Icha and Michi-san Present:

The Girl with One Hope

.

.

.

Naruto dan Highschool DxD bukan milik saya, keduanya adalah karya besar dari Masashi dan Ichibumi

Rate: M

Genre: Adventure, Fantasy, Drama, Romance

Warn: Latar Original. Lolicon (maybe)

Naruto (16) x Hinata (10), Lolicon khan?

.

.

.

The Last Ninja 2

Setelah insiden di Konoha, Hinata kini melakukan perjalanan bersama anggota Chasseurs bernama Naruto menuju kota Vaexjoe. Kesan pertama yang hinggap di hati Hinata soal Naruto adalah pembunuh berdarah dingin, namun setelah mendengar kebenaran dari pria tersebut, Hinata merasa bahwa Naruto adalah lelaki yang baik. Setidaknya selama 5 hari perjalanan mereka, Naruto memperlakukannya dengan baik.

Mereka berhenti di sebuah kedai kopi saat waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kedai itu satu-satunya bangunan di tepi jalan yang gersang. Jika melihat dari ujung ke ujung, jalan panjang-lurus yang sedikit retak di beberapa ruasnya tidak memiliki nuansa yang spesial. Hanya terlihat rasa Noir atau Retro di sana. Jalan Death Valley area adalah jalan penghubung menuju Kota terdekat yakni Aleppo City. Di sanalah tujuan utama Naruto untuk benar-benar menginap sebelum mereka menuju Vaexjoe.

Naruto membuka pintu kaca yang sedikit kusam dan berdebu itu. Dia bahkan sempat menggosok sebuah noda di kaca pintu tersebut, namun ditegur Hinata dengan cemberutan manis menggemaskan.

"Kenapa?"

"Ti-tidak sopan tahu!"

"Oh…maaf." Naruto menggaruk belakang kepalanya. Kenapa lelaki berusia 16 tahun seperti dirinya mau dimarahi gadis kecil berusia 10 tahun yang bahkan belum memiliki oppai? Naruto melihat lantai berkeramik papan catur dan meja-meja berbentuk lingkaran di dalam kedai. Dia memilih yang dekat dengan dinding kaca sehingga bisa melihat pemandangan di luar.

"Pesan apa tuan?" tanya seorang pelayan wanita kepada Naruto. Lelaki itu memandang Hinata, kemudian berpikir bahwa pelayan wanita itu menganggap dirinya adalah ayah gadis kecil tersebut. Naruto berdehem dan memesan Cappucino latte. Sementara Hinata dengan polosnya memesan Death Wish Coffe, membuat pelayan dan Naruto terkejut memandang gadis kecil tersebut.

"A-apa?"

"Kau yakin memesan itu-ttebayo?"

Mata Hinata berkedip polos dua kali "Iya…memangnya kenapa? Heh…be-begini-begini aku sering minum kopi susu bersama ayah dan ibu sewaktu berumur 6 tahun lho."

'Bukan itu masalahnya…' alis Naruto berkedut kesal "Tolong Susu kental manis hangat ya mbak, untuk Death Wish Coffe itu coret saja."

"Heh?!" Hinata memandang gusar Naruto dan menghempaskan kedua telapak tangannya ke meja "Mana boleh begitu, kan aku yang memesan! Ke-kenapa kau yang mengaturnya?!"

"Kau mau minum kopi paling pahit sedunia dengan kadar kafein paling tinggi, gadis kecil menyebalkan?" Naruto akhirnya mengatakan soal Death Wise Coffe. Hinata menekan dagunya dengan jari telunjuk dan memasang wajah 'mengerti' yang menggemaskan.

"Oooh…" Hinata memandang pelayan itu dengan wajah pensaran "Apa itu kafein?"

Gheeh! Sesuai gaya anime ketika ada lelucon bodoh dilakukan, Naruto dan Pelayan itu jatuh ke lantai dengan posisi kedua kaki ke atas.

Setelah menjelaskan panjang lebar tentang Kafein dan bahayanya bagi anak kecil di bawah 17 tahun, Hinata akhirnya manggut-manggut mengerti. Naruto rasanya ingin meremas kepala indigo itu. Sayang dia masih menahannya karena harus membawa dengan selamat The Last Ninja ini. Hinata memandang Naruto dengan wajah malu.

"Ma-maafkan aku. Mbak…"

Pelayan yang dipanggil Hinata memandang gadis kecil itu dengan ramah.

"Susunya tambah sedikit jahe kalau bisa ya."

"Siap, nona kecil…"

Hinata mengalihkan wajahnya dari hadapan Naruto, membuat anggota Chasseurs itu bertanya-tanya dengan sikap Hinata.

"Kenapa?"

"Ti-tidak apa-apa…" Hinata menutup mulutnya sambil menyandarkan kepalanya dengan siku tangan 'Ke-kenapa dia tahu minuman kesukaanku sih? Susu kental manis yang hangat…'

Untuk beberapa menit keduanya berada dalam suasana yang hening. Naruto sedang mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong dari 8 kantong di ikat pinggangnya. Ada belasan permata di tangan lelaki bersurai kuning tersebut. Ada sekitar 4 warna coklat, 3 warna ungu, 6 warna putih dan 2 warna biru. Naruto meletakkan permata-permata itu di atas meja dan menghitungnya. Perhatian Hinata sukses terfokus ke permata-permata tersebut.

"Apa itu…Permata Element Magic?"

Naruto tersenyum dan mengangkat permata berwarna biru "Kau benar-ttebayo. Ini adalah tipe air," Naruto menunjuk yang coklat "Tipe tanah, yang berwarna ungu tipe petir dan putih untuk tipe angin. Sayangnya aku kehabisan permata berwarna merah untuk tipe api. Semuanya sudah habis kugunakan untuk membakar Konoha."

"Ooh…apa ketika ini dilempar maka akan muncul ledakan angin yang besar?" tanya Hinata sambil mengambil sebutir permata berwarna putih dari atas meja. Mata Amethyst-nya yang indah melihat kagum kilauan permata putih itu disinari cahaya jingga matahari yang masuk membias lewat dinding kaca kedai.

"Benar. Hebatnya, beberapa permata ini akan membuat elemen sesuai kehendakmu. Misalnya ketika kau melempar permata tipe tanah ini dan berkeinginan membuat dinding tanah, maka permata ini akan pecah dan membentuk dinding tanah. Tetapi jika kau melemparnya dan berkeinginan membuat eng…semisalnya palu tanah, maka palu tanah akan muncul dari permata tersebut." Naruto menggaruk belakang kepalanya "Yah seperti itulah. Aku lebih suka praktik daripada teori-ttebayo."

"Bo-Boleh aku coba?" tanya Hinata dengan wajah bersemangat.

"MANA BOLEH DI SINI!"

Hinata meletakkan batu permata putih itu ke meja. Naruto memasukkan kembali ke kantong kainnya setelah menghitung ada sisa 15 permata Element Magic yang ia simpan. Bagus. Ia masih memiliki berbagai tools untuk melindungi diri dan gadis kecil ini. Beberapa menit kemudian pelayan datang dan membawa pesanan mereka. Untuk beberapa saat keduanya kembali tidak mengobrol karena menikmati minuman pesanannya.

"Ah~ susu kental manis dengan jahe memang yang terbaik."

"Kau menyukainya?" tanya Naruto sambil bertopang dagu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memutar-mutar pipet di gelas Cappucino Latte.

"I-iya," entah kenapa Hinata sedikit was-was dengan pertanyaan Naruto "Ka-kau boleh mencobanya…" Hinata terdiam. Tiga titik muncul perlahan-lahan di atas kepalanya, tanda Loading suatu pikiran.

"HIIII?!" A-APA YANG KUKATAKAN TADI?! MENYURUH RAMBUT KUNING INI MENCOBA MINUMANKUU?! DEMI SUPER SET-NOV TIDAK AKAN PERNAH!

Hinata menggelengkan kepala dengan kikuk dan menggoyangkan kedua telapak tangannya yang diarahkan lurus ke depan.

"Ti-tidak usah! Lu-lupakan saja…a-aku tadi, aku tadi…" wajah gadis kecil itu memerah dan suaranya melemah. Naruto memiringkan kepalanya, lalu memajukan wajahnya mendekati cangkir susu Hinata sambil membawa pipetnya ke dalam cangkir tersebut.

"Hm, kau benar…" setelah selesai meminum sedikit susu tersebut, Naruto menyengir senang kepada gadis tersebut "…Ternyata susu kental manis dengan jahe itu enak ya?"

"A-APA YANG KAU LAKUKAN BAKAAA!" Hinata memukul wajah Naruto berkali-kali karena malu hingga kedua pipi lelaki itu memerah. Sementara asap mengepul-ngepul muncul di kepalanya. Pelayan yang melihat interaksi keduanya tertawa renyah.

"Apa yang kau lakukan setan kecil," ucap Naruto kesal sambil memegang pipi kanannya yang terasa paling sakit "Tadi kau menyuruhku mencoba susu-mu."

"Su-su-su-susuku?"

"Ya susumu, susu siapa lagi-ttebayo."

" Susuku? Susuku?!"

Naruto memandang aneh Hinata. Dia menaikkan alis kanannya dengan ekspresi kesal "Susu tanpa garis miring atau tanpa disertai dua tanda kutip." Naruto memandang dada Hinata yang masih belum tumbuh "Lagipula kau harus banyak minum susu jika ingin susu itu tumbuh-"

Tebak saja, Naruto kembali digampar gadis kecil tersebut. Setelah menjelaskan segala kesalahpahaman itu oleh Hinata, mereka berdua kembali terdiam dalam pikiran masing-masing. Hinata kembali teringat tentang Legenda Warisan Ootsutsuki Kaguya. Ninjutsu, Magic dan Teknologi. Dia juga teringat permata-permata yang dikeluarkan Naruto tadi. Permata yang disebut Element Magic. Mengingat ada kata Magic, apakah Naruto seorang Magician? Jika ia Magician, kenapa mau menolongnya yang merupakan seorang Ninja? Hinata tahu itu adalah misi dari kelompok Chasseurs, tetapi Naruto bisa saja menolaknya jika ia tahu yang akan diselamatkannya adalah seorang Ninja.

Tetapi lebih baik aku menanyakannya langsung, pikir Hinata.

"Na-Naruto-kun,"

Perhatian Naruto yang tadi ke arah pemandangan luar teralihkan menuju Hinata.

"Apa kau seorang…seorang Magician?"

"Hm?"

"Me-melihat kau menggunakan Permata Element Magic, bu-bukankah itu tanda-tanda seorang Magician?"

Naruto mendekatkan wajahnya dengan wajah Hinata, membuat gadis kecil itu kebingungan.

"Iya…dan saat ini juga aku akan membunuhmu-ttebayo."

Hinata memasang wajah sweatdrooped "Fix 100 persen…kau bukan Magician. Kau berbohong."

"Weeh? Kenapa kau tahu, hahaha…aku memang buruk kalau soal berbohong." Nyatanya, Naruto benar-benar ahli menutupi sesuatu. Tadi dia hanya bercanda "Ya, aku memang bukan seorang Magician. Kau boleh menyebutku Multitalent."

"Multi…talent?"

Naruto menganggukkan kepala "Aku akan menjelaskan lebih lanjut ketika kita sampai di Vaexjoe. Nah, ingat kata-kataku tentang Magician. Ciri khas Bangsa Magic adalah tongkat sihir yang mereka bawa sebagai senjata utama. Mau mereka aliran Human Magic, God Magic maupun Dark Magic, mereka semua menggunakan tongkat sihir sebagai senjata utama."

"Ja-jadi ciri khas mereka adalah membawa tongkat sihir ya? Lalu soal aliran-aliran bangsa Magician itu…"

"Aku akan lebih menjelaskannya ketika waktu yang tepat tiba," Naruto mengedipkan matanya "Untuk saat ini waspada saja dengan para Magician."

"Ba-bagaimana dengan Bangsa Teknologi?"

Naruto memasang wajah serius "Mereka disebut Millenial. Bangsa modern yang memiliki banyak sekali pemikiran dan filosofi. Jika Magician adalah pembenci garis keras bangsa Ninjutsu, maka orang-orang Millenial atau Bangsa Teknologi memiliki bebagai pandangan terhadap Ninja. Walaupun sebagian besar sudah mulai sepakat dengan Magician bahwa Bangsa Ninjutsu/Ninja harus musnah dari muka bumi."

Hinata sedikit bergidik ngeri "La-lalu, bagaimana mengenali mereka, Naruto-kun?"

"Mereka tidak memiliki ciri khas seperti Magician maupun Ninja," Naruto menopang dagunya dan memandang matahari yang semakin terbenam di ufuk barat "Hanya saja kemampuan mereka terhadap menggunakan barang-barang berteknologi baru yang tidak dimengerti Magician maupun Ninja adalah senjata berbahaya mereka. Jika aku bisa menembak 10 kepala musuh menggunakan pistol dengan mata terbuka, maka mereka bisa menembak 10 kepala musuh menggunakan pistol dengan mata tertutup. Jika aku bisa membawa motor Road Bike-ku dengan kecepatan 150 Km/jam di jalan yang lurus, maka mereka bisa membawa motor Road Bike dengan kecepatan yang sama di jalan meliuk-liuk. Seperti itulah analoginya-ttebayo."

Hinata mengangguk mengerti. Analogi aneh yang dikatakan Naruto membuatnya cepat mengerti. Dia menangkap banyak hal dari informasi yang diberikan anggota Chasseurs tersebut. Jadi dia harus berhati-hati dengan orang yang membawa tongkat sihir maupun yang ahli membawa motor Road Bike dengan kecepatan 150 Km/jam di jalan meliuk-liuk. Err, sebenarnya ada yang salah soal membawa motor tadi Hinata…

"Lalu, jika kau bukan Magician, bagaimana dengan permata itu Naruto-kun?"

"Permata Element Magic ya?" Naruto mengetuk jari telunjuknya di dinding gelas Cappucino Lattenya,

"Permata itu adalah hasil Teknologi dari penelitian Bangsa Teknologi/Millenial. Permata ini bisa digunakan semua bangsa, mau itu Bangsa Teknologi, Magic maupun Ninjutsu. Jadi kau bisa menggunakannya juga, Hinata."

"Wa-waaah…sugeei," Hinata memandang susu kental manis plus jahenya yang tersisa sedikit "Bang-bangsa Teknologi benar-benar hebat. Mereka seperti mempersatukan sebuah kemampuan suatu bangsa sehingga bisa digunakan bangsa lainnya."

Naruto menganggukkan kepala. Setelah itu mereka membayar biaya minuman dan pergi dari kedai tersebut. Hinata kembali bertanya ketika keduanya menembus angin malam di Jalanan Death Valley Area.

"Bagaimana dengan kasir dan pelayan di kedai tadi? A-apa mereka bangsa Magician atau Teknologi?"

"Aku tidak merasakan mereka memiliki kemampuan keduanya. Mereka disebut Orang-Orang Examination."

"Orang-orang Examination? A-apa lagi itu?" Hinata merasa dunia sangat amat luas. Lebih luas dari Desa Konoha.

Naruto teringat percakapannya dengan Hiruzen dan Biwako di Desa Konoha, saat malam ia membantai warga Magician tersebut. Pembicaraan soal Examination. Jikalau Hiruzen dan Biwako ketahuan membantu Hiashi dan keluarganya keluar dari desa, maka mereka akan di-Examination dari Bangsa Magic. Dengan kata lain mereka keluar dari bangsa tersebut dan boleh dibunuh.

Naruto menjelaskan kepada Hinata perihal Orang-Orang Examination. Gadis kecil itu menjawab dan bertanya dengan antusias.

'Ternyata mengkhianati bangsanya bisa di-Examination-kan, yang artinya tidak termasuk dari ketiga bangsa tersebut. Orang-orang buangan ya…' Hinata memeluk erat pinggang Naruto "A-ano, Naruto-kun…"

"Hm? Ada apa?"

"Apakah jika Hiruzen-jiji dan Biwako-Baa membantuku untuk kabur malam itu dari rencana pembunuhan warga Konoha, apakah…apakah mereka akan di-Examination?"

Naruto terdiam. Mungkin jawaban yang keluar dari mulutnya adalah jawaban yang tepat

"Entahlah, Hinata…"


Ada cara bagi Naruto agar menjaga Hinata tidak jatuh dari motornya walaupun gadis kecil itu tertidur. Dia mengikat tubuh Hinata dengan tubuhnya menggunakan tali sehingga ketika gadis itu tertidur, tubuhnya tetap condong ke depan atau condong ke arah punggungnya. Cara yang Naruto terapkan sangat efektif walaupun pada awalnya Hinata menolak dengan lucu.

"K-kau pikir ingin bermain Sadis denganku?"

"APA YANG KAU PIKIRKAN SETAN KECIIIL?!"

Yah…tadi hanya cuplikan kecil pertengkaran mereka. Naruto berbelok menuju Stasiun Pengisi Bahan Bakar di kanan jalan. Ada 3 pom di stasiun tersebut. Untuk Mobil, untuk Motor dan untuk Kendaraan Roda 6 (Truk dan sebagainya). Saat Naruto memasukkan selang pompa bensin ke tangkinya, ia melihat mobil Ferrari Enzo dengan warna merah khas sedang mengisi bahan bakar di Pom untuk Mobil. Bukan Merk mobilnya yang membuat Naruto tertarik, tetapi orang yang mengisi tangki mobilnya tersebut. Orang itu masuk ke supermarket untuk membayar biaya pengisian bahan bakar, kemudian masuk kembali ke mobilnya. Warna rambutnya merah dan pria itu sangat amat terkenal di dunia.

"Penguasa Kota Kuoh, Lord Sirzech Lucifer Gremory ya…" gumam Naruto. Dia menutup penutup tangkinya setelah selesai melakukan pengisian ulang. Bukan pulsa. Mobil itu melaju menuju jalanan. Naruto penasaran, apa yang membuat Lord Sirzech melakukan perjalanan diam-diam keluar Kota Kuoh. Jika pejabat besar melakukan perjalanan ke luar kota, maka liputan pers akan memberitakannya…

'Menarik-ttebayo…'

Sementara Hinata mengigau sambil memukul kepala kuning tersebut dikala Naruto sedang menyeringai sok misterius.

"A-aduh Hinata, sa-sakit tahu…mengigaumu itu buruk sekali!"

~The Girl with One Hope~

Hinata membuka matanya perlahan-lahan ketika merasakan silau matahari mengenai mata. Sudah pagi. Hinata tahu bahwa sesuatu yang menekan punggungnya adalah tali yang Naruto gunakan untuk mengikat tubuhnya dengan pria itu agar ia tidak jatuh ketika tertidur. Hinata sebenarnya ingin marah atas tindakan seenak jidat Naruto, tetap gadis kecil itu tersenyum. Dia sangat berterima kasih atas perhatian yang Naruto berikan kepadanya.

"O-ohay-ohayou~"

"Ohayou. Kau ingin membuat nada imut tetapi masih gagap seperti itu-ttebayo. Seharusnya cara bicaramu itu dibenarkan terlebih dahulu."

Tanda seru muncul di kepala Hinata. Perempatan di keningnya nampak.

"Da-dasar tidak sopan! Pagi-pagi sudah membuatku kesal. Kau menyebut dirimu pria?! Ti-tidak sama sekali."

Naruto tertawa renyah "Sepertinya gadis kecil kita mulai berkata dewasa."

"A-ano…tidak," Hinata terkejut dengan ucapan Naruto barusan "Lu-Lupakaaaan!"

Untuk beberapa saat, motor Road Bike itu melaju tenang namun kencang membelah angin jalan. Hinata menutup matanya merasakan kesegaran udara pagi. Naruto yang tetap terjaga dari semalam melihat tanah gersang di Jalan Death Valley Area mulai ditumbuhi rerumputan. Itu berarti Aleppo sudah dekat.

"Naruto-kun, k-kau tahu soal Aleppo?" Hinata bertanya tiba-tiba soal kota tersebut. Naruto menganggukkan kepala tanda dia tahu.

"Bi-bisa kau ceritakan?"

"Hmm…bagaimana ya? Aleppo adalah kota yang indah. Tetapi rata-rata bangunan rumahnya berbentuk kotak. Sungguh unik dan lucu. Di sana kau akan banyak menemukan buah Kurma."

"Kurma? Bu-buah apa itu?"

"Pokoknya sangat enak dan manis. Dia seperti kelapa sawit, ah…keluarga palem-paleman. Hehehe…aku merasa cerdas mengatakannya," Naruto berhenti tertawa. Informasi yang ia katakan kepada Hinata tentang Aleppo harus benar-benar jelas.

"Satu hal yang penting tentang Aleppo. Itu adalah Kota yang semua penduduk aslinya adalah Orang-Orang Examination."

"Eh?!" Hinata kembali dikejutkan informasi yang Naruto katakan. Kali ini ada sebuah kota yang memiliki orang-orang Examination sebagai warganya?

"Me-menarik." Komen Hinata jujur "Kenapa mereka bisa ada di sana?"

"Orang-orang Examination adalah orang-orang buangan dari ketiga bangsa seperti yang kau ketahui kan?"

Hinata menganggukkan kepala, dia sangat serius mendengarkan.

"Banyak orang-orang Examination yang diusir dari kota maupun desa mereka terlunta-lunta di dunia luar sehingga mati dalam kesengsaraan. Ada juga beberapa orang-orang Examination yan dibunuh bangsanya sendiri karena pengkhianatan mereka sangat merugikan kota atau desa bangsa tersebut. Namun dua tahun pasca Penguasa Dunia yang baru menjabat, dia memberikan sebuah tanah kosong bagi Orang-Orang Examination untuk membangun kota mereka sendiri. Berdiri lah Aleppo. Warga dari Ketiga Bangsa tidak boleh membunuh Orang-Orang Examination yang berada di kota tersebut, namun warga Aleppo juga harus mempersilahkan kunjungan ketiga bangsa yang ingin berwisata ke kota itu. Bisa dibilang itu adalah syarat yang dikeluarkan penguasa agar Orang-Orang Examination dan tiga bangsa bisa hidup berdampingan."

"Ja-jadi, bisa saja ada Orang-Orang Examination dari Bangsa Ninjutsu bukan?" Hinata bertanya dengan nada yang antusias. Dia senang jika Naruto menjawab "Ya."

"Entahlah Hinata…pasca naiknya sang Penguasa baru, keberadaan Ninja mulai dihapuskan," Naruto melirik ke arah kaca spion-nya. Dia dapat melihat wajah sedih gadis kecil tersebut.

"Tetapi, siapa yang tahu? Lagipula pria tampan ini bukanlah manusia yang mengetahui segalanya."

Hinata tersenyum mendengar semangat yang Naruto katakan. Terima kasih, rambut kuning jabrik…

"Da-dasar. Darimana kata tampan itu berasal? Percaya diri sekali."

"Weh, kau belum tahu kisah cintaku-ttebayo…"

Perbincangan ringan keduanya menemani mereka hingga sampai di sebuah simpang tiga jalan. Naruto membelokkan motornya ke kanan. Ketika itu di sisi jalan ada plang yang bertuliskan "Aleppo City" menunjuk ke arah depan. Keadaan jalan mulai bagus tanpa ada retakan-retakan, di sisi jalan muncul rerumputan dan pepohonan. Lima belas menit kemudian, Hinata melihat tembok besar yang menjulang di depan mereka. Kota yang berada di dekat kaki sebuah gunung dan tertutupi kabut. Kota dengan dinding raksasa setinggi 50 meter, terbuat dari bata-bata besar yang kuat.

"Aleppo…" gumam gadis kecil itu takjub. Naruto tersenyum mendengarnya.

Memasuki Kota Aleppo tidak mudah. Pertama harus melewati sebuah gerbang yang dijaga oleh pos penjagaan. Naruto menunjukkan identitasnya sebagai warga Vaexjoe. Hinata penasaran kenapa para penjaga sangat terkejut dengan kartu identitas yang Naruto berikan. Mereka memandang Naruto dengan pandangan sedikit takut, lalu mempersilahkan motor Road Bike itu melewati gerbang. Plang penghalang besi dibuka dan keduanya melaju memasuki jembatan sepanjang 700 meter yang benar-benar menawan.

Hinata melihat ke sisi kirinya. Ada sungai besar yang memisahkan daratan utama dengan gunung yang kakinya berdiri kota Aleppo. Jembatan itu terbuat dari bata-bata yang tersusun rapi dan indah. Seperti Jembatan Gard di Kota Vers-Pont-du-Gard, Perancis. Ada banyak patung tersusun rapi di kedua sisi jembatan. Di akhir jembatan, terdapat pos penjagaan sebelum memasuki pintu gerbang besar melewati dinding Aleppo.

"Lu-luar biasa Naruto-kun…dunia benar-benar luas ya."

Naruto tertawa cekikikan melihat dan mendengar antusias Hinata. "Ini baru secuil keindahan yang kau lihat dari ciptaan Tuhan, Hinata."

Hinata tertegun dengan kata-kata Naruto. Tumben pria yang suka berkata dattebayou di akhir kalimat ini bisa berkata bijak.

"Boleh melihat kartu penduduk anda?"

Naruto turun dari motornya dan mengeluarkan kartu identitasnya.

"Bukankah terlalu boros menggunakan dua gerbang sebagai pos pemeriksaan. Jika aku berhasil masuk ke sini berarti diriku sudah diverifikasi di gerbang pertama."

Penjaga itu sedikit tertegun dengan kartu identitas Naruto. Penduduk kota Vaexjoe. Hinata juga penasaran, seperti apa kota pemuda berambut pirang tersebut. Ngomong-ngomong, Naruto memang belum menceritakan soal kotanya. Yang ia ketahui di sana-lah para Chasseurs, tempat Naruto bekerja, berada.

"Terima kasih Tuan,"

"Naruto."

"Ya, Tuan Naruto. Terima kasih. Mudah-mudahan anda puas dengan kunjungan ke kota kami. Hey…Buka gerbangnya!"

Gerbang besar yang terbuat dari kayu belian tebal dan dicampur dengan besi itu berdecit. Ketika memasuki Kota Aleppo, Hinata disambut pemandangan rumah berbentuk kotak-kotak di dekat kaki gunung, lalu pohon-pohon kurma yang ada di tepi jalan. Banyak sekali tenda-tenda pedagang yang berdiri di tepian jalan ,menjajakan makanan, buah-buahan, souvenir dan pakaian. Mereka sampai di pusat kota, yang mana terdapat sebuah istana dengan bentuk kubah setengah bola seperti kebanyakan bentuk kubah mesjid. Ada dua menara tinggi di antara bangunan utama. Di depan istana tersebut terdapat kolam besar yang memancarkan air ke delapan arah. Tidak ada gerbang di depan istana. Para warga Aleppo berjalan di sekitar halaman istana menikmati suasana pagi.

"Sepertinya mereka bahagia, Naruto."

"Ya, karena mereka hidup damai di sini…ayo kita cari penginapan."

Hinata mengangguk. Dia memasang wajah penuh semangat. Melihat luasnya dunia dan keindahan Aleppo memunculkan perasaan baru di hati Hinata. Ia merasa banyak sekali perhiasan dunia hasil Maha Karya Tuhan yang harus ia lihat dan ketahui.

Tempat mereka menginap adalah sebuah penginapan yang ada di tebing kaki gunung. Sebuah penginapan bertingkat 10 lantai, berbentuk kotak khas bangunan Aleppo City dengan dinding-dinding klasik bata, jendela besar bergorden merah. Naruto memilih kamar nomor 8312. Kamar di lantai 8, lorong ketiga nomor 12. Kamar itu besar dan menawan. Ada ranjang ukuran besar dengan atap kelambu yang ditutupi kain sutera. Kasurnya terlihat tebal dan empuk, berwarna biru Cyan yang lembut. Lantai kamar dikarpet dan terdapat dua meja kecil di dekat ranjang dan sebuah meja hias di dinding beberapa meter dari pintu. Ada sebuah lampu tidur di atas meja kecil yang dekat dengan ranjang. Di tengah kamar ada sebuah meja kecil dengan sebuah sofa merah lembut dari beludru. Musik terompet dan seruling Arabic menyambut mereka. Mata Hinata berbinar, baru kali ini dia tidur di kamar sebesar ini.

"Ke-keren…"

Naruto tersenyum lalu melompat ke kasur berukuran besar tersebut "Aku tidur dulu Hinata, semalaman aku tidak tidur demi sampai ke kota ini. Yang tidak tidur di ranjang, maka ia tidur di sofa-ttebayo."

Mata Hinata melebar "Na-Naruto-kun…" Hinata berjalan mendekati Naruto yang sudah tertelungkup di kasur empuk tersebut. Hinata menggembungkan pipinya tanda ia cemberut. Dia memandang sepatu Naruto yang masih terpasang di kedua kaki. Saat Hinata mendengar dengkuran pelan pemuda berambut pirang itu, Hinata tahu bahwa Naruto benar-benar kelelahan. Dia menggelengkan kepala dan tersenyum manis.

"Dasar…sampai lupa melepas sepatunya." Gadis kecil itu melepas pelan kedua sepatu Naruto, lalu meletakkannya di samping ranjang. Dia duduk di sofa dan kebingungan apa yang harus ia lakukan. Padahal dirinya ingin mengajak Naruto berputar-putar di Kota Aleppo. Dia ingin lebih tahu soal rumah kotak-kotak warga Aleppo, Orang-Orang Examination yang tinggal di sini. Juga rasa Buah Kurma.

Buah Kurma…haah, Hinata benar-benar penasaran dengan rasanya.

Gadis kecil itu memberanikan dirinya untuk keluar dari kamar, lalu berjalan menyusuri lorong dan turun ke lantai pertama menggunakan lift. Sesampai di lobi penginapan, Hinata mencari pintu keluar penginapan tersebut. Suara ramah seorang pria membuat Hinata menoleh ke sumber suara. Seorang pria berusia 30-an dengan rambut hitam dan berwarna kuning Gold di bagian depannya memasuki penginapan. Hinata percaya pria itu masuk lewat pintu penginapan. Jadi dia akan keluar lewat situ.

"Permisi, apa ada kamar kosong di Lantai 10?" pria itu bertanya dengan resepsionis penginapan yang terlihat mengantuk. Pria itu memakai jubah merah dengan kerah tinggi. Bagian dadanya dibiarkan sedikit terbuka. Ia memakai celana jeans hitam panjang dan sepatu pantofel coklat mengkilat. Ada kesan misterius sekaligus mengancam dari pria tersebut.

"Ng…a-ada apa tuan?"

"Aku tanya apa ada kamar kosong di Lantai 10?" pria itu tersenyum. Namun Hinata merasa senyuman itu bukan senyuman ramah. Sebuah senyuman yang menutupi nafsu membunuh.

"Mak-maksudnya-"

"Baka!" pemilik penginapan nampak segera bertindak dan mengambil alih posisi resepsionis penginapan "Kau berbicara dengan Azazel-sama, salah seorang petinggi aliran Dark Magic dari Bangsa Magician."

"Ehh?! Be-benarkah?!" resepsionis itu membungkukkan tubuhnya berkali-kali meminta maaf. Mata Hinata berkedip-kedip kebingungan. Orang-orang yang ada di sekitar lobi terkejut dan memandang takut-takut ke arah pria tersebut.

"Azazel…Dark…Dark Magic?" Hinata bergumam pelan. Suaranya dipenuhi rasa penasaran. Ia teringat perbincangannya dengan Naruto di kedai kopi. Naruto banyak menceritakan soal Bangsa Magic dan Bangsa Teknologi. Para Magician dan Para Millenial. Dia juga teringat bahwa Naruto menyebutkan soal aliran-aliran di Bangsa Magic, yakni Human Magic, God Magic dan Dark Magic. Mendengar kata itu kembali membangkitkan rasa ingin tahu Hinata.

"Terima kasih atas kunjungan anda ke Aleppo, Azazel-sama. Semoga kunjungan anda menyenangkan." Pemilik penginapan membungkukkan tubuhnya sambil memaksa Resepsionis untuk ikut ber-ojigi. Azazel tertawa pelan.

"Sama-sama. Aku juga sangat berharap kunjunganku menyenangkan," raut Azazel berubah. Hinata dapat melihat pancaran membunuh dan kejam dari mata tersebut "Examination…" ucapnya dingin. Pria itu masuk bersama 5 pria lainnya. Hinata melihat kelima pria itu mengenakan jubah berpenutup kepala. Ada lambang bintang segi enam di dalam lingkaran yang tercetak di belakang jubah. Yang membuat perhatian Hinata semakin fokus adalah tongkat sihir yang dibawa. Benar kata Naruto…salah satu ciri Magician adalah tongkat sihir mereka.

"Hmh!" Hinata menggelengkan kepala "Aku harus fokus mencari Buah Kurma."gadis kecil itu mengepalkan kedua tangannya dengan gaya yang lucu 'Mari kita keluar dan melihat Aleppo…buah kurma juga!'


Kota Aleppo adalah sebuah kota yang didirikan di sebuah tanah kosong dekat kaki gunung. Walaupun sebagian besar bangunan berdiri di dataran datar di samping kaki gunung, beberapa bangunan juga berdiri tegak di kaki gunung itu sendiri. Terdapat banyak prasasti-prasasti batu yang terukir di jalan-jalan setapak Aleppo. Banyak menceritakan tentang sejarah dan perjuangan Orang-Orang Examination mendirikan kota tersebut.

"Jadi nama gunungnya adalah Gunung Hermon. Gunung ini disebut "Mata Bangsa" oleh orang-orang Examination karena menjadi alarm bahaya pertama jika ada serangan ke Aleppo," Hinata memandang sebuah menara tinggi di puncak gunung. Sepertinya itu adalah menara pengawas. "Diceritakan bahwa salah satu dari Ootsutsuki pernah turun ke Gunung Hermon untuk menggantikan penguasa lama yang telah melepas jabatannya. Hm? Aku bingung dengan kalimat yang ini."

Hinata sangat rajin membaca prasasti tersebut. Tanpa ia sadari, ia telah cukup jauh dari penginapan.

"Eh? Kedai Kurma…" Hinata memasang wajah kaget dan senang "Kedai Kurma?! KURMAA!" Hinata kecil berlari menuju kedai tersebut. Dia masuk dengan semangat, mengamati kedai yang terlihat sederhana namun sangat bersih. Hinata dengan wajah menggemaskan duduk di sebuah meja kosong dan menunggu pelayan datang. Ia mengikuti apa yang Naruto lakukan saat mereka di kedai kopi.

'Hm hm hm…aku senang. Rasanya seperti orang dewasa yang memesan Death Wish Coffe…' Hinata menggosok kedua tangannya. Rambut indigonya bergerak-gerak lucu.

Menunggu selama setengah jam, tidak ada pelayan yang menghampiri Hinata. Hinata memandang orang-orang yang datang ke kedai tersebut. Mereka langsung menuju sebuah meja panjang di depan dan berbicara sesuatu dengan pegawai kedai di sana. Kemudian orang-orang itu duduk dan beberapa menit kemudian pesanan mereka segera datang. Ada yang beda dengan sistem pemesanan di kedai ini dan kedai kopi tempat ia dan Naruto singgah kemarin.

"Hee?" Hinata memiringkan kepalanya kebingungan.

Dia menunggu selama 1 jam, dan tidak ada pelayan yang datang. Gadis kecil itu menggoyang-goyangkan kakinya dengan lucu. Sementara hatinya terus berucap 'Kurma…Kurma…'

"Nona kecil yang imut, sedang menunggu apa?" tanya seorang pelayan wanita yang menghampiri Hinata.

"A-aahh…" mata Hinata yang tergenang air mata karena menahan tangisan memandang pelayan itu dengan pandangan bahagia "A-aku menunggumu dari tadi Kakak Pelayan. Aku mau memesan Kurma."

Pelayan perempuan berusia 16 tahun itu tersenyum. Dia duduk di depan Hinata dan mengajarkan cara memesan di Kedai Kurma Aleppo. Pembeli harus datang ke meja pesanan dan memesan jenis makanan Kurma apa yang mereka inginkan. Kemudian mereka bisa duduk di meja dan menunggu, sampai pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.

"Ooh…be-begitu." Hinata manggut-manggut dengan antusias "Te-terima kasih,"

"Panggil saja Raynare-chan." Pelayan bernama Raynare itu tersenyum manis "Namamu nona kecil?"

"Hyu-Hyuuga Hinata."

Raynare mengangguk mengerti. Dia kemudian memberitahu menu apa saja yang ada di kedai mereka. Ada Buah Kurma Original yang selalu diberi porsi 7 biji oleh kedai karena kurma adalah salah satu buah dengan glukosa tinggi sehingga cepat mengenyangkan perut. Ada juga Buah Kurma yang dicampur dengan berbagai macam rasa. Rasa madu, rasa Khamir, rasa Kunafah dan lain-lainnya. Ada juga Pancake Kurma, Sirup Kurma, Cake coklat-kurma dan berbagai makanan-minuman olahan dari kurma. Hinata mendengarnya dengan antusias, sampai-sampai ia memegang kepala indigonya.

"A-aku kebingungan memilih apa?"

Raynare tertawa renyah "Hahaha, Hinata-chan…kau memang lucu dan manis ya." Raynare mencubit kedua pipi Hinata "Kau pasti pengunjung Kota Aleppo kan?"

Hinata menganggukkan kepala dikala kedua pipinya dicubit Raynare. Ia pun menceritakan perjalanannya bersama Naruto. Tetapi gadis kecil itu tidak pernah menceritakan tentang Desa Konoha, asal desanya dan juga status dirinya sebagai The Last Ninja.

"Ooh menarik. Jadi lelaki yang bersamamu mengunjungi Kota Aleppo adalah ayahmu? Atau kakakmu? Kau bilang dia lebih tua darimu."

'Aku mau bilang dia apa ya…?' wajah Hinata terlihat lucu ketika berpikir. Raynare tertawa senang. Dia benar-benar gemas melihat ekspresi polos dan imut Hinata.

"Ah, aku lebih senang memanggilnya dengan tambahan –kun daripada Nii-chan." Ujar Hinata dengan semangat tinggi. Raynare memiringkan kepala karena bingung. Ya jelas ia bingung, hubungan antara lelaki tua dan Hinata yang diceritakan gadis kecil itu saja masih abstrak.

"Ah sudahlah…hm, Hinata-chan."

"Ha-hai'?" duduk Hinata langsung tegak. Sementara Raynare sudah melepas cubitan gemasnya.

"Boleh aku menyarankan pesanan yang enak untuk pendatang baru sepertimu?" Raynare mengacungkan jari telunjuknya ke atas dan mengedipkan mata kirinya "Buah Kuram Original 7 buah. Itu akan memperkenalkanmu rasa murni Buah Kurma. Kau benar-benar mau merasakan rasa asli Kurma kan?"

Mata Hinata berbinar. Raynare benar-benar pelayan yang hebat.

"Tolong ya, Raynare-chan…" Hinata mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah. Benar-benar memohon "Aku mau pesan itu…"

Raynare kembali ke meja pesanan dan meminta pesanan yang Hinata inginkan. Beberapa menit kemudian, pesanan itu datang. Raynare membawanya langsung kepada Hinata. Gadis kecil itu berkali-kali meminta maaf karena merepotkan Raynare. Tentu saja Raynare tertawa melihat sikap Hinata.

"Ini kan memang tugasku Hinata-chan…ahahaha, kamu imut banget sih."

Mata Hinata berkedip bingung, namun perlahan-lahan ia tersenyum senang. Di dalam hatinya, dia bersyukur kepada Tuhan karena selain melihat dunia luas, ia juga bisa mendapatkan teman baru.

Kurma adalah tanaman Palma yang sudah melegenda di Aleppo. Sebelum kota ini dibangun, pohon-pohon Kurma sudah ada di dekat dan di kaki Gunung Hermon serta memberi bantuan pangan bagi Orang-Orang Examination dikala mereka kelaparan. Pembangunan kota tidak terlepas dari peranan kurma sebagai penambah tenaga bagi para pekerja yang membangun kota atas perintah penguasa dunia. Buah kurma memiliki empat tahap kematangan menurut orang-orang Aleppo, ada Kimri (muda), khalal (berukuran penuh), rutab (matang lembut) dan tamr (matang, dikeringkan dengan sinar matahari). Sajian yang sering digunakan oleh orang Aleppo untuk hidangan adalah kurma tamr. Kurma yang matang, kemudian dijemur dengan sinar matahari untuk menambah kelembutan dan rasa manisnya.

"E-enak Raynare-chan," Hinata merasakan sensasi manis dan lembut saat dia menggigit buah tersebut "Benar-benar rasa yang belum pernah muncul di lidahku."

Raynare tersenyum senang "Syukurlah…aku kira Hinata-chan tidak menyukainya. Kurma tidak cocok untuk orang-orang yang benci makanan terlalu manis lho."

"Be-begitu," Hinata membuang biji kurma tersebut. Biji itu kecil dan berbentuk seperti biji padi, hanya saja sedikit lebih besar dan berwarna coklat terang serta berserabut tipis.

"Tetapi ini benar-benar enak, Raynare-chan…" ucap Hinata dengan senang. Dia melahap kurma keduanya. Raynare menghela napas senang. Dia menganggukkan kepala, ternyata Buah Kurma dapat mengambil hati Hinata.

"Hinata-chan, kalau boleh tahu…kau, kau berasal dari bangsa apa?"

Hinata berhenti memakan buah kurma kelimanya. Dia memandang sejenak wajah cantik Raynare. Apa harus memberitahu Raynare yang baik ini tentang dirinya? Atau tetap mempertahankan rahasianya?

"A-aku berasal dari B-bangsa Magician." Ujar Hinata sedikit gugup. Dia belum pernah berbohong selama ini. Jelas saja, selama masih ada ayah dan ibunya, ia terus diajari supaya jangan berbohong.

"Hm, begitu…" Raynare mengangguk beberapa kali "Jadi kau aliran apa? Dark? God? Atau Human?"

Hinata terkejut dengan pertanyaan Raynare. Dark, God dan Human baru saja ia dengar dari Naruto kemarin. Kini langsung ditanyakan teman barunya. Tentu saja Hinata tidak tahu masing-masing aliran tersebut, berbeda dengan informasi tiga bangsa yang Naruto jelaskan dengan baik.

"A-aku aliran Human…" ucap Hinata dengan suara sedikit mengecil. Dia memandang ke bawah, melihat dua kurma tersisa, kemudian memandang wajah Raynare. Pelayan cantik itu tetap tersenyum memandangnya.

"Begitu ya…hehehe, tak disangka Hinata-chan berasal dari Bangsa Magic ya." Nama Raynare dipanggil oleh salah seorang pegawai di kedai tersebut.

"Yap, sepertinya kerjaan telah menungguku. Jangan sampai ada kurma yang tersisa ya. Ada legenda mengatakan jika seseorang yang pertama kali makan kurma dapat menghabiskan 7 kurma, maka ia akan diberkati Tuhan," Raynare berdiri dan mengedipkan mata kirinya "Setelah itu pergi ke kasir untuk membayar, Hinata-chan."

"E-eeeh?!" Hinata memegang kepala indigonya. Wajahnya terlihat kaget dan juga bingung. Raynare memiringkan kepalanya, dia penasaran kenapa Hinata tiba-tiba mengacak-acak rambut indigonya.

"Aku lupa soal bayaraaan?! A-aku tidak membawa uaaang!"

Setetes keringat sweatdropped muncul di kening Raynare "Eh?" ucapnya bingung melihat tingkah gadis kecil tersebut, tetapi sedetik kemudian dia tertawa lepas.

"Ahahaha, kau memang imut Hinata-chan. Yah…karena kita telah menjadi teman, biaya makan kurma-mu akan kubayar," Raynare mengelus pelan kepala indigo tersebut "Jadikan ini rahasia kecil di antara kita ya?"

Hinata menatap senang pelayan tersebut. Dia benar-benar bersyukur bertemu gadis sebaik Raynare.

Setelah keluar dari kedai kurma, Hinata sedikit berjalan-jalan di kota Aleppo sebelum sorenya kembali ke penginapan. Dia segera menuju kamarnya, nomor 8312 dan ingin sekali menceritaka tentang Kurma kepada Naruto. Tetapi saat membuka pintu kamar, pria berambut kuning itu sudah tidak ada di sana. Hinata menemukan catatan di atas meja hias.

Kau ke mana saja, setan kecil! Benar-benar membuatku khawatir. Jika kau datang ke kamar sebelum malam, maka kau belum melihatku di kamar. Aku ada urusan sebentar. Mungkin malam baru datang.

- Uzumaki Havenz Zain Namikaze Dwezbrencksky Qoille Naruto -

'Na-nama yang panjang…' Hinata meletakkan surat itu ke meja hias dan duduk di sofa empuknya. Dia menggoyang-goyangkan kakinya, sambil mengingat kegiatan yang ia lakukan tadi. Betul-betul menyenangkan. Dia bahkan mendapatkan teman baru bernama Raynare-chan. Gadis ramah dan baik. Hinata berpikir besok pagi ia akan mengajak Naruto makan kurma di sana.


Naruto merasa tidak beruntung bertemu salah seorang petinggi Bangsa Magic di Kota Aleppo. Azazel, yang juga salah satu Magician terkuat Aliran Dark Magic tanpa sengaja berpapasan dengan Naruto di lobi hotel (saat itu Naruto kelabakan mencari Hinata) dan petinggi itu mengajaknya jalan-jalan keluar. Mereka sampai di depan Gedung Pembangkit Listrik kota yang berada beberapa ratus meter dari penginapan. Komplek gedung pembangkit listrik itu sangat luas, ada empat bangunan besar yang berisi empat mesin generator besar. Ada 12 rumah kecil yang merupakan tempat tinggal para pekerja. 12 rumah itu berada di tepi komplek yang dibatasi pagar kawat berduri. Di kedua sisi 4 bangunan besar, ada 6 tong besar setinggi 100 meter berwarna perak yang bisa dimasuki dan disitu para Orang-Orang Examination dari Bangsa Magic menggunakan kekuatannya untuk memberikan sumber daya listrik bagi Aleppo.

"Komplek ini dikonsep oleh Orang-Orang Examination dari Bangsa Teknologi. Mereka bekerja sama dengan orang buangan dari Bangsa Magic untuk membangkitkan tenaga listrik sihir yang hebat. Benar-benar industri yang bagus."

"Anda memuji mereka, Azazel ojii-chan?" Naruto bertanya kepada Azazel karena penasaran dengan kalimat tadi. Azazel mendengus pelan. Tangan kanannya menggoyangkan kaleng bir yang ia bawa dari penginapan.

"Tentu saja, Naruto-kun. Lagipula…" Azazel memandang Naruto dengan kesal "Jangan memanggilku ojii-chan! Aku belum setua wajahku!"

Naruto mengibas tangan kirinya "Hai' hai', kau mau kupanggil apa?"

"Ototou…"

"MENJIJIKKAN!"

Azazel meneguk birnya kembali. Dia dan Naruto sedang berdiri di bawah sebuah pohon yang berada di seberang jalan, yang mana di seberangnya adalah gerbang komplek Pembangkit listrik Kota Aleppo. Naruto memandang petinggi Magician yang sudah ia kenal cukup lama. Kadangkala dia kesal dengan sifat seenak Azazel dan juga kebiasaan minumnya yang buruk.

"Kau datang ke Aleppo untuk bertemu Baraqiel?"

Azazel melirik sejenak remaja 16 tahun berambut pirang tersebut. Dia tersenyum tipis "Heh…kau selalu benar menebak pergerakanku. Lagipula, sebelum di-Examination oleh Bangsa Magic, Baraqiel adalah salah satu petinggi di Aliran Dark Magic. Sekarang dia adalah pemimpin Kota Aleppo. Aku bersyukur masih bisa bertemu sahabatku."

"Kau tidak ingin membunuhnya? Bukankah darahnya sah-sah saja untuk ditumpahkan."

"Bakayaro…itulah kenapa orang-orang Chasseurs seperti kalian tidak memiliki hati. Misi dan misi yang hanya di otak kalian," Azazel menegak kembali birnya "Keputusan membunuh seorang Examination ada pada individu, jika seorang Magician ingin membunuh Examination dari bangsanya, maka ia tinggal melakukannya. Jika dia tidak ingin melakukannya, maka jangan dilakukan. Lagipula aturan dilarang membunuh para Examination di Aleppo sudah jelas."

"Tetapi kau membenci para Examination kan?"

Azazel tertawa keras. Naruto membuat tanda diam dengan jari telunjuknya. Ossan ini benar-benar tidak tahu tempat dan situasi. Mereka sedang berada di dekat kompleks pembangkit listrik Aleppo, salah satu daerah yang tidak boleh sembarangan didekati pengunjung luar, dan petinggi Magician ini tertawa seenaknya saja.

"Aku membenci mereka karena pengkhianatan dan kebodohan yang mereka lakukan terhadap bangsa mereka. Mau itu dari Magic, Teknologi dan…" mata Azazel menajam "…Ninjutsu. Para Examination itu benar-benar sampah!"

"Lalu, bagaimana dengan pemimpin Kota Aleppo Baraqiel? Kau menganggapnya sampah?"

"Aku tahu dia hanya dijebak." Azazel menggaruk belakang kepalanya "Akhir-akhir ini keadaan Kuoh cukup memprihatinkan. Sebagai kiblat semua kota dan desa Magician, Kuoh sedang dilanda konflik antar saudara. Tiga aliran Magic saling bertentangan, kami berkelahi seperti anak kecil bodoh karena ideologi masing-masing."

"Hmm…begitu ya." Naruto memasukkan kedua tangannya ke kantong celana "Ne, jadi kau datang ke Kuoh untuk memberitahukan keadaan anak Baraqiel kan? Selain mengunjungi sohib lamamu itu. Konflik di Kuoh pasti membuat Baraqiel khawatir dengan keadaan anaknya."

Mata Azazel terbuka lebar. Dia sedikit kaget Naruto mengetahui tujuan tersembunyinya.

"Dasar Chasseurs sialan! Karena masa lalu, kami para Magician sering menjadi klien kalian, seenaknya saja kalian mencuri informasi tentang bangsa kami."

Naruto terkekeh "Itu merupakan tugas para pemburu, Azazel ojii-chan."

"Sudah kubilang panggil aku Imouto!"

"Imouto untuk adik cewek, tua bangka. Weh…weh..sepertinya mabukmu makin parah-ttebayo!"


Dengan amat terpaksa Naruto memapah Azazel yang mabuk berat ke kamarnya di lantai 10. 5 pengawal Azazel menyambut tuan mereka dengan sigap. Naruto juga heran, ternyata Azazel jalan-jalan bersamanya tadi tanpa ditemani 5 pengawalnya. Bisa saja Chasseurs itu mencelakai Azazel, tetapi nampaknya petinggi Magician Aliran Dark Magic itu sudah percaya dengan kekuatan pribadi.

"Lelahnya…" Naruto memasuki kamarnya dan memandang bingung Hinata yang tertidur di sofa. Gadis indigo manis itu meringkuk sedikit dengan tangan kanan yang menempel di bawah bibir. Benar-benar lucu dan menggemaskan. Naruto memandang kertas pesan yang ia taruh di atas meja, kemudian kembali mengarahkan pandangannya kepada Hinata.

"Benar-benar bocah yang merepotkan," Naruto mengangkat HInata lalu membaringkannya di ranjang besar kamar mereka. Naruto sendiri langsung berbaring di sebelah Hinata sambil memikirkan tentang hari esok. Adanya Azazel di Aleppo untuk mengatakan Baraqiel-pemimpin Aleppo-soal keadaan Kuoh merupakan tanda bahwa Kota Kuoh dalam keadaan sangat genting. Pasti banyak pengkhianatan di sana dan para pengkhianat yang di-Examination pasti akan menuju Aleppo City.

"Who, aku lupa melepas sepatu." Gumam Naruto pelan. Dia duduk di tepi ranjang dan melepas kedua sepatunya, kemudian berbaring kembali. Saat berdiam diri, Naruto mendengar suara dengkuran halus di sebelahnya. Dia memiringkan tubuhnya untuk memandang punggung kecil gadis Hyuuga tersebut.

Perlahan namun pasti, Naruto memeluk tubuh mungil itu dan membiarkan punggung gadis itu menyentuh wajahnya.

The Last Ninja 2 END

Author Note

Pusing dengan nama Naruto yang Naudzubillah panjangnya. Hahaha, dapat ide darimana nama Naruto sepanjang dan seaneh itu? Yah…mau buat unik sih biar tidak Cuma Uzumaki/Namikaze Naruto saja. Biar kesan Eropanya dapat gitu hihi.

Kok Hinata Loli? Sebenarnya aku mau menjadikannya gadis yang berusia sama dengan Naruto. Tetapi Icha menyarankan bahwa aneh jika seorang lelaki dan seorang gadis bersama-sama mengadakan perjalanan, jadi kesan perjalanannya seperti perjalanan cinta. Maka menjadikan Hinata Loli biar Naruto perlahan-lahan menyayangi Hinata dari tingkat adik sampai…hehehe, Pedofil? *ditabok Naruto*

Lalu nama Bangsa Teknologi sudah terungkap di chapter ini.

-Ninja untuk bangsa yang menggunakan Ninjutsu

-Magician untuk bangsa yang menggunakan Magic

-Millenial untuk bangsa yang menggunakan Teknologi

Nah, dua chara dari DxD juga sudah bermunculan yakni Azazel dan Raynare. Hubungan antara Azazel dan Naruto sudah dijelaskan di atas, yah…seperti paman dan keponakan gitu. Lalu ingat, ciri khas bangsa Magic adalah mempunyai tongkat sihir mereka sebagai senjata. Jadi bayangkan para Magician itu seperti pameran Harry Potter yang suka bawa tongkat dan jubah mereka.

Chapter depan akan menjadi chapter terakhir untuk The Last Ninja Arc sebelum memasuki Arc baru. Updatenya pun kalau tidak hari senin ya hari selasa…

Yang review pakai akun sudah aku balas lewat PM. Untuk yang guest, ada saran unik tetap memakai NH jadi pair utama. Tenang saja, ini memang fic bagi para penikmat NH, tetapi jelas saja Naruto sebagai anggota Chasseurs memiliki beberapa kenalan gadis yang menyukainya. Ah…itu hanya pemanis cerita dan jangan dianggap terlalu penting. Intinya mampukah Naruto membawa Hinata selamat sampai tujuan yakni kota Vaexjoe.

Oh ya, untuk Kota Aleppo itu asli aku pakai nama kota di Negara Suriah, pasti tahu kalau cek Mbah Google. Gunung Hermon juga gunung yang ada di perbatasa Suriah-Lebanon, nama lainnya Jabal es-Syeikh.

Lebih jelasnya bisa lihat Glosarium

Gloarium

Death Wise Coffe. Kopi company asal New York, Amerika Serikat yang mengklaim produk kopi mereka sebagai kopi 'terkuat' di dunia. Kata terkuat dibuktikan dengan besarnya kandungan kafein yang melampaui jumlah kafein kopi-kopi lainnya yang pernah ada di dunia. Death Wish Coffee mengandung 200% kafein. Jika Hinata meminumnya, bayangkan bagaimana rasanya.

Death Valley Area. Namanya diambil dari Gurun terendah di Amerika yang menjadi percobaan Bom Atom tahun 1945. Gurun ini sangat panas, kering dan terdapat batu-batu yang bisa bergerak sendiri.

Jembatan Gard. Ini agar teman-teman bisa membayangkan jembatan yang menghubungkan gerbang pertama kota Aleppo dengan gerbang keduanya. Jembatan Gard di dunia nyata dibangun oleh Marcus Vipsanius Agrippa (63 - 12 BC) menantu dari Caesar Augustus, terbuat dari batu dengan berat sampai 6 ton terdiri dari tiga tingkatan, yang paling atas adalah kanal air walaupun nampak bagaikan jembatan terletak di kota Vers-Pont-du-Gard, dekat Remoulins, departemen Gard di Perancis. Bisa cek di Mbah Google.

Aleppo. Sebuah kota di Suriah yang menjadi ibu kota Kegubernuran Aleppo yang berpopulasi terbesar dalam Kegubernuran di Suriah. Dalam beberapa abad, Aleppo adalah kota terbesar wilayah Syam dan kota ketiga terbesar Kesultanan Utsmaniyah, setelah Konstantinopel dan Kairo. Aleppo adalah sebuah kota kuno besar dan salah satu kota tertua di dunia yang terus menerus didiami; diperkirakan sudah didiami sejak abad ke-6 SM.

Gunung Hermon. Gunung yang terletak di perbatasan Suriah-Lebanon. Nama lainnya Jabal es-Syeikh.

Ferrari Enzo. Nama tipe Mobil dari Ferrari. Bisa cek di Google.

Buah Kurma. Nama latin Phoenix dactylifera adalah tanaman palma (Arecaceae) dalam genus Phoenix, buahnya dapat dimakan. Walaupun tempat asalnya tidak diketahui karena telah sejak lama dibudidayakan, kemungkinan tanaman ini berasal dari tanah sekitar Teluk Persia.

Next: The Last Ninja 3

"Ini juga sebagai perlindungan dini bagimu, ayo kita ke halaman belakang penginapan."/"T-tetapi nanti ketahuan jika aku adalah Ninja."/ "Orang-orang Examination bisa kembali ke Bangsa-nya lho…asalkan mereka melakukan sesuatu yang menguntungkan bangsa mereka. Jadi jika kau terlalu lama di sini, maka kau akan menjadi ikan yang tertangkap kail mematikan. Tentu saja akan membahayakan nyawamu…"