1 – Found-

Aku berada di statsiun menunggu Ira datang, 3 hari sudah berlalu setelah percakapan terakhir kami di sekolah dan hari ini adalah hari perjanjian kami, datang ke tempat dimana pembunuhan atau misteri itu terjadi.

Tidak sewajarnya seseorang datang ke tempat dimana terjadi pembunuhan atau kejadian misterius, itu aneh. Tapi Ira tidak, dia malah mendekati tempat berbahaya semacam ini, dan mengganggap itu hal wajar. hanya saja mau bagaimana lagi orang tua Ira adalah seorang polisi dan mungkin dia juga terobsesi dengan hal-hal seperti ini karena pengaruh atau pekerjaan dari orang tuanya juga.

Aku melihat kesebuah cermin besar di statsiun dan mulai melihat style berpakaianku. dalam hatiku 'apa ini tidak terlalu mencolok?'.

Rambutku panjang sebahu, memakai pakaian kameja putih lengan panjang ditambah dasi berwarna merah dengan rok pendek berwarna hitam, lalu bagian kaki aku memakai sepatu sket baru berwarna biru.

Bagian yang paling aku suka adalah sepatu sket milikku, karena baru kemarin aku membeli ini. Orang tuaku terkejut saat aku bilang akan pergi main keluar dengan temanku lalu mengajakku belanja sesuatu dan mengatakan

'kau harus tampil menarik saat kau pergi keluar dengan seseorang'.

Aku menemukan sepatu ini saat kami pergi berbelanja. Entah kenapa saat melihatnya, mataku tidak bisa lepas dari sepatu ini.

Sudah 5 menit berlalu tapi Ira tak kunjung datang. Aku mulai mencari tempat duduk, statsiun benar-benar penuh hari ini dan hampir tidak ada kursi yang kosong. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seseorang melambaikan tangan kearahku dan aku tahu percis siapa dia.

"Maaf Riri, aku terlambat.."

"Tidak apa-apa, kau hanya terlambat 5 menit. itu bukan waktu yang cukup lama"

"kau tidak boleh begitu Riri. Kalau kau sedang kencan, kau tidak boleh terlambat sedikit pun atau seharusnya kau bilang 'tidak kok aku baru juga sampai'. Ini kan kencan kita berdua"

"Jangan bilang ini adalah kencan tahu. kau bisa membuat kekasihmu menangis karena bilang ini adalah kencan dan entah kenapa aku merasa merinding mendengar hal itu."

"Haha... kau sih Riri, wajahmu lucu dan mudah sekali untuk di jahili. jadi kapan kau akan menemukan pasanganmu?"

"hah!?.. kau..."

"Eh, jangan marah. maaf-maaf.. Hehe.. aku becanda."

"Ya sudah.. ayo kita pergi"

Tujuan pertama kami adalah tempat toko kue didekat 'labirin terkutuk'. kita berdua akan makan parfait sepuasnya ditempat itu. Saat diperjalanan ke toko kue aku melihat style pakaian Ira. Dia benar-benar cantik, seperti model majalah. Rambutnya yang terurai dan mengenakan pakaian One piece berwarna Biru langit dengan tas kecil berwarna hitam. kakinya dihiasi oleh sepatu hak membuat dia benar-benar terlihat seperti model papan kelas atas. Banyak sekali model agency yang mendekatinya dan menawarkan untuk menjadi model di majalah mereka, tapi entah kenapa Ira menolak semua itu. dia hanya bilang 'Tubuhku ini bukan untuk di pamerkan kepada orang lain. Ini adalah milikku dan bukan milik orang lain'. Dan aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya dan kenapa dia mengatakan demikian.

Kami sudah sampai di toko kue, dan kami duduk di balkon toko kue tersebut. tapi saat aku akan memesan Ira langsung menghentikanku.

"hey, apa kau mau memesan parfaitnya sekarang?"

"Ya begitulah.. aku sudah tidak sabar mau memakannya"

"Riri, lebih baik kita memesan parfaitnya setelah kita pulang dari labirin saja."

"Eh... Tapi aku mau itu sekarang."

"Ukh, mengerikan... tidak biasanya kau menggunakan intonasi itu."

"Kau kasar sekali.. tidak apa-apa kan memakai intonasi memelas seperti itu, lagi pula kau juga sering memakainya"

"kalau aku sih cocok, tapi kalau kamu Riri..."

"Apa maksudmu.."

"Hehe... bercanda. Lebih baik kita makan itu setelah dari labirin untuk sekarang kita pesan es krim saja. Kau mengertikan, si Raja terakhir harus dihabisi terakhir bukan diawal."

"hee... ayolah, kau mengatakan seperti itu karena kau takut gemuk bukan begitu"

"ukh.."

'Jakpot' ucapku dalam hati. Ira benar-benar peduli dengan kondisi tubuhnya, kalau tidak salah ingat dulu dia sampai menangis di pangkuanku hanya karena bobot badannya naik 1 kg. Masih teringat dengan sangat jelas dimemoriku.

"oh ya, ngomong-ngomong misteri yang terjadi disana ternyata bukan hanya pembunuhan itu lho Riri.."

Ira lalu mengubah jalannya percakapan dan kembali kepada misteri labirin,

"Apa maksudmu?" aku bertanya

"Banyak rumor yang mengatakan kalau bukan hanya pembunuhan yang terjadi di tempat itu tetapi juga orang menghilang. 1 tahun yang lalu saat pertengahan tahun bulan juni tanggal 15, empat orang dikabarkan menghilang dari tempat tersebut dan sampai sekarang masih belum ditemukan"

"Aku pernah mendengar kasus tersebut, tapi bukannya itu memang hanya rumor"

"Ya itulah yang mereka inginkan. Agar kita percaya bahwa itu adalah rumor, tetapi apa kau tahu soal ini?"

Ira mengeluarkan sebuah dokumen didalam tasnya.

"bacalah dan kau akan mengerti"

Saat aku membaca dokumen tersebut banyak sekali kejanggalan yang tertulis disana. Semua informasi yang aku ketahui berlawanan dengan dokumen yang dibawa oleh Ira.

"Hey ini bercandakan?"

"Apa yang tertulis disana terlihat sedang bercanda?"

"Kau mendapatkan data ini dari mana? Aku kira ini bukan sesuatu yang bisa didapatkan dengan mudah di internet"

"haha… pacarku bisa diandalkan"

"Oh iya aku pernah dengar kalau pacarmu itu adalah seorang detektif"

"Yup.. dan aku berhasil mengorek data-data dari dia. haha"

"Apa itu tidak masalah?"

"Selama tidak ada yang tahu.. teehee."

"Kau ini."

"Hari ini kita akan bertemu sebentar dengan pacarku, setelah itu kita lanjutkan date kita di labirin itu, kau belum bertemu dengannya kan?"

"Ya terserah padamu sajalah. Kau yang ambil alih Ira"

Pesanan Ice cream kami akhirnya datang, kami lalu membicarakan hal lain seperti fashion, sekolah, dan tentu saja misteri lainnya. Setelah menghabiskan ice cream, kami akhirnya pergi menuju labirin tersebut.

Di lift menuju labirin di lantai paling atas, perasaan tidak enak mulai menyerang, baru pertama kali aku merasakan hal ini saat bermain dengan Ira. Kami memang suka bermain ketempat-tempat misteri yang ada di kota tetapi baru pertama kali aku merasakan hal tidak wajar seperti ini. 'Apakah aku sakit gara-gara makan terlalu banyak es krim barusan?' pikirku.

Ira melihat wajahku memucat, wajahnya terlihat mulai khawatir.

"Hey Riri.. kenapa wajahmu pucat begitu. Apa kau baik-baik saja? Apa kau mau duduk dulu setelah sampai di depan labirin?"

"Ya.. entah kenapa Ira, aku merasa tidak enak. bisa kau belikan aku minuman juga nanti setelah sampai disana?"

"Ya tentu saja, apapun untuk mu" Ira tersenyum lalu memegang tanganku

Kami sampai didepan labirin, aku mulai mencari tempat duduk. Rasa mualku mulai bertambah.

'Ukh, apa aku keracunan?' pikirku

"Riri, kamu pucat sekali. Maaf tolong adakah tempat duduk kosong disini? Temanku sedang sakit." Ucap Ira

Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami. Sepertinya dia adalah petugas di tempat ini dan membawa kami berdua ke tempat beristirahat. Ira dan dia sedang berbicara tetapi aku tidak mempedulikan apa yang mereka katakana, aku merasa rasa sakit ini lebih parah dari biasanya.

Ira mendekatiku dan menyodorkanku minuman.

"Riri minumlah ini. apa hari ini mau dibatalkan saja. Kau terlihat tidak sehat. Jangan paksakan dirimu"

Aku meminum minuman yang diberikan Ira padaku.

"Tidak harus jadi. Kau sudah menunggu hari ini datang Ira dan begitu juga denganku. Aku juga tahu kau bolos eskul hanya untuk mengajakku ketempat ini. jadi ini tidak boleh batal. Tenang saja sedikit istirahat aku akan baik-baik saja"

"Tapi Riri…"

Aku menekan mulut Ira dengan jari telunjukku agar dia diam. Lalu aku mengatakan samabil tersenyum.

"Sudah, Aku tidak ingin date kita berantakan hanya karena aku mual sedikit, oke. Berikan aku waktu 10 menit untuk istirahat, setelah itu kita lanjutkan date kita"

Ira terdiam dan wajahnya terlihat memerah, dia memegang kedua pipinya lalu bergumam. 'Hnnnggghhhh… kalau kau cowo udah ku cium'

…**********************…

15 menit berlalu, sudah lebih dari 10 menit dari waktu yang telah aku janjikan pada Ira. Aku sudah mulai baikan, rasa mual itu sudah bisa kukendalikan, aku sudah bisa bernapas dengan normal.

"Apa kau yakin kau baik-baik saja Riri?"

"Ukh… sudah kubilang aku baik-baik saja Ira, ayo kita lanjutkan date kita"

"hehe.. jadi kau sudah mengakui bahwa kita sedang kencan nih"

"ya.. ya… makanya gak boleh langsung pulang"

"ou.. barusan aku di sms pacarku, dia bilang dia tidak bisa datang, jadi ini benar-benar hari dimana kita bisa berduaan saja"

"hmmm…"

Jujur saja, aku tidak ingin saat kita bisa bersama seperti ini hanya sebentar, di sekolah Ira hanya mengobrol denganku saat jam istirahat saja. Dan ketika pulang pun biasanya Ira selalu bersama dengan 'geng' dia, waktu bermain ku dengannya hanyalah sebentar. Ini adalah kesempatan emas bagiku untuk lebih dekat dengannya. Selain mengobrol tentang misteri dan apa yang aku bisa lakukan untuknya hanyalah mengikuti apa yang dia inginkan.

Aku dan Ira lalu membeli tiket masuk kedalam 'labirin terkutuk'. Kami berdua mngelilingi labirin tersebut dan ya seperti biasa tidak terjadi apapun, tidak ada yang special, kutukan tersebut hanyalah isapan jempol belaka. Akan tetapi jujur saja aku kira yang menakutkan di tempat ini bukanlah rumornya tetapi bagaimana cara kita keluar dari tempat ini. msekipun kita sudah diberikan peta agar saat kita tersesat, kita tinggal melihat petanya dan mencari petunjuk untuk keluar, tetap saja saat mencari petunjuknya sulitnya sama dengan mencari jalan keluar.

Ira tiba-tiba diam disuatu tempat, dan melihat kearah tembok labirin.

"Hey Riri, aku menemukan sesuatu yang ganjil di sini."

"huh? Jangan bercanda I.." sebelum aku menyelesaikan kalimatku ira memotong ucapanku

"Aku serius.. lihat di peta, tempat kita sekarang tidak ada didalam peta"

"Hey kau serius? Bagaimana kau yakin kalau…"

Ira lalu menekan temboknya dan alangkah terkejutnya aku, tembok tersebut mulai bergerak.

"Hey.. kau bercandakan?"

"sepertinya aku harus menelpon pacarku, untuk yang satu ini."

"gunakan video call. Itu lebih baik" saranku.