SPG
Sehun x Luhan
M
Yaoi, Fluff, Romance
Multichapter
Chapter 1 : Holy Summer
Musim panas.
Oh Sehun berbaring tenang dengan hanya menggunakan secarik benang yang di pintal sedemikian rupa hingga menghasilkan boxer hitam mahal dengan tempelan merk khas, calvin klein pada karetnya.
Jubah mandi putih yang membalut tak ubahnya membuat tubuh atletis itu tampak tak setelanjang beberapa orang yang asik bermain di depan. Dari balik Rayban hitam casualnya, Ia menatap malas pemandangan yang selalu tersaji tiap musim panas datang. Berlusin-lusin manusia datang bergerombol dengan bernafaskan gairah dan semangat membara.
Kolam renang super luas di Mansion Oh kini penuh dengan beragam jenis wanita dan pria. Musik beralunan kencang dengan setia mengalun keras menemani keramaian. Di sekitaran tersebar pelayan-pelayan muda dengan cocktail beraneka campuran pada tangan sigap mereka.
Di ujung sana, Kim Jongin tengah duduk di pinggir kolam. Ditemani gadis-gadis berbikini seksi. Tawa renyahnya terdengar hingga ke penghujung kolam.
Bahagia?
Tentu saja.
Lihat saja sekarang kedua tangan tegap Jongin tengah menangkup salah satu dari dua bongkahan kenyal milik gadis disebelahnya yang berteriak ingin dikeluarkan dari sarang.
Kim Jongin dan euforia musim panasnya.
Dia dalang dari pesta panas di mansion megah ini. Bukan karena Ia tak memiliki mansion yang sama megahnya, namun keinginannya agar Sehun ikut sertalah yang membawa orang-orang tak dikenal Sehun kesana.
Namun sungguh, Sehun tidak peduli dengan mereka.
Dengan pria-pria atletis yang sedari tadi berjalan mengelilingi kolam hanya untuk memamerkan otot mereka pada siapapun yang tertarik.
Atau dengan gadis-gadis ber-bikini, ber-thong atau bahkan tak memakai sehelai benangpun pada tubuhnya tetap tak akan menarik perhatian gairahnya.
Karena mereka berisik.
Dan terlalu percaya diri.
Sungguh mengganggu.
"Um, hai?"
Seperti yang satu ini.
Memutar bola matanya malas dari balik Rayban hitam itu, Sehun berbalik memunggungi gadis berbikini merah muda dengan polkadot hijau laut. Matanya memejam.
Sejatinya gadis itu sangat menarik. Tubuh semampai dan terlampau langsing, kulit putih bersih, rambut ikal tak alami yang memanjang hingga menyentuh ujung bokongnya dengan warna medium sea green yang menggoda. Jangan lupakan dua buah benda kenyal, penarik nafsu yang menyembul sesak dari balik atasan bikininya yang melilit ketat.
Dia gadis ke-16 hari ini.
Gadis yang dengan percaya dirinya mencoba merayu seorang Oh.
Gadis yang akan menelan pil pahit akibat diabaikan oleh seorang Sehun.
"Permisi, um, Oh Sehun-ssi?"
"..."
Tak ada jawaban. Sang gadis menggigit bibir bawahnya gugup. Kebigungan. Apa yang harus Ia katakan selanjutnya demi sedetik perhatian dari Oh Sehun? Kalau mujur Sehun akan berbalik dan menjawab sapaannya. Yang amat sangat mustahil terjadi.
Tapi sepertinya gadis ini mencoba peruntungannya demi hal yang sudah mutlak. Menyedihkan. "Aku dengar kau baru saja menanamkan modal untuk—"
"Pergi dan pamerkan dada besarmu pada yang lain." Ujar Sehun.
Tanpa berbalik dan dengan nada tenang yang mematikan mampu membuat wajah si gadis merah padam. Ia berbalik dan menghentak-hentakkan kakinya. Sungguh malu dia! Pria macam apa yang dengan frontalnya mengatakan hal seperti itu? Oh yeah, pria semacam Oh Sehun. Dan Sehun tak perlu memusingkannya karena beberapa detik setelah itu sang gadis pasti akan—
"Jonginieeee~"
Rengekan tanda bahwa Ia telah gagal akan terdengar. Dan setelahnya, Jongin akan tersenyum menyambut sang gadis dengan senyuman jenaka.
Mendengus.
Sehun benci gadis-gadis yang mendekatinya.
"Bro."
Sehun tak bergeming. Tak juga peduli dengan Jongin yang kini tengah duduk di kursi pantai di sebelahnya. Abs menonjolnya terlihat sangat seksi dibalut oleh kulit tan hasil musim panasnya 2 minggu ini.
"Kau benar-benar tak tertolong."
"Aku tidak meminta pertolongan." Gumam Sehun. Jongin mengusak rambutnya sendiri kesal. Ia bahkan menghembuskan nafas sebal akibat dari sikap cuek temannya. "Yang kau tolak barusan itu—"
"Hei! Apa yang dia lakukan disana?"
Lelaki berkulit tan itu terlonjak. Sehun tiba-tiba mendudukkan tubuhnya, melepas Rayban kebanggannya dan menunjuk emosi ke suatu arah dengan itu. "Kenapa dia muntah disitu?!"
Disana tersaji seorang pria. Tubuhnya tak begitu tinggi dan Ia satu-satunya pria disana yang menggunakan atasan kaus putih. Membuatnya terlihat jelas. Jelas terlihat tengah mengeluarkan seluruh isi perutnya keluar ke dalam jacuzzi di depannya. Menghasilkan pekikan marah dan emosi orang-orang yang tengah berendam di jacuzzi mewah Oh Sehun.
"Ah, Kyungsoo? Biarkan saja. Dia baru saja mengetahui kalau Ia gay." Sahut Jongin santai.
Mata Sehun terbelalak tak percaya. Jacuzzinya baru saja dinodai oleh seseorang dan temannya ini dengan santai menyuruhnya membiarkannya saja?
Oh, tidak, Jongin harus membayar untuk itu.
"Aku benar-benar membenci ide 'Mari berpesta di Mansion Oh' milikmu. Dia menodai jacuzziku Kim Jongin! Demi Tuhan! Jika kau tidak—"
"Relax. Tahun lalu kau bahkan tenang-tenang saja."
Menahan napas, Sehun hanya menatap Jongin tak percaya. Ia kembali menggunakan kacamatanya dan membaringkan tubuhnya kembali.
"Ah, kembali ke topik semula. Gadis berambut hijau laut tadi itu Yang Hyemi!"
Yang Hyemi?
Sehun mengerutkan dahi diantara keterpejamannya. Sekalipun Ia tak pernah mendengar nama itu.
"Dia seorang chaebol, dasar kau bodoh! Hampir seluruh perabotan kayu di negara ini buatan asli perusahaan ayahnya. Suwong Group, jika kau mau tahu."
Jongin melirik Sehun yang masih tetap pada posisi 'keep going, I'm listening' nya. "Dan jika di kalkulasikan, kekayaannya bisa melampaui kekayaan perusahaanmu." Lanjut Jongin.
"Jadi?"
Hening.
Jongin mengerjap. Kemudian mendecak sebal. Ia tak lagi berkeinginan untuk menjawab pertanyaan Sehun. Temannya yang tidak asik sama sekali.
"Ya, ya, terserah kau saja! Lebih baik aku bermain dengan mereka! Dasar gay!" Jawab Jongin marah. Ia beranjak dari duduknya. Namun belum lagi Ia pergi, Sehun menyahut.
"Pemilik Suwong Group itu pamanku. Dan dia belum menikah, omong-omong."
Namja berkulit tan itu membelalak. Namun tak berbalik demi untuk melihat seringaian kemenangan dari Sehun. Dia sangat menyebalkan saat Ia bisa mematahkan pernyataan Jongin. Seringaiannya seakan berteriak bahwa Ia lebih pintar, cerdik dan juga teliti.
Chaebol apanya?
Nyatanya, Yang Hyemi yang tengah tertawa-tawa di tengah kolam itu adalah seorang penipu.
Tekad Jongin sudah bulat, Ia akan membuat gadis itu mempertanggungjawabkannya. Sialan benar gadis itu, berani membohongi seorang Kim Jongin!
"Sial, padahal dadanya sangat kenyal!" Rutuknya keras.
Sehun yang mendengarnya tak bisa tak mendengus. Temannya itu benar-benar..
Jongin berjalan kearah Hyemi dan menariknya keluar dari kolam. Sehun melihat temannya itu langsung meraup bibir tipis Si Gadis dengan cepat tanpa peduli tatapan bingung Si Gadis. Dengan gerakan tangan yang sensual menggapai buah nafsu yang menggantung pada bagian dada. Dia tahu benar sifat temannya.
Manfaatkan dulu.
Lalu dibuang.
Begitu balasannya jika membodohi si bodoh, Jongin.
Di tempat lain..
"Terima kasih telah memanggilku ke sini, Baekhyun-ah."
Lelaki bertopi fedora hitam dengan syal bercorak tengkorak itu tak tersenyum, juga tak berbalik, dia yang bernama Baekhyun. Terus berjalan dengan diikuti oleh lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya namun tak lebih besar.
"Berhenti berterimakasih, Hyung. Kau juga bukannya bekerja penuh. Maaf karena hanya bagian paruh waktu." Lelaki yang mengikutinya hanya tertawa canggung sembari mengusap tengkuk. "Ah, ya, tidak apa. Aku bahkan bersyukur kau memberikanku pekerja—"
"Ah, kita sudah sampai." Baekhyun memutar kenop pintu, menghasilkan derit tak begitu nyaring dan celah untuk melihat ke dalam.
"Ayo, masuklah, Luhan Hyung." Luhan menatap canggung pintu putih yang sedikit terbuka itu.
"A-ah, ya."
Keduanya berjalan memasuki ruangan. Baekhyun mengeluarkan kursinya "Tunggu disini sebentar, aku akan membawakan seragammu."
BLAM
Pintu tertutup keras.
"Hahh."
Luhan menghela nafas lega. Sebenarnya dia merasa sedikit tidak enak hati dengan Baekhyun. Lelaki itu berulang kali membantunya. Mulai dari tempat tinggal, pergaulan, hingga pekerjaan. Semua Baekhyun yang melakukannya. Dan Luhan sungguh bersyukur akan hal itu.
Krek..
"Ung, Luhan Hyung?"
Kepala Baekhyun muncul dari balik pintu. Ekspresinya kelihatan bingung dan cemas. Mau tak mau hal itu membuat Luhan ikut-ikutan merasa khawatir juga.
"Aku punya kabar baik untukmu."
Mata Luhan berubah cerah. Sepertinya hal baik akan terjadi.
"—dan kabar buruk." Sambung Baekhyun.
Luhan menelan ludahnya, uh, sepertinya keberuntungan tidak datang hari ini.
Tubuh Baekhyun kini sudah masuk seluruhnya ke dalam ruangan. Dia memeluk sebuah bungkusan.
"Kau dapat pekerjaan. Yeah, aku bisa pastikan itu." Luhan menunggu wanti-wanti.
"Tapi...kau harus menggunakan ini." Baekhyun menyerahkan bungkusan putih dengan nama laundry di depannya. Dia yakin ini bukan seragam normal untuk orang banyak. Ia menelan ludahnya kembali saat membuka plastik yang membalut baju itu.
Dan..
"A-APA-APAAN?!"
Baekhyun sukses berlutut di depan Luhan.
"Maafkan aku, Hyung. Hyemi sudah izin 2 hari tidak masuk karena demam. Ku mohon gunakan ini untuk hari ini dan besok. Kumohon, Lu Hyungg."
Luhan tak bisa berkata apa-apa lagi. Sialan, harus berkata apa lagi? Baekhyun yang selalu menolongnya kini tengah berlutut meminta pertolongannya. Dan apa yang harus Ia lakukan? Luhan mengusap pakaian wanita berwarna merah menggoda yang cukup minim itu dengan berat hati.
"Dimana aku bisa mengganti bajuku?"
Mata Baekhyun bersinar penuh harapan.
"O-oh, Ayo ikuti aku, Hyung!"
"Sehun?"
"Hmm."
"Buka matamu sebentar."
Dahi Sehun mengerut. Kenapa temannya ini suka sekali mengganggu waktu bersantainya? Ini musim panas dan ada pesta di rumahnya. Bahkan Jongin yang membawa orang-orang kelebihan euforia kesini agar Ia 'menikmati' saat-saat musim bahagia ini.
"Pergilah bermain dengan gadis Suwong itu, Jongin."
"Dia sudah pergi. Jangan begitu. Ayolah bertemu dengan Kyungsoo." Sehun membuka matanya. Pesta masih berlangsung. Musik-musik EDM entah kenapa semakin terputar dengan volume yang lebih keras.
Sehun melirik ke kiri. Disana Jongin berdiri dengan seorang lelaki bertubuh mungil. Dengan mata burung hantunya yang kelihatan tak fokus entah menatap kemana.
Mata elang Sehun turun menatap pakaian yang digunakan lelaki mungil itu. Kaus putih.
Oh?
"Kau yang mengotori jacuzziku." Geram Sehun. Ucapannya berupa pernyataan. Membuat lelaki mungil itu sedikit merasakan aura intimidasi dari si marga Oh.
"Relax." Seru Jongin sembari memutar bola matanya malas.
"Dia kemari untuk bertanggung jawab. Ayo, Soo, katakan padanya." Jongin mendorong tubuh Kyungsoo tepat berhadapan dengan Sehun yang masih berbaring malas di kursi pantainya. Kaki Kyungsoo bergetar hebat. Ia sangat ketakutan.
"Hei, hei, tenang saja. Sehun tidak suka daging manusia. Oh, kecuali bokongmu secara sukarela menelan penis nya, mungkin.."
Mata lebar Kyungsoo terbelalak semakin lebar. Ucapan Jongin mau tak mau membuat rona merah menghinggapi pipi chubby nya. Bukankah hal itu terlalu banyak untuk seseorang yang baru mengetahui orientasi seksualnya yang menyimpang? Sungguh vulgar!
Oh, tapi Jongin yang kita bicarakan disini. Kim Jongin memang tidak tahu malu dan sangat mesum.
"Untuk apa dia disini?" Kata Sehun.
"A-aku..maafkan aku atas jacuzzimu. S-sebagai gantinya, kau b-boleh memilih mobil apapun y-yang kau suka dari showroom Ayahku."
Jongin tersenyum lebar dari belakang Kyungsoo. Seakan mengartikan bahwa 'aku tidak perlu mengganti jacuzzimu, kan? Aku hebat kan?' Memutar bola matanya jengah, Sehun kembali memejamkan matanya. "Berikan saja daftarnya, aku akan memilihnya sendiri."
Kyungsoo melirik takut-takut ke arah belakang. Disana Jongin mengangkat bahunya. "Baiklah, Soo. Kami akan datang ke Showroom-mu besok. Terima kasih atas perhatianmu, kau boleh pergi, mungil."
Jongin mengerling.
Rona merah kembali menghinggapi pipi gembulnya. "A-ah, ya. Aku..pergi kalau begitu. Maaf sekali lagi, Sehun-ssi."
Dengan berlari canggung, lelaki mungil itu hampir tersandung kakinya sendiri. Jongin terkekeh pelan saat melihat Kyungsoo yang hampir terjatuh. Lelaki canggung itu benar-benar lucu.
"Apa maksudnya dengan 'kami akan datang ke showroom-mu'?"
Kekehan Jongin terdengar lebih panjang. Ia terduduk di kursi pantai sebelah Sehun seperti sebelumnya. "Showroom. Mobil. Gadis-gadis promosi. Mengerti?"
Sehun mendengus, Oh Tuhan, Seharusnya Ia tahu jika di otak Jongin hanya ada wanita berdada montok.
"Tidak bisa. Aku harus bekerja."
"OH AYOLAH. Sekali-kali nikmati musim panasmu! Kau bos tapi bekerja seperti buruh."
"..."
"Pikirkan jacuzzimu!"
"..."
"Jika tidak datang ke showroom itu, kau tidak akan dapat ferarri."
"..."
"Besok akan ada pameran khusus Ferarri. Uh, bisa dipastikan gadis seperti apa yang berdiri di samping mobil merah seksi itu!"
"..."
"Ayolah, jacuzzi seharga Ferarri? Kau tidak punya setiap hari!"
"..."
"Jadi, ayo pergi besok!"
"Apa aku punya pilihan?"
Kedua ujung bibir Jongin merekah lebar.
"TIDAK!"
TBC
a/n : Jadi, ini dia chapter pertama. Masih belum ada interaksi Hunhan tapi mulai ada gambaran kan ya? Terimakasih buat yang udah follow, fav sama pe-reviews. Kalian wild souls jangan khawatir, saya tahu kalian haus akan hunhan nc-an. Kkk.
So far..good enough, right?
R-right? Review juseyo.
