisnis di China dan Heechul menolak tegas pergi ke sana. Heechul memaksa tinggal di Korea, akhirnya Sungmin ikut tinggal karena tidak ingin Heechul yang emosinya labil kenapa-kenapa.

Sudah seminggu setelah Heechul mendapat email aneh yang diduga dari mantan kekasih Heechul. Pria brengsek yang membuat Heechul kacau seperti ini. Isi email itu memang tidak banyak. Hanya beberapa baris kata berisi kata maaf dan penyesalan. Tapi, cukup membuat Heechul ketakutan.

Sungmin terus berpikir, bagaimana orang itu tahu alamat email Heechul? Sudah tiga tahun mereka lost contact. Sekarang ia kembali lagi. Lebih tepatnya, dari tiga bulan yang lalu Heechul kembali mendapat email yang sama plus telepon dari nomor internasional.

"Orang itu pasti sudah gila!" komentar Sungmin.

Ia heran dengan lelaki. Dengan mudahnya ia menyakiti Heechul tiga tahun lalu, sampai eonninya luka parah seperti itu, sekarang dengan mudahnya juga ia minta maaf dan meminta Heechul kembali. Jangan harap Sungmin mau menyerahkan eonninya pada pria macam itu. Tidak akan pernah!

Dan bicara mengenai lelaki aneh, apa kabar dengan Kyuhyun? Seperti dugaan Sungmin ia pasti super sibuk. Mana mungkin ada kesempatan kedua untuk bertemu dirinya lagi?

Sungmin memukul dahinya. Aneh kalau seorang Lee Sungmin memikirkan tentang pria. Pria tidak jelas lagi. Walaupun dua sahabatnya bilang ia artis terkenal. Eunhyuk dan Ryeowook memang tidak bohong. Ia melihat iklan Kyuhyun di televisi kemarin.

"Kyuhyun sedang ada di Thailand." Ujar Eunhyuk sambil membaca majalah edisi spesial Lee Donghae.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Sungmin tidak yakin. Sebenarnya ia cukup lega juga.

"Tentu saja aku tahu. Aku 'kan up to date."

"Sungmin-ah!"

Sungmin menoleh pada Ryeowook yang dengan rajinnya mengerjakan PR di sekolah.

"Apa kau tidak ingin bertemu lagi dengan Kyuhyun?"

"Buat apa?" Sungmin balas bertanya yang dijawab dengan dengusan Eunhyuk dan Ryeowook yang memutar bola mata sipitnya gemas.

"Tentu untuk memberikan nomor ponselmu." Jawab Ryeowook yang sudah menutup bukunya.

"Tidak mau! Jangan sampai aku bertemu dia lagi."

"Memang kenapa? Sepertinya dia menyukaimu."

"Menyukaiku? Yang benar saja?"

"Aish, kau ini bagaimana sih? Harusnya kau senang disukai oleh seorang Cho Kyuhyun. Dia itu artis, ingat?" geram Eunhyuk sambil menoyor kepala Sungmin.

"Aku masih tidak percaya lho kita semeja dengannya. Mana dia mentraktir kita lagi. Kita benar-benar gadis paling beruntung se-Korea."

"Tapi, ada satu gadis bodoh yang membuang keberuntungannya!" sindir Eunhyuk sambil melirik Sungmin.

"Aku tidak bodoh Lee Hyukjae!"

"Kau bodoh Lee Sungmin. Babo! Babo! Babo!"

Sungmin sudah menyiapkan kuda-kudanya, yang untungnya dihentikan dengan dering bel tanda jam pelajaran pertama dimulai. Dengan terpaksa ia membalik tubuhnya ke depan. Meninggalkan Eunhyuk yang mehrong ke arahnya.

~.~

"Jangan sampai kau menyesal karena membuang kesempatan emasmu, Sungmin!" ucap Eunhyuk saat pergantian pelajaran ketiga.

"Apa maksudmu?" Sungmin memutar tubuhnya untuk menoleh pada Eunhyuk. "Dengar Hyukkie, aku tidak akan menyesali apapun."

"Dimana ya kira-kira tempat yang akan mempertemukan dengan Kyuhyun untuk kedua kalinya?" gumam Ryeowook yang ditujukan pada dirinya sendiri.

"Apa kita perlu ke kedai es krim seperti biasa?" usul Eunhyuk.

"Kita sudah ke sana setiap hari, Hyukkie."

Sungmin cekikikan ke arah Eunhyuk. Ekspresinya seakan mengatakan lihat-siapa-yang-bodoh.

"Kita ke sana lagi nanti?" pinta Ryeowook yang langsung disetujui Eunhyuk.

"Mian, aku harus latihan klub."

"Yakin kau tidak mau ikut, Minnie? Kita bisa menungguimu kok."

"Tidak deh, Wookie. Aku juga harus langsung pulang. Kasihan eonniku di rumah."

"Heechul eonni bagaimana kabarnya sekarang? Dia sudah mau makan kan?" Ryeowook bertanya dengan nada cemas. Mereka memang sudah tahu tentang keluarga Sungmin dan juga Heechul yang sepertinya terkena depresi itu.

"Sudah. Dia baik-baik saja kok." Jawab Sungmin sambil tersenyum.

"Lain kali aku akan memasakkan sesuatu untuknya. Dia suka sekali kan pada masakanku?"

"Boleh. Secepatnya ya, Wookie. Aku lelah memasak tiap hari." Kali ini Sungmin nyengir dengan kebaikan Ryeowook.

"Gwaenchanha. Besok aku akan mampir ke apartemenmu."

"Gomawo. Kau memang sahabatku yang paling baik, Wookie." Sungmin menarik kedua pipi Ryeowook sampai melar.

"Appo!" Ryeowook memegangi pipinya yang tidak chubby sama sekali dengan wajah merengut yang imut.

"Jadi, aku bukan sahabatmu yang baik, Minnie?" Eunhyuk ikut memberengut.

"Aniyo. Kau juga sahabatku yang paling baik, Hyukkie monkey!"

"Aaaaah!"

Giliran Eunhyuk yang pipinya ditarik Sungmin sampai membekas merah.

"Kalau begitu nanti tidak usah makan es krim ya? Kita belanja saja." Pinta Ryeowook masih dengan mengusap pipinya.

"Arrasseo. Tapi, lewat kedai es krim sana ya? Siapa tahu betulan ketemu Cho Kyuhyun."

Sungmin sedikit melengos ke arah Eunhyuk, tapi Ryeowook malah setuju saja dengan Eunhyuk.

~.~

Sungmin tidak jadi ikut Ryeowook dan Eunhyuk belanja karena ia harus ikut rapat mendadak di klub bela diri yang diketuainya. Mau tidak mau ia harus rela pulang sore.

Dan sialnya lagi, Sungmin harus pulang paling akhir karena ia harus beres-beres ruang klub dan menyelesaikan anggaran klub bulan ini yang ternyata lebih rumit dari soal matematika trigonometri.

Langit sudah berwarna jingga saat Sungmin berjalan lunglai keluar sekolah. Ia lelah sekali dan ingin pulang cepat. Semoga Heechul dalam keadaan baik-baik saja saat ia sampai di rumah nanti.

Mata Sungmin menyipit melihat seorang pemuda bersender di depan kap mobil sedan metaliknya. Ia seperti kenal orang itu. Beberapa detik kemudian matanya sudah membelalak saat pemuda itu tersenyum. Uh, senyum evil yang membuat Sungmin merasakan ada aura kelam.

"Heyo, Lee Sungmin! Kita ketemu lagi." Sapa pemuda itu sambil melambaikan tangannya ke arah Sungmin.

Sungmin mendesah malas. Ia tidak ingin berurusan dengan artis manapun sekarang. Terutama yang bernama Cho Kyuhyun. Sungmin melengos, berusaha menghindari Kyuhyun.

"Kau tidak lupa kesepakatan kita kan?"

Seketika itu juga Sungmin berhenti berjalan. Ia menatap Kyuhyun yang kembali menyunggingkan senyum separonya.

"Bukannya kau ada di Thailand?" tanya Sungmin yang teringat perkataan Eunhyuk tadi.

"Aku baru kembali sejam yang lalu. Ehh? Bagaimana kau tahu? Kau memperhatikanku ya? Apa kau mulai ngefans padaku?"

"Jangan konyol! Kau lupa kalau kedua temanku tergila-gila padamu?"

"Hmm, benar juga. Baiklah, sekarang berikan nomor ponselmu!"

"Mwo? Enak saja. Tidak mau!"

"Kau lupa ya dengan kesepakatan kita? Kalau kita bertemu lagi kau harus memberikan nomormu padaku."

"Aku lupa nomorku." Sungmin menjawab asal dengan nada dingin. Ia sudah akan berjalan lagi, tapi Kyuhyun menahannya.

"Tidak kusangka ternyata kau pembohong. Tepati janjimu!"

"Yak! Cho Kyuhyun, aku mau pulang jangan main-main!" Sungmin menghempaskan pergelangan tangannya yang ditarik Kyuhyun.

"Aku tidak main-main."

"Memang apa sih pentingnya nomor ponselku?"

"Tentu saja penting. Supaya aku bisa menghubungimu."

"Untuk apa kau mau menghubungiku?"

"Ya, supaya aku tahu kabarmu dan kita bisa bertemu lagi."

"Masih banyak gadis di luar sana yang bisa kau mintai nomor ponselnya. Jangan aku!"

"Tapi, aku hanya mau nomor ponselmu!"

"Ck! Kau ini menyusahkan saja."

"Kalau tidak mau semakin susah, cepat berikan nomor ponselmu!"

Dengan terpaksa, Sungmin mengambil ponselnya dari dalam tas dan memberikannya pada Kyuhyun. Biar Kyuhyun yang menyalin nomornya. Ia tidak bohong soal ia lupa nomor ponselnya.

"Nah, kalau begini 'kan kau bisa pulang dari tadi."

Kyuhyun mengembalikan ponsel Sungmin yang diterima dengan kasar oleh Sungmin. Ia jengkel berat pada makhluk licik di depannya ini.

"Jangan harap aku mau menjawab teleponmu!" ancam Sungmin.

"Hahaha! Aku akan melakukannya sampai kau menjawabnya. Mau kuantar pulang?"

"Tidak, terima kasih."

"Yakin? Ini sudah sore lho! Bus yang kau maksud sudah pergi lima menit yang lalu dan baru datang setengah jam lagi. Mau menunggu selama itu?"

Dalam hati Sungmin tidak berhenti mengumpat kesal. Bagaimana bisa ada orang yang begitu menyebalkan seperti Kyuhyun?

"Aku bisa jalan kaki."

"Yakin? Aku berani bertaruh kau akan sampai di rumah sakit, bukan rumahmu."
Kyuhyun membukakan pintu penumpang untuk Sungmin. Sungmin masih berdiri, ia menatap Kyuhyun sengit. Kyuhyun hanya tersenyum manis dan mengangguk.

"Jangan takut! Kau akan sampai rumah dengan selamat. Kalau kau takut aku macam-macam, kau kan bisa langsung menghajarku dengan martial art-mu itu."

Ucapan Kyuhyun benar. Sungmin 'kan jago bela diri. Kalau si serigala setan ini bertindak di luar keinginan, Sungmin bisa menghajarnya sampai Kyuhyun harus terpaksa pensiun jadi artis.

Akhirnya, Sungmin menuruti ucapan Kyuhyun. Ia masuk ke mobil mewah itu dengan wajah cemberut.

"Jangan memasang pose imut begitu, aku jadi ingin memakanmu bulat-bulat!"

Sungmin sudah melotot dan mengepalkan tinjunya mendengar ucapan Kyuhyun. Belum apa-apa ia sudah menyebalkan. Mau berhenti jadi artis sekarang?

Kyuhyun terkekeh melihat reaksi Sungmin. "Aku hanya bercanda. Kasihan fansku kalau aku mati sekarang. Tidak elit sekali kalau aku tewas gara-gara dihajar seorang gadis."

"Untunglah kau paham. Tinjuku cukup sakit lho!"

Kyuhyun kembali terkekeh pelan dan melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Sungmin.

~.~

"Kau tinggal di sini?" tanya Kyuhyun sambil melihat bangunan berlantai empat puluh yang jadi apartemen Sungmin.

"Ne, kau keberatan?"

"Tidak. Kau tinggal sendiri?"

"Berdua dengan eonniku."

"Eonnimu? Sekarang dia ada di dalam?"

"Ne. Aish, untuk apa kau bertanya terus?"

"Hanya ingin tahu dan memastikan kalau kau hidup dengan baik. Boleh aku mampir?"

"Tidak boleh. Eonniku alergi pada artis sepertimu. Sebenarnya aku juga sih."

"Kau jahat sekali!"

"Memang. Sudahlah, aku turun dulu. Sampai jumpa!"

Sungmin segera keluar dari mobil Kyuhyun sebelum orang aneh itu berbuat macam-macam. Ia segera berlari masuk ke apartemennya, tidak menghiraukan Kyuhyun yang berteriak memanggilnya. Ia tidak akan menoleh.

Kyuhyun hanya mendesah dan mengambil ponselnya. Mengirimkan pesan singkat untuk Sungmin.

To : Minnimin Lee Sungmin

Kau belum mengucapkan terima kasih

.

From : Minnimin Lee Sungmin

Aigo, baiklah

TERIMA KASIH

Puas?

.

To : Minnimin Lee Sungmin

Sama-sama ^^

Kyuhyun meletakkan ponselnya di dashboard dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat Sungmin sambil tersenyum puas. Setidaknya ia maju beberapa langkah. Ternyata, Sungmin yang manis cukup galak, tidak seperti yang ia bayangkan.

~.~

"Aku pulang!" Sungmin lega luar biasa karena tidak mendapati apartemen yang gelap gulita seperti kemarin. Semua juga tampak rapi seperti waktu ia berangkat tadi pagi.

"Minnie, kau baru pulang?" terdengar teriakan Heechul dan munculnya wanita cantik itu dari arah dapur.

"Ne, eonni. Eonni baik-baik saja 'kan?"

Heechul mengangguk sambil tersenyum. Ia sedikit mengernyit melihat bibir Sungmin yang mengerucut.

"Wae? Ada masalah?"

"Tidak ada. Tidak ada yang mengganggu eonni lagi 'kan?"

"Tidak. Lalu kau kenapa? Tidak biasanya kau pulang cemberut begitu."

"Gwaenchanha. Hanya sebal pada pemuda aneh kurang kerjaan."

"Nugu?"

"Bukan siapa-siapa. Tidak penting kok."

"Pacarmu ya? Aigo, adikku sudah besar."

Heechul mengacak rambut pirang Sungmin dan sukses membuat yeodongsaengnya itu blushing.

"Bukan eonni. Bertemu saja baru dua kali. Aku tidak akan berpacaran dengan orang seperti itu. Dia jahat eonni."

"Apanya yang jahat?"

"Sudahlah, eonni sudah makan?"

Heechul menggeleng. "Aku menunggumu pulang!"

"Baiklah. Kita pesan delivery saja ya? Aku lelah."

Sungmin berjalan menuju meja telepon, meninggalkan Heechul yang masih memandangnya sambil tersenyum. Senang juga adiknya sudah dewasa, semoga dia mendapatkan lelaki yang baik.

.

.

.

Okeh, terima kasih tiada tara buat yang uda review ch 1 kemarin.

Lee hye rin, leehaerin, Aekyo12361, SizunT hanabi, Nurama Nurmala, Sapphire pearls, Minnie chagiy4, LittleLiappe, YuyaLove Sungmin, Yuera Kichito-Cloudeyez91, Kim Ryesha, Sulli Otter, Cho Seo Ryun

Aku terharuuuu *usap ingus di baju donghae* mian kalo ada nama yang salah ketik. Kalian bisa demo ke saya. Mian juga karena gak bisa bls one by one. Aku terlalu bahagia. Huhuhu *pelukan brng Donghae*

Ch 3 mungkin agak lama. Pho kudu fokus buat snmptn. Huft! Hwaiting! Buat yg semua yg bernasib sama kyk Pho mari kita berjuang!