"umma, apa lain kali Seungcheol hyung boleh main lagi?" ucap Woozi sambil menaiki kasurnya.

Setelah Seungcheol pulang dan ibu Woozi merapihkan bekas minuman, Woozi mengganti seragamnya dan bersiap tidur. Hari ini Woozi terlihat senang, dan itu membuat ibu Woozi juga merasa senang. Sudah lama ia tidak melihat anak satu-satunya itu tersenyum senang.

"tentu sayang, tapi sekarang Woozi harus istirahat ya?" ucap wanita itu sambil mengusap lembut kepala Woozi.

Woozi hanya tersenyum. Ia menutup matanya menikmati usapan wanita itu, sesekali Woozi mengusakan kepalanya ke tangan wanita itu. Rasanya rindu sekali pada kehangatan ini, Woozi berharap ia tak pernah kehilangan wanita yang ia sayangi ini. Wanita itu tersenyum dan terus mengusap kepala anak satu-satunya itu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak memanjakan anaknya itu, dan dia rindu anaknya itu.

Ia berharap waku berhenti sekarang.

Brak!

"JIA!"

Seketika kehangatan yang terasa di ruangan itu hilang. Satu dobrakan pintu dan teriakan keras mampu membuat Woozi bergetar ketakutan. Ia memeluk pinggang ibunya dengan erat kemudian menyembunyikan wajahnya di perut sang ibu.

"eo...eomma..."

"t-ti-tidak apa-apa Woozi... eomma akan melindungimu..." ucap wanita itu sambil mengusap kepala Woozi. Ia menatap sekitar kamar kecil Woozi dan segera menggendong Woozi turun dari kasur. "Sembunyilah disini, apapun yang terjadi, jangan keluar, arra?"

Setelah memasukan Woozi kedalam kolong tempat tidur, wanita itu segera berdiri dan mempersiapkan dirinya saat mendengar langkah kaki yang mendekat.

Brak!

"kemana anak sialan itu!"

"jaga ucapan mu, itu adalah anakmu!"

"aku tidak peduli! Aku tidak ingin punya anak menyusahkan seperti dia! Dia anak tidak berguna yang sama sepertimu!"

"sudah cukup! Aku muak denganmu!"

Plak!

"katakan itu lagi jalang!"

Plak!

Woozi hanya bisa menangis dalam diam melihat langkah kaki ibu dan ayahnya, ia takut setiap kali mendengar suara tamparan yang keras.

"kau dan anak sialanmu, lebih baik jika kalian berdua mati!"

"Aaaaah!"

Jeritan kesakitan terdengar ketika pria itu menyerang wanita itu dengan jangka. Woozi hanya bisa menangis dan meringkuk melihat tetesan darah di lantai kamarnya.

"kenapa aku harus hidup seperti ini! Kau bajingan! Kau sialan!"

"apa kau bilang dasar jalang!"

Krek!

Bruk!

Suasana seketika menjadi hening. Woozi membeku melihat tubuh ibunya yanh tergeletak di hadapannya. Tubuhnya terlungkup, tapi kepalanya... terbalik dari tempat seharusnya.

- Ibuku akan melihat diriku... dimana keberadaan leherku -

Woozi masih terdiam dengan rasa shocknya. Sementara itu, pria yang baru saja membunuh istrinya itu dengan ketakutan berjalan keluar dari kamar Woozi. Tinggallah Woozi sendirian dengan jasad ibunya. Air mata perlahan keluar dari mata Woozi, apa ini artinya ia kehilangan ibunya?

"eo-eomma..."

Perlahan Woozi merangkak keluar dari tempatnya, ia menatap jasad ibunya yang bahkan tidak bernafas. Tangan mungilnya ingin menyentuh kepala itu, tapi kengerian masih memenuhi kepalanya. Woozi menunduk dan menangis sekeras-kerasnya.

Dan tak lama kemudian, sebuah tangan mengusap kepalanya.

"ada apa Woozi? Kenapa kau menangis?"

Perlahan Woozi mengangkat kepalanya dan melihat ibunya menatapnya dengan seringaian yang lebar disertai mata merah yang terbuka lebar.

"eo-eomma..."

"gwenchana Woozi... eomma akan melindungimu..."

Dengan perlahan tubuh kurus itu merangkak keluar dari kamar Woozi, meninggalkan Woozi dengan kengerian yang dilihatnya. Entah ia harus menjerit karena baru saja kehilangan nyawa ibunya atau karena ia melihat hantu yang merangkak keluar dari kamarnya.

Esoknya, Woozi tidak masuk sekolah karena 'arwah' ibunya menghalangi langkahnya setiap ia ingin keluar dari rumahnya. Ibunya itu selalu berkata "tetaplah bersama eomma" atau "eomma akan menjagamu Woozi" dan "kau lebih baik bersama eomma".

Dan lagi, pria yang ia kenal sebagai 'ayah' sudah tidak pernah menampakkan dirinya lagi di rumah. Membuat Woozi semakin ngeri karena harus tinggal sendirian di rumah bersama 'arwah' ibunya.

Suatu hari, Woozi pernah merencanakan pelarian diri dari rumahnya. Berada di rumah ini terasa seperti penjara baginya, belum lagi Woozi selalu mendapati ibunya itu menempel pada dinding kamarnya setiap malam. Dengan seringaian dan wajah dengan kepala terbalik, itu cukup membuat Woozi meringkuk ketakutan dalam selimut.

Woozi pernah berhasil menelfon Seungcheol hyungnya. Tapi setiap ia akan berbicara, 'arwah' sang ibu akan berteriak dengan sangat keras kemudian merangkak dengan cepat ke arahnya. Dan setiap usaha Woozi selalu berakhir dengan dia yang dikurung di kamarnya.

Suatu malem, Woozhi melihat pintu rumahnya terbuka lebar. Ia menengok kanan dan kirinya, tidak ada ibunya. Dengan langkah pelan Woozi berlari kecil menuju pintu itu. Tapi belum sempat kakinya melangkah lebih jauh, sebuah tangan menarik kaki Woozi dan menyeretnya masuk kedalam.

"aaaaa! Lepaskan aku!" Woozi terus meronta berusaha melepaskan genggaman tangan ibunya. Woozi menatap ngeri pada tangan dan kaki ibunya saat melihat sudut sendi nya terlihat seperti habis diputar.

Woozi kembali meronta. Ia bahkan menggigit tangan itu hingga ia jatuh kebawah, dan tanpa pikir panjang Woozi segera berlari keluar dari rumah itu. Woozi berlari tak tentu arah, ia menengok kebelakang dan melihat ibunya merangkak dengan cepat mengejarnya. Woozi mempercepat larinya, ia menyebrang paksa jalanan yang besar.

Brak!

Tiiiin!

Woozi berhenti berlari ketika mendengar suara benturan keras. Perlahan ia menengok ke belakang dan melihat jasad ibunya berada di kolong truk besar. Darah segas segera keluar dari bawah truk itu, Woozi mematapinya, leher itu semakin terputar bahkan hampir putus. Woozi mengerjapkan matanya dan melihat jasad ibunya bergerak. Tangan kurus itu perlahan tergerak berusaha menggapai Woozi, tanpa pikir panjang, ia segera berlari meninggalkan tempat itu.

*. Skip

- Ibuku ada disini... hanya lehernya yang akan berputar -

Woozi meringkuk ketakutan di sebuah halte. Bayangan bagaimana ibunya tertabrak masih menghantui pikirannya. Ia berharap ia mati saja sekarang, pasalnya kali ini ia bisa mendengar tawa-tawa kecil disertai bisikan ibunya yang memanggil namanya. Woozi menutup telinganya dengan rapat. Ia sangat takut sekarang, ia ingin menghilang dari dunia ini.

"pelgilah... hiks... pelgilah... Hah!" Woozi terkejut saat merasakan tepukan pada tangannya. Ia menatap dua orang pria yang tidak lain adalah Junghan dan Seungcheol. Mereka menatap anak itu dengan bingung. Woozi sendiri segera memeluk leher Seungcheol dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu.

- Ibuku ada disini... hanya lehernya yang akan berputar -

"halo polisi?"

Seungcheol berjalan ke balkon kamarnya. Ia menelfon polisi, untuk memberitahukan kesaksian seorang anak kecil yang meringkuk ketakutan sambil menatap was-was pada seisi kamar Seungcheol. Junghan berjalan masuk ke kamar Seungcheol sambil membawa segelas coklat hangat. Ia duduk di hadapan bocah kecil itu dan menatapnya iba.

"ada apa Woozi?" ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk mengusap kepala anak kecil yang ia bawa ke rumahnya beberapa menit yang lalu. Tapi melihat tangan Junghan hanya membuat Woozi semakin mundur dan menutupi wajahnya dengan selimut.

"kosong? Tapi, bukankah ada jasad seorang wanita disana?" tanya Seungcheol. Junghan menatap Seungcheol dengan bingung. Setelah pria itu menutup telfonnya, Junghan segera menepuk sisi sebelahnya yang kosong.

"ada apa?"

"polisi bilang kalau di rumah itu kosong, tidak ada jasad apapun, tapi tadi Woozi bilang..."

"apa mungkin, jasadnya dibawa oleh ayah Woozi?"

Seungcheol terdiam menatap Junghan. Ia kemudian menatap Woozi yang diam sambil menggumamkan kata-kata tak jelas. Ia segera mendekatkan dirinya pada Woozi untuk mendengarkannya.

" Ibuku ada disini hanya lehernya yang akan berputar... Ibuku ada disini hanya lehernya yang akan berputar..."

Seungcheol menatap bingung pada Woozi, sedangkan Junghan menatap bingung pada Seungcheol.

Bruk

"hah, apa itu?" Junghan merapatkan dirinya pada Seungcheol saat mendengar suara benda jatuh di lantai bawah.

"tunggu disini, akan aku periksa" ucap Seungcheol sambil menepuk pelan tangan Junghan. Tapi belum sempat Seungcheol melangkah, listrik padam dan hitam pekat segera menyelimuti ruang tidur itu.

"S-Seungcheol..."

"tak apa, kau tunggu disini" Seungcheol segera keluar dari kamarnya.

Junghan melihat sekelilingnya dengan was-was. Ia mendengar bisikan-bisikan aneh di sekelilingnya. Junghan menatap Woozi, bocah itu masih menunduk sambil meremas ujung selimut, dan dengan disertai gumaman kecil.

Trek

Junghan mengalihkan pandangannya ke pintu kamar, ia melihat bayangan ranting yang tergeletak disana. Junghan bangun, ia maju selangkah untuk memastikan benda yang ia lihat.

"Ibuku ada disini... hanya lehernya yang akan berputar"

Junghan menengok ke Woozi, anak itu baru saja berbicara. Junghan kembali duduk dan mendekatkan tubuhnya pada Woozi.

"Ibuku ada disini... hanya lehernya yang akan berputar"

"s-siapa yang ada disini... Woozi?"

"Ibuku ada disini... hanya lehernya yang akan berputar"

"n-ne? L-leher?"

kretek

Junghan kembali menengok ke pintu, dan disana terlihat bayangan orang yang dalam posisi merangkak. Dengan segera Junghan berdiri dan berjalan mundur bersamaan dengan makhluk tadi merangkak perlahan ke arahnya.

"Ibuku akan datang… kau harus lari sekarang juga..."

Junghan menatap Woozi, dari cahaya bulan, bisa ia lihat anak itu merangkak ke arahnya dengan kepala yang terbalik dimana wajahnya menghadap ke punggung. Junghan semakin cepat berjalan ke balkon kamarnya. Dan saat punggung nya sudah menempel pada pembatas balkon, sebuah kepala muncul dari atas.

Junghan dengan reflek mendongak dan menatap wajah wanita pucat itu, ia terkejut begitu melihat leher wanita itu terputar. Sebuah seringaian terulas di wajah wanita itu. Junghan hanya bisa terdiam membeku melihatnya.

"Ibuku akan datang… Dia… Telah… Menangkapku…"

Bruk!

Seungcheol berhenti berjalan ketika mendengar suara dari semak-semak. Ia sudah menyalakan daya listrik rumahnya, dan langkahnya terhenti begitu mendengar suara. Perlahan ia mendekati semak-semak itu, Seungcheol memeriksanya, dan ia terkejut begitu melihat jasad Junghan diatas genangan darah, dan juga kepala pria itu terbalik.

*. Skip

Suara sirine ambulan memenuhi pekarangan sebuah rumah. Polisi berkeliaran di sekitar rumah itu, ada yang berjaga di garis polisi, ada yang berjaga di dalam dan luar rumah, dan ada dua orang detektif dan satu orang polisi yang memeriksa sebuah kamar. Dimana disana terdapat jasad seorang anak kecil yang tubuhnya memucat dengan leher yang membiru.

"Sepertinya anak ini dicekik sampai mati"

"iya, dan pembunuhnya memutuskan untuk bunuh diri dengan lompat keluar balkon" ucap seorang detektif sambil berjalan ke arag balkon dan melihat dua orang polisi sedang membungkus tubuh seorang pria.

Sementara itu di rumah sakit jiwa, seorang seorang detektif berjalan bersama seorang suster sambil membaca berkas ditangannya.

"ini dia ruangannya" ucap suster itu sambil menunjukkan sebuah ruangan dengan pintu besi. Sang detektif mendekatkan dirinya dan melihat seorang pria yang meringkuk ketakutan.

"bagaimana kondisinya?"

"masih sama, ia hanya meringkuk menatap ke arah yang lurus, dan tiba-tiba ia akan berteriak ketakutan"

"lehernya, ada bekas cakaran?"

"ya, pasien sering mencekik dirinya sendiri bahkan ia juga melukai lehernya. Kami harus membiusnya untuk menengkan dia"

"baguslah, ikat dia terus, jangan sampah dia menyakiti dirinya sendiri"

"baik, oh dokter ingin kau mengurus berkas pasien ini dan..."

Sementara detektif dan suster tadi pergi, pasien di dalam ruang isolasi itu masih meringkuk ketakutan menatap sebuah bayangan orang dalam posisi merangkak. Ia menggigit bajunya yang panjang dan perlahan mundur kebelakang. Bayangan itu perlahan merangkak mendekat dan terus mendekat, hingga pria itu terpojok di sudut ruangan.

"Ibuku ada disini... hanya lehernya yang akan berputar"

Pria itu menengok ke samping dimana seorang anak kecil duduk jongkok sambil menatapnya.

"p-pergilah" ucap pria itu dengan suara mencicit. Anak tadi mencondongkan tubuhnya hingga matanya berada sangat dekat dengan matanya.

krek

Pria itu menengok ke depan dimana disana terlihat wajah terbalik seorang wanita pucat. "Ibuku akan datang… Dia… Telah… Menangkapku…"

"AAAAAH!"

End

Naaah Annyeong readers!
setelah lama nyari-nyari dan ngeliat-ngeliat video vocaloid, akhirnya nji memutuskan untuk membuat ff berdasarkan lagu-lagu vocaloid Daaaaan, nji menemukan banyak inspirasi, mulai dari horror, gore, fantasy, romance happy/sad ending, school-life, bahkan family juga ada Dan yang pertama kali mau nji bikin adalah ini, Horror!
Dan nji saranin jangan baca cerita ini apalagi denger lagu vocaloidnya pada jam malam, karena nji sendiri makin menjadi-jadi halusinasinya pas bikin cerita ini apalagi pas denger lagunya ._.

yaudah seperti biasa RnR Juseyooo ;v;