Naruto berdiri diatas kokohnya Pont des Arts, yang dibawahnya seperti berkilauan air dari sungai seine yang terkenal. Tahun lalu mungkin ia masih bisa berkesempatan melihat gembok terpasang kukuh disepanjang jembatan bersejarah kota Paris. Sebelum rubuh karna menampung rakus beban gembok yang semakin kian tak tau diri, pemerintah lebih menggutamakan aset ikon kota mereka dari pada keisengan para turis.
Naruto tampak tak masalah karna ia sendiri merasa menaruh gembok semacam itu adalah hal konyol. Aset bersejarah lebih berharga kemana-mana. Sekarang tempatnya berpijak itu jauh lebih bisa dinikmati tak harus bersama kekasih saja.
Pemuda Namikaze itu melirik handphonenya yang berlayar hitam. Ia memutuskan menyusuri lebih Champs Elysses. Ia tidak sedang tersesat di kalangan para pejalan kaki yang berpenampilan modis. Ia hanya lebih sederhana diantara para penggila mode, dikota yang memang menjadi pusatnya para fashionista dan sosialita.
Naruko mungkin akan menceramahinya, seolah gadis itu terlahir berjarak beberapa tahun lebih tua darinya. Memintanya berpakaian sesuai kondisi sebagaimana dia dan dunianya. Menanggapi gadis serupa dirinya itu, Naruto hanya mendengus. Tapi perasaan hangat tidak dapat disembunyikan dari hatinya.
Naruto duduk termenung dibawah jalan pedestrian berhadapan langsung dengan sungai seine. Ia teringat lagi saat dirinya tersesat dikeramaian disney land. Ketika itu usianya tidak lebih tujuh tahun, mereka sekeluarga liburan musim panas menghabiskan waktu di Hongkong. Dan Naruto kecil tersesat, ketika ditengah keramaian anak-anak bertemankan orang dewasa sebagai pendamping. Ia melepaskan gandengan tangan Naruko, lalu melihat antusias antrian es krim dengan badut lucu sebagai penjual. Mendapat es krimnya setelah mengantri panjang, Naruto baru sadar jika ia tidak menemukan anggota keluarganya dimanapun.
Setelah gelap dengan hujan yang mengguyur diawal musim panas, Naruto ditemukan oleh Naruko yang terengah sambil menenteng payung tanpa membentangnya keatas kepalanya. Naruto yang meringkuk takut dan terisak dipinggir pertokoan yang sudah sepi, memeluk menerjang Naruko. Mereka basah kuyup dan demam berhari-hari setelahnya. Tapi Naruto tidak mungkin melupakan moment itu sekalipun mereka lebih banyak bertengkar setelahnya.
"Hei! Jangan melamun."
Naruto terkesiap, untungnya tidak ada riwayat penyakit jantung hingga kagetnya yang sangat ketara bisa dinetralisir. Kembali dari kenangan masa lalu ke masa sekarang, Naruto menoleh kearah seseorang yang tiba-tiba ada disampingnya. Seenaknya duduk dan mengagetkannya.
"Sasori-san, aku bisa saja mati kaget tadi itu." Ucapannya malah membuat si surai merah itu terkekeh polos. Naruto semakin menekuk wajahnya cemberut. Bisa-bisanya ada orang tanpa rasa salah seperti pemuda disampingnya ini. Naruto mencibir dalam hati.
"Maaf, aku tidak bermaksud." Naruto tidak menangkap rasa bersalah dari nada bicara Sasori sama sekali. "Naruko heboh, takut kau lupa jalan pulang. Katanya, kau buta arah dan dia bercerita panjang lebar saat kecil kau tersesat ketika liburan. Aku ikut cemas dibuatnya." Kali ini Naruto menangkap nada khawatir yang tidak ditutup-tutupi pemiliknya.
Naruto mendengus geli. "Sasori-san, Naruko memang tukang bongkar aib." Ia terkekeh sebentar sebelum melanjutkan. "Tapi untuk sekarang, aku tidak mungkin tersesat. Aku sudah terlalu tua untuk itu." Ujarnya, senyum tidak pudar dari wajah tampan berkulit tan tersebut.
Disampingnya, Sasori diam tidak membalas, tapi fokus mata hazel itu tak lepas dari wajah si pirang yang berpendar keemasan, efek dari sinar matahari yang memantul di sungai seine kala senja begitu memikat mata. Sasori diam-diam mengabadikan struktur wajah itu didalam memorinya, lengkap dengan efek sparkle sebagai background.
.
.
.
Sasori seperti obat penenang untuknya. Naruko sukses membuatnya menawarkan diri sebagai pengganti, dan ia menyesali beberapa detik setelahnya. Ia keluar dari ruangan pengap dan berbau obat rumah sakit dengan umpatan sana-sini. Paris yang romantis dan impiannya semua orang penggila romansa dan fashion untuk menjejakkan kaki kesini tidak membuat Naruto merasa senang sama sekali. Tapi pria berambut merah dengan marga Akasuna itu datang menemukannya dan seolah menyuntikan obat penenang untuknya. Naruto dapat tersenyum seperti dirinya ketika bersama Sasori. Sebelumnya, padahal hampir sepajang jalan ia tidak tersenyum. Dipandangi orang karna wajahnya seolah mengajak berkelahi.
Malamnya, Naruto akhirnya bisa mengagumi pemandangan dimana saat ini dirinya berdiri. Kamarnya memang berasitektur sangat klasik dan mewah, tapi pemandangan diluar jendela kala malam hari yang berhadapan langsung dengan tumpukan besi Menara Eiffel membuatnya tidak dapat berkedip menatap kelap-kelip lampu berpijar keemasan diluar sana.
Ia sudah diajari hal-hal dasar mengenai bagaimana berakting oleh aktor terkenal semacam Sasori. Tetapi, Naruto sanksi bisa menjalaninya dengan benar, apalagi berhadapan dengan orang yang ia paling tidak ingin lihat didunia ini. Ia bahkan belum menghapal dialog sama sekali dan mereka besok sudah syuting. Benar-benar bunuh diri.
Selebihnya Naruto tidak peduli.
.
.
.
Pagi-pagi sekali ada yang menggedor pintu kamarnya secara tidak manusiawi. Mengumpat karna mengganggu mimpinya, Naruto berjalan kearah pintu dengan mata setengah terbuka.
Sedetik setelah pintu terbuka, tamu kurang ajar yang mengetuk pintu sampai kealam mimpinya justru menjerit histeris. Jangan salahkan dirinya jika ternyata orang itu terlalu syok melihat keadaan. Tubuhnya telanjang hanya dengan celana dalam.
Sedangkan gadis bersurai pirang pucat itu mendramatisir dengan menutup kedua matanya, sesekali mengintip dicelah jari-jarinya. Naruto memutar matanya malas.
"Apa yang kau lakukan disini, Ino?" Tidak ada nada ramah yang terselip disuara sang Namikaze. Tapi, gadis didepannya membalas dengan senyuman sangat lebar. Naruto sampai ngeri dengan senyuman itu.
"Guest what?" Ujar si gadis—lupa jika beberapa saat lalu dia menjerit melihat pria telanjang didepannya.
Naruto menatap datar gadis Yamanaka tersebut. "Jika tidak penting, pergilah. Aku mau mandi." Usirnya, berjalan kearah tempat tidur kembali.
Ino menelan ludah tanpa sadar. Naruto mungkin tidak sadar jika tubuhnya terlihat sangat enak untuk dinikmati. Lekukan tubuh berkulit kecoklatan itu sangat maskulin dan ramping. Dilihat dari belakang, celana dalam calvin clain seolah tidak dapat membungkus gumpalan bulat itu hingga begitu mengentat.
Ya Tuhan!
"Ino, wajahmu membuatku takut sekarang."
Ino gelagaban, kepergok manatap bulat-bulat Naruto yang ekpresinya sangat menyebalkan saat ini.
"Dengar, Naruto. Kau tau untuk apa aku kesini..." Naruto memakai kemeja putih tipis lalu menatap Ino lagi. Gadis itu masih merona dengan penampilan yang sama sekali tidak cocok dengan image dirinya. Berantakan. Tapi setidaknya, Naruto tau jika gadis itu habis melakukan perjalanan jauh, menghadiri berbagai acara fashion, dan berakhir tanpa sempat istirahat bahkan merapikan diri untuk mendatanginya atas permintaan Naruko.
Naruto menghela nafas. Ia melirik koper besar disamping Ino. "Kau hanya akan berdiri disana?"
Kali ini senyum cerah Ino mengembang menawan diwajah cantiknya. Gadis itu menggeret koper besarnya kerepotan. Mendumel karna Naruto sama sekali tidak peduli dengan kesusahannya.
"Kau tidak perlu pakai bajumu, Naruto." Naruto hanya bergumam, tidak menghiraukan Ino yang menatapnya hingga berada dibalik pintu kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Naruto keluar dengan kemeja tipisnya dan celana panjang. Rambut pirang terangnya basah menetes-netes di leher. Sekali lagi memberikan pemandangan mata yang enak dinikmati.
Ia menyernyitkan alis pirangnya pada gadis yang duduk diujung ranjangnya. Naruto tidak tau kenapa sedari tadi pipi gadis itu terus memerah. Tapi, ia lebih tertarik pada makanan yang tersaji di samping ranjang.
"Aku memesan makanan selagi kau mandi." Ino mengunyah sarapannya, mencoba lebih fokus. "Kenapa mimik wajahmu menyebalkan begitu, sih?"
"Menurutmu aku senang? Kau datang untuk melakukan apapun itu aku tidak peduli. Yang jelas, aku akan berakhir konyol. Dan sekarang kau seenaknya sarapan dengan fasilitas hotel, memangnya yang bayar nenek moyang Yamanaka?!"
Ino terperangah. Mulutnya terbuka-tutup dengan sandwicht yang setengah dikunyah dimulutnya.
"Ya ampun, Naruto. Masa kau tega membiarkan seorang gadis kelaparan dikamarmu?" Ini berdecak, berdiri sambil berkacak pinggang. Tubuhnya yang molek berjalan kearah pemuda Namikaze.
Naruto tidak menghiraukan sama sekali. Dalam hati bergumam 'jika gadis yang kau maksud adalah dirimu, tentu saja tega' tapi tidak ia ucapkan. "Lain kali belajarlah meminta ijin lebih dulu."
"Tidak usah mengulur waktu, Naruto." Ino menangkap pergelangan tangan pemuda berkulit tan tersebut. Lalu tanpa mendengar protesan, ia melempar pemuda itu keatas ranjang queen size ditengah ruangan. "Aku memang tidak suka bertele-tele. Jadi kita langsung saja..."
Naruto menelan ludah. Ino sudah merangkak kearahnya.
"Menyerah saja Naruto~"
WHAT THE HELL?!
"TIDAAAAAAAKKKKKKKKK...TOLONG AKUUUUU" Teriakan memilukan itu hanya terendap dalam ruangan kedap suara.
Dasar tukang drama.
.
.
.
Mereka tiba di lokasi syuting telat sedikit. Para kru menatap tajam, Naruto langsung meralat kalau mereka telah sangat telat sekarang.
Ino mendeklarasikan dirinya sebagai penata rias pribadi sang Namikaze. Setelah memperkosa dirinya dengan seperangkat alat make up dan baju-baju yang membuat mata Naruto hampir lepas dari tempatnya. Gadis itu sukses melakukan keajaiban dengan penampilannya.
Jika Naruto yang sangat maskulin itu mampu menarik perhatian gadis manapun yang ia inginkan. Seorang Yamanaka Ino, membuatnya dilirik beberapa pria karna penampilannya sekarang.
Naruto menggunakan wig pirang dengan poni yang membuat wajah bulatnya terlihat menggemaskan. Rahangnya yang tegas tertutup rambut dan riasan sederhana yang sangat cantik. Naruto tidak bisa mengelak jika kembarannya cantik, maka bukan tidak mungkin dirinya sama cantiknya.
Yang dilakukan Ino selanjutnya lebih mengerikan. Sesudah mencabut bulu-bulu kakinya dan mencukur bulu di ketiak. Ia mengganjal gumpalan silikon dibalik bra yang dipasangkan secara paksa. Sesudah itu, mencocokan berbagai dress dan aksesoris yang dikenakan.
Naruto sukses dibuat menjadi kembaran serupa Naruko. Kata Ino lebih cantik dan moe. Ino bahkan menawarkan untuk menjadi model peraga busana produk miliknya. Naruto bisa menjadi model androgini paling top jika dia mau. Sayangnya Naruto tidak akan pernah tertarik. Menjadi model tipe androgini? Model normal saja merepotkan.
Dengan dress diatas lutut berwarna orange terang dengan cardigan tipis warna putih. Dirinya memang terlihat sangat simple dan hanya menonjolkan kecantikannya.
Beberapa menit setelah tiba di lokasi syuting. Naruto mendapati wajah jengah para kru dan yang lainnya. Ia sadar sudah terlambat satu jam lebih dan ia siap mendengar ocehan pedas yang akan keluar dari mulut si brengsek Uchiha Sasuke.
Tapi, menunggu beberapa lama juga belum ada reaksi berarti dari satu orangpun. Hingga Naruto, menatap sekitarnya dan justru menemukan wajah-wajah bengong.
Apa sedang ada iklan air mineral disini?
"Apa kalian semua hanya akan berdiri saja?" Dan acara bengong masal itu berakhir sedetik setelah suara bariton itu berkumandang.
"Na-Naruto?"
Naruto menatap Sasori, lalu tersenyum lembut setelahnya. "Memang kau pikir siapa? Kim Kadarshian?" Ucap Naruto, mencoba bercanda. Tapi justru membuat wajah Sasori semakin memerah tidak jelas.
"Dobe," suara bariton itu menghampirinya. Naruto menatapnya malas tapi, Sasuke mengalihkan tatapannya kearah Sasori sekilas. "Kau sudah baca naskahmu? Apa kau hafal dialogmu?"
Naruto menggeleng. Memang salahnya jika ia belum membaca naskah sama sekali?
"Sasori, giliranmu take!" Sasuke memerintah tanpa melihat kearah yang bersangkutan. Tapi, Sasori tetap mengangguk. "Dan kau...", ia melempar foto copy naskah kearah Naruto. "baca bagianmu." Ucapnya pelan namun terdengar mengancam. "AYO, KITA MULAI BEKERJA?!"
Naruto hanya menghela nafas atas tingkah sang sutradara. Ia tidak mungkin meladeni pria itu untuk adu mulut. Mereka sudah tidak cocok untuk melakukan hal konyol seperti itu. Lagi pula, Sasuke memang sengaja ingin mencari perkara dengannya. Untuk itu, ia lebih baik memghindar.
.
.
.
"Teme sialan?!" Naruto memaki. Luar biasa kesal karna merasa dipermainkan. Selama beberapa jam, ia hanya mengulang adegan itu-itu saja. Belum lagi teriakan-teriakan Sasuke Uchiha yang memakai toak itu sangat menyebalkan.
"HEI, DOBE! TAMPILKAN EKPRESI POLOS SEORANG GADIS! BUKAN WAJAH YANG MEMBUAT HORNI, BODOH?!"
"USURATONKACHI! KU BILANG BUKAN SEPERTI ITU?! ATUR LAGI EKPRESI WAJAHMU ITU DIDEPAN KAMERA. KAU PIKIR KITA SEDANG SYUTING FILM FORNO, HAH?! ATUR EKPRESIMU!"
"KAU AKAN JADI BINTANG PORNO TERKENAL! TERUSKAN SAJA MENAMPILKAN WAJAH SEPERTI ITU?!"
Naruto menatap cermin ditoilet itu seksama, memperhatikan mimik wajahnya. Serius, Naruto gagal paham darimana salahnya dengan mimik muka dirinya. Sasuke brengsek, dia sukses membuat Naruto frustasi. Demi tuhan! Apa wajahnya terlihat seperti perempuan binal?
"MEMANG APA YANG SALAH DENGAN WAJAHKU?!"
"Nona, kau salah masuk toilet."
Hah?! Orang tadi bilang apa?
Naruto menatap dirinya didepan cermin. Cantik. Ia menatap sekitar, ada tiga pria yang menatapnya aneh.
Oh... That's so awkward!
Secepat kilat Naruto keluar toilet dengan wajah memerah. Sumpah tadi itu bukan salahnya. Ia terbiasa masuk toilet pria tanpa sadar jika penampilannya sudah berubah wujud. Naruto ingin memertawai dirinya sendiri.
"Naruto," seseorang menghampirinya, berjalan dengan gayanya yang arogan dan sebatang rokok terselip dibelahan bibirnya yang tebal.
Wajah Naruto mendatar seiring rasa kagetnya yang sudah kembali normal. Melihat pria itu didepannya, artinya syuting hari ini sudah berakhir. Ia masih begitu kesal dan sialnya justru malah bertatap muka dengan orang yg membuatnya kehilangan mood.
Tanpa kata dari keduanya, mereka hanya saling tatap tidak penuh arti.
"Kau mau apa?" Naruto jengah.
"Je veux que tu ..." (Aku mau kau) Sasuke tersenyum miring "De venir avec moi. J'enseigne comment agir en face de la caméra." (Ikut denganku. Akan aku ajari kau berakting didepan kamera) Nada perintah yang tidak Naruto suka. Tapi pria itu tetap acuh dan mencoba meraih jemari si pirang yang langsung ditepis dengan tambahan decihan sinis.
"Kau bermain-main denganku, Uchiha? Kau pikir aku bodoh, sampai tidak tau pikiran picikmu?" Naruto memutar matanya, lalu sapphirenya menajam penuh kilatan benci. "Kau boleh anggap ini main-main. Tapi aku tidak akan diam begitu saja seperti dulu." Bisiknya didepan sang Uchiha, lalu meninggalkan begitu saja Sasuke dengan perasaan bekali lipat lebih kesal. Kesal karna tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Sasuke.
"elle douce..." (dia manis sekali) Gumam Sasuke, seringai tipis bermain diwajah tampannya.
.
.
.
"Maaf baru menemuimu sekarang, Ruko." Ino menutup pintu ruangan lalu menghampiri Naruko yang menatapnya kebosanan. "Aku tidak suka tatapan itu."
Naruko terkekeh. "Kau meminta maaf bagiku terdengar aneh tau..." ia membuka kembali majalah dipangkuannya. "Bagaimana hasilnya? Apa yang terjadi?"
"Oh, aku mulai dari mana ya~" nada main-main yang keluar dari bibir merah Ino membuat Naruko mendengus.
"Ayolah, Ino..." Naruko mulai merengek.
"Tidak ada yg terjadi." Naruko menatapnya tak percaya. "Memangnya apa yang kau harapkan? kakakmu tidak akan mudah menerima begitu saja permainan seperti ini. Dia tidak bodoh! Jelas sekali dia tau jika kau merencakannya sesuatu, kan?" Ino memutar matanya saat gadis Namikaze didepannya masih bergeming.
"Kau pikir aku sengaja? Lihat keadaanku, dong!" Naruko menunjuk keadaan kakinya yang masih di gips. "Ino, ini diluar rencanaku. Untuk itu aku memintamu kesini. Jangan biarkan Uchiha itu mengambil kesempatan lagi dari Kakakku yang seksi."
Ah, Ino setuju dengan kata terakhir Naruko. Tapi, tunggu dulu. "Kenapa?!" Pekiknya kaget. "Kenapa tidak boleh? Aku pikir rencanamu memang itu, 'kan?"
"Aku tidak pernah berpikir begitu. Seperti Kakakku tidak laku saja." Naruko memutar mata lagi, bolak-balik takut juling. "Sasori masih jauh ideal dibanding Uchiha kurang ajar itu." Lanjutnya membalik lembar halaman majalahnya.
Ino tidak habis pikir. Jadi ia disini untuk menjauhkan Sasuke dari Naruto, begitu? NO! BIG NO?!
"Ino, pokoknya jangan sampai Uchiha mendekati, Naruto." Ino menelan ludah susah payah. Ini masalah couple yang sudah digilainya sedari remaja. "Aku tidak mau dia terluka lagi." Dan Ino benar-benar tidak punya alasan untuk menolak. Tidak perlu diingatkan seperti apa marahnya Naruko waktu itu. Karin bahkan memilih memisahkan diri. Persahabatan mereka mendingin setelahnya. Susah payah Ino terus berusaha mengembalikan sahabat-sahabatnya seperti dulu.
"Jika hanya itu, serahkan saja padaku." Ino tersenyum mengedip dengan senyum lebar. Dipeluknya Naruko erat yang balas memeluk sama eratnya.
.
.
.
Makan malam kali ini, Naruto menyesal memilih makan direstoran yang direkomendasikan oleh hotel. Tempatnya sangat mewah penuh dengan furniture memanja mata dan interior yg sangat menjelaskan jika ini adalah restoran kelas atas.
Bukan karna ia tidak bisa membayar. Tapi, ketika dihadapkan dengan dua orang pria, satu berambut merah yang melambai padanya seolah bertemu teman lama, lalu mengambil duduk disebelahnya tanpa persetujuan seperti sudah sangat biasa dan tersenyum menawan. Satu lagi datang dengan begitu elegant, penampilan bangsawan asli masa kini. Tanpa menebar senyum dengan wajah arogantnya, pria raven itu tetap sukses mencuri perhatian. Mengambil disisi sebelah Naruto satunya. Pria itu hanya melempar tatapan yang Naruto tidak terlalu mengerti maksudnya—separuh mengerti karna detail tatapan tersebut masih tidak banyak berubah.
Sialnya. Ia merasa jadi itik buruk rupa didepan dua orang pangeran dari negri dongeng.
Seorang pelayan menghampiri dengan bahasa francis yang tidak Naruto mengerti. Ia hanya mengerti beberapa kosakata, dan ia paham jika pelayan dengan tuxedo yang begitu rapi itu menawarkan makanan. Tentu karna mereka memang sedang direstoran. Intinya tidak usah dibahas juga tau maksudnya. Naruto meringis dalam hati.
"Kau mau makan apa?"
"Makan apa, Dobe?"
Ucapan mereka hampir berbarengan. Naruto tidak tau siapa yang lebih dulu bicara karna tidak ada garis finish untuk penentuan. Ya ampun... Ia hampir berteriak frustasi.
Dua orang sebelah kiri dan kanannya membuat dirinya sakit kepala. Naruto melirik daftar menu, ingin sekali berkata berikan saja ia makanan yang dapat dimakan. Itu diluar karakter, ia harus terlihat elegant.
"Berikan saja yang bisa aku makan." Ucapnya kalem, memilih kata itu juga karna merasa tidak menemukan kata lain.
Keduanya menatap sang pelayan yang menunggu dengan canggung. Mereka berdua mengucap menu yang berbeda hampir berbarengan lagi. Sekali lagi terulang mereka bisa saja jodoh. Naruto meringis membayangkannya, bukan karna takut tidak kebagian jatah. Hanya saja, melihat mereka beradu tatapan intens yang tidak ada kesan manisnya, terkesan seperti anjing dan kucing lalu ia tikusnya.
Oh, Naruto harus hentikan tingkah mereka.
"Catat saja keduanya." Senyumnya kalem, dalam hati sedikit muak. Siapa yang mau menghabiskan dua porsi sekaligus saat makan malam? Tidak masalah, Naruto tidak takut gendut. Eh, tapi ia dituntut untuk menjaga badan tetap konsisten selama dikontrak bermain film. Naruto memijit pelipisnya tiba-tiba pusing sendiri, sebal sendiri, makan hati.
"Ada apa?"
Naruto lagi-lagi memutar bola matanya mendengar kedua lelaki itu menanyainya berbarengan. Jodoh sudah sepertiny mereka. "Tolonglah, jangan menghilangkan nafsu makanku."
Sasuke mendengus tidak suka, Sasori mencelos merasa bersalah. Onyx dan hazel beradu pandang dengan kilatan persaingan. Sasuke tidak suka sikap Sasori yang jelas-jelas ingin mengajak perang. Sedang Sasori yang tiba-tiba merasa incarannya dalam bahaya memasang mode protektifnya. Jelas Uchiha bukan lawan mudah.
Namun, tanpa mengindahkan kedua manusia perang tatapan itu, Naruto makan hidangan yang beberapa detik lalu disajikan dihadapannya. Perutnya lapar dan ia tidak peduli dengan perang implisit Sasuke dan Sasori—juga berat badan.
.
.
.
"Kenapa mengikutiku?!" Naruto kesal bukan main. Ia menghentak-hentakan kakinya kekanakan.
"Aku ingin memastikan kau selamat sampai tujuan." Oh, itu berlebihan. Naruto mendengus, jawaban Sasori itu sangat tidak bermutu. Sedang Sasuke hanya diam saja dengan rokok terselip dibibirnya. Naruto melirik pria itu dalam diam. Mata hitam tiba-tiba menoleh padanya, Naruto secepat kilat mengalihkan pandangan.
Ia tiba dikamarnya lalu menghela nafas. Dua orang dikiri-kanannya sama sekali tidak menjauh.
"For God Sake's?! Kalian mau apa? Pesta piyama dikamarku?!" Serunya lelah kokoro. Jika Sasuke labil sudah biasa, Sasori ikut labil jadinya petaka.
"Bukan ide yang buruk," Sasuke bersuara untuk pertama kalinya setelah meninggalkan restaurant. Sasori mengangguk semangat membayangkan pesta piyama dengan Naruto saja.
"NO! BIG NO!?"
Jengkel berat, Naruto masuk kamar inapnya lalu menutup pintu dengan keras didepan kedua pria tampan itu tanpa pikir panjang.
"Dasar gila!" Umpatnya, tidak habis pikir harus mengalami malam yang begitu menyebalkan. Bisa-bisanya Sasuke bersikap kekanakan dan Sasori yang dianggap Naruto paling dewasa malah ikut-ikutan labil.
Naruto tidak peduli. Ya! Ia sama sekali tidak peduli, kok...
TBC
Chapter 2 akhirnya bisa updet #orz
Maafkan keleletan saya :'(
Saya terlalu sibuk sama kerjaan sama kemaren2 tugas kuliah. Sekarang udah bebas.. yuhuuu~~ i'm back~
Masih adakah yg nunggu ff ini? #NO #Cry
Saya usahakan ff ini tetap lanjut sekalipun mungkin agak aneh karna kelamaan dianggurin, idenya udah kemana-mana. Semangat saya liat review yg masih nambah minta lanjut itu loh... saya gk bisa abaikan kalian reader sekalian :')
Saya harap kalian masih apresiasi ff saya dengan review biar saya terus semangat, yes? Jgn pelit review yes?
Orz... big thanks for support n reviewnya...
Shin Sakura II, Narutogaiden, Dark , Yurika46, witch song, Phantomlady 13, Kris hanhun, gyumin4ever, rohmah clouds, putri, Versya, ChaChulie247, Yun Ran Livianda, Inma Gination, Mimo Rain, efi astuti 1, Ariellin, Qua-cchi, Vianycka Hime, gici love sasunaru, Aprieelyan, Shirota Strain, Lovely win 758, KiraKilla, Ryuuki760, Muhammad barry, Kuroi Sora18, SN, user31, mao-tachi, TsubasaF, Harpaairiry, cloudyeye, zadita uchiha, kyuubi no kitsune 4485, Kuroshiro Ringo, zhichaloveanime, SNlop, Arum Junnie, SNCKS, choikim1310, Elysifujo, AkaiHasami, mifta cinya, Aiko Vallery, Uzumaki Prince Dobe-Nii, intan pandini85, Nira Namikaze, Yulia 19982, Miyu Mayada, rei diazee, SNlove, yamito chan, miszhanty 05, RoxyFuji Naxy777Max, hanazawa kay, Lhiae932, ANISEED ACORN, yuura, irna lee96.
Oh, wait! Saya sekalian promo challenge dulu. Khusus SasuNaru fans...
I'm so exited for this challenge!
Kami, sehubung dekatnya SasuNaru Day, mengadakan challenge untuk para SNL. #jrengjreng
Berminat?
Silahkan untuk cek rulesnya, klik link dibawah ini:
events/565189983644476/
Like fanpagenya juga ya~~
. ?story_fbid=935616109890215&id=100003255055643
Orz... see u in the nex chap~ :* :*
