Beautiful World
By Ciezie Kyuhyunnie AdmrHyukkie
Semua tokoh adalah milik mereka sendiri. Cerita ini milik saya.
KyuHyuk FF. BL. Friendship. Typo. Tak suka tak usah baca.
.
.
.
Aku tersentak dan memandangnya. Ah aku bukan ahli agama. Aku juga tak tahu apa ada ajaran agama yang melarang atau membolekhan hubungan seperti ini.
"Saya tidak tahu soal itu... tapi saya rasa saya mencintai Hyukkie dan itu menurut saya sudah cukup. Bukankah perasaan ini juga Tuhan yang menciptakan, jadi kalau ini salah bukankah berarti menyalahkan sang pencipta perasaan ini?"
Dan rasanya plong setelah mengungkapkan itu.
Pria itu masih tersenyum, dan entahlah itu malah terlihat berbahaya. "Soal perasaan ya. Lalu bagaimana dengan perasaan kami? Apa yang kami rasakan ketika orang mulai menggunjingkan dia, atau malah membecinya karena menyalahi kodrat?"
"Lagi pula apa yang akan kalian hasilkan dari hubungan seperti ini? Sementara di luaran sana masih banyak wanita yang membutuhkan kalian untuk jadi pemimpin dalam rumah tangga. Mungkin kalian akan berfikir saya kejam pada cinta kalian. Tapi lihat nanti akan kalian rasakan sendiri apa yang saya katakan. Ketika kalian menua dan butuh teman di akhir hidup, anak-anak yang menyemarakkan hidup kalian."
Aku mematung di tempatku, bagaimana harus kujawab itu? Tapi sungguh aku mencintai Hyukkie.
.
.
.
.
.
Aku keluar dari gerbang rumah Hyukkie dengan perasaan melayang.
Wajah Hyukkie dan ayahnya bergantian berkelebat di benakku. Wajah cantik Hyukkie yang senyumnya menawan hatiku. Wajah lelah ayahnya yang kutahu pasti tulus menyayangi Hyukkie dan mengatakan semua itu pasti demi masa depan Hyukkie. Kata-katanya masih teringat jelas di telingaku.
"Kau tahu, bukan semata-mata karena itu saja. Aku..." wajah ayahnya tiba-tiba mendung, Umma Hyukkie kembali meremas lengan suaminya. "Kakaknya... Hyung dari Eunhyuk memilih jalan yang sama. Dan dulu aku mengizinkannya karena rasa sayangku yang begitu dalam sebagai ayah, meskipun sebagian hati tetap ragu."
Aku hanya bisa menatap Appa Hyukie tanpa tahu harus berekspresi atau pun berkomentar apa pun.
"Dan ternyata feelingku benar, dia dicampakkan oleh orang yang membuatnya jadi seperti itu dengan alasan dia ingin punya keturunan, merasa pernikahan mereka hampa..."
Samar kulihat matanya memerah. Aku menunduk. Aku tak tahu apa yang akan terjadi ke depan, yang kutahu saat ini aku benar-benar mencintainya. Apa mungkin suatu hari nanti aku akan meninggalkannya? Benarkah itu?
.
.
.
.
.
"Kyu..."
Aku rasanya bahkan tak sanggup untuk mengeluarkan suara sekarang. Aku tetap memandang entah kemana aku juga tak tahu. Ayolah aku masih remaja. Tapi mengapa aku harus mendapatkan ujian cinta seberat ini. Tak bisakah aku merasakan yang manis-manis saja. Aku menghela nafas.
Terdengar bangku di sampingku digeser dan seseorang duduk di atasnya. Pasti dia. HyeSun.
"Ada masalah kan? Mau bercerita padaku?"
Aku menggeleng. Malas sekali rasanya membagi hal ini. Memikirkannya saja membuatku sakit apalagi harus menceritakannya ulang. Apalagi belakangan aku benar-benar tak bisa bertemu dengan Hyukkieku. Mungkin ia sedang dikurung atau dilarang ayahnya. Ah tidak Hyukkie bukan tipe pemberontak ia pasti berela hati menjauhiku meski tak ingin.
"Ini ada hubungannya dengan Hyukkie?"
Aku sedikit tersenyum, dia ternyata memang sahabatku, dan dia juga gadis cerdas.
"Kau tak setuju hubungan sesama jenis kan?" ah bahkan suaraku parau, ini pertama kalinya aku menggunakannya lagi setelah beberapa hari ini lebih banyak diam.
Terdengar helaan nafasnya. "Iya. Bukankah aku sudah mengatakan itu sebelumnya. Sebagai gadis normal aku tidak setuju, aku masih ingin punya pacar dan suami suatu hari nanti. Tapi aku juga bisa mengerti soal perasaan yang memang tak bisa dipaksakan atau dihentikan. Jadi meski sebagian hatiku setuju sebagian lagi tidak Kyu."
Aku menoleh dan kudapati wajahnya yang tulus.
"Lagipula pria sepertimu atau Hyukkiemu yang sering kau ceritakan padaku itu pasti akan menjadi suami yang bertanggung jawab suatu hari nanti. Akan banyak wanita yang beruntung kalau bisa menjadi pasangan kalian dan ibu dari anak-anak kalian kelak."
Aku tersenyum miris, soal anak lagi. Benarkah suatu hari nanti aku akan sangat menginginkan anak? Benarkah rasa cintaku yang besar pada Hyukkie suatu hari nanti akan padam begitu saja salah satunya gara-gara anak?
"Kenapa harus ada perasaan seperti ini Sun-ah? Kenapa haru ada perasaan cinta seperti ini kalau memang ini salah?"
Dia memandangku sejenak. "Emmm sebenarnya aku sedikit melakukan penelitian Kyu."
Aku menatapnya tak percaya dan tak mengerti. Penelitian?
"Sejujurnya aku shock waktu tahu kau menyukai namja. Lalu karena penasaran aku melakukan penelitian kecil-kecilan." Lanjutnya sambil memberiku cengiran.
Dia ini. "Lalu apa yang kau temukan?"
"Sebenarnya semua punya kecenderungan untuk menyukai sesama jenisnya. Karena setiap manusia punya kadar feminin dan maskulinnya masing-masing, hanya jumlahnya berbeda. Wanita pada umumnya tentu lebih banyak kadar femininnya dan sebaliknya juga pria. Jadi tetap saja ada sebagian dari diri kita yang bisa tertarik pada laki-laki dan wanita. Tentu saja itu terjadi kalau kita mengikuti kadar feminin dan maskulin kita itu."
"Jadi maksudmu ada kemungkinan aku jatuh cinta pada seorang yeoja suatu hari nanti?"
Dia menganguk. "Kau tahu bahkan perasaan cinta itu sesuatu yang tak pernah selesai diteliti. Ada yang namanya cinta sejati, tapi tahukan kau, ternyata cinta sejati tidak terjadi pada satu orang. Kembali manusia punya kecenderungan untuk mendua juga. lagi pula kebanyakan malah pada akhirnya bersama orang yang tidak dia cintai pada awalnya, dan banyak di antaranya malah langgeng."
Ini mulai menarik, kenapa bukan aku yang coba mencari soal ini terlebih dahulu. "Lalu apa lagi yang kau temukan?"
"Serius kau ingin dengar Kyu?" dia memandangku.
Apa maksud pandangannya itu? Aku mengangguk.
"Kebanyakan hubungan seperti ini berakhir dengan tragis Kyu. Meski ada juga yang abadi hingga mati. Masalah utamanya tentu anak, kemudian ada juga perselingkuhan, dan kesadaran dari salah satunya. Aku tahu baik kau dan Hyukkie bukan tipe orang seperti itu. Ya itu hanya hasil penelitian kecil-kecilanku saja Kyu."
Aku menghela nafas lagi. "Lalu menurutmu apa orang sepertiku atau Hyukkie harus memaksakan diri menikah dengan seorang wanita? Meskipun kami tidak mencintainya dan hanya akan menyakitinya?"
"Aku tak tahu Kyu. Tapi penelitianku yang lain membuktikan banyak juga pernikahan yang berawal dari cinta tetap berakhir tapi ada juga yang berawal dari perjodohan dan mereka yang malah langgeng. Itu kembali pada pribadinya masing-masing, apa niat kita untuk menikah."
Sesaat hening, pikiranku semakin kalut.
"Maaf Kyu kalau ini malah jadi memusingkanmu." Suaranya terdengar lirih dan sedih.
Aku segera menoleh dan tersenyum. "Tak apa. Aku memang sedang pusing saja. Terimakasih sudah membantuku dan memberi banyak masukan."
"Apapun itu aku mendoakan yang terbaik untukmu Kyu!"
Aku mengangguk dan mengamini.
.
.
.
.
.
Rapat yang membosankan. Selalu. Aku tak tahu mengapa aku ada di sini sampai saat ini. Aku sama sekali tidak tersambung dengan acara ini. Sakuku bergetar, ah lebih tepatnya ponselku yang bergetar. Sebuah pesan. Mataku langsung terbuka begitu saja. Hyukkie!
"Aku tunggu di halte Kyu. Jeongmal Bogoshippo."
Aku berdiri tanpa sadar membuat semua pasang mata memandangku. Pandanganku segera bertemu dengan Hyesun. Lewat tatapan mata kukirimkan pesan. Untunglah dia mengerti dan mengangguk. Aku segera keluar. Aku rindu padamu Hyukkie. Sangat rindu
Dia ada masih semengagumkan yang pertama kulihat. Tanpa sadar aku berlari dan memeluknya erat. Dia balas memeluk juga.
.
.
.
.
"Jadi itu keputusanmu?" tanyaku sedih.
Dia menatapku dengan senyum dan mengangguk. "Kita masih bisa jadi sahabat kan Kyu. Kau masih bisa memelukku seperti tadi..."
"Tapi aku tak bisa me..." aku menutup mulutku sendiri.
"Aku yakin cintamu bukan hanya soal nafsu kan?"
Aku mengangguk. Aku punya nafsu itu sebagai orang normal, tapi perasaanku padanya lebih dari sekedar itu.
"Semenjak kejadian kakakku itu, melihat bagaimana jatuhnya Umma dan Appa, bagaimana suasana rumah yang murung, gunjingan tetangga, ah aku berjanji dalam hati di sisa hidupku aku takkan pernah menyakiti mereka Kyu. Tujuan hidupku adalah kebahagiaan mereka. Dan beberapa di antara keinginan mereka ada yang jadi kebahagiaanku juga, aku tidak terlalu rugi." Jelasnya dengan senyum yang kutahu amat pahit.
Dadaku sesak mendengarnya.
"Walaupun aku tak bisa di sampingmu sebagai kekasihmu, bukan berarti aku tidak mencintaimu." Dia memberiku cengiran. Membuatku mau tak mau ikut tersenyum meski miris. Quote yang amat terkenal kan kalimat itu.
"Aku mencintaimu Kyu."
Lirih dan parau, ia memandangku dengan air mata yang sudah menggantung di ujung matanya.
Jangan! Jangan ucapkan itu. Bagaimana bisa aku melupakanmu kalau begini? Mataku ikut mengembun, kenapa aku jadi cengeng? Badannya mendekat dan memelukku erat.
"Aku mencintaimu. Hidup bahagialah untukku hingga aku juga bisa hidup bahagia untukmu. Kalau pun bukan di dunia cinta kita bersatu, mungkin Tuhan yang melihat perjuangan dan pengorbanan kita akan menyatukan kita di dunia yang lain Kyu."
Aku ganti memeluknya dan mengangguk di bahunya.
Tuhan kau dengar kan ini? di kehidupan lain satukan kami!
"Baiklah sudah jangan bersedih-sedih kalau begitu." aku melepaskan pelukan dan menghapus air mata yang berlelehan di pipinya dengan hati perih. "Menjadi sahabat orang sepintar dan setampanku tidak terlalu buruk kan? Ah malah sebuah keberuntungan."
Akhirnya dia tersenyum lagi. "Ya itu sebuah keberuntungan..."
Kami saling pandang dan tersenyum miris. Ya ini tidak terlalu buruk aku masih bisa melihatnya. Bisa melihat senyumnya. Aku masih bisa mencintainya diam diam.
.
.
.
END
.
.
.
