Disclaimer: I do not own Kuroko no Basket
Thanks buat Myadorabletetsuya, , dan mikkinekinyann untuk reviewnya.
Moonlight Miracle
CHAPTER II
Etoo.. ada yang menanyakan umur tokoh-tokohnya, jadi Cha berikan perkiraan umurnya.
Kagami dan Kuroko: 18 tahun
Tim Seirin yang lain: 19 tahun. *tetap setahun lebih tua daripada mereka*
GoM: karena mereka bukan manusia, umur mereka tak bisa dipastikan, tapi untuk penampilan, mereka sebaya dengan Kagami dan Kuroko.
Dan Seirin disini murni adalah sahabat dan sudah seperti saudara bagi Kuroko, jadi gak bakal ada KuroKaga. ^^
##
"Kaa-san? Tou-san?" Kuroko duduk dalam kegelapan. Ia meraba sekitarnya, namun yang dirasakannya ada sesuatu yang basah ditangannya. Kuroko langsung tahu apa itu begitu mencium baunya.
"Darah?" Kuroko langsung merasa mual.
"Kaa-san? Tou-san? Kalian dimana?" kuroko kembali meraba sekitarnya dengan panik, berusaha mencari keberadaan orang tuanya.
"Kumohon jawab aku.."
Kuroko terbangun dari mimpi buruknya. Ia menatap sekelilingnya dan menarik napas lega saat menyadari ia berada di kamarnya yang terang. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
"Tidak. Aku tak boleh mengingat hal itu lagi." Kuroko menggelengkan kepalanya. Ia berdiri di bawah shower, masih dengan piyamanya dan membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya. Kuroko menatap tangannya. Ia kemudian mengambil sabun cair dan menuangkannya ke tangannya.
"Tidak. Tidak ada darah lagi." Kuroko menggosok tangannya keras-keras sampai terasa sakit. Ia kemudian terduduk, masih dengan shower menyala.
##
"Tetsu-chan!" Riko membuka pintu rumah Kuroko dengan kunci cadangan yang dimilikinya. "Kau sudah bangun?"
Tak ada jawaban.
Riko mengambil inisiatif sendiri dan berjalan ke kamar Kuroko. Dilihatnya kasur yang masih berantakan, dan dari kamar mandi terdengar suara shower yang menyala.
"Tidak biasanya Tetsu-chan meninggalkan tempat tidurnya dalam keadaan tidak rapi seperti ini." Batin Riko. Ia kemudian mengetok pintu kamar mandi. "Tetsu-chan? Kau di dalam?"
Lagi-lagi tak ada jawaban.
Riko mulai khawatir. Ia akhirnya membuka pintu kamar mandi. "Tetsu-chan? Kau baik-baik saja?"
Dan apa yang dilihat Riko bukanlah sesuatu yang 'baik-baik saja'.
##
"Kami datang secepat yang kami bisa." Izuki berdiri di depan kamar Kuroko. "Apa yang terjadi?"
Riko memijat kepalanya. "Aku menemukannya duduk di bawah shower. Masih dengan pakaian lengkap. Dia tak bereaksi saat aku memanggilnya. Aku tak bisa membawanya sendirian."
Hyuuga, Kiyoshi, dan Izuki masuk kedalam kamar, langsung menuju kamar mandi. Riko sudah mematikan shower dan menutupi Kuroko dengan handuk kering.
"Tetsu-chan?" Kiyoshi menggoyangkan tangannya didepan wajah Kuroko. Namun tak ada reaksi yang didapatkannya. Kuroko hanya menatap kosong.
"Tak ada jalan lain." Kiyoshi membopong Kuroko, membawanya keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya di atas kursi.
"Riko, kau bisa mengganti pakaiannya sekarang. Ia akan masuk angin jika dibiarkan seperti ini."
Riko mengangguk. Begitu Hyuuga, Kiyoshi, dan Izuki keluar dari kamar, Riko mulai mengganti pakaian Kuroko.
"Riko-neesan?"
Riko hampir menjatuhkan pakaian yang sedang dipegangnya. Ia segera memeluk Kuroko. "Tetsu-chan! Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?"
"Bukan apa-apa, nee-san. Hanya mimpi buruk saja." Kuroko tersenyum kecil. "Maaf membuatmu khawatir."
"Karena inilah aku tak ingin membiarkanmu tinggal sendirian!"
"Aku baik-baik saja, nee-san. Lagipula ini adalah pertama kalinya sejak dua tahun yang lalu."
"Mou.. Kau tahu kami menyayangimu bukan? Jangan lakukan hal itu lagi atau aku tidak akan menoleransinya lagi!"
"Hai..hai.." Kuroko bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Riko bertanya dengan khawatir.
"Mengajar."
"Tidak. Aku sudah menghubungi sekolah dan mengatakan kalau kau sakit. Hari ini kau harus beristirahat di rumah."
Kuroko memberengut. "Tapi aku baik-baik saja, nee-san."
"Tidak ada alasan."
Kuroko menatap pakaiannya yang telah diganti Riko. Riko mengganti pakaiannya dengan piyama lagi.
"Baiklah, aku akan beristirahat." Kuroko menyerah. Ia berbaring di tempat tidurnya.
"Beristirahatlah. Dan ingat, kau tidak sendirian. Hubungi kami jika terjadi sesuatu."
"Hai, nee-san."
##
"Furihata-sensei, mana Kurokocchi-sensei?" Kise bertanya dengan penasaran. Ia sudah menunggu Kurokocchi-sensei, namun ia tak kunjung hadir. Padahal biasanya, Kurokocchi-sensei selalu datang lebih pagi darinya dan menyambutnya.
"Kuroko-sensei sedang sakit, Kise-kun." Furihata menjawab. Ia menerima telfon dari Kantoku tadi pagi yang mengatakan bahwa Kuroko tidak bisa hadir.
Kise menampakkan wajah murung. "Padahal aku sudah menunggu-nunggu Kurokocchi sensei."
"Jangan khawatir, besok Kuroko-sensei akan kembali hadir." Furihata berusaha membesarkan hati Kise.
"Aah~~ jika tak ada Kurokocchi-sensei, sekolah akan membosankan-ssu." Kise menguap dan meninggalkan Furihata.
"Eeh? Kau tak mau bermain dengan sensei?"
##
Midorima duduk sambil membaca file yang diberikan Akashi padanya.
"Hanamiya Makoto, 27 tahun. Pengusaha muda yang sukses." Midorima mendengus. "Sukses? Tentu saja. Ia selalu menjegal lawan-lawannya dengan cara yang licik."
Ia terus membalik-balik file itu. Jika Akashi adalah pemimpin mereka, maka Midorima adalah wakilnya.
"Hmm.. Ini akan sedikit sulit." Gumam Midorima.
BEEP! BEEP!
Midorima melirik jamnya. "Waktunya menjemput Kise."gumamnya.
##
Midorima menemukan Kise memberengut di depan gerbang sekolah. Begitu melihat Midorima datang, ia segera berlari menyambut Midorima.
"Ada apa?"
"Kurokocchi-sensei tidak hadir."
"Memangnya kenapa?"
Kise menatap Midorima dengan pandangan tak percaya. "Kau bercanda?" kurokocchi-sensei adalah alasanku datang ke sekolah. Jika tahu kurokocchi-sensei tak hadir, maka aku tak akan datang ke sekolah."
"Hai..hai.." Midorima memperbaiki kacamatanya. Jika terus dibantah, maka Kise akan merajuk dan bagi Midorima itu sangat menyebalkan. "Kita ada misi malam ini. Kau ingin ikut atau tidak?"
Masih dengan memberengut, Kise mengiyakan kata-kata Midorima. Midorima bersyukur, paling tidak sekarang KIse tak mengeluh lagi.
##
Kuroko membuka matanya yang masih terasa berat. Ia melirik jam dindingnya.
"Jam 10 malam, huh?"
Koroko duduk dan menggosok matanya. Ia kemudian bangkit dari kasurnya menuju dapur.
"Eeeh? Mana vanilla milkshake ku?" Kuroko membuka dan menutup pintu kulkasnya, berharap milkshake itu akan muncul kembali. Matanya kemudian menangkap sebuah note yang ditempelkan di pintu kulkas. Dilihat dari tulisannya, pasti ini dibuat oleh Riko-neesan.
"Tetsu-chan, aku mengambil vanilla milkshake mu. Terlalu banyak minum ini tidak baik untuk kesehatanmu. Tehehe.."
Kuroko meremas catatan itu. Ia kembali melirik jam dindingnya.
"Masih jam 10.30." Kuroko kemudian menyalakan televise.
"…..dan bagi seluruh penduduk Tokyo diperingatkan agar tidak keluar rumah sendirian pada malam hari."
Kuroko mematikan tv nya. Ia menghela napas panjang. Lagi-lagi pemberitaan tentang pembunuhan malam purnama. Kejadian ini dimulai semenjak setahun yang lalu. Tiba-tiba saja, setiap malam bulan purnama, seseorang akan terbunuh. Tentu saja ini segera menjadi berita besar karena yang terbunuh adalah orang-orang yang boleh dibilang cukup ternama.
Sebut saja, beberapa politisi terkenal yang diduga melakukan korupsi tapi masih belum ditangkap karena tidak punya bukti. Atau beberapa nama yang dikenal dalam dunia mafia, namun tak bisa ditangkap karena mereka punya pendukung yang kuat.
Setelah berpikir selama beberapa saat, Kuroko akhirnya memutuska ia tidak termasuk dua kategori yang diatas. Lagipula daerah tempat tinggalnya selama ini relative aman. Ia tak bisa tidur kembali sebelum meminum vanilla milkshakenya, jadi ia mengambil baseball cap dan jaket denimnya, memakainya, dan keluar rumah, menuju satu-satunya tempat yang menjual vanilla milkshake disekitarnya, Maji Burger.
##
"Chikusoo!" Aomine memukul dinding dihadapannya.
"Berhenti mengeluh, Daiki. Kita harus segera bergerak." Akashi menatap Aomine, namun matanya berkilat penuh kemarahan.
Midorima berlari di samping kanan Akashi sambil memegang lucky itemnya hari ini, mainan kodok yang terbuat dari keramik. "Mungkin dia memiliki zodiac aquarius, Akashi."
Akashi tak menanggapinya. Disamping kirinya Atsushi berlari sambil menggendong Ryouta. Aomine akhirnya mengikuti di belakang mereka.
"Apa ramalanmu hari ini, Midorimacchi?"
Midorima mengingat kembali ramalan Oha-Asa pagi ini. 'Cancer, Sagitarius, Virgo, Libra, dan Gemini akan mengalami hari yang buruk. Berhati-hatilah jika kalian bertemu dengan aquarius karena mungkin saja ia akan mengubah hidup kalian. Tapi jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja jika kalian membawa lucky item kalian hari ini.'
"Ini karena Ahomine tidak mau memakai lucky item yang sudah kusediakan, jadi kita tak bisa menangkal kesialan ini."
"Tentu saja aku tak mungkin memakainya, baka!" Aomine berteriak marah. "Apa menurutmu aku akan membawa teddy bear yang tingginya separo tinggiku dan berwarna pink? Walaupun Oha-Asa bodohmu berkata aku akan mati jika aku tidak membawanya, aku lebih memilih kematian daripada dipermarlukan!"
"Kau tak boleh begitu Ahominecchi, aku saja membawa lucky item yang sudah dipersiapkan Midorimacchi untukku." Kise mengayunkan gantungan kunci Naruto.
"Aku juga membawa milikku, Mine-chin." Murasakibara memperlihatkan sekantong chip rasa bluberry. "Yah, meskipun mungkin hanya tinggal setengahnya."
"Aaarrghh!" Aomine mengacak rambutnya dengan frustasi. "Kau ingin mengerjaiku?" tanyanya dengan marah sambil menatap Midorima.
"sudahlah Daiki. Sekarang sebaiknya kita segera pergi ketempat mobil kita menunggu." Akashi menarik napas panjang. Pertengkaran seperti ini adalah rutinitas yang harus didengarkannya setiap hari.
"Tapi, Akashi!"
SNIP
Entah darimana Akashi sudah memegang sebuah gunting. "Kau membantahku, Daiki?"
Aomine menatap gunting itu dengan horror. "Ti-tidak, Akashi.."
"Bagus kalau begitu."
##
Kuroko berjalan dengan tenang. Malam itu langit cerah dan ia bisa melihat bulan serta bintang-bintang di langit. Ia bersenandung kecil sambil berjalan.
"Aku harap Riko-neesan tidak sadar kalau aku keluar rumah malam-malam." Gumam Kuroko. "Tapi ini salah Riko-neesan karena mengambil vanilla milkshake ku."
Tiba-tiba Kuroko merasakan sesuatu yang ganjil. Angin yang bertiup pelan seakan membawa bau yang sangat dikenal tapi sangat dibencinya. Bau yang membuatnya mual. Bau yang selalu membawa mimpi buruk baginya. Kuroko menutup mulutnya, merasakan mual yang mulai datang.
"Bau ini…" Kuroko merasakan pandangangannya mulai berkunang-kunang. Ia segera berhenti berjalan, bertahan berdiri dengan memegang dinding. "Darimana asalnya?"
##
"Ah, Kurokocchi-sensei!"
"Mana?" Aomine menatap arah yang ditunjuk Kise.
"Disana!" Kise menunjuk satu sosok yang tampaknya sedang berusaha berdiri dengan menopang tubuhnya pada dinding pagar salah satu rumah. "Apa yang dilakukan Kurokocchi-sensei malam-malam seperti ini? Furihata-sensei berkata ia sakit."
"Biarkan saja." Midorima memperbaiki letak kacamatanya. "Mungkin ia hanya ingin mencari udara segar."
"Ah, sepertinya Kurokocchi-sensei baru saja dari Maji Burger! Lihat kantong yang dibawanya!"
"Ryouta, kita harus bergegas." Akashi memotong pembicaraan mereka dengan tidak sabar.
"Mou.. Akashicchi.." Kise memberengut. "Apa aku tak boleh menyapa Kurokocchi-sensei? Aku ingin menanyakan apakah ia baik-baik saja karena kelihatannya ia tidak sehat."
"Besok, Ryouta." Akashi berkata dengan nada final, dan Kise pun tidak membantahnya. Ia menoleh sesaat dengan khawatir ke arah Kuroko sebelum mengikuti Akashi.
##
Kuroko mengejapkan matanya. Perasaan mualnya sudah hilang, begitu juga dengan bau darah yang tadi diciumnya.
"Apa yang terjadi?" batin Kuroko. Ia kemudian berdiri tegak dan bergegas pulang.
##
"Kurokocchi-sensei!" Kise memeluk Kuroko begitu ia melihat Kuroko di depan pintu kelasnya pagi itu. "Aku merindukanmu!"
"Hai..hai.." Kuroko tersenyum dan menepuk kepala Kise dengan pelan.
"Sekolah akan membosankan tanpa Kurokocchi-sensei." Kise memberengut.
Kuroko tak menjawab. Ia menatap Midorima yang mengantarkan Kise. Hari ini lucky item Midorima adalah telinga kucing, jadi ia memakai bando dengan telinga kucing.
"Maaf, Midorima-san, apakah anda terluka?" Kuroko bertanya ragu-ragu.
"Tidak. Memangnya Kenapa?" Midorima menjawab dengan heran.
"A-ah.. Bukan apa-apa." Kuroko kemudian tersenyum gugup. Ia mengangguk sopan pada Midorima dan membawa Kise kedalam kelas. Ia tak mungkin mengatakan pada Midorima bahwa ia berbau darah, bukan? Orang-orang akan menganggapnya aneh.
Midorima menatap kepergian Kuroko masih dengan tatapan herannya. "Darah?" gumam Midorima.
##
"Moshi-moshi, Kuroko desu." Kuroko mengangkat telfonnya setelah ragu sesaat melihat nomor yang tak dikenalnya.
"Ah, apa anda Kuroko-sensei?" terdengar suara laki-laki yang tak dikenalnya diseberang sana.
"Ya. Maaf ini siapa?"
"Ah, gomensai. Saya adalah Akashi, salah satu wali dari Kise Ryouta."
Kuroko menarik napas lega. "Ada yang bisa saya bantu, Akashi-san?"
"Mungkin kami akan terlambat menjemput Kise hari ini. Bisakah kami menitipkan Kise bersama anda hingga pukul lima sore? Murasakibara akan menjemputnya nanti."
"Tak masalah, Akashi-san. Tapi saya akan membawanya ketempat saya bekerja paruh waktu, Mini Market Seirin."
"Oh, itu bahkan lebih baik. Murasakibara selalu berbelanja disana sebelum pulang."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuan anda."
"Sama-sama, Akashi-san."
##
"Hanamiya, kenapa kau melakukan ini?"
"Kau harusnya sadar Kuroko, dengan kekuatanmu, kau bisa melakukan sesuatu yang lebih, tapi tidak, kau malah memilih menjadi protector. Kau menyia-nyiakan kemampuanmu."
"Sebagai manusia yang memiliki kekuatan, tugas kita adalah menjaga keseimbangan dunia ini, bukannya berusaha memanfaatkannya demi kepentingan pribadi kita, Hanamiya!"
"Kau tak memberiku pilihan lain, Kuroko. Selamat tinggal."
#-#
