Kanvas Berlumur Hitam

Naruto © Masashi Kishimoto

T+

Standar applied, DLDR

Dedicate to SasuHina Days Love [SHDL]

.

.

.

Chapter 2

[Dunia Ini Benar]

"Uchiha-san."

"Sasuke-sama."

Dua namanya terngiang disaat yang bersamaan. Sasuke menatap sekelilingnya, ia yakin masih berada di dalam dunia favoritnya, meskipun suara Neji saat itu tengah menginterupsi. Sasuke menoleh kepada gadis berambut biru yang saat itu sedang mengangguk, memberi isyarat bahwa sebaiknya ia membalas perkataan Neji.

Tapi—

"Berisik."

.

.

.

.

.

.

"Aku … tidak berbohong, saat mengatakan bahwa aku akan selalu ada disampingmu, Sasuke."

Neji menelan ludahnya, melihat Sasuke yang sekarang kini menatapnya tidak suka. Saat itu mereka masih sibuk mengitari galeri, dengan Neji sebagai guide. Sasuke tidak terlihat antusias seperti saat ia menatap lukisan sebelumnya. Pelan tapi pasti, Neji berhenti mendorong kursi roda Sasuke dan membungkuk di depan wajah tuan mudanya.

"Anda tidak kelihatan baik. apa sebaiknya kita pulang?"

Sasuke hanya memejamkan matanya sebentar, sembari meluruskan otot-ototnya yang kaku di kursi. Ia bersandar dengan sorot mata yang tidak peduli.

"Aku akan pulang kalau lukisan yang tadi bisa kubawa pulang."

GLEK

"Lukisan … yang mana?" Neji terdengar gugup. Entah kenapa, ia menggunakan pikirannya untuk menebak-nebak.

Dan—

"Lukisan potret dari galeri ini."

Neji tepat sasaran.

Ia hanya mengangguk, dan mengabulkan keinginan tuan mudanya. Sasuke pulang dengan wajah sumringah, sambil terus memeluk lukisan potret galeri itu di tangannya, tanpa celah untuk dilepas sedikitpun. Neji sedikit senang dengan kesenangan yang dirasakan oleh Sasuke. Tapi ia juga khawatir jika lukisan itu bisa membuat kondisi mental Sasuke terombang ambing mengingat Sasuke bukanlah anak yang dibesarkan dengan kasih sayang yang cukup.

Gila.

Ya, mungkin saja Neji sudah gila.

Bukankah ia sudah cukup gila jika ia berasumsi bahwa Sasuke, tuan mudanya, bukanlah sosok manusia normal yang bisa mencintai sesama manusia. Bahkan, Neji mungkin terlalu cepat mengambil kesimpulan mengingat Sasuke masih melukis seorang gadis pada kanvasnya, dan bukan melulu pemandangan.

Keluar dari galeri, Sasuke sempat menoleh kembali dan melambaikan tangannya sejenak—entah kepada siapa. Neji jelas kaget. Ia tidak melihat siapapun berdiri di depan pintu galeri dan sedang menatap Sasuke. Tidak ada. Lelaki berambut panjang itu mulai was-was. Pikirannya untuk menjauhkan Sasuke dari galeri ini semakin besar. mungkin saja, tempat yang saat ini sedang mereka kunjungi ada apa-apanya.

"Anda melambai kepada siapa, Sasuke-sama?"

Sasuke hanya menggeleng sambil mengatupkan matanya.

"Kau tidak perlu tahu siapa. Ayo pulang."

Sasukelangsung menyuruh bodyguard-nya yang lain untuk segera menaikkan tubuhnya ke dalam limo. tanpa ia ketahui, diam-diam Neji menelepon seseorang yang tidak akan pernah Sasuke sangka siapa itu.

.

.

.

.

.

.

Sampai di rumah, Sasuke langsung meminta Neji untuk mendorong kursi rodanya ke kamar. Dan ketika roda-roda kursinya menjejaki lantai kamarnya, Sasuke langsung menyodorkan lukisannya kepada Neji untuk di pasangkan pada dinding kamarnya. Neji masih tak percaya, lukisan seperti ini menjadi favorit Sasuke. Bahkan harganya pun tidak sampai seratus dollar.

"Disebelah sini?" tanya Neji singkat.

Saat ini Sasuke sedang memberinya komando dalam mencari-cari posisi yang sempurna bagi lukisan kesukaannya untuk bergantung di dinding kamar. Dan pilihannya jatuh pada posisi tepat di depan wajah kanvasnya yang berdiri dengan tripod kayu. Ya, Sasuke bilang, ia senang jika ia bisa melukis sambil memandang lukisan itu sekaligus. Neji hanya mengangguk-angguk, sudah tidak tahu lagi bagaimana seharusnya ia merespon.

"Sebenarnya, aku punya karya rahasia yang sering kubuat setiap malam."

Sasuke mendorong kursi rodanya dengan susah payah menuju sebuah lemari raksasa yang seharusnya menjadi tempat bagi Sasuke untuk menyimpan baju. Neji terperangah, penasaran dengan apa yang akan Sasuke keluarkan. Lelaki itu berjalan mendekat, membantu Sasuke supaya lebih mudah mendorong kursi rodanya.

"Kau mungkin benar bahwa aku sering terbang ke suatu tempat di malam hari ketika seluruh manusia yang mengalami malam telah tertidur lelap."

Sasuke tertawa mencurigakan disana. Ia buka laci pada lemarinya, menampakkan jejeran kanvas yang tertata rapi di bagian bawah puluhan baju yang tergantung di lemarinya. Mata Neji terbelalak. Sasuke tidak menggambar satu-dua. Tapi sepuluh-duapuluh lukisan yang isinya selalu tentang gadis itu.

Lagi-lagi si rambut indigo tanpa wajah itu.

Neji membongkarnya satu persatu. Rupanya lukisan yang ia lihat sebelumnya , belumlah apa-apa. Ia bisa merasakan seberapa tinggi rasa cinta Sasuke dalam melukis gadis itu di kanvasnya. Lebih besar dari yang ia duga. Lukisan antara satu dan yang lainnya memiliki tema dan setting yang berbeda-beda. Semua tempat yang Sasuke lukis sangat aneh. namun berkesan artistik. Gadisnya selalu berambut indigo gelap. Dengan wajah yang tertutupi poni, dan mengenakan dress atau pakaian yang selalu diwarnai dengan biru pudar. Meskipun model rambutnya kadang dibuat berbeda dari model orisinilnya, tetapi tetap, Neji masih bisa mengetahui kalau gadis yang ada di gambar itu selalu sama.

Selalu. Sama.

Neji mulai cemas. Ia lebih suka jika Sasuke kehilangan kewarasannya karena menyukai dirinya, daripada harus menyukai sesuatu yang sebab dan asal-usulnya mencurigakan seperti sang gadis tanpa wajah.

"Dia … indah, bukan?" tanya Sasuke, cepat.

Neji menelan ludahnya.

"Kenapa … anda tidak melukis wajahnya?"

"Karena dia terlalu cantik untuk dilukis dengan wajah. Aku tidak mau siapapun jatuh cinta kepadanya."

Sasuke menarik salah satu lukisannya pada pangkuannya, dan memeluknya. Lukisan itu menggambarkan seorang gadis pemain diabolo yang berdiri di ujung tebing dengan suasana langit yang berwarna gelap seperti malam.

"Dimana, Sasuke-sama menemuinya?" Neji mengambil lukisan-lukisan itu, dan ketika wajah Sasuke terkejut dengan aksinya, Neji berkata bahwa ia ingin menyimpannya kembali ke dalam lemari pakaian Sasuke agar tidak rusak. Urat-urat di wajah Sasuke mengendur, meskipun batinnya masih merasa tidak nyaman dengan sikap Neji yang sekarang.

"Hn," Sasuke memalingkan wajahnya, "Kau tidak perlu tahu dimana aku menemuinya."

"Anda … yakin, dia nyata?"

"Apa maksudmu?" Sasuke menekan kalimatnya dengan nada yang paling dingin yang pernah ia lontarkan.

Belum sempat Neji membalas, seseorang mengetuk pintu kamar Sasuke. Dan munculah sesosok pria bermasker yang datang di dampingi dengan pelayan-pelayan Sasuke.

"Tuan muda, anda kedatangan seorang tamu."

Mata Sasuke menajam—ia lontarkan pandangan itu pada Neji.

"Siapa dia, Neji?"

"Temanku."

Sasuke bergeming. Menatap sosok bermasker mencurigakan di depannya.

"Selamat siang, Uchiha-san. Saya datang kemari untuk bermain."

"Pulang," tanggap Sasuke dingin, "Apa maksudmu datang kemari untuk bermain? Konyol."

Lelaki bermasker dengan rambut peraknya itu hanya tertawa renyah, sambil menggosok bagian belakang kepalanya, salah tingkah. Ia berjalan mendekat menuju Sasuke berada. Pria itu berjongkok di depan Sasuke, menyentuh pegangan pada kursi rodanya Sasuke, dan tersenyum lagi.

"Maaf, maaf. Sepertinya saya terlalu lancang. Sebenarnya, saya ingin meminta anda untuk membuatkan saya sebuah lukisan. Akan saya bayar."

Sasuke tidak nampak tertarik saat itu. ia menjauhkan kursi rodanya dari jangkauan si pria bermasker dan memunggunginya.

"Aku tidak melukis berdasarkan permintaan seseorang."

"Oke. Baiklah." Kakashi berdiri dari jongkoknya, dan mendorong kursi roda Sasuke ke depan wajah kanvas. Tentu saja, Sasuke berontak, tetapi pria itu tetap bersikap tenang. Dan mengabaikan teriakan-teriakan serta pukulan Sasuke.

Neji sudah memberi beberapa rincian kepada temannya bahwa Sasuke seperti ini. jadi ia takkan kaget dengan respon yang diterimanya. Neji bahkan memberikan keterangan fisik Sasuke kepada temannya dan menjelaskan alasan mengapa ia memanggilnya.

"Kalau begitu, aku ingin melihatmu yang sedang melukis."

Sasuke takjub dengan orang di depannya yang tidak memanggilnya dengan sebutan tuan muda.

"Untuk apa?"

"Neji bilang kau sangat pandai melukis. Aku ingin tahu bagaimana lukisanmu itu bisa terbuat, kebetulan sekali aku suka mengkritik. Dan oh ya, kau bisa panggil aku dengan nama Kakashi."

Neji memerhatikan usaha temannya untuk mendekati Sasuke. Ia tak bisa menginterupsi jika waktunya belum tepat. Ia selalu berdoa agar Sasuke mau melakukan apapun yang temannya bilang. Tapi tetap, sikap Uchiha-nya yang keras kepala seperti batu, sedang menguar saat ini.

Sasuke tetap, menolak.

"Kalau kau hanya ingin menilai lukisanku, kau bisa lihat sendiri lukisan-lukisanku yang sudah jadi."

"Tapi, aku juga ingin melihat lukisan Uchiha-san yang baru dibuat." Kakashi terus bersikukuh.

"Tidak. Sudah kubilang, aku tidak melukis karena perintah."

Sasuke mulai terusik dengan keberadaan Kakashi. Ia nyaris saja menyuruh Neji untuk mengusirnya, kalau saja Kakashi tidak menanyakan sebuah lukisan yang tergantung di depan wajah kanvasnya berdiri.

"Apakah itu lukisanmu juga? Indah sekali."

Sasuke langsung berwajah antusias saat menemukan sosok Kakashi yang rupanya memiliki selera yang sama dengannya. pemuda itu menggeleng cepat.

"Ah, bukan. Itu kubeli dari galeri Hinata. Kau pikir itu indah?"

"Ya. indah sekali. Kau juga suka dengan bangunan-bangunan megah seperti itu?"

"Tidak," jawab Sasuke pendek, "Galeri itu cuma satu-satunya yang kusukai. Tidak ada yang lain."

Kakashi bergumam dengan 'oh'-nya. sementara bola matanya yang kecil melirik kearah Neji dan memberi suatu isyarat kepada temannya yang sedang memerhatikan itu.

"Cuma galeri itu saja? Kenapa?

"Sudah kukatakan sebelumnya kan? karena bangunan itu indah." Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Apanya yang menurutmu indah? Kalau aku, aku suka dengan atapnya yang berwarna keemasan, dan ornamen pada dindingnya." Jawab Kakashi asal. Ia mencatat sesuatu di buku catatan kecil. Sasuke sempat penasaran, tapi setelah di pikir tidak ada gunanya memerhatikan, akhirnya ia acuh dengan apa yang Kakashi lakukan.

"Semuanya indah. Orang sepertimu kurasa tidak akan mengerti jika kuceritakan sekalipun."

"Kenapa tidak? Ceritakan saja."

Urt-urat di kepala Sasuke mulai menegang. Ia langsung berteriak kepada pelayannya untuk membawanya tidur di ranjang.

"ARGHH!"

Neji yang terkejut, segera membawa Kakashi untuk keluar dari kamar tuan mudanya sebelum Sasuke melempar lampu meja disebelah kasurnya kearah Kakashi.

"Baiklah, tuan muda. saya akan suruh Kakashi-san untuk pulang. Istirahatlah dengan tenang."

Debaman pintu dari kamar Sasuke menandakan bahwa Neji dan Kakashi beserta para pelayan yang lainnya telah keluar. Sasuke menghela napas, lelah. Ia benci dengan kebisingan yang Kakashi buat, tapi mendadak takut dengan kesenyapan luarbiasa yang ada di kamarnya, sekarang.

Ia tarik selimutnya lekat-lekat.

Matanya terpejam. Dan ketika ia sedang memberanikan diri untuk kembali membuka matanya, tiba-tiba saja terdengar suara keras yang menabrak lantai. Sasuke tidak tahu apa itu. ia tidak bisa berbuat banyak selain berteriak 'Siapa disana!'. Namun sayang, tidak ada jawaban setelahnya. Atmosfir mendadak sangat berat. Dan, Sasuke terkejut saat sesuatu yang dingin namun lembut menyentuh bahunya dari samping ranjang tidur.

Sesuatu itu … mendesis.

Wanginya, seperti tanah basah.

.

.

.

.

.

.

"Kau benar, Uchiha-san sepertinya mengalami sedikit keterguncangan mental." Kakashi memberi kesimpulan, "Yah. Sepertinya. Tapi—"

"Tapi apa?" Neji mulai khawatir. Sesaat, ia ingin cepat-cepat kembali menemui Sasuke yang terbaring di kamarnya, sekedar untuk memastikan bahwa tuan mudanya baik-baik saja.

"Tapi ia … tidak gila. Karena, aku merasa bahwa ia masih bisa bercakap-cakap dengan normal. Daripada itu, Uchiha-san lebih terlihat seperti orang yang sedang berhalusinasi. Atau mungkin, mengalami mental disorder semacam jatuh cinta berlebih kepada sesuatu yang bukan manusia. Kau … tahu maksudku kan?"

Kakashi mulai membereskan barang-barangnya. Jemari Neji mulai bergerak-gerak tidak nyaman. Sesekali ia meremas-remas tangannya dengan gelisah.

"Tuan muda masih melukis seorang gadis. Tidak mungkin ia memiliki penyakit semacam itu."

"Itu memang benar. Tapi … kadang-kadang, ada juga yang namanya perumpamaan atau pemisalan. Bagaimana jika gadis yang ia gambar itu perwujudan dari sosok bangunan galeri itu?"

Neji masih tidak yakin sepenuhnya. Ia hanya menatap Kakashi dengan ekspresi yang intens.

"Tidak. Itu pasti tidak benar."

Kakashi hanya menghela napas melihat bantahan rapuh dari temannya itu.

"Kau mungkin menyepelekannya. Tapi yang seperti ini juga bisa membawa seseorang kehilangan akal sehatnya. Kau harus lebih menjaga Sasuke atau tamatlah sudah." Kakashi mengangkat koper yang sudah dibereskannya dan memakai kembali topinya. Kemudian pamit untuk pulang, "Cepatlah. Temui dia. Pastikan Sasuke sehat-sehat saja."

Neji menggigit bibirnya, mendecih. Ia bersumpah dalam hati, ia tidak ingin Sasuke sehat jika menyukai sesama laki-laki adalah keabnormalan. Tapi—melihat Sasuke tersenyum, berpikir dan tertawa untuk sesuatu yang mati dan tidak nyata.

Neji tidak terima.

"Sasuke-sama!"

Ia berlari kembali menuju sosok yang paling dicintainya, melebihi nyawanya sendiri.

.

.

.

.

.

.

"GAH!"

Sasuke menepis sesuatu yang dingin itu keras-keras. Aneh. ia tak bisa melihat apapun di kamarnya. Bayangan blur yang biasa ia jumpai terlihat normal seperti biasa. tidak ada bayangan yang membuatnya curiga.

"Stt."

Sasuke kaget saat seseorang menutup matanya, membuat ia tak bisa melihat apapun. Dingin, begitulah rasa yang ia cicipi pada kedua kelopak matanya yang mengatup. Sasuke berusaha untuk tenang, kembalinya kontrol pada dirinya membuat sang sosok yang telah menutup matanya kini melepaskan tangannya dari pandangan Sasuke. Lelaki itu mengerjap sekali-dua kali untuk memastikan.

Masih buram, dimata pemuda itu.

"Siapa?"

"Aku … ini aku. Hinata."

Bibir Sasuke langsung tersungging, senang bukan kepalang.

"Hina … ta?" ia menggapai-gapai udara di depannya, berharap bisa menyentuh pipi lembut gadis itu, "K-kau sungguh, Hinata? Aku tidak tahu kalau kau bisa mengunjungiku."

Tapi yang ia temukan adalah kehampaan. Hinata bukanlah sosok dari sebuah partikel padat yang bisa disentuhnya dengan mudah. Walaupun samar, Sasuke bisa merasakan bahwa gadis di depannya—yang tak bisa diraihnya itu—tersenyum simpul menatapnya.

Dan tak berbicara, sedikitpun.

"H-Hinata? Kau tidak berniat muncul lalu pergi begitu saja kan?"

Hening, disekelilingnya.

Keringat di dahi Sasuke bermunculan. Keringat khawatirnya. Takut jika Hinata datang kemari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan, kepadanya. Ia mengerjap, sekali dua kali. Merutuk dengan visualisasi matanya yang buruk. Persetan. Ia ingin Hinata dengan perasaan yang amat sangat besar.

"Hinata? Kau dimana?"

Sasuke menyingkap selimut yang menutupi kedua kakinya. Ia berjalan ke sisi ranjang dengan kemampuan tangannya, sekuat tenaga. Ia topang tubuh beratnya diantara kedua telapak tangan berkulit susu itu. wajahnya menahan rasa perih. Perih yang tidak cuma ia rasakan pada tubuhnya, tapi juga hati.

"Sasuke-kun. Kau memaksakan dirimu…"

Sasuke mendongak. Mencari-cari darimana sumber suara itu terdengar.

"Sasuke-kun. Kau memaksakan dirimu…"

Lagi, gendang telinganya kembali mendengar kalimat yang sama. Suara itu kini terngiang-ngiang di kepalanya. Sasuke tidak sanggup merespon. Entah kenapa bibirnya begitu kelu. Tenaganya telah habis digunakan untuk bergerak dengan segenap kekuatan—tanpa kaki—menuju ke sisi ranjang.

"Apa kau disana, Hinata?"

Tiba-tiba saja ia punya firasat. Firasat yang mengatakan bahwa saat ini Hinata sedang berdiri di sebelah tripod kayunya yang menjulang, yang menyangga sebuah kanvas lukisan. Dengan susah payah, ia hempaskan tubuhnya hingga jatuh ke lantai. Jatuh begitu saja, tanpa ditahan sedikitpun.

Sakit.

Tulang-tulang dan kakinya terasa perih.

Napasnya mulai tidak menyenangkan.

"Khh—"

Bibir bawahnya ia gigit. Riak mukanya terlihat keras, melawan. Air mata Sasuke pun akhirnya mengalir hangat, di pipi. Sakit. Perih. Rindu. Sakit. Perih. Rindu. Ia terus mengulang-ngulang apa yang dirasakannya di dalam hati. Susah payah ia bergerak menuju kaki tripod yang jaraknya satu meter dari tempat ia terjatuh. Susah payah bahkan dengan kemampuan fisiknya yang dibawah rata-rata.

"Ugh—H-Hinata!"

Sasuke angkat tinggi-tinggi tangan kanannya ke depan, seperti ingin meraih sesuatu. Perlahan. sedikit demi sedikit. Jari-jarinya mulai terasa kram, tapi ia tidak menyerah. Ia gunakan secara paksa kakinya untuk membantu dorongan. Tak peduli sekecil apapun hasilnya, atau sebesar apapun resikonya, Sasuke ingin cepat-cepat menangkap Hinata-nya.

GREP.

Kedua lengan panjangnya kini telah mendekap sebuah kanvas berlukiskan galeri, Hinata.

"Syukurlah…"

Ia terbaring cukup lama, disana. Napasnya terengah-engah, tapi lega. Dengan nyaman, ia pandang langit-langit di kamarnya. Ah, sesuatu yang lembut menyapu wajahnya. surai berwarna biru dongker yang sangat ia hapal. Sekelebat, Sasuke tersenyum. Dari kegelapan, terbukalah sepasang mata kelabu-ungu pada wajah kecil yang muncul di atas kepala Sasuke.

Ia … melayang.

Ya. melayang di atas kepala Sasuke.

Senyum. Sasuke hanya bisa melakukan hal itu kepada sang gadis dan membayangkan gadisnya membalas.

"Hinata—"

mendengar sahutan dari Sasuke, tubuh yang mengudara itu, perlahan turun, hingga akhirnya menindih dan memeluk Sasuke dengan lembut.

Seperti, surga.

Begitu … nyata. Tubuh Hinata, begitu hangat.

"Sasuke-kun, aku harus pergi."

Mata Sasuke terbelalak. Ia ingin membantah perkataan gadis yang memeluknya, tetapi mulut itu di bekap dengan lembut oleh tangan mungil Hinata. Gelap. Tiba-tiba saja pemandangan di sekelilingnya menjadi gelap, tanpa cahaya. Hanya ada sebuah pintu berlapis emas, dikelilingi oleh kupu-kupu bersayap menyala dengan semak-perdu yang warnanya sangat aneh.

Hinata bangkit dari tidurnya, menarik tubuh Sasuke agar ikut berdiri bersamanya. Aneh, Sasuke merasa, rasa sakit yang ia alami barusan telah hilang tanpa sisa. Kakinya kembali pulih. Saat tahu apa yang terjadi, Sasuke hanya bergumam, bahwa sudah pasti ini karena ia telah di bawa pergi menuju dunia Hinata. Dunia yang mana ia bisa menjadi sosok sempurna, tanpa kekurangan fisik samasekali.

"Aku akan pergi."

Hinata mengulang perkataannya. Sasuke menelan ludah.

"Lalu … bagaimana dengan aku?"

Nyeri. Dadanya kembali terasa sakit, saat Hinata berjalan menuju pintu emas tersebut, dan meninggalkannya. Gadis itu sempat menoleh, dengan raut muka yang dingin, tapi tidak jahat. Rambutnya berkibar, di terpa oleh angin yang entah, asalnya darimana.

Tiba-tiba saja, bibirnya tersenyum.

"Kau … bisa ikut denganku."

"I—kut?"

Sekarang mata gadis itu menyipit, akibat senyum yang ia ciptakan terlihat semakin lebar.

"Ya, Ayo kita pulang. Bersama-sama."

Dan kemudian, ia julurkan tangannya, meminta untuk diraih.

Sasuke terpana melihatnya. Dengan wajah yang masih menatap Hinata tanpa kedip, ia berjalan mendekati gadis itu. kakinya telanjang, tanpa sepatu. Tapi ia tidak merasa sakit karena sesuatu yang ia pijak—tanahnya—terasa begitu empuk, seperti ditumbuhi oleh rerumputan tebal. Atau bulu domba. Perlahan, ia julurkan juga tangannya, berusaha meraih jemari lentik gadis idamannya.

Dan akhirnya, tangan mereka bertautan. Pipi Sasuke terasa panas. Semunya membuat ia bahagia.

"Kita, akan pulang kemana, Hinata?"

Gadis disampingnya—yang sedang bergandengan dengannya—hanya tertawa renyah.

"Kita akan pulang ke dunia yang asli, Sasuke."

Pintu di depan mereka terbuka, tiba-tiba. Secercah cahaya menyilaukan sejenak pandangan keduanya. Susah payah Sasuke menyipitkan matanya, hingga akhirnya ia bisa melihat dengan jernih, sebuah hamparan padang bunga dan bangunan kokoh berdiri di dalamnya. Langitnya berwarna jingga. Bulan bergantung disana. Banyak manusia yang sama sepertinya, tertawa riang, bermain dengan kawan sesamanya. Entah kenapa, Sasuke merasa antusias untuk segera pulang.

"Kau suka, Sasuke?"

Pemuda itu bergumam sambil menganggukkan kepalanya.

"Selama ini, kau sudah tertidur cukup lama. Sudah saatnya kau bangun dan pulang."

"Aku tidak tahu, kalau selama ini aku sedang tertidur."

Hinata tertawa.

"Tentu saja kau tidak tahu," Gadis itu memperkuat cengkeraman tangannya. Dan Sasuke menyadari itu, "Dunia yang kau huni sebelumnya hanyalah mimpi buruk. Dan ini, adalah kenyataan."

Hinata menoleh padanya. Sasuke memberikan ekspresi tanda tanya.

"Tapi, kalau kau tidak merasa nyaman, kau boleh kembali, sebelum aku membawamu pergi—"

Sasuke membalas Hinata dengan mencengkeram kuat tangan gadis itu.

"Tidak. Aku tidak mau kembali."

"…kau mungkin tidak akan bisa bertemu dengan Neji, atau keluargamu lagi. Selamanya. Apa kau yakin?"

Sasuke tersenyum, disana.

"Aku yakin." Gadis yang disebut namanya, tidak percaya begitu saja dan terus menatap Sasuke intens. Pemuda yang ditatap pun akhirnya tertawa, "Dengar ya—Aku sudah terlalu banyak tidur hari ini. Aku tidak mau tidur lagi. Neji atau keluargaku, bukankah itu cuma mimpi?"

Hinata menutup kelopak matanya, tersenyum dalam banyak artian dan susah di deskripsikan.

"Ya, mereka adalah mimpi. Inilah kenyataanmu."

Kedua pasang kaki mereka sama-sama melangkah masuk menuju pintu berlapis emas tersebut. Hanya ada sepasang badan, dan senyuman saja yang mereka bawa menuju pintu itu. Sasuke bahkan tidak berpikir sekalipun untuk menengok kembali ke arah belakang. Meskipun ia sempat mendengar sahutan kecil dari suara Neji yang memanggil-manggil namanya.

Sahutan yang terasa begitu jauh, dan jauh. Hingga akhirnya menghilang tenggelam, diantara kegelapan yang berdiri di belakangnya.

"Aku cinta padamu."

.

.

.

.

.

.

Kotak musik di pinggir meja kamar Neji berdenting saat ia dengan sengaja membuka tutupnya. Dari dalam, munculah sesosok ballerina yang menari kaku, dengan tubuh yang tidak bergerak samasekali. Neji meringis—entah sudah yang keberapa kalinya—setiap kali wajahnya di hadapkan pada tubuh Sasuke yang terbujur sama kakunya dengan si ballerina di kursi roda.

"Sasuke—"

Tangan maskulin itu meraih pipi mulus sang Uchiha yang tak bergutik, sama sekali. Hujan salju diluar sangat deras. Neji tidak bisa berbuat banyak selain menyiapkan segudang kayu untuk menghangatkan ruangan. Meskipun nyatanya, ia tidak bisa mencairkan sebagian dari dalam dirinya yang remuk dan beku seperti kepingan Kristal salju.

"Sasuke, makan malam-mu."

Neji tidak lagi memanggil sosok prestigious itu dengan embel-embel tuan muda. bukan karena Neji telah kehilangan etikanya. atau kurang ajar. melainkan karena saat ini, ia dan Sasuke tidak lagi berada di 'penjara' Uchiha. semenjak Neji menemukan Sasuke terkapar di lantai kamarnya, dua bulan yang lalu, pemuda berkulit pucat dengan rambut gemerlap bak berlian hitam itu tak pernah lagi bicara. Sasuke hanya menggeleng sesekali, atau mengangguk. Mungkin hanya tangannya saja yang masih bisa berkomunikasi.

Tapi Neji, merasa kosong.

Ia seperti di tombak saat Sasuke menulis sebaris kalimat tanya kepadanya, kemarin.

'Siapa kamu?'

Neji frustasi.

Malam sebelum Fugaku menemukan sosok pahit dari anaknya, Sasuke, Neji menangis dengan derai mata yang tak bisa ditahan, sambil memeluk tubuh semampai yang tergeletak tak berdaya di lantai kamar. Lagi-lagi Kakashi dipanggil untuk memeriksa Sasuke, namun hasilnya nihil. Psikolog muda itu bilang, Sasuke baik-baik saja. Tapi entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang sangat salah. Fugaku belum menyerah hingga ia membawa Sasuke ke seluruh penjuru rumah sakit. Namun, lagi-lagi yang diterimanya adalah 'bendera putih' yang terangkat tinggi dari tangan sang dokter.

Lama-lama Fugaku merasa letih. Ia malu dengan gosip pemberitaan dari pers, yang dirasa mencoreng nama Uchiha-nya karena 'keanehan' sikap Sasuke. Karena itulah, dengan terpaksa Fugaku mengklarifikasi bahwa Sasuke Uchiha resmi mati.

Masyarakat dibuat heboh dengan pernyataannya. Fugaku menangis saat mengatakan itu di atas mimbar, di depan sejuta pandang mata yang menyaksikannya lewat televisi atau secara langsung. Sehari kemudian, ia memerintah para pengawalnya untuk membawa Sasuke pergi jauh, untuk kemudian—dengan amat sangat terpaksa—dibunuh. Neji yang mendengar perintah itu, langsung mengecam keras, dan setelahnya membawa Sasuke kabur pada malam hari.

Neji sadar, ia melakukan ini semua tanpa rencana dan pikir panjang. Ia sadar, tapi berusaha untuk tidak peduli. Tidak peduli jika ia menjadi buronan. Tidak peduli jika Fugaku akan menyiksanya secara perlahan saat keberadaannya ditemukan. Neji tidak peduli.

Sekarang, disinilah ia. Bersimpuh dengan kepala yang tertunduk di pangkuan Sasuke yang menatap kosong, ke depan.

"Siapa—" Neji memberengutkan kedua telapak tangannya pada kaus Sasuke. Pemuda berparas tampan yang sedang terbujur di kursi rodanya itu hanya diam, dengan ekspresi yang tiada ubah, "Siapa … yang merebutmu, Sasuke? SIAPA!"

Neji terisak. Perih. Jantungnya terasa sakit.

Ia sakit, melihat Sasuke yang hidup, tapi seperti mayat. Ia tidak sanggup, menerima kenyataan pahitnya. Pahit yang mengatakan bahwa Sasuke yang ia cintai, telah pergi entah kemana.

Hanya kali ini saja, ia tidak rela jika Sasuke bahagia. Ia tidak mau, Sasuke bahagia ditangan sesuatu yang tidak jelas asal usulnya.

Sesuatu yang jahat.

Sesuatu yang licik.

Sesuatu yang membuat lukisan di pojok ruangan saat ini menampilkan bentuk yang beda dari yang biasanya. Lukisan potret galeri Hinata yang Sasuke beli waktu itu, entah kenapa tertimpa oleh cat berwarna hitam pekat. Semuanya berlumur hingga gambar itu terhapus, tak ada jejak. Lalu, di tengah kegelapan kanvas itu, terdapat segores cat berwarna emas. ia membentuk sebuah pintu yang sangat besar. dengan gambar kedua pasang manusia yang berdiri menatap pintu itu.

Lukisan itu, tidak terlihat rumit dan indah seperti goresan tangan Sasuke.

Tidak. Awalnya Neji menganggap bahwa lukisan itu buatan Sasuke. Ia sempat menemukan sebuah kuas dan cat di genggaman tangan Sasuke ketika pemuda itu terkapar di kamarnya, dulu.

Tapi—

Lukisan itu cenderung kacau. seperti dibuat oleh anak-anak.

Lukisan itu menggambarkan sosok seorang gadis berambut biru dongker, dengan pemuda berambut hitam gagak. Keduanya, sedang bergandengan tangan, erat.

Entah, tidak ada seorangpun yang tahu maksud dari lukisan itu dan kemana mereka akan pergi.

.

.

.

Fin

A/N : ALAMAK! Saya takut ini di dominasi sama NejiSasu-nya! MAAAF! MAAF BANGET KALO TERNYATA IYA OAO" habis, saya cukup kesulitan buat fic ini. meskipun saya sangat menikmati proses pembuatannya. Hehehe. Apalagi ditemani dengan lagu 'Ambivalentidea – Nagi Yanagi' yang so much Desperate. Bener-bener mendukung fanfic ini banget—mendukung dalam catatan, melodinya doang. Arti dari lagu itu sih, saya ga tau, jujur :v

Pada awalnya, saya ga berniat buat bikin fic ini jadi dark. Tapi mungkin, Karena lagu Ambivalentidea benar-benar meracuni saya OAO" #disepak.

Disini akhirnya Sasuke bersama Hinata. Tapi Hinata yang saya buat ini bukan tokoh baik-baik. saya sengaja ngebuat fanfic ini ambigu, biar banyak penafsiran. Silahkan bilang Hinata itu hantu, atau roh, atau dia sebuah bangunan, atau Hinata itu sebenarnya cuma tokoh khayalan si Sasuke. Terserah saja :P

Padahal, tadinya saya niat mau bikin fic tentang 'perasaan cinta yang salah' atau semacamnya. Tapi malah … jadi begini -_-" #KunyahBatu. Omong-omong—

Terimakasih buat yang udah bersedia baca

Review dari kalian sangat kuapresiasi XD

P.S : ada yang udah pernah liat berita/kasus orang yang memiliki kelainan dan jatuh cinta pada bangunan atau benda mati? Ternyata penyakit semacam itu ada lho. Fanfic ini sedikit-banyaknya terinspirasi dari cerita itu, terus juga dari anime 'Miracle Train', dimana tokohnya cowok-cowok ganteng, tapi ternyata mereka adalah stasiun kereta. Bukan manusia. Selain itu juga, berkat campur tangan lagu Ambivalentidea, jadilah fanfic random yang hasilnya begini ini XD

Tangerang, 12 September 2012

-Fujisaki Fuun-