Disclaimer : Masashi Kishimoto

By : Caffe Caramel –Alzeid Haruka-

.

.

Mata shapir itu mulai terbuka, dan sebelah alisnya terangkat ketika melihat seorang gadis telah duduk di sampingnya, "Siapa kau?" tanya pemuda berambut kuning emas sembari mendongakan kepalanya. Ia memandang gadis di sampingnya itu dengan berbagai tanda tanya.

Dari sudut matanya, Sasuke dapat melihat seorang pemuda berambut kuning memandangnya dengan tatapan aneh. Ada sedikit rasa kesal ketika ia diperhatikan seperti itu, "Murid baru," ucap Sasuke singkat sembari menulis berbagai rumus yang ada di papan tulis.

Pemuda itu menaikan sebelah alisnya, "Perkenalkan, namaku Naruto," Naruto menyangga dagu dengan kedua tangannya tanpa melepaskan pandangannya dari Sasuke, "Siapa namamu?" mata shapir itu memperhatikan lekat-lekat gadis di sampingnya. Jika boleh jujur ia sedikit tertarik dengan rambut merah panjang yang dimiliki gadis itu. Rambut merahnya mengingatkannya pada sesuatu.

"Satsuki." Jawab Sasuke singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Naruto. Dan hal itu tentu saja membuat Naruto sedikit heran. Pasalnya, ini adalah kali pertamanya ia diperlakukan seperti ini.

Bukannya sombong, tapi biasanya perempuan yang dekat dengannya akan berusaha menarik perhatiannya. Coba lihat saja sekarang, walau Naruto tengah memandang gadis di sampingnya itu, ia masih bisa merasakan jika hampir semua mata memandangnya dan teman sebangkunya itu dengan tatapan kesal dan cemburu.

"Hanya itu?" Sasuke mengangguk, "Maaf jika menganggumu, nona." Dahi Sasuke berkedut ketika mendengar kata 'nona' yang ditinjukan untuknya. Andai saja ia sedang menjadi seorang 'Uchiha Sasuke' pasti ia akan memberikan bogem mentah pada orang di sampingnya itu. Sayangnya kini ia hanyalah seorang 'Satsuki'.

Naruto mulai mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang berada di samping tempat duduknya. Mata shapirnya mulai memperhatikan lapangan yang mulai dipenuhi oleh beberapa anak yang akan melakukan kegiatan olahraga. Namun pandangannya tertuju kepada pemuda berambut merah bata yang tengah membawa sebuah bola voli di tangannya.

"Uzumaki-san? Bisakah kau memperhatikan pelajaran?" Naruto menoleh ke arah Kakashi yang sedang mengajar di depan.

"Baiklah, Kakashi-sensei!" Naruto tersenyum lebar. Membuat seluruh penghuni kelas memandangnya. Namun, Sasuke dan beberapa anak laki-laki sama sekali tidak peduli dengan hal itu.

Naruto mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, dan mulai menulis beberapa rumus tersebut dengan malas.

"Ne, Satsuki pindahan darimana?" tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia pegang.

"Suna."

"Benarkah? Lalu sekarang kau tinggal dimana?"

"Apartemen." Jawab Sasuke lancar. Ia memang sudah menyiapkan jawaban untuk beberapa pertanyaan yang ia rasa akan ditanyakan oleh teman-teman barunya.

Naruto mengangguk mengerti. Lalu ia mulai berkonsentrasi dengan pelajaran.

KRING! KRINGGG!

Para siswa tersenyum senang ketika bel istirahat berbunyi. Banyak di antara mereka yang segera bergegas keluar ketika Kakashi meninggalkan kelas.

"Tidak keluar, Satsuki?" Naruto menepuk pundak Satsuki lalu mulai berdiri. Sasuke menggeleng, "Kalau begitu aku duluan ya," Naruto mulai berjalan meninggalkan kelas.

"Membosankan," Sasuke mulai mempermainkan beberapa helai rambut panjangnya, "Benar-benar brengsek si Itachi itu," guman Sasuke, "Akan ku balas perbuatannya nanti!"

Seorang wanita berambut merah panjang mulai berjalan ke arah Sasuke dengan angkuh, "Sudah puas kau menggoda Naruto, heh?" bentak gadis itu sembari melipat kedua tangannya. Sasuke hanya diam dan menghela nafas, "Jawab pertanyaanku!"

Sasuke hanya diam dan tetap mempermainkan rambutnya –bukan, lebih tepatnya rambut palsunya.

BRAKKK!

Gadis itu menggebrak meja dengan kakinya. Semua mata yang berada di dalam kelas memandang kelakuan gadis bernama Karin dengan sebuah senyum tipis.

Seorang gadis berambut pirang berjalan mendekati Karin, "Sepertinya murid baru ini, perlu diberi sedikit penyambutan," sebuah seringaian bertengger manis di sudut bibir Ino. Tangannya mulai membuka sebotol air.

BYUUR.

Ino tersenyum manis sembari menyiramkan seluruh air yang berada di dalam botol ke kepala Sasuke.

Rahang Sasuke mengeras dan wajahnya menggambarkan kemarahan yang sangat besar. Sasuke mulai berdiri dan mencoba menyingkir dari tempat ini. Namun tangan Karin terlebih dulu menahan kedua pundak Sasuke, "Mau kemana?" sebuah seringaian tergambar jelas di wajah Karin ketika melihat urat kemarahan di wajah Sasuke.

Tapi mengingat bahwa Sasuke adalah seorang lelaki tulen, ia dapat dengan mudah melepaskan diri dari Karin, "Permisi." Kata Sasuke datar kemudian keluar meninggalkan kelas.

Semua penghuni kelas tertawa ketika pertunjukan tersebut telah selesai. Namun mereka semua tahu jika pertunjukan sebenarnya baru saja dimulai.

'Brengsek!" umpat Sasuke dalam hati.

Sebenarnya ia bisa saja menghajar semua anak perempuan itu. Namun lagi-lagi karena alasan penyamaran, Sasuke tidak dapat berbuat banyak. Walau ia tidak pernah menyamar menjadi seorang perempuan, tapi ia sadar betul jika seseorang perempuan tidak akan pernah menghajar seseorang. Dan itu sedikit membuat Sasuke frustasi, karena ia harus terus bersabar.

Dan jangan menganggap jika bersabar itu hal yang mudah bagi Sasuke. Selama ini, orang-orang di sekitar Sasuke harus bersabar menghadapi Sasuke. Tapi ini, ia harus bersabar untuk orang lain.

Sasuke berjalan di koridor sekolah. Dan ia dapat merasakan bahwa semua pasang mata yang ada di sana memandangnya aneh. Entah karena pakaian Sasuke yang basah atau karena hal lain, Sasuke sama sekali tidak peduli. Yang jelas sekarang Sasuke sekarang sedang menuju halaman belakang sekolah. Tujuannya hanya untuk menenangkan diri sejenak sembari mengeringkan rambut serta pakaiannya yang basah. Menurut data yang telah Sasuke cari, halaman belakang itu kurang diminati oleh anak-anak. Entah apa alasannya, yang pasti tempat itu sepi dan Sasuke sangat menyukainya. Sasuke memang sangat menyukai tempat sepi.

Sasuke mulai berjalan ke arah taman belakang. Dan seperti yang sudah disebutkan tadi, taman itu kosong. Mata oniks Sasuke mulai menyapu taman belakang tersebut. Menurutnya, taman ini sangat rindang. Banyak pohon besar serta berbagai tanaman yang ada di sini.

Sasuke menyeret langkahnya dan mendekati sebuah pohon yang cukup rindang. Ia menghela nafas panjang dan mulai duduk di bawah pohon itu. Tangan pucatnya mengambil sebuah cermin yang telah ia siapkan di saku sekolah.

Mata oniks itu memandang pantulan dirinya di cermin.

Menyedihkan.

Itulah kata yang terlintas di benak Sasuke ketika ia melihat pantulan dirinya di cermin. Rambut palsunya yang tadi sudah tertata rapi, kini basah dan berantakan. Rasanya sangat risih. Memakai rambut palsu yang rapi dan kering saja rasanya sangat menyusahkan apalagi sekarang?

Sasuke menghela nafas panjang, lalu dengan perlahan ia mencoba menyisir kembali rambut palsunya dengan beberapa jarinya. Sedikit kesal juga karena sangat sulit mengatur rambut ini hanya dengan jari.

Kesal.

Sasuke melemparkan cerminnya entah kemana. Ia tidak peduli cermin itu mau hilang atau rusak. Yang ia pedulikan sekarang hanya keadaannya yang makin memprihatinkan. Setelah kalah dari Itachi dan mendapatkan perlakuan istimewa dari siswi sekolah, kini ia harus bersabar menahan panas dan risih akibat pakaian dan rambut palsu yang basah.

DEG.

Sasuke menurunkan pandangannya ketika ia merasakan sesuatu telah berada di pahanya.

Kuning.

Hampir saja Sasuke berteriak. Namun ia mengurungkan niatnya ketika memperhatikan baik-baik benda err maksudnya orang yang dengan seenaknya menjadikan bagian tubuhnya sebagai bantal.

"Naruto?" Naruto menggeser kepalanya ketika mendengar sebuah suara yang cukup familiar. Dan akhirnya mata merah darah itu sedikit tersihir oleh pesona shapir yang telah membuat tubuhnya sedikit membeku.

"Sebentar saja, ya." Pinta Naruto kemudian membalikan kepalanya kembali memandang ke depan.

Sasuke yang sudah tersadar hanya menghela nafas kecil. Ia tersenyum sangat tipis ketika mendengar dengkuran kecil yang dikeluarkan oleh Naruto. Walau ia tidak dapat melihat wajah Naruto yang tertidur ia dapat merasakan jika pemuda yang satu ini telah tertidur.

'Belum puas juga ia tidur?' batin Sasuke sembari mengingat Naruto yang tertidur di kelas.

Perlahan Sasuke memberanikan diri untuk menyentuh rambut Naruto. Rasanya bosan juga hanya memperhatikan Naruto tertidur. Jadi tidak salah 'kan jika Sasuke melakukan hal yang lain?

Sepertinya Sasuke harus mengakui jika rambut pemuda di bawahnya itu sangat halus. Padahal waktu pertama kali melihatnya ia mengira jika rambut berantakan itu pasti kasar.

Sasuke mulai menyentuh poni Naruto, dan tepat saat itu juga ia merasakan jika tangan Naruto menarik tangannya.

Kaget?

Jangan ditanya!

"A-apa?"

Naruto tersenyum kecil, "Tanganmu halus," Sasuke menghela nafas. Ia pikir Naruto akan marah atau melakukan hal lain yang dapat menghancurkan penyamarannya.

Naruto melepaskan tangan Sasuke kemudian bangkit. Ia mulai membalikan tubuhnya dan merangkak, mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke.

Jarak wajah mereka hanya berkisar lima centi. Dan dengan jarak sedekat itu, baik Sasuke maupun Naruto dapat merasakan hembusan nafas hangat seseorang di hadapannya. Sontak hal itu membuat wajah Sasuke sedikit memucat. Pasalanya orang yang ada di hadapannya ini adalah laki-laki! Jika perempuan mungkin Sasuke akan menunjukan sikap biasa saja atau memasang wajah datar.

Mungkin perlu digaris bawahi bahwa Sasuke itu masih normal. Sekali lagi, MASIH NORMAL! Ia masih tertarik dengan wanita yang bertubuh seksi. Walau ia tidak pernah menunjukan ketertarikannya ia masih bisa pastikan bahwa dirinya masih normal.

Sementara itu Naruto justru merasakan hal yang berbeda dari Sasuke. Ia tersenyum kecil ketika melihat wajah Sasuke dari jarak sedekat ini. Matanya memperhatikan baik-baik gadis di hadapannya tersebut. Wajah halus serta putih itu seperti menyihir otaknya untuk semakin mengeliminasi jarak.

Wajah Sasuke semakin memucat ketika Naruto mendekatkan lagi wajahnya. Tunggu! Seperti yang sudah dijelaskan Sasuke itu masih normal, jadi jangan salahkan dia jika ia bersikap seperti itu. Salahkan saja Naruto yang terus mendekat.

CUP.

Naruto mengunci mulut Sasuke. Sontak Sasuke membulatkan matanya.

Otak jenius Sasuke mencoba mencerna kembali kejadian yang tengah ia alami. Dan ketika ia sudah berhasil mencerna hal itu. Ia menutup kelopak matanya dan...

BUGH!

Sebuah pukulan berhasil Sasuke layangkan ke perut Naruto. Membuat pemuda berambut kuning itu melepaskan ciumannya dan memundurkan kepalanya.

Sasuke kembali membuka kelopak matanya dan memberikan 'death glare' terbaiknya untuk Naruto. Ia mulai berdiri dan menepuk bagian belakang rok yang ia kenakan, "Jangan seenaknya!" bentaknya, lalu pergi meninggalkan Naruto yang masih terduduk di tanah.

Sasuke berjalan meninggalkan Naruto dengan segudang kemarahan. Ia sungguh tidak menyangka jika Naruto akan menciumnya. Mengambil 'first kiss'-nya! Jika yang melakukan hal itu perempuan, mungkin Sasuke akan memberikan sedikit toleransi. Tapi kali ini berbeda, 'first kiss'-nya telah diambil oleh seorang lelaki! Mungkin ini adalah hari tersial yang pernah dialami oleh Uchiha Sasuke sepanjang hidupnya.

'Naruto brengsek, berani sekali dia menciumku!' batin Sasuke kesal. Tangannya mulai mengepal kencang dan aura hitam perlahan-lahan menyelubungi dirinya. Mungkin, jika ada seseorang yang berani menggoda atau menjailinya sekarang ia tidak lagi segan-segan untuk memukulnya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan penyamaran atau sebagainya.

Sebuah senyum menghiasi bibir Naruto. Perlahan tangannya mulai memegangi kembali perutnya yang telah terkena pukulan Sasuke, "Mirip," guman Naruto kemudian merebahkan dirinya di tanah. Mata shapir itu mulai memandang warna langit yang bersih tanpa awan, "Jika semirip ini, kau seperti menarikku!" Naruto tersenyum lebar.

"Mau kau apakan benda itu?" tanya seorang gadis berambut coklat pendek.

"Akan aku buang," seorang gadis berambut merah tomat tersenyum sinis sembari memandang sebuah tas berwarna hitam di tangannya, "Benda menjijikan seperti ini lebih cocok jika ditaruh di tempat ini." Gadis itu mulai membuka tas yang dibawanya dan membuang seluruh isinya di tempat sampah.

Buk.

Ia membuang tas berwarna hitam tersebut setelah membuang isinya ke dalam tong sampah.

"Wah, bagaimana rekasinya jika mengetahui hal seperti ini ya?"

"Kita lihat saja nanti di kelas, aku yakin akan menjadi tontonan yang menarik, bukan begitu Matsuri?"

"Iya, aku rasa juga begitu, Tayuya." Gadis bernama Matsuri itu tersenyum kecil.

"Kalian memang tidak punya jiwa seni." Komentar pemuda berambut hitam dengan kulit pucat.

"Berisik saja kau, Sai." Ujar wanita berambut pirang panjang.

"Lebih baik kau membantu kami 'mewarnai' bangku gadis jelek itu," kata Karin sinis dengan memberi penakanan pada kata mewarnai.

"Boleh saja," Sai mulai mengambil sebuah cat berwarna hitam pekat dan membukanya, "Tapi jangan salahkan aku jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginanmu." Ia tersenyum tipis. Kemudian menumpahkan cat yang ada di genggamannya ke sebuah kursi tanpa menggunakan kuas –seperti yang dilakukan Karin.

"Kau memang punya jiwa seni yang tinggi." Sai tersenyum ketika mendengar perkataan Ino.

"Tapi apa ini tidak berlebihan?" Karin menoleh ke arah pemuda berambut coklat dengan segitiga terbalik di masing-masing pipinya, "Ini 'kan hari pertamanya." Ia menyeringai kecil ketika melihat sebuah bangku yang telah dilukis abstrak oleh ketiga temannya.

"Aku rasa ini tidak berlebihan," Karin melipat kedua tangannya di depan dada, "Karena hal yang lebih besar akan aku lakukan besok." Sebuah seringaian tergambar jelas di wajahnya.

.

.

Sasuke berjalan di koridor sekolah. Dan saat ia sampai di depan pintu kelasnya, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Ia mendekat ke arah tong sampah yang tidak begitu jauh dari pintu kelas. Matanya sedikit membulat ketika melihat tasnya yang sudah tergeletak di dalam tong sampah.

Rahangnya kembali mengeras. Ingin sekali ia menemukan orang yang telah melakukan hal ini padanya dan menghajarnya.

Perlahan Sasuke mulai mengambil tasnya. Namun sebuah tangan menghalanginya.

"Biar aku saja," Sasuke memandang seorang pemuda berambut kuning yang tengah memengang pergelangan tangannya.

Naruto mulai melepaskan gengamannya dan menghela nafas. Ia mulai mengambil tas Sasuke dan memasukan barang-barangnya yang tergeletak di tong sampah. Untung saja tong sampah ini tidak terlalu kotor, sehingga Naruto tidak terlalu jijik. Lagipula dengan demikian, barang-barang Sasuke juga tidak semuanya kotor.

Hal yang Naruto lakukan itu tentu saja menarik perhatian banyak orang yang tengah berada di koridor. Mereka menatap Naruto dengan pandangan-pandangan yang berbeda. Tapi yang jelas, mereka memberikan tatapan kesal kepada Sasuke. Namun sepertinya Sasuke sudah mulai terbiasa dengan tatapan tersebut. Buktinya ia menghiraukan semua tatapan itu.

"Maaf, ada beberapa barang yang terlalu kotor, jadi aku tidak mengambilnya. Kau tidak keberatan kan?" Sasuke menggeleng kecil. Lalu mengambil tasnya yang berada di tangan Naruto.

Tidak ada kata 'terimakasih' yang terucap dari bibir Sasuke. Bukannya ia tidak tahu terimakasih atau apa. Namun kejadian di taman belakang beberapa menit lalu masih membuat Sasuke jengkel. Tidak semudah itu ia melupakan orang yang telah mengambil 'first kiss'-nya.

Setelah mengambil tasnya. Sasuke segera masuk ke dalam kelas. Dan tatapan kesal serta cemburu –dari siswi perempuan- menyambutnya. Sementara itu Sasuke hanya memasang wajah datar mendapat perlakuan seperti itu.

Ia tidak bergerak dari tempatnya ketika mata oniksnya menyadari sesuatu yang aneh pada bangkunya.

Menyadari bahwa Sasuke tidak berpindah tempatnya, Naruto segera menghampiri Sasuke.

"Ada apa?" tanya Naruto pelan. Tidak ada jawaban dari Sasuke, dah hal itu membuat Naruto sedikit heran. Perlahan ia edarkan pandangannya. Dan begitu pandangannya sampai pada bangku belakang, ia menghela nafas.

"Kemari," Naruto menarik tangan Sasuke. Dan pada saat itu juga Sasuke ingin melepaskan tangannya dari gengaman Naruto. Uchiha sasuke itu tidak suka dipegang sembarangan. Namun ketika ia mencoba melepaskan tangannya, tangan Naruto justru mengengam pergelangan tangan Sasuke dengan keras. Membuat Sasuke sedikit merintih.

Naruto menarik tangan Sasuke dengan paksa. Ia mulai berjalan ke arah bangkunya, "Kau duduk di bangku-ku," ucap Naruto.

Sasuke sedikit memincingkan matanya ketika mendengar perkataan Naruto. Ia tidak habis pikir apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pemuda berambut kuning ini. Entahlah, baru pertama kali ia bertemu dengan pemuda yang aneh seperti dia.

"Aku akan mengambil bangku baru. Kau tetap di sini, jangan kemana-mana, mengerti?" Sasuke mengangguk kecil. Ia sedikit terkejut ketika melihat sedikit kemarahan di mata shapir itu.

Sasuke mulai duduk di bangku Naruto. Sementara itu Naruto mulai berjalan meninggalkan kelas.

'Kenapa dia mau melakukan semua ini?' batin Sasuke sembari menatap punggung Naruto yang semakin menjauh dari pandangannya.

Tayuya yang melihat hal tersebut menjadi kesal. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju bangku Sasuke. Namun baru beberapa langkah, seseorang menarik tangannya. Refleks Tayuya berbalik dan menatap kesal seorang pemuda berambut coklat panjang, "Mau apa kau, Hyuuga?" Tayuya menatap pemuda tersebut dengan tatapan tajam.

Neji hanya menghela nafas kemudian menatap balik Tayuya dengan tatapan tak kalah tajam, "Jangan ganggu gadis itu," Tayuya membulatkan matanya mendengar perkataan Neji, "Lebih baik kau duduk di tempatmu." Neji melepaskan gengaman tangannya.

"Oh yeah," Ino mendekat ke arah Neji dan Tayuya, "Setelah menggoda Naruto, kau juga menggoda Neji, luar biasa," Ino melipat kedua tangannya di dada, "Memangnya apa yang dia berikan hingga kau membelanya, tuan Hyuuga yang terhormat?" dari sudut matanya Ino menatap sinis Sasuke. Sementara itu Sasuke membalasnya dengan death glare andalanya.

Neji tersenyum tipis, "Dia tidak memberiku apa-apa," Ino menoleh ke arah Neji. Kemudian memandang pemuda tersebut dengan tatapan meremehkan, "Aku menyukainya, jadi apa salahnya jika aku membelanya?" Neji tersenyum kecut ketika mengucapkan hal tersebut.

Sasuke yang mendengar hal itu membulatkan matanya.

'A-apa-apaan ini? Aku ini laki-laki!' batin Sasuke tidak percaya.

Sementara itu Tayuya, Ino dan hampir semua siswa yang berada di kelas tersenyum tipis ketika mendengar pengakuan Neji. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Kiba dan Sai yang justru menatap tajam Neji. Sai yang biasanya memasang wajah datar-pun kali ini menunjukan wajah kesalnya.

Kiba mulai berdiri dan menghampiri Neji, "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Hyuuga." Kata Kiba lalu berjalan keluar ruangan. Neji menelan ludahnya kemudian mengikuti langkah Kiba.

"Mau kemana kalian?" tanya Naruto saat melihat kedua temannya berjalan di arah koridor.

"Kami ada urusan sebentar." Kata kiba datar lalu berjalan melewati Naruto begitu saja, sementara Neji hanya bisa mengekor di belakang Kiba.

.

.

Naruto pov

Aku meletakan kursi yang telah aku bawa ke sebelah Satsuki dan mulai duduk di sana. Dari ekor mataku aku bisa melihat ekspresi kesal di wajahnya. Kenapa ya? Apa dia masih marah dengan kejadian tadi?

Aku menoleh dan melihatnya dari samping. Jika benar ia masih marah dengan hal itu, sebaiknya aku minta maaf secapatnya. Tidak enak juga membuat Satsuki marah di hari pertamanya sekolah.

"Maafkan aku atas kejadian tadi ya," Satsuki menoleh, dan memandangku kesal. Ah aku suka hal ini, Satsuki mengingatkanku pada 'dia' yang selalu menatapku kesal.

Aku hanya tersenyum lebar, dan ia hanya menghela nafas, "Kau mengambil yang pertama, bodoh." Katanya ketus, membuatku memajukan bibirku. Jika boleh jujur, menurutku Satsuki adalah orang yang sangat menyebalkan. Oke aku memang sifatnya sedikit mirip dengan 'dia' tapi setidaknya 'dia' bisa menunjukan sisi manisnya sebagai seorang perempuan. Sedangkan Satsuki? Aku rasa ia tidak pernah menunjukan sisi manisnya sama sekali. Aku jadi sering berfikiran jika Satsuki bukanlah seorang perempuan.

Tapi aku segera menepis pemikiran itu, mana mungkin ada seorang pria yang mau mengenakan pakaian perempuan?

Lagipula ini baru pertama kalinya aku diperlakukan kelewat dingin oleh wanita. Bukannya sombong atau sebagainya, tapi semenjak aku memenangkan pertandingan basket antar sekolah beberapa bulan yang lalu. Aku bisa dikatakan sedikit popular di kalangan wanita. Dan lagi aku sering mendengar banyak fans club untukku yang berdiri di sekolah ini.

Sebenarnya aku sedikit risih dengan hal itu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak bisa dengan seenaknya meminta si 'pendiri' untuk membubarkan segala bentuk Fans Club.

Tunggu, tadi dia bilang, 'kau mengambil yang pertama.'

Ja-jadi ciuman tadi?

Aku mengacak-acak rambutku. Ciuman pertama baginya. Pantas saja ia marah. Astaga kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini ya? Padahal aku tidak pernah merasa seperti ini bila mengambil 'first kiss' seorang gadis. Oke mungkin kali ini keadaannya berbeda. Maksudku, biasanya aku mengambil ciuman pertama orang yang menyukaiku. Tapi sekarang err- sepertinya dia tidak menyukaiku.

"Maafkan aku Satsuki," kataku pelan.

"Hn." Dia menoleh ke arah jendela.

Sementara aku mulai membenamkan kepalaku ke kedua tangan yang aku letakan di meja sebagai alas, "Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu," tubuhku sedikit bergetar ketika mengucapkan hal tersebut.

Memang benar aku tidak pernah bermaksud untuk melakukan hal tersebut. Aku melakukannya karena aku melihat wajahnya saat melihat wajah Satsuki. Jadi mungkin jika aku bisa berkata sejujur-jujurnya waktu kejadian itu, aku berfikir tengah mencium 'dia' bukan Satsuki.

Dan aku sangat yakin jika Satsuki akan semakin marah jika aku mengatakan alasanku yang sesungguhnya. Jadi mungkin akan lebih baik aku tidak menceritakannya.

.

.

Sasuke Pov

Hari yang terkutuk.

Itulah yang dapat aku simpulkan. Aku tidak habis pikir hari pertam sekolah yang menurut orang-orang menyenangkan ternyata sangat menyebalkan –bagiku. Pasalnya hari ini aku sudah mengalami hal-hal yang menyebalkan.

Pertama.

Aku berhasil dijahili oleh anak-anak. Dan itu adalah hal menyebalkan sekaligus memalukan. Ini memang pertama kalinya aku dikerjai oleh orang luar. Lalu yang membuatku marah adalah karena aku tidak bisa membalas perbuatan mereka dalam waktu dekat!

Kedua.

Seorang pemuda –yang amat-amat menyebalkan, bagiku- sudah berhasil mengambil ciuman pertama. Sungguh, saat itu aku ingin sekali menghajarnya habis-habisan saat ini.

Ketiga.

Seorang pemuda telah mengatakan pernyataan cinta padaku. Entahlah aku tidak bisa berfikir itu pernyataan langsung atau tidak. Yang pasti hal itu sudah bisa membuatku sedikit mengalami serangan jantung mendadak.

Aku rasa hari ini mirip sekali cerita di dongeng-dongeng –yang menurutku terlalu mengada-ada.

"Aku akan sekelompok dengan Satsuki." Aku segera menoleh ke arah Naruto.

"Ya Naruto kau akan sekelompok dengan dia." Kini aku menoleh ke arah depan dan sejak kapan ada guru di depan kelas?

"Sangkyu Kurenai-sensei."

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku ketus.

"Aku hanya meminta izin pada Kurenai-sensei untuk bisa sekelompok denganmu." Ia menyunggingkan senyum yang membuatku muak.

Mungkin harus aku tulis di dalam note, jika melamun bisa membawamu ke ambang neraka!

.

.

Normal Pov

"Kau menyukai, Satsuki?" tanya Kiba dengan nada datar yang ditanggapi oleh sebuah anggukan dari Neji, "Lalu bagaimana perasaanmu terhadap Gaara?" Kiba memandang Neji tajam.

"Aku sudah tidak menyukainya," Neji menelan ludahnya ketika mengucapkan hal tersebut.

Mendengar hal, Kiba mendekat ke arah Neji kemudian mencengkram kedua kerahnya, "Ka-kau!" kilat kemarahan terlihat jelas di sorot mata Kiba, "Kau mau mempermainkan perasaan Gaara?"

.

.

"Benar, kau tidak mau aku antar?" tanya Naruto sembari mencoba berjalan sejajar dengan Sasuke.

"Tidak." Jawab Sasuke dingin.

Naruto menghela nafas pendek, "Kalau begitu, untuk tugas musik itu, kita latihan besok ya," Naruto menoleh ke arah Sasuke.

"Hn."

"Itu artinya iya atau tidak?" tanya Naruto bingung.

"Ya."

Naruto hanya menghela nafas melihat tingkah Sasuke.

TBC


Oke, NEXT!