Haruno Sakura adalah seorang peri klan Haruno yang cantik dan berbakat. Uchiha Sasuke adalah seorang peri klan Uchiha sekaligus putra dari Ratu Peri Konohaland, Mikoto Uchiha. Suatu saat Uchiha Sasuke tanpa sengaja meminum air suci di Holy Hollow yang mengandung kutukan dan Haruno Sakura dipaksa oleh ibunya untuk mengambil penawarnya di Filthy Hollow yang terdapat di Sunaland, sebuah padang pasir gersang yang mematikan.

Akankah seorang Haruno Sakura berhasil menolong sang Pangeran sekaligus sahabat kecilnya itu?

.

.

.

.

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Fairy Tale © Kirara Yuukansa

Insipired by Tinker Bell and The Lost Treasure

Fantasy/Adventure

Pairing(s) : SasuSaku and etc

Warnings: Abal, typo, misstypo, alur cepet, OOC, Sasuke keluar di chap terakhir and many more.

NO FLAMES !

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

.

Enjoy my fic!

.

.

.

Fairy Two

.

.

.

"Dia tertidur untuk selamanya katanya sih begitu. Kasihan sekali dia. Tapi kata Ratu Peri dia bisa bangun jika diminumkan air yang ada di Filthy Hollow yang ada di Sunaland,"

"Yang benar saja di Sunaland, tempat itukan mengerikan sekali," komentar Sakura.

"Iya memang maka dari itu Ratu Peri mengadakan sayembara. Siapapun yang bisa mengambil air itu akan dinikahkan oleh si Teme dan menjadi Ratu Peri yang baru di Konohaland."

"Memang siapa yang berani coba mengambil air itu?" gumam Sakura pelan.

.

.

.

Sakura sedang terbang dengan malas menuju ke rumahnya. Sayapnya terasa berat sekali untuk terbang kearah rumahnya saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, sang surya sudah hampir menghilangkan batang hidungnya. Tampak langit berwarna kemerah-merahan di ufuk barat Konohaland. Sakura berpikir jika dia tidak pulang sekarang malah akan menambah banyak masalah nantinya. Pohon Sakura besar tempat selama ini dia bernaung sudah tampak dari tempatnya sekarang. Terlihat tidak ada lagi peri klan Haruno yang berkeliaran di luar rumah mereka. Sakura mempercepat terbangnya. Sayapnya mengepak lebih cepat dan tak sampai lima menit ia sudah sampai di depan pintu rumahnya.

Sakura membuka perlahan pintu rumahnya berharap tidak ada orang rumah –terutama ibunya dan Karin- yang tahu jika ia pulang jam segini. Sakura mengendap-endap perlahan menuju kamarnya setelah memastikan tidak ada orang. Tiba-tiba saja Sakura terlonjak kaget ketika mendengar teriakan adiknya. Karin berteriak lantang, "Ibu! Sakura sudah pulang nihhhh!"

Sakura kebingungan sekaligus takut karena ketahuan pulang terlambat. Tak lama setelah mendengar teriakan Karin, Sasaki datang. Sasaki berjalan mendekat kearah Sakura diikuti Karin.

"Kau sudah pulang, 'nak? " tanyanya lembut. Sakura hanya diam mendengar tingkah laku ibunya yang menurutnya aneh.

"Sakura-nee pasti capek ya? Karin pijetin ya?" Karin berkata dengan nada manja yang di buat-buat.

"Sakura pasti capek ya 'kan? Sakura mandi saja dulu ya? Baru nanti makan, Ibu sudah menyiapkan masakan enak untuk Sakura-chan," Sakura benar-benar heran sekarang dengan Ibu dan adiknya yang menurutnya bertingkah laku aneh.

"Karin sudah disiapkan belum air hangatnya?" tanya Sasaki kepada Karin.

"Sudah bu," jawab Karin mantap.

"Sakura cepetan mandi sana. Air hangatnya sudah siap," bujuk Sasaki seraya mendorong Sakura pelan kearah kamar mandi.

Sakura bergumam pelan, "e-eh iya," sambil tetap memandang keduanya heran.

Peri berambut merah muda itu keluar dari kamar mandi setengah jam kemudian. Dia segera berlari menuju ke kamarnya untuk mengambil pakaian. Dalam hati ia masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibunya dan Karin. 'Apa kepala mereka terbentur batu?' pikirnya sembari menyisir rambut merah muda panjangnya. Setelah selesai berbenah, Sakura turun menuju ruang makan. Di ruang makan Sakura mendapati Ibunya dan Karin sudah duduk manis di kursi dan di meja sudah ada berbagai macam makanan istimewa. Di ruang makan tersebut, terdapat empat kursi dan dua diantaranya sudah di duduki Sasaki dan Karin. Satu lagi kursi untuk Sakura dan kursi yang terakhir untuk ayah Sakura yang sudah lama meninggal. Sakura dan Karin memang satu ibu namun berbeda ayah. Tapi ayahnya yang sekarang –ayah Karin- sedang sibuk bekerja di Istana dikarenakan jabatannya yang sebagai panglima perang disana.

Sakura duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Karin. Ibunya dan Karin bergantian mengambilkan beberapa menu yang ada di meja dan memindahkannya ke piring Sakura. Sakura yang melihat kelakuan mereka berdua hanya bisa heran tetapi tak lama kemudian ia tersenyum berharap sikap mereka akan begini terus selamanya.

"Sakura-nee sudah dengar berita tentang pangeran belum?" tanya Karin di sela-sela acara makan mereka.

"Sudah, memang kenapa?" jawab Sakura sebelum memasukkan sesendok penuh makanan ke mulutnya.

"Sakura-nee mau ikut sayembara itu?"

Sakura mengangkat bahunya sekilas dan berkata, "entahlah aku tidak tahu terlalu berbahaya menuju kesana,"

"Memang kau mau ikut Karin?" lanjutnya lagi.

"Tentu saja Karin tidak ikut," kali ini Sasaki angkat bicara dan menyeringai. Sakura mengambil minum yang ada di dekatnya dan meminumnya.

"Karena kau yang harus ikut," lanjut Sasaki yang langsung membuat Sakura tersedak.

.

Flashback

.

"Sasuke-kun mainnya curang nih!" teriak seorang peri yang pakaiannya dari bunga Sakura. Sayap peri tersebut mengepak pelan dan terbang menuju bunga matahari yang ada di dekatnya. Bibirnya mengerucut sebal.

Anak laki-laki yang dipanggilnya Sasuke tadi ikut terbang mendekat kearah peri berambut merah muda yang sedang duduk di tengah-tengah bunga matahari. Wajahnya masam dan bibirnya juga ikut-ikutan mengerucut.

"Siapa bilang aku curang? Peraturannya 'kan memang begitu," ucapnya santai tetapi tersirat nada kesal.

"Ahhh! Pokoknya curang curang!" peri merah muda itu menunjuk-nunjuk Sasuke.

"Aku tidak curang," bentak anak laki-laki bermata oniks itu.

"Curang!"

"Tidak!"

"Curang!"

"Tidak!"

"Cu-Ahhh!"

Bruk!

"Awww!" Sakura –nama peri itu- mengaduh keras sambil mengusap-usap bokong kecilnya. Sekarang Sakura sedang berada di tanah, di bawah bunga matahari yang ia duduki tadi. Dia baru saja di dorong Sasuke hingga jatuh ke tanah. Anak laki-laki berambut kebiru-biruan itu masih berdiri di atas bunga matahari dengan arah pandangan ke bawah. Memandang Sakura.

Sakura mengisak pelan di tanah. Wajah imutnya ia tutupi dengan telapak tangannya dan kakinya terselonjor lurus ke depan. Sasuke –sebagai pelaku pendorongan- terbang menggunakan sayap kecil di punggungnya menuju Sakura yang sedang menangis. Sebagai anak laki-laki yang bertanggung jawab dia berusaha menenangkan Sakura yang menangis akibat ulahnya.

"Ma…ma…ma…" Sasuke berusaha mengatakan kata maaf tapi sulit sekali kata itu keluar dari mulut mungilnya.

Sakura masih saja terus menangis dan itu membuat Sasuke tambah kelabakan.

"Sakura, sudah jangan menangis!" Sasuke berjongkok di depan Sakura. Kaki Sakura diantara kakinya.

"Sasuke-kun jahat!" teriak Sakura.

Sasuke makin frustasi saja menghadapi Sakura dan terpaksa ia mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu berkata, "kau mau aku bagaimana?" tanyanya dengan lembut dan hati-hati.

Sakura langsung mendongakkan kepalanya dan menghapus air matanya lalu kemudian tersenyum lebar. "Ayo ikut!" Sakura meraih tangan Sasuke dan mereka terbang bersama.

'Selamat datang di neraka, Sasuke!' pikir Sasuke sarkatis.

Dua orang peri laki-laki dan perempuan –Sasuke dan Sakura- sedang terbang menuju sebuah hutan di sebelah utara Konohaland. Mereka berdua berpegangan tangan atau lebih tepatnya Sakura yang memegang tangan Sasuke. Ketika sudah sampai di depan gerbang masuk hutan mereka berhenti sejenak.

Sasuke bertanya, "kau mau kemana sih sebenarnya?"

"Sudah, ikut saja," jawab Sakura. Sakura kembali menarik tangan Sasuke masuk hutan. Mereka masuk lebih ke dalam lagi dalam hutan itu. Hingga mereka sampai di sebuah tempat yang sangat indah. Di tempat itu terlihat banyak sekali pohon Sakura yang berjejer-jejer rapi. Hampir seluruh bunga Sakura itu berwarna merah muda karena memang sedang musim semi. Mata oniks dan giok tersebut berbinar-binar melihat pemandangan di depannya.

"Bagus tidak Sasuke-kun?" tanya Sakura sambil menolehkan kepalanya ke Sasuke. Tangan mereka masih tetap bergandengan.

"Ini indah," kata laki-laki bermata oniks itu. Sakura tersenyum senang. "Tempat ini aku temukan bersama ayahku-," senyumnya memudar "-sebelum dia meninggal,"

Sasuke menoleh ke Sakura lalu tangan putih bersih miliknya bergerak untuk memeluk Sakura.

"Sudah, jangan sedih lagi. Ayahmu akan selalu disini-," Sasuke menunjuk ke dada sebelah kiri Sakura "-dihatimu," lalu ia tersenyum lembut.

"Iya, terimakasih sudah menghiburku,"

"Ayo kita bermain," Sasuke terbang mengitari pohon Sakura diikuti Sakura di belakangnya yang berteriak, "Sasuke-kun curang terbang duluan!"

.

End of Flashback

.

Sakura berkali-kali tersenyum sendiri jika mengingat kenangannya bersama Sasuke. Saat ini ia sedang duduk di sebuah dahan pohon Sakura di tempat yang sama di bayangan masa lalunya bersama Sasuke tadi. Pagi itu ia memang sengaja datang ke tempat kesukaannya untuk memikirkan ucapan ibunya semalam. 'Apa sebegitu bencinya ibu padaku sehingga menyuruhku mengambil air itu?' pikirnya frustasi.

Sakura menghela nafas berat. Mata hijaunya melihat sekeliling, tampak bunga Sakura yang sedang bermekaran. Dirinya yang notabene berwarna merah muda -mengingat warna bajunya dan rambutnya- menjadi tersamarkan diantara bunga-bunga Sakura. Sakura bersandar di ranting pohon yang ada di dibelakangnya. Ia menekuk kedua lutut dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya itu. Tak lama kemudian terdengar suara isak tangis.

"Hiks…hiks…hiks," isaknya. 'Apa yang harus aku lakukan?' pikirnya miris.

Wussshhhhhh!

Angin bertiup kencang, beberapa bunga Sakura yang jatuh ke tanah menjadi terombang-ambing di udara membentuk pola khusus yang indah. Rambut merah muda panjang milik Sakura yang semula rapi menjadi berantakan karena terkena angin. Tetapi tetap saja peri Haruno itu tidak bergeming dari posisinya. Menangis dan menangis.

'Sakura'

Peri bermata hijau itu tiba-tiba saja mendongak lalu kemudian melihat sekelilingnya. 'Tidak ada siapa-siapa,' pikirnya.

'Sakura'

"Siapa?" Sakura menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

'Sakura, ini aku'

"Siapa? Jangan main-main," ancam Sakura yang mulai ketakutan. Tubuhnya bergetar.

'Ini aku Sakura,"

Sakura diam saja kali ini. Dia merasa familiar dengan suara tersebut.

'Bantu aku, Sakura'

Sakura bertanya, "bantu apa? Kau siapa?"

'Tolong aku'

Sakura berteriak kali ini, "hei! Kau siapa? Aku tidak mengerti apa maksudmu!"

Cukup lama menunggu tetapi suara itu tak terdengar lagi. Sakura melihat sekelilingnya tidak ada siapa-siapa dan angin masih tetap berhembus pelan. Entah kenapa –tiba-tiba- terlukis segaris senyum di bibir Sakura dan ia bergumam, "aku akan menolongmu, Sasuke-kun."

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Thanks To:

Anezaki Shihoudani-Sara, Rizuka Hanayuuki, vvvv, kazuma b'tomat, 4ntk4-ch4n, Violet-Yukko

Rizuka Hanayuuki: Oh ya? Aku sih gapernah nonton yang versi barbie. Fic ini terinsipirasi dari Tinkerbell sih soalnya.

vvvv: Ini udah update xp review lagi yaaa

kazuma b'tomat: memang saya terinsipirasi dari situ. Apa ini terlalu mirip?

Yang lainnya cek inbox yaaa :p

Mind to Review?