Ansatsu Kyoushitsu belongs to Yuusei Matsui
"Moshi-moshi, keluarga Shiota di sini."
"Ah, Sumire? Ini aku, Nagisa."
"Eh? Nagisa-kun? Kok nomornya beda?"
"Nggak... hpku mati, aku pakai telepon umum."
"Ah, begitu ya. Ada apa?"
"Aku ketinggalan bis tadi, jadi mungkin agak telat. Kamu makan duluan saja, ya, Sumire."
"Nggak, aku tunggu kamu saja. Halte mana?"
"Halte dekat toko kelontong di perempatan,"
"Oh, yang banyak rumornya itu, ya?"
"Rumor? Rumor apa?"
Act 2—Bis Terakhir
[2/5]
Nagisa Shiota melirik ke arah ponselnya. Waktu telah menunjukkan jam 23:30 dan hujan deras tak kunjung berlalu. Pemuda yang kala itu berumur 15 tahun menghela napas. Ia tak bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Beruntung ia sudah menghubungi ibunya agar tidak khawatir.
Harusnya tadi aku nebeng Karma-kun saja... Nagisa mengeluh pelan dalam hati. Pemuda yang tengah berteduh di halte dekat toko kelontong yang sudah tutup itu menghela napas. Ada bis yang turun di stasiun, nggak ya? pikirnya lagi. Ia tak bisa mengorbankan tas sekolahnya untuk menerobos hujan. Bisa habis buku-buku dan prediksi soal-soal ujian miliknya.
Nagisa menghela napas lagi. Mungkin lebih baik ia minta dije—
"Hei, Nak. Kau mau naik?"
Nagisa mendongak saat mendengar suara di depannya. Seorang pria tinggi berpakaian ala supir terlihat dalam visualnya ketika Nagisa menatap bis di depannya.
... Sejak kapan?
"Ini bisa terakhir, Nak. Naiklah," ucap Si Supir lagi, membuat Nagisa bingung. Bukannya bis terakhir adalah jam empat sore tadi? Ia tak salah mengecek jadwal kedatangan bis, bukan? Apa jangan-jangan si pemilik bis ini pencu—
"Naiklah, Nak. Kami akan turun di stasiun,"
—oke, Nagisa angkat kaki dan buru-buru menaiki bis. Daripada tidak pulang, 'kan?
Lorong bis sepi dengan berderet-deret bangku kosong. Hanya terlihat satu-dua penumpang selain dirinya. Seraya duduk di baris paling depan, Nagisa memperhatikan rintik-rintik hujan yang terlihat dari jendela. Disenderkannya punggung ke kursi penumpang seraya memperhatikan jalan. Kalau saja dia bawa headset—
Lho, itu 'kan...?
.—.
"Mamaaaa~" Shiota Nagisa kecil berlari mendekati ibunya. Wajahnya penuh lumpur dan tangannya kotor akibat tanah, namun dengan bangganya dia berjalan menuju ibunya yang sedang bercengkrama dengan para ibu dari anak TK lain.
"Nagisa! Kenapa kamu kotor sekali?!" Shiota Hiromi memekik kaget, namun Nagisa kecil tak peduli dan menunjukkan sesuatu di tangannya—tanah liat yang, mungkin, berbentuk bintang laut. Terlihat aneh dan menggelikan dengan berbagai gradasi warna biru.
"Buat Mamaa~" Nagisa kecil berkata bangga. Senyumnya lebar dan polos sekali—bahkan Hiromi luluh dibuatnya. Terharu, dielusnya pucuk kepala Nagisa dan diterimanya tanah liat berbentuk bintah yang agak aneh itu.
Hiromi tersenyum lembut.
"Terima kasih, Nagisa Sayang. Kamu anak mama yang terbaik,"
.—.
—TK lamaku...?
Alis Nagisa terangkat, bingung. Ingatan tentang dia dan ibunya dulu kembali.
Aneh, bukankah TK itu sangat jauh dari stasiun? Kenapa...?
Ah, ada lagi. Bukannya itu—
.—.
"Hiks... Jangan pergi..."
Nagisa yang berumur sepuluh tahun berkata sambil terisak-isak, memegang erat ujung jaket ayahnya. Sang Ayah hanya bisa memandang anaknya yang tengah menangis.
"H-hiks... Jangan tinggalkan aku, Ayah... A-ayo pu... hiks... lang..." Nagisa berkata dengan air mata yang mengucur deras. Ia tak berusaha menghapusnya dan membiarkannya jatuh menuruni pipi hingga menyentuh tanah.
Sang Ayah tersenyum dan menatap sedih Nagisa. Dielusnya kepala Sang Anak.
"Rumah ayah bukan di sini lagi," ayahnya berkata sembari berjongkok. "tapi jangan takut Nagisa. Kita akan tetap bertemu, kok. Lagipula—
"Laki-laki nggak boleh nangis, lho!"
.—.
Apa-apaan bis ini... kenapa lewat sini...
Air mata mulai tampak di sudut mata Nagisa. Ia tidak boleh menangis. Jangan sampai!
Dipalingkannya wajah dan menatap ke manapun selain jendela, namun hasilnya nihil. Ada memori lagi yang keluar dari gudang otaknya.
Apa lagi?
.—.
"Nagisa ingin ikut siapa?"
Nagisa yang berumur sembilan tahun menatap kebingungan saat kedua orangtuanya mengatakan mereka ingin pergi ke sjatu tempat berbeda di saat yang sama. Nagisa tak boleh ditinggal sendirian di rumah, maka ia disuruh memilih.
Nagisa mengedipkan mata beberapa kali, lalu berjalan menuju ibunya.
Hiromi tersenyum penuh kemenangan.
'Acara berbeda' itu hanya alasan. Arti sebenarnya pertanyaam di atas adalah—
—Nagisa ingin ikut siapa jika mereka bercerai?
.—.
Cukup.
CUKUP.
Nagisa muak. Apa-apaan ingatan yang terus-menerus keluar ini? Ini tidak masuk akal. Nagisa ingin turun dan melupakan semua kenangan yang berlalu-lalang di dalam otaknya. Diangkatnya tas dan ia siap meminta Si Supir agar berhenti. Yah, kalau bisa, sih...
"Pak—"
"Sudah sampai. Turunlah, Nak."
Nagisa mengedipkan mata beberapa kali. Sudah sampai, katanya?
"Oh... i-iya." Nagisa berkata, setengah heran. Berapa lama ia di dalam bis ini? Sebelum Nagisa berhasil mengeluarkan dompetnya untuk membayar, Si Supir sudah mendorongnya keluar dengan sedikit kasar. "Nggak usah bayar. Cepat turun, ibumu pasti khawatir," ujar Si Supir gusar, membuat Nagisa buru-buru turun.
Namun Nagisa malah kebingungan. Ini bukan stasiun, ini rumahnya. Dari mana Si Supir tahu rumahnya? Apa kebetulan?
Ah, tidak. Tidak mungkin sengaja. Nagisa berbalik dan—
"... Eh?..."
—menemukan bis itu telah hilang.
"Ya, katanya bis yang datang jam setengah dua belas malam itu berhantu. Yang naik bis itu katanya bakal dibawa ke neraka," suara Hara—ehm, Shiota Sumire di seberang membuang Nagisa tertawa terbahak-bahak.
Pria yang berumur 29 tahun tersebut tersenyum dan memandang langit jingga yang mulai menghitam.
"Bis itu bukan membawamu ke neraka," Nagisa berujar "melainkan menunjukkan masa lalumu,"
[end]
Mind to review?
