.
.
.
.
Will You Be My Husband?
.
.
.
Pair: Haehyuk
Rate: T
Warning: GS/Romance/Humor(sedikit)
Summary: Sungguh, janji itu terucap dua puluh tahun yang lalu saat Donghae baru berumur tujuh tahun, ingusan dan polos tak tertolong. Jadi normal bukan jika ia kebingungan saat tiba-tiba wanita ini menagih janjinya, minta dinikahi olehnya.
.
.
.
Saran sih, coba baca sambil dengerin Meghan Trainor "Dear Future Husband"
.
.
Donghae yakin, sangat yakin bahwa matanya masih normal. Tidak min ataupun plus apalagi rabun senja. Jadi kenapa sekarang ia melihat seorang gadis yang biasanya ada di televisi kini malah ada di hadapannya. Iris Donghae melihat telivsi yang menyala menampilkan sebuah drama percintaan yang sedang populer, lalu kembali melirik gadis yang duduk menghadapnya dan membalakangi televisi.
Donghae bersumpah wanita di televisi itu dan wanita di hadapannya itu mirip. Sangat mirip malah. Mungkin malah sama.
Tunggu dulu, tunggu dulu. Kalo sama berarti wanita di depannya ini Lee Hyukjae, begitu?
Annya! Mana mungkin!
"Donghae."
Namja itu mendongak.
Ya, Tuhan.
Tubuh Donghae nyaris terlonjak saat mendapati wanita cantik itu sudah duduk tepat di sampingnya. Sejak kapan ia ada disitu? Setahu Donghae wanita itu masih duduk di kursi seberang tadi. Wanita itu tersenyum begitu lebar sambil menggeser tubuhnya mendekati Donghae, membuat namja itu reflek mundur menjauhinya.
Hyukjae cemberut. Ia mendekati Donghae lagi kali ini hingga memojokkan Donghae di ujung sofa, membuat namja itu menelan ludahnya. Bahkan senyum cantik Hyukjae terlihat menakutkan sekarang. Wanita itu mendekatkan wajahnya pada laki-laki di depannya.
"Hae~"
Tubuh Donghae langsung merinding. Ini bukan pertama kalinya ia dipanggil seperti itu, tapi sungguh ini panggilan termanis yang pernah ditangkap telinganya. Membuat sendinya serasa linu dan lemas.
"Donghae, bogoshipo!" Dengan cepat Donghae bangkit menghindari kedua tangn kurus itu untuk memeluknya kembali. Donghae tidak sanggup jika harus berkotak fisik dengan wanita ini, lagi. rasanya aneh, saat kulit mereka bertemu Donghae merasakan sengatan listrik yang aneh.
Hyukjae kembali cemberut.
"Aaaah wae, kau tak merindukanku?" Hyukjae merengek sambil sedikit mengoyangkan kakinya yang mulus.
Donghae? bengong.
Daya tarik wanita di depannya ini tak main-main. Rengekannya bahkan lebih imut dari keponakannya yang berumur 3 tahun. Bagaimana ia melakukannya?
"Cha-chakaman!"Seru Donghae saat Hyukjae akan beranjak menghampirinya, tangannya terulut memberi isyarat untuk Hyukjae diam ditempatnya. Untungnya wanita itu menurut.
Sambil menenangkan detak jantunya yang berdebar keras Donghae mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa begitu kering sebelum membuka suara.
"Hyukjae-shi?"
"Ne! Hyukkie!"
"Lee Hyukjae?"
"Ne! Hyukkie. Aku Hyukkie." Tekan Hyukjae ketara sekali ia ingin Donghae memangilnya dengan"Hyukkie".
Oh bagus dia benar-benar Lee Hyukjae. Lee Hyukjae yang ada di televisi. Tangan Donghae mulai terasa dingin. Iris cokelat Donghae mengedar, melihat di setiap sudut ruangan dengan teliti.
Apa aku masuk acara reality show, atau apa begitu? Itu yang dipikirkan Donghae sambil mencari benda bernama kamera di sekitarnya meski nihil.
"Hae, apa yang kau cari? Aku disini."
Donghae tersadar lalu kembali melihat wanita cantik di depannya. Ia merasakan keringat yang mulai menetes di pelipisnya akibat dari menahan emosi sejak tadi. Donghae memang tak mudah panik, terlihat tenang diluar meski didalam pikirannya sekarang seperti sedang terjadi kebakaran.
Demi Tuhan, artis sekelas Lee Hyukjae sedang ada di rumahnya.
Seluruh laki-laki di Korea juga akan bingung menghadapinya.
"Hyu-Hyukjae-shi, se-sedang apa kau... kau di depan rumahku?" Donghae bahkan tak bisa berkata dengan benar saat iris hitam mempesona itu bertubrukan dengannya. Daya tarik wanita ini, benar-benar.
"Tentu saja untuk bertemu denganmu."Jawaban itu membuat Donghae merasa wajahnya memanas, jangan bilang ia tersipu. Berfikir realistis Donghae! Realistis!
"Untuk apa kau ingin bertemu denganku?"
Kali ini Hyukjae tak langsung menjawab, justru melihat Donghae dengan keheranan. Seakan apa yang dikatan Donghae barusan adalah hal paling ganjil sedunia. Meski wajahnya terlihat makin imut seperti itu.
Plak! Fokus Donghae! Fokus!
"Aku menemuimu sesuai janji."
Donghae mengernyit. Janji?
"Aku menemuimu..." Senyum Hyukjae merekah tiba-tiba.
" ... tentu saja untuk menikah."
Hah? Donghae bengong sejenak sebelum kembali tersadar lalu menghirup nafas dalam-dalam.
Jangan panik Donghae! Jangan panik dan tetap tenang.
"Tapi Hyukjae-shi rumahku tidak menyediakan jasa perkawinan. Bicaralah pada calon suamimu untuk mencari gereja di dekat sini saja."
Tatapan heran (imut) itu kembali Hyukjae layangkan.
"Hae, kau ini bicara apa? Calon suamiku itu kan kau."
Hening
Masih hening.
"Jadi kapan kita menikah, Hae-yah~?"
.
.
.
DOK DOK DOK
"Iya, sebentar!"
Hankyung berjalan ke pintu depan rumahnya dengan sedikit kesal karena ketukan brutal dari tamu yang entah siapa. Dan ia sangat terkejut saat begitu pintu terbuka tiba-tiba saja sesosok tubuh menempel padanya.
"Hyung! Tolong aku Hyung, ada wanita gila di rumahku! Tolong hyung!"
Itu Donghae, memeluknya begitu erat dengan wajah pucat serta keringat dingin di wajahnya. Ekpresinya persis seperti habis melihat hantu atau sesuatu. Memeluk Hankyung begitu erat hingga membuat lelaki satu anak itu tak bisa bergerak.
"Donghae-yah, tenanglah sedikit. Kau ini kenapa? Habis dikejar hantu?"
"Bukan hantu, Hyung! Tapi wanita gila! Wanita gila itu ada di rumahku!" Seru Donghae sambil menunjuk-nunjuk rumahnya sendiri.
"Wanita gila?"
"Ne. Lee Hyukjae Hyung, wanita itu tiba-tiba saja seperti keluar dari televisi dan tiba-tiba ada di rumahku. Mengajakku menikah begitu saja seperti orang gila! Dan bla bla bla..."
Hankyung hanya bengong sambil mengerjap mendengar cerita Donghae yang amburadul. Namja yang lebih muda darinya itu sudah tidak peduli dengan penjedaan kalimat, terus saja berbicara seperti kereta api. Dan dari seluruh penjelasan Donghae tadi yang ia tangkap adalah Donghae melihat hantu wanita gila yang keluar dari televisi yang diperankan artis Lee Hyukjae, dan hantu itu mengajaknya menikah.
"Donghae-yah." Sela Hankyung membuat Donghae diam meski ekpresi paniknya masih terlihat jelas.
"Kau itu tinggal sendiri, seharusnya kau tidak menonton film horor sendirian malam-malam begini. Lihat sekarang, ketakutan seperti itu. Semua yang kau lihat di film itu tak nyata,hanya pura-pura jadi tenanglah." Jelasnya sambil menepuk-nepuk pundak Donghae.
"Tapi Hyung-"
"Iya, aku tahu perasaanmu. Kau tahu, kau persis seperti Taemin saat menonton film horor. Berteriak-teriak mengira bahwa itu adalah nyata padahal jelas-jelas itu hanya bohongan"
"Tapi-"
"Sekarang pulanglah. Mandi dan tidur. Semuanya baik-baik saja. Kau harus bekerjakan besok?" Hankyung membimbim Donghae keluar rumahnya lalu mendorongnya agar pulang.
"Sana, kaukan namja masa takut dengan hantu hahaha."
Hankyung langsung masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya rapat, tak peduli pada Donghae yang kembali menggedor pintunya.
"Sayang, apa Lee Hyukjae bermain di film horor juga?" Seru Hankyung pada istrinya yang ada di dapur.
"Tidak tahu. Kenapa? Aku kurang cantik? Kau mau melihat yang lain, hah!"
"Annya, sayang bukan begitu! Sayang kau salah paham! Sayang tunggu!"
Tinggalkan suami istri itu dan kembali pada Donghae yang masih berdiam diri di depan rumah Hankyung. Ia sudah tak lagi menggedor pintu rumah tetangganya karena percumah, tetangganya yang aneh itu tak bisa diandalkan. Sesekali iris cokelatnya akan melihat rumahnya. Sekarang Donghae harus menghadapi masalah ini sendiri.
Seperti yang Donghae sudah bahas tadi. Di rumahnya sekarang ada wanita gila bernama Lee Hyukjae yang mengajaknya menikah. Bisa kau bayangkan?!
Menikah.
Ugh, kepala Donghae serasa mau pecah. Bertemu saja baru tadi dan gadis itu tiba-tiba minta ia nikahi tanpa alasan. Wanita itu benar-benar sudah gila. Apakah ini karma karena Donghae sering mengabaikan ucapan ibunya? Ibu maafkan aku.
Suatu keajaiban Donghae bisa melarikan diri dari wanita itu tadi. Meski harus sedikit kucing-kucingan dan memakai sejuta kebohongan. Otaknya memproses segala hal yang terjadi, ia sempat mengira wanita itu Lee Hyukjae palsu atau mungkin ini hanya jebakan sebuah acara stasiun TV tapi hal itu sama sekali tak membantu. Wanita itu tetap saja ada dirumahnya, kan.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?!
Donghae mondar-mandir dengan pikiran buntu. Sesekali ia akan berjongkok atau bersandar di tembok, atau pose lain yang menunjukkan bahwa ia sedang frustasi.
"Aku bisa ikut gila jika begini!" Gumannya.
Cukup lama Donghae terpuruk sekitar satu setengah jam sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk ke rumahnya. Selain karena udara di luar yang semakin menusuk, dia juga berencana mengusir wanita gila itu dari rumahnya.
Dengan mengendap-endap Donghae memasuki rumahnya, ia sempat waspada saat melewati ruang tamu. Tempat ia meninggalkan Hyukjae tadi, namun ia terkejut saat tak mendapati sosok wanita itu di sana. Ia celingukan tapi rumahnya terasa hening.
Apa gadis itu sudah pergi?
Tapi Donghae jelas tahu bahwa tak ada orang yang keluar dari rumahnya tadi. Atau jangan-jangan, mata Donghae melebar sebelum berlari kelantai atas. Begitu ia membuka pintu kamarnya, ia disuguhi pemandangan malaikat tidur di depannya. Perlahan Donghae berjalan mendekati ranjangnya.
Hyukjae tertidur. Diranjangnya. Berbalut piyama Donghae yang kebesaran dan bergelung selimut seperti kepompong. Rambut gadis itu terlihat sedikit basah menandakan ia baru saja mandi tadi. Gadis itu tertidur begitu pulas mengingatkan Donghae dengan tokoh Sleeping Beauty. Laki-laki itu menghela nafas.
Bagaimana cara Donghae mengusirnya jika seperti ini?
Mungkin besok saja.
Donghae berjalan lesu menuju lemarinya membawa baju ganti sebelum masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Ia belum sempat mandi sejak pulang bekerja tadi. Kehadiran wanita bernama Lee Hyukjae itu merenggut segala perhatiannya, dari pandangan negatif tentu saja.
Selesai mandi Donghae kembali melihat Hyukjae, ia menepuk keningnya.
Dimana ia akan tidur sekarang? Ranjang di rumahnya hanya satu dan itu sudah menjadi kekuasaan Hyukjae sekarang. Terpaksa ia harus tidur di sofa ruang tamu kalau begini. Tidak mungkin ia tidur dengan orang asing, lawan jenis pula.
Sebelum keluar dari kamar Donghae kembali mendekati ranjang. Ia berniat mengambil satu bantal yang bertumpuk menyangga kepala kecil Hyukjae. Serius, apa kepala gadis itu tak pegal? Pikir Donghae.
Dengan perlahan ia mencoba menarik bantal yang paling bawah tapi gagal. Bantal itu tak mungkin terambil tanpa membangunkan Hyukjae. Donghae akhirnya memakai cara lain. Satu tangannya dengan selembut mungkin mencoba mengangkat kepala wanita itu, menyangganya sejenak agar Donghae dapat mengambil satu bantai di sana. Saat kepala Hyukjae sudah sepenuhnya tersangga, Donghae mencoba mengambil satu bantal. Tapi belum sempat bantal terambil Hyukjae tiba-tiba saja bergerak dalam tidurnya membuat tangan Donghae yang meyangga kepalanya jatuh terhimpit antara kepala gadis itu dan tumpukan bantal.
Bagus, sekarang bagaimana Donghae mengeluarkan tangannya? Donghae mencoba bergerak tapi Hyukjae justru memeluk pergelangan tangannya. Menggesekkan kepalanya seperti seekor kucing yang minta perhatian.
Imut, itu yang ada di pikiran Donghae sebelum tersadar dan memukuli kepalanya sendiri. Ia kembali melihat keadaan. Dan ia sadar bahwa ia terjebak. Hyukjae memegangi tangannya begitu erat sambil bersandar, bergerak sedikit saja Hyukjae akan semakin merapat.
Alhasil akhirnya Donghae menyerah dan duduk di lantai kayu. Ia menghela nafas karena terancam tak akan bisa tidur. Iris cokelatnya kembali melihat wanita di sampinya, yang tertidur begitu pulas seperti tak memiliki dosa.
Tanpa sadar Donghae menjelajahi paras cantik itu. Melihat kulit susu yang terlihat lembut itu, bulu mata yang panjang itu, hidung yang mancung itu, serta bibir yang menggoda itu.
Benar-benar cantik, pantas dia jadi artis.
Cara wanita ini tidurpun begitu manis seperti bayi, tak ada yang menyangka jika orang ini seumuran Donghae. Terlihat begitu polos dan murni. Sulit dipercaya jika wanita ini tadi seperti orang gila mengajaknya menikah.
Donghae menyandarkan kepalanya di kasur, membuat wajahnya berhadapan langsung dengan paras cantik itu. Rasa lelah dan kantuknya membuatnya perlahan ikut tertidur, tepat di samping wanita cantik itu.
.
.
.
Saat Donghae membuka matanya ia dikejutkan oleh wajah Hyukjae yang begitu dengan dengannya. dengan tangan keduanya yang saling bertautan. Laki-laki itu begitu kaget hingga hampir terjengkang ke belakang. Hyukjae terkekeh sambil duduk di ranjang.
"Pagi, Donghae-yah." Sapanya begitu riang sebelum tersenyum kearah Donghae.
Senyum Hyukjae seperti sinar matahari di pagi hari, begitu cerah, bersinar dan meyilaukan di mata Donghae. Membuatnya terhanyut sebelum iris cokelatnya menangkap jam dinding yang menunjukan pukul 8 lebih. Donghae terbelalak.
"Astaga, aku terlambat!" Serunya heboh sambil berdiri mengagetkan Hyukjae.
Ia membuka kaosnya tanpa berfikir.
"Kyaaaa!" Seruan Hyukjae menyadarkan Donghae yang sudah setengah jalan membuka kaosnya. Ia melihat Hyukjae yang menutupi wajahnya dengan tangan.
Astaga, bodohnya kau Lee Donghae bisa-bisanya berganti baju di depan wanita asing!
Donghae segera berlari ke kamar mandi setelah mengambil setelan kerjanya tentu saja. Meninggalkan Hyukjae yang kini menepuk-nepuk pipinya yang memerah.
"Kenapa ia membuka bajunya begitu saja? Kami kan belum menikah."
Wanita itu kembali menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia sangat malu saat mengingat Donghae hampir telanjang di depannya. Sedangkan sang pelaku sendiri sekarang sedang sibuk membersihakan dirinya sesingkat mungkin. Setelah setelan rapi menempel ditubuhnya Donghae segera keluar dari kamar mandi dan diteruskan keluar kamar. Hyukjae yang menyadarinya segera mengikutinya turun ke lantai bawah. Bahkan sampai Donghae menyambar tas diruang tamu dan keluar rumah dengan pintu depan Hyukjae tetap mengikutinya. Baru setelah Donghae berlari keluar pagar Hyukjae berhenti.
"Selamat bekerja! Hati-hati dijalan!"Serunya sambil melambai pada Donghae yang berlari menuju halte.
Hyukjae tersenyum puas setelahnya, ia kembali memasuki rumah lalu berlari ke kamar dan kembali bergelung dengan selimut. Matanya menutup saat menghirup aroma yang memenuhi ranjang itu. aroma Donghae.
Sesekali ia akan berguling lalu terkikik sendiri. Hyukjae sedang bahagia. Benar-benar bahagia. Impiannya jadi nyata. Ia ada disini bersama Donghae. Seperti yang selalu ia inginkan. Seperti janji mereka dulu.
Hyukjae tersenyum saat mengingatnya. Kenangan miliknya yang paling berharga.
Namun tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Wanita itu segera beranjak dari ranjang berkekeliling rumah mencari tasnya. Setelah ketemu ia mengeluarkan ponselnya. Hyukjae sudah menganti simcardnya membuat manager dan managementnya tak bisa melacaknya, hal yang ia pelajari saat bermain disebuah drama action. Wanita itu segera menghubungi ibunya. Memintanya untuk mengirimkan barang-barangnya ke rumah Donghae. Tentu ibunya keheranan, namun setelah Hyukjae menyebut nama Donghae ibunya langsung mengerti.
"Donghae yang itu? Aigo putriku sudah dewasa sekarang. Ne Eomma mengerti, akan Eomma suruh orang untuk mengantar barang-barangmu tenang saja. Tapi jangan lupa segera hubungi Eomma jika kalian sudah menetapkan tanggal pernikahan, mengerti?"
"Ne, Eomma!" Jawab Hyukjae begitu riang.
"Dan jangan beritahu Kibum Eonni ya Eomma."
"Tentu sayang, serahkan pada Eomma. Hanya belajar jadi istri yang baik disana."
"Ne!"
.
.
.
Ruangan itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Semua orang yang ada di meja kerjanya hanya berani melirik pada wanita cantik yang duduk di sofa tengah ruangan itu. Wanita yang duduk dengan jemari yang terus menekan layar sentuh ponselnya dengan begitu emosi, mungkin sebentar lagi akan retak. Aura hitam yang menguar dari wanita itu membuat siapapun tak berani mendekat apalagi mengajak bicara. Mereka masih sayang nyawa.
Kim Kibum dengan mood buruk bukanlah hal yang baik.
Semua orang di ruangan itu tahu apa yang dihadapi wanita itu, artis yang melarikan diri bukanlah kasus yang mudah. Apa lagi mengingat berapa kontrak kerja sama yang dipertaruhkan disini untuk artis sekelas Lee Hyukjae. Bisa kalian bayangkan kerugiannya?
Ponsel wanita itu yang tiba-tiba berbunyi mengagetkan semua orang. Dapat mereka lihat Kibum yang langsung berdiri sambil mengangkat ponselnya.
"Bagaimana?"
"..."
"APA! Sudah kukatakan cari sampai ketemu, buntuti keluarganya jika perlu!"
"..."
"Aku tidak terima alasan! Dan jangan mencari alasan!"
Sang penelepon yang malang, harus menerima semprotan dari jelmaan iblis. Semua orang hanya bisa prihatin. Namun perhatian orang-orang itu teralihkan saat seseorang datang keruangan itu. seseorang yang membuat semua orang berdiri. Seseorang yang berkedudukan tinggi di perusahaan ini.
Presdir mereka. Choi Siwon
Semua orang langsung menunduk sopan kecuali Kibum yang masih sibuk memaki orang dijalur lain sekarang. Bahkan deheman secretaris Presdir mereka tak ia gubris.
"Siapa yang bertanggung jawab dengan Lee Hyukjae di sini?"
Semua orang langsung melihat Kibum saat secretaris Presdir bertanya. Lelaki muda itu lekas mendekati Kibum yang masih sibuk. Ia melirik tanpa pengenal Kibum.
"Kibum-shi, kami dengar Lee Hyukjae menghilang tanpa kabar. Bisa jelaskan pada kami seberapa buruknya masalah ini?"
Lewat. Kibum sama sekali tak mengubrisnya malah semakin keras memaki ditelefon.
"Kibum-shi saya sedang bicara dengan anda!" Tetap tak digubris.
Melihatnya, Sang Presdir ikut turun tangan. Lelaki tampan itu mendekati Kibum yang kini tak lagi menelfon tapi sedang mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kibum-shi, aku yakin situasi ini sangat serius. Bagaimana anda sebagai manager bisa kehilangan artis anda? Ini sangat tidak profesional. Har-"
"YAH! Kenapa kalian begitu berisik!"
Semua orang langsung diam. Bahkan Siwon sempat terlonjak kaget karena di sentak tiba-tiba.
"Tidak lihat aku sedang sibuk disini?! Lee Hyukjae sudah cukup merepotkan jadi jangan cari masalah denganku." Katanya dingin membuat semua orang menelan ludahnya.
Iris kelamnya metapat Siwon tiba-tiba.
"Dan kau, apa yang dilakukan seorang Presdir disini? Harusnya kau bekerja diruanganmu. Pastikan perusahaan ini tidak bangkrut. Karena jika perusahaan ini bangkrut aku juga kena imbasnya. Ck dasar." Begitu saja dan Kibum berlalu dari ruangan itu.
Meninggalkan semua orang yang tercengang melihatnya.
"Se-secretaris So."Panggil Siwon pada secretarisnya.
"Y-ye?"
"Kenapa dia begitu menyeramkan?"
.
.
.
Hyukjae berkaca, menengok kekiri kekanan sebelum berputar dengan riangnya. Begitu kagum dengan pantulan dirinya yang kini terbalut apron merah dengan tulisan namanya dan Donghae yang disatukan dengan lambang hati berwarna pink. Ditambah dengan hiasan beberapa motif strawberry mengelilinginya. Sebuah apron cantik buatan tangan Hyukjae sendiri. Barang-barangnya telah datang siang tadi beserta dengan apron impiannya ini.
Apron yang ia buat sejak lima tahun yang lalu akhirnya bisa ia pakai sekarang. Saat impiannya terwujud. Impian menjadi ibu rumah tangga.
Menjadi istri yang sempurna untuk Donghae seorang.
Wanita itu berhenti berkaca lalu melihat ke seluruh rumah sambil berkacak pinggang. Sebagai istri yang baik ia harus bisa mengurus rumah dengan baik juga. Maka dari itu Hyukjae harus bisa mengurus rumah. Wanita itu mulai dari membersihkan rumah. Ia menyalakan pembersih debu dan mulai menyedot debu. Membersihkan rumah bukanlah hal yang sulit untuknya mengingat ia merupak orang yang begitu menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian. Karena Hyukjae membenci kotor ataupun berantakan. Ia alergi dengan itu hal-hal seperti itu.
Perlu waktu hampir dua jam untuk membersihkan seluruh rumah, membuat wanita itu hampir kehabisan tenaga. Tapi ia segera ingat bahwa tugasnya masih banyak. Hyukjae segera menuju tempat mencuci di belakang. Membawa tumpukan pakaian kotor Donghae dari kamar mandi atas. Ia membuka mesin cuci lalu memasukan pakaian satu-persatu.
Ada kemeja.
Celana kain.
Jas.
Kaos.
Celana pendek.
Kaos dalam.
Celana dalam.
Hyukjae terdiam melihat benda segitiga di tangannya. Celana dalam Donghae.
Pipi wanita itu langsung bersemu merah sebelum cepat-cepat memasukan benda itu kedalam mesin cuci. Aigo, ia benar-benar malu.
Tangan pucatnya segera mengambil botol berisi cairan pembersih di dalamnya lalu menuangkannya ke dalam mesin cuci. Ia menyalakan mesin cuci tanpa melihat cairan apa yang ia campurkan ke dalam pakaian calon suaminya.
Mencuci beres. Hyukjae segera pergi ke dapur, spot yang belum terjamah olehnya sama sekali. Dengan sigap ia segera mendekati wastafel untuk mencuci piring.
Prang!
Dan entah tangannya yang terlalu mulus atau piringnya yang terlalu licin hingga jatuh kembali ke wastafel dan pecah menjadi dua. Tapi Hyukjae tak menyerah, ia terus membersihkan piring dan gelas kotor. Dan ia berhasil, meski dua piring serta satu mangguk harus gugur. Setelah mencuci piring selesai Hyukjae segera melihat jam. Hampir pukul lima.
"Donghae akan pulang sebentar lagi. Harus memasak makan malam."
Hyukjae segera mencuci beras lalu memasaknya dengan penanak nasi yang sudah otomatis. Itu mudah, bagian tersulitnya adalah masalah lauknya. Wanita itu membuka kulkas dan hanya menemukan danging dan sayur.
Jadi Hyukjae harus memasak apa? Wanita itu berfikir keras. Ia jarang memasak, masakannya tergolong enak hanya saat ia beruntung saja. Tapi ia ingin memasak untuk Donghae, ia ingin jadi istri yang sempurna.
Akhirnya Hyukjae memutuskan untuk memasak sup danging. Dan yang pertama harus dilakukan adalah merebus dangingnya hingga empuk. Hal ini butuh waktu lama karena itu Hyukjae memutuskan untuk beristirahat sebentar dengan merebahkan diri di sofa.
Ia merengangkan ototnya yang kaku. Ternyata mengurus rumah berat juga. Melelahkan memang tapi ia bahagia. Ini adalah hidup yang ia inginkan sedari dulu. Dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya wanita itu mulai memejamkan matanya. Tidur sebentar tak masalahkan.
Hyukjae tak tahu berapa lama ia tidur tapi saat ia bangun yang pertama kali wanita itu ingat adalah cuciannya, sama sekali tak ingat rebusan dangingnya yang kini sudah gosong karena air didalamnya menguap habis.
Ia mengeluarkan cuciannya, dan betapa terkejutnya Hyukjae saat seluruh pakaian Donghae luntur di beberapa bagian. Beberapa bahkan ada yang warnanya bercampuran sekarang. Dengan panik ia melihat botol cairan pembersih yang ia tuang. Matanya terbelalak. Ini bukan cairan pembersih, ini cairan pemutih.
Tapi belum sempat ia melakukan apa-apa terdengar suara nyaring dari arah dapur. Ia berlari dan betapa kagetnya ia saat melihat dapur sekarang. Semprotan air di langit-langit dapur menyela membasahi seluruh dapur. Iris cokelatnya menangkap kepulan asap dari panci yang masih betumpu di atas kompor.
Rebusan dagingnya!
Dengan panik ia mematikan kompor lalu meraih kursi makan untuk menjangkau semprotan air dilangit – langit. Tapi ia tak tahu bagaimana mematikannya. Ia hanya memukul-pukulnya dengan menggunakan spatula. Dan karena kepanikan gadis itu ia ceroboh hingga akhirnya hilang keseimbangan.
"Kyaa!"
Tubuhnya jatuh menghantam lantai dengan posisi tengkurap. Begitu keras hingga Hyukjae serasa mau pingsan. Dengan kesakitan Hyukjae mencoba bangkit namun tiba-tiba saja sesuatu yang merah menetes di depannya. Ia meraba hidungnya. Darah. Ia mimisan.
Gadis itu melihat sekeliling dapur yang basah tak karuan, masakannya gosong, cuciannya rusak dan hidungnya berdarah.
"Ottohke, ottohke."Gumannya sebelum air matanya mengalir dan disusul isakannya yang semakin menjadi-jadi.
Hyukjae tak bisa menangani kekacauan ini. Ini terlalu banyak untuknya.
"Donghae-yah..."
.
.
.
Mabil Donghae terparkir sempurna di depan rumah. Lelaki itu dengan perasaan ringan keluar dari mobil yang baru ia ambil setelah peristiwa diderek. Ia pulang lebih awal hari ini karena hasil kerjanya tak ada kesalahan. Meski ya, ia sempat disemprot atasannya gara-gara datang terlambat pagi tadi. Tapi semuanya sudah lewat.
Teman-teman kantornya mengajaknya keluar sebenarnya tapi ia menolak mengingat ada orang asing di rumahnya sekarang. Ia harus menyelesaikan masalah Lee Hyukjae hari ini juga.
Dengan semangat Donghae memasuki rumahnya. Membuka pintu dan langsung melepas sepatunya. Namun baru sampai ruang tamu ia mengernyit heran saat mendengar suara air dari arah dapur. Donghae berjalan mendekati dapur hanya untuk melihat kekaucauan disana.
Kekaucauan di luar ekspetasinya.
Semprotan air menyala membasahi seluruh dapur, bahkan airnya mengenang dibeberapa sudut lantai. Panci gosong yang terlihat terbengkalai. Kursi makan yang satu terbalik. Dan yang paling memprihatinkan adalah keadaan wanita yang kini terduduk di lantai dapur. Basah kuyup, menangis, dengan darah dihidungnya.
"Mianhae, mianhae Hae-yah." Guman gadis itu saat melihat Donghae di hadapannya. Ia begitu takut jika Donghae akan marah padanya. Ah tidak, Donghae memang pasti akan marah padanya. Ia membuat kekacauan.
Hyukjae menunduk dan semakin terisak. Sama sekali tak sadar saat Donghae berjalan mendekatinya. Lelaki itu tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Hyukjae, mengagetkan wanita itu. Menggendongnya, membawanya keruang tamu yang kering lalu mendudukan wanita itu di meja yang ada di sana. Donghae melepas jasnya lalu memakaikanya pada Hyukjae sebelum berjalan kembali ke dapur tanpa mengatakan apa-apa.
Ia mematikan semprotan air lalu membuka saluran air di sudut lantai dapur agar airnya terkuras. Sekilas ia melihat pecahan piring dan mangkuk di wastafel dapur. Tapi ia tak mengatakan apa-apa. Ia justru berjalan ke tempat cuci untuk mengambil handuk, matanya sempat melihat pakaiannya yang luntur di dekat mesin cuci tapi ia tak mengatakan apa-apa.
Donghae kembali berjalan menghampiri Hyukjae, mengusap rambut basah Hyukjae dengan handuk kering yang ia bawa. Lalu kembali ke dapur dan kembali dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia berlutut di depan Hyukjae, lalu dengan selembut mungkin mengusap darah yang ada di hidung Hyukjae dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat. Donghae membersihkan darah Hyukjae dengan begitu hati-hati dan teliti.
"Gwencana?" Tanya Donghae saat darah di hidung Hyukjae sudah menghilang sepenuhnya.
Tapi bukannya menjawab, Hyukjae malah menunduk dalam-dalam. Tak mau melihat mata Donghae.
"Maaf, maafkan aku. Aku sungguh tak sengaja. Kumohon jangan marah padaku, Hae-yah" Hyukjae kembali terisak lengkap dengan air matanya yang kembali deras mengalir membuat Donghae perlahan memeluknya. Menenangkan wanita itu.
"SSstt, hei tak apa. Aku tak marah padamu. Sungguh." Donghae menepuk-nepuk lembut kepala wanita itu.
Donghae memang tidak marah, ia tidak bohong. Ia memang shock pada awalnya. Tapi saat melihat keadaan gadis itu yang kebingungan, menangis dengan darah dihidungnya, siapa yang tega marah padanya?
Dengan perlahan Donghae merenggangkan pelukannya, melihat wajah Hyukjae yang sebab dengan pipi dan hidung memerah. Bahkan saat menangispun cantik.
"Membuat kesalahan sekali atau duakali tak apa, asal kita belajar untuk tak mengulanginya. aku sama sekali tidak marah, jadi berhenti menangis." Dengan lembut Donghae mengusap air mata wanita ini, lalu tersenyum lembut pada Hyukjae. Membuat wanita itu tertegun sejenak, sebelum kembali memeluk tubuh Donghae erat menyembunyikan wajahnya di dada namja itu. Berpegang erat pada Donghaenya.
Donghaenya yang begitu lembut.
Donghaenya yang tak pernah marah.
Donghae yang begitu Hyukjae suka.
Sangat Hyukjae suka.
.
.
.
TBC
Maaf bila sedikit terlambat, jaringan internet tempatku sedikit trouble. Jadi baru bisa pos selasa pagi. Jadi yah ini chapter dua, maaf klo gak memuaskan, banyak typo dan kesalahan penulisan lainnya. makasih untuk seluruh responya.
Chapter 3 minggu ya tapi klo tiba-tiba molor senin tou selasa yah tolong maklum aku udah mulai penelian buat skripsi soalnya. Jadi agak susah bagi waktu.
Yah itu aja. See you next chapter.
Special thanks:Xiao yueliang, cho loekyu07, ichadkelpeu, fine, Mei Hyun 3154, rani. gaem. 1, elfishy09, isroie106, ameliahyukee0404, Kim Eun Bom, fishyhae, BunnyEvilKim, hyukieraa, TiasPrahastiwi, lee ikan, araaaa, minmi arakida, Cique, Heldamagnae, Nanaxzz, no name, Yenie Cho94, Arum Junnie, jaeji, iciici137, mizukhy yank eny, D. E. K, nyukkunyuk, nurichan4, MonkeyShim, Miss Chocoffee, el, Rnye, kartikawaii, DHLiu, witdia. kyuhyuk, faridaanggra, siti. sisun, ahahyuk, kakimulusheenim, guixianstan, elfrida, munakyumin137, seira minkyu, NayLee, HHSminah, HAEHYUK IS REAL, YhaJewel, Dhany.
