Dasarnya putih bersih. Tak berbeda dari bulu domba. Dasi abu-abu, jas serupa, celana panjang kain obsidian. Ciel meraih tas isi udara. Ditaruhnya di pundak, memasukan sepasang kaki dalam sepatu pantofel hitam bertali. Ujung kaki diketuk-ketuk. Kepala mendongak tatkala suara menelusup ke gendang telinga.

"Sini, sini! Cepat, Ciel!"

Alois di luar sana, di depan pintu, dengan puluhan suara berisik dari murid-murid yang gaduh menuruni tangga dan bertukar sapa. Pemuda bersurai singa menampilkan deretan gigi putih, sudah rapi pula setelan seragamnya.

Ciel mengangguk. Langkah diambil, keluar dari teritori. Pintu kayu ditutup tanpa menoleh ke belakang, sebagai gantinya, fokus matanya adalah arah kanan. Jauh, sebuah pintu kayu besar terlihat jelas.

Lalu langkah kecilnya terburu mengikuti larian Alois yang secerah bunga matahari di pagi hari.


.

.

.

Disclaimer: Black Butler © Yana Toboso

Warning n Genre(s) : romansa, drama, friendship, typo(s) diharapkan nggak ada, personality karakter sudah pasti melenceng jauh dari canon-nya, alternative universal (mungkin AU! Daily life atau semacam school life dalam kasus fictiondi sini), mainstream, pasaran, shounen-ai, bromance, fiction relationship aboutSebastian x Ciel, EYD semoga betul seluruhnya.

Terminum by Saaraa

Arc : 2 – "Shorty"

.

.

.


"Ciel Phantomhive … ah, dari Altaussee, sebelum ini, aku bersekolah dasar di Volksschule. Sekian, ehm …," Ciel meneguk ludah. Sudah ia paksakan bahwa irisnya tak boleh berkeliaran ke mana-mana, dan tatap lurus ke depan, telak tabrak dengan belasan pasang mata yang berimplikasi dengan rasa penasaran. "Salam kenal."

Kemudian gurunya mempersilahkan duduk. Ia boleh memilih ingin di mana, Ciel lebih suka bangku dekat jendela, paling sudut kanan–kebetulan kosong. Alois berjarak dua meja di kanan, memberi senyum tipis. Biru pucat berkilat.

Pelajaran dimulai, dan Ciel dengan mudah menangkap penjelasan guru. Guru yang piawai, atau otak Ciel memang jenius dari sananya–intinya, tiga pelajaran pertama; Fisika, berakhir dengan baik.

Sebetulnya ini tak jauh berbeda dengan apa yang ia pelajari di rumah. Seorang guru dipanggil secara khusus oleh Madam Red, untuk melengkapi ilmu Ciel dengan standar edukasi resmi. Home-schooling. Seingatnya, apa yang telah ia pelajari di rumah sudah sekurangnya menyentuh tingkat SMA 2. Satu tahun yang lalu, kegiatan belajar itu terhenti. Ciel lebih fokus dengan bisnisnya di Funtom, bekerja-sama dengan bibinya tersebut.

Bel memekakkan telinga. Waktunya istirahat. Seharusnya mayoritas pelajar memiliki perasaan yang menggebu-gebu untuk segera ke kafetaria, dan membeli beberapa susu dingin bersama bruschetta. Namun sepertinya untuk sekarang tertunda, sebab mereka pilih berbincang dengan si pemuda asing.

Alois terkekeh melihat Ciel kewalahan. Banyak pertanyaan mengudara, kadang mengulik bagian pribadi. Oh, Ciel bisa mengelak dengan mulus. Itu mudah, mengingat bagaimana selama ini ia … menipu relasi bisnisnya dengan beberapa kata manis.

"Namaku Lau." Seorang pria. Oriental, sudah jelas. Matanya menyipit, dan senyumnya agak–membuat risih. Namun pada akhirnya, Ciel membalas uluran tangannya.

"O-oh … salam kenal."

"Kenapa home-schooling?"

Mengurus perusahaan yang ditinggal orangtuaku. "Hem, yah … seperti yang kaulihat, aku sedikit tertutup."

"Keahlianmu apa, Phantomhive?"

Entahlah, menjilat petinggi perusahaan? "Barangkali basket?"

"Hehh … Phantomhive punya kerabat di sini?"

Ciel mengerjap. Oh. Bukankah Lizzy–

"Ciel!"

Seorang gadis menelusup masuk. Seluruh murid melihatnya, kemudian tergelak, beberapa menepuk punggungnya.

"Kau mengagetkan saja, Elizabeth!"

Gadis lain menarik pelan pipinya. "Datang sebab desas-desus anak baru yang tampan?"

"Duh!" Gadis itu, mengukir senyumnya yang paling sensual, berspirit dan seolah mirip bel yang bergemerincing di saat bersamaan. Iris dwiwarna geming, melihat dalam diam. Memorinya meruak, ketika helai pirang gadis itu masih kuncir dua. Kini hanya satu, buntut kuda. Masih ikal, beberapa helai poninya masih dibiarkan panjang–mengalun satu irama dengan gerak kepalanya.

Kini lebih … dewasa. "Dia ini sepupuku!"

Alois berdiri dari kursi. Lengan kanannya mengalung pada tengkuk sang gadis pemilik iris gulma, dan sudut bibir membentuk bulan sabit. "Heh … sepupu?"

"Ah, kau di sini. Jangan menyusahkan Ciel, Alois."

Lalu Elizabeth melepaskan rangkulan. Dengan itu, pelukan erat diberikan pada sang sepupu. Ciel tersentak, harum manis–madu, membelai olfaktori. Ekor mata Alois melirik hal lain.

"Miss me, Lizzy?" Ciel mengulas senyum tipis. Elizabeth mengangguk semangat. Baru beberapa sekon terlewat, seseorang mengetuk pintu kelas. Seketika mengalihkan perhatian. Ciel mengerjap. Lensanya terpaku.

Gadis di sana. Surainya keriting, hitam kelam, kontras dengan kulit putih lesi-nya. Dan sepasang iris yang dipunyainya … merah darah.

Vermillion, Ciel membatin. Dan sehitam malam. Ah. Membicarakannya … di mana pemuda itu?

Masih larut dalam imajinasi sendiri, tapi sayang Alois sudah menganggu dengan melingkarkan lengannya di leher pemilik helai biru kelabu. Ciel melihat ke arahnya.

"Bethanie Calvin, saudari kembar Joker Calvin." Ciel mengangkat sebelah alis. Menunggu. Alois menurunkan sebelah kelopak matanya, cepat, mengangkatnya lagi. Senyum miring belum hilang dan itu sedikit mengganggu Ciel–kalau boleh diberi tahu. "Seksi, 'kan? Berminat?"

Pemilik nama belakang Phantomhive mendengus. "Konyol," katanya, menopang dagu. "Bukan tipeku."

Padahal suaranya cukup pelan. Tapi masuk ke gendang telinga salah satu penghuni kelasnya. "Eh, benarkah? Lalu tipemu seperti apa?"

"Eh–?"

"Elizabeth Middle Ford," Bethanie memanggil. Alisnya menaut dan dilihat dari sikapnya–ia tak begitu senang ada di sini. "Ketua OSIS mengadakan rapat sepulang sekolah. Pastikan kau datang dan jangan membolos atau ikut ekskul berpedang."

"Aku sudah tahu." Elizabeth melangkah, mendekati gadis itu. Separasi tinggi hanya beberapa senti, tak pengaruh. Elizabeth tak perlu mendongak untuk melihat lensa Bethanie. "Kau kemari hanya untuk melarangku ikut ekskul? Manis sekali, Calvin."

Alois dan Ciel di sudut ruangan meneguk ludah. "Lizzy terlihat tak akrab dengannya."

"Sangat."

Bethanie tersenyum. Matanya menyipit. "Tentu. Bukankah kau sudah dua kali kabur dari rapat OSIS?"

"Kau iri padaku karena aku memenangkan kompetisi berpedang hari itu?"

Alois meninggalkan Ciel, berjalan maju. Ia menengahi antara si helai pirang dan hitam, kemudian berusaha menampilkan senyum teramah yang ia bisa. "A-a-a, waktu istirahat sudah akan habis! Bagaimana kalau kau nikmati sisa waktu, Bethanie?"

Dan begitu saja, gadis itu melangkah menjauh.

"Harus kauhentikan, huh?"

"Aku mencegah adu cakar di sini, Lizzy. Bersyukurlah."

Kawan kelas yang lainnya diam-diam hela napas lega. Ini bukan terjadi satu atau dua kali, isu lama. Sudah basi namun tetap saja–merinding hingga membangkitkan bulu roman. Lizzy mengembungkan pipinya, ekspresi atas ketidakrelaan. "Aku balik ke kelasku dulu. Seperti katamu, waktu istirahat akan habis."

"Ah, ya. Take care." Alois melambai. Ia kembali ke kursinya, hanya untuk menemukan Ciel mengerjap beberapa kali padanya. "Apa?"

"Jadi kau semacam … pawang."

"For God's sake–pawang?"

"Oh, ya, Phantomhive?" Lau memanggil. Sontak bukan hanya Ciel yang menoleh, Alois menjadi yang kedua. "Benar bukan tipemu? Bethanie Calvin masuk daftar wanita paling seksi di sekolah ini, loh?"

"Balik ke tempatmu, sana."

.

Sejarah selalu membosankan–namun sayangnya, krusial. Meski begitu tetap saja Ciel mengusahakan dirinya lebih ke arah menggambar dengan bagus di buku tugas. Hanya iseng, sebetulnya. Ia baru akan mendongak dan memberi sedikit perhatian pada guru di depan, lalu ponsel di saku celana kain mendadak menghasilkan vibra. Pesan singkat.

Ia melihat ponsel di bawah meja, mengernyit saat pesan masuk dari bibinya berjudul 'urgent'. Ia membuka isinya.

Bagaimana hari pertama, Sayang? Oh, kuselipkan resep gateau chocolate di kopermu. Kudengar ada dapur untuk siswa di bagian asrama yang bisa kau pakai. Nikmati sekolahmu! Funtom tentu saja baik di bawah kendali Madam kesayanganmu.

M. R–

Begitu sadar, senyum simpul sudah terukir. Harusnya kata urgensi digunakan jika situasi memang tak terkendali, Madam Red.

"Mr. Phantomhive?"

Marga yang disandangnya tersebut jelas, Ciel mendongak. Menaruh ponsel di laci meja, lalu senyum bisnis reflek diperlihatkan. "Ya, Ms. Natta?"

"Bisa sebutkan apa itu perang sipil? Oh, karena sepertinya tadi kau sedikit tidak fokus," kata sang guru. Lembut tapi cukup disiplin, mampu membuat murid patuh dengan caranya sendiri. Cara mengajar yang tidak biasa, tapi mudah diterima. Sesungguhnya impresi Ciel sejak melihat ia di awal kelasnya memang sudah bagus.

"Tentu, miss. Perang antara pemerintahan pusat Amerika Serikat dengan konfenderasi Amerika. Terjadi di tahun 1861 sampai 1865, dan Ulysses S. Grant memimpin kurang lebih lima ratus ribu pasukan Union."

Sang guru berjalan ke arah kursinya. Mengusap kepala biru kelabu sesaat. "Nah, kita berlanjut ke latar belakang sejarah terjadinya perang sipil." Kemudian ia mengitari kelas sembari menjelaskan isi buku, terkadang memberi poin tambahan yang tidak ada di dalam buku namun akan keluar di ujian, membuat murid yang lain sibuk mencatat sambil mendengar seksama. Bukan pengecualian bagi Ciel.

Fantasi Ciel kembali berkeliaran. Memikirkan tentang buku kesukaan yang ia baru baca, dan berpikir tentang kelanjutan dari novel misteri kesukaan. Kadang ada keinginan untuk tak fokus pada sesuatu yang merepotkan–contohnya, pelajaran sejarah. Jadi ia lebih memilih membiarkan alam bawah sadarnya mengambil alih, merekayasa khayalannya.

Lalu di tengah itu, gumpalan kertas kecil mengenai bahu Ciel. Menoleh ke samping, Alois menaikkan sebelah alis, memasang cengir. "Ada apa?" bisik Ciel, rendah. Memastikan Natta tak mendengar ucapannya, kemudian ia melirik pada gurunya yang berdiri cukup jauh, dekat pintu kelas.

"Kau tahu festifal sekolah tak lama lagi?"

"Kau baru saja memberitahuku."

Alois kembali menulis ketika sadar bahwa lagi-lagi gurunya menambah poin yang tak ada dalam buku sejarahnya, sama dengan Ciel. "Yeah, kira-kira, hm … 6 minggu dari sekarang. School's born day."

"Heh …," Ciel menopang dagu. "Ada yang spesial?"

"Tidak juga. Mungkin kelas Lizzy akan membuka kafe klasik seperti tahun sebelumnya."

Ciel melirik pada guru sejarah yang jauh di depan. Ia terdiam, sesaat. Tidak relevan.

Namun dibanding bertanya, Ciel lebih memilih untuk diam. Beberapa saat setelah hening itu, Alois kembali berbicara, "Kau tahu–lagi–bahwa ada pesta penerimaan anak baru?"

"Aku tersanjung. Kapan?"

"Hem, agak larut. Mungkin jam 8. Sebatas dengan gang-ku dan Lizzy, oh, ada Calvins juga sebetulnya."

"… kalau Lizzy tidak akrab dengan Bethanie Calvin–kenapa satu grup?"

"Yah … kakaknya akrab dengan kita semua, dan Bethanie cukup disukai, sebetulnya. Aku, netral."

"… begitu? Baiklah."

Alois terkikik senang sebab Ciel menyetujuinya. Dan ia tak melihat guru sejarahnya kedapatan melihatnya tak memperhatikan. "Oke, essai 300 kata untukmu, Mr. Trancy!"

Alois melenguh dramatis. Ciel kembali pada bukunya, bertingkah ia tak ada hubungannya dengan pemuda bersurai singa di samping sana.

.

"Oke–tunggu, boys!"

Salah seorang murid perempuan merentangkan lengannya. Menahan pintu kelas, memastikan tidak ada yang melangkah keluar. Bel pulang sudah berdentang, maka yang lain hanya bisa berikan ekspresi penuh tanda tanya. Sarat misteri, ia memasang senyum. Ada beberapa yang menggerutu. Lalu ada tangan yang terangkat ke udara, dan suaranya memenuhi sanubari tiap murid, "Ada apa?"

"Yeah … kau tahu betul bahwa perayaan hari lahir sekolah tidak lama lagi–spesifiknya, 6 minggu ke depan. Jadi, Lizzy, selaku bagian acara, baru saja memberitahuku. Kita harus sudah mulai merancang kegiatan untuk nanti."

"Kenapa tidak buka stand rice box seperti tahun lalu saja …."

"Masalahnya … ketua osis sudah mengingatkan tak ingin tiap kelas membuat kegiatan yang sama seperti tahun lalu. Dan lagi, kurasa tahun ini memang harus sedikit heboh, mengingat pihak sekolah mengundang Undertaker."

Alois terlonjak. Sebetulnya seluruh penghuni kelas–heboh berdasarkan reflek. Pemuda berhelai matahari berdentum jantungnya, keterlaluan cepat dan serasa anomali–tak bertempo dan beritme, acak. Penuh harap, bola mata biru pucat disepuh cahaya surya, berbinar. Menyamai bocah kecil. "Serius? Katakan ini serius!"

"Ya, Alois," ketua kelas bersidekap. "Makanya, kita harus serius."

"Woah … Ciel, kaudengar? Undertaker!"

Ciel mengangguk perlahan. Lobus menampilkan visual lelaki bersurai perak, dengan tawa yang selalu hadir di tiap saat, dan sedikit penuh abnormalitas. "Model dari Perancis, 'kan? Kenapa kau begitu senang?"

"Eh?!" Alois melompat. Autis. "Masa kau tidak?"

"Maksudku, pihak sekolah bisa bersikap persuasif dan membuatnya akan datang, itu hebat–tapi di bagian mana yang membuatmu sebegini … hiper-aktif."

"Mimpinya menjadi model! Betul, 'kan?" di tengah keributan, seseorang menjawab pertanyaan Ciel. Pemuda itu terdiam, sesaat. Memperhatikan kawannya berlompatan ceria.

"Ya! Mungkin aku bisa bertanya ini-itu ketika dia di sini!"

"Nah, Alois! Fokus pada kegiatan kita dulu!"

"Roger that, captain!"

Ada hela napas pendek dari ketua kelas. "Jadi, ada yang punya ide?"

"Err … paduan suara?"

"Ditolak! Kita tak bisa bernyanyi, 'kan!"

"Cosplay!"

"Kostumnya tidak murah. Kalau kau mau jahit, silahkan."

"Ketua kelas seksi, kalau kau menolak semua kita akan buat kegiatan apa?"

"Pujian tidak membuatmu santai, Lau. Ini akan tetap jadi kegiatan paling merepotkan dan penuh kerja keras."

"Kafe?"

Alois menyahut, "Kelas Lizzy kurasa akan melakukan itu."

Ciel membisu. Ia rasa ada satu hal jelas yang bisa dilakukan. Busananya tidak banyak dan bisa dijahit sendiri oleh gadis yang ada di kelas. Terlebih, acara ini harus spektakuler. Ada satu hal yang tepat, rasanya. Ragu, Ciel mengangkat lengannya. Ketua kelas yang melihat telapak tangan terbuka di udara menunjuk. "Phantomhive?"

"Kurasa … opera atau drama tak buruk."

Mendapat pencerahan, ketua kelas memukul meja kayu. "Kau cerdas! Oh, oh! Kalau ini akan besar-besaran, akan kuberikan usul pada Ketua OSIS kalau seluruh kelas 1 akan bekerjasama membangun ini. Bagus, bukan?"

"Yah … lumayan. Jadi, hal apa yang pertama ditentukan? Anggaran atau peran?"

"Tentu saja anggaran. Peran pastinya akan tercampur dengan kelas 1 yang lain, jika usulku diterima." Berdehem sekali, si ketua kelas membubarkan, "Sekian untuk hari ini! Kita bahas lagi besok."

.

.

.

"Jadi, ponselku sedang kau apakan?"

Ciel mengusap surai biru kelabu. Handuk bulu domba menggantung di kranium. Hanya celana selutut yang jadi busana seusai membasuh diri. Meraih kaus hitam tanpa lengan dari lemari baju, dipakainya baru setelah itu mendapat jawaban dari kawan sekamar.

"Sebetulnya, iseng. Lalu kulihat kontakmu hanya sedikit, jadi kutambahkan nomorku. Call me maybe?"

Ciel mengernyit. "Yah, kuhubungi kalau ada apa-apa. Dan kau … menggelikan, bicara dengan lirik lagu begitu."

Merotasi bola mata, Alois menyerahkan ponsel pada pemilik. "Apa bahasamu memang begitu?"

Kerjapan diberikan. Beberapa detik terbuang tanpa respon. "Huh?"

"Bahasamu," Alois mengulang. Memasukan ponselnya sendiri ke dalam kantung celana kain, "Terlalu … sopan."

"… oh," gumamnya. Tengkuknya diusap, kepalanya agak menunduk. Helai poni melebihi alis, belum sepenuhnya kering, masih bertempias air, turun satu-satu mengalir lewat pipi. Ciel menduduki sisi siku kasur. "Mungkin karena aku terbiasa berbicara seperti itu dengan rekan bisnisku."

Alois terdiam. Ia duduk di sisi kasurnya, berhadapan dengan si pemuda. "Oke, aku penasaran. Sebetulnya kau ini … tidak menempuh pendidikan seperti normalnya?"

"Hm-mnn, setidaknya sampai sekolah dasar. Sehabis itu aku bekerja di perusahaan yang didirikan ayah ibuku, dan ya, untuk tingkat sekolah menengah, ada guru yang dipanggil ke rumahku untuk membantuku belajar."

Alois mengangguk paham. Sesungguhnya hanya ada dua spekulasi dalam kepalanya. Satu; orang tua pemuda beriris ganda itu memang mengajarkan seluk-beluk perusahaan, cara bekerja, berpolitik, dan bersosial juga berekonomi, barangkali sebagai persiapan masa depan. Kedua; ada satu hal yang memaksanya meneruskan pekerjaan–yang pada umumnya, bukan kewajiban pemuda berumur 15 tahun.

Mungkin … perusahaan itu adalah warisan.

"Aku ingin bertanya …."

"Sedari tadi kau melakukan itu, dan," Ciel menahan kalimatnya. Kepalanya dibuat sejajar, maka biru angkasa dan lavender beradu dengan bunga matahari. Sebelah sudut bibirnya disentil ke atas.

(Alois sudah sadar sejak pertama kali melihatnya dan kali ini, dibuat sadar untuk kedua kali–bahwa pemuda di hadapannya memang memiliki wibawa dan aura yang berbeda, ada sedikit arogansi di dalamnya, otoriter, sekaligus sensual dan setenang permainan harpa–langka sekali).

"Kau boleh bertanya apa saja."

Alois tergelak. "Kalau gitu, aku bertanya; kau sudah siap?"

Kini Ciel yang memiringkan kepala. "Siap untuk?"

"Pesta penerimaan anak baru!"

Mereka tertawa.

"Konyol, Alois!"

Ciel mengambil jaket tudung, Alois mengikat tali sepatu ketsnya. Ketika Alois sudah selesai, Ciel masih sibuk dengan sepatunya. Membuka pintu kamar, Alois menarik lengan Ciel agar si pemuda bermahkota biru kelabu cepat keluar dan berjalan.

"Jadi, kumpul di mana?"

Alois menutup pintu kamar, pelan. Memastikan deritnya tidak terlalu bersuara dan mengundang atensi. "Di sana," Alois menunjuk pintu kayu besar. Dengan dua jendela di sisi kanan dan kirinya, dilapisi tirai kain bercorak. Begitu sadar bibir Ciel telah melukis senyum dengan sendirinya.

Kebetulan? Atau petunjuk?

Petunjuk untuk?

Entahlah–menemukan sesuatu yang tidak bisa ia temukan bila hanya terkurung dalam rumah dan mengerjakan berkas perusahaan?

Berjalan ke sana, Alois sedikit berlari. Menunggu Ciel di dekat pintu, dan pemilik marga Phantomhive tak punya pilihan selain jalan agak cepat. Dan pintu didorong pelan, celahnya menampilkan langit gulita namun bertabur serpihan bintang, dan ketika terbuka sepenuhnya, beberapa wajah menyambut langkahnya.

"'Sup! Ini anak barunya!" Alois menepuk pundak Ciel. Pintu kayu ditutup.

"Ciel!" Lizzy melambaikan telapak tangannya. Tersenyum, ekor mata Ciel melirik yang lain. Ada beberapa wajah asing yang tak dikenal. Hanya Bethanie yang ia tahu, berhubung si gadis juga mengangkat tangan singkat.

Lau bertepuk tangan. "Wah, gang ini akan semakin ramai. Kenalkan," ia mengusap rambut seorang gadis di depannya, berperawakan asia, bersurai hitam pekat. "Lan Mao, adikku."

"Joker Calvin!" Joker menepuk pundaknya, menampilkan deretan gigi putih.

"Eh?" Alois menoleh. Lensanya mencari sesuatu, tapi yang dicari sama sekali tidak ada. "Mana si mesum?"

"Entahlah, autis. Coba telepon dia."

Ciel mengedikkan bahu. "Nama panggilan manis yang kalian berikan untuk satu sama lain."

Lizzy tertawa, lembut. "Bagaimana kalau kau mempunyai satu, Ciel?"

"Ukh–tidak yang aneh-aneh."

Joker menepuk-nepuk puncak kepala Ciel. "Kalau begitu, shorty?"

"Huh?" ia menghela napas. "Apa-apaan itu," dengusnya, kemudian mengalihkan pandangan pada Alois yang berurusan dengan ponselnya.

"Hai? Kau di mana? Tak tahukah kau bahwa ada anak baru yang kukatakan?"

"Oke, oke–relaks, idiot. Aku baru saja turun ke lantai 5, kalau kau begitu tidak sabaran, upayakan sebuah elevator dan rayu Sir Jack."

Ciel mengerjap saat gumam tak jelas berdengung pelan dari seberang sana. Lizzy tertawa kecil.

"Haha, hilarious. Kucing hitam pemalas, tangga tidak akan membuatmu lelah sebegitunya. Nah, cepat, oke."

Sambungan diputus sepihak. Melampiaskan rasa penasaran, mulut Ciel terbuka, "Siapa itu?"

"Yah, seorang pemimpin yang cukup kacau," Alois menggerutu.

Bethanie mengetuk-ngetuk ujung sepatu. "Mungkin kau harus taruh catnip di sini agar semakin terpancing, Trancy."

"Itu malah akan mengundang Kira, kau tahu?" Alois tergelak.

Ciel, yang sudah memiliki prasangka sendiri, akhirnya bertanya kembali, "Tunggu–Kira itu … kucing?"

"Hem, betul," Lau menimpali. "Ia diam-diam memelihara kucing di kamar asramanya. Yah, beruntung juga karena ia tidak mempunyai teman sekamar, jadi tidak ada yang melaporkan."

"Serius?" Ciel mendesah.

"Eh? Ada yang salah?"

"Tidak begitu," jawabnya, hanya saja tidak meyakinkan. Menyadari beberapa pasang lensa terarah padanya, dengan percik tanda tanya di tiap iris mereka, Ciel menjelaskan setengah hati, "Aku alergi kucing. Tidak menyentuh dan hanya berdekatan saja bisa membuatku bersin–mungkin karena bulunya. Kalau orang yang kaukatakan ini memang memelihara kucing, mungkin ia sering menyentuhnya. Jadi aku … sepertinya tak bisa dekat-dekat."

"Ah, ya," Lizzy bersuara. "Kau terlalu peka dengan bulu kucing, memang."

Kemudian pintu terdorong pelan, Ciel melihat ke arah sana. Celah pintu semakin besar sehingga insan yang membuka akses terlihat jelas, dan iris sapphire-amethyst membulat.

"Kau lama, Sebastian!"

Yang dituduh menampilkan senyum bersalah. Vermillion menghujam sepasang iris ganda. Angin barat bertiup, helai dimainkan. Tak terkecuali helai hitam pekat yang kini disampirkan di balik telinga.

"Hei, Phantomhive!"

"Ah– …," lidahnya kaku untuk sesaat. "Anjing hitam!"

"… huh?"

Dan seseorang bersin.

.

.

.

To Be Continued


A/N : Jadi, kenapa Sebastian muncul di buntut sekali dan malah banyak interaksi Ciel-Alois? Relaks guys, kisah ini masih panjang. Untuk pertama saya ucapkan terima kasih dari pembaca sekalian atas respon dan reaksi positif di bab pertama, juga semangat yang telah diberikan pada saya. Terima kasih pula kalian yang telah menyibukkan diri untuk terus membaca karya saya di bab 2 ini, juga apresiasi seperti favorite atau follow kisah ini.

Yang kedua, saya minta maaf karena update setelat ini (:"v) saya begitu pusing dengan kegiatan sekolah, dan SMP 3 memang bukan waktu untuk bersantai, sama seperti waktu saya SD kelas 6. Nah, untuk komentar yang tanpa menggunakan akun, akan saya balas di sini!

ciel funtom; Iya dia mah gitu orangnya, cinta mati sama pekerjaan (XD). Udah up nih, silahkan dinikmati dan terima kasih atas komentarnya!|sisil; Udah lanjut, niih~ (XD) makasih udah baca dan berkomentar ya, semoga bab 2 ini sama memuaskannya.

Jadi, silahkan ikuti karya ini terus, dan terima kasih!

P.S : Call Me Maybe, bagi yang tidak tahu, lagu Barat yang dipopulerkan oleh Carly Rae Jepsen.