Prince Demon and His Lover
Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki Sensei.
This fiction is written by Dione
Genre : Romance
Rated : M (implicit)
Pairing : Akakuro, always !
Warning : Typos. Gaje. OOC. Agak implisit karena Dii belum sanggup buat yang eksplisit /sungkem
This is Yaoi Story, it means boy x boy. If you hate Yaoi, just leave it and click back. Don't waste your time to read something you hate. ^_^
Yang sudah fav dan follow fic ini, juga untuk semua yang sudah membaca fic ini
Arigatou Gozaimasu ^_^
Summary: Sinar rembulan yang menyusup di antara celah tirai kembali menjadi saksi penyatuan dua makhluk yang berbeda jenis. Demon dan manusia. Menyatukan tidak hanya raga, namun hati dan jiwa mereka. Walaupun harus melanggar batas dan aturan yang berlaku. Namun Akashi tidak peduli. Selama Kuroko berada disisinya, Akashi tidak akan peduli pada apapun yang akan terjadi nanti. Karena yang Akashi tahu, dia mencintai Kuroko.
Happy reading minna~
Chapter 2: First Meeting
Sinar matahari yang merengsek masuk melalui celah jendela tampak mengusik pemuda bersurai baby blue yang tengah terlelap di atas ranjang berukuran queen size. Tubuhnya menggeliat pelan, membuat selimut yang sejak tadi membungkus tubuhnya melorot hingga sebatas pinggang. Menampakkan tubuh bagian atasnya yang polos dengan kissmark yang nyaris menghiasi seluruh permukaan kulit putihnya, mulai dari tengkuk, pundak, dada, perut, hingga ke bagian yang tersembunyi dibalik selimut. Mengerjapkan kelopak mata guna membiasakan diri dengan cahaya yang menembus retina mata. Setelah terbiasa dengan perubahan intensitas cahaya, Kuroko segera beranjak guna menyiapkan diri memulai aktivitas.
Belum sempat pemuda itu bergerak meninggalkan tempat tidur, lengan yang -baru disadarinya- masih melingkar di pinggang rampingnya semakin mengeratkan rengkuhannya. Menarik tubuh mungilnya hingga menempel sempurna dengan tubuh pemuda lain yang terlelap disampingnya.
"Mmhhh,, jangan pergi."
Kuroko segera memutar tubuhnya dan mendapati kekasihnya yang masih terlelap. Rona merah perlahan menjalari wajah manisnya saat menatap tubuh bagian atas kekasihnya yang juga polos seperti dirinya –dengan beberapa kissmark dan bitemark yang berhasil ditorehkannya, meski tidak sebanyak yang dimilikinya. Menunjukkan tubuh atletis dengan dada bidang dan otot yang terbentuk sempurna –yang tentu saja membuatnya iri sekaligus bangga.
Senyuman lembut terukir di bibirnya saat irisnya menangkap wajah Akashi yang tampak damai dengan kelopak mata yang terpejam erat. Menyembunyikan iris heterochrome yang selalu melemparkan tatapan sadis dan mengintimidasi hingga mampu membuat siapapun yang melihatnya menjerit ketakutan –yang selalu berubah menjadi tatapan penuh cinta saat irisnya menatap Kuroko. Bahkan kedua bibir yang biasa melengkungkan seringai kejam kini terlihat mengulas senyuman tipis –entah apa yang tengah dimimpikan pemuda itu.
Akashi benar-benar terlihat polos seperti seorang malaikat.
Tunggu, rasanya ada yang salah dari kalimat di atas.
Pertama, Akashi itu mesum-garismiring-pervert. Kata polos tentu tak pantas disandingkan dengan namanya. Kecuali jika kata 'polos' yang dimaksud merujuk pada kondisi seseorang yang tidak mengenakan busana.
Well, seperti keadaan mereka saat ini contohnya. Rona merah tampak semakin menjalar di pipi mulus Kuroko.
Kedua, Akashi Seijuuro bukanlah seorang malaikat, melainkan demon. Pangeran demon lebih tepatnya. Yang berarti dalam beberapa tahun ke depan, Akashi akan dinobatkan sebagai raja demon –yang otomatis menjadikan Kuroko sebagai ratu bangsa demon jika mereka telah sah menikah nanti. Rasanya susah membayangkan jika manusia polos dengan kebaikan hati bak malaikat macam Kuroko justru harus bertingkah menyeramkan ala demon seperti Akashi.
Bayangkan saja jika sifat-sifat Akashi diaplikasikan dalam wujud Kuroko Tetsuya. Bibir mungilnya menyerigai kejam dengan iris bulat sebiru langit yang melemparkan tatapan tajam. Yang ada, orang-orang –entah dari bangsa manusia ataupun demon- akan sukarela menyerahkan diri mereka di hadapan Kuroko. Belum lagi parasnya yang mungil menggemaskan sangat tidak mendukung aksinya sebagai demon penggoda manusia –yang ada malah Kuroko yang akan digoda lelaki mesum mata keranjang.
Ya, Kuroko mengetahui dengan jelas bahwa kekasihnya bukanlah manusia biasa. Namun ia tak peduli. Ia mencintai Akashi Seijuuro, apa adanya pemuda itu. Dan ia tahu betapa Akashi juga mencintainya sepenuh hati.
Bagi Kuroko, cinta tetaplah cinta. Tak peduli pada siapa hati berlabuh. Dan ketika hatinya telah memilih berlabuh pada sosok Akashi Seijuuro, manusia ataupun bukan, ia akan tetap mempertahankan cintanya.
Senyuman tipis muncul di wajah manisnya saat bayangan akan pertemuan pertamanya dengan sang pangeran demon tiga tahun yang lalu kembali hadir dipikirannya.
Flashback On
Kuroko kembali mengecek jam berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangannya.
Nyaris pukul dua belas malam. Bus terakhir akan tiba beberapa menit lagi.
Jalanan tampak semakin lenggang, meski beberapa kendaraan masih terlihat berlalu-lalang. Iris sebiru langit itu kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar halte tempatnya berdiam diri. Minimannya pencahayaan membuat suasana halte tampak mencekam, serupa dengan tempat kejadian perkara di serial pembunuhan yang sering ditontonnya. Kuroko bergidik pelan saat membayangkan jika seseorang tengah memperhatikannya dari kegelapan malam dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya.
Well, Kuroko hanya tidak mengetahui bahwa sesosok bayangan memang tengah memperhatikannya sedari tadi.
KRIIINGGG~
Kuroko tersentak saat mendengar bunyi nada panggilan yang berasal dari dalam tasnya. Dengan segera dilepaskannya tas berwarna putih dari punggungnya dan merogoh ponsel berwarna biru yang disimpannya di kantong kecil bagian depan. Mengerutkan kening saat melihat caller id yang tertera di layar ponsel.
"Moshi-mos,,"
'YAK, KUROKO! DIMANA KAU SEKARANG?!'
Belum sempat Kuroko menyelesaikan salam pembuka yang lumrah dilakukan saat menerima panggilan, sebuah teriakan menyapa indra pendengarannya -yang nyaris membuatnya terpaksa berkunjung ke dokter THT jika saja pemuda itu tidak segera mengambil jarak aman dari sumber teriakan.
"Di bus." Singkat. Jelas. Padat.
Wajar saja, Kuroko lagi dongkol hari ini. Bahkan ekspresi datar yang biasa hadir di wajah putih pucatnya itu kini tergantikan oleh raut cemberut.
Bagaimana tidak, sudah cukup ia mengalami kejadian tidak menyenangkan sejak tadi pagi. Mulai dari jam alarmnya yang mendadak rusak hingga membuatnya bangun terlambat, ban sepedanya yang mendadak kempes hingga membuatnya terpaksa menggunakan bus untuk ke kampus, hingga dosennya yang mendadak sibuk dan tidak dapat menghadiri perkuliahan hari ini dan justru memberi tugas kelompok yang sudah harus dikumpul keesokan paginya –alasan mengapa ia berada di halte bus saat ini adalah karena Kuroko baru saja menyelesaikan tugas kelompoknya. Dan sekarang Kagami Taiga, nama sang penelpon, bisa membuatnya mendadak budeg akibat teriakan ala tarzannya.
Sungguh, kenapa semua harus serba dadakan hari ini? Apakah ini efek tahu bulat yang digoreng dadakan?
Oke, lupakan.
'Tch,, sudah kubilang aku akan mengantarmu. Kenapa tidak menungguku?' Kuroko tahu bahwa pemuda beralis ganda itu pasti sedang kesal saat ini. Kentara sekali dari nada suaranya. Kuroko hanya memutar bola mata malas, yang tentu tak dapat dilihat Kagami dari seberang telpon.
"Untuk apa?" Kuroko balas bertanya dengan nada datar ciri khasnya. "Kau kan tidak punya kendaraan, Kagami-kun. Paling juga kau akan mengantarku menggunakan bus. Aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kau urus saja perutmu. Dia lebih membutuhkan perhatianmu saat ini."
Entah berapa banyak anak panah imajiner yang menusuk tepat di jantung Kagami akibat ucapan si pemuda bersurai biru.
Rasanya sakit, tapi tidak berdarah.
Memang benar Kagami tidak punya kendaraan. Tapi itu juga karena ia memiliki motto hidup hemat, cermat, dan bersahaja –tapi bohong. Alasan sebenarnya sih orangtua Kagami enggan membelikannya kendaraan karena takut jika anak semata wayangnya ikut balapan liar –kecuali balap karung, karena lebih menyehatkan dan tidak menimbulkan polusi. Apalagi Kagami pernah tinggal di New York yang memiliki pola hidup bebas, sebelum pindah ke Jepang 4 tahun lalu.
Untuk urusan perut, salahnya sendiri karena mengonsumsi makanan pedas melebihi batas normal. Hingga membuatnya bolak-balik ke toilet. Dan menyebabkan Kuroko memilih untuk pulang seorang diri.
"Tetap saja kau harusnya menungguku. Setidaknya aku-"
PREETT
"Ehemm,, maaf, Kuroko. Sepertinya aku harus-"
PREET PREET
Kagami bisa merasakan panas menjalar di pipinya. Ia yakin Kuroko bisa mendengar panggilan alam tadi. Rasanya memalukan sekali. Ughh,, Kagami mengutuk perutnya yang tak bisa diajak kerja sama.
"Ya, sampai jumpa besok, Kagami-kun."
TUTT
Panggilan telpon diputus.
'Kagami-kun pasti malu sekali.' Senyuman muncul di wajah Kuroko saat mengingat tingkah Kagami tadi. Sejenak, ia lupa akan suasana mencekam yang sejak tadi dirasakan.
Hingga sebuah suara menginterupsi pikirannya.
"Hello, manis."
Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah sosok di kegelapan yang tengah berjalan ke arahnya. Yang dapat Kuroko lihat hanya sepasang iris heterochrome yang berkilat.
"Siapa kau?" Kuroko berusaha bersikap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Sosok itu semakin mendekat, hingga Kuroko bisa melihatnya lebih jelas dengan bantuan sinar seadanya. Dia adalah seorang pemuda dengan tinggi beberapa inci darinya. Rambutnya berwarna merah, serupa dengan warna kemeja yang digunakannya. Kakinya dibalut celana jeans berwarna hitam dan sepasang sepatu berwarna senada. Dan sepasang sayap terbentang lebar dari balik punggungnya.
Tunggu, sepasang sayap?
Kuroko mengangkat kedua tangannya, menggosok matanya untuk memastikan apakah ia tengah berdelusi atau tidak. Dan matanya semakin membulat saat pemuda itu berada tepat di hadapannya, dengan wajah yang begitu dekat dekat hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Gerak sedikit, bisa dipastikan bibir mereka akan menempel dengan sempurna.
Sepasang heterochrome menatap tajam kedua iris biru langit miliknya. Membuat Kuroko tak dapat mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Atau sosok itu.
Entahlah, Kuroko tak tahu makhluk apa yang berada dihadapannya saat ini. Ia hanya berharap bahwa dia bukanlah sosok shinigami yang datang untuk mencabut nyawanya. Kuroko belum siap mati muda.
"Kalau dilihat lebih dekat, kau tampak-" Kuroko menahan napas saat sosok itu kembali buka suara. Jeda sebentar sebelum seringaian muncul di paras tampannya, "-semakin manis."
DOENGGG
Kuroko mengalami masa transisi dadakan. Otaknya sibuk menelaah ucapan sosok bersayap di hadapannya.
1 detik
2 detik
3 detik
"HAA?!"
Teriakan kecilnya itu cukup membuat makhluk dihadapannya mundur beberapa langkah akibat kaget. Dengan raut wajah yang masih terkejut, Kuroko mengarahkan jari telunjuknya ke arah pemuda itu.
"APA KAU BARU SAJA MENYEBUTKU MANIS?" Untuk kali ini, Kuroko berharap dia salah dengar. Atau jadi budeg sekalian.
Tentu saja.
Mana ada lelaki yang mau disebut 'manis'. Yang ada, semua laki-laki inginnya disebut 'manly'.
"Tentu saja," Pemuda itu menatap Kuroko dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Apalagi saat kau baru bangun tidur. Bed hair membuatmu terlihat semakin imut." Satu kedipan dilayangkan ke arah Kuroko yang masih membatu.
Shock. Kuroko benar-benar shock. Apalagi saat melihat pemuda itu menyerigai lebar. Seolah ia telah mengetahui semua hal tentang Kuroko –luar dan dalam.
Mengerikan!
"KAU PENGUNTIT?!" Rasanya teriak-teriak sudah jadi hobi Kuroko sekarang. Tapi ia tak peduli. Sosok di hadapannya benar-benar mencurigakan. Tak ada gunanya Kuroko bertingkah sopan penuh kesantunan saat ini.
"Ehm, bagaimana menjelaskannya padamu ya?" Si pemuda bersayap memasang pose berpikir –yang kentara sekali bahwa dia hanya berpura-pura. "Begini saja, aku akan memperkenalkan diriku lebih dulu. Namaku Akashi Seijuuro."
"Tidak berminat." Kuroko telah kembali ke mode tenang corettakpedulicoret.
"Terserah kau saja, Tetsuya." Telah terkonfirmasi 75% bahwa pemuda ini penguntit alias stalker. "Aku adalah seorang demon. Pangeran lebih jelasnya. Dan aku merasa tertarik padamu."
Kuroko hanya membalas dengan tatapan bingung. Apa sosok dihadapannya baru saja mengaku sebagai demon -atau pangeran demon- dan mengatakan bahwa ia tertarik padanya? Haha, lucu sekali.
"Kau serius, Akashi-kun?" Kuroko bertanya dengan nada sarkastik. Tapi makhluk bernama Akashi itu hanya membalas dengan seringai andalannya.
"Kau tau, aku hanya menawarkan 3 permintaan pada manusia biasa yang melakukan perjanjian denganku." Akashi melanjutkan tanpa mengalihkan tatapannya dari sepasang iris indah sewarna langit musim panas. "Tapi karena aku tertarik padamu, aku akan memberikan apapun yang kau mau. Sebanyak apapun itu. Asal kau mau menjadi pasanganku,"
"Dengar Akashi-kun, aku tidak tahu siapa kau dan apa maksudmu mengatakan kau tertarik padaku. Tapi ku rasa kau perlu mengecek kesehatanmu ke rumah sakit terdekat. Mungkin saja kepalamu terbentur di suatu tempat hingga membuatmu berhalusinasi begitu." Ucap Kuroko sebelum beranjak dari tempatnya dan menghampiri bus yang baru saja tiba di halte. Sebelum masuk ke dalam bus, Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah tempat Akashi berada. Namun ia terkejut saat tak mendapati pemuda itu di sana.
'Mungkin yang sebenarnya berhalusinasi adalah aku.' Pikir Kuroko sambil mendudukkan dirinya di bangku paling belakang. Ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lebih lanjut.
Flashback Off
"Apa yang kau pikirkan, Tetsuya?"
Lamunan Kuroko buyar saat suara milik kekasihnya berbisik rendah di telinganya. Sebelum bibir itu bergerak, mengulum lembut daun telinga Kuroko.
"A-Akashi-kun." Kuroko mendesah geli merasakan lidah nakal kekasihnya mempermainkan salah satu titik sensitivenya. "Le-lepaskan aku."
"Tidak mau sebelum Tetsuya memberikan morning kiss padaku." Kuroko hanya memutar bola mata melihat tingkah Akashi yang kadang childish. Tapi tetap saja ia melakukan apa yang diminta Akashi.
CUP
Senyuman lebar muncul di paras tampan sang pangeran demon, membuat wajah Kuroko memerah karenanya. Akashi memang tak pernah gagal membuatnya blushing.
"Jadi, apa yang kau pikirkan tadi sehingga membuatmu tersenyum manis, Tetsuya?" Akashi mengulang kembali pertanyaannya. Tentu saja ia penasaran dengan apa yang dipikirkan Kuroko hingga membuat pemuda itu tak menyadari jika Akashi sudah bangun dan tengah memperhatikannya sedari tadi.
"Memikirkan saat pertama kali kita bertemu."
Jawaban Kuroko turut memunculkan senyuman lembut di wajah Akashi. Ya, dia ingat saat pertama kali ia memutuskan untuk mendekati langsung pemuda mungil yang kini menjadi kekasih hatinya. Tidak lagi memperhatikannya diam-diam.
Akashi melepaskan tangannya dari pinggang Kuroko dan meraih tangan Kuroko. Menggenggam tangan yang berukuran lebih kecil darinya. Membawanya mendekati bibir dan mengecupnya pelan.
"Bukankah sudah ku katakan bahwa aku akan memberikanmu apapun yang kau mau, Tetsuya." Akashi tahu, sejak pertama ia menatap iris sebiru langit milik pemuda dihadapannya ini, ia tak akan pernah bisa berpaling. Tidak, ketika binaran dari sepasang mata itu cukup membuat ia merasa bahagia. "Sebanyak apapun itu."
Kuroko balas menatap iris heterochrome milik kekasihnya dengan dalam. Rona merah tampak mewarnai pipi putih pucatnya. Seulas senyuman manis terkembang, membuat parasnya terlihat semakin menawan.
"Dan aku hanya menginginkanmu, Akashi-kun."
TBC
Daana's note: Hai-hai~ masih adakah yang menanti cerita ini? *readers: nggak ada* /pundung di pojokan
Untuk yang penasaran dengan bagaimana awal mula Akashi dan Kuroko bisa jadian, semoga chapter ini bisa sedikit menjelaskan. ^^ Dan Daana harap semoga chapter ini cukup memuaskan.
Daana juga minta maaf karena updatenya ngareeeeetttt banget /sungkem sama reader sekalian/
Tapi Daana udah membuat jadwal update fics, biar readers sekalian nggak merasa di php lagi (buat jadi acuan juga biar Daana semangat update fics). Maklum, Daana tipe yang suka mengandalkan the power of kepepet :3 -alesan /dibantai
You can check my bio to see the updating schedule and upcoming fics. ^^
Last, read and review? :3
All Hail AkaKuro \^o^/
