Seperti chap sebelumnya kalau Kuroko No Basuke bukan milik saya melainkan milik Tadatoshi Fujimaki. Typo dan sebagainya harap dimaklumi.
.
.
.
Mayuzumi mengerang tertahan. Kepalanya berdenyut tidak karuan. Tangan dibawa memijit pelipis untuk mengurangi rasa berdenyut yang menyerang. Katakanlah Mayuzumi sedang mengalami fase galau menyerempet frustasi dan depresi. Merasa terbang tinggi saat hari mengikat janji suci dan dihempaskan dengan begitu kejamnya saat malam pertama. Istrinya memang moe, kawaii dan sangat tipenya. Tapi bagaimana mau menikmati malam pertama saat istri cantik moe kawaii mendadak bertranformasi jadi laki-laki ?. Nikmat engga, syok iya. Pingsan pula.
Mayuzumi tau dosanya banyak, Mayuzumi juga tau dari sekian banyak siswa yang diajarnya menaruh dendam kesumat kepadanya, dan Mayuzumi juga tau kalau khayalan tentang istri yang moe dan kawaii hanya terjadi dimimpi-mimpi indah setiap malamnya. Tapi pliss, jangan berikan Mayuzumi cobaan yang begitu berat dengan memberinya seorang istri yang ternyata laki-laki bertampang moe dan kawai mirip salah satu karakter loli favoritnya. Mayuzumi tidak kuat. Antara nafsu dan logika membuatnya mirip abg labil yang lagi jatuh cinta.
Secangkir kopi diatas meja diambil dan diseruput pelan. Pening dikepala tidak kunjung hilang padahal 20 menit lagi tugasnya untuk mengajar akan dimulai. Setengah kosong, cangkir kopi diletakan kembali. Kepala menggeleng kencang saat teringat kejadian tadi pagi yang menurutnya sangat awkward dan menancapkan sebilah pedang dihatinya yang masih polos dan suci.
Pagi itu Mayuzumi bangun diatas kasurnya. Mata mengerjap pelan dengan tangan menggapai jam weaker diatas meja kecil samping ranjang. Menggeliat pelan dan mengubah posisi menjadi menyamping untuk memeluk guling. Kebiasannya untuk pengumpulkan nyawa sebelum benar-benar bangun dan mandi. Tapi apa yang dilihatnya membuat Mayuzumi syok. Mayuzumi kaget. Sangat kaget malahan. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya 'oh' dengan suara yang sangat pelan. Rambut merah, wajah polos moe dan kawaii cukup membuat otak Mayuzumi panas mengingat kejadian tadi malam. Malam pertama yang benar-benar fail. Malam pertama yang akan diingatnya- walaupun Mayuzumi ingin lupa untuk selamanya.
Menarik nafas pelan, Mayuzumi melangkah keluar kamar setelah menyambar ponsel abu diatas nangkas. Jemari cekatan menekan-nekan tombol dan mendekatkannya ketelinga setelah menekan dial kenomor orang nomor satu dalam hidupnya. Panggilan diangkat dan Mayuzumi hanya bisa berdiam diri dibalkon setelah mendegar penjalasan dari kaasan nya yang tergolong singkat, tidak jelas dan menimbulkan banyak tanda tanya.
"Loh kan Chihiro ingin punya istri yang kawai macam karakter favorit LN kan ? Sei-kun kan kawaii. Lagipula kaasan itu hanya ingin mewujudkan keinginan Chihiro. Chihiro ngga mau nikah kan karena ribet ngurus istri sama anak, belum siswa yang diajar Chihiro." Disini Mayuzumi menganggukan kepalanya. "Maka dari itu, kaasan pilih Sei-kun jadi Chihiro hanya perlu mengurus istri dan siswa Chihiro tanpa perlu mengurus anak. Tehee."
Ingin sekali mulut Mayuzumi menyuarakan "Ngga laki-laki juga kali, Kaasan !!!?". Tau begitu kan mending Mayuzumi menemani masa kejombloan Nijimura saja. Banyak pertanyaan dikepala Mayuzumi tentang istri- suami lebih tepatnya kepada Kaasan nya. Tapi mulut Mayuzumi mendadak kelu dan kerongkongannya terasa kering. Pertanyaan semacam 'kenapa Kaasan memilih menantu laki-laki ?' , 'Kenapa Akashi- maksudnya Mayuzumi Seijuurou mau menikah dengannya dan jadi homo ?' , 'kenapa kaasan menjadikan dirinya homo' dan lain sebagainya yang membuat kepala Mayuzumi terasa akan meledak. Dan perkataan kaasan sebelum telvon ditutup menghantam Mayuzumi begitu kerasnya.
"Oh Chihiro, Sei-kun itu siswa mu loh~ dia ada dikelas 1B."
Dan teriakan penuh kekagetan menggema diapartemen sederhana milik Mayuzumi. Apa ? Mayuzumi homo dan seorang pedofil ? Pliss Kaasan, tau istri- maksudnya pendamping hidupnya laki-laki saja membuat Mayuzumi blank dan pingsan. Nah ini ditambah kenyataan kalau Suaminya masih kelas satu SMA. Siswanya pula. Aaaahhh Mayuzumi rasa-rasanya ingin menerjunkan diri kesungai gangga dan hanyut bersama mayat-mayat dan bangkai hewan disana. Atau lebih simplenya, Mayuzumi ingin menerjunkan diri dari atas balkon kamarnya.
Kepala dijedukan kepagar pembatas balkon berulang kali. Surai abu dijambak keras dan gumaman 'ini hanya mimpi' terus terulang keluar dari bibir pucatnya. Homo ? Pedofil ? Siswa ?
"Arghhh rasanya kepala ku mau pecah !!! Kaasan kau tega !!!!"
"Chihiron-san."
Kepala merah menyembul dari balik pintu. Tangan mengucek mata khas bangun tidur. Mayuzumi menengok kebelakang dan milihat Seijuurou berdiri diambang pintu dengan muka mengantuk.
"Kenapa triak-triak ? Chihiro-san sakit kepala ?" Tanya Seijuurou. Mayuzumi membatu. Awkward bercampur malu menjadi satu. Liat, Seijuurou itu cocoknya jadi anaknya, minimal jadi adik lah. Bukan jadi suaminya. Beh Mayuzumi jadi ingin headbang ketembok sekarang.
Kepala abu menggeleng, pandangan mata kosong dengan jiwa yang setengahnya terlepas dari tubuhnya.
"Chihiro-san mau sarapan sama apa ? Oh, mau mandi air hangat atau air dingin ?".
"Hangat." Jawabnya.
Dan Seijuurou berlalu keluar kamar setelah memberinya ciuman selamat pagi.
"Oyyy yang pengantin baru, melamun aja." Mayuzumi tersentak kaget. Mata menatap tajam seseorang yang barusan memberinya terapi kejut jantung.
"Brisik."
"Jangan begitu Chihiro. Aku ini kan temanmu ? Khehehe bagaimana malam pertama mu, eh ? Aku jadi iri."
Mayuzumi mengerang, kepalanya kembali pening. Tidakkah Nijimura tau kalau Mayuzumi lagi galau, depresi dan frustasi ?.
"Diamlah, Shuu."
Nijimura menggelengkan kepalanya, kursi depan meja Mayuzumi ditarik dan mendaratkan pantatnya disana. Tangan diletakan diatas meja untuk menumpu kepalanya. Pandangan lurus menatap manik abu Mayuzumi.
"Chihiro sebenarnya aku ingin ketawa loh~." Katanya. "Tapi aku tak tega padamu."
"Oh masa ? Kukira kau bukan orang yang tidak tegaan ?". Ujar Mayuzumi sarkas. Bibir ditekuk dengan alis hampir menyatu.
"BWAHAHAHA RASAIINN LU JUMI TEGA SIH NINGGALIN GW JOMBLO HAHAHAHA."
Byuurrr
Semburan kopi diterima Nijimura. Wajah langsung ditekuk dan mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang terkena semburan kopi oleh Mayuzumi.
"Jangan disembur juga kali."
"Kau tau kalau Aka- Seijuurou laki-laki ?" Tanya Mayuzumi pelan sembari mendekatkan wajahnya kewajah Nijimura.
Nijimura mengangguk. "Kau pikir siapa yang mengangkatmu dari lantai keranjang, ehm ?"
Mayuzumi menggeleng. "Bukan Seijuurou ?" Tanyanya.
"Beh Seijuurou mana kuat mindahin badanmu. Dia menggedor pintu apartemenku dan meminta ku untuk membantunya mengangkatmu keranjang." Terang Nijimura. "Kau tau ?" Mayuzumi kembali menggeleng. "Dia sangat khawatir padamu tau. Bahkan dia sampai menangis saat aku bilang kalau nafasmu sangat lemah."
"Seriusan nafas ku lemah ?"
"Aku hanya bercanda." Poni disisir kebelakang dan tersenyum usil.
Mayuzumi diam. Tangan kembali memijat pelipisnya. Sebentar lagi dirinya akan mengajar dikelas Seijuurou dan itu membuat Mayuzumi malas mengangkat pantatnya dari kursi. Salahkan mertuanya yang dengan seenak jidat memindahkan tugas untuk mengajar anak kelas satu. Padahal Mayuzumi lebih suka mengajar dikelas 3. Tidak ribut dan tau diri. Iya tau diri kalau mereka akan lulus dan ujian. Jadi hal semacam triak-triak tidak jelas saat pelajaran hampir tidak ada. Hening. Dan Mayuzumi suka.
"Sudahlah Chihiro, lagi pula Seijuurou itu anak yang baik dan sepertinya menyukaimu. Coba saja dulu, walapun kau homo dan pedofil aku tetap mau jadi teman mu kok. BWAHAHAHA."
"Jangan menertawaii ku !"
"Jangan kira semalam aku tidak kena serangan jantung Chihiro. Bahkan aku hampir menyusulmu pingsan kalau tidak ingat siapa yang akan membantu Seijuurou mengangkatmu." Nijimura berujar pelan. Tangan menepuk bahu Mayuzumi penuh pengertian. Rasa sebal dan irinya karena Mayuzumi menikah duluan hilang entah kemana dan berganti rasa kasihan bercampur geli.
"Sudah lah sana masuk kelas, kau sudah telat setengah jam tau."
Mayuzumi melirik jam dipergelangan tangan. Dengan gontai kakinya melangkah menuju kelas 1B. Laptop, kamus bahasa, dan LN ditentengnya. Kakinya terasa sangat berat untuk dilangkah. Benar kata Mikasa, dunia itu kejam. Dan Mayuzumi merasakannya sekarang. Mikasa itu siapa Mayuzumi ? Ya pokoknya Mikasa. Mikasa yang itu, Mikasa yang kena friendzone kalau kata D. Langkah kakinya semakin dekat dengan kelas 1B dan rasanya perut Mayuzumi mendadak mual. Bayangkan saja, kau mengajar dikelas dan salah satu siswanya adalah suamimu. Awkward ? Tidak nyaman ? Grogi ? Sungkan ? Canggung ? Apapun itu pokoknya membuat perut Mayuzumi mual. Dan fakta kalau anak kelas satu ribut dan agak- lebih banyak susah diatur membuat Mayuzumi ingin memutar kembali kakinya keruang guru.
"Aominechiii jangan corat-caret bukuku-ssu." Noh, belum sampai kelas saja Mayuzumi dapat dengan jelas mendengar teriakan dari kelas 1B. Apa lagi sudah masuk kelas ?. Mayuzumi hanya berharap telinganya tidak tuli setelah mengajar dikelas 1B.
"Kuroko teme !!! Jangan muncul tiba-tiba begitu dong."
"Bwhahaha Shin-can manis sekalii pake bandana."
"Jreng kau terindah kan slalu terindah jreng."
"Nanas, nanas, murah nih sekilo cuma 10rb. Mau ?"
Pliss, itu kelas atau apa ? Kami-sama tolong ambil nyawanya sekarang dan tempatkanlah disurga dengan ratusan bidadari yang siap melayaninya.
Kriieet
Pintu dibuka Mayuzumi. Pandangan mengedar keseluruh kelas. Dan kepalanya mendadak berkunang-kunang melihat tingkah laku siswa yang akan diajarnya. Suara petikan gitar dan suara sumbang terdengar dari pojok belakang, sirambut pirang kecoklatan yang sibuk jaualan nanas, tarik-menarik buku, umpatan segela jenis hewan dimeja tengah dan perkatan 'aku absolute, turuti perintahku.' Dan lain sebagainya. Bolehkan kalau Mayuzumi menganyutkan diri disungai gangga bersama mayat-mayat disana sekarang.
Langkah dibawa masuk kelas. Duduk dikursi guru mengamati penghuni kelas yang belum menyadari kehadirannya. Manik abu mengedar kembali mencari-cari Seijuurou. Dan matanya melembar sekilas sebelum kembali seperti sediakala saat melihat Seijuurou berdiri ditengah ruangan dengan gunting ditangan dan dilemparkan ke kedua anak yang sedang tarik-menarik buku hingga membentur tembok dan jatuh kelantai.
"Daiki, Ryouta berhenti berebut buku dan kembali ketempat duduk masing-masing."
"Ha-ha'i Akashichii."
"Kiyoshi berhenti jualan nanas dan-"
"Aku tidak jualan nanas tuh." Potong Kiyoshi yang langsung mendapatkan deliakan maut dari Seijuurou.
"Bukan kau Teppei. Shintarou panggil guru sana." Perintahnya mutlak dengan tangan dikibaskan-kibaskan seperti mengusir anak ayam.
"Tapi Akashi kau kan ketua kelasnya."
Dan Mayuzumi hampir menyemburkan tawa yang amat langka saat siswa yang duduk dimeja depannya menyahut sambil membenarkan letak kacamatanya. Bandana merah dikepala hijaunya sungguh mirip sekali dengan tukang cukur langganannya. Kalau wajahnya kawai moe mirip Seijuurou itu masih enak dilihat, lah ini, badan keker, tinggi hampir menyamainya pake bandana warna merah ? Ngga malu sama tubuh dan muka apa ? Mayuzumi yang liat saja malu bercampur geli. Ck ck ck.
"Membantah eh Shintarou ?" Ujar Seijuurou dengan gunting yang diayun-ayunkan siap hunus.
"Ck. Baiklah." Shintarou, Midorima Shintarou mengangkat pantatnya dari bangku sebelum mendudukan tubuhnya kembali saat matanya bersitatap dengan Mayuzumi.
"Shintarou." Panggil Seijuurou penuh intimidasi.
"Gu-gurunya sudah datang, nanadayo." Sahutnya.
Manik ruby Seijuurou bergulir kemeja guru dan bersitatap dengan manik abu Mayuzumi yang sedang menatapnya.
"Oh." Kata Seijuurou pelan. Gunting dimasukan kesaku celana. Sedikit merapikan rambut dan seragamnya yang agak berantakan, Seijuurou menyapa Mayuzumi dengan senyum manis mengembang dibibirnya.
"Selamat pagi, sensei."
Bolehkah Mayuzumi pulang sekarang.
TBC
Ah ya ngomong-ngomong itu enakan pake 'murid' atau 'siswa' yah ? Agak bingung saya. Dan buat H-san (maaf saya singkat) terimakasih sudah suka sama fic saya dan yah ini fic multicap hehe. Buat Ai-san mah Chihiro jangan ditanya lagi, udah pasti kagetnya tuh :v . Terima kasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan yang berkenan mau rievew atau kasih masukan akan sangat saya hargai, selamat malam.
