.

I Write My Life Not My Love

Disclaimer: Masashi Kishimoto (c) Naruto

Cerita ini? Murni milik saya. Jika ada kesamaan cerita itu hanya kebetulan belaka dan saya tidak mengambil profit dari fanfic ini.

Warning: TYPO udahpasti-OOC emangiya-GAJENESS ga bisa dilepas-Rated M untuk tema dewasa dan main aman aja :P

Pairing: SasuSaku seperti biasanya!

.

Don'tLikeDon'tRead!

.


"Sekarang, kedua mempelai dapat berciuman…"

Ucapan sang pendeta menggema di Hall yang hening, penuh khidmat. Seluruh tamu undangan nampak tegang, menunggu-nunggu kedua pasangan yang sudah resmi jadi suami istri itu untuk berciuman di hadapan banyak orang. Wartawan dari berbagai negara pun tak melepaskan bidikan kamera mereka dari The Young Bachelor dengan segudang kekayaan tersebut.

Berita mengenai pernikahan Uchiha Sasuke, presdir yang memimpin Uchiha Corp. harus diabadikan dengan sebaik-baiknya. Sang mempelai wanita pasti akan jadi perempuan paling beruntung dan bahagia di dunia ini. Sebab sebentar lagi bibirnya akan bersatu padu dengan bibir Uchiha Sasuke.

Ya, seharusnya seperti itu. Tapi, lima menit telah berlalu, dan tidak ada pergerakan sama sekali dari perempuan soft pink itu. Haruno Sakura tidak mau bergerak dari tempat ia berdiri. Dia malah berharap akan ada badai besar muncul atau teroris bersenjata datang dan mengacaukan pernikahan ini. Namun, harapan itu tidak terkabul saat dia menyadari kalau Uchiha Sasuke sudah memajukan tubuhnya agar jarak mereka semakin dekat satu sama lain.

Pria stoic itu membuka kerudung yang menutupi wajah Sakura. Dengan perlahan ia menundukan tubuhnya seraya mendekatkan bibirnya ke arah bibir merah muda sang mempelai wanita. Sakura tidak kehilangan akal, dengan gerakan cepat ia membalikan wajahnya ke samping.

Cup~

Alhasil bibir Sasuke justru mentok di telinga Sakura.

"Yaak! Kami sudah berciuman! Ayo sekarang makan!" teriak Sakura sambil mengangkat kedua tangannya dengan penuh kelegaan.

Sasuke terdiam kaku, kaget karena Sakura menolak ciumannya. Pendeta tersenyum geli melihat tindakan Sakura, dan para tamu undangan malah bertepuk tangan riuh, tidak menyadari kalau Sasuke tidak berhasil mencium bibir istrinya sendiri karena wajah mereka tadi tertutupi kerudung.

Sedangkan Sakura? Dia sedang bersyukur di dalam hati karena bibirnya masih perawan.

What a beautiful wedding!

…..

I Write My Life Not My Love

…..

Satu jam yang lalu, sebelum upacara pernikahan di mulai….

"Woah, woah! Tunggu dulu tuan mempelai pria Hinata!" Sakura melangkah maju mendekati sosok Sasuke yang masih berdiri diam bak patung.

Oke, Sakura akui kesalahannya sebagai dalang dari bencana kecil ini. Dia merasa bersalah dan akan meminta maaf pada Sasuke beserta keluarga Hinata sekarang juga. Tapi kalau pria yang ada di hadapannya itu seenak jidat menunjukknya sebagai pengganti Hinata, itu lain lagi ceritanya.

"Kau tidak salah ngomong? Ini pernikahan betulan, bukan game simulasi cinta dimana kau bisa menikah sesuka hati dengan siapa saja. Kalau kau laki-laki tulen, kau harus menghadapi cobaan ini dan bersikaplah seperti seorang laki-laki dewasa pada umumnya." Ujar Sakura, kesal.

Hiashi dan Kikuyo membelalakan matanya tidak percaya melihat sikap Sakura yang begitu berani menentang keinginan Uchiha Sasuke. Mereka tahu kalau Hinata sering membanggakan Sakura dan memujinya sebagai perempuan mandiri dan pemberani. Tapi mereka tidak menyangka kalau ucapan putri mereka itu bukanlah bualan belaka.

Jujur, mereka sebenarnya tidak suka jika Hinata berteman dengan Sakura. Sebab mereka tidak ingin Sakura memberikan pengaruh buruk pada putri mereka—Well,pemikiran mereka tentang Sakura ada benarnya jika dihubungkan dengan usulan kawin lari itu. Namun, entah kenapa perempuan berambut soft pink pendek yang selalu nampak serampangan dan cengengesan tidak jelas itu kini terlihat luar biasa hebat di mata mereka.

Di sisi lain, Sasuke memandang tajam iris emerald Sakura dengan onyx-nya. Kalau saja tatapan bisa membunuh mungkin Sakura bisa mati saat itu juga. Sakura sempat ciut juga kalau ditatap seperti itu, Sasuke seolah-olah ingin melemparnya dari atap gedung hotel lantai dua puluh itu sekarang juga. Tapi Sakura berusaha untuk tetap percaya diri, walau kedua kakinya sudah bergetar tidak karuan.

"Kau kira dirimu siapa, berani menasehatiku seperti itu, huh?" suara baritone Sasuke semakin menambah suasana mencekam di ruangan tersebut.

"Aku? Aku Haruno Sakura, umur dua puluh tujuh tahun, penulis novel yang tidak terkenal dan suka makan apa saja yang menurutku enak!" kata Sakura, lantang dan tidak nyambung. Dia mengira Sasuke memang bermaksud menanyakan nama dan latar belakangnya.

"Ck, perempuan ini bodoh." Pikir Sasuke.

Dia lalu menangkup dagu perempuan berambut soft pink itu dengan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan putih. Sakura terkejut bukan main dengan tindakan Sasuke dan berusaha mengelak, namun tenaga Sasuke lebih kuat darinya.

"Kau lihat orang tua yang ada di sofa itu bukan?" tanya Sasuke, seraya menolehkan kepala Sakura dengan sedikit paksaan ke arah Hiashi dan Kikuyo yang masih diam tak berdaya di atas sofa.

Tentu saja Sakura melihat mereka, dia tidak rabun apalagi buta. Pertanyaan macam apa ini?

"Mereka memiliki banyak hutang dengan perusahaanku. Saat ini perusahaan mereka ada di ambang batas kehancuran. Aku, berbaik hati mau menerima tawaran untuk menikahi putri mereka yang penurut, sebagai pengganti hutang mereka. Siapa yang jahat sekarang? Aku, atau mereka yang menjual anak mereka sendiri padaku?" pernyataan panjang itu dijelaskan dengan nada rendah yang terdengar mengerikan di telinga Sakura.

Namun bagian yang lebih mengerikannya adalah kenyataan dibalik pernikahan yang dirancang oleh orang tua Hinata ini. Sakura shock bukan main. Dia tidak ingin mempercayai ucapan Sasuke begitu saja. Tapi saat melihat sinar mata Hiashi dan Kikuyo yang menundukan kepala seolah merasa bersalah, mau tak mau dia jadi berpikir kalau ucapan Sasuke itu benar. Ditambah lagi mereka sama sekali tidak mengelak perkataan Sasuke tersebut. Keluarga Hyuuga yang dia tahu selalu memiliki kebanggaan yang tinggi dan tidak akan diam jika harga diri mereka diinjak seperti itu.

"Paman, Bibi. Apa perkataan yang diucapkan oleh mempelai pria Hinata ini…benar?" Tanya Sakura, setelah Sasuke melepaskan cengkramannya dari dagu Sakura.

"Benar…Hyuuga group saat ini mengalami kerugian besar. Uchiha corp. yang banyak menanam saham di perusahaan kami ingin meminta ganti rugi. Namun uang perusahaan kami sudah menipis karena banyak pengeluaran yang tidak terduga. Karena itu aku mengajukan rencana pernikahan ini agar perusahaan Hyuuga dapat terselamatkan dan Hinata bisa hidup bahagia dengan Uchiha-sama." jelas Hiashi dengan kepala tertunduk.

"Bahagia? Paman menjual anak paman kepada pria dingin ini demi kepentingan pribadi paman sendiri! Bagaimana bisa Hinata hidup bahagia?!" seru Sakura, dia benar-benar kecewa dengan Hiashi. Seandainya saja Hiashi bukan orang tua, Sakura pasti sudah menampar wajahnya kuat-kuat.

"Kami tidak punya pilihan lain, Haruno-san. Jika Hyuuga Group ditutup dan suamiku harus masuk penjara karena hutang yang tidak bisa ia bayar, maka pihak yang dirugikan bukan hanya kami berdua. Karyawan kami akan menjadi pengangguran dan Hinata akan menanggung malu yang amat sangat seumur hidupnya…"

Sakura terdiam setelah mendengar penjelasan dari Kikuyo. Dia sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Semuanya jadi serba salah. Ingin menyalahkan orang tua Hinata pun tidak ada gunanya, karena mereka melakukan hal ini demi kelangsungan hidup banyak orang termasuk Hinata sendiri. Di sisi lain, Sakura juga merasa bersalah karena secara tidak langsung dialah yang membuat pernikahan ini dibatalkan. Apakah satu-satunya jalan keluar dari masalah ini adalah dengan menikahi Sasuke?

"Sudah cukup penjelasannya. Aku tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk melihat drama hidup kalian." Ucap Sasuke, mengagetkan Sakura dari lamunannya.

Namun rasa kaget Sakura tidak berhenti sampai di situ, tiba-tiba saja ada dua orang wanita berwajah cantik muncul dari belakang Sakura dan menggenggam lengannya dengan erat. Mereka menundukan kepalanya sekilas di hadapan Sasuke dan tersenyum pada Sakura.

"Eh, apa-apaan nih! Lepaskan!"

"Untuk jadi pengantin wanita, tidak mungkin kau mengenakan pakaian seperti gembel itu bukan?" Sasuke merendahkan selera fashion Sakura.

"Hei! Ini pakaian terbaikku! Dan siapa yang kau bilang pengantin wanita? Aku tidak mau menikah dengan siapa pun!" ronta Sakura, berusaha melepaskan diri dari genggaman kedua wanita cantik yang ada di kanan kirinya. Sial, mereka kuat juga! Atau dirinya yang terlalu lemah karena jarang olahraga? Bisa jadi.

"Kalau kau terus menolak, aku akan menyeret wanita bernama Hinata dan kekasihnya yang saat ini sedang dalam perjalanan ke Inggris ke dalam penjara. Tentu saja bersama kau dan keluarga Hyuuga yang ada di sini." Ujar Sasuke, masih tanpa senyum.

Sakura terbelalak kaget mendengar perkataan Sasuke barusan. Pria kejam ini sejak awal tahu dimana Hinata dan Naruto senpai berada, tapi dia berlagak tidak tahu! Jangan bilang dia juga tahu kalau Sakura yang merencanakan ide kawin lari itu. Agh! Dia jadi sakit kepala memikirkan masalah yang semakin rumit ini.

Siapa sih sebenarnya pria yang ada di hadapannya ini? Kenapa dia begitu ngotot ingin menjadikan dirinya yang biasa-biasa saja—bahkan jorok dan pemalas—ini sebagai pengantin wanita-nya? Masih banyak wanita di luar sana yang lebih sempurna, lebih cantik, lebih pengertian, lebih cerdas, dan lebih-lebih lainnya. Apa dia sangat frustrasi sampai-sampai harus memilih dirinya yang kebetulan ada di tempat sial ini? Ya, pasti begitu!

"Hiashi-san, aku mengharapkan kerja samanya. Kau akan berperan sebagai wali wanita ini. Untuk kalian berdua, cepat bawa dia ke ruang ganti. Aku tidak suka membuang-buang waktu." perintah Sasuke seraya berjalan keluar dari ruangan dengan gaya angkuh.

"Baik Uchiha-sama." jawab kedua wanita itu, sambil berusaha menyeret Sakura keluar dari ruangan tersebut dengan susah payah.

"Hei tu-tunggu! Aku belum bilang setuju! Lepaskan tanganku! TIDAAAK!" sedangkan Sakura hanya bisa berteriak-teriak histeris seperti orang gila yang akan dibawa ke rumah sakit jiwa.

.

.

.

.

.

Sekarang di sinilah Sakura, duduk di sofa ruang rias pengantin bersama teman-temannya. Sambil memasang wajah luar biasa kesal Sakura memakan strawberry shortcake yang sempat dia comot dari meja prasmanan. Tadi Ino, Tenten dan Temari langsung menyeret Sakura dari atas panggung setelah meminta ijin pada Sasuke. Untungnya (atau ajaibnya?) pria dingin itu memperbolehkan mereka membawa Sakura pergi selama tiga puluh menit.

Selama itu juga Sakura menjelaskan panjang lebar alasan kenapa dia bisa menikahi Uchiha Sasuke. Awalnya teman-temannya tidak percaya dengan ucapan Sakura. Yaah, bagaimana mau percaya kalau melihat Sakura menjelaskan sambil makan kue begitu. Suaranya jadi tidak kedengaran dengan jelas. Tapi setelah Sakura memperlihatkan SMS Hinata tentang rencana kawin lari itu akhirnya mereka benar-benar percaya.

"Kenapa kau tidak bilang pada kami soal Hinata! Diakan teman kami juga, Sakura!" bentak Ino. Dia tidak suka kalau ada di antara mereka yang menyimpan rahasia sendiri-sendiri. Sebagai seorang teman mereka bisa saling membantu dan memberikan jalan keluar yang lebih baik dari pada rencana gila Sakura ini.

"Maaf, tadinya aku akan memberitahu kalian soal Hinata setelah pernikahan ini dibatalkan. Tapi aku tidak tahu kalau akhirnya jadi aku yang kena sial!" balas Sakura, sambil mengelap mulutnya yang penuh krim kue. Ugh, gara-gara stress perutnya masih berbunyi minta diisi.

"Ya ampun, kenapa kau ini begitu ceroboh Sakura!" Ino mencubit pipi Sakura dengan gemas. Dia tidak bisa marah dengan Sakura kalau begini ceritanya.

"Menurutku Sasuke-san lebih sial karena harus menikah denganmu Sakura…" mulut tajam Temari langsung menohok tepat ke jantung Sakura.

"Hei! Aku ini jadi korban lho! Aku sudah bilang tidak mau menikah, tapi si Sasaka itu-"

"Sasuke…" Tenten membenarkan.

"Iya, si Sas..uke itu keras kepala menyuruhku untuk jadi pengganti Hinata! Padahal kalau dia mau, ada banyak perempuan cantik yang bisa dia pilih sebagai calonnya!" marah Sakura. Tidak terima kalau dia yang dianggap pembawa sial bagi Sasuke.

"Maaf tadi keceplosan, kau ini wanita yang baik kok Sakura. Hanya saja kekuranganmu harus diperbaiki sedikit." Temari meminta maaf sambil tersenyum simpul. Ino ikut menganggukan kepalanya, setuju dengan pendapat Temari barusan.

"Kenapa kalian tidak kasihan padaku?!" rajuk Sakura, pipinya menggembung kesal.

"Ambil sisi positifnya deh. Kau sudah resmi menjadi istri orang terkaya di dunia, apalagi dia begitu genius, sexy, plus! cool. Dan dia, memilihmu untuk jadi pengantin wanitanya. Sebut saja itu keberuntungan berlipat ganda." Ujar Temari, realistis.

Memang seperti itu kenyataan yang harus dihadapi Sakura saat ini. Menghindar dari Sasuke pun percuma, toh mereka sudah resmi menjadi suami istri.

"Oh, tidak bisa! Aku mau menikah dengan pria dingin itu karena kasihan pada Hinata dan orang tuanya. Kalau bukan karena mereka mana mungkin aku mau menikah!" tukas Sakura, tidak peduli dengan sisi positif yang dikatakan oleh Temari.

"Sebenarnya aku juga tidak menyangka kalau Sasuke-san bisa bersikap sekejam itu pada orang tua Hinata dan Sakura. Aku tidak terlalu suka dengan orang tua Hinata, tapi ini sudah keterlaluan. Yang sabar ya Sakura…" Tenten mengusap-usap punggung Sakura, menyalurkan semangat dan simpati pada sahabatnya.

Dia mengerti seluk beluk keluarga Hyuuga karena suaminya adalah Hyuuga Neji. Tapi hubungan keluarga Neji dan Hinata pun tidak terlalu baik karena mereka sering berbeda pendapat.

"Terima kasih Tenten, akhirnya ada juga yang mendukungku." Ucap Sakura dengan mata berkaca-kaca, merasa terharu.

"Tapi aku juga setuju dengan Temari sih..." Sambung Tenten, menyeringai jahil. Sakura memasang wajah kesalnya lagi lalu memukul pundak Tenten kuat-kuat sampai wanita dengan model rambut cepol dua itu mengaduh kesakitan. Memang asyik sih menggoda Sakura.

"Eh, tunggu dulu deh. Apa orang tuamu dan Hinata sudah tahu kalau kau sudah…menikah?" Tanya Ino, tiba-tiba.

Sakura terkesiap kaget mendengar pertanyaan Ino barusan. Dia baru sadar kalau pernikahan konyol ini lupa ia beritahukan pada kedua orang tuanya yang tinggal di Kyoto. Mudah saja bagi Sakura untuk mengabari Hinata lewat telepon atau SMS. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk itu, yang jelas tidak sekarang. Sebab, dia tidak ingin membuat Hinata panik dan kembali lagi ke Jepang hanya karena dirinya. Yang jadi masalah besar di sini adalah ibunya. Kalau ibunya sampai tahu dia menikah tanpa bilang-bilang seperti ini, dia bisa dikutuk jadi ikan pari!

"Mampus! Aku lupa! Bagaimana ini, aku tidak mau menjadi ikan pari?!" Sakura berteriak histeris.

"Aku sudah mengabari mereka…" suara baritone yang khas itu tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Seluruh mata para wanita itu kini mengarah ke pintu masuk. Sasuke sudah berdiri di sana sambil memasukan kedua tangannya ke dalam kantung celana yang ia kenakan. Teman-teman Sakura langsung terdiam, terpana melihat kemunculan Sasuke yang begitu tiba-tiba. Dilihat dari segi mana pun pria raven itu begitu mempesona. Tapi benar juga apa yang dikatakan Sakura sebelumnya. Sasuke kurang tersenyum.

"Hah? Kau sudah memberitahu orang tuaku tanpa aku ketahui?! Ibuku…ibuku bilang apa padamu?" Tanya Sakura dengan wajah harap-harap cemas, sambil menggigiti kuku tangannya yang belum dipotong.

"Hentikan Sakura, jorok!" bisik Ino, sambil berusaha menghentikan kebiasaan jelek Sakura itu kalau sudah panik. Apalagi dia melakukannya di hadapan Sasuke. Bisa-bisa Sasuke tambah illfeel pada Sakura.

"Maaf, kebiasaan!" Sakura mengelap tangannya ke gaun putih yang ia kenakan.

Ketiga teman Sakura langsung memekik di dalam hati saat melihat tindakan Sakura tersebut. Harga gaun yang dikenakan Sakura itu sangat mahal dan dirancang oleh perancang busana internasional yang terkenal. Tapi dengan mudahnya perempuan berambut soft pink itu mengelap kuku tangan yang penuh dengan air liurnya ke gaun berharga tersebut! Mereka jadi semakin khawatir dengan kehidupan rumah tangga Sakura dengan Uchiha Sasuke nanti.

"Orang tuamu menyuruh kita untuk datang ke Kyoto setelah acara pernikahan ini selesai." Kata Sasuke lagi, sepertinya dia tidak terlalu memedulikan tindakan jorok Sakura tadi. Hal yang cukup aneh bagi pria perfeksionis seperti Sasuke.

"Tapi acaranya 'kan sudah selesai?" ujar Sakura, bengong.

Sasuke terdiam sebentar sambil mengembuskan napas panjang. "Itu artinya kita berangkat ke Kyoto. Sekarang. Juga." jawab Sasuke, sengaja menekan dua kata terkahir yang ia ucapkan.

Hening sejenak. Sakura memandang teman-temannya satu persatu, mulai dari Ino, Temari, Tenten, lalu berhenti di mata tajam milik Sasuke. Setelah mengedip-ngedipkan kelopak matanya beberapa kali barulah ia bisa mencerna perkataan Sasuke dengan baik.

"Heeh, serius?!" teriak Sakura kembali histeris.

Kalau saja dia boleh menggigiti kuku kakinya, maka dia akan melakukannya sekarang juga.

…..

I Write My Life Not My Love

…..

Di sepanjang perjalanan menuju Kyoto Sakura dan Sasuke sama sekali tidak berbicara layaknya pasangan suami istri baru yang dimabuk asmara. Mau berbicara seperti apa coba? Pernikahan mereka diadakan mendadak dan tidak direncanakan, mereka bahkan tidak mengenal satu sama lain. Bukannya dimabuk asmara Sakura justru ingin muntah di muka pria dingin itu agar dirinya bisa diceraikan sekarang juga. Tapi Sakura tidak segila itu juga sampai harus nekat muntah di wajah Sasuke.

Dia masih memikirkan Hinata dan keluarganya yang mungkin masih dihantui kekejaman Sasuke. Sebelum dia pergi ke Kyoto dengan limousine milik Sasuke, Hiashi-san dan Kikuyo-san sudah meminta maaf padanya dengan sungguh-sungguh. Mereka bahkan berkata akan membalas perbuatan baik Sakura tersebut setelah keadaan Hyuuga Group dapat teratasi dengan baik. Kalau bukan karena dirinya mungkin kedua orang tua Hinata itu bisa bunuh diri.

Mendengar permintaan maaf seperti itu hati Sakura luluh juga. Dia membayangkan bagaiamana jika posisinya dengan Hinata dibalik. Mungkin orang tuanya akan stress bukan main dan bisa bunuh diri juga. Sakura tidak mau kalau hal itu sampai terjadi. Tidak apa-apa jika kebebasannya direnggut untuk sementara, yang penting Hinata dan keluarganya bisa bebas selamanya dari pria misterius bernama Uchiha Sasuke ini.

"Kau tidak bertanya kenapa aku mau menikahimu?" pertanyaan itu keluar dari bibir Sasuke secara tiba-tiba. Memecah keheningan yang tercipta di antara mereka berdua.

Sakura melirik kaget ke arah Sasuke yang duduk di hadapannya. Sejak tadi pria raven itu terlihat sibuk mengurus bisnis dan menghubungi orang-orang perusahaannya satu persatu. Sakura kira Sasuke tidak menganggap dirinya ada dan lebih mementingkan pergerakan saham yang terdapat dilayar ponselnya. Ternyata dia sadar toh kalau Sakura ada di dekatnya dan masih bernapas dengan susah payah.

Ya, Sakura merasa sulit bernapas dengan normal saat duduk di dekat Sasuke. Habis aura yang dikeluarkan Sasuke selalu berat dan mengerikan begitu sih. Kadar oksigen di sekitar Sakura seolah terhisap ke dalam lubang hitam yang dimiliki pria raven itu. Coba dia senyum gitu, jadi Sakura bisa merasa nyaman sedikit. Tapi wajah Sasuke justru selalu datar, cenderung dingin seperti topeng besi tanpa ekspresi. Rasanya Sakura ingin menggelitiki pinggang Sasuke supaya dia bisa tertawa lepas. Kalau bisa sampai dia terpipis di celana.

"Aku tahu alasanmu menikahiku. Jadi untuk apa aku bertanya lagi?" jawab Sakura, sedikit bingung.

Sebenarnya dia tidak tahu pasti sih. Tapi entah kenapa dia yakin Sasuke terpaksa menikahinya karena tidak mau menanggung malu ditinggal lari oleh mempelai wanitanya. Apalagi ada banyak orang-orang penting, serta wartawan dari berbagai media massa luar dan dalam negeri yang hadir di pernikahan tersebut. Kalau sampai mereka tahu Uchiha Sasuke batal menikah pasti berita itu akan menjadi gossip panas yang tidak akan berakhir selama beberapa minggu, tidak— selama-lamanya, mungkin.

Karena merasa ikut bertanggung jawab dalam masalah ini lebih baik Sakura menuruti permintaan Sasuke untuk jadi mempelai wanita 'palsu'-nya. Toh Sasuke pasti akan menceraikan dirinya kok. Jaman sekarang banyak pasangan suami sitri dari orang terkenal yang cepat menikah dan cepat juga bercerai—walau dia bukan orang terkenal. Fenomena aneh itu menjadi salah satu alasan bagi Sakura untuk tidak menikah dan lebih memilih hidup seorang diri. Being single is the best thing in her life!

"Kau tahu? Benarkah?" tanya Sasuke, bola matanya tampak melebar terkejut mendengar jawaban Sakura. Kini perhatian Sasuke benar-benar tertuju kepada Sakura, dia tidak peduli jika Smartphone-nya sampai terlepas dari genggamannya dan terjatuh ke bawah kursi mobil yang ia duduki.

"Iya, kau tidak mau malu karena ditinggalkan Hinata 'kan? Tenang saja, aku mungkin terlihat sok dan serampangan. Tapi aku tidak akan membocorkan rahasiamu. Asal kau mau menceraikanku secepat yang kau bisa. Oh, dan aku tidak akan meminta uang kompensasi apa pun setelah kita bercerai nanti. Aku masih bisa kerja dan menghasilkan uang sendiri kok. Oke?" ucap Sakura panjang lebar, sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya dengan santai.

Seringai kecil muncul tiba-tiba di bibir Sasuke, dan hal itu membuat Sakura sedikit terkejut. Untuk yang pertama kalinya dia melihat Sasuke mengangkat bibirnya ke atas sehingga membentuk seringai yang—sayang bukan senyuman hangat—menyeramkan. Kalau teman-temannya melihat seringai ini, mungkin mereka sudah teriak tidak karuan dan berkata 'Seksinya!' sambil mengambil banyak foto Sasuke dengan kamera ponsel. Maaf saja Sakura tidak akan melakukan hal konyol itu, dia masih waras untuk bisa membedakan antara senyum malaikat dan senyum setan.

"Kau benar, tapi kurang tepat…" gumam Sasuke. Masih dengan seringai mautnya.

"Hah? Maksudnya?" tanya Sakura tidak mengerti.

Pria itu berpindah tempat duduk, tepat di samping Sakura duduk saat ini. Seraya mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura, Sasuke pun berbisik dengan nada suara rendah yang menggoda.

"Aku ingin kau bertekuk lutut di ranjangku dan menjadi pemuas nafsu untukku."

Serasa disambar petir bercampur tornado, Emerald Sakura seketika itu juga melebar kaget saat mendengar alasan Sasuke mau menikahinya. Dia tidak salah dengarkan? Tidak, tentu tidak. Pria dingin itu berbisik tepat di telinganya. Bagaimana bisa dia salah dengar?

"Kenapa? Kau kira aku memilihmu karena jatuh cinta pada pandangan pertama? Ini dunia nyata, Haruno. Bukan dunia fantasi yang kau tuliskan ke dalam sebuah novel."

Lidah Sakura terasa kelu untuk bisa membalas ucapan Sasuke. Perkiraannya tentang Sasuke itu ternyat memang benar. Pria yang ada di hadapannya ini benar-benar kejam dan tidak berperasaan. Untung saja Hinata tidak jadi menikah dengannya.

"Aa, benar juga. Kita belum melakukan ciuman sumpah setia dengan sempurna tadi. Bagaimana kalau aku melanjutkan ciuman yang kau tunda itu?" lanjut Sasuke, sambil mengecup cuping telinga Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menghentikan tangannya yang bergetar gelisah. Cukup sudah! Kesabarannya sudah habis. Dia tidak mau kalau harus dicium, apalagi dijadikan pemuas nafsu oleh orang kejam dan pervert seperti Sasuke. Tanpa berpikir panjang lagi, Sakura langsung menampar pipi Sasuke dengan keras.

Plak!

Hening. Sasuke terlihat sangat terkejut dengan tindakan nekat Sakura tersebut. Baru kali ini ada orang yang berani menamparnya tanpa basa-basi. Bahkan mendiang orang tuanya tidak pernah menamparnya seperti ini.

"Beraninya kau menamparku…" ucapnya, sambil mencengkram kuat tangan Sakura.

Sakura tahu, pria yang ada di hadapannya ini pasti sedang marah besar. Namun dirinya juga marah. Dia sangat marah dan benci pada Sasuke karena memaksanya menikah sebagai pengganti Hinata hanya karena alasan murahan seperti itu. Apa di mata Sasuke dia terlihat seperti wanita gampangan yang bisa ia beli dengan ketampanan dan kekayaannya? Kalau itu memang benar, maka Sasuke salah besar.

"Apa itu sakit…?" tanya Sakura, terlihat tidak peduli dengan kemarahan Sasuke.

Sasuke tidak menjawabnya. Ia justru memalingkan wajahnya seraya melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sakura. Merasa diabaikan, Sakura lantas menolehkan wajah Sasuke dengan paksa agar mata mereka bisa saling bertatapan.

"Aku tanya padamu, apa tamparanku itu sakit?" tanya Sakura lagi. Kali ini dengan suara yang lebih tegas. Entah mengapa muncul sepercik keberanian untuk menghadapi Sasuke yang sejak awal membuatnya kalut.

"Tidak, tamparanmu tidak terasa sakit sama sekali." Jawabnya, sinis. Sakura bisa melihat kejujuran dari iris onyx Sasuke yang kosong. Dia tidak berbohong, tamparan Sakura memang belum bisa membuatnya merasa sakit.

"Kalau begitu, kita bertaruh. Aku akan berusaha untuk membuat tamparanku terasa sakit. Sampai rasa sakit itu bisa menyadarkanmu dari sikap angkuh dan sombong yang kau miliki. Kalau aku menang, maka kau harus menceraikanku." janji Sakura, dengan senyuman miring yang terpatri di bibirnya.

Sasuke terdiam kaku mendengar ucapan Sakura tersebut. Bertaruh? Wanita ini mengajaknya bertaruh? Rasanya dia ingin tertawa mendengar ajakan itu. Selama tiga puluh tahun Sasuke hidup di dunia ini, tidak pernah sekali pun ia kalah dalam bertaruh. Dia akan selalu jadi pihak yang menang, dan berdiri di singgasananya.

Tapi Haruno Sakura, adalah wanita pertama yang berani menantang dirinya untuk bertaruh. Sekali lagi dia dikejutkan oleh tindakan nekat Sakura. Dia tidak membenci hal itu. Justru Sasuke semakin tertantang untuk menaklukan wanita ini di bawah kendalinya.

"Menarik. Tapi, kalau kau kalah, kau harus menjadi milikku sepenuhnya." ujar Sasuke, seringainya kembali tercipta di bibirnya.

"Ya, ya! Terserahmu lah! Pokoknya aku jamin tamparanku nanti akan membuatmu merasa sangat sakit seperti dicakar oleh singa!" jawab Sakura, asal.

"Eeh, tapi jangan sekarang, soalnya rumah orang tuaku sudah hampir dekat. Nanti kalau mereka lihat pipimu berubah warna jadi semerah tomat, bisa-bisa aku yang dihajar ibu." lanjut Sakura dengan wajah khawatir. Sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.

Kali ini Sasuke tidak dapat menahan senyuman geli yang—tanpa diundang—membentuk di wajahnya. Sayang sekali Sakura tidak melihat senyuman sang pria es yang hanya bertahan selama dua detik itu. Kalau dia sempat melihatnya, mungkin Sakura bisa sedikit tertarik dengan pria raven itu.

…..

I Write My Life Not My Love

…..

Saat ini Hinata tidak dapat berhenti mengumbar senyum bahagia. Seraya menatap ke arah Naruto yang tengah tertidur pulas di sampingnya, Hinata menggenggam erat tangan hangat milik kekasihnya itu. Semuanya masih nampak seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Tapi dia sekarang berada di sini, di dalam pesawat menuju Inggris, bersama orang yang ia cintai sepenuh hatinya.

Hinata mengembuskan napas panjang. Jauh di lubuk hatinya, masih ada perasaan kalut dan bersalah karena harus kabur begitu saja dari pernikahan yang dirancang oleh orang tuanya. Dia menghormati dan menyayangi ayah dan ibunya, semua keinginan mereka selalu ia patuhi dengan baik. Tapi, untuk yang satu ini, dia tidak bisa. Benar-benar tidak bisa.

Inilah kenyataan yang harus ia hadapi. Apapun konsekuensi-nya ke depan, dia harus terus maju dan berusaha untuk lebih berani seperti yang Sakura katakan padanya. Yang terpenting sekarang adalah ia sudah bebas, terlepas dari belenggu yang selama ini menahan dirinya.

Dia harus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Sakura. Tanpa sahabat soft pink-nya itu, mana mungkin dia berani untuk bersikap nekat seperti ini. Hinata pasti akan membalas semua kebaikan Sakura, cepat atau lambat. Di dalam hatinya dia juga berdoa, semoga Sakura bisa berbahagia seperti dirinya sekarang ini.

"Oh my God! Look at this! Uchiha Sasuke just married with this kind of woman? She looks ugly!"

Celetukan kecil itu tiba-tiba terdengar dari kursi penumpang pesawat yang ada di belakang Hinata. Jantung wanita berambut violet itu mendadak berdegup kencang saat mendengar nama Uchiha Sasuke disebut-sebut sudah menikah dengan seorang wanita.

Apa itu artinya Sasuke tidak jadi membatalkan acara pernikahannya? Tapi, dia menikah dengan siapa? Dia 'kan ada di sini bersama Naruto. Mungkin ada orang yang berpura-pura menjadi dirinya agar pernikahan ini terus berjalan dan Sasuke tidak mendapat malu.

"I know right? She's even not pretty and look like a dumb woman. What's her name by the way?" suara gadis yang lain terdengar lagi. Sepertinya mereka sedang melihat berita itu lewat internet yang ada di ponsel mereka.

Hinata berusaha mengabaikan percakapan itu dengan berpura-pura tidur. Tapi saat mendengar nama pengantin wanita yang menikahi Uchiha Sasuke tersebut…

"Wait, hm…Ha..runo Saku…ra?"

"APA! SA-SAKURA?!"

Hinata langsung bangkit dari kursinya dan memekik nyaring hingga membuat Naruto dan semua orang yang ada di dalam pesawat harus menutup telinga sanking kagetnya.

…..

I Write My Life Not My Love

…..

"Selamat datang putri dan putraku!"

Haruno Mebuki menyambut kedatangan Sakura dan Sasuke dengan ceria, sambil menyebarkan kelopak bunga sakura yang dia ambil dari pohon di taman dekat rumahnya.

"Ibu! Apa-apaan ini? Kenapa banyak warga di sekitar sini sih?" wajah Sakura memerah kesal becampur malu.

"Mereka semua langsung heboh saat melihat kau muncul di tv dan dikabarkan menikah dengan Uchiha Sasuke. Terimalah niat baik mereka itu Sakura!" jawab Mebuki antusias, sambil memeluk putrinya dengan gemas.

"Ibu tidak marah?"

"Kenapa malah marah? Ibu justru sangat bahagia kau bisa menikah, Sakura! Apalagi menantu ibu ini Uchiha Sasuke, sudah tampan, cerdas, kaya, hidup lagi! Kyaa!"

Sakura langsung sweatdrop melihat ibunya berteriak histeris seperti remaja labil yang bertemu dengan artis idola.

Acara penyambutan dirinya dengan Sasuke ternyata tidak sesuai dengan dugaan Sakura. Dia mengira ibunya akan marah padanya terlebih dahulu, lalu menyuruhnya bercerai saat tahu kebusukan Sasuke yang sebenarnya. Tapi apa ini? Di depan rumahnya sudah berkumpul warga dari sekitar komplek, banyak yang memberinya ucapan selamat dan hadiah untuknya, mulai dari anak kecil sampai orang tua lanjut usia.

Bahkan sampai ada yang minta salaman dan fotoan dengan Sasuke segala. Memangnya dia selebritis? Sekalian saja minta tanda tangan dan baju yang dikenakan Sasuke. Tapi lucu juga melihat wajah pria yang kaku dan dingin itu tampak bingung karena harus meladeni permintaan para tetangganya satu persatu. Walau tidak tersenyum tapi dia masih mau melayani mereka tanpa mengeluh. Mungkin Sasuke tidak seburuk yang ia kira.

Ah, tidak! Apa sih yang dia pikirkan! Dia itu adalah pria kejam yang ingin memenjarakan keluarga Hinata dan membuat dirinya termasuk ke dalam kehidupan pernikahan palsu ini.

'Sadarlah Sakura!' batinnya, sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

"Hei, putriku…" Kizashi muncul tiba-tiba di belakang Sakura. Tersenyum riang seperti biasanya. "Apa kau tidak mau memberikan pelukan pada daddy bear-mu ini?"

"Ayah! Aku merindukanmu!" ucap Sakura sambil memeluk tubuh ayahnya dengan erat.

Kizashi membalas pelukan Sakura sambil mengusap-usap pucuk kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Sudah cukup lama Sakura tidak bertemu dengan Kizashi karena mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing. Ayahnya yang bekerja sebagai penulis artikel lingkungan hidup dan fotografer sering kali berpergian ke daerah-daerah lain di Jepang untuk mencari inspirasi. Karena itu tiap kali dia pulang ke Kyoto sebulan sekali, pasti Kizashi tidak ada di rumah. Sekarang dia bisa melepas rindu dengan ayahnya dengan puas.

"Daddy bear?" tanya Sasuke, yang sudah berdiri di samping Sakura. "Apa itu?"

Kizashi menatap menantunya itu sambil terkekeh kecil. "Ah, itu-"

"Wawawawa! Ayo kita masuk ke dalam rumah! Sasuke pasti lelah selama di perjalanan menuju kemari! Dia juga tidak bisa lama-lama di sini karena sibuk mengurus perusahaannya!" seru Sakura memotong ucapan Kizashi.

"Huh? Tapi aku-Agh!"

Sasuke mengerang kesakitan karena kakinya ditendang oleh Sakura. Dia mendelikan onyx tajamnya ke Sakura yang sudah kabur masuk ke dalam rumah, bersama ibunya.

Brengsek! Sudah tadi ditampar, sekarang ditendang pula. Memang apa salahnya kalau ingin mengetahui makna dari sebutan Daddy bear itu? Dia hanya penasaran kok, bukannya ingin mencium bibir Sakura di depan umum.

"Dia malu, Sasuke. Nanti akan kuceritakan kapan-kapan." ujar Kizashi, tertawa kecil.

"Istriku sudah menyiapkan banyak makanan untuk menyambut kalian. Ayo kita segera masuk ke dalam." lanjutnya lagi, sambil merangkul pundak Sasuke dengan akrab.

Sasuke hanya tersenyum penuh arti seraya menganggukan kepalanya.Well, tidak ada salahnya untuk berpura-pura jadi menantu yang baik di hadapan mertua.

Untuk saat ini dia akan bermain-main dengan Sakura dan keluarga kecilnya. Tapi, jika mereka sudah sampai di mansion-nya nanti. Ooh, lihat saja apa yang akan dia lakukan pada wanita serampangan itu. Sasuke akan membuatnya menyesal dengan senang hati.

.

.

.

.

.

To Be Continued


A/N: Auph! Semoga chapter ini bisa menjelaskan sedikit alasan kenapa Sasuke mau menikahi Sakura. Tapi…benarkah itu alasan Sasuke yang sebenarnya? Fufufufu! Itu..hanya saya, Tuhan dan Sasuke yang tahu!

Di chapter ini juga masih belum banyak konfliknya, mungkin akan dimulai di chapter berikut (yang updatenya bakal lama karena saya harus melaksanakan PKL selama dua bulan lebih, hiksu!).

Seperti biasanya, saya mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian yang mau me-review (dan krisar dari mc-kyan soal huruf kapital untuk suffix, trims banyak!), mem-fav, mem-follow atau sekedar read cerita ini. Tanpa kalian saya nggak tau cerita ini bagus apa nggak, kalian pemberi semangat bagi para author! *\(^u^)/*