Akhirnya bisa ke FFN lagi... Aih, kangen banget!
-Review Reply-
Hiroyuki Naomi: arigatou review-nya! Hehe, kalau buat fic Rurouni Kenshin, masih harus banyak cari bahannya nih. Udah lama nggak nonton anime-nya.
Aoi no Tsuki: arigatou review-nya! Uhm...sebenarnya, Sasuke itu... Hehe, masih rahasia. Tapi mungkin udah ada yang bisa nebak dimana Sasuke berada... Duh, maaf soal typo. Padahal sebelum publish udah dipelototin tuh monitor. T.T Semoga untuk chapter ini nggak ada.
Uzukaze touru: arigatou review-nya! Semoga fic ini bisa bermanfaat... Maaf banget karna update-nya lama. Soalnya...*lirik minggu terakhir bulan Maret di kalender* Semoga chapter ini tidak mengecewakan...
Namikaze lin chan: arigatou review-nya! Soal masa lalu Naru sma Sasu, di chapter ini ada secuil kisah mereka di masa lalu. Jadi, Sasuke muncul di sini!
zerOcentimeter: arigatou review-nya! Maaf soal typo-nya... T.T Semoga di chapter ini nggak ada typo...
Oke, selamat membaca chapter 2 ya...!
.
-CHAPTER 2-
Langit masih setengah gelap ketika Naruto keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan di halaman. Di punggungnya terdapat peralatan memanah, sedangkan di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat coklat. Ketika berada di tengah halaman, ia berhenti dan memejamkan matanya. Dirasakannya udara pagi yang begitu segar masuk ke setiap pori-pori tubuhnya, menambah rasa optimis bahwa hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Ia menghirupnya pelan kemudian melepasnya dengan sebuah teriakan. Ketika dirasakannya hal itu sudah cukup memberinya semangat, diletakkannya tongkat itu di samping kakinya kemudian diambilnya sebuah anak panah. Busur telah siap, dan anak panah itu melesat lurus hingga tepat mengenai pohon yang berada jauh di sana.
Fokus.. Fokus...
Sementara Naruto mempersiapkan busurnya yang kedua, seseorang datang menghampirinya. Mengetahui hal itu, sang samurai pun berbalik dan tersenyum menyadari siapa yang datang.
"Selamat pagi, Sai," sapanya sambil membungkukkan badannya hormat.
Sai tampak ragu-ragu saat membungkukkan badannya, "Eh..selamat pagi juga, Naruto-sama."
Naruto tersenyum lebar dan menghampiri Sai, "Hm, sudah bangun rupanya. Aku kira kau sama tidak disiplinnya dengan orang-orang lain yang belajar samurai di sini. Keren!"
Sai ikut tersenyum ketika Naruto menepuk pundaknya pelan. Sudah dua hari ia tinggal di Konoha. Dan selama itu ia benar-benar banyak belajar dari orang-orang di sana. Tentang orang-orang yang selalu kasih sayang terhadap sesama, kedisiplinan untuk bangun pagi, juga mereka yang selalu hormat kepada orang lain. Termasuk tentang apa yang dilakukan Naruto kepadanya barusan. Ia tahu, Naruto adalah seorang samurai yang terpandang di Konoha. Kalau dibandingkan dirinya yang bukan apa-apa, kenapa Naruto-sama mau membungkuk hormat kepada aku yang lebih rendah jabatannya? Bahkan dia yang memulainya! Pertanyaan itu terus terngiang dalam benak Sai sampai akhirnya ia dikejutkan dengan suara Naruto.
"Uhm... Ngomong-ngomong, darimana kamu tahu kalau aku ada di sini?"
"Kakek Jiraiya yang memberitahu," kata Sai. Diam sejenak sebelum akhirnya ia kembali berkata, "Naruto-sama, selama dua hari ini saya sudah merenung tentang masyarakat di sini sesuai perintah Anda. Dan hari ini saya sudah siap untuk berlatih menjadi samurai."
Naruto mengangguk, "Baiklah, ayo ikut aku."
Setelah mengambil tongkatnya dan membereskan peralatan memanahnya, Naruto mulai beranjak, diikuti oleh Sai. Mereka terus berjalan di tengah hamparan rumput. Tanpa berkata apa-apa Naruto terus saja membawa Sai berjalan lurus ke depan. Pemuda bermata biru itu rupanya juga tidak mengizinkan Sai untuk tahu kemana mereka akan pergi dengan tidak menjawab pertanyaan mau kemana? dari Sai.
Ternyata Naruto membawa Sai ke sebuah lapangan luas dengan pohon-pohon Sakura yang saling tumbuh berhadapan. Kelopak bunga merah muda yang jatuh perlahan-lahan itu menambah keindahan tempat tersebut. Sai tambah terpana ketika Naruto membawanya memasuki lautan Sakura. Naruto menyandarkan tubuhnya ke salah satu pohon dan membiarkan Sai menikmati pemandangan indah itu.
Setelah cukup menikmati, Sai akhirnya bertanya, "Jadi, apa yang harus saya pelajari, Naruto-sama?"
Naruto tersenyum sambil memejamkan mata. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Satu hal yang perlu kau punya sebelum menjadi seorang samurai adalah...keyakinan. Kau tidak akan bisa menjadi seorang samurai bila kau tidak yakin pada dirimu sendiri. Ingat, menjadi samurai tak semudah membuat mie."
Ketika Naruto membuka matanya, ia mendapati Sai sedang mencatat di buku berwarna hijaunya.
"Tidak perlu mencatat," tegur Naruto, "Ilmu samurai bukanlah ilmu yang harus dicatat, melainkan harus dirasakan dalam hati."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sai segera memasukkan bukunya ke dalam saku. Naruto melanjutkan, "Samurai itu..."
Sejenak, pemuda itu menengadah, memperhatikan pergerakan awan yang seakan ingin bercerita. Ketika itu, pada tempat yang sama, di bawah gumpalan awan indah di musim semi seperti ini, Naruto belajar tentang hidup sebagai samurai.
* * *
Dua anak kecil berlari-lari dengan tongkatnya. Salah satu dari mereka sesekali mengayunkan tongkatnya di langit sambil tertawa lepas. Sementara itu salah satunya hanya menatap lurus ke depan. Menatap pada hamparan lapangan yang dipenuhi pohon Sakura yang berkembang indah.
Seorang pria bercadar dan beryukata abu-abu tampak bersandar pada salah satu pohon. Tangan kirinya menggenggam sebuah tongkat yang sama seperti tongkat yang dibawa kedua anak kecil itu. Menyadari kedatangan mereka, ia merubah posisinya hingga berdiri sempurna dan menatap pada dua anak yang kini balas menatapnya.
"Naruto, Sasuke, sudah siap?" tanya pria itu.
"Ya! Kami siap, Kakashi-sensei!" seru Naruto kecil.
Pria yang dipanggil Kakashi itu tampak tersenyum dari balik cadarnya. Ia berkata, "Baiklah, sebelum berlatih menggunakan tongkat, aku akan menanyakan kepada kalian. Sudah siapkah kalian untuk menjadi samurai yang selalu dibutuhkan oleh orang banyak?"
Sasuke dan Naruto mengangguk. Terlebih Naruto, ia begitu semangat sampai-sampai senyuman lebar sama sekali tak bisa lepas dari wajahnya.
"Bagus. Satu hal yang perlu kalian ketahui, menjadi samurai adalah sebuah pilihan. Kita harus bisa memilih diantara menjadi samurai yang harus selalu siap berperang ataukah menjadi rakyat biasa yang setiap hari hanya menanam padi. Bagus kalau kalian sudah siap menjadi samurai. Itu artinya, kalian pasti siap dengan segala konsekuensi menjadi samurai."
Naruto memiringkan kepalanya, sedangkan Sasuke tetap terdiam.
"Lihat bunga Sakura ini," Kakashi mengambil sebuah kelopak Sakura yang jatuh, "Indah, bukan?! Kalian tahu 'kan bunga Sakura mekar setiap bulan apa?"
"Musim semi. Dan dia selalu mekar dengan indah di setiap musim semi," ujar Sasuke.
"Benar, Sasuke. Nah, sebagai samurai, kita harus bisa mencontoh bunga Sakura. Bunga ini menyiratkan makna bahwa kita harus bisa melakukan yang terbaik walaupun waktu kita untuk melakukannya sempit. Hidup kita hanya sebentar, dan di waktu yang sebentar ini kita harus bisa 'mekar' layaknya bunga ini, dan membawa keindahan ke lingkungan."
Kakashi diam sambil meletakkan kelopak itu ke tanah lagi. Ia menengadah, memperhatikan beberapa bunga Sakura yang gugur tertiup angin.
"Gugurnya-pun indah... Sempurna, bukan?!" gumamnya.
"Err... Sensei, apa itu nggak sulit kalau harus selalu melakukan yang terbaik?" tanya Naruto.
"Haah... Dasar dobe. Sesuatu yang bila kau yakin bahwa kau bisa mencapainya tidak akan terasa sulit kalau kau menikmatinya!" kata Sasuke sambil melirik tajam pada Naruto yang kini memandangnya.
Naruto sempat menggembungkan pipinya sebal, "Baiklah! Aku yakin sekarang kalau aku pasti bisa menjadi samurai yang baik! Yeah!" serunya sambil mengacungkan tongkatnya dan memutar-mutarnya dengan semangat. Ia kembali memandang Sasuke dan berkata, "Kita pasti menjadi samurai yang hebat, teme!"
"Hn. Tetaplah semangat seperti itu. Lakukan yang terbaik. Karena sesuatu bila dilakukan dengan baik, walaupun waktunya sempit...,"
* * *
"...kau akan mendapatkan hasil yang maksimal, layaknya bunga Sakura yang selalu mekar dengan indah di setiap musim semi," Naruto mengakhiri penjelasannya sambil mengalihkan pandangannya dari pohon Sakura di depannya ke arah Sai yang kini terpana sambil meng-oh.
"Jadi itu samurai. Baiklah, Naruto-sama, aku sekarang yakin bahwa aku pasti bisa menjadi seorang samurai!" seru Sai.
"Ya," Naruto tersenyum. Kemudian ia kembali memandangi langit. Kenangan yang baru saja terlintas dalam pikirannya itu membuat hatinya kembali bergejolak. Rasa rindu itu kembali menguasainya, membuatnya kembali terbayang oleh dua orang yang sangat berarti untuknya.
Kakashi-sensei... Sasuke... Sedang apa kalian di sana?
"Uhm... Lalu, apa yang Anda maksud dengan konsekuensi sebagai samurai?" tanya Sai, membuyarkan lamunan Naruto.
Naruto tersenyum, "Kalau kau tidak bisa melakukan semua yang menjadi nilai dasar dari samurai, maka....," pemuda berambut pirang itu berbalik menatap tajam pada Sai, "harakiri."
"Apa itu?"
"Ketika seorang samurai tidak berhasil mencapai impiannya, tidak berhasil menjalankan perintah, maka mereka akan membunuh diri mereka sendiri dengan merobek lambung masing-masing memakai katana-nya. Dan membiarkan diri mereka mati secara perlahan-lahan."
Sai sedikit bergidik mendengar pernyataan Naruto barusan. Bunuh diri?
"Tenanglah, Sai," Naruto kembali tersenyum, "Lebih mulia mati seperti itu daripada terbunuh oleh musuh. Suatu saat kau pasti tau apa maksud di balik harakiri itu sendiri."
"I-iya...," kata Sai ragu sambil mengangguk pelan.
"Baiklah, untuk latihan mengayunkan tongkat nanti saja ya. Aku sudah lapar," ujar Naruto sambil memegang perutnya yang dari tadi sudah berbunyi minta diisi, "Pasti Kakek memasakkan makanan yang enak untuk kita!"
Sai kembali mengangguk. Naruto mengemasi peralatan memanahnya sebelum akhirnya berjalan beriringan bersama Sai menuju ke rumahnya.
* * *
Naruto masih saja terjaga ketika waktu sudah hampir menunjukkan waktu pagi. Sejak sore, ia hanya berdiam diri di kamarnya dan duduk memandangi sebuah pedang yang diletakkan di salah satu meja pada kamar tersebut. Pedang itu dilapisi oleh pelindung berwarna hitam, dan di sepanjang pelindungnya terdapat garis putih. Di sebelah pedang itu juga terdapat pelindung kepala yang menjadi salah satu bagian dari gie-baju perang samurai.
Naruto terus saja memandangnya, bersama dengan ingatan saat dia masih bersama dengan pemilik pedang dan pelindung kepala itu.
"Sasuke...," lirihnya.
Pemuda itu kemudian menundukkan kepalanya sambil terpejam, membiarkan berbagai kenangan pahit tentang Sasuke menguasai pikirannya.
Aku benar-benar masih ingat saat terakhir kali kita bertemu. Walau pahit, tapi tak akan pernah mau untuk kulupakan.
Akhirnya Naruto menegakkan kepalanya. Diambilnya pedang bertuliskan "Kusanagi" itu dan dipeluknya dengan erat. Ia tahu kalau hal yang dilakukannya tersebut bisa membuat dadanya semakin sesak. Namun ia tak peduli. Menurutnya, kegiatan seperti ini justru membuatnya tenang dan nyaman, merasakan kehangatan yang selalu tercipta dulu ketika ia dan Sasuke duduk bersebelahan.
Aku sangat merindukanmu...
"Selamat tidur, Sasuke...," katanya sambil memandangi langit malam yang tampak dari pintu yang sengaja dia buka.
Tenanglah di sana. Suatu saat nanti, kita pasti bisa bertemu. Aku janji.
TBC
Komentar, kritik, atau saran? Ayo review!
