Penyangkalan Hak Kepemilikan: Saya tidak memiliki Harvest Moon serta seluruh karakternya.
Bab: 2
Tempat persediaan milik keluarga Arringham merupakan tujuan wanita ini sekarang. Ia sudah tak sabar untuk mencoba senjata terbarunya. Tak jauh merupakan sebuah gedung berbentuk persegi dari besi dengan pintu besi yang dijaga oleh beberapa orang berpakaian serba hitam dan jelas, berbahan kulit. Gedung tersebut memang terletak jauh dari pusat kota, tepatnya di selubungan daerah kumuh tempat para pelacur dan preman-preman bermain. Claire, seperti biasanya, tetap berjalan tenang sampai seorang laki-laki dengan pakaiannya yang lusuh datang menghampirinya. "Mau ke mana, gadis cantik?" godanya.
Claire memasang pandangan dinginnya, "Bukan urusanmu." Ia dengan cepat menendang perut laki-laki itu dengan lututnya, suara erangan kesakitan terdengar dari laki-laki itu. Belum puas, Claire menariknya dan memberinya pukulan siku ke lehernya, membuatnya terpental 7 meter. Melihat kejadian itu, semua orang di sekitar menjadi takut meski hanya untuk menatap Claire. Dengan senyum bangga, ia melanjutkan perjalanannya.
Setibanya di sana, dua penjaga gedung tersebut segera mempersilahkannya masuk. Ternyata ruang itu tak seperti yang ia bayangkan. Rak-rak tersusun rapi, tersusun urut sesuai jenisnya. Sementara jauh di belakang ruang, kotak kayu yang sudah pasti berisi senjata ilegal sudah siap untuk dikirim ke mana saja.
"Selamat datang di Ruang Persediaan Keluarga Arringham, nona Claire." Suara maskulin terdengar dari arah dalam ruang tersebut. Terlihat seorang laki-laki dengan rambut cokelat panjang yang diikat rendah menghampirinya. Senyumnya manis, sungguh jarang orang menyangka ada seorang yang memilikinya dalam sebuah gerombolan mafia. Claire membalas senyumnya itu, agak tertegun. "Ya." Ucapnya singkat. Meski baru pertama kali melihatnya, Claire merasa di belakang kepalanya, ada satu hal yang membuatnya merasa mengenalnya, 'Siapa orang ini? Kurasa aku sudah pernah bertemu dengannya.'
"Perlengkapan bagi Silver Twins ada di rak nomor 19. Mari, kuantar." Ajaknya. Claire dengan antusias mengikutinya. Rak nomor 19, rak panjang terbuat dari kaca anti peluru dengan sistem pengamanan yang sama seperti di museum, dan tak hanya rak itu saja. Semua rak yang ada di sini memilikinya. Claire berdecak kagum saat pria itu menekan tombol angka yang dikira-kira lebih dari 15 angka, 'penghafal' pikirnya.
"Silahkan, nona Claire. Ambil yang kau butuhkan." Ia tersenyum kembali dan mulai melangkah meninggalkan Claire. Claire segera mengambil baju tanpa lengan berbahan kulit berwarna merah terang yang sejak tadi mengambil perhatiannya. 'Silver Twins memang dirancang untuk wanita, ya?' pikirnya. Dan tak disangka, baju itu sungguh fleksibel. Diluar telihat dua kantung persegi, namun didalamnya terdapat tempat penyimpanan untuk peluru peraknya, tempat untuk menyimpan pisau kantung, bahkan terdapat bahan tahan peluru di lapisan bawahnya. Mata birunya melebar seakan kagum, senyumnya terlihat di wajahnya.
"Itu tak hanya dirancang untuk wanita." Suara maskulin terdengar, membuat Claire tersontak kaget. "Namun ia dirancang untukmu." Ucap Gray yang selama ini memerhatikannya dari kejauhan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Gray?" tanya Claire sesudah menenangkan rasa kagetnya.
"Ah, tidak. Aku hanya tak ingin adik kesayanganku sendirian di daerah ini. Ini daerah yang berbahaya, lho." Katanya sambil tersenyum. Claire memalingkan wajahnya dan kembali mengambil keperluannya di rak itu. Sebuah sabuk untuk tempat menyimpan Silver Twins, disamping kanan dan kirinya, serta tempat mengaitkan sarung tangannya (memang dirancang untuk penembak dan ahli bertarung dengan tangan kosong).
Puas, Claire menutup kembali rak tersebut, suara ceklekan berasal dari kunci digital rak tersebut. 'canggih sekali' pikirnya. "Kau tak ingin mencobanya? Aku bisa membantu dalam hal itu." tanya Gray.
"Oh, boleh saja." Claire melepas rompi hitamnya dan menggantinya dengan baju merah terang yang baru saja ia ambil, memakai sabuk dan menyelipkan Silver Twins di tempatnya. "Kau siap untuk kalah?"
"Hehe, ini akan menyenangkan." Gray bersiap dengan kuda-kudanya untuk menerima serangan Claire. Tendangan kakinya dihalau dengan baik serta pukulan sikunya dapat dihindari tepat waktu. Gray melompat ke belakang, "Tidakkah kau menggunakan senjata barumu? Seluruh ruangan ini tahan peluru kok." Senyumnya. Claire memicingkan matanya dan memberikan tendangan meluncur, namun Gray hanya melompat dengan mudahnya. "Pakai senjatamu." Ucapnya sedikit tegas.
"Ukh." Claire mengambil senjata barunya dan mencoba menembak untuk pertama kalinya yang sasarannya tak lain adalah Gray. Meski dengan dua senjata api, Claire tidak bisa mengikuti gerakan Gray. Seorang pemula maupun tidak, jarang sekali pelurunya bersarang di tubuh Gray, ia memang cepat dan lihai dalam menghindar, serta senyum angkuhnya seakan terukir di wajahnya, membuat musuh-musuhnya geram. Peluru-peluru Claire hanya terpantul rak-rak yang ada di dekat mereka.
Gray melompat ke atas salah satu rak, senyumnya semakin lebar, menunjukkan gigi putihnya. "Itu sajakah yang kau punya?"
Claire menunduk sejenak, melihat senjata barunya. Ia terlihat agak kecewa, namun ia melihat sebagian tajam di bagian bawah senjata api itu, jika dilihat, cara menggunakannya seperti pedang, atau bisa dibilang seperti 'gunblade'. Itu membuatnya tersenyum.
Ia mulai menyerang kembali, sekarang dengan taktik barunya. Ia pertama mengisi ulang bilik-bilik pelurunya, lalu ia mulai mengarahkan Gray ke sudut ruang. Gray pun mulai membaca serangan Claire, namun ia akan memberikan bonus kemenangan Claire karena ini hari pertamanya ia menggunakan Silver Twins. Gray mulai terpojok dan Claire melompat kearahnya. Dengan keadaan pistol kirinya yang siap memotong leher Gray dan peluru dari pistol kanannya siap menembus kepala Gray. Meski dalam keadaan begitu, Gray hanya tertawa. "Bagus, Claire." Tapi tangan kanan Gray mendapatkan pergelangan tangan kiri Claire, menariknya ke bawah, dan menabrakkan kepala Claire ke dinding (meski tidak sekeras yang Gray terima kemarin).
"Ukh." Sepatah kata itu saja yang keluar dari mulut Claire. Gray tertawa pelan, dan melepaskan genggamannya.
"Tapi, tidak apa-apa. Kau sudah mengerti cara menggunakannya. Sekarang, ayo kita pulang, adikku tersayang." Ucapnya sambil menyodorkan tangannya. Claire hanya melirik ke arah bahunya dengan malu. Ia menyelipkan senjata gandanya ke tempatnya semula, dan mengusap dahinya yang baru saja dibenturkan ke dinding besi itu. Sesama mata biru itu saling menatap, tapi Gray mengambil tangan Claire dan menariknya keluar dari gedung itu. "Peter, jaga gedung ini baik-baik ya! Kami mengandalkanmu!" Teriak Gray dari pintu keluar, yang sepertinya ditujukan kepada si penghafal tadi. Balasannya hanya anggukan dan senyumannya itu.
Sesampainya mereka di rumah, Jill yang sedang membaca buku novel kesukaannya segera mengalihkan perhatiannya. "Kak Gray! Sedang apa kau dengan gembel itu?"
"Memangnya kenapa? Kau iri karena kakakmu ini tidak jalan-jalan denganmu? Besok kuajak kau naik bianglala." Jawabnya tenang, sepertinya memang tak ada yang bisa merubah mood orang yang satu ini.
"Tentu bukan itu, Kak! Dia kan hanya pelengkap, meski tidak ada dia, kita masih bisa berdiri! Tak usah pikirkan dia!" bentak Jill sambil menghempaskan bukunya ke lantai. Jill memang yang paling geram saat Claire masuk ke keluarga ini. Mungkin ia cemburu karena dulu ialah satu-satunya putri mafia dalam keluarga Arringham.
"Sudahlah, Jill! Kau tidak usah berkata seperti itu pada Claire! Bisa-bisa kujahit bibirmu itu!" bentak Gray sambil menodongkan telunjuknya ke arah Jill dengan marah. Claire diam seribu bahasa, Gray tidak mungkin melakukan itu pada adiknya sendiri kan? "Ayo, Claire." Gray kembali menggeret Claire dan pergi menuju kamar Claire, meninggalkan Jill yang masih memerah karena marah.
"Um, Gray, bukannya tidak enak meniggalkan Jill begitu saja?" tanyanya tiba-tiba. Gray menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Claire. Senyumannya kembali ke wajahnya yang tampan itu.
"Dia memang sudah seperti itu wataknya. Tidak usah dipikirkan. Lagipula kau memang tidak bersalah, kok." Ucapnya sambil mengelus rambut Claire, sebuah gerakan yang langsung membuat Claire tersipu. Meski mereka sekerluarga, Claire masih menganggap seluruh anggota keluarga itu sebagai teman (mungkin bukan untuk Jill), termasuk Gray. Setelah sampai di depan kamarnya, Claire segera membuka kunci kamarnya. "Istirahatlah, Claire. Makan malam siap jam 6." Ucap Gray, lalu langsung menutup pintunya.
Bersambung
Hahaha! Bab kedua selesai! Tunggu untuk bab ketiganya ya, teman-teman!
Review Reply:
Saruwatari Yumi:
Nama asli Tuan Arringham adalah Basil Arringham (tokoh dari Harvest Moon (More) Friends in Mineral Town. Lalu, yang marah-marah melulu itu Jill, tokoh utama Harvest Moon DS Cute selain tokoh Claire. Terimakasih atas Review-mu! Baca bab berikutnya ya!
