warning(s) : roller-coaster feels, absurd, Kai centric, beda jauh sama yang sebelumnya, gak jelas, gak jelas, GAK JELAS, alur kecepetan, SUICIDE SQUAD!

pas adegannya Joker (Kai) sama Harley(Hunnie) disaranin sih sambil dengerin Kehlani - Gangsta

mendinng baca yang chapter sebelumya yaps, ntar gak ngerti kalo langsung baca yang ini ㅠ.ㅠ

.

SUDAHLAH

.

SAYA LELAH

.

.

.

ENJOYYYYY THE MOST GAK JELAS FF


Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian bangunnya-Jongin-dari-pingsan-lalu-terkena-amnesia. Yang Kai lakukan saat ini hanya tidur terlentang di atas kasurnya, memandangi langit-langit kamarnya dalam diam, sambil memikirkan semua kejadian yang menimpanya. Kai tahu ia sekarang sudah berada di kehidupan kedua, ia tahu bahwa ia telah di berikan kesempatan kedua dengan Sehun.

Sebenarnya mudah saja untuk merebut kembali Sehun, lelaki itu nampaknya tidak memiliki hubungan yang tidak baik dengan dirinya di dunia ini, namun yang membuat Kai ragu-ragu dalam melancarkan aksinya adalah janji Sehun kepada dirinya sendiri sebelum ia meninggal, bahwa ia berharap tidak akan jatuh cinta lagi kepada Kai di kehidupan selajutnya.

dan juga Chanyeol.

Lelaki caplang itu nampaknya sudah menjadi benalu yang melilit Sehun, dan 'mengganggu' usaha pendekatan yang akan Kai lakukan.

Stress dengan pikirannya sendiri, Kai memutuskan untuk berguling-guling di atas kasur sambil menyembunyikan kepalanya di bantal. Ia mengerang cukup keras hingga membuat sang ibu menggedor-gedor pintu kamarnya.

"Jongin! Kau kenapa?!"

Kai langsung mengangkat kepalanya, "I'm fine, mom." Ia terdiam sebentar, "just a little bit tired."

Lalu Kai dapat mendengar gerutuan ibunya yang semakin lama semakin kecil, yang menandakan bahwa sang ibu sudah menjauhi kamarnya. Kai menghela nafas lagi, teringat akan ibu dan ayahnya yang meskipun wujudnya masih sama tetapi sifat mereka berdua sangat berkebalikan dari kehidupan sebelumnya. Ayahnya sekarang hanyalah karyawan perusahaan biasa yang sering menghabiskan waktunya di rumah, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga cerewet nan bawel yang senang memanjakan Kai.

Seminggu yang lalu, Kai hampir pingsan mendadak ketika ia pulang ke rumah dan menemukan kedua orang tuanya menatap dirinya dengan khawatir. Ia sudah menduga bahwa orang tuanya sudah mengetahui berita pingsannya dia di sekolah hingga terkena amnesia. Namun ia begitu terharu ketika ibunya menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan, dan ayahnya yang hampir menyeret tubuhnya ke rumah sakit, ia belum pernah dikhawatirkan oleh kedua orang tuanya seperti ini dulu. Kai sukses membuat ayah ibunya semakin khawatir ketika ia menangis tersedu-sedu di pangkuan mereka.

"Aku rindu sekali dengan Ayah dan Ibu," isak Kai, "maafkan aku yang selama ini cuek dengan kalian, aku tahu ayah menginginkanku untuk menjadi penerusnya sebagai Walikota, tapi aku tidak mau—"

"Jongin…" Kai menatap ayahnya yang menatap dirinya dengan pandangan bingung, "ayah tidak pernah menjadi Walikota…"

Kai mengangkat kepalanya dari pangkuan sang ibu, dan menatap sang ayah dengan heran, "lalu, pekerjaan ayah sekarang apa?"

"Ayahmu hanya karyawan biasa, Jongin." Kali ini giliran sang ibu yang angkat bicara, Nyonya Kim menatap putra semata wayangnya itu dengan heran, "K-kau tidak benar-benar amnesia, kan?"

Kedua mata Kai mengerjap beberapa kali sebelum bertanya kepada sang ibu, "jangan-jangan ibu di sini tidak memiliki perusahaan berlian?"

"P-perusahaan berlian?"

.

"Dude, aku baru menyadari ada perubahan pada dirimu yang sekarang." Ujar Chen—Jongdae, ketika mereka sedang beristirahat di kantin, "kau sekarang sering memperhatikan Sehun dengan kedua matamu itu."

"Jangan bilang kau dendam dengannya!" kini Luhan yang angkat bicara, "padahal ini semua kan salahku!"

"Luhan," Kai tanpa sadar memanggil Luhan dengan nada yang sama ketika ia dulu melarang Luhan kecil melakukan sesuatu.

Luhan memutar kedua matanya, "kau mulai lagi, Jong."

Alis Kai terangkat, "mulai apa lagi?"

"Bertingkah seaakan-akan kau ayahku." Luhan cemberut.

Aku memang ayahmu, sialan. Kai berusaha untuk mengabaikan Luhan.

"Oh!" pekikan Jongdae mengejutkan semua orang, "aku tahu!" ia menatap Kai dengan pandangan curiga, "kau mulai tertarik dengan Sehun, ya?"

"APA?!" suara Kris terdengar keras di telinga Kai, "bro! Kau sudah punya Krystal!"

Luhan memukul bahu Kris yang duduk di sebelahnya dengan keras, "jangan mengagetkan kami dengan kedatanganmu, dong!"

Kris hanya tersenyum polos, membuat Kai merinding sendiri. Ia sadar bahwa semua orang yang ia kenal dulu, di sini memiliki kepribadian yang berbeda dengan sebelumnya. Chen menjadi seorang yang ahli dalam mencampurkan bahan-bahan kimia (sebelumnya, Chen bahkan harus menyogok dosen untuk lulus mata kuliahnya), Luhan menjadi seseorang yang…sangat ingin disebut manly (padahal dulu Luhan adalah sesosok anak yang manis), Kris…well…perubahan sifatnya di dunia inilah yang paling membuat Kai kaget, Kris bukanlah sesosok lelaki yang dulu pernah membunuh mertuanya sendiri, Kris di sini adalah seseorang yang diam, canggung, kikuk, pemalu dan gampang panik. Krystal juga, bukan lagi sesosok Soojung yang mengaborsi bayi yang sedang di kandungnya dulu, Soojung berubah menjadi sesosok wanita cerewet, berisik, berhati lembut namun garang di saat yang bersamaan.

"Kim Jongin!" suara seorang wanita yang familiar menyapa telinga Kai. Ia menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Krystal sedang berdiri di depan pintu kantin dengan tangan di pinggangnya dan mata yang melotot penuh dengan amarah.

"Ow, Jongin sedang berada dalam masalah." Ujar Jongdae yang di sambut dengan tawa oleh Luhan dan Kris.

Sebelum Kai menanggapi Jongdae, Krystal tiba-tiba sudah berada di hadapannya dan membanting setumpuk kertas yang terlihat seperti kertas lembar jawaban ulangan sekolah. Kai menatap tumpukan kertas itu dengan heran, sementara ketiga temannya itu melotot lebar melihat hasil ulangan-ulangan yang ternyata milik Kai.

"Ada apa dengan hasil ulanganku?" tanya Kai heran.

Raut wajah Krystal menjadi jengkel, "kau bertanya kepadaku ada apa?! Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu?!"

"Tidak ada yang salah dengan nilaiku," kata Kai masih keheranan, bukan salahnya ia mendapat nilai jelek seperti ini, salahkan ingatannya yang membuatnya tidak bisa mengingat pelajarannya ketika SMA dulu. Yang Kai ingat sekarang kan hanya bagaimana cara mengendalikan sebuah perusahaan berlian besar, bukannya pelajaran SMA.

Krystal tertawa sarkastik, "begitu? Aku tahu kau terkena amnesia atau apalah itu, aku bisa menerimanya. Tapi, KENAPA KAU JADI BODOH SEPERTI INI, HAH?"

Seisi kantin sontak terdiam ketika jeritan Krystal menggelegar ke sepenjuru kantin, sebagian orang mulai berbisik-bisik, dan sebagian lagi ada yang malah menonton aksi pertengkaran hebat di antara Kai dan Krystal, bahkan sampai ada yang merekamnya.

Kai menatap tumpukkan kertas di hadapannya dengan pandangan blank, "a-aku dulu…pintar?"

Jongdae, Luhan dan Kris menatap Kai dengan pandangan horor, sementara Krystal kehilangan kata-kata, kelihatannya perempuan itu sudah siap pingsan kapan saja setelah mendengar perkataan Kai.

.

"Jadi, tema drama yang akan kita tampilkan tahun ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya."

Kai menatap bosan seorang guru yang sedang berjalan mundar-mandir di atas sebuah panggung besar lengkap dengan tirai merah yang terikat di kedua sisi, persis seperti panggung opera. Ia masih tidak menyangka bahwa di dunianya yang baru ini ternyata ia mengkuti Teater sebagai ekskulnya.

"Apa kau yakin aku ikut ekskul teater?" tanya Kai ragu sambil berbisik kepada Krystal yang duduk di sebelahnya. "Apa aku tidak ikut ekskul lain yang lebih keren? Basket atau futsal misalnya?"

"Diam!" sembur Krystal. Kai terdiam seketika.

Luhan yang duduk disebelah kanan Kai terkekeh, "aku masih ingat drama tahun lalu, drama Hunderella."

"Pfft—Hunderella, judul macam apa itu—" Kai terkikik.

"Sehun cocok sekali jadi Cinderella!"

"—APA? SEHUN JADI CINDERELLA?" tiba-tiba suara teriakan Kai menggelegar di ruang Teater, membuat semua orang menoleh ke arahnya.

Luhan, Kris, Jongdae, dan Krystal menatapnya dengan heran bercampur malu.

"SIAPA YANG JADI PANGERANNYA?" lanjut Kai masih dengan semangat 45.

Luhan menatapnya dengan aneh, "Chanyeol. Tentu saja."

Mendengar itu, Kai langsung manyun, namun ia masih penasaran akan satu hal, "lalu aku? Aku jadi siapa?" ia menunjuk dirinya sendiri.

Jongdae menepuk dahinya, "aku lupa kalau kau lupa." Ia menyeringai, "kau jadi pesuruh Pangeran, tentu saja."

Kai semakin manyun. Luhan dan Jongdae tertawa melihat ekspresi wajah Kai, namun tawa mereka terputus karena suara guru Teater mereka, JYP ssaem (Kai sendiri bingung kenapa gurunya mau dipanggil seperti itu) yang tiba-tiba terdengar kencang.

"Saya sudah memutuskan bahwa tahun ini, kalian, para murid ekskul Teater yang berbahagia, akan menampilkan drama dengan judul 'Joker and Harley Quinn'."

Bermacam-macam respon para murid mulai terdengar, banyak perempuan yang terkikik girang sementara para lelaki mulai memperagakan cara tertawa Joker.

Krystal bergidik, "Ugh, dasar pecinta Suicide Squad."

Kai menatap Krystal bingung, "Suicide apa—"

"Chanyeol-ssi." Panggil JYP ssaem, membuat Kai dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol yang ternyata sedari tadi duduk di pojok ruangan, dengan Sehun di sebelahnya. "Kau jadi Deadshot." Ia mengedipkan sebelah matanya kepada lelaki caplang itu.

"Roger!" balas Chanyeol, lengkap dengan senyuman sejuta watt.

"Oh Sehun!" Kali ini JYP ssaem menoleh ke arah lelaki yang sedang duduk manis di sebelah Chanyeol, "Hmm… kau sepertinya cocok jadi Harley, ya sudah, kau jadi Harley Quinn saja."

Kai dapat melihat kedua bola mata Sehun yang membesar dari ukuran biasanya, ekspresi kagetnya itu masih terekam jelas di kepala Kai, tidak berubah sama sekali, "kenapa saya jadi perempuan lagi, ssaem?"

"Karena kau cocok." Jawab JYP ssaem sambil lalu. Guru Teater itu terlihat mencoret-coret kertas yang ada di genggamannnya sebelum akhinya ia mengangkat kepalanya untuk melihat wajah-wajah para muridnya.

"KIM JONGIN!" Kai yang sedang sibuk menatapi Sehun, akhinya terpaksa beralih dan menatap kaget JYP ssaem yang sedang tersenyum penuh makna kearahnya, "karena tahun lalu akting mu sebagai pesuruh pangeran sangat bagus, maka kali ini saya akan memberikanmu kesempatan untuk mendapatkan posisi terhormat sebagai—"

Semua orang yang berada di ruangan Teater menahan nafas mereka. Sementara Kai sudah siap-siap untuk meloncat bahagia.

"Anak buah Joker."

what the duck…

Terdengar suara tawa dari sepenjuru kelas. Namun suara tawa Luhan dan Jongdae terdengar lebih keras dari pada yang lainnya. Kris hanya tersenyum sementara Krystal menepuk-nepuk pundak kekasihnya itu dengan penuh prihatin.

"Awas kau, Rusa! Onta!" Pelotot Kai marah kepada Luhan dan Jongdae.

"Kau pasti sudah berharap dipilih jadi Joker kan?" tanya Luhan, masih sambil tertawa.

"Lagi-lagi jadi bawahannya Chanyeol, yah meskipun bukan bawahannya secara langsung sih, tapi tetap saja." Sahut Jongdae di sela-sela tawanya, ia tidak tahu bahwa perkataannya itu ternyata membuat Kai semakin panas. Dua kali berturut-turut jadi bawahan saingannya? Hell no!

"Sudahlah, Kai." Ujar Kris dengan kalem, berusaha untuk menenangkan sahabatnnya yang sedang gondok, "mungkin ini belum saatnya kau jadi—"

"KRIS WU, KAU JADI JOKER!" potong JYP ssaem.

"—pemeran utama, eh, APA?!"

.

Pada akhirnya, Kai harus menerima kenyataan bahwa ia akan berperan sebagai anak buah Joker a.k.a Kris, yang artinya ia gagal untuk pdkt dengan Sehun yang jadi Harley Quinn, meskipun ia agak senang karena Chanyeol jadi Deadshot, sehingga ada kemungkinan momen Chanyeol dan Sehun di panggung sedikit.

Krystal mendapat peran sebagai Katana, kata JYP ssaem ekspresi dingin Krystal cocok sekali dengan tebasan pedang Katana. Jongdae akan berperan sebagai Killer Croc, ia sepertinya cukup senang dengan peran barunya itu meskipun Kai terus mengolok-oloknya dengan julukan Killer Camel. Sementara Luhan, yah, ia kali ini harus bernasib sama dengan Sehun, lelaki sok manly itu mendapat peran sebagai Enchantress, sang penyihir.

"Kenapa saya yang jadi penyihir?" protes Luhan pada waktu itu dengan suara tawa Jongdae dan Kai sebagai backsound, "masih banyak perempuan lain di ekskul Teater ini, kan."

Namun perkataannya sama sekali tidak digubris oleh JYP ssaem yang malah sibuk membacakan daftar pemeran drama lainnya. Sementara itu, seorang lelaki bermata seperti kucing yang familiar mendapat peran sebagai El Diablo.

"Xiumin, kau jadi El Diablo." Lelaki yang bernama Xiumin itu hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Oooh, Xiumin jadi El Diablo," gumam Kai, "eh? Kenapa muka Xiumin familiar, ya?" dengan kecepatan cahaya, Kai langsung memusatkan perhatiannya kepada Xiumin, dan setelah menunggu agar otak lemotnya bekerja, ia akhirnya menyadari bahwa Xiumin adalah kekasih lama dari Luhan, putranya dulu, alias Minseok.

"Lu," Kai menoel-noel bahu Luhan yang masih cemberut karena peran penyihir yang di dapatnya itu, "apa kau sekarang pacaran dengan Min—Xiumin?"

"HAHAHA…" kali ini suara tawa Jongdae yang terdengar, "jadi pacarnya Xiumin itu cita-citanya Luhan."

"Apa sih?!" sewot Luhan, namun Kai bisa melihat bahwa wajah lelaki itu memerah.

'Biaralah,' ujar Kai dalam hati, sambil menatap Luhan dengan senyum kebapakan, rasanya ia ingin menangis melihat Luhan berbahagia di dunia baru ini. 'biarkan Luhan bersatu dengan Minseok di dunia baru ini, sebagai balasan dari perbuatanku dulu.'

"Ugh, Jongin! Berhentilah tersenyum seperti ayahku!"

"Ma-maaf…"

.

Kai menatap hasil ulangan Matematikanya dengan heran.

Seingatnya, ia dulu sangat bodoh dalam pelajaran logaritma tetapi kenapa ia bisa mendapat nilai A?

"Ini hasil ulangan yang di laksanakan 2 minggu lalu," suara Kangta ssaem, guru Matematikanya, membuat Kai mengalihkan perhatiannya dari kertas ulangan ajaib itu. "Saya terlalu sibuk mengurusi murid kelas satu yang ingin berkemah hingga lupa memeriksa ulangan kalian."

Ternyata ulangan logaritma ini dilakukan sebelum kejadian 'Pingsan dan Amnesia' itu toh, pantas saja nilainya bagus pikir Kai. Ia baru ingat bahwa dirinya yang dulu, alias Jongin, sangatlah pintar karena berhasil mengerjakan semua soal ulangan dengan nilai perfect.

Kai dapat mendengar Luhan yang mengeluh karena nilainya jelek dan Jongdae yang menertawakan Luhan, sementara Kris hanya memandangi keduanya sambil memegangi kertas ulangan yang bentuknya sudah berubah menjadi bola. Namun pemandangan itu tidak membuat Kai tertarik, ia menolehkan kepalanya ke sudut lain ruangan kelas dan menemukan Sehun dan Chanyeol yang sedang membandingkan hasil ulangan mereka.

Ugh, apa Sehun harus selalu menempel dengan Chanyeol, hah? Pikir Kai sambil berdecih.

Kai menjadi semakin panas ketika Chanyeol dengan penuh kasih sayang mengacak-acak rambut Sehun yang di balas dengan senyuman manis dari Sehun. Ingin rasanya Kai berjalan menuju kedua insan yang sedang bermesraan itu dan menarik Sehun agar jauh-jauh dari Chanyeol.

"Um, Jongin? Ada apa kau menarik tanganku?" Suara Sehun membuat Kai tersadar akan hal yang ternyata telah di perbuatnya. Kai baru sadar bahwa ternyata ia bukan hanya memikirkan akan menarik Sehun dari Chanyeol, tapi tubuhnya bergerak sendiri dan tanpa sadar, ia beneran menarik Sehun jauh dari Chanyeol yang terbengong di pojok kelas.

Kai menoleh ke bawah, tepat ke arah tangannya dan tangan Sehun yang bertautan, mukanya terasa panas karena malu. Namun, bukan Kim Kai namanya kalau malu-malu, jadi yang Kai lakukan adalah tersenyum girang ke arah Sehun lalu melambai-lambaikan kertas ulangannya di hadapan wajah Sehun.

"Jadiiii, Sehun! Berapa nilai ulanganmu? Aku yakin kau pasti dapat nilai bagus berhubung kau adalah pemegang ranking 1 di kelas ini—" Kai menghentikan bicaranya ketika ia melihat Sehun tertawa di hadapannya, suara tawanya yang merdu, eyesmilenya yang lucu, dan apa karena efek cahaya lampu atau efek cinta Kai yang membuat wajah Sehun terlihat lebih bercahaya?

"Jongiiin," ucap Sehun gemas, "sejak kapan aku ranking 1 di kelas?"

"Sehun-ah! Kau lupa kalau Jongin amnesia?" ujar seseorang dari belakang mereka. Mendengar hal itu, ekspresi ceria Sehun langsung tergantikan dengan ekspresi gloomy. Memang semenjak berita bahwa Kai amnesia, Sehun selalu menyalahkan dirinya sendiri, bahkan ia pernah memukuli kepalanya sendiri di depan Kai, yang menyebabkan Kai harus menghentikan lelaki itu dengan paksa atau Sehun juga akan amnesia sama seperti dirinya.

'Tidak,' Kai berusaha untuk menahan dirinya agar tidak memeluk Sehun saat itu juga, 'jangan tunjukan ekspresi seperti itu dihadapanku. Oh! Tidak! Jangan cemberut! Not that pout—'

"Se-sehun? I-itu bukan salah kau kok." Ujar Kai dengan hati-hati, namun Sehun masih tetap gloomy.

"Serius, Hun. Itu bukan salah kau, mungkin itu salah Luhan atau aku—ya! Salah ku! Harusnya aku—"

"DARIMANA KAU TAHU ITU BUKAN SALAHMU, IDIOT? KAU SAJA BAHKAN TIDAK MENGINGAT KEJADIAN ITU!" suara Sehun menggelegar ke sepenjuru ruangan, membuat suasana kelas krik seketika.

"O-oke, S-sehun—"

"KAU TAHU BETAPA MERASA BERSALAHNYA AKU KARENA SUDAH MEMBUAT KETUA OSIS AMNESIA?"

"T-tetap saja itu bukan salah—EH? Ketua OSIS?" Kai tertegun mendengar perkataan Sehun.

Sehun menatap Kai masih dengan wajah gloomy plus bibir yang manyun, membuat Kai semakin gemas saja. "Kau kan Ketua OSIS? Memangna Luhan, Jongdae, Kris dan Krystal tidak memberitahumu?"

Kai hanya mengerjab bingung, tidak menyadari bahwa di belakangnya Luhan, Jongdae dan Kris sudah gelagapan karena lupa memberitahu Kai yang 'amnesia' mengenai jabatannya sebagai Ketua OSIS, jabatan penting yang tidak pernah Kai bayangkan sebelumnya. Cobaan macam apa lagi ini.

"A-aku Ketua OSIS?" tanya Kai galau.

Sehun mengangguk lucu, "kau juga ketua klub dance sekolah kita, masih ingat?"

Crap.

.

Definisikan kata 'sahabat' menurut pendapat kalian masing-masing.

Kalau menurut Kai, sahabat itu adalah seseorang yang harusnya mendukung, menyemangati, memberikan perhatian, saling mengingatkan satu sama lain mengenai hal-hal yang baik, dan masih panjang lagi. Intinya sahabat itu selalu ada untuk kita.

Tapi melihat ketiga orang yang sedang bersimpuh dihadapannya ini, membuat Kai bertanya-tanya akan arti kata 'sahabat' yang selama ini ia pegang teguh.

"GOD!" teriak Kai frustasi. Sementara Luhan, Jongdae dan Kris hanya memasang wajah super memelas. Ia lalu melirik ketiga lelaki itu lagi dan berusaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya agar emosinya reda.

"Kenapa tidak ada yang bilang kalau aku ini Ketua OSIS?! Ketua klub dance?!" Kai meraung, "lalu selanjutnya apa? Ternyata aku ini ketua mafia? Atau pengedar narkoba terlarang di sekolah? Atau jago tawuran antar sekolah? Atau aku, Kim Jongin, ternyata sang pemberantas keperawanan?" lanjut Kai gondok setengah mati. Ketiga lelaki itu menggeleng.

Sebenarnya Kai kesal bukan karena ia peduli dengan OSIS, ia hanya merasa, dengan bertambahnya jabatan yang ia pegang itu artinya tugas yang harus ia lakukan juga semakin banyak, itu juga artinya ia akan semakin sulit mendekati Sehun-nya. Padahal tujuannya datang ke dunia baru ini hanya untuk merebut Sehun kembali, tapi kenapa jadi semakin ribet seperti ini?

"Maafkan kami! Kami benar-benar lupa memberitahumu karena kami merasa kau sangat berbeda jauh sikapnya dengan sebelum kau amnesia, sehingga kami tidak mau membebanimu dengan tugas OSIS juga." Jawab Luhan dengan nada memelas, Kai menggigit bibir bawahnya ketika menyadari bahwa ekspresi Luhan sangat mirip dengan Sehun ketika memelas.

"Klub dancemu juga akan bertanding melawan sekolah lain sebentar lagi, k-kami pikir kau juga lupa semua koreografi dance yang akan kau peragakan, sehingga percuma memberi tahumu." Lanjut Jongdae.

Kai menghela nafas, memang benar ia tidak mengingat sama sekali koreografi yang 'katanya' ia kuasai di klub dance. Hell! Bahkan Kai yakin, seumur hidup, ia sama sekali tidak bisa dance. Dunia barunya ini ternyata lebih kejam dari yang ia pikirkan.

Sekali lagi Kai melirik ketiga sahabatnya yang masih bersimpuh di lantai, ia menghela nafas sebelum akhirnya beranjak menuju pintu kelas, "sudahlah! Sebagai gantinya kalian bertiga harus bergantian mentraktirku makan siang di kantin selama 3 bulan!"

"B-BAIK!"

.

"W-would y-you die f-for m-meeh?"

Ini sudah kesekian kalinya JYP ssaem menghela nafas melihat akting kikuk Kris yang sangat-sangat jauh dari karakter Joker yang arogan. Kai hanya bisa menyaksikan semua itu dari bawah panggung, sambil mengecat kardus-kardus untuk properti drama. Perannya sebagai anak buah Joker memang hanya sebentar saja, jadi daripada gabut, yang ia lakukan hanyalah mengecat kardus dan memotong tripleks, lumayan, sekali-kali bisa curi-curi pandang ke Sehun yang ada di atas panggung.

Dari atas ceiling, Kai bisa mendengar suara tawa Chanyeol yang menggema. Lelaki itu dengan santainya duduk di atas besi-besi panggung yang tinggi, perannya sebagai Deadshot memang mengharuskan lelaki itu menembak dari atas besi panggung, namun Kai tidak menyangka bahwa Chanyeol akan setenang itu bergelantungan di atas besi yang tingginya lebih dari 20 meter itu.

"Kris Wu!" ujar JYP ssaem dengan greget, "kau itu sebagai Joker harusnya sangar! Kau tahu sangar kan? Sangar! Sangar! Grrrrh…" kata JYP ssaem sambil membuat ekspresi wajahnya segarang mungkin dan kedua tangannya membentuk cakaran.

"I-iya, ssaem." Ujar Kris sambil menggaruk kepalanya.

"Action!"

Kris terbatuk sebentar sebelum ia berbalik menghadap Sehun yang berdiri di hadapannya dengan sabar, "q-question…" ia tergagap, "w-would y-you die f-f-for m-mee?"

Kai dapat melihat bahwa Sehun sudah sangat mendalami karakternya sebagai Dr. Harleen Quinzel dengan baik, pandangan teduh Sehun yang ditujukan kepada Kris sangat kontras dengan pandangan gugup Kris. "Yes." Jawab Sehun dengan lancar dan mantap.

"T-that's too e-e-easy…" Kris buru-buru melirik scriptnya, "will y-you…" ia terdiam sebentar, "w-would you l-l-live f-for m-me?"

Kai menggelengkan kepalanya melihat acting Kris yang sangat kikuk.

"I do." Jawab Sehun, Kai tercengang mendengar suara Sehun yang lantang saat mengucapkan I do, membuatnya teringat ketika mereka berdua berdiri di altar, mengucapkan janji sehidup semati…sayangnya, sebelum pikiran Kai berkelana lebih jauh, ia dikagetkan dengan Chanyeol yang tiba-tiba meloncat dari atas dan mendarat tepat di antara Kris dan Sehun.

"Hey, Wu! Kalau kau tidak bisa memperagakan Joker, sebaiknya kau berikan saja peran ini kepada orang lain! Jangan memperlambat latihan kita!" keluh Chanyeol.

Kris hanya terdiam, Kai yang tidak terima melihat sahabatnya di perlakukan seperti itu oleh musuhnya, segera menaiki panggung dan berdiri di hadapan Kris.

"Hoy Park! Ini baru latihan pertama jadi wajar kan kalau Kris belum bisa mendalami karakter Joker? Kita semua tahu bahwa Joker adalah karakter yang paling sulit untuk di peragakan!" balas Kai, sementara Kris di belakangnya mulai bergerak—gerak tidak nyaman.

Chanyeol tertawa meremehkan, Kai mengernyit, Chanyeol sepertinya di dunia ini semakin ngeselin saja. "Alasan! Dia sudah bergabung selama 3 tahun di klub teater tapi tidak ada kemajuan sama sekali dalam aktingnya. Semua pemeran utama di sini setidaknya sudah mendapatkan feels-nya, tapi dia?" Chanyeol memperhatikan Kris dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.

Kedua tangan Kai mulai mengepal, ia dapat melihat Krystal di belakang panggung yang menatapnya dengan khawatir dan Sehun yang berusaha menarik tangan Chanyeol dengan wajah yang tidak kalah khawatirnya dari Krystal. Kai merasa sedikit sesak ketika melihat wajah khawatir Sehun, ekspresi itu dulu hampir setiap hari ia melihatnya, ketika ia pulang malam, ketika ia lupa makan siang, ketika Kai melewatkan jam makan malamnya, Sehun selalu menunjukan ekspresi khawatir yang sama.

Kai mengangkat dagunya, "kalau begitu kenapa tidak kau saja yang jadi Joker?"

Chanyeol menyeringai, membuat Kai sedikit bergidik, "kau menantangku, Kim?" ia melangkah sedikit ke depan agar jaraknya dengan Kai semakin dekat. "Bagaimana kalau kau saja yang jadi Joker, hm? Kita lihat bagaimana ketua OSIS kita yang tak kalah kakunya dengan sobatnya yang satu ini bertransformasi menjadi Joker?" nada bicara Chanyeol yang meremehkan membuat Kai hampir saja melayangkan tinjunya.

"Oke!" Jawab Kai dengan lantang, "aku terima tantanganmu, Park!"

"Jongin," bisik Kris, "apa yang kau lakukan?" namun Kai tidak mengindahkan pertanyaan sahabatnya itu. Ia bisa melihat Krystal yang menutup mulutnya kaget dan Sehun yang matanya membesar. Kai heran, mengapa semua menjadi kaget seperti ini, apa yang salah?

"Well, jangan mundur, oke?" Chanyeol tersenyum miring sebelum akhirnya berbalik dan pergi dari ruang teater. Sementara Sehun hanya terdiam di tempatnya sambil menghela nafas, sebelum akhirnya berbalik dan mengikuti jejak kekasihnya itu. Kai berusaha keras agar tidak menahan Sehun untuk pergi.

Kai akhirnya menghembuskan nafas yang ternyata sedari tadi ia tahan, ia berbalik sambil tersenyum ke arah Kris, "tenang saja kawan! Aku tidak akan mempermalukanmu!" ia berkata sambil menepuk-nepuk bahu sobatnya itu.

"Kau gila, Kim Jongin?!" suara cempreng Krystal menyapa indera pendengarannya, "kau menerima tantangan Park 'Yoda' Chanyeol itu dalam hal akting?!"

Kai menatap perempuan itu dengan bingung, "memangnya kenapa? Akting itu bukannya hal yang sangaaaat sulit, kan?"

Krystal menepuk jidatnya, "duh! Aku lupa kalau kau lupa!" ia menatap Kai dengan pandangan serius, "kau tahu alasan mengapa kau selalu mendapatkan peran sebagai anak buah tokoh lain? Atau kenapa kau lebih disuruh untuk mengecat properti drama daripada akting?"

Kai menggeleng polos.

"Itu karena kemampuan aktingmu bahkan lebih buruk daripadaku." Jawab Kris kalem.

Oh no.

Lagi-lagi salah langkah.

"T-tapi, aku jago dance, kan?" tanya Kai gelagapan.

Krystal menatap Kai dengan jengkel, "Kim Jongin yang pintar, dance dan akting itu adalah dua hal yang sangaaaaaat berbeda, kau pasti tahu itu, karena bayi saja sudah pasti tahu akan hal itu." Ujarnya sarkastik.

Kris hanya menghela nafas pasrah, Kai melirik sahabatnya itu dengan lirih. Sebenarnya ia merasa sedikit bersalah dengan Kris, hanya karena dendamnya dengan Chanyeol di masa lalu ia jadi ikut menyeret lelaki malang itu ke masalahnya. Hanya karena ambisinya ingin merebut Sehun kembali, hanya karena Sehun jadi Harley Quinn dan Kai sangat ingin jadi Joker—

Wait…

Sehun jadi Harley Quinn dan Kai jadi Joker.

Kai nyengir. Sepertinya Chanyeol lupa dengan hal itu.

"KAU TENANG SAJA KRIS WU! SAHABATMU INI AKAN MEMERANKAN JOKER DENGAN SEMPURNAHHHH!" Teriak Kai sambil merebut script dari tangan Kris dan berlari menuruni panggung untuk mempelajari script tersebut, meninggalkan Kris dan Krystal yang terbengong di atas panggung.

"Um…Krys?"

"Ya?"

"Pacarmu sehat?"

.

Sudah seminggu ini Kai berkutat dengan scriptnya, mempelajari karakter Joker secara mendalam, menonton film Suicide Squad berulang-ulang samapi diprotes oleh ibunya karena berebut TV, membaca seluruh komik DC hingga hafal, dan masih banyak hal lain yang ia lakukan demi memperdalam karakternya sebagai Joker. Kai tidak mau ia tampil jelek dan mempermalukan dirinya sendiri dan juga Kris, ia juga ingin tampil serasi dengan Sehun.

Jadwal latihan drama selanjutnya masih 2 minggu lagi karena JYP ssaem akan ikut anak kelas satu camping nun jauh ke pegunungan sana. Ini membuat Kai sedikit lega karena itu artinya waktu latihannya semakin bertambah.

Lihat saja si Park 'sialan' Chanyeol itu nanti, setelah sukses menjadi Joker, akan kurebut kembali Sehun-ku, HAHAHAHA.

Saking konsennya membayangkan bagaimana nasib Chanyeol ketika ia berhasil merebut Sehun, Kai tidak menyadari bahwa sekarang, Sehun, sang pujaan hatinya sudah duduk di hadapannya, bertopang dagu dan tersenyum.

"Kau sangat bersemangat ya, Jongin." Kai yang mendengar suara Sehun langsung terlonjak kaget dari duduknya.

"U-uh…Sehun? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya heran sekaligus gugup karena jarak Sehun yang sedekat ini darinya.

"Duduk, meja lain sudah penuh, jadi aku duduk di sini saja ya." Ujar Sehun masih di lengkapi dengan senyum manisnya yang dapat membuat Kai diabetes mendadak. "Lagipula, aku juga ingin tahu bagaimana kemajuan lawan mainku di drama nanti. Ku lihat, sepertinya kau sangat giat mendalami karakter Joker." Lanjut Sehun.

Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu karena di puji sama doi. "Hehe, ini tidak apa-apa kok." Uh, kenapa dia jadi ooc gini. Kai menatap sekeliling sebelum perhatiannya kembali kepada Sehun, "kemana Chanyeol?"

Sehun memutar matanya malas, "meskipun aku kekasihnya itu bukan berarti aku harus selalu bersamanya, kan?" ujarnya, "lagi pula, kau sendiri ku perhatikan sudah jarang berduaan sama Krystal?"

"Meskipun aku pacarnya, bukan berarti aku harus selalu berduaan dengannya juga, kan?" balas Kai, Sehun yang mendengar itu terkekeh.

"Jangan tiru ucapanku!"

"Haha, baiklah baiklah!" kata Kai, matanya masih tetap memperhatikan Sehun.

"Oh, iya!" Tiba-tiba Sehun berkata, "bagaimana kalau kita latihan bersama saja? Itu akan mempermudah kau dan aku dalam memperdalam karakter Joker dan Harley Quinn. Bagaimana?" tawar Sehun dengan semangat.

Uhh… ditawarin latihan bareng nih.

"Boleh juga," jawab Kai. "Tapi Chanyeol bagaimana?" tanyanya ragu.

"Dia sudah terlalu jago akting, tidak butuh latihan lagi." Jawab Sehun dengan kalem, "jadi?"

Hehehe, ini kesempatan emas! "Baiklah!"

Sehun menganggukkan kepalanya, puas dengan jawaban Kai. "Kalau begitu, besok, pulang sekolah kita mulai latihan bersama ya." Ujarnya sebelum beranjak pergi dari hadapan Kai.

"T-tunggu, dimana?"

"Entahlah. Rumahmu?" Kai dapat melihat Sehun tersenyum kecil, "atau rumahku?"

Kai menelan ludahnya dengan susah payah, ini hanya bayangannya saja atau Sehun terlihat sedang berusaha untuk menggodanya?

"D-di sekolah saja." Akhirnya Kai dapat mengeluarkan suaranya.

"Oke!" dengan itu Sehun langsung pergi dari hadapan Kai. Kai terdiam, namun pandangannya tidak bisa lepas dari sesosok Sehun, apa lagi ketika Sehun berjalan, wow that ass—

"HEY JONGIN! BAGAIMANA KALAU NANTI KITA PERGI KE GAME CENTER BERSAMA?" teriakan Jongdae sukses membuyarkan pikiran 'ena-ena' Kai.

.

Kai kini sedang duduk dengan gugup di dalam ruangan OSIS, setelah mengetahui fakta bahwa ia ternyata adalah ketua OSIS, Kai sesegera mungkin mencari-cari informasi mengenai struktur keanggotaan OSIS agar setidaknya ia bisa mempertanggung jawabkan jabatannya sebagai Ketua, meskipun ingatannya mengenai OSIS tidak ada sama sekali.

Ini sudah kesekian kalinya Kai menghela nafas, pasalnya, di dunia barunya ini ternyata tidak semuanya berubah. Lokasi rumahnya masih sama, meskipun rumahnya sangat berbanding terbalik dengan rumahnya di dunia lama, lokasi sekolahnya juga masih sama meskipun namanya berubah (muridnya juga, tentu saja), wajah orang-orang yang ia kenal juga masih sama, hanya sifatnya saja yang berubah (sebagai contoh, Sehun-nya menjadi sangat agresif di dunia ini).

Krystal memberitahunya bahwa ia sudah memberitahu Suho a.k.a Kim Junmyun, sang wakil ketua OSIS agar menemuinya di ruang OSIS setelah pulang sekolah, dan di sinilah dia, duduk dengan santai tapi gugup di ruang OSIS, menunggu kehadiran Suho.

Kai menolehkan kepalanya ketika ia mendengar pintu ruangan OSIS terbuka, lalu munculah seorang lelaki pendek dengan senyum kalem, mata lelaki itu nampak mencari-cari sesuatu sampai akhirnya terpaku kepada Kai yang kini sudah duduk tegap.

"Jongin?"

Kai terbatuk, "Suho?"

Lelaki yang bernama Suho itu akhirnya masuk ke dalam ruang OSIS dan mengambil tempat duduk tepat di samping Kai, "Krystal bilang kau memanggilku, ada apa?"

"Begini," Kai bingung ingin memulai dari mana, "k-kau pasti tahu mengenai insiden—"

"Amnesia." Jawab Suho pelan.

"Ya! Eh- maksudku," Kai terbatuk lagi, ia membetulkan posisi duduknya agar ia sekarang dapat melihat wajah Suho dengan jelas, "intinya, aku tidak bisa mengingat apapun yang berhubungan dengan OSIS, dan aku tahu jabatanku sebagai ketua OSIS harus dipertanggung jawabkan, maka dari itu," ia menatap Suho yang mendengarkan penjelasannya dengan sabar, "aku ingin menyerahkan jabatan Ketua OSIS kepadamu saja."

Kai dapat melihat kedua mata Suho membulat sempurna, "EH? K-kenapa?"

"Karena kau wakilnya, tentu saja." Kai menatap Suho dengan aneh, "masa aku memberikan jabatan ketua OSIS kepada anggota lain?"

"T-tapi ketua—"

"Sstt—" Kai meletakkan telunjuknya di depan bibir Suho, "sudahlah, kau harusnya merasa terhormat dengan jabatan barumu, ini demi kepentingan OSIS sekolah kita juga bukan?" Suho mengangguk, Kai tersenyum puas.

Masalah OSIS sudah selesai, kini giliran masalah Klub Dance.

Kai kini melangkahkan kakinya ke lantai 4 dimana ruang dance berada, sepanjang perjalanan ia terus memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Taemin, wakil ketua Klub Dance-nya, akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan hal yang sama seperti yang telah ia katakan kepada Suho tadi.

Ketika langkahnya semakin dekat dengan ruang dance, Kai perlahan mulai mendengar suara sayup-sayup musik yang sepertinya berasal dari ruang dance. Rasa penasaran mulai tumbuh di hatinya, jadi Kai malah semakin mempercepat langkahnya menuju ruang dance.

Ternyata, apa yang di temukan oleh Kai membuatnya tidak sanggup bernapas maupun berkata-kata lagi.

Di tengah-tengah ruang dance yang terang, ada sesosok malaikat alias Sehun yang sedang sibuk meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama. Kai, meskipun ingatannya sangat payah, tapi ia mengenali lagu ini, Baby Don't Cry, tentu saja, karena dulu ketika sedang mengandung Luhan, Sehun senang sekali memutar lagu ini berkali-kali.

Seiring dengan lantunan lagu itu, ingatan Kai mulai membanjiri kembali pikirannya, ia ingat ketika Sehun dengan cerianya menuntun tangan Kai untuk berdansa Waltz saat mereka sedang menghadiri acara Amal yang di adakan oleh ayah Kai. Harus Kai akui, kemampuan dansanya sangat payah, ia memang sering menghadiri acara-acara seperti itu, namun ketika waktunya berdansa, Kai selalu menyembunyikan dirinya di pojokan, menolak untuk berdansa dengan siapapun. Sehun adalah orang pertama yang berhasil membuatnya mau berdansa di depan banyak orang, meskipun enggan, tapi harus Kai akui, Sehun sangat indah ketika berdansa.

Saking terlarutnya dengan tarian Sehun, Kai sampai tidak menyadari bahwa Chanyeol sudah berada di sampingnya, memperhatikan Kai dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak.

"Terpesona?"

Kai terlonjak ketika mendengar suara bariton di sebelahnya, ia menolehkan kepalanya dan menemukan Chanyeol sedang tersenyum menyebalkan kepadanya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" kedua mata Kai menyipit, seolah-olah mencurigai Chanyeol.

Chanyeol tertawa, "tentu saja menjemput kekasihku." Ia tersenyum miring sambil melangkahkan kakinya mendekati Kai, "harusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, sedang apa kau di sini?"

Kai langsung jengkel dalam sekejap, "memangnya ketua klub dance tidak boleh melihat bawahannya menari?"

"Ketua klub dance? Benarkah?" Chanyeol menyeringai, membuat Kai semakin was-was terhadap apa yang akan lelaki caplang itu lakukan setelahnya, "kau memang ketua klub dance, atau lebih tepatnya, Jongin yang merupakan ketua klub dance."

Seluruh tubuh Kai menegang ketika mendengar perkataan Chanyeol, apa maksud dari perkataan lelaki itu? Apa jangan-jangan Chanyeol juga mengingat dunia mereka yang sebelumnya?

"Sayangnya, bukan hanya kau yang ingat mengenai kehidupan lama kita, Kim Kai." Kai mengepalkan kedua tangannya erat ketika Chanyeol menyebut namanya, "aku juga ingat semuanya, miris bukan? Aku, musuhmu, yang ingat seluruh kejadian sebenarnya. Luhan tidak ingat apa-apa, begitu pula Kris yang notabenenya pembunuhmu, apa lagi Sehun." Chanyeol tersenyum penuh kemenangan ketika ia menyebut nama Sehun. "Aku tahu kau kesini ingin merebut Sehun kembali, tapi, apakah itu sudah sangat terlambat? Sepertinya usahamu akan sia-sia saja."

Kai dengan brutal menarik kerah kemeja Chanyeol, ia sudah muak dengan lelaki tinggi dihadapannya ini. "Apa yang—"

"Jongin? Chanyeol?"

Kedua lelaki itu sontak menoleh ke arah Sehun yang mucul dari balik pintu dan memandang mereka dengan tatapan heran, Kai dengan segera melepas cengkramannya dari kemeja Chanyeol sementara Chanyeol dengan terburu-buru merapihkan kembali pakaiannya yang kusut karena ulah Kai.

"Hai babe!" ujar Chanyeol ceria sambil melangkah menuju Sehun dan merangkul lelaki yang lebih muda darinya itu dengan mesra, "sudah selesai dengan latihanmu?"

Sehun mengangguk, namun ia masih menatap Kai dengan pandangan bertanya, "apa yang kalian lakukan tadi?" tanyanya.

"Tidak apa-apa, hanya urusan antar lelaki saja." Jawab Chanyeol.

Sehun cemberut, "aku juga laki-laki."

Kai menggigit bibirnya ketika mendengar suara Sehun yang merajuk, ingin rasanya ia berlari dan membawa Sehun ke dalam pelukannya karena ia sudah gemas sekali dengan lelaki itu.

Namun Chanyeol sepertinya tidak begitu mempedulikan protesan Sehun, "sudahlah, ayo pulang. Kau berjanji padaku kalau kau ingin membantuku mengerjakan PR Biologi."

"Ya ya ya." Sehun memutar matanya, lalu pandangannya kembali kepada Kai. "Bagaimana dengan kau Jongin?"

Kai mendadak lupa akan tujuannya datang ke ruangan dance, semua akibat Park Yoda sialan itu. "Uh… aku tadinya ingin menemui Taemin."

"Taemin sudah pulang, lebih baik besok saja kau menemuinya." Sehun berkata sambil membetulkan tasnya yang melorot di bahunya, kemudian Chanyeol nampak membisikkan sesuatu ke telinga Sehun, membuat lelaki itu menghela nafas, "Jongin, aku dan Chanyeol duluan ya. Kau juga cepat pulang sana, sudah sore, hati-hati di jalan." Dengan itu Sehun berjalan dengan sedikit di seret oleh Chanyeol menjauhi ruangan dance, dan tentu saja menjauhi Kai juga.

Kai menghela nafas sambil menatap lantai dengan risau, Park Chanyeol sialan itu ternyata juga mengetahui tentang masa lalu mereka. Itu artinya, sebenci apapun Kai dengan Chanyeol, lelaki itu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membantunya, meskipun ia yakin Chanyeol tidak akan mau membantunya. Tapi di sisi lain, Kai merasa frustasi, ia tidak tahu apa-apa mengenai dunia barunya ini, rasanya seperti bayi yang baru saja lahir tetapi bayi itu sudah memiliki kemampuan berpikir seperti orang dewasa.

'Sialan sekali Park Chanyeol!´geram Kai dalam hati. 'Dari semua orang kenapa harus kau yang ingat?!'

.

"Kau terlihat murung akhir-akhir ini?"

Kai menatap Krystal yang sedang duduk di hadapannya dengan heran, "apa maksudmu?"

Krystal mengangkat kedua bahunya sambil meminum segelas Ice Coffee, "entahlah, kau jadi pendiam sekali—yah meskipun kau memang pendiam, tapi kau tidak sependiam ini biasanya." Perempuan itu menatap Kai dengan pandangan teduh, "apa yang membuatmu khawatir?"

Kai menghela nafas, sudah 3 hari semenjak kejadian Chanyeol di depan ruang dance itu terjadi, dan Kai masih belum bisa mengenyahkan setiap kalimat yang di ucapkan Chanyeol pada hari itu dari dalam pikirannya. Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi dalam latihan dramanya, bahkan dengan berat hati ia beberapa kali harus membatalkan acara latihannya bersama Sehun.

"Hanya terlalu memikirkan peran Joker saja." Jawab Kai sambil lalu, tidak mau Krystal berpikir lebih jauh lagi. Meskipun baru sebentar mengenal Krystal, tapi Kai sudah dapat menebak bagaimana sifat perempuan itu, Krystal adalah sesosok perempuan yang sangat peka terhadap sekelilingnya, jadi ia harus hati-hati jika ingin menyembunyikan sesuatu dari perempuan itu, karena Krystal adalah sesosok wanita yang kritis.

Untungnya, pembicaraan mengenai Joker itu berhasil mengalihkan pemikiran Krystal, "sudah ku bilang kan, kau itu ada-ada saja sih, pakai menantang Chanyeol segala."

Kai mengkerutkan dahinya, "aku juga tidak bisa berdiam diri saja melihat Kris di perlakukan seenak jidat oleh Chanyeol seperti itu."

Sudut bibir Krystal berkedut, "aku tidak tahu apa yang merasukimu, Jongin." Perempuan itu menghela nafas, "harus ku akui kau banyak berubah."

"Aku juga tidak tahu, oke?!" ucap Kai frustasi sembari menjambak rambutnya sendiri, "aku juga tidak tahu mengapa aku seperti ini. God! Kenapa aku harus mengingat hal itu semua—"

"Hal apa?"

Kai langsung tersentak ketika mendengar pertanyaan Krystal, bisa gawat kalau cewek itu tahu semuanya, "bukan apa-apa." Ia meletakkan kepalanya di atas meja. "Bisakah kita tidak membicarakan hal-hal seperti itu lagi? Please?"

"Baiklah jika itu maumu," Krystal menggeser gelasnya ke pinggir meja dan perlahan menarik kedua tangan Kai ke tengah meja, lalu menggenggamnya dengan lembut. "Kau tidak harus menceritakannya kepadaku sekarang, tapi aku akan selalu siap untuk mendengarkanmu kapan saja."

Kai tersenyum mendengar perkataan Krystal, ia merasa sedikit bersalah kepada sesosok perempuan di hadapannya ini, Krystal sudah pasti menyukai—bahkan mencintai sosok Jongin, sementara sosok Jongin itu telah terhapus akibat eksistensi dari seorang Kim Kai, yang bahkan tidak mencintainya sama sekali. Jadi yang Kai lakukan hanyalah membalas genggaman perempuan itu dan berkata, "Terima kasih, Krys."

Krystal tersenyum tulus, "kau tahu aku akan melakukan apapun untukmu, kan?"

Kai balas tersenyum, "aku tahu,"

.

"Do it do it do it…" Kai menatap pantulannya sendiri di cermin, kedua tangannya perlahan terangkat sekan-akan ada seseorang yang sedang menodongnya dengan pistol di hadapannya, "NOW!" ia berteriak.

"Ah sial!" Kai melempar kertas scriptnya ke lantai, sekarang ia sedang berada di ruangan dance, berlatih perannya sebagai Joker sendirian, di hadapan cermin ruang dance yang besar. Sebentar lagi JYP ssaem akan kembali mengajar, itu artinya sebentar lagi mereka akan memulai latihan bersama di ruang teater, dan Kai tidak akan mempermalukan dirinya sendiri ataupun Kris di hadapan Chanyeol sialan itu nanti.

"Kesulitan?" suara bariton yang menyebalkan itu menyapa indera pendengaran Kai lagi, ia mengerang, kenapa Chanyeol ada dimana-mana?

"Apa yang kau mau?" dengus Kai sambil menatap pantulan Chanyeol di cermin.

Namun Chanyeol mengacuhkannya. "Harusnya kau tidak kesulitan dalam memerankan Joker, Kim. Berhubung karakter Joker ini tidak jauh beda dengan kau yang dulu."

Kai berbalik untuk mengahadap Chanyeol, "maksudmu?"

"Yah, kau tahu lah. Arogan, sombong, penuh kekuasaan," Chanyeol tersenyum miring, "sangat kau sekali, bukan?"

"Chan, kau di panggil oleh Jinhwan ssaem," Sehun tiba-tiba memasuki ruangan dan ia terdiam sebentar ketika menyadari bahwa ada Kai di sana, "Jongin?"

"Hai, Sehun." Sapa Kai kikuk.

"Sedang apa kau?" tanya Sehun sambil melangkah mendekati Kai, lalu ia menemukan lembaran script yang tergeletak di lantai di dekat kaki Kai. "Latihan drama, eh? Kalau begitu, aku juga akan latihan denganmu!"

"K-kenapa?" tanya Kai gelagapan.

Sehun mengkerutkan dahinya, "bukannya kau sendiri yang berjanji kalau kita akan latihan bersama di sekolah?"

Kai hanya bisa berkedip menanggapi perkataan Sehun, memang ia pernah berjanji, tapi haruskah Sehun mengatakannya tepat di hadapan Chanyeol?

"Chan, kau ke Jinhwan ssaem sana! Aku dan Jongin mau latihan dulu." Ujar Sehun semangat sambil melempar tas sekolahnya ke pojok ruangan.

Chanyeol hanya mengangguk sambil menatap Kai dengan intens, lalu lelaki tinggi itu sedikit terburu-buru keluar dari ruangan dance, meninggalkan Kai dan Sehun yang berdiri berhadap-hadapan dengan canggung.

"So…" Sehun tersenyum dengan semangat, "kau sedang latihan bagian yang mana?"

Kai memungut kembali kertas scriptnya, "bagian ketika Harley menodongkan pistol kehadapan Joker."

Sehun tersenyum sumringah, "aku suka bagian itu!" ia kemudian mengatur pose tubuhnya dan ekspresi wajahnya mulai serius, "ayo kita coba!"

Kai mengangguk, ia berusaha sebisa mungkin agar tetap tenang meskipun jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Kai memberi kode kepada Sehun agar lelaki itu mulai duluan, dan Sehun membawa tangannya menuju dahi Kai seakan-akan ia sedang menodongkan pistol ke arah lelaki itu.

Kai menutup kedua matanya, berusaha memfokuskan jiwa dan raganya kepada sisi gelapnya yang dulu, Kim Kai yang arogan dan berkuasa. Dengan perlahan, ia mengangkat kedua tangannya, lalu membuka kedua matanya dan kemudian menatap Sehun yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh kebencian namun ada sedikit keraguan di matanya.

"Do it…" suara yang di keluarkan Kai terdengar lebih rendah dari biasanya, "do it do it do it…" ia menyeringai ke arah Sehun, seolah-olah menantang Sehun agar lelaki itu menarik pelatuknya dan membiarkan peluru itu menembus kepalanya, "NOW!" dengan sigap ia menepis tangan Sehun dan menarik lelaki itu agar tubuh mereka saling menempel erat.

"Wow…" ujar Sehun terpana, Kai mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya ia menyadari bahwa jarak antra ia dengan Sehun sudah tidak ada lagi. Dengan cepat, Kai melepaskan tubuh Sehun dan mundur beberapa langkah, berusaha untuk menetralkan jantungnya.

"Kau—wow…" Sehun menatap Kai dengan tatapan memuja, "your acting is on point, eh?"

"Uh…"Kai bingung ingin berkata apa.

"Okay, next!" Sehun membolak-balik script milik Kai, "Aha!" ia menunjukkan Kai halaman yang ia maksud.

Kai mengangkat sebelah alisnya, "ini ketika Harley lompat ke cairan kimia, bukan?"

Sehun mengangguk dengan semangat, "JYP ssaem bilang, nanti ketika drama aslinya kita akan terjun bebas ke arah air yang sudah di beri pewarna."

"O-oh, oke." Kai kemudian berjalan menuju tasnya dan meletakkan benda itu di depan Sehun. "Anggap saja itu batas wadah kimianya."

Sehun mengangguk lalu memutar badannya agar menghadap tas yang tadi Kai letakan di hadapannya, sementara Kai memundurkan langkahnya ke belakang Sehun sedikit untuk memberi jarak di antara keduanya. Namun tiba-tiba Kai teringat akan sesuatu.

"Hei, Sehun?" Sehun berbalik dan menaikkan alisnya, tanda bahwa ia bertanya, "kau tahu, aku sudah menonton film Suicide Squad dan ketika adegan Harley dan Joker terjun ke cairan kimia itu mereka akan—uh… kau tahu apa maksudku?"

"Berciuman?" Kai hampir tersedak mendengar Sehun berkata begitu gamblangnya. "Tentu saja kita juga akan melakukannya, dan bukan hanya adegan itu saja, kau tahu lah bagaimana hubungan Harley dan Joker itu."

Oh. My. God.

.

"Mengapa tumben sekali kau mengajakku pergi jalan-jalan seperti ini?"

Kini Kai dan Sehun sedang duduk bersebelahan di sebuah bis yang akan membawa mereka ke kawasan Dongdaemun. Ini ide Sehun. Ia berpikir bahwa dengan jalan-jalan dan menghabiskan banyak waktu bersama, chemistry antara dirinya dan Kai perlahan-lahan akan semakin kuat.

"Oh ayolah, I'm bored, beside aku sudah lama sekali tidak jalan-jalan dengan teman karena Chanyeol selalu memonopoliku, ugh." Gerutu Sehun, tapi sedetik kemudian lelaki itu tersenyum kembali. "Hari ini kita akan bermain sepuasnya!"

"Tidak apa-apa, selama bayar sendiri." Gumam Kai tetapi masih bisa di dengar oleh Sehun.

"Pelit sekali kau! Dasar tidak gentleman." Ricuh Sehun.

Kai memutar matanya malas, "uang jajanku sedang krisis, oke?"

Bus mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Di detik ketika Kai baru menginjakkan kakinya ke tanah, Sehun langsung dengan semangat menarik tangannya menuju sebuah toko aksesoris yang terletak di ujung jalan.

"Jongin! Kau harus mencoba ini!" pekik Sehun girang sembari mengangkat bando berbentuk tanduk setan.

"Kau mengejekku ya?!" hardik Kai, sambil menatap bando itu dengan horor.

Sehun berdecih, "kau kan akan berperan menjadi Joker…"

"Ya tapi bukan tanduk setan juga!"

Setelah beberapa menit berdebat dengan hebohnya hingga sang pemilik toko harus turun tangan dalam melerai mereka, akhirnya kedua lelaki itu keluar dengan hiasan yang berbeda di kepala masing-masing.

"Kyaa! Jonginnie cute sekali pakai bunny ears seperti itu!" cemooh Sehun dengan suara yang dibuat-buat menyerupai perempuan.

Sementara Kai hanya menggeram malas, "ini tidak adil! Mengapa kau dapat mahkota sementara aku telinga kelinci menjijikan seperti ini?!"

Sehun mengangkat kedua bahunya dengan cuek, "jangan salahkan aku, salahkan pemilik toko yang memberikan ini kepada kita."

Akhirnya, yang mereka lakukan adalah keluar masuk berbagai macam toko dengan Sehun yang semangat berbelanja dan Kai yang ogah-ogahan karena baper pakai bando kelinci seperti itu, membuat orang-orang yang melihatnya tertawa dan bahkan ada yang memfotonya. Sementara Sehun, semua orang memperlakukannya bak Raja karena mahkota di kepalanya. Dibukakan pintu, dipilihkan baju, dipakaikan sepatu, bahkan sampai ada yang mengira bahwa ia adalah Raja sungguhan. Memang sih, Sehun punya wajah anggun bak pangeran-pangeran kerajaan. Tapi bagi Kai yang memakai bando kelinci, perlakuan itu tetaplah sangat tidak adil.

"Nini! Bagaimana dengan baju ini?" tanya Sehun sambil memperlihatkan kaos berwarna hitam dan putih.

Kai melotot mendengar panggilan baru Sehun untuknya, "Nini?!"

Sehun mengangguk, "Iya, Nini. Lucu kan? Cocok untuk kau yang sedang memakai bando kelinci seperti itu." Ujar Sehun sambil tertawa, diikuti oleh pelayan toko lain. Habis sudah harga diri Kai.

"YAH! OH SEHUUUN!"

.

Kini kedua lelaki berbeda warna kulit itu sedang menikmati bubble tea dan ayam goreng dengan santainya. Sehun dengan semangat meminum bubble teanya sementara Kai dengan lahap memakan ayam gorengnya. Sudah 3 jam mereka berjalan-jalan mengelilingi Dongdaemun, sudah tak terhitung lagi berapa banyak uang yang telah mereka keluarkan untuk sekedar shopping. Kai sangat menyayangkan mereka yang tidak membawa mobil karena belanjaan mereka pasti akan sangat sulit jika di bawa naik ke atas bus.

"Kita kurang latihan dibagian cairan kimia itu," ujar Sehun sambil membolak-balik script miliknya, sementara Kai masih sibuk melahap ayamnya.

"Kau kan tinggal lompat saja." Balas Kai santai.

Sehun mendengus jengkel, "iya sih, tapi kalau melihat actingmu yang bagus itu, rasanya aku masih kurang latihan."

"Jangan bersedih, Hunnie." Kai berkata dengan nada mengejek, "Hunnie pasti bisa acting seperti Nini."

Sehun tertawa mendengar perkataan Kai, sementara Kai ikut-ikutan tertawa hanya karena Sehun tertawa. Entah mengapa, Kai selalu ingin tertawa jika sudah mendengar suara tertawa Sehun.

"Tapi setidaknya kita sudah pernah berlatih semuanya." Kai menarik kesimpulan sendiri sambil membersihkan sisa-sisa ayam goreng di mejanya.

"Hm…" bibir Sehun sedikit manyun, "tapi ada satu hal yang belum pernah kita latih."

Kai berusaha memikirkan hal apa yang belum mereka latih, seingatnya mereka sudah berlatih semua scene yang ada di script, bahkan Kai sudah susah-payah berlatih agar tertawanya sama dengan Joker.

"Duh, Jongin." Sehun berkata sambil menatap Kai dengan muka merajuk, "masa kau lupa? Kita belum latihan kissing scene!"

"WHAT?!" apa Kai tidak salah dengar? "Masa adegan seperti itu harus di latih juga?!" Bukannya Kai tidak mau (sebenarnya sangat mau malah) tapi ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya jika sudah seperti ini.

"Ya tentu saja! Aku kan belum pernah menciummu, jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya! Kalau Jokernya Chanyeol sih sudah tidak perlu latihan lagi!" ujar Sehun.

Kai gelagapan, "y-yah…l-lalu bagaimana…"

Sehun dengan tiba-tiba menggebrak meja mereka, "Yak! Kita latihan di sini saja!"

Kali ini mata Kai membulat mendengar perkataan 'berani' Sehun, ia tidak menyangka Sehun ternyata penyuka PDA. "DI SINI?! DI DEPAN UMUM?!"

"Ada yang salah?" tanya Sehun dengan santai. "Lagipula ini hanya untuk drama saja, kenapa kau heboh sekali sih? Jangan-jangan kau belum pernah berciuman sebelumnya ya?" tanya Sehun dengan nada menuduh.

"Jangan meremehkan aku, Sehun!" Kata Kai bangga sambil menepuk dadanya sendiri, "careful, I'm a great kisser." Ujarnya dengan nada menggoda.

Sehun menatapnya dengan pandangan meremehkan, ia lalu bangkit dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Kai yang duduk di seberangnya, kedua siku Sehun bertumpu kepada meja dan jarak wajah mereka kini hanya tinggal beberapa centi.

"Prove it, then."

Kai tersenyum miring sebelum akhirnya salah satu tangannya bergerak untuk memegang dagu Sehun, saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Sehun, Sehun, Sehun, dan Sehun. Tidak ada yang lain. Persetan dengan semuanya, saat ini yang ia inginkan hanyalah Sehun.

Dan ketika bibir mereka bertemu, yang Kai rasakan adalah euphoria yang meletup-letup di sekujur tubuhnya. Selama sesaat, bibir mereka saling menekan dengan panas, tangan Kai yang bebas bergerilya menuju rambut Sehun. Sehun meletakkan kedua tangannya dengan ringan di sekeliling leher Kai, di atas bajunya, Sehun bisa merasakan otot-otot bahunya, keras dan mulus. Tangan Sehun beralih untuk meremas bagian belakang rambut Kai dengan pelan, ia mengerang ketika merasakan bibir Kai mengulum bagian bawah bibirnya dengan cara yang dapat membuat dirinya bergetar. Dan Kai tidak bisa berhenti tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Membuat Sehun akhirnya melepaskan dirinya dan tertawa.

"Ini gila," kata Sehun, sementara Kai hanya tersenyum melihatnya. "Aku tidak pernah menciummu sebelumnya tetapi kenapa rasanya terlalu familiar?"

Mereka berdua akhirnya hanya duduk berhadapan dengan senyuman yang masih terpasang di bibir masing-masing. Ingin rasanya Kai mencicipi bibir itu lagi, fuck Chanyeol¸ ia sudah tidak peduli dengan fakta bahwa ia baru saja mencium kekasih dari Park Chanyeol, dan fakta bahwa ia juga sudah memiliki kekasih, tidak pernah terlintas sedikitpun di pikirannya saat ini. Otaknya hanya terus mengulang kejadian dimana ia dan Sehun tadi 'latihan' untuk adegan ciuman mereka nanti.

"Sudah jam 5 sore, ibuku pasti mencariku." Sehun akhirnya bangkit dari duduknya sambil membawa barang belanjaannya yang berjumlah tidak sedikit itu.

"Ku antar kau pulang." Ujar Kai pelan.

Sehun tersenyum kecil, "sudah menjadi seorang gentleman, hm?"

Kai hanya tertawa, Sehun selalu berhasil membuatnya tertawa, "anything for you, My Quinn."

.

Sudah seminggu berlalu dan hubungan Kai dan Sehun semakin dekat, bahkan mereka sudah saling bertukar nomor handphone masing-masing. Kai tidak menyangka, bahwa usahanya dalam mendekati Sehun ternyata sangat mudah, meskipun hubungan mereka hanya akan berada di tahap 'pertemanan' saja. Tapi setidaknya Kai sudah sangat puas akan hal itu.

'Aku punya ide lain.' Ujar Sehun pada suatu malam ketika mereka telfonan.

Kai berguling di kasurnya sambil tersenyum, "Apa?"

'Bagaimana kalau aku mulai memanggilmu dengan sebutan Puddin'?' tanya Sehun bersemangat, Kai bisa menggambarkan Sehun yang meloncat kegirangan di atas kasurnya.

"Ide bagus," Kai bergumam, "apa Chanyeol tidak akan cemburu?"

Di seberang sana Sehun tertawa, 'ia tidak akan cemburu hanya karena drama, he's professional.'

"Terserah kau saja, aku yakin Krystal juga tidak keberatan." Balas Kai, "lalu kapan kita latihan lagi?"

'Besok!' jawab Sehun semangat, 'aku sudah menemukan feels yang tepat untuk beberapa adegan…'

Kai hanya tersenyum mendengarkan celotehan Sehun yang tidak ada henti-hentinya, nampaknya lelaki itu selalu punya bahan untuk di bicarakan. Tak heran jika Sehun cukup terkenal di sekolahnya, karena anak itu punya skill komunikasi yang bagus. Namun, Kai tidak akan pernah lelah mendengar seluruh ocehan seorang Oh Sehun, jika boleh, Kai malah lebih memilih untuk mendengarkan Sehun bercerita seharian daripada bersekolah selama 1 jam.

"Sehun-ah…" tiba-tiba Kai memanggil nama Sehun yang membuat Sehun menghentikan ceritanya.

'Ya?'

'Aku mencintaimu…' Kai ingin sekali berkata seperti itu, namun ini bukan saatnya, ia tidak akan mengatakan itu sekarang, mungkin nanti, tapi yang pasti ia akan mengatakannya.

"Ah tidak," Kai terkekeh, "hanya ingin mengingatkanmu untuk berhenti sejenak, kau bercerita tanpa ada titik dan koma."

'Uh…ku kira ada apa,' Sehun menggerutu, membuat Kai tertawa, 'sebagai balasannya aku akan menceritakan kisahnya dalam versi yang lebih panjang…'

Yah, Kai will definitely love it.

.

Kai kini sedang berjalan bersisian dengan Krystal menuju kelas perempuan itu, ia hanya terdiam sambil mendengarkan Krystal mengoceh tentang banyak hal, mulai dari tugas yang menumpuk hingga peran Katana yang membuatnya harus berlatih memainkan pedang. Ia tidak tahu harus merespon apa, Kai bukanlah orang yang responsif sehingga yang ia lakukan hanyalah mendengarkan dengan seksama dan beberapa kali menganggukkan kepalanya. Dan lagipula ia masih sibuk mengulang kembali sesi 'latihan' kissing scene nya bersama Sehun kemarin, membuatnya agak sedikit bersalah dengan Krystal yang ia acuhkan dari tadi.

"Kau tahu apa yang Mrs. Lim katakan ketika ia membaca essay ku? Ia berkata ' oh my gosh, Krystal! What kind of essay is this? Don't you think I deserve more than a piece of junk like this? Blah blah blah…ugh…"

"She's so mean." Hanya itu yang bisa Kai katakan.

Krystal mendengus sebal, "I know, right." Ia kemudian memeluk lengan Kai dan menyenderkan kepalanya di pundak lelaki itu. "Rasanya aku ingin menendang wanita tua itu nun jauh hingga ke Antartika sana—Ouch!"

"Puddin'!" Seluruh tubuh Kai menegang ketika tubuhnya ditubruk dari arah belakang, ia bisa merasakan sepasang tangan lain melingkari tubuhnya dan yang membuat jantung Kai bertedak tidak karuan adalah ketika ia menyadari bahwa yang sedang memeluknya dari belakang ini adalah Oh Sehun.

"Sehun?!" pekik Krystal.

Sehun menyeringai dari sisi lain tubuh Kai, "Halo, Krys. Maaf ya, kau harus berbagi pacarmu denganku sebentar."

Kai menutup wajahnya dengan tangannya sendiri sementara Krystal menatap kedua lelaki itu dengan bingung, "you mean…?"

"Listen, girl. What I mean is, berhubung aku mendapat peran sebagai Harley Quinn dan kekasih tampanmu ini kebetulan mengajukan dirinya sendiri untuk menjadi Joker, kita harus berlagak seperti Harley dan Joker di sekolah agar mendapatkan feels lebih untuk drama nanti, iya kan, puddin'?" Sehun semakin bergelayutan manja di tubuh Kai.

"Bagaimana dengan Chanyeol?"

Sehun melambaikan tangannya dengan cuek, "ia sibuk latihan menembak dengan Jinhwan ssaem, sedikit mengkhawatirkan juga sih, takutnya ia malah menembak orang-orang yang tidak di sukainya. Kau tahulah Chanyeol itu seperti apa orangnya." Sehun lalu tertawa.

Kai menelan ludahnya dengan gugup, sial, kalau Chanyeol malah menembaknya beneran dengan pistol beneran juga, bagaimana? Ia kan berada di puncak daftar orang yang tidak di sukai oleh Park Chanyeol.

"Nah, Krystal." Kata Sehun dengan nada manis semanis gula, "bagaimana kalau kau pergi ke kelasmu sendiri, sementara Jongin dan aku pergi menuju kelas kami, kau kan gadis cantik nan pemberani…" dari nadanya sudah jelas Sehun mengusir Krystal.

Bibir Krystal sedikit cemberut, "fine." Ia kemudian mencium pipi kiri Kai sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Kai dan Sehun yang masih setia bergelayutan di tubuh Kai, "bye Jongin."

"Bye bye!" Sehun balas melambaikan tangan dengan semangat ke arah Krystal yang kini mulai menghilang di antara kumpulan para murid, kemudian dengan cepat ia menolehkan kepalanya ke arah Kai yang masih menegang. "Sooo…Puddin'? Are you ready to play?"

Kai menghela nafas, "Chanyeol tahu kau begini?"

Sehun kini melepaskan pelukannya dan sekarang ia berjalan di sisi kanan Kai, "sudah, anehnya ia tidak berkomentar apapun, biasanya ia langsung marah terbakar api cemburu." Sehun terkekeh.

Aneh, pikir Kai.

.

Kai harus mengendalikan dirinya sendiri agar tidak meloncat dengan girang ketika Sehun menyuapinya makanan saat jam istirahat.

Sementara itu, Kris, Luhan, dan Jongdae duduk di hadapan mereka dengan jengkel, kzl karena tidak ada pasangan buat suap-suapan seperti Kai dan Sehun, maklum para jones.

"Aduh, plis, stop. Ada jomblo di sini." Ujar Jongdae bete.

"Makanya, cari pacar sana, gak bosen jomblo terus?" ujar Sehun nyelekit.

"Ih, Hunhun…" kini giliran Luhan yang angkat bicara, "setidaknya kita gak nyuapin pacar orang sih…"

Sehun menatap Luhan dengan pandangan di sipitkan, "ini kan demi peran semata, benar kan, puddin'?" Sehun menatap Kai dengan pandangan minta dibela.

"Ya ya ya," ia menyeringai, "anything for my baby."

Kedua mata Sehun nampak berbinar, ia lalu menubruk tubuh Kai dan memeluknya erat, "Puddin'! You're the best!" Sehun lalu berbalik untuk menatap Luhan yang semakin bete, "makanya Lu, cepat nyatakan perasaanmu kepada Xiumin, nanti keburu di ambil orang hayooo." Kali ini Kris dan Jongdae terkekeh mendengarnya.

"No way!" Luhan cemberut. "Masa aku yang memulai duluan?"

"Luhan…Luhan…" Sehun menggeleng-geleng prihatin, "ini sudah zamannya uke mengambil langkah duluan. Seme gentle seperti Xiumin sudah mulai punah, jadi cepat gebet sebelum di gebet orang lain!"

Luhan nampak sedang berpikir untuk beberapa saat, "benar juga ya."

"Ku dengar ada beberapa adik kelas yang mulai mendekati Xiumin lho." Kali ini Jongdae ikut-ikutan memanas-manasi Luhan. "Kau bisa kalah cepat!"

Luhan mengangguk dengan semangat, "Eh tapi…" ia sepertinya teringat sesuatu sebelum ia berteriak, membuat Kris malang yang duduk di sebelahnya harus menutup telinganya karena suara cempreng Luhan, "KENAPA AKU YANG JADI UKE?! AKU KAN SEME!"

Sehun berkedip beberapa kali dengan bingung, Kai yang mendengar perkataan Luhan juga jadi ikutan bingung, maksudnya apa? Bukannya Luhan memang uke—

"AKU INI SEMENYA UMIN, ENAK SAJA!" Suara Luhan kini mulai menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.

"Lu…pelankan sedikit suaramu." Bisik Kris.

"TIDAK!" Luhan kembali berteriak.

Sementara Jongdae dan Kris berusaha untuk menenangkan Luhan, Kai bisa merasakan Sehun yang semakin lama semakin merapatkan tubuh mereka. Ia sekarang bisa merasakan deru nafas lelaki itu di lehernya, membuat seluruh tubuhnya semakin menegang.

"Ayo kita pergi dari sini." Bisik Sehun.

"Kemana?" balas Kai.

Sehun tersenyum penuh arti, "kau akan tahu nanti." Kemudian ia bangkit dan menarik tangan Kai agar mengikutinya keluar dari kantin yang ramai karena teriakan Luhan.

.

Ternyata Sehun malah membawanya ke atap sekolah mereka.

Seumur-umur, Kai tidak pernah menaiki atap sekolahnya. Bisa dikatakan bahwa pemandangan dari atas sini terlihat sangat indah, letak sekolah di atas perbukitan kecil membuat mereka dengan mudahnya melihat pemandangan kota Seoul dari atas atap sekolah.

"Biar ku tebak, kau sering ke sini sendiri?" tanya Kai.

"Dengan Chanyeol, lebih tepatnya." Balas Sehun, "tapi akhir-akhir ini dia giat sekali belajar menembak sehingga jarang kita menghabiskan waktu bersama lagi."

Bayangan Chanyeol dengan pistol terlihat mengerikan di pikiran Kai.

"Lalu kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Kai penasaran, ia kemudian berjalan mendekati Sehun yang bersender di pagar pembatas.

Lelaki yang lebih muda itu mengangkat bahunya, "entahlah, rasanya aku ingin berbagi pemandangan ini denganmu." Sehun kemudian memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Jantung Kai untuk kesekian kalinya berdegup dengan cepat melihat betapa indahnya Sehun sekarang, perasaan menyesal mulai merambati hatinya hingga begitu menyesakkan, mengapa baru sekarang ia sadar bahwa Sehun begitu indah, begitu mempesona…

"Kau tahu, Jongin…" jeda sebentar sebelum Sehun akhirnya melanjutkan perkataannya, "pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalamnya hingga rasanya kau akan melakukan hal paling gila sekalipun untuknya? Seperti apa yang Harley Quinn rasakan kepada Joker?"

Kai memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah kota Seoul, tidak kuat jika harus berhadapan dengan wajah Sehun terus menerus. "Pernah." Jawabnya pelan, "aku sedang merasakannya saat ini."

"Dengan Krystal pasti." Ujar Sehun.

'Denganmu, bodoh!' teriak Kai dalam hati.

"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi…" Sehun menghirup udara dengan senyuman yang selalu membuat Kai terpesona, "aku juga sedang merasakannya sekarang, God, you have no idea how much I love him."

Mendengar perkataan Sehun yang seperti itu, jantung Kai yang awalnya berdetak cepat tak karuan kini seakan-akan dipaksa untuk berhenti mendadak. Ia tidak perlu di beri tahu siapa yang dimaksud dengan him oleh Sehun, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol.

"Chanyeol itu seperti cahaya di dalam kegelapan, kau tahu?" Sehun berkata penuh dengan perasaan, membuat Kai semakin sulit untuk bernapas. "Ia selalu membimbingku, menuntunku, memberikanku harapan jika aku sudah mulai menyerah, terkadang aku berfikir, aku tidak pantas untuknya. Ia lelaki yang baik, sangat baik malah, ia harusnya bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku juga." Sehun kini menopang wajahnya dengan tangan kanannya.

Kai bisa merasakan tangannya bergetar seiring dengan mengalirnya kata demi kata dari mulut Sehun, ketika ia berusaha untuk menghirup udarapun, ia lakukan dengan gemetar. Ingin rasanya ia berteriak kepada Sehun untuk berhenti, namun ia seakan-akan tidak dapat mengendalikan suaranya sendiri.

"I just love him so much that I couldn't even breath anymore without him. And God…" Sehun menggelengkan kepalanya seakan-akan ia tidak percaya dengan perkataannya sendiri, "jika memang ada dunia lain setelah ini, aku berharap aku akan tetap jatuh cinta padanya."

That's it. Getaran yang awalnya hanya berada di tangannya saja kini mulai merambat keseluruh tubuhnya, semuanya begitu terasa menyakitkan hingga pandangan Kai menjadi sedikit kabur. Ini bahkan lebih menyakitkan ketimbang hari dimana Sehun meninggalkannya untuk selama-lamanya, mendengar bahwa Sehun mencintai orang lain begitu kuatnya ternyata lebih menyakitkan daripada hal apapun di dunia ini, ia sudah tidak dapat merasakan detak jantungnya lagi, nafasnya pendek-pendek dan jika Sehun tetap melanjutkan perkataannya lagi, Kai tidak yakin jika ia bisa menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi wajahnya.

"Kau beruntung mendapatkan lelaki seperti Chanyeol," lidah Kai terasa kaku ketika ia mengatakan hal itu, namun ia tetap memaksakan diri untuk berbicara, meskipun tiap kata yang ia keluarkan menyayat hatinya sendiri. "Aku yakin ia akan menjaga dan mencintaimu lebih baik dari lelaki manapun. Dia tidak akan mengecewakanmu, aku percaya itu." Suaranya agak sedikit pecah di akhir kalimat.

Sehun tertawa, betapa Kai sangat merindukan suara tawa Sehun yang selalu menenangkan hatinya. "Aku tahu, Jongin." Ia tersenyum sembari menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangannya, "aku tahu."

.

Kai sedang meletakkan beberapa buku di lokernya ketika Chanyeol berjalan melewatinya.

"Park Chanyeol."

Chanyeol segera menghentikan langkahnya tepat di belakang Kai, ia menunggu agar Kai berbalik dan berbicara kepadanya namun sepertinya Kai tidak ada niatan sama sekali untuk membalikkan tubuhnya.

"Ada apa?"

Kai terdiam, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Jadi yang ia lakukan hanyalah menatap isi lokernya dengan pandangan kosong, mengabaikan Chanyeol yang di belakangnya sudah mulai tidak sabar.

Chanyeol yang tidak mendapat respon dari orang yang memanggilnya tadi segera menarik pundak Kai agar sekarang lelaki itu menghadapnya, "Hey, I'm talking to you—" Perkataannya terhenti ketika ia melihat kondisi Kai yang terlihat sangat berantakan.

"Kau tahu apa yang Sehun katakan dulu tepat sebelum ia meninggal?" tanya Kai sambil menerawang.

Chanyeol menggeleng.

Kai tertawa kecil, meskipun semua orang bisa melihat bahwa tawanya itu palsu. "Ia berharap bahwa jika ada dunia lain setelah ia meninggal, ia tidak mau jatuh cinta denganku lagi, dan Tuhan sepertinya terlalu menyayangi malaikatnya sehingga ia mengabulkan permohonan Sehun."

Perlahan, cengkraman Chanyeol di bahu Kai mulai mengendur, namun lelaki itu masih tidak melepaskan tangannya dari bahu Kai. "K-kenapa kau memberitahuku hal itu?"

"Kemarin Sehun menumpahkan segalanya kepadaku, tentang rasa cintanya yang begitu banyak terhadapmu. Memang awalnya, di dunia yang baru ini aku bermaksud untuk mendapatkan hati Sehun kembali, namun ketika ia mengatakannya kemarin…" Kai tersenyum pedih, "he loves you too much that it doesn't make sense anymore. Cintanya untukmu yang sekarang lebih besar daripada cintanya untukku dulu, cukup besar hingga Sehun berharap jika ada dunia lain setelah ini ia masih ingin jatuh cinta denganmu lagi."

"K-Kai…"

"Here's the thing about Sehun," Kai memberanikan diri untuk menatap Chanyeol tepat di mata lelaki itu, ia bisa melihat bahwa kebencian sudah terhapus dari mata lelaki caplang itu, sekarang tergantikan dengan sorot mata kebingungan dan kepedihan. "Hampir semua orang di dunia ini menginginkan ketenaran bukan? Harus ku akui, aku salah satunya, dan aku yakin kau juga. Tapi Sehun?" Kai tersenyum, "he's not that kind of man, dibandingkan dengan berjuta-juta penggemar yang ia ingin kan hanya satu penggemar sejati yang akan selalu berada di sisinya, menuntunnya jika ia mulai kehilangan arah, memanjakannya jika ia sudah menginginkan banyak hal, menjadi pegangannya di saat ia sedang goyah." Kai terdiam sebentar ketika jantungnya berdenyut sakit.

Chanyeol masih tetap terdiam, Kai dapat merasakan bahwa lelaki itu kehilangan kata-kata untuk menanggapinya. "What else? He's so beautiful, Chan. Aku yakin kita berdua sangat setuju untuk hal itu. Kau tidak akan pernah lelah melihat wajahnya setiap hari, terutama ketika ia tertawa, seakan-akan seluruh alam semesta ikut tertawa bersamanya, begitu pula jika ia bersedih, alam semestapun akan ikut bersedih. Ketika ia mencintai seseorang, ia akan mencintai orang itu dengan sepenuh hatinya, ia pernah mencintaiku dan sekarang ia mencintaimu, I guess we're both are the lucky guys, huh? karena pernah di cintai oleh sesosok malaikat sepertinya. I love him so much, Chanyeol, but he didn't choose me." Kai tersenyum getir.

"Dan di antara sekian banyak orang di dunia ini, dari sekian banyaknya dimensi-dimensi dunia yang ada di alam semesta ini, kau tahu Chanyeol? He choose you." Setetes air mata perlahan mulai turun membasahi wajahnya, namun Kai tidak peduli jika sekarang ia menangis di hadapan Chanyeol, "He choose you."

.

Sehun menatap ke arah bawah, ke arah sebuah tabung besar berisi cairan berwarna gading pekat yang meletup-letup.

"Question…"

Suara berat Kai membuatnya menoleh ke arah lelaki itu, wajah tampan lelaki itu kini di hiasi dengan seringaian yang hanya menambah kesan tampan di wajahnya. Sehun menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup dengan kencang, karena sesosok lelaki yang berada di hadapannya ini, namun ia menyukainya, karena Kai lah yang menyebabkan jantungnya berdetak seperti ini.

Kai melangkah mendekatinya dengan pandangan bertanya, "would you die for me?"

"Yes." Jawab Sehun dengan mantap. Tidak ada keraguan di matanya, dan itu membuat Kai senang.

"That's too easy…" Kai berpura-pura seperti sedang berfikir, sebelum akhirnya ia kembali bertanya, "will you…" Kai terdiam beberapa saat untuk memperhatikan air wajah Sehun yang tidak berubah, "would you live for me?"

Tidak butuh sedetik untuk Sehun untuk menjawab pertanyaan itu, "Yes."

Kai membawa telunjuknya ke depan wajah Sehun, seakan-akan sedang memperingati seorang anak kecil agar tidak melakukan kesalahan dua kali. "Careful," ia mempertajam pandangannya kepada Sehun, "Do not say this oath, toughtlessly." Ia semakin mempersempit jarak di antara mereka.

"Desire becomes surrender, surrender becomes power." Kai mengatakan hal itu sambil memejamkan matanya, berusaha untuk menyesapi arti kata-kata itu untuk dirinya sendiri. Salah satu tangannya bergerak menuju mulut Sehun untuk merasakan bibir lelaki itu. Kemudian ia kembali bertanya, "do you want this?"

"I do." Sehun menjawabnya masih dengan keyakinan yang sama.

"Say it…" Kai mendongakkan kepalanya, "say it… pretty pretty pretty pretty…" lalu kembali memfokuskan pandangannya kepada Sehun yang wajahnya sudah mulai memelas.

"Please.." Sehun berbisik, suaranya serat akan desperate, want, lust…

Kai menyeringai, "God! You're so…" ia mengerlingkan matanya ke arah Sehun, "good."

Dan Sehun tahu, di detik ketika ia menjatuhkan tubuhnya ke arah tabung berisi cairan kimia berbahaya itu, ia yakin, ia tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk mencintai seorang iblis seperti Kai. Selama iblis itu mencintainya sama seperti ia mencintai neraka, bagi Sehun, semua itu sudah cukup untuknya.

"KAU BERHASIL MEMERANKAN JOKER DENGAN BAIK KIM JONGIN!"

"SEHUN-AH! KAU SANGAT COCOK MEMERANKAN HARLEY QUINN!"

Kai dan Sehun yang baru saja keluar dari tabung berisi air itu memaksakan diri untuk tersenyum menanggapi pujian yang ditujukan kepada mereka. Drama mereka tahun ini sukses besar, JYP ssaem nampak sibuk menerima bunga pemberian orang tua murid yang datang menonton drama mereka, sementara murid-murid lainnya sibuk menyelamati satu sama lain. Bagi Sehun dan Kai, yang tahun ini tahun terakhir mereka di SMA, yang juga menjadikan drama ini sebagai drama terakhir mereka di SMA, momen ini sangat tidak terlupakan. Kai sibuk di kelilingi oleh anggota lain sementara Sehun sedang menerima beberapa ucapan selamat dari guru-guru.

"You did it, Kim." Chanyeol berbisik di telinga Kai, lelaki itu masih menggunakan kostum Deadshotnya dengan pistol di pinggang, membuat Kai sedikit mejaga jarak dengannya.

"I know." Kai tersenyum kecil kepada Chanyeol yang di balas dengan anggukan dari lelaki itu sebelum akhirnya ia berjalan menuju Sehun.

Sehun.

Sehun.

'Temui aku di atap sekolah setelah kau selesai.'

.

"Cheers for our future!" Sehun mengangkat gelas berisi Soju yang di bawanya, sementara Kai juga ikut-ikutan mengangkat gelasnya. Lalu mereka menghabiskan satu gelas itu dengan sekali teguk.

"Sebentar lagi kita kelulusan, bukan?" tanya Sehun sambil mendongak ke arah langit, memandangi bintang-bintang, namun Kai tidak tertarik dengan semua bintang itu, selama ada Sehun di sisinya, mengapa harus melihat hal lain yang kalah indah dari dirinya?

Kai hanya terdiam, kemarin ia sudah membicarakan semuanya dengan kedua orang tuanya, bahwa ia ingin melanjutkan pendidikannya nun jauh di London sana, dan sayangnya, ia akan berangkat lusa, itu artinya ia tidak akan menghadiri acara kelulusan sekolah mereka, dan ada kemungkinan malam ini adalah malam terakhirnya melihat Sehun.

"Kau akan kemana setelah lulus?" tanya Kai.

Sehun mengangkat bahunya, "Yonsei." Ujarnya pelan, "aku ingin belajar Hukum di sana."

Kai tersenyum kecil, Yonsei, "kau akan menjadi pengacara yang sukses."

Mata Sehun menatap Kai dengan penuh selidik, "bagaimana kau bisa tahu kalau aku ingin menjadi pegacara?"

"Insting?"

"Haha, lucu sekali." Sehun terkikik, "bagaimana dengan kau?"

Bukannya menjawab, Kai malah lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di lantai dan memejamkan matanya, yang malah mengundang protes dari Sehun.

"Aduuh, Hun. Biarkan lah aku beristirahat sebentar." Ujar Kai pura-pura jengkel.

"Tapi kau tidak menjawab pertanyaanku!" Sehun mulai merajuk.

Kai menyeringai jahil, "mana ada pengacara yang merajuk seperti bayi."

Sehun menatap Kai dengan pandangan super kesal, "awas kau ya!"

"Hun-ah, sini, tiduran di sebelahku." Kai menepuk-nepuk space di sebelahnya, Sehun dengan semangat ikut-ikutan merebahkan dirinya di samping Kai.

Selama beberapa menit kedepan, kedua orang itu hanya menatap langit dalam diam. Tidak ada yang bergerak, mereka hanya ingin merasakan kehadiran masing-masing, mendengarkan deru nafas masing-masing, memandangi langit yang sama, hingga melupakan Soju yang mereka minum tadi.

"London," akhirnya Kai angkat bicara, "aku akan ke situ."

Sehun bangkit tiba-tiba dari tidurnya, "jauh sekali." Ada nada kecewa dalam suaranya.

Kai mengangkat bahunya, "aku bosan di Korea."

"Alasan macam apa itu," cibir Sehun, "tapi serius deh, kenapa harus Inggris?"

"UK is a beautiful country." Jelas Kai, "just like you."

"Gombal."

"Haha, tidak kok."

Hening lagi, dan Kai mengangkat kedua tangannya agar bisa merasakan hembusan angin malam yang dingin namun menyejukkan. Sementara Sehun duduk dengan bertumpu kepada kedua tangannya di belakang. Dari posisi seperti ini Kai bisa melihat wajah Sehun yang terlihat damai. Ia tahu, meskipun ini sudah saatnya ia harus berpisah dari Sehun, tapi setidaknya perpisahan mereka tidak akan semenyedihkan sebelumnya.

Kai kemudian merogoh kantung celananya ketika handphonenya bergetar, ternyata ada satu pesan masuk, dari Chanyeol.

'Aku tahu kau sedang bersama Sehun, katakanlah sekarang, sebelum kau menyesal lagi. Akan aku jemput Sehun 5 menit dari sekarang.'

Kai kembali memasukkan hpnya ke dalam celananya sebelum akhirnya bangkit dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sehun. Ia kemudian memegang dagu Sehun agar lelaki itu sekarang menatapnya langsung di mata, yang menyebabkan ia harus menahan nafasnya sendiri karena Sehun begitu indah malam ini.

"I have something to tell you," Kai kini mulai mengelus rahang Sehun, merasakan bagaimana lembutnya kulit itu dibawah sentuhan tangannya. Ia menghirup nafas dan memasang senyuman terbaiknya, "aku mencintaimu."

Senyuman Kai semakin lebar ketika ia melihat wajah terkejut Sehun, lengkap dengan sepasang mata yang membulat lucu. "Jangan katakan apapun, aku tidak perlu jawabanmu, aku hanya ingin kau tahu perasaanku selama ini terhadapmu." Kai terdiam sejenak, "aku tahu kau begitu mencintai Chanyeol hingga rasanya tidak mungkin jika kau masih mengharapkan sediktpun bagian dari hatimu untuk mencintaiku balik. Karena aku sudah mencintaimu sejak lama, hingga aku lupa sejak kapan, saking lamanya."

"J-jong—"

Kai menepuk-nepuk pipi Sehun dengan lembut, "ya ya ya, aku tahu. Aku jahat karena baru memberitahumu sekarang, ketika aku sudah mempunyai Krystal, ketika kau sudah dimiliki Chanyeol, ketika kita sudah mau lulus, ketika kita akan berpisah. Katakanlah aku pengecut, tapi inilah aku."

"J-jadi k-ketika aku bertanya kepadamu sewaktu di atap itu—"

Kai mengangguk, "yap! That's you, bukan Krystal atau orang lain, tapi kau."

Sehun hanya terdiam sambil menatap Kai, namun apa yang dilakukan oleh Sehun setelahnya adalah sesuatu yang sangat tak terduga oleh Kai. Sehun dengan perlahan menggenggam tangan Kai yang berada di pipinya lalu membawanya ke pangkuannya, lelaki itu akhirnya tersenyum, senyuman yang selalu mengingatkan Kai alasan mengapa ia begitu mencintai pemuda di hadapannya ini.

"Mungkin di dunia ini kita tidak di takdirkan bersama," ujar Sehun pelan, "nenekku pernah berkata bahwa masih banyak dunia-dunia lain yang tidak kita ketahui, dan aku yakin, diantara dunia-dunia itu ada satu dunia dimana kita bisa bersama, saling mencintai dan melengkapi satu sama lain." Kini gantian tangan Sehun yang mengelus wajah Kai.

"Percayalah, Hun." Kai menggenggam tangan Sehun dan menciuminya satu persatu, membuat Sehun tersenyum, pancaran mata Sehun berbinar terang, lebih terang dari bintang manapun yang pernah Kai lihat, dan Kai tidak akan pernah ingin menukar momen ini dengan apapun. "Jika kita terlahir lagi di dunia baru, no matter what kind of world is that, no matter how far we are, no matter how different we are, I will find you and I will still choose you."


a/n : ini kayaknya ff ter gak jelas yang pernah saya bikin u.u

BESOK SAYA TO 2 KALI DAN ULANGAN HUUHUHU /curhat

tapi terimakasyiii yang udah mau baca~ luv luv~