BLACK CODE
Ciellalee
Chapter : 1
.
Suara denting pedang yang saling beradu di aula terdengar begitu nyaring, menggema ke seluruh ruangan. Beberapa prajurit tengah berdiri berjejer membentuk brikade mengelilingi aula yang berbentuk persegi panjang. Mereka ditugaskan untuk mensterilkan kondisi ruangan tak ingin sang Tuan Muda diganggu kegiatannya. Tatapan mereka fokus pada dua lelaki yang tengah saling menjulurkan pedang, berusaha mengenai salah satu anggota tubuh guna mengalahkan lawan.
Tak ada seorang pun dari mereka yang berniat untuk mengalah hari ini. Suara decitan sepatu saling bergesekan dengan lantai mahoni yang telah dipoles sehalus mungkin agar mereka tak terpeleset. Wajah tegang, peluh menetes di kening keduanya, meremang panas dingin bukan karena meriang.
Para prajurit yang tengah menonton memekik tertahan ketika salah satu dari mereka nyaris mengenai bagian tubuh lawan. Kedua petarung tersebut menghentikan langkah. Sama-sama menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan peluang-peluang yang ada.
Lelaki berambut hazel tersebut menatap jeli ke arah lawannya, dari ujung ke ujung. Dalam jarak sedekat ini, ia langsung dapat membayangkan dengan utuh gerakan-gerakan yang akan dia ambil untuk meraih kemenangan mutlak. Postur tubuh sang lawan jelas berbeda jauh dengan dirinya, sama sekali tak membuat ia gentar. Lawannya itu memang punya tubuh tinggi, tegap, diselimuti otot-otot kecil terlatih tetapi ia tak punya kuda-kuda yang kokoh dan bisa Baekhyun ambrukkan dalam sekali tendang.
Yah, sayangnya tendangan tidak diperbolehkan. Napasnya mulai menderu pelan, berirama dan teratur. Ia menyeringai, jelas, hari ini ia akan mengakhiri pertarungan dengan memainkan orkestra penuh semangat malam ini. Karena sesungguhnya pertarungan yang indah tak ada bedanya dengan musik yang menawan.
Dengan tumpuan kaki kanan lelaki bersurai hazel tersebut menghentak kencang ke arah lawan. Tanpa membuang waktu mengarahkan pedangnya ke arah dada sang lawan. Bunyi tepukan keras terdengar menghentikan aksi pertarungan.
"Berhenti! Pertarungan selesai! Baekhyun memenangkan pertandingan kali ini!" Teriak salah satu prajurit yang ditunjuk menjadi wasit. Mereka berdua berhadap-hadapan. Para prajurit di belakang berteriak heboh menyebut satu nama pemenang yang menatap tajam ke lawannya.
Napas Baekhyun nampak sedikit tersenggal. Posisinya yang masih kokoh menghunus pedang ke arah lawan ia turunkan perlahan. Baju fencingnya telah basah kuyup oleh keringat.
"Ah.. kau memang hebat, Baekhyun. Seperti yang diharapkan dari ksatria sejati. Heh?" Sang lawan terkekeh pelan.
Baekhyun melepas pelindung kepala yang masih ia kenakan lalu ditaruhnya ke sudut ruangan. Barisan telah bubar, para prajurit tersebut mulai kembali menjalankan aktivitas mereka setelah Baekhyun memberi kode mengusir ingin diberi waktu berdua saja dengan kakaknya.
"Kau terlalu berlebihan Kris. Aku hanya melihat kesempatan di dalam kesempitan kok." Tangannya meraih botol minum berwarna kuning, lalu ia minum isinya dengan rakus. Tangannya sibuk mengusak rambutnya yang basah oleh keringat dengan handuk kecil yang disodorkan pelayan. Ia lalu mendudukan diri di depan kaca besar. Ekor matanya menyuruh kris untuk turut mengisi posisi kosong di sebelahnya setelah sebuah handuk yang ia lemparkan pada Kris.
"Aku heran, bagaimana bisa kaki lidimu itu melangkah dengan begitu cepat dan kuat? Aku bahkan tak yakin bahwa otot betismu lebih besar daripada milikku." Kris menggerutu.
Baekhyun terkekeh pelan. Surai hazelnya bergoyang-goyang mengikuti irama tawanya. Mereka berdua akhirnya terdiam. Menetralkan deru napas masing-masing sambil tenggelam ke dalam pikiran mereka. Menikmati keterdiaman yang ada di antaranya.
Hari ini Baekhyun memang sengaja memanggil pria tersebut untuk saling beradu pedang. Bosan−katanya. Namun ide itu awalnya ditolak mentah-mentah oleh Kris dengan alasan sibuk dengan urusan kerajaan. Meski begitu pada akhirnya ia tetaplah datang karena tak ingin mengecewakan adik kecilnya yang akan berulang tahun beberapa hari lagi.
Kris merenggut kesal dalam hati. Meski ia lebih tua 4 tahun dari Baekhyun tapi dirinya selalu saja kalah dalam adu pedang. Adiknya yang kelewat jenius memang tak mengenal rasa ampun, sama sekali tidak pernah membiarkan dirinya menang sekalipun.
Jika sudah begitu ceritanya, ia akan selalu menghindari topik-topik yang membahas kemampuan pedangnya yang selalu dibandingkan dengan Baekhyun ketika sedang latihan bersama prajurit lainnya.
Wajahnya memang menggemaskan, pembawaan dirinya yang tenang dan anggun, sama sekali tidak akan membuat seorang pun yang akan mengira bahwa di dalam dirinya tersimpan aura gelap yang sewaktu-waktu akan muncul dan tak terkendali.
"Kudengar kau ditunangkan dengan putra dari keluarga Armens minggu depan?" Celetuk Kris. Pergerakan Baekhyun dari mengusap rambutnya terhenti.
Ekspresi mukanya tiba-tiba menggelap. Bibir mungilnya ia katupkan rapat-rapat. Tangan sebelah kirinya yang memegang botol minum tak tahunya ia remas dengan kuat. Kris bergidik ngeri, sepertinya ia salah berbicara.
"Ah, jika kau tak ingin membahasnya maka tak perlu dijawab." Cepat-cepat ia akhiri pertanyaan tersebut tak ingin membuat Baekhyun marah.
Baekhyun mendengus. Ia hembuskan napas berat perlahan. Kedua tangannya ia jadikan tumpuan untuk bersender sambil meregangkan kaki-kaki yang terasa pegal.
"Tak apa. Lagipula kau juga akan tahu toh." Jawab Baekhyun singkat.
Mendengar jawaban Baekhyun, Kris tak membuang waktu segera menyempatkan diri untuk kembali melanjutkan pertanyaannya. "Jadi kau benar-benar akan ditunangkan?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya lemah. Ia usap wajahnya kasar. Sebenarnya ini adalah salah satu topik yang sensitive untuk Baekhyun. Dan ia cukup malas untuk menanggapi Kris namun berhubung lelaki itu jelas adalah seorang kakaknya maka tak ada alasan khusus untuk menolak.
"Mereka berdua benar-benar memaksaku untuk bertunangan dengan bocah arogan itu. Bahkan anak itu tak datang ketika pertemuan keluarga yang pertama, alasannya sibuk karena banyak pekerjaan." Baekhyun menelan airnya kasar.
Ia teringat akan kejadian beberapa minggu lalu ketika orang tuanya memaksanya dengan keras untuk ikut dalam acara itu. Mereka bahkan menyiapkan penata busana terbaik hanya untuk mendandani Baekhyun selama 2 jam. Tapi apa yang terjadi? Si lelaki brengsek itu malah sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.
Dan Baekhyun jelas mengetahui alasan mengapa lelaki itu tak datang. Orang kepercayaannya mengirimkan foto si brengsek itu tengah bercumbu di salah satu kelab mewah di pusat London.
Selama 3 hari para pelayan bahkan sampai tak berani masuk ke kamarnya karena Baekhyun marah besar. Harga dirinya telah dicoreng oleh salah satu bangsawan dari keluarga Duke Armens−Chanyeol Armens. Jika saja ia bukan dari keluarga keturunan langsung dari Ratu Elizabeth, ia takkan segan mengacungkan pedang ke dadanya.
Berita memalukan itu bahkan langsung tersebar luas di kalangan rakyat menengah ke bawah yang senang dengan kabar burung. Bahkan tak jarang Baekhyun sering memergoki mereka sedang bergosip tentang dirinya ketika sedang melakukan riset langsung.
Kris tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk pundak Baekhyun. "Astaga, Baek! Ahahahaha! Ya ampun, aku tak menyangka akhirnya orang macam itu akan datang juga. Aku benar-benar ingin melihat wajahmu ketika tahu lelaki itu melakukan tindakan tak senonoh dan diketahui oleh calon tunangannya. Wah, ini akan jadi berita heboh." Kris mengusap ujung matanya yang berair terlalu banyak tertawa.
Baekhyun mendelik seraya mengacungkan tinju ke arah Kris. "Kau! Benar-benar! Enak saja ya kau. Paling tidak aku punya orang-orang yang mengemis cinta padaku, Kris. Bahkan aku menghabiskan waktuku untuk mendengarkan kisah hidup mereka yang serba glamour dan menyaksikan mereka menari striptis di depanku jauh lebih banyak dibandingkan kau dulu yang tergila-gila pada satu orang lalu di tolak. Memalukan."
Kris tertawa. "Kau selalu licik, Baek. Kau selalu mengungkit-ungkit masa lalu 'itu'.. Well, aku pikir dulu kau bergurau ketika mendengar seorang gadis cantik, siapa itu? Taeyeon? Menyatakan cinta padamu. Bertumpuk-tumpuk surat cinta di ujung ranjangmu. Bolak-balik pelayan mengantarkan hadiah yang pada akhirnya teronggok di tempat sampah. Sampai aku ikut ke dalam aktivitas malammu. Aku terkesan." Kris berdecak.
"Apa yang membuatmu menolaknya?"
Baekhyun menyilangkan kakinya yang terselonjor. Matanya menatap langit-langit aula berusaha mengingat-ingat. "Entahlah, gadis itu lumayan cantik, sexy, dan menggoda ia bahkan putri tunggal dari keluarga Baron Thomas. Tapi setelah mencoba hubungan dengannya ternyata orientasiku seksualku tak sesuai." Jelas Baekhyun.
Kris menghela napas kasar. Dari pantulan wajahnya yang terlihat di cermin yang terpasang di ruang latihan, mukanya nampak gusar.
"Jangan bermain terlalu lama dengan Armens, kau takkan suka. Mereka sama kejinya denganmu."
Baekhyun menoleh ke arah Kris. Menepuk pahanya pelan. "Aku tahu. Mereka berdua ingin aku mewarisi harta warisannya, setelah itu aku akan membereskannya dengan bersih. Tentu saja."
Kris terkekeh, ia usap kepala Baekhyun pelan. "Hahh.. ya sudah. Aku ingin mandi. Badanku terasa lengket semua." Kris memutuskan untuk berdiri, meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
Baekhyun mengikuti. "Kau benar." Jawabnya setuju. Tubuhnya memang telah dipenuhi peluh. Belum lagi ia harus mengerjakan beberapa dokumen yang ia tinggalkan karena berlatih.
.
Chanyeol berangsur-angsur terjaga meski telah lewat tengah malam. Seluruh tubuhnya terasa remuk, Ia bahkan sampai-sampai meninggalkan acara televisi kesukaannya karena tak kuat menahan rasa kantuk. Dirinya juga mengabaikan seluruh pelayan yang menawarkan makan malam untuknya tapi ia tolak dengan halus.
Pekerjaan yang menumpuk dan serentet pertemuan dengan para pemegang saham serta beberapa investor membuat ia harus terus dalam kondisi fresh agar mampu memutuskan segala hal dengan rasional. 6 botol minuman penambah stamina dan gelas bekas kopi Brazil tercecer di bawah ranjang enggan ia bersihkan. Biarlah para pelayan yang memungutinya esok hari. Chanyeol berendam sebentar di air hangat, berganti pakaian tidur, lantas membanting tubuhnya yang kelelahan di atas ranjang empuk.
Ketika ia hampir terlelap, hendak menjemput alam mimpi, telepon genggamnya berdering dalam kegelapan. Chanyeol menggerutu sebal, siapa pula yang meneleponnya tengah malam begini. Ia sambar bantal di sampingnya lalu ditutupnya kedua telinga.
Namun bunyi dering telepon itu justru semakin bersahut-sahutan. Ia menyerah. Chanyeol melempar bantalnya beringsut mengambil telepon genggam. Tangannya meraba-raba lampu di samping tempat tidur dan menyalakannya. Dengan mata yang menyipit, dia meraih telepon genggam di atas nakas, menyambarnya dengan cepat.
Chanyeol telah menyumpah serapah. Berniat menghabisi siapapun yang mengganggunya kalau saja telepon ini tidak darurat, tak peduli siapa orangnya, ia harus membayar mahal untuk ini.
Chanyeol mengangkat telepon itu, "Halo?"
"Chanyeol-ah?" kata suara seorang wanita. Suara khas itu terdengar begitu lembut, riang sekali.
"Mom, astaga. Tahukah jam berapa ini?" Chanyeol mendesah. Tangannya meraih batang hidung memijit-mijit pelan.
"Hm.. jam dua lewat sepuluh dini hari?" Ibu Chanyeol tertawa sama sekali tidak menggubris nada marah dalam suara anaknya itu.
"Ah semoga aku tidak menganggu waktu tidurmu. Tidak ada jalang yang sedang bersamamukan sayang?" Wanita itu menggoda Chanyeol.
Dengan linglung Chanyeol menarik tubuhnya bersandar pada leher ranjang. Ia berusaha menegakkan tubuhnya dengan letih. Dari kaca jendelanya, terpantul lelaki−dirinya, yang nampak begitu berantakan dan loyo.
Seru marahnya tertahan, "Mom! Aku sudah berkata berulang kali bahwa aku tak pernah membawa jalang ke rumah apalagi ranjangku. Kamarku terlalu bagus untuk mereka."
Wanita tua itu tertawa. "Iya, anakku. Ibu percaya padamu. Ngomong-ngomong kenapa kau masih terjaga larut malam seperti ini, Chanyeol-ah?" Tanya ibunya penasaran.
Chanyeol menggaruk punggungnya yang tak terasa gatal seraya menjawab, "Sebenarnya beberapa menit yang lalu aku hampir memejamkan mata. Jika saja ibu tidak membangunkanku seperti ini."
Wanita itu kembali tertawa, "Yah, maklumi saja. Orang tua ini benar-benar sudah tak sabar ingin membawa berita kepulangannya. Terus terang sejak kemarin aku tak bisa tidur, tidak sabaran ingin melihat wajah putra ibu yang tampan, menanti sepanjang malam melihat bintang-bintang mengingat masa lalu. Ini sungguh kejutan yang menyenangkan, bukan?"
Chanyeol tertawa renyah mendengar penuturan wanita yang paling ia cintai tersebut. Ia mengangguk, tentu saja ini kabar yang begitu menyenangkan. Sejak tiga tahun yang lalu ibunya harus berkeliling dunia menemani ayahnya yang harus memenuhi janji para koleganya di seluruh belahan dunia, pergi dari satu pesawat ke pesawat yang lain.
Karena terlalu merindukan putranya. Ibu Chanyeol akhirnya memutuskan untuk pulang ke Inggris, ingin menemani putra sulungnya itu. Rencana kepulangan ini sebenarnya cukup mendadak dan membuat pertengkaran kecil di antara pasang suami istri Armens tersebut.
Namun, karena tak tegaan akhirnya sang suami memperbolehkan istrinya yang keras kepala itu untuk kembali ke London dengan syarat ditemani dengan asisten kepercayaannya dan dilindungi pengamanan penuh. Tak bisa mengelak, akhirnya sang istri pasrah mengiyakan.
"Ibu akan mendarat pukul 7 pagi ini Chan. Kau ada di rumahkan?" Ibunya bertanya. Suara seseorang yang menawarkan minuman dengan bahasa asing terdengar dari suara speaker telepon.
"Iya, mom. Saat ini aku tengah bergelung dengan selimut dan kasurku." Ucapku seraya menyisir rambut.
"Nah, Yeol-ah. Semoga kau tak bangun kesiangan untuk menjemputku. Ingat, jangan sampai terlambat. Aku tak suka dengan pria Inggris yang tak bisa tepat waktu."
Chanyeol terkekeh, "Ayey nyonya!"
Percakapan pun diakhiri dengan satu-dua kalimat kemudian.
Chanyeol meletakkan telepon genggamnya di atas nakas lalu mematikan lampu. Ia raih selimutnya sebatas dada, mengambil posisi untuk tidur. Sungguh dirinya sangat tak sabar untuk menemui ibunya, ingin menceritakan segudang pengalaman yang ia alami tiga tahun belakangan.
Baiklah, ini saatnya tidur nyenyak.
.
London, 7 : 30
Suara tirai yang dibuka paksa membuat Baekhyun terbangun dengan terkejut. Sinar matahari menelisik masuk melewati jendela besar di sisi barat kamarnya, membuatnya menyipitkan mata.
Sudah pagi?
Baekhyun menarik tubuhnya untuk terduduk, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Tubuh Baekhyun terasa hangat dan puas. Malam tadi ia telah tertidur dengan lebih baik dibandingkan malam-malam yang lalu. Ia harus segera menemui psikolog untuk memberitahukan kemajuan yang dirinya alami.
"Selama pagi tuan muda." Sapa suara seorang wanita ramah. Ia adalah kepala pelayan di sini. Meskipun umurnya sudah lewat setengah abad, namun jiwanya begitu muda dan bergairah mesti guratan lelah di wajahnya tak dapat menyembunyikan usia yang telah wanita itu injak. Baekhyun sangat menyayanginya seperti ia menyayangi neneknya.
"Hm, selamat pagi." Sapa Baekhyun balik. Dia tetap tak bergerak dalam waktu lama, berusaha mengumpulkan seluruh jiwanya untuk membuat dirinya bangun sepenuhnya.
Suara troli memasuki kamar Baekhyun. Setelah pelayan wanita itu membungkuk sopan padanya, dia meletakkan secangkir teh panas dan kue scone. Ia membungkuk sekali lagi lalu menarik diri menutup pintu kamar Baekhyun perlahan. Baekhyun meraih teh itu lalu menyesapnya setelah meniup-niup beberapa kali.
"Pagi ini kami menyiapkan teh earl grey untuk anda. Mengingat anda memiliki gangguan lambung beberapa hari belakangan." Jelas pelayan tua itu masih dengan senyum ramah.
"Hm, terima kasih Maureen. Aku sudah merasa lebih baik." Baekhyun meletakkan cangkir itu di atas nakas samping ranjangnya. Setelah menggigit sepotong sconenya, dia lalu bergerak turun kemudian berjalan ke kamar mandi pualam.
Baekhyun melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam bathup yang telah diisi penuh dengan air hangat dan beberapa cairan esensial untuk menjaga kulitnya agar tetap lembut dan kencang. Ia mendesis pelan merasakan air hangat yang memijat seluruh tubuhnya.
Lima belas menit kemudian Baekhyun keluar setelah mengenakan jubah mandinya. Rambutnya yang masih basah ia biarkan menutupi setengah dari wajahnya. Pelayan tua itu−Maureen, masih dengan setia menunggu tuannya.
Di tangan kanannya telah tersampir handuk kering untuk mengusap rambut Baekhyun yang masih basah. Ia menawarkan diri untuk membantu tuannya mengeringkan diri namun Baekhyun tolak dengan halus.
Wanita itu mengangguk mengerti, "Saya telah meletakkan jadwal anda untuk tiga hari ke depan di atas meja kerja anda. Setelah berpakaian mohon anda segera turun untuk sarapan dengan seluruh anggota keluarga, ini permintaan tuan besar." Jelasnya.
Baekhyun mengiyakan, lalu melangkahkan kaki memasuki walk in closet menimang-nimang pakaian apa yang akan dirinya kenakan hari ini. Ia akhirnya memutuskan untuk memakai setelan berwarna merah marun dilengkapi dengan dasi warna hitam. Rambutnya yang masih agak basah ia biarkan berantakan. Nanti dirinya akan meminta Maureen menata rambutnya.
Sepuluh menit kemudian ia melangkah turun ke ruang makan, setelah menyempatkan diri untuk mengecek penampilannya sekali lagi. Bunyi sandal rumah yang dirinya kenakan bergesekan dengan lantai marmer.
"Yo, Baekhyun." Itu Kris. Lelaki itu nampaknya juga baru keluar dari kamarnya.
"Pagi Kris." Sapa Baekhyun ramah. Senyum kecil mengembang di pipinya
Kris membulatkan mata, mengangkat tangan menahan tawa. "Astaga Baekhyun, makan apa kau semalam? Menyapaku dengan wajah seriang itu? Kau baru saja memenangkan lotre atau bagaimana?"
Baekhyun meninju bahu Kris main-main, lalu tertawa jenaka. "Kris, mulutmu itu tolong dijaga. Memangnya aku tidak boleh merasa gembira apa?" Baekhyun mendengus kesal. Pipinya dia gembungkan membuat Kris tak tahan untuk mengigitnya.
"Baekhyun, Kris, selamat pagi. Ayo duduk mari kita mulai sarapannya." Suara dalam penuh wibawa menyapa pendengaran Baekhyun.
Kris dan Baekhyun menunduk singkat, memberikan penghormatan pada ayahnya, Earl Baldev. Nyonya Baldev telah duduk rapi di samping suaminya menatap lembut ke arah dua puteranya yang kian beranjak dewasa.
Kris dan Baekhyun memilih kursi berhadapan dengan sang ibu. Setelah bertengkar kecil dengan Kris untuk memutuskan siapa yang duduk di sisi kanan dekat sang ayah akhirnya mereka melakukan suit dan Kris kalah. Ia harus duduk di sebelah kiri. Baekhyun bersiul senang. Kris hanya menggeleng-gelengkan kepala. Baiklah, ia harus mengalah pada adiknya bukan?
Dua bersaudara ini benar-benar menyukai ayah mereka. Mengingat mereka memang tumbuh dan dibesarkan oleh ayahnya dengan penuh cinta, kasih sayang, membuat mereka merasa lebih dekat dengan sang ayah.
"Sudah lama tak melihatmu Kris." Sang ayah membuka percakapan. Hidangan pembuka di letakkan di hadapan masing-masing anggota keluarga.
"Iya, meski aku senang di Paris tapi aku tetap merindukan rumah. Dan kebetulan adik kecilku ini terus merengek agar aku menemaninya berlatih pedang seharian, mengingat lusa ia akan berulang tahun akhirnya aku bersedia meliburkan diri." Jawab Kris. Baekhyun mendelik kesal padanya, ia berbisik mengancam untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. Kris hanya mengangkat bahu, memasukkan sesendok Italian Salad ke dalam mulut.
Earl Baldev tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan anak sulungnya. Ia memang mengerti bahwa dua anak itu sangatlah dekat satu sama lain dan Kris sangat memanjakan Baekhyun membuat ia memaklumi hal tersebut.
Bunyi denting garpu dan sendok saling beradu. Tak ada yang berbicara ketika makan, mereka sama-sama terhanyut dalam nikmatnya makanan yang mereka santap hari ini.
Sang kepala keluarga tiba-tiba meletakkan sendoknya, menghentikan aktivitas makannya lalu menatap serius ke arah dua puteranya. Ia membersihkan tenggorokan. Baekhyun dan Kris yang mengetahui hal tersebut lalu turut menghentikan acara makan mereka. Membalas tatapan ayah mereka.
"Pagi ini ayah ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan kalian terutama Baekhyun." Baekhyun sontak mengarahkan tatapannya ke ayahnya dengan bingung.
"Mungkin kalian sudah tahu perihal keluarga Duke Armens, kita sebagai keluarga ksatria Inggris diberi beban besar oleh Ratu Elizabeth untuk mulai bergerak menangani mereka." Pria tua berumur lebih dari setengah abad itu menjelaskan.
Kedua puteranya mendengarkan seksama. Terutama Baekhyun yang bertanya-tanya kemanakah arah dari pembicaraan ayahnya?
"Dan karena mereka adalah salah satu bangsawan paling berpengaruh di Inggris, kita tidak bisa bergerak sembarangan dan harus memulai penyilidikan kasus ini dari yang paling dalam. Kita tidak mungkin terus menerus mengintai mereka hanya dari luar, melihat gerak-gerik mereka. Mereka terlalu pandai untuk menutupi hal semacam itu, mereka terlalu lihai untuk melakukannya." Earl Balrdev menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Baekhyun menjadi tegang, Bertanya-tanya dalam hati dan menjadi tak sabaran dengan kelanjutan dari omongan ayahnya.
"Dan untuk melakukan penyelidikan dari dalam kita harus melakukan sebuah kontrak dengan mereka. Kita harus memiliki suatu koneksi agar terhubung dengan mereka. Oleh karena telah kuputuskan dan telah kupikirkan matang-matang dengan ibumu bahwa Baekhyun akan menikah dengan putera sulung Duke Armens, Chanyeol Armens. Terhitung 2 minggu dari sekarang." Vonisnya.
Mereka semua terdiam. Tak ada yang berani menanggapi keputusan dari kepala keluarga Baldev itu. Pikiran Baekhyun mendadak kosong. Perihal akan hal ini memang pernah sekali dibicarakan oleh ayahnya di suatu malam meski berakhir dengan Baekhyun yang melarikan diri karena merasa harga dirinya telah dicoreng demi sebuah kasus.
Namun akhirnya ia menerima dan mau melakukan pertemuan keluarga dengan Duke Armens dan sayangnya sang Putera Sulung malah keasikan bermain dengan para jalangnya.
Baekhyun pada saat itu masih tetap bersabar dan terus menerus mengatakan dalam hati bahwa ini hanyalah sebatas pertunangan, mereka dapat memutuskan untuk berpisah sewaktu-waktu tanpa proses yang panjang.
Tapi menikah? Baekhyun tak pernah sekali pun terpikirkan akan hal itu. Ia tak sampai hati untuk memikirkannya. Meski dia mengerti calon pendampingnya jelas akan dipilihkan juga oleh kedua orang tuanya namun setidaknya mereka pastilah dari keluarga baik-baik, tentram, dan aman. Tak seperti Armens yang penuh drama serta misteri yang Baekhyun tak ketahu.
Menikah dengan Chanyeol Armens? Entahlah, Baekhyun tak tahu.
.
.
.
To Be Continued
A/N :
HEYOY SEMUA! Apa kabarrr! Semoga kalian sehat semua yaa, akhirnya aku up chapter 1! Yeayyy akhu seneng bangett cerita ini bener-bener aku tulis dengan penuh semangat soalnya aku juga suka banget genre-genre cerita yang kayak gini. Btw di cerita ini aku bakal ngebuat sifat Baekhyun yang manly tapi cute juga(?) dan dia emang 'dulunya' punya naluri sebagai laki-laki. Jadi kalo kalian ngarepin Baekhyun yang imut-imut, penurut, dll sepertinya sifat kayak gitu gaakan dimunculkan dalam cerita aku yang ini.
Maaf aku belum bisa update a piece of heart karena belum sempet dan minggu depan aku bakalan hiatus dulu buat uts huhu.
Dannnn makasih banget buat yang udah review, udah baca, dan nyempetin diri buat baca cerita ini aku bener-bener berterima kasih! Buat yang masih belum review silahkan di review yapss heheee makasih semuaa I love youuu!
