Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya…
Ting..
Gadis itu menekan tuts piano untuk terakhir kalinya pertanda berakhirnya lagu yang dinyanyikan, setelah itu ia memandang piano dihadapannya dengan senyum yang mengembang, sebuah senyum bahagia yang jarang sekali ia tunjukkan.
Ditaman belakang, Sasuke masih memandangi taman ini dengan senyum tipis diwajahnya. Senyum pertama yang ditunjukkannya semenjak hari itu..
Please Don't Go
Kringgg Kringgg
Suara bel pertanda jam istirahat berakhir sudah berbunyi, Sasuke yang sedang tidur dibawah pohon rindang pun terbangun.
"Mengganggu saja" ucap Sasuke, kemudian ia berdiri dan membenarkan bajunya. "Semoga saja para nenek lampir itu sudah tak mencariku" lanjut Sasuke pada dirinya.
Sasuke meninggalkan taman itu melewati lorong gelap, langkahnya berhenti ketika ia sampai didepan pintu kuning yang berada ditengah-tengah lorong gelap ini. Sasuke masih penasaran dengan apa yang ada dibalik pintu ini. Sasuke memutar knop pintu, kemudian ia mendorong pintu itu sedikit. Sasuke mengernyit ketika melihat apa yang ada di balik pintu itu.
Sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti gudang, dengan beberapa alat musik tua yang tergeletak asal di sana-sini, seperti piano, gitar, drum, biola, dan lainnya. "Apa ini gudang untuk alat-alat musik?" Tanya Sasuke lebih kepada dirinya sendiri. Sasuke masuk kedalam ruangan ini, kemudian memeriksa alat-alat musik yang tergeletak asal ini. "Sepertinya ini memang alat yang sudah tak terpakai" ucap Sasuke lagi. Langkah Sasuke berhenti didepan sebuah piano, piano itu sudah sangat tua.
Sasuke menekan salah satu tuts piano itu kemudian ia meringis ketika mendengar suaranya yang sangat kasar. Pantas saja gadis tadi memainkannya dengan nada yang kasar, Sasuke kira gadis tadi memang sengaja memainkannya seperti itu.
Tiba-tiba Sasuke teringat kalau jam pelajaran sudah dimulai, ia segera pergi meninggalkan ruangan itu. karena terlalu terburu-buru Sasuke bahkan tidak menutup pintu ruangan itu.
Please Don't Go
Jam istirahat kedua, Sasuke kabur ke perpustakaan. Bukannya ia tak ingin kembali ketaman belakang, hanya saja tadi ia terlambat masuk kekelas, karena itu, guru Fisikanya yang terkenal killer memberi hukuman dengan menyuruhnya merangkum materi yang baru saja mereka pelajari dari buku yang hanya ada di perpustakaan saja.
Itu sangat menyebalkan, tapi juga sangat menguntungkannya. Karena hampir semua para nenek lampir itu tak suka datang keperpustakaan, yahh paling mereka hanya datang kalau mendapat hukuman seperti dirinya sekarang ini.
"Ahhh selesai" ucap Sasuke sambil memijat lehernya yang sakit karena terus menunduk untuk membaca bukunya. Kemudian Sasuke menyandarkan tubuhnya di bangku. Ternyata disekolah ini banyak tempat kabur yang nyaman tidak seperti sekolahnya dulu, pikir Sasuke sambil menatap kesekeliling perpustakaan.
Perpustakaan di Uchiha High School memang sangat mewah, Sasuke harus mengakui itu. Semua barang yang ada di perpustakaan ini sudah pasti barang yang paling bagus, dan buku-bukunya pun berkualitas. Tidak hanya itu, pemandangan yang disuguhkan diluar perpustakaan ini pun sangat indah karena perpustakaan ini terletak ditengah-tengah taman depan sekolah. Dari tempat duduk Sasuke sekarang, Sasuke bisa melihat air mancur yang terus mengalir, suara gemercik air yang didengarnya mampu membuatnya tenang. Perpustakaan ini memang didesain agar tak terlihat membosankan seperti perpustakaan-perpustakaan lainnya. Sasuke heran, bagaimana bisa masih ada orang yang tak mau pergi ke perpustakaan di saat perpustakaannya sebagus ini?
Mata Sasuke masih sibuk menjelajahi setiap sudut ruangan, hingga akhirnya ia berhenti saat melihat seoran gadis berambut indigo. Sasuke melihat gadis itu dari sela-sela rak buku. Gadis itu sedikit menunduk untuk membaca bukunya, sesekali ia menggerakan tangan untuk menyelipkan rambut indigonya ditelinga. Sepertinya rambut indah itu sangat mengganggunya membaca.
Sasuke mengernyit, sepertinya ia pernah melihat gadis itu, tapi dimana..
Ahh Sasuke ingat, gadis itu adalah gadis yang dilihatnya tadi pagi.
"Jadi dia gadis aneh itu" gumam Sasuke. Sasuke terus memandangi gadis itu, entah kenapa matanya tak mau beralih ketempat lain.
Sasuke sedikit tersentak ketika melihat gadis itu tiba-tiba berdiri, hingga tanpa sengaja Sasuke menjatuhkan buku yang berada di mejanya. Tentu itu menimbulkan suara yang lumayan untuk ukuran ruangan yang selalu sepi ini. Sasuke melihat gadis itu menoleh kearahnya, untuk sesaat pandangan mereka bertemu. Tapi itu hanya sesaat, benar-benar hanya sesaat, karena setelah itu si gadis berambut indigo malah melihat buku yang terjatuh, seolah buku yang terjatuh itu jauh lebih menarik dibanding Sasuke, gadis itu kembali menatap Sasuke sebentar lalu pergi dari tempatnya.
Sasuke mengernyit "Dia terlihat ankuh, seperti seorang Hyuu.." Sasuke tak melanjutkan perkataannya,tidak, ia tak mau menyebut nama keluarga terkutuk itu.
Please Don't Go
Jam istirahat kedua, Hinata pergi ke perpustakaan. Ini pertama kalinya ia memasuki perpustakaan disekolah ini, tentu saja karena ini adalah hari pertamanya sekolah.
Dari dulu, Hinata adalah penggemar perpustakaan. Meskipun Hinata benci belajar, tapi tempat yang bernama perpustakaan inilah yang satu-satunya membuat Hinata nyaman, mungkin karena tempat ini selalu sepi sehingga Hinata tak perlu bertemu dengan banyak orang dan tak perlu selalu bersikap angkuh.
Hinata membuka pintu perpustakaan, kemudian ia menatap perpustakaan ini takjub. Bagaimana tidak, perpustakaan ini memiliki interior yang bagus, awalnya Hinata merasa aneh karena letak perpustakaan ini di tengah-tengah taman, biasanya perpustakaan berada di paling pojok sekolah dengan keadaan yang bisa dibilang menyeramkan karena gelap dan sepi. Tapi tidak dengan perpustakaan ini, sangat terang,mungkin karena perpustakaan ini tidak ditutupi dengan tembok melainkan dengan kaca. Jadi siapapun orang yang membaca diempat ini bisa melihat keluar perpustakaan begitu pula sebaliknya. Diluar perpustakaan pun pemandangannya sangat bagus. Hinata menyukai tempat ini. 'Tapi, apakah tempat seindah ini akan tetap sepi pengunjung?' Tanya Hinata dalam hati.
Hinata masuk kedalam, dan tak seperti dugaannya, perpustakaan ini sepi, hanya ada dua atau tiga orang saja yang berada disini. Hinata menggelengkan kepala, ternyata mau diapakan juga perpustakaan tetap jadi tempat yang menyeramkan bagi seorang siswa.
Hinata duduk disalah satu meja yang berada di samping rak buku. Kemudian ia membuka buku yang baru saja diambil secara asal. Hinata mulai menbaca buku itu dengan serius.
Beberapa menit sudahterlewat, Hinata sudah mulai merasa kepalanya sakit. Hinata menutup bukunya kemudian berdiri.
'Buuukkkk'
Hinata sedikit terkejut ketika mendengar itu, ia menoleh kesumber suara dan mendapati seorang pria tengah menatapnya. Hinata balas menatapnya tapi hanya sebentar, karena selanjutnya Hinata memandang buku yang sudah tergeletak di lantai. Buku itu jatuh tapi orang yang diduga Hinata menjatuhkannya malah memandang dirinya bukan mengambil buku itu, Hinata kembali melihat orang yang menjatuhkan buku itu. Dia aneh, pikir Hinata sebelum ia beranjak pergi dari perpustakaan ini.
Hinata melirik jam tangannya ketika ia keluar dari perpustakaan. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum bel berbunyi, dan Hinata tak tahu harus diapakan waktu sepuluh menit itu. Dia tak mungkin kembali kekelas, kalau ia kembali kesana pasti ada saja orang yang akan mengajaknya berinteraksi dan Hinata tak mau. Bukannya sombong, hanya saja Hinata adalah tipe orang yang akan terbata-bata ketika berbicara dengan orang yang baru dikenalnya. Gaya bicaranya itu akan menimbulkan kesan penakut bukannya angkuh, dan ayahnya benci hal itu. Karena itu, Hinata lebih memilih menghindari interaksi dengan siapapun.
"Aku berkeliling saja"
Akhirnya Hinata memutuskan berkeliling sekolah, sebenarnya saat jam istirahat pertama tadi Hinata sudah berkeliling sekolah, namun acara berkelilingnya terhenti saat Hinata menemukan sebuah ruangan tersembunyi. Ruangan itu berada ditengah-tengah lorong gelap, entah lorong itu menuju kemana, Hinata belum sempat melihat ujungnya karena ia terlanjur tertarik dengan ruangan penasaran dengan ujung lorong itu, akhirnya Hinata memutuskan untuk melihatnya.
Hinata sampai di depan lorong kemudian ia mulai memasuki lorong gelap itu, langkah Hinata berhenti ketika melihat ruangan yang berada ditengah lorong tidak tertutup. Ia mengingat kejadian saat istirahat pertama, apa ia lupa menutup pintunya? Tanya Hinata pada dirinya sendiri.
Hinata meraih knop pintunya kemudian menarik kedepan hingga bunyi 'klek' terdengar. Setelah menutup ruangan itu, Hinata kembali menelusuri lorong gelap ini.
Hinata menatap kagum saat sampai diujung lorong, sebuah taman yang sangat indah tersaji dihadapannya. Hinata memejamkan mata, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam seolah ia menikmati suasana disini.
"Benar-benar indah" gumam Hinata.
Hinata berkeliling taman, melihat bunga-bunga yang belum pernah dilihat sebelumnya. Hinata berhenti ketika melihat lorong lain. Tak seperti tadi, lorong yang ini sangat indah, ditemboknya terdapat bunga-bunga yang merambat dan atapnya pun menggunakan jarring-jaring yang dipenuhi dengan tanaman merambat lainnya.
"Indah"
Hinata melewati lorong yang panjangnya mungkin sekitar lima sampai enam meter. Hinata berjalan sambil mengagumi keindahan lorong ini hingga akhirnya ia sampai di ujung lorong, ternyata lorong ini membawanya ke taman depan sekolah.
'Ternyata ini jalan pintas' pikir Hinata.
Ditempat lain, Sasuke sedang berjalan menuju taman belakang. Gara-gara gadis berambut indigo itu, Sasuke jadi tidak mood berlama-lama di perpustakaan. Sasuke berjalan memasuki lorong gelap, saat melewati ruangan yang berada di tengah-tengah lorong, Sasuke berhenti. Seingatnya tadi ia tak menutup pintunya, pikir Sasuke.
Tapi kemudian ia mengendikkan bahu, dan terus berjalan menuju taman belakang.
Hinata yang sudah terlanjur sampai di taman depan sekolah memutuskan untuk langsung kembali kekelas saja, lagipula lima menit lagi juga masuk. Kalau dia berjalan dengan perlahan, mungkin ia bisa sampai dalam waktu lima menit.
Please Don't Go
Keesokannya..
Bel istirahat sudah berbunyi, Hinata yang tak tahu harus kemana memutuskan untuk pergi keruangan tersembunyi itu. Mungkin, memainkan piano tua disana akan menghilangkan kebosanannya.
Hinata sampai diruangan tesembunyi ini, kemudian ia masuk dan menutup pintunya dari dalam. Hinata tak ingin menimbulkan suara yang berisik. Kalau pintunya ditutup, setidaknya suara yang dihasilkan piano tidak akan terlalu terdengar sampai keluar ruangan.
Hinata duduk didepan piano, kemudian ia mulai memainkan alat musik itu. Tak lama, suaranya yang merdu mulai bersatu dengan irama yang dihasilkan piano. Hinata menyanyikan sebuah lagu kesukaannya, lagu yang selalu membuatnya merasa baik-baik saja.
Sasuke sedang berjalan menuju lorong, ketika ia mendengar suara seseorang yang sedang bernyanyi. Suara ini.. ya.. Sasuke ingat suara ini, suara yang didengarnya kemarin, suara yang mirip dengan suara dia. Perlahan Sasuke mendekati lorong itu, sebenarnya dari kemarin ia sudah penasaran dengan gadis ini. Kenapa suaranya bisa sangat mirip?
Baru saja Sasuke ingin melangkah masuk kelorong, tangannya ditarik oleh seseorang. Sasuke tersentak kemudian melihat siapa orang yang menariknya.
"Sasuke cepat" ucap orang itu sambil menarik Sasuke dan berlari. Karena orang itu berlari otomatis Sasuke yang ditarik pun harus ikut berlari untuk mengikuti langkahnya, kalau dirinya tak mau terjatuh.
"Ada apa Naruto?" Tanya Sasuke pada teman sekelasnya yang belakangan baru Sasuke tahu ternyata dia adalah orang yang punya tingkat emosional berlebihan.
"Kushina-sensei memanggilmu" jawab Naruto.
Benarkan, Naruto memang punya tingkat emosional yang berlebihan. Hanya dipanggil oleh guru saja ia bertindak seperti dipanggil oleh malaikat maut.
"Bisakah kau tenang?" ucap Sasuke datar.
"Aku memang tenang" jawab Naruto masih sambil berlari dan menarik Sasuke.
"Kalau ini kau sebut tenang lalu bagaimana dengan ribut?" Tanya Sasuke tak percaya dengan jawaban Naruto. Sebenarnya dari pertama mengenal Naruto, Sasuke yakin orang ini adalah orang yang akan mengganggu hidupnya yang tenang.
Naruto tak menjawab pertanyaan Sasuke karena mereka sudah sampai diruang musik. "Ayo masuk" Naruto melepas tangannya dari baju Sasuke yang dari tadi dipegangnya. Naruto masuk kedalam ruangan itu, Sasuke yang memang tak punya tujuan lain mengikuti Naruto. Didalam ternyata terdapat tiga orang siswa yang tidak dikenal Sasuke, ada Gaara-anak kelas sepuluh dua yang juga teman SMP Sasuke-dan ada juga Kushina-sensei.
Sasuke mengangkat kedua alisnya, seolah meminta penjelasan tentang keadaan ini.
Kushina-sensei menghela nafas. "Kudengar dari Naruto kau ingin masuk klub musik" ucap Kushina-sensei.
Sasuke tiba-tiba teringat kejadian kemarin saat Naruto bertanya dirinya ingin masuk klub apa, dan Sasuke menjawab ikut klub musik.
"Benar, tapi bukankah klub ini belum mempromosikan diri?" Tanya Sasuke.
"Kau tidak tahu? Klub musik memang tak pernah mempromosikan diri" jawab Kushina. "Kita ini band, jadi tidak perlu banyak orang, empat sampai enam orang kurasa sudah cukup" lanjut Kushina. "Lagipula kalau terlalu banyak akan susah dilatih dan yahh kalau kita mempromosikan diri sudah pasti banyak yang daftar" Kushina masih menjelaskan.
"Lalu, kenapa kalian memilihku?" Tanya Sasuke.
"Naruto bilang kau mau masuk klub musik dan Gaara bilang kau memang jago bermain alat musik" jawab Sasuke.
Sasuke mengangguk "Lalu yang lain?" Tanya Sasuke lagi.
"Gaara dan Naruto tadi datang sendiri untuk mendaftar diri dan mereka berdua sudah di tes.." jawab Kushina lagi. "Dan tiga orang ini, yang rambutnya seperti nanas ini adalah Shikamaru, yang gendut itu Chouji dan terakhir penyanyi kita Karin, mereka bertiga sudah kelas dua" lanjut Kushina.
Sasuke memandang satu-persatu kakak kelasnya itu kemudian ia berhenti saat melihat Karin, bukan karena terpesona hanya saja kakak kelasnya itu sekarang sedang memandangnya dengan tatapan mengerikan, sepertinya ia sama seperti nenek –nenek lampir lainnya.
"Baiklah, apa aku harus tes juga?"
Please Don't Go
Jam istirahat kedua, Sasuke pergi ke ruangan yang berada ditengah lorong itu, ia berharap bertemu dengan gadis yang sering bernyanyi disana.
Sasuke menunggu gadis itu disana.
'Apa gadis itu tak datang kesini?' Tanya Sasuke dalam hati saat 20 menit sudah terlewat.
Sasuke melirik jam tangannya, sepuluh menit lagi jam pelajaran akan dimulai. Sasuke memutuskan untuk kembali kekelas.
Sasuke sampai dikelas lima menit sebelum bel berbunyi, dikelas ia mendapati Naruto sedang tidur. Sasuke berjalan melewati meja Naruto dan berhenti dibangkunya yang berada tepat dibelakang Naruto, kemudian ia duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.
'Siapa sebenarnya gadis itu? kenapa gadis itu sering keruangan itu?' Sasuke masih memikirkan gadis yang sering bernyanyi diruang aneh itu.
"Benar juga, itu sebenarnya ruangan apa?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri, lalu kemudian ia melirik Naruto yang masih tertidur, mungkin saja Naruto tahu, pikirnya.
Sasuke menendang bangku Naruto, hingga membuat Naruto terbangun denga reaksi yang berlebihan.
"Ada apa?! Kebakaran?! Gempa bumi?!"
Saat itu juga Sasuke menyesal sudah membangunkan Naruto. Tapi karena sudah terlanjur, biarlah.
"Tidak ada apa-apa, hanya ada yang ingin kutanyakan" ucap Sasuke tiba-tiba.
Naruto yang sepertinya belum sadar, malah mencari orang yang barusan berbicara. Kemudian Naruto membalikkan tubuhnya dan melihat Sasuke.
"Sasuke?" ucap Naruto bingung, tapi sedetik kemudian ia sadar apa yang baru saja terjadi. "Hei, kau yang menendang kursiku ya?" Naruto bertanya dengan nada kesal.
Sasuke mengangguk singkat "Ada yang ingin aku tanyakan" ucap Sasuke.
"Ya! Kalau kau mau bertanya kau tidak perlu membangunkanku dengan cara seperti itu" Naruto masih terlihat kesal.
"Kau tahu ruangan yang berada di lorong dekat ruang futsal?" Sasuke bertanya tanpa mempedulikan kekesalan Naruto.
"Oh tempat angker itu?" sepertinya Naruto sudah tak mempermasalahkan soal tidurnya lagi.
"Angker?" Tanya Sasuke bingung.
"Ya, kau tidak tahu, ada gosip katanya ruangan itu dulunya ruang musik tapi sudah tak dipakai lagi, karena banyak anak-anak yang terluka ketika bermain disana" jawab Naruto dengan nada yang dibuat-buat. "Katanya, penunggu disana tak suka dengan suara berisik, makanya dia melukai setiap anak yang bermain musik" lanjut Naruto.
"Pantas saja" gumam Sasuke tapi masih bisa didengar oleh Naruto.
"Pantas saja apa? Jangan-jangan kau sudah kesana?" tebak Naruto asal.
"Pantas saja disana banyak alat musik tua" jawab Sasuke.
"Jadi kau benar-benar sudah kesana?" Tanya Naruto tak percaya.
Sasuke mengangguk "Aku mendengar seorang gadis memainkan alat musik disana" jawab Sasuke.
"Hei, mana mungkin ada siswi yang berani kesana, jangan-jang.."
"Tidak usah bicara yang aneh-aneh, aku yakin dia manusia" sela Sasuke.
"Aku kan tidak bilang apa-apa" balas Naruto kesal.
Keesokannya, Sasuke kembali keruangan itu saat jam istirahat pertama. Kali ini Sasuke benar-benar berharap bertemu gadis itu, ia ingin sekali melihat wajah orang yang membuatnya penasaran setengah mati. Gara-gara gadis misterius itu, Sasuke semalaman tak bisa tidur.
Sambil melirik jam tangan Sasuke menghela nafasnya, entah sudah berapa kali Sasuke melakukan hal itu. Sekarang dirinya sedang berdiri sambil bersandar di piano tua yang berada diruangan ini, ia berdiri membelakangi pintu masuk.
Please Don't Go
Jam istirahat pertama, Hinata melangkahkan kakinya ketempat persembunyiannya. Hinata ingin bermain piano yang selama dua hari ini sudah menemaninya, tanpa sadar Hinata sudah sampai di depan lorong, perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki lorong gelap itu.
Deg ..
Hinata menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang pria yang menggunakan seragam Uchiha High School sedang berdiri didalam ruangan, pria itu berdiri membelakangi pintu masuk yang tak tertutup rapat.
Hinata mendesah kecewa, ia mengira tempat ini bisa jadi tempat persembunyiannya selama bersekolah disini, tapi nyatanya hal itu hanya menjadi sebuah harapan Hinata. Dengan perasaan kecewa, Hinata membalikkan tubuhnya, ia memutuskan mencari tempat lain untuk menjadi tempat persembunyiannya.
Didalam ruangan, Sasuke masih menunggu kedatangan gadis misterius itu. Sasuke bahkan sudah mulai memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan kebosanan. Sasuke baru keluar dari ruangan itu ketika bel masuk berbunyi.
Jam istirahat kedua, lagi-lagi Sasuke kembali ke ruangan itu. Mungkin saja kali ini gadis itu kesana, tapi nyatanya tidak, gadis itu tak pergi kesana.
Keesokannya, Sasuke kembali lagi kesana, namun hasilnya masih sama. Lalu keesokannya lagi, Sasuke kembali lagi. Sasuke terus pergi ke ruangan itu hingga hari-hari berikutnya, Sasuke berharap suatu saat ia bisa bertemu dengan gadis misterius itu, namun selama berhari-hari itu pula Sasuke terus menelan rasa kecewanya. Tanpa Sasuke sadari, sudah sebulan lebih ia melakukan hal ini.
"Jangan-jangan gadis itu memang bukan manusia" ucap Sasuke saat dirinya lagi-lagi tak bertemu dengan gadis itu.
Hari ini, Sasuke berniat menyetel ulang piano tua yang berada di ruangan itu, meskipun sudah tua Sasuke yakin piano itu masih bagus untuk digunakan. Sasuke yakin, karena kemarin ia memainkan piano itu. Sebenarnya hari ini Sasuke sudah memutuskan untuk menyerah, ia menyerah untuk bertemu gadis itu. Hari ini akan menjadi hari terakhirnya menginjakkan kaki di ruangan ini. Tapi sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat ini, Sasuke ingin membenarkan piano yang sering dipakai si gadis itu, siapa tahu suatu saat nanti gadis itu ingin memainkan piano ini lagi.
Please, Don't Go
Dua tahun kemudian…
Tinnn tinnnn
Sasuke sedikit terkejut ketika mendengar supirnya membunyikan klakson, ia menatap keluar kaca mobil. Ternyata ia sudah sampai di Uchiha High School.
Tinnnn tinnn
Supirnya membunyikan klakson lagi. Kali ini Sasuke mencaritahu penyebab supirnya tidak masuk kedalam sekolahnya. Ternyata didepan mobilnya ada mobil lain yang terparkir, dan mobil itu menghlangi mobil Sasuke untuk masuk kedalam.
Deg..
Sasuke mengernyit, entah kenapa ia merasa pernah mengalami kejadian ini. Déjà vu kah?
"Aku turun disini saja" ucap Sasuke pada supirnya, kemudian ia keluar dari mobilnya.
Sasuke masih merasa kejadian ini pernah dialaminya, tapi kapan? Tanpa sadar Sasuke hampir menabrak seseorang gadis, untung saja Sasuke segera sadar dan dirinya berhenti tepat dibelakang gadis itu. Sasuke melihat gadis dihadapannya, gadis yang sekarang berdiri membelakanginya. Gadis berambut indigo ini sepertinya sedang memandangi gerbang sekolah. Berambut indigo? Indigo?
"Si gadis aneh" tanpa sadar Sasuke mengucapkan itu. Sepertinya perkataan Sasuke membuat gadis didepannya terkejut, terlihat dari gadis itu langsung membalikkan tubuhnya menghadap Sasuke dan karena jarak mereka berdua yang terlalu dekat, gadis berambut indigo ini justru menabrak Sasuke hingga tubuhnya terdorong kebelakang. Hampir saja gadis itu terjatuh, kalau tangan Sasuke tak segera menahan tubuh mungil itu.
Sekarang penompang tubuh gadis itu hanya tangan Sasuke, mungkin kalau Sasuke melepaskan tangannya, gadis itu akan langsung mendarat ke tanah. Dari posisi ini, Sasuke bisa melihat ekspresi terkejut yang ditunjukkan si gadis aneh dan dari posisi ini juga, Sasuke sadar, selain warna rambut yang unik ternyata si gadis aneh juga punya mata berwarna unik, lavender.
Sasuke baru melepaskan tangannya ketika gadis aneh ini mendorong sedikit tubuh Sasuke, entah sejak kapan gadis ini bisa kembali menyeimbangkan tubuhnya itu.
Gadis itu mundur dua langkah kemudian ia membungkuk "Maafkan aku" ucap gadis itu sebelum pergi meninggalkan Sasuke.
Sasuke mendengus "Benar-benar gadis aneh" ucapnya.
TBC
Pojok review
NurmalaPrieska :eumm kayaknya bukan…
Rei D'Nightmare : Yup emang Hinata yang main
Aoi : okeee, makasih udah baca :)
oormiwa : disini udah dijelasin kan :) okeee ini udah lanjut
Morita Naomi : okee, hahaha iya di chap ini juga adegan SasuHina masih dikit tapi di chap tiga bakalan banyak kok.
HipHipHuraHura : semoga aja happy end :) eumm bukan Sakura yang main tapi Hinata…
Makasih buat yang udah baca dan review, semoga chap ini gak mengecewakan karena adegan SasuHinanya belum banyak tapi entar di chap tiga bakalan banyak kok…
See you next chap *lambai-lambai tangan*
