Disclaimer : Tite Kubo
Warning : OOC, typo(s), EYD (asdfk)
Pair: Ggio Vega and Sui Feng
Rate: T
Genre: Romance and Drama.
Fic collab koizumi nanaho dan Reizuki Judas Gazeboo.
Love is Dangerous
Dua: And the Game is Begin
Tangannya terangkat. "20 menit 55 detik, Anda terlambat, Nona..." Pemuda itu memutar tubuhnya dan menatap lekat-lekat iris abu-abu Soifon. "... Bartender," lanjutnya.
Mulut Soifon langsung menganga saat melihat siapa pemuda itu. Kakinya bergetar sebentar lalu matanya terbelalak menunjukkan rasa tak percaya. Jelas saja. Tak pernah terpikirkan olehnya, pemimpin perusahaan tempat ia bekerja merupakan pemuda yang pernah ditamparnya.
"K-k-kau..." katanya.
"Ya. Aku bosmu di sini. Ngomong-ngomong, aku harus tahu namamu kan, Nona? Harusnya tertulis di sini," ucap pemuda tampan itu sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah kantong seragam Soifon. "Di mana name tag-mu?"
Soifon masih terdiam. Ia masih mematung padahal jari telunjuk Ggio belum terkulum juga.
"Aku tidak suka menanti jawaban, Nona." Soifon menunjukkan ekspresi sadarnya. Ia tampak gugup dan salah tingkah. Sekali lagi, itu wajar. Ia harus bisa mengontrol emosinya pada pemuda yang telah bertindak kurang ajar padanya? Sulit pastinya.
"Shaolin Fon." ucapnya dengan sedikit nada keraguan.
"Fon?" Ggio kembali bermain-main. Sepenggal nama yang tak biasa yang bisa ia gunakan sebagai bahan olok-olokan. Ia bertanya dengan jahilnya.
"Panggil saja Soifon!" Soifon tetap memakukan tapakan kakinya pada dasar yang sama. Pandangannya tetap menghadap depan, meskipun Ggio tampak berputar-putar. Pertama ia pandangi gadis di hadapannya, lalu mengarahkan pandangannya pada satu-satunya meja di ruangan itu. Ia mendekati meja itu.
"Apa yang harus kukatakan, ya? Hmm, Shaolin Fon, aku hanya ingin kau jadi bawahan yang baik. Sebenarnya bukan hanya kau saja, berlaku juga pada yang lain. Tapi, aku khususkan peringatan itu padamu. Masih ingat kejadian semalam, kan?"
Soifon menarik punggungnya ke atas agar tampak tidak bungkuk. Ggio yang kini menatapnya hanya mendapatkan sebuah tanda ketidakacuhan dari karyawannya itu. Soifon membuang muka, berusaha menghindari tatapan langsung Ggio. Takut.
"Merasa bersalah atau kau pikir tindakan semalam dapat dimaklumi? Aku tak memaksamu untuk berpikir, Nona Fon. Hanya selama bekerja, jangan lakukan yang tak sepatutnya, lagi!" Ggio kembali mengangkat telunjuknya. Ia gerakkan ke kiri dan ke kanan berulang-ulang.
"Sekarang, ambil dokumen di ruanganku. Cek lalu kembalikan lagi padaku," katanya lagi. Ggio berjalan ke arah satu pintu yang menuju luar ruangan—berlawanan dengan pintu ruangannya yang akan dimasuki Soifon.
#
"Bagaimana ini? Bahkan aku tak menyangka aku bekerja dengan orang itu." Soifon menyusun tumpukan kertas yang ia angkut dari ruang sebelah. Sempurna sudah, penuhlah meja kerja itu dengan dokumen perusahaan.
"Soifon-chan," sapa seseorang dari balik pintu. Perempuan berambut oranye membuka pintu tersebut dan menghampiri meja kerja Soifon. "Ggio ada?"
"Eh, eh, siapa yang kaucari? Ggi-o?"
"Ggio. Apa ia sudah kembali? Ada tamu yang harus ditemuinya." Perempuan ber-name-tag Orihime Orihime itu tampak mondar-mandir berganti posisi ke sisi kanan dan kiri Soifon.
"Tunggu! Jawabanmu belum jelas. Yang kau maksud Ggio itu siapa?" Soifon tak lagi sibuk dengan dokumen putihnya. Matanya memandang Orihime yang sudah duduk diam di sofa kulit warna hijau.
"Eh? Jadi kau belum bertemu dengan ... KAU BELUM BERTEMU DENGAN GGIO VEGA, hah?" Orihime mendongakkan tubuhnya ke atas bertumpu pada satu meja kaca.
"Oke, maksudmu karyawan baru yang tampan? Harusnya kaucari di ruangan lain," jawab Soifon dengan gaya melipat tangan.
Orihime kembali berdiri. Ia gelengkan kepalanya dengan tempo cepat. "Bahkan kau tak tahu nama bosmu? Seketaris macam apa kau ini, Soifon-chan," sindir Orihime dengan nada candaan.
Soifon jelas terbelalak lagi. Dengan buru-buru gadis mungil itu berdiri dari kursinya. "Aku segera kembali," ujarnya. Orihime tertawa geli dan berjalan mendekati pintu keluar.
"Aku kembali duluan, ya." kata Orihime lalu menarik gagang pintu di depannya. Soifon memepercepat langkahnya dan mengabaikan ocehan Orihime barusan.
Soifon sudah menyentuh gagang pintu di depannya. Namun terhenti seketika saat ia tahu Orihime tidak jadi keluar. "Oya!" seru Orihime mengejutkan Soifon, hingga gadis itu memutar kepalanya dan menatap iris abu Orihime.
Soifon mendelik ke arah gadis itu, yang hanya ditanggapi dengan senyuman. "Soifon-chan, ia hanya ingin dipanggil dengan nama. Jangan beri embel-embel lain, ya!" Baru ia keluar.
Soifon kembali memutar tubuhnya dan menarik napas dalam, menyiapkan mentalnya untuk bertemu pemuda bermata emas itu. Soifon mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
Tok tok tok.
"Masuk," perintah Ggio dari dalam. Soifon memejamkan matanya dan kembali menarik napas dalam-dalam. Seolah-olah, ruangan yang akan ia masuki adalah ruangan yang minim oksigen.
Soifon mendorong gagang pintu itu dan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan berkarpet itu. Soifon terdiam sebentar, siapa sangka pemuda itu memiliki wajah yang begitu serius ketika sedang bekerja dan hal ini membuatnya terlihat, err... tampan?
Ggio mengangkat kepalanya karena merasa risih dipandangi terlalu lama. "Apa?" tanyanya memecahkan lamunan Soifon. Gadis berkepang itu mengerjapkan matanya dan dia kembali terkejut karena melihat Ggio tengah menggunakan kacamata.
Soifon menggelengkan kepalanya berusaha menepis pikiran yang ingin kembali memuji pemuda di depannya adalah sosok yang ... tidak ingin ia sebutkan!
"Ada seseorang yang ingin menemui Anda, di ruang rapat," ujar Soifon.
Ggio mengalihkan pandangannya sebentar dan kembali pada LCD laptopnya. "Suruh dia menunggu sebentar," perintah Ggio. Soifon mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.
Soifon menghembuskan napas lega. Tampaknya, Ggio sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya hingga tidak sempat mengolok-olok Soifon.
#
"Pekerjaan menumpuk dan akhirnya selesai. Menyenangkan sekali, ya, Nona Fon," sapa suara berat itu dari speaker telepon.
"Cih!" seru Soifon dengan nada tak senang. Ia matikan speaker teleponnya yang baru saja menyala.
Soifon sedang membereskan tumpukan kertas terakhirnya. Ia hentakkan kaki kertas itu di atas meja, meratakan kedua ujungnya. Kemudian, untuk beberapa dokumen berwarna, ia masukkan ke dalam map. Total, ada lima map berbeda warna.
Soifon kini bangkit dari kursi kerjanya. Ia susun lima map tadi―juga beberapa tumpuk kertas yang lain―agar dapat ia pangku di atas lengannya.
Sangat kontras melihat Soifon seperti ini. Bebannya jelas tak sepadan dengan bentuk badannya yang kurang berisi. Tampaknya ia lebih cocok mengaduk-ngaduk gelas berisi es nanti malam.
Dengan susah payah Soifon melangkah, ia berusaha mencapai daun pintu ruang Ggio, namun tak dicapainya juga.
"Vega-sama, bisa bukakan pintunya?" pintanya terdengar sampai ruang dalam. Sayangnya penghuni ruangan tak meresponinya. Tak ada jawaban dan tak ada gerakan pintu terbuka.
Soifon berusaha lagi. Tapi masih sulit baginya mencapai ujung gagang pintu. "Vega-sama, aku mau menyerahkan dokumen ini. Tolong, berat!" Suara Soifon bukan tidak cukup keras untuk didengar Ggio di dalam, hanya saja, seperti tak ada orang di dalam. Bagaimana bisa, bukankah baru beberapa menit lalu suaranya terdengar?
Soifon masih belum lelah untuk berusaha. Kali ini tak lagi memanggil seseorang untuk membantunya. Untuk hal itu, ia sudah lelah hati.
"Ah, dapat!" Mukanya sumringah. Soifon langsung saja memutar kenop itu. Dan…
Soifon tergeletak di dasar karpet merah. Beberapa map warna merah, hijau, ungu, dan hitam menemani Soifon di bawah sana. Satu map warna kuning bersandar pada sepatu hitam mengkilat yang dikenakan seseorang, Ggio.
"Apa yang kaulakukan di bawah sana, Nona Fon?" tanya Ggio main-main. Iris mata emasnya memandang gadis malang itu.
Soifon pun bangkit berdiri meninggalkan 'teman-teman berwarna'-nya di bawah. "Kenapa kau baru buka sekarang?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Eh, aku kira kau menyuruhku melakukan itu. Jarang-jarang loh aku mau disuruh, haha…" candanya.
"Apa kecepatan suaraku sebegitu lambatnya?" Soifon membentak lalu menghembuskan napasnya, mencoba tenang.
"Baik, silakan kau letakkan sendiri dokumen ini di mejamu, Ggio Vega yang Terhormat," desis Soifon dan menunjuk dokumen-dokumen itu. Beberapa detik setelahnya, ia melangkah kuat ke arah mejanya. Ia gendong tas mungilnya, lalu keluar.
"Ehem, aku tak mau mengejarmu seperti di film-film India loh! … Soifon? Bartender girl?"
#
Soifon menggoyangkan sebuah botol beralkohol dan membuka penutupnya. Otomatis dari dalam botol minuman itu langsung keluar busa-busa putih yang mengalir hingga menyentuh tangan Soifon.
Para pelanggan yang bergerumul di sekitar meja bar itu langsung berteriak dan bertepuk tangan. "Siapa yang ingin bertanding berikutnya?" tanya Soifon dengan suara keras.
"Di sini, Nona," ucap seorang pemuda berambut raven sambil mengangkat tangannya. Soifon langsung menuangkan bir itu ke dalam gelas besar di hadapan si pemuda, Hisagi.
"Dan lawannya?" tanya Soifon. Tiba-tiba seorang perempuan menyeruak di antara gerombolan manusia di depannya dan duduk di samping Hisagi. Soifon menyeringai, tampaknya pertandingan kali ini akan seru. Mengingat perempuan yang duduk di samping Hisagi adalah seseorang yang cukup ahli dalam perlombaan ini.
Tanpa membuang waktu Soifon mengisi penuh gelas besar di hadapan perempuan itu dengan bir di tangannya.
Hisagi menggenggam erat lengan gelasnya dan menunggu bibir mungil Soifon terbuka untuk mengucapkan aba-aba sebagai tanda dimulainya perlombaan mereka.
Soifon melirik kedua orang itu. "MULAI!" ucapnya. Dan seketika orang-orang yang berdiri di sekitar mereka langsung menyoraki nama mereka berdua. Ada yang memulai taruhan untuk menentukan siapa pemenang lomba kali ini.
Iya, mereka sedang berlomba. Perlombaannya mudah, siapa yang bisa menghabiskan sepuluh gelas bir lebih dulu maka dia yang menang. Soifon sibuk mengisi gelas-gelas lain yang siap untuk dihabisi oleh mereka berdua.
Sudah lima gelas yang mereka berdua habiskan. Perempuan itu, Rangiku, melirik Hisagi yang sudah mulai terlihat tidak kuat untuk menerima alkohol lagi. Pemenang sudah ditentukan dan sebuah senyum kemenangan terukir di wajah Rangiku.
BRAK!
Dan benar saja, tiba-tiba kepala Hisagi langsung terjatuh di atas meja bar itu. Otomatis perlombaan itu dihentikan dan dimenangkan oleh Matsumoto Rangiku.
Sebagian pengunjung berteriak senang karena mereka menang taruhan sementara sebagian lagi ada yang mengerang frustasi karena harus menyerahkan sebagian uang yang ada di kantong mereka.
Soifon hanya menggelengkan kepala melihat Hisagi harus dipapah temannya menuju kursi mereka. Tangan Soifon kembali meraih sebuah botol bir dan mengocoknya. "Siapa lagi?" tawar Soifon.
Sepasang permata abunya menyapu permata lain yang berada di sekitarnya. "Aku!" Tiba-tiba seseorang mengacungkan tangannya. Refleks seluruh pasang mata yang ada di sekitar situ menatap pemilik tangan itu.
"Aku yang akan bertanding berikutnya," ucap pemuda itu saat tiba di depan meja Soifon. Ekspresi Soifon langsung berubah dingin saat melihat kehadiran pemuda itu. Soifon menarik dengan kuat penutup botol itu hingga buih-buih putih dari dalamnya tak segan-segan bermuncratan keluar.
"Dan aku ingin kau yang menjadi lawanku, Bartender Girl," pinta pemuda itu, Ggio. Rangiku langsung bangkit dari posisinya saat menyadari sebuah kilat kecil muncul dari mata mereka berdua.
Entahlah, tanpa terasa sekeliling mereka menjadi hening, seolah-olah hanya ada Ggio Vega dan Shaolin Fon di dalam klub malam itu. Diam. Ggio belum mendengarkan persetujuan keluar dari bibir Soifon.
"Takut?" Ggio memanas-manasi. Soifon menuangkan secara perlahan bir itu ke dalam sepuluh gelas di depan Ggio dan sepuluh gelas di samping pemuda itu. Walau begitu, Soifon tidak mengalihkan pandangannya dari Ggio.
Sungguh, Soifon ingin mencakar wajah pemuda itu. Lihat saja seringai menyebalkan yang terpampang di wajahnya. Seolah-olah dia lebih ahli dalam perlombaan ini dari Soifon.
Beberapa menit wajah gadis itu dingin tak berekspresi. Menit berikutnya, wajah itu mulai terhiasi dengan seringai mengerikan. Akan terlihat menyenangkan jika dia bisa mengalahkan pemuda angkuh, sombong dan menyebalkan seperti dia di depan umum.
Beberapa bayangan wajah kekalahan Ggio langsung tergambar di pikiran Soifon. Hal ini semakin membuatnya melebarkan seringainya. "Jangan menangis kalau kau kalah," ujar Soifon sombong lalu melirik Rangiku.
Rangiku mengangguk dan menukar posisinya dengan Soifon. Sudah lama dia tidak mengikuti lomba ini dan selama dia bermain jarang sekali gelar kekalahan tersemat di namanya. Dan pemuda yang kemarin meminta minuman tanpa alkohol ini ingin bertanding melawannya? Jangan bercanda.
Rangiku menarik napas dalam-dalam. "MULAI!" serunya. Dan sedetik setelah Rangiku mengucapkan kata itu, Soifon segera meminum bir yang ada di gelasnya. Soifon tampak begitu bernafsu untuk mengalahkan Ggio.
Sementara pemuda itu hanya meminum minumannya dengan santai. Ggio tahu, tidak ada gunanya dia menghabiskan minuman itu dengan cepat, toh dia memang tidak berniat untuk menang.
Di samping itu Ggio tidak bertahan terlalu lama. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas telah terlewati. Wajah Ggio mulai memerah karena sudah tidak sanggup lagi, sementara lawannya masih tampak begitu bersemangat untuk menghabiskan tujuh gelas bir lagi yang tersedia di depannya.
Ggio menyunggingkan senyumnya dan seiring dengan habisnya gelas keempat, kepala pemuda itu telah menempel di atas meja. Dia kalah. Soifon mengangkat gelasnya tinggi-tinggi tanda kemenangannya yang disambut dengan teriakan penonton di sekitarnya.
Soifon puas. Sangat puas.
Dan permainan sesungguhnya baru akan dimulai.
#
Soifon mengelap gelas-gelas kaca yang tadi ia gunakan untuk berlomba. Klub malam itu mulai sepi, karena hari sudah mulai pagi. Beruntung hari ini dia tidak bekerja. Karena kepalanya sudah mulai pusing akibat meminum alkohol tadi.
Soifon mengelap meja bar itu dan menatap Ggio yang masih tertidur di tempatnya. Soifon menghela napas. Tidak adakah temannya yang ingin membawanya pulang? Jawabannya tidak.
Soifon menghampiri Ggio dan mengguncang tubuh pemuda itu. "Hei, hei," panggil Soifon tapi Ggio tetap bergeming. "Sudah hampir pagi. Hei." Soifon mulai memukul pipi Ggio pelan agar kesadarannya kembali.
Ggio membuka matanya secara perlahan dan merogoh sakunya. Setelah itu, dia menyodorkan sebuah kunci ke hadapan Soifon. "Antarkan aku..." pinta Ggio. Soifon membulatkan matanya.
"Pulang saja sendiri," tolak Soifon sengit. Ggio mengangkat tubuhnya dan menatap Soifon. Lalu dia berdiri dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Tapi baru beberapa langkah, tubuh pemuda itu hampir terjatuh―
―jika Soifon tidak menahannya. "Mana?" pinta Soifon ketus. Ggio tertawa pelan dan menyerahkan kunci mobilnya. Soifon pun langsung mengalungkan tangan Ggio di lehernya dan membawa pemuda itu ke parkiran.
"Kau baik, ya, Soifon?" ucap Ggio dengan senyum tulus di wajahnya. Soifon tersentak dan menatap iris keemasan Ggio. Buru-buru Soifon menggelengkan kepalanya dan menepis semua perkataan yang baru saja Ggio bisikkan ke telinganya dan terus berputar di kepalanya.
#
Soifon mengamati sebuah gedung tinggi yang terlihat sangat mewah dari luar. Soifon kembali melirik alamat yang tertera di kartu nama Ggio dan gedung di depannya secara bergantian.
Tidak salah, inilah tempat tinggal pemuda itu. Sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota. Soifon berdecak iri dan menjalankan mobil itu menuju tempat parkir.
Untuk kedua kalinya, Soifon harus bersusah payah menyeret Ggio keluar dari mobil dan memapahnya menuju kamarnya. Soifon berjalan dengan cukup terseok mengingat perbedaan berat tubuh mereka yang tidak dekat.
Soifon berhenti di depan meja resepsionis. "Kamar Ggio Vega di lantai berapa?" tanya Soifon kepada seorang perempuan muda di depannya.
"Di lantai 20 dengan nomor kamar 2058," ucap perempuan itu. Soifon mengangguk tanda terima kasih dan kembali menyeret Ggio menuju lift. Soifon melepaskan tangan Ggio dari lehernya dan membiarkan pemuda itu bersandar di dinding lift.
Soifon mengetukkan kakinya ke lantai menunggu lift itu berhenti. Ggio mengamati punggung Soifon. Jika boleh jujur, dia sudah sadar sejak Soifon membangunkannya.
Tapi, tidak akan menarik jika ia mengakuinya, kan?
TIING
Dan akhirnya, lift itu berhenti. Ggio buru-buru memejamkan matanya dan Soifon kembali memapah pemuda itu menuju kamarnya. Soifon tak hentinya mengumpat tentang Ggio yang berat, dan merepotkan. Lalu kenapa juga harus dia yang terlibat dengan pemuda ini?
Soifon berhenti di depan pintu yang bertuliskan 2058. "Mana kunci kamarmu?" tanya Soifon dengan sedikit ketus. Dengan tampang setengah sadar yang dibuat-buat, Ggio menyerahkan kunci kamarnya ke Soifon.
Soifon membuka pintu kamar itu dan menyalakan lampunya. Soifon berhenti sejenak untuk mengagumi desain kamar apartemen yang bisa dibilang mewah itu. Soifon mengerjapkan matanya beberapa kali dan langsung membawa Ggio menuju kamarnya.
Soifon kembali membuka sebuah pintu dan menyalakan lampunya lagi. Soifon menyeret Ggio dan membaringkannya di atas kasur. Soifon merenggangkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum meninggalkan ruangan itu.
Jujur saja, bahunya terasa pegal. Setelah merasa lebih baik, Soifon memutar tubuhnya dan mulai melangkah. Namun, sebuah tangan menahan langkahnya. "Kau benar-benar baik, ya, Soifon?" Soifon tersentak.
Dan saat Soifon memutar kepalanya. Dengan cepat, tangannya ditarik oleh Ggio, hingga gadis itu terbaring di atas kasur dan Ggio di atasnya dengan kedua lutut serta tangannya yang bertumpu di samping Soifon.
Soifon memilih untuk menetralkan ekspresinya dibanding harus menunjukkan raut ketakutan dan paniknya di depan Ggio. "Tidak baik berada di dalam kamar dengan seorang pemuda yang tidak kau kenal, Soifon," ujar Ggio sambil memainkan rambut kepang gadis itu.
"Bagaimana aku mengatakannya? Kau itu terlalu baik atau bagaimana? Hingga mau mengantarku—seseorang yang tidak kau suka—ke apartemenku." Ggio menatap lekat-lekat bola mata abu Soifon, menunggu setitik ketakutan muncul di iris itu.
"Apa ini strategimu untuk mendapatkanku? Seorang pemuda kaya? Hm?" Ggio terus mengucapkan kata-kata yang seolah menyudutkan Soifon. Berharap makian langsung keluar dari bibir mungil itu. Tapi gadis itu mengunci mulutnya rapat-rapat.
Ggio mengelus pipi Soifon dengan punggung tangannya. "Katakan, sebenarnya... kau menyukaiku, 'kan?" ucap Ggio penuh percaya diri.
Berani bertaruh, Soifon ingin muntah saat mendengar pertanyaan Ggio barusan.
-Être Continué-
Balasan Review bagi yang tidak log in:
to Elly Yanagi Hime: Kamu seneng banget, ya? sama mereka berdua? hihihi terima kasih atas reviewnya, ya ^^
to Relya schiffer : hei there, eto, exacta itu benar, karena ciri khas Findor memang seperti itu ^^". Huks, huks maaf *bow* kami coba memperbaiki di chap kedua. Thankies revinya (gak boleh peluk, ya?) T.T yaudah makasih reviewnya, dan.. aku lebih suka Kururugi Meylyyani ^^ Sekali lagi terima kasih.
Notes de l'auteur: Update emang lama, karena Zumi sibukk..
Hoho, dan lagi maaf banget kalau OOC, emang nggak mau dipaksain banget kok harus IC seratus persen.
Lalu, review?
