Harry Potter belongs to our beloved Queen Jo
La La Love belongs to GwendyMary
OOC, Alur kadang cepet kadang lambat, Aneh, Gajelas, dsbg
RnR if you mind
Hope You Like It! ;)
P.S: Sangat disarankan untuk membaca fic ini sambil mendengarkan lagu "La La Love" milik Taylor Thrash yang sebenernya ngga ada hubungannya sama sekali dengan fic ini._.v
La La Love
Hermione menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya sekeras mungkin agar manusia- oh tidak, mungkin bagi Hermione pantasnya disebut iblis ini mendengarnya. Draco yang tadinya sedang sibuk memilih-milih peralatan Quidditchnya melirik ke arah Hermione. Mereka berdua sekarang sedang berada di sebuah toko tua bernama Quality Quidditch, salah satu toko atau mungkin satu-satunya toko Quiddtch terbaik yang selalu mengeluarkan mode mode baru di Diagon Alley.
Awalnya sudah pasti, Hermione tak mau menemani Draco dan lebih memilih untuk menyelesaikan perkamen pelajaran Transfigurasinya tapi untuk info, seorang Draco Malfoy yang ditolak keinginannya akan mendumel seharian penuh tanpa henti dan Hermione terlalu lelah untuk mendengar semua ocehannya yang sangat sangat tidak penting menurutnya.
"Apa? " tanya Draco, polos dan datar seperti biasanya. Gadis berambut coklat semak itu mendelik sebal mendengar pertanyaan Draco. Merlin! Tak bisakah Draco melihat bahwa dirinya sudah sangat bosan di toko ini?! Dan lihat saja! Toko ini bahkan dipenuhi oleh para penyihir laki-laki yang sedari tadi malah memandanginya dengan tatapan entah apalah itu, melupakan tujuan awalnya untuk membeli atau melihat isi toko Quidditch ini.
"Hello, Mr. Draco Malfoy? Bisakah kau mengalihkan perhatianmu sedikit dari semua barang-barang ini dan melihat aku yang sudah hampir mati kebosanan disini? " jawab Hermione sambil memberi tatapan sebal kepada seorang penyihir laki-laki di belakang Draco yang tersenyum-senyum kepadanya. Merasa tampan, huh? pikirnya.
"Jadi... kau ingin aku perhatikan? " Draco menyeringai dan seringainya itu makin lebar ketika melihat beberapa semburat tipis di pipi mulus Hermione. "Yeah, you wish Malfoy. " Hermione buru-buru berlalu pergi, meninggalkan Draco yang masih saja menatap kepergiannya dari belakang.
"Hey Granger, tunggu! "
"Love is about finding courage inside of you that you didn't even know was there... "
Lapangan Quidditch terlihat sangat ramai pagi itu. Yup, sebuah pertandingan antar asrama akan diadakan disini. Warna hijau dan merah sangat mendominasi lapangan hijau yang dikelilingi menara tempat duduk tiap asrama itu. Gryffindor VS Slytherin. Sebuah pertandingan yang pastinya menggebu-gebu dikarenakan permusuhan kedua asrama ini. Well, meskipun Persatuan Asrama sudah berlaku, tetap saja kan? Toh, hanya di Quidditch.
"Jangan mengendarai sapumu cepat-cepat, keselamatan lebih penting. Jangan lihat ke arah lain, fokus ke bolanya saja. Kalau kau tak fokus, nanti jatuhlah apalah ya seperti waktu tahun ke dua itulah. " kata Hermione panjang lebar kepada Draco yang sudah menatapnya dengan pandangan Jangan-Menceramahiku-Terus.
Hermione kemudian mendorong-dorong Draco agar lekas menuju ke arah timnya yang sepertinya sudah siap untuk terbang. "Cepat sana, dan well, aku yakin Gryffindor pasti akan menang. "
"Takkan kubiarkan. " balas Draco dengan wajah dan nada angkuhnya yang bagi Hermione sangat Malfoy itu.
"Ck, whatever. Good luck! " Hermione akan melenggang pergi saat Draco menahan pergelangan tangannya.
"Kau harus menonton pertandingan dan... terima kasih. " Draco tersenyum, sebuah senyuman tipis dan bukan seringaian yang biasa ia tunjukkan.
Senyuman Draco itu mau tak mau membuat Hermione ikut tersenyum juga dan mengangguk. Kemudian keduanya berpisah karena disaat itu juga, Draco dipanggil oleh para anggota timnya.
"Falling in love is like jumping off a really tall building. Your brain tells it is not a good ide, but your heart tells you, you can fly... "
Sorakan penonton terdengar begitu riuh ketika kedua tim memulai pertandingan. Kedua tim serentak langsung berusaha memasukkan bola ke gawang. Ketua tim Quidditch Slytherin, Draco Malfoy, melajukan sapu terbangnya dengan cepat saat ia melihat Hermione yang bukannya duduk untuk menyorakinya malah sibuk mengobrol dan bercanda dengan Cormac McLaggen, yup ia sudah keluar dari Quidditch sejak tahun lalu.
"Menyebalkan. "
Hermione yang kini sudah duduk di tempat duduk penonton Gryffindor bersama Ginny, membelalak melihat Draco yang terbang diatas rata-ratanya. Pemuda berambut pirang platina itu sibuk mengejar Snitch kesana kemari, bersaing dengan Ronald Weasley. Keduanya tampak tak mau menyerah.
"Draco... " desisnya dengan aura gelap memancar di sekitarnya, membuat sang calon nyonya Potter di sampingnya melirik ke arahnya. Hermione yang sedang marah bisa menarik perhatian seorang Ginny Weasley dari Harry Potter yang sedang bermain Quidditch? 100 point untuk Miss Granger kita satu ini karena semua orang bahkan tau seorang Ginny Weasley tak akan pernah melirik, memalingkan, ataupun menjawab panggilan ketika ia sudah melihat kekasihnya terbang di tengah-tengah lapangan Quidditch.
"Ya, dan ini dia! Draco Malfoy berhasil menangkap Golden Snitch! 150 point untuk Slytherin! " seru Lee Jordan mengalahkan sorak riuh dari asrama Slytherin.
BRUK
Sapu terbang milik Draco oleng, entah bagaimana caranya, hingga akhirnya mendarat dengan tidak mulusnya di tanah membuat sang kapten Quidditch terhempas dari sapunya cukup jauh seperti Harry disaat tahun kedua. Hanya saja kali ini Draco menangkap Snitch dengan tangannya, bukan hampir menelannya bulat-bulat seperti yang dilakukan Harry. Pemuda itu meringis dan hal yang terakhir ia lihat adalah seorang gadis bermata coklat madu menatapnya dengan pandangan cemas sekaligus marah.
"DRACO! "
"There's always some madness in love. But there's also always some reason in madness. "
Wajah Hermione tampak lelah dan sedikit pucat. Ia sedang berada di Hospital Wings saat ini, menunggui Draco untuk siuman tentu saja. Beberapa buku telah ia bawa dari perpustakaan dan kini buku terakhir sudah habis dibacanya. Sudah buku terakhir tapi ia belum siuman?! pikirnya.
Ginny dan seluruh anggota tim Quidditch Slytherin lainnya sudah pergi sejak satu jam tadi. Entah kerasukan apa, seluruh anggota tim Slytherin tadi tersenyum tulus padanya ketika ia memilih untuk menunggui Draco saat Ginny mengajaknya makan di Aula besar.
Dengan bosannya, Hermione memainkan jemari-jemari Draco. "Hey ferret idiot, cepat bangun. Jangan menyusahkanku begini. Meskipun kita ini kekasih 'kontrak' tetap saja ya, kau tak berhenti menyusahkanku. "
Tak ada pergerakan balasan dari Draco. Pemuda itu masih tetap saja menutup matanya, membuat Hermione sedikit er- merindukan kedua bola mata keabu-abuannya itu, mungkin? Hermione menghela nafas kecewa. Mau sampai kapan ia menunggu disini sedangkan serentetan tugas dari para Professor dan jabatannya sebagai Ketua Murid juga menunggunya? Hermione melipat kedua tangannya dan menenggelamkan kepalanya di lipatan itu.
"Dasar ferret idiot... "
"Apa kau bilang? "
Hermione buru-buru mendongakan kepalanya. Dilihatnya Draco yang sudah siuman dan bahkan membuat seringai menyebalkan itu di wajahnya. "D-Draco... ka-kau?! " Kekagetan terpancar jelas di wajah putihnya yang semakin putih akibat pucat itu.
"Ya ya, sang ferret idiot sudah siuman disini? " Draco mendengus tertawa.
"Dasar ferret idiot! Aku sudah bilang jangan melajukan sapumu cepat-cepat tapi kau tidak mengindahkannya sama sekali! Kau kira aku senang apa dibuat seperti ini! Kau ini sudah membuatku cemas! Kau juga sudah membuat semua orang cemas karena kelakukan bodohmu ini tau! Tugasku menumpuk di bawah hanya karena menunggumu! " Hermione berteriak dengan satu tarikan nafas. Untungnya di Hospital Wings itu hanya berisi ia dan Draco sehingga teriakannya tak mengganggu penghuni lain.
"Bodoh. Bodoh kau, ferret! " lanjut Hermione sambil membawa buku-buku tebalnya menuju pintu keluar Hospital Wings.
"Maaf... " jawab Draco atau lebih tepatnya gumam, setelah terdiam membisu selama Hermione memarahinya tadi. Gumamannya itu terdengar oleh Hermione, membuat sang gadis menengok ke belakang sebentar.
"Kerjakan tugas Ketua Murid sendiri selama seminggu ini, itu hukumanmu. Maaf juga karena meneriakimu tadi, aku hanya terbawa lelah. Cepat sembuh. " Setelah berkata dengan singkat dan cepat, Hermione menghilang dibalik tembok-tembok kokoh Hospital Wings.
"Tapi ini kan salahmu juga karena kau malah memperhatikan McLaggen. Aku ini kekasihmu, well meskipun kontrak sih, jadi harusnya aku yang diperhatikan. Bukan cowok bodoh, sok tampan, dan berwajah tolol seperti McLaggen. Cih. Lho, tunggu... aku ini kenapa sih?! "
Pangeran Slytherin kita satu ini tak tau apa apa soal cinta, eh?
"Once in a while right in the middle of an ordinary life, love gives us a fairy tale... "
Liburan. Satu kata yang selalu berhasil membuat semua murid berlonjak senang dibuatnya, terkecuali para murid asrama Ravenclaw yang pastinya lebih memilih untuk tetap di Hogwarts dan berkutat dengan buku-buku tebal mereka. Seminggu sebelum liburan natal dan tahun baru, semua murid sudah terlebih dulu berkemas-kemas dan mengingat-ngingat seluruh pengalaman yang terjadi selama semester ini untuk dijadikan topik pembicaraan di rumah nanti.
Dear our beloved Draco,
Draco, Mum harap kau tidak akan keberatan akan keputusan ini.
Bisa dibilang ini keputusan mendadak dari Lucius dan... sedikit persetujuan dari Mum juga sebenarnya.
Kami berdua akan pergi berlibur ke Prancis. Just the two of us.
Jadi Mum harap mungkin kau bisa pergi berlibur dengan teman-temanmu yang lain seperti Blaise dan Theo.
Oh! Mum juga akan sangat senang jika kau pergi berlibur dengan Miss Granger, partner Ketua Muridmu itu.
Dad mu juga sepertinya tidak keberatan jika kau pergi berlibur dengan Miss Granger. Jangan marah ya, honey.
Selamat berlibur, selamat natal, dan selamat tahun baru!
Love
Mum and Dad
Draco melongo membaca isi surat dari kedua orang tuanya. Surat yang bersegel M besar di tengahnya itu tertulis dengan sangat bagus oleh tulisan tangan milik Narcissa. Burung hantu milik keluarga Malfoy yang baru saja datang membawa surat tersebut, kini sedang bertengger di lengannya dan terkadang mematuk-matuk bahunya dengan sayang. Malfoy junior itu menatap Hermione yang sedang mengemas barang-barangnya sambil mengobrol dengan seekor burung hantu yang juga baru saja datang membawa sebuah surat dari kedua orang tuanya.
Draco menelan salivanya pelan. Menghabiskan seluruh liburannya dengan Hermione dan keluarga muggle nya? Tidakkah cukup satu semester ini ia habiskan bersama partnernya yang terkenal cerewet yang menyebalkan itu?! Well, ia akui Hermione memang baik dan kadang perhatian kepadanya, tapi tetap saja kan itu tak merubah fakta bahwa ia memang menyebalkan.
Lagipula bagaimana caranya ia menanyakan kepada Hermione untuk ikut bersama dengannya selama liburan ini? Terimakasih banyak untuk kedua Malfoy senior yang teganya meninggalkannya. Kembali ke manor? Itu pasti akan sangat membosankan dan percuma karena ia hanya sendirian.
Blaise? Blaise sudah memberitahunya bahwa ia akan mengadakan acara dengan seluruh keluarga besarnya. Sangat tidak menyenangkan bagi Draco jika ia bergabung ke acara Blaise sedangkan yang ia kenal hanyalah pemuda itu. Theo? Memangnya ia bisa tahan dengan kegilaan pemuda itu? Tidak terimakasih pastinya. Harapan satu-satunya adalah Hermione!
Akhirnya, dengan membuang seluruh harga diri ke Malfoy an nya, ia mencoba bertanya...
"Granger, kau akan kemana selama liburan ini? " tanya Draco berusaha secool mungkin agar tidak merusak imagenya.
"Hmmm, kedua orang tuaku sedang pergi berlibur ke Prancis, seperti biasanya. Aku akan tetap berada di rumah dan yah mungkin berkeliling London. Banyak yang sudah berubah disana dan aku tidak ingin ketinggalan dengan perubahannya. Memangnya kenapa? "
"Begini... a-aku, kedua orang tuaku juga sedang pergi berlibur ke Prancis dan menurutku sangat tidak menyenangkan untuk menghabiskan tahun baru sendirian. Jadi... " Draco menghela nafasnya dalam-dalam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kedua orang tuaku menyarankan agar aku menghabiskan liburanku denganmu. " lanjutnya cepat cepat.
Ekspresi Hermione saat itu sangat sangat tidak bisa terbaca. Antara kaget, menahan tawa, dan bingung. "Hahahaha! " tawanya meledak begitu saja sehingga Draco mendelik ke arahnya.
"Baik, baik. Uh, haha kau boleh ikut aku. Haha, kenapa bukan Theo atau Blaise? Hahaha. " Hermione masih tertawa-tawa membuat Draco jengkel seketika kepadanya.
"Hentikan dulu tawamu, Beaver. Blaise akan mengadakan acara dengan seluruh keluarga besarnya dan menurutku tidak lucu sama sekali jika aku bergabung di acara keluarga itu. Aku sendiri juga tidak yakin untuk menghabiskan seluruh liburan berhargaku dengan Theo yang pastinya akan membuat imageku rusak dengan kegilaannya. Nah, harapan ku satu-satunya adalah kau Hermione Jean Granger. " terang Draco panjang lebar.
Hermione mengangguk-angguk mendengar penjelasan Draco, "Baiklah! Kuharap kau tidak akan menyusahkanku nantinya dengan sikap manja mu itu dan kuharap juga kau tidak akan menyesal menghabiskan seluruh liburan berhargamu dengan seorang muggle-born sepertiku. "
"Well, setidaknya kau masih waras. Itu sudah cukup. "
"If you love someone, tell him/her. Forget about the rules or the fear of looking ridiculous. What is truly ridiculous is passing up on an oppurtunity to tell someone that your heart is invested on him/her... "
Hogwarts Express sudah menunggu di stasiun, siap mengantar para murid kembali ke peron 9 ¾. Murid-murid saling berpelukan satu sama lain, memberikan salam perpisahan. Begitu juga dengan The Golden Trio, Harry, Ron, dan Hermione plus Ginny Weasley.
"Selamat berlibur kalian! " kata Hermione sambil memeluk sahabatnya satu persatu. Seperti biasa, Harry akan ikut Ron dan Ginny untuk menghabiskan liburannya di The Burrow. Ia sudah seperti seorang Weasley sekarang dan The Burrow bagaikan rumahnya. Begitu juga dengan Mrs. Weasley dan Mr. Weasley yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri. Toh nantinya juga memang akan menjadi orang tuanya kan?
"Mione, kau serius akan menghabiskan seluruh liburanmu bersama dengan Malfoy? " Ron bertanya sambil melirik ke arah Draco yang sedang tertawa-tawa dengan Blaise dan Theo.
"Malfoy tak seburuk itu juga Ron. Ayolah, kuakui dia cukup tampan. Jangan cemberut begitu Harry, kau tetap yang tertampan. " Ginny langsung bergelayut di lengan Harry kala menyadari perubahan raut wajah kekasihnya itu.
Hermione mengangguk sebagai jawabannya. "Sepertinya liburan kali ini akan menjadi liburan yang sangat panjang, huh? Jangan lupa kirim surat ya! "
"Honey, ayo cepat. Keretanya akan segera berjalan sementara kau masih asik-asik disini. " Draco menepuk bahu Hermione.
Ron memandang horror, Harry menaikan alisnya, Ginny melongo. Wait, apakah mereka ketinggalan sesuatu disini?! Barusan, seorang pewaris tunggal harta kekayaan Malfoy, Draco Malfoy, memanggil Hermione Jean Granger, sahabat mereka, dengan kata honey ?! Apakah dunia sudah menjadi gila?!
Hermione mendengus sambil menonjok pelan lengan Draco. "Kau ini sudah tidak waras ya? Apa yang Zabini masukkan ke sarapanmu pagi ini, huh? " tawanya yang hanya dibalas dengan kekehan dari Draco.
Betul kata Hermione, liburan kali ini akan menjadi liburan yang sangat panjang. Sepanjang surat Ginny Weasley yang pastinya akan berisi seribu pertanyaan untuknya. Selamat berlibur dengan surat-surat Ginny, Hermione!
"Cinderella walked on broken glasses, Aurora let a whole lifetime passes, Belle fell in love with a hideous beast, Jasmine married a common thief, Ariel walked on land for love, Snow White barely escaped a knife, because LOVE means facing your biggest FEARS... "
TO BE CONTINUED, AS YOU WISH
A/N:
Hey hey kalian yang udah pada repot-repot ngereview dan ngasih saran, makasih yaaa! Semuanya itu berharga banget buat Gwendy hehehe. Maaf ya kalo updatenya suka lama soalnya kadang inspirasinya suka ngedet gitu deh *dipukulin* Oke oke sekian bacotan saya, maaf kalo chapter ini jelek banget, Gwendy sadar. Sekali lagi terima kasih ya udah mau baca hehehe.
HEY I JUST MET YOU AND THIS IS CRAZY BUT HERE'S MY FICTION SO REVIEW MAYBE? ;P
DON'T BE A SILENT READER
