Menurutmu apa yang paling berpengaruh di dunia ini?

Cinta? Ataukah kasih sayang?

Mungkin bagi sebagian orang berpendapat seperti itu

Tapi...

Semuanya itu adalah 'Hasil' dari awal sebuah perhatian.

Karna tanpa adanya perhatian maka semua itu tidak akan pernah terwujud.

-Go Minami Asuka Bi-

.

Rated: M

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Vocaloid © Yamaha Corp and Crypton Future Media.

Pair: Len x Rin (slight Len x Miku dan Kaito x Rin)

Warning: typo, EYD yang buruk, ide pasaran, Incest, Lime or Lemon (jika memadai dan kalau bisa XD) dll

By © Go Minami Asuka Bi

.

"Hiks... Hiks... Hiks..."

Isakan pilu terdengar di dalam sebuah gang kecil yang cukup sepi pada dini hari seperti sekarang dan disana seorang gadis kecil terlihat tengah meringkuk di bawah bayangan. Tak ada luka atau pun memar di tubuhnya namun isakan pilu itu seakan mengatakan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Sebenarnya gadis itu memang merasakan sakit dan luka namun bukan luka luar yang ia rasakan tapi luka itu terbentuk di hatinya.

Sangat sakit jika kau di perlakukan seakan manusia yang tak di butuhkan oleh orang tuamu sendiri, dan hal itu yang di rasakannya. Dia memang bodoh, tak berguna, dan tidak bisa melakukan hal yang dapat di lakukan oleh saudaranya tapi bukan berarti ia tidak mendapat kasih sayang dan perhatian bukan? Namun, sebanyak apa pun perjuangan gadis ini untuk mencari perhatian dan kasih sayang, sepertinya itu tak ada gunanya lagi.

"Baka! Kau selalu meninggalkan rumah dan berlari ke tempat ini. Apa kau tidak takut di culik om- om pedo?"

Suara seorang anak kecil kini mengimbangi tangisan gadis itu hingga membuatnya berhenti menangis dan menengadahkan kepalanya unuk melihat siapa yang mengajaknya berbicara saat ini. Tepat di hadapannya seorang anak laki- laki dengan rambut blonde tengah berdiri seraya mengembungkan pipinya yang malah terlihat imut di bandingkan sedang marah tapi melihat anak laki- laki di depannya, kini gadis kecil itu pun menangis semakin kencang dan hal itu membuat anak laki- laki di depannya kebingungan.

"E-ekhh... Sssttt... Jangan menangis, nanti kita di marahi kalau kau menangis seperti itu. Lebih baik kita pulang lagi pula Chichi dan Haha mencemaskanmu." Kata anak itu seraya mengulurkan tangan.

"Bohong! Chichi dan Haha tidak menyayangiku! Mereka hanya sayang padamu!"Kata gadis kecil.

Anak laki- laki itu pun menghela nafas karna pada kenyataannya yang di katakan gadis itu benar. "Setidaknya pulanglah untukku."

"Aku tidak mau!"

"Jika mereka tak menyayangimu, maka aku yang akan menyayangimu. Jika mereka tak memberikan perhatian padamu, maka aku yang akan memberikannya padamu. Jika mereka tidak memberikan cintanya padamu, maka aku akan memberikan seluruh cintaku untukmu." Kata sang anak laki- laki itu mencoba membujuk si gadis kecil. "Aku akan selalu melindungi dan bersama Rin-chan. Jadi, ayo pulang dan jangan hiraukan Chichi dan Haha, anggap saja hanya ada aku disana." Sambung anak laki- laki itu.

"Onegai..." Tambahnya seraya memelas.

"Wakatta! Tapi Rin mau Len-chan tetap di sisi Rin..."

"Ya, Len janji akan tetap bersama Rin-chan selamanya."

.

.

.

Tap... Tap... Tap...

Langkah kaki mengiringi perjalanan Rin dalam diam, rasanya terlalu sepi hari ini di bandingkan biasanya. Biasanya ia selalu berangkat bersama Len namun semenjak kejadian dua hari yang lalu, tak ada salah satu dari mereka yang mau bersuara duluan. Rin tau dia begitu egois menghadapi ini semua tapi bukan berarti ia mau dengan keadaan seperti ini. Bukankah ini sudah biasa Rin? Bukankah kau memang sendiri sejak awal? Bukankah kau memang tak di butuhkan di dunia ini? Suara- suara di otak Rin kini mengalir merdu seakan mengejek kehidupan gadis itu.

"Len..." Gumamnya kecil.

Sudah hampir setengah jam ia berjalan dan kini akhirnya ia sampai pada tujuannya. Kakinya kini melangkah ke dalam kelas dalam diam hingga matanya menangkap sosok seorang pemuda yang sangat ia kenali. Di bangku belakang dekat jendela, seorang pemuda berambut blonde tengah berbincang dengan teman di bangku depan hingga matanya kini melihat Rin lalu dengan sengaja ia mengalihkan pandangannya ke arah lain hingga membuat teman yang di ajak ngobrol tadi pun kebingungan. Melihat sikap pemuda itu membuat Rin menunduk dan kembali melangkah ke bangkunya dalam diam.

Sepi.

Mungkin itu hanya deskripsi Rin saja karna pada kenyataanya kelas itu cukup ramai terlebih beberapa menit sebelum masuk seperti sekarang. Tapi, perasaan sepi benar- benar menyelimuti Rin terlebih satu- satu teman yang ia miliki saat ini telah mengkhianatinya bersama dengan orang yang di cintai malah membuatnya semakin merasa sendiri. Apa ini hukumannya atas perasaan terlarang yang tercipta dari dirinya? Atau ini hukuman atas keegoisannya selama ini? Ia tak tau yang mana tapi ini adalah hukuman Tuhan untuknya, pasti.

Sampai kapan ia harus seperti ini?

.

Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu dan Rin tetap tak menemukan bekal makan siangnya, padahal tadi pagi ia belum sarapan. Tunggu, betapa bodohnya ia saat ini hingga lupa bahwa tak mungkin ada sarapan atau bekal untuknya karna orang yang biasa menyiapkan semua di rumah telah membencinya. Dengan rasa lapar yang menyerang perutnya Rin pun keluar kelas setelah menghela nafas meratapi kebodohannya saat ini yang tanpa di sadari telah menjadi perhatian dari pemuda blonde yang ia tatap tadi pagi.

Rin melangkahkan kakinya menuju kantin, mungkin saja ada makanan yang ia bisa beli tapi kakinya berhenti saat tangannya tak menemukan apa yang ia cari di saku, sungguh betapa bodohnya dia hingga lupa bahwa ia tak membawa uang sama sekali hari ini. Langkahnya kini berputar arah menuju halaman belakang sekolah, setidaknya jika ia tak mendapatkan sesuatu untuk mengisi kekosongan perutnya maka ia bisa sedikit membuang kelebihan beban pikirannya saat ini. Rin mendudukan dirinya di bawah salah satu pohon di halaman itu lalu menutup matanya mencoba meresapi hembusan angin yang menerpa rambut honey blondenya.

'Apa masalahmu jika aku ingin bersama Hatsune-san?! Kau tak berhak mengatur hidupku!'

'Cukup! Berhenti mengatur hidupku hanya karna kau kakak kembarku!'

Ucapan yang membekas di pikirannya kini malah terus mengiang di dalam kepalanya. Ia tak bermaksud membatasi pemuda itu sama sekali. Saat tengah merenung dengan pikirannya sesuatu malah mengenai kepala Rin hingga membuat gadis itu membuka mata terkejut dan menengok kesana- kemari untuk mencari siapa pelaku yang melakukannya namun tak ada siapa pun kecuali dia disana. Merasa tidak ada siapa pun selain dia di tempat itu, kini pandangannya berubah pada object yang di lempar tadi ke arahnya. Ia melihat sesuatu berbentuk bulat yang terbungkus gulungan tisu tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk, karena rasa penasaran yang cukup tinggi kini Rin mengambil sesuatu itu dan membuka pembungkusnya.

Jeruk.

Di dalam bungkusan itu berisi sebuah jeruk segar yang benar- benar membuat Rin kembali terkejut. Siapa orang yang memberikannya ini? Dan seingat dia tak ada pohon jeruk di sekolah ini. Bagaimana orang itu tau buah kesukaan Rin atau ini hanya kebetulan? Apa kah ini Tuhan yang melempakan ini padanya karna tau hambaNya tengah kesusahan. Tidak mungkin. Pasti ada seseorang yang iseng melempar gumpalan tisu itu pada Rin dan lupa bahwa di dalamnya ada buah jeruk. Tapi jika benar seperti itu, siapa yang melakukannya?

TBC

Akhirnya selesai juga chapter ini, Trima kasih yang sudah baca jangan lupa reviw. Yang Login reviewnya sudah ku balas ya. Dan untuk yang gag login aku balas disini.

Ayane HikaHikari: gag papa kok. Dah review jga aku bersyukur banget. Dan ini udah update.

Ok sekian untuk balasan review dan sekarang ada sedikit cerita tambahan nih. Silahkan Baca.

.

.

.

"Kenapa kau membantunya?"

Seorang gadis berambut teal tengah berdiri di belakang seorang pemuda blonde yang tengah menatap seorang gadis dari balik tembok dalam diam. Gadis teal itu tak habis pikir, sebenarnya apa mau sang pemuda padahal dia sendiri yang mengatakan ingin menjauh agar gadis yang di pandanginya bisa bebas.

"Bagaimana pun dia tetap saudaraku." Jawab sang pemuda yang sebenarnya malah membuat gurat kesedihan terlihat jelas dari wajah gadis teal itu.

"Itu bukan alasan sesungguhnya bukan?"

Pemuda blonde itu berbalik dan menatap bingung ke arah gadis di belakangnya. "Apa maksudmu?"

"Perasaanmu lebih dari itu bukan? Kau mencintainya kan?" Kata gadis teal seraya menunduk menutupi air mata yang kini mulai menggenang di pelupuk matanya. "Sekali saja, dapatkah kau melihatku seperti melihatnya? Tak bisa kah kau memberikan hatimu untukku? Aku mencintaimu tapi mengapa sedekat apa pun kau disisiku rasanya terlalu jauh untuk menggapaimu?! Kenapa?!" Sambung gadis itu yang entah mengapa membuat sang pemuda kesal.

"Bisa hentikan ocehanmu itu?! Aku muak dengan apa yang kau bicarakan! Dan aku muak dengan dirimu! Aku muak karna kau lebih mementingkan orang yang kau cintai di bandingkan sahabatmu sendiri! Mulai sekarang menjauhlah dariku dan lupakan apa pun yang pernah terjadi di antara kita." Kata Pemuda itu dengan kesal sebelum pergi meninggalkan sang gadis sendirian.

"Apa belum cukup pengorbananku selama ini Len?"

.

.

Sekali lagi Trima kasih sudah mau baca. Sampai jumpa di chapter depan :*.. salam Chuu untuk kalian semua :*

Salam hangat,

Go Minami Asuka Bi