"Ucapan 'Halo' di saat pertama kali bertemu mungkin saja akan berubah menjadi ucapan 'aku cinta padamu' di saat berikutnya."
-RED NIGHT-
Apartemennya masih berantakan, dia belum sempat merapikan pakaian dan beberapa barang pribadi yang baru dibelinya, sebuah televisi dan dispenser kecil. Untunglah apartemen ini sudah menyediakan perabotan dasar seperti tempat tidur, sofa, dan dapur. Sungmin memutar bola matanya ketika menatap dapur itu. Dia mungkin butuh berkunjung ke supermarket terdekat, mengisi bahan makanan di kulkas dan membeli beberapa peralatan memasak.
Tubuhnya lelah setelah perjalanan yang panjang dan dilanjutkan dengan mengurus surat-surat kontrak apartemennya. Victoria, editornya yang kebetulan tinggal di kota ini sudah berbaik hati membantu mencarikan apartemen yang siap pakai untuknya. Ya, Sungmin memang berangkat ke sini karena usul dari Victoria.
Selain sebagai editornya, victoria adalah sahabatnya, meskipun mereka kebanyakan berkorespondensi melalui email semata. Jadi, begitu Sungmin menceritakan pengkhianatan Jungmo dan rasa sakitnya, victoria mengusulkan agar Sungmin pindah sementara ke kotanya sampai hatinya tenang.
Dia hanya berpamitan kepada kedua orangtuanya, dan tidak mengatakan kepergiannya kepada siapapun. Tetapi lambat laun Jungmo pasti akan mengetahuinya juga. Sungmin mendesah pahit. Sekarang ingatannya akan Jungmo dipenuhi rasa muak dan sakit hati.
Ah ya ampun. Lelaki. Sungmin tidak akan pernah percaya lagi kepada lelaki. Mereka semua adalah mahluk lemah yang tidak tahan godaan.
Ponselnya berkedip-kedip dan Sungmin mengernyit, dia mengangkatnya ketika melihat nama victoria tertera di layarnya.
"Halo?"
"Aku sudah sampai rumah dan baru teringat." Victoria berkata.
"Naskah bab tujuhmu sudah selesai dikoreksi. Ada beberapa catatan kecil di sana, mungkin kau ingin melihatnya."
"Aku akan melihatnya nanti." Gumam Sungmin lemah. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, "Saat ini aku lelah sekali."
"Istirahatlah dulu. Kau tidak akan bisa menyelesaikan tulisanmu kalau kau sakit."
"Kenapa kau memikirkan tulisanku? Bukan aku?" Sungmin tersenyum
"Karena sudah mendekati deadline dan kau baru sampai di bab tujuh, Sungmin. Novelmu banyak ditunggu-tunggu oleh penggemarmu, penerbit sudah mengejarku untuk kepastian penyelesaian novelmu." victoria tergelak.
"Tetapi bukan berarti aku tidak mempedulikanmu, sebagai sahabat, aku mencemaskanmu. Jangan banyak pikiran oke. Lepaskan semuanya dan biarkan hatimu tenang."
Mata Sungmin berkaca-kaca. Menyadari bahwa hatinya sama sekali tidak tenang.
"Terima kasih vic." Gumamnya serak sebelum menutup pembicaraan.
Matanya nyalang menatap langit-langit kamar. Mencoba melupakan rasa yang menyesakkan dada. Dia tidak akan bisa tidur malam ini, sambil menghela napas panjang, Sungmin meraih jaketnya dan melangkah keluar dari apartemennya.
⧫⧫⧫ Red Night ⧫⧫⧫
Setelah berjalan tanpa tujuan di sekitar kompleks apartemennya yang cukup ramai karena terletak di area pusat perbelanjaan, Sungmin begitu saja memasuki cafe itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi suasana tetap saja ramai.
Cafe itu terletak di pinggir jalan, di area yang dipadati pejalan kaki yang lalu lalang. Suasananya sangat sejuk dan menyenangkan, karena dipenuhi oleh tanaman hijau yang ditata dengan indahnya, dengan dinding-dinding dari kaca yang memantulkan lampu jalan. Cafe itu buka duapuluh empat jam. Dan Sungmin langsung menemukan tempat yang cocok untuk duduk dan menulis. Dia duduk di sebuah sudut yang nyaman dan membuka buku menu yang ada di meja. Suasana cafe cukup ramai meskipun sudah malam, seakan-akan kehidupan terus berjalan di dalam sini.
Pada saat yang sama seorang pelayan, pria setengah baya mendekatinya dan tersenyum ramah kepadanya,
"Selamat malam, apakah anda ingin memesan sesuatu?"
Sungmin mendongak menatap wajah yang ramah itu dan tersenyum, "Saya ingin steak yang ada di menu ini." Ditunjuknya gambar yang menggiurkan di buku menu itu, lalu mengernyit bingung ketika akan memesan minuman.
"Segelas anggur merah akan membuat tidur anda nyenyak." Pelayan itu memberi saran dengan ramah.
Sungmin menatap pelayan itu ragu bertanya-tanya kenapa pelayan itu bisa mengetahui bahwa dia sudah tidur... Jangan-jangan matanya sudah seperti panda? Dengan malu Sungmin menundukkan kepalanya dan kembali menekuri daftar menu, tergoda.
Dia bukan peminum, meskipun di acara-acara pesta dia tidak menolak segelas champagne atau coctail manis sebagai bentuk kesopanan. Tetapi kata-kata pelayan itu tampak menggiurkan. Sudah beberapa hari sejak kejadian Jungmo, Sungmin tidak bisa tidur, menghabiskan waktunya dengan menatap nyalang langit-langit kamar, dan diakhiri dengan menangis sesenggukan.
Dia butuh tidur, kalau tidak dia akan sakit.
"Baiklah, saya pesan itu juga." Jawab Sungmin pelan, lalu menatap pelayan yang membungkukkan tubuhnya dengan sopan dan melangkah pergi. Segelas anggur merah tidak akan membuatnya mabuk.
Sungmin membuka laptopnya dan mulai menulis, tetapi baru beberapa detik dia mendesah. Novel yang ditulisnya adalah kisah romansa antara dua anak manusia yang saling mencintai.
Sungmin dulu sangat lancar menulis novel percintaan, kata-kata akan mengalir mudah dari jari-jarinya, membentuk rangkaian huruf yang membuaikan pembacanya. Tetapi sekarang, setiap dia akan menulis kisah cinta, hatinya mencemooh. Ingatan akan Jungmo menyerbunya, membuat jemarinya kaku dan tidak bisa mengetikkan kisah romantis apapun.
Ternyata menulis itu dipengaruhi oleh hati. Ketika dia patah hati, jemarinya menolak untuk menuliskan kisah cinta yang menyentuh hati. Jiwanya tidak percaya akan keindahan romansa, semua terasa palsu baginya sejak pengkhianatan Jungmo kepadanya.
"Biasanya kalau aku susah mendapatkan inspirasi aku akan mendengarkan musik."
Suara yang maskulin itu mengejutkan Sungmin dari lamunannya, dia mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan sosok tampan yang begitu mendominasi ruangan, dengan pakaian serba hitam dan wajah klasik yang misterius.
Sungmni mengernyitkan keningnya, menoleh ke belakangnya, tidak ada orang lain di dekatnya. Jadi memang benar lelaki ini sedang menyapanya. Dia tidak mengenal lelaki ini, bagaimana lelaki ini bisa mengetahui bahwa dia sedang menulis?
"Para penulis biasanya datang ke cafe ini di malam hari, memenuhi setiap sudutnya dan berusaha mencari inspirasi." Lelaki itu tersenyum. "Maafkan aku tidak sopan menyapamu begitu saja."
Dia mengulurkan tangannya. "Halo, Aku pemilik cafe ini, namaku Cho Kyuhyun."
Sungmin tetap ragu, meskipun begitu, demi kesopanan dia menyambut uluran tangan lelaki itu.
"Halo juga..." Sungmin masih bingung harus berkata apa.
"Aku Lee Sungmin." Gumamnya pelan. Masih terpukau atas senyum ramah dan ketampanan lelaki di depannya itu.
"Oke kalau begitu, aku harap kau tidak bosan berkunjung kemari." Lelaki itu menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi.
Sungmin masih terdiam, mengamati kepergian lelaki itu. Mungkin sudah budaya di cafe ini untuk ramah kepada para pelanggannya, pikirnya dalam hati. Lelaki itu tampak baik, ramah, dan sopan... tetapi kemudian ingatan akan Jungmo menyerangnya dan membuatnya merasa pahit. Semua laki-laki sama di dunia ini, meskipun yang berpenampilan paling sempurna sekalipun.
Sungmin mencoba memfokuskan diri kepada tulisannya, berusaha mengenyahkan pikiran tentang lelaki tampan itu dari benaknya ketika pelayan datang mengantarkan steak pesanannya.
Piring berisi daging beraroma harum dan menggiurkan yang diletakkan di depannya,
"Dan ini anggurnya." Pelayan setengah baya itu tersenyum ramah. "Anda tahu, daging steak sangat cocok dinikmati dengan anggur merah."
Ketika pelayan itu pergi, Sungmin menyentuh gelas anggurnya dengan ragu. Lalu setelah menghela napas panjang dia menghirup aromanya pelan. Aroma anggur yang manis menguar dari sana, menggoda Sungmin untuk menyesap anggur itu, disesapnya anggur itu dan mendesah nikmat.
Ada manis yang kental bercampur rasa pekat alkhohol yang pas, tidak berlebih. Ini adalah jenis anggur yang bisa dinikmati di kala santai tanpa takut mabuk. Dan Sungmin sungguh-sungguh berharap anggur ini benar-benar berkhasiat untuk membuatnya tidur. Dia sungguh butuh tidur nyenyak malam ini.
⧫⧫⧫ Red Night ⧫⧫⧫
"Dan dia sangat tampan." Sungmin bercerita kepada Victoria sahabatnya. "Dia juga pemilik cafe yang indah itu."
Victoria mencomot roti bakar di piring Sungmin, mereka sedang menghabiskan minggu pagi di apartemen Sungmin. Victoria berkunjung untuk membantu Sungmin merapikan tempat barunya.
"Cafe itu cukup terkenal di kota ini, sangat ramai karena menyediakan semua yang dibutuhkan. Di pagi hari kau bisa memesan menu sarapan yang lezat. Dan di malam hari, barnya dibuka sehingga semua orang yang ingin bersantai bisa duduk-duduk di sana selama mungkin dan menikmati minumannya. Tapi dari ceritamu, pemilik cafe itu sepertinya masih muda."
"Masih muda." Sani merenung, masih muda dan sangat tampan batinnya.
"Apakah dia sudah menikah?" tanya Victoria tiba-tiba.
Sungmin tergelak, "Kenapa aku harus memperhatikan apakah dia sudah menikah atau belum?"
"Karena kau harus belajar melepaskan diri dari Jungmo." Victoria mengedipkan sebelah matanya.
"Pemilik cafe itu menyapamu, dan dia masih muda, siapa tahu dia juga tampan."
"Dia tampan." Gumam Sungmin akhirnya.
"Nah! Mungkin dengan mencoba membuka lembaran baru kau bisa menyembuhkan lukamu."
"Tidak." Sungmin mengernyitkan keningnya dengan pedih. "Semua lelaki sama, Vic. Mereka selalu bilang bahwa mereka adalah pecinta sejati. Tetapi di sisi lain mereka mudah berpindah hati."
"Kau tidak bisa terus-terusan seperti itu, Sungmin. Masih banyak lelaki di luar sana yang berjiwa baik dan setia." Victoria menghela napas panjang.
"Seperti pemilik cafe yang tampan itu. Dia tampaknya baik, dan dia menyapamu, berarti dia ada perhatian kepadamu."
"Tidak." Sungmin menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
"Mungkin itu memang sudah menjadi ciri khas cafe itu, bersahabat dengan pelanggannya, bahkan pelayannya pun ramah-ramah."
Tatapan mata Sungmin lalu berubah serius. "Aku tidak ingin membuka hatiku untuk lelaki manapun, Victoria. Aku sudah dikecewakan dan bagiku semua lelaki itu sama, mereka adalah pengkhianat."
Sungmin meyakini kata-katanya. Pengalamannya dengan Jungmo sudah membuktikan semuanya. Dia tidak akan pernah percaya kepada laki-laki lagi, apalagi lelaki yang luar biasa tampannya seperti pemilik cafe itu kemarin.
Lelaki setampan itu pastilah pemain perempuan. Karena dengan ketampanannya dia bisa mendapatkan banyak perempuan yang dengan sukarela mau bertekuk lutut di bawah kakinya.
⧫⧫⧫ Red Night ⧫⧫⧫
Tetapi malam itu Sungmin tidak bisa tidur lagi, dia sudah mencoba berbaring tetapi hanya berguling bolak-balik di atas ranjang. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kawasan tempat tinggalnya cukup aman dan ramai untuk keluar di malam hari.
Lagipula cafe itu terletak begitu dekat, hanya di seberang kompleks apartemennya...
Tanpa terasa Sungmin sudah berjalan ke sana, memasuki cafe itu. Pelayan setengah baya yang sama yang menyambutnya.
"Segelas anggur lagi untuk teman makan malam?" Lelaki itu menyapa dengan ramah ketika Sungmin duduk di pojok yang rindang dengan dekorasi taman yang menyejukkan.
Sungmin tersenyum, "Tidak, malam ini aku ingin kopi."
"Apakah anda akan begadang untuk menyelesaikan pekerjaan anda?" pelayan itu melirik ke arah laptop yang diletakkan Sungmin di mejanya.
Sungmin terkekeh, "Aku seorang penulis dan aku dikejar deadline."
"Penulis?" Pelayan itu tampak tertarik, "Penulis novel?" Sungmin menganggukkan kepalanya, "Ya. Novel percintaan."
"Ah." Pelayan itu tersenyum penuh arti, "Saya sudah menduganya, itu sesuai dengan penampilan anda yang lembut."
"Terima kasih atas pujiannya." Gumam Sungmin sambil tertawa. Ia mulai membuka laptopnya di atas meja itu, "Mungkin aku akan di sini sampai pagi."
"Anda tidak tidur?"
"Pekerjaanku kan penulis, aku bisa begadang semalaman dan tidur besok pagi." Sungmin tergelak, "Semoga di sini diperbolehkan duduk sampai malam."
"Tentu saja." Pelayan itu mengedipkan sebelah matanya, "Asal anda terus mengisi cangkir kopi anda setiap dua jam, anda boleh duduk di sini selamanya." Candanya sambil tertawa.
"Saya akan mengambilkan pesanan anda. Dan karena sepertinya anda akan menjadi pelanggan kami, anda boleh memanggil saya Shindong"
Sungmin tersenyum menanggapi keramahan pelayan itu. "Terima kasih, Shindong" Gumamnya lembut.
⧫⧫⧫ Red Night ⧫⧫⧫
Hampir pukul tiga pagi dan Sungmin masih menulis di sudut yang sama, dia sedang menulis adegan sedih, perpisahan antara kedua tokohnya karena kesalahpahaman. Dan itu sesuai dengan perasaannya sekarang, karena itulah jemarinya mengalir lancar.
Tiba-tiba ponselnya berkedip-kedip, membuatnya mengernyitkan kening.
Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?
Diambilnya ponselnya dan wajahnya memucat ketika melihat nama yang tertera di sana.
Jungmo...
Sungmin meletakkan ponsel itu di meja dan membiarkannya. Tetapi ponsel itu terus bergetar tanpa henti, begitu mengganggunya. Sungmin mendesah kesal, mood menulisnya langsung hilang begitu saja melihat nama Jungmo di layar itu.
Dan meskipun dia sudah berusaha mengabaikannya, ponsel itu terus menerus bergetar tak tahu malu. Seolah Jungmo tidak akan menyerah sebelum dia mengangkatnya.
Akhirnya setelah menghela napas panjang, Sungmin mengangkat ponsel itu.
"Ada apa Jungmo?" gumamnya kesal.
"Sungmin, akhirnya." Suara Jungmo terdengar lega di seberang sana.
"Aku datang ke rumahmu dan orangtuamu bilang bahwa kau pergi keluar kota. Kau kemana?"
"Sudah bukan urusanmu lagi kan?" jawab Sungmin dingin.
"Astaga Sungmin. Sebegitu kejamnyakah kau padaku? Apakah kau pergi meninggalkan kota ini gara-gara aku?" Kenapa pula Jungmo harus bertanya? Tentu saja Sungmin melakukannya karena Jungmo. Dia sudah muak bahkan untuk mengetahui bahwa dia menghirup udara yang sama dengan laki-laki itu, karena itulah dia pindah.
"Aku rasa apapun alasanku adalah urusanku." Sungmin bergumam. "Dan aku harap kau tidak menggangguku lagi."
"Sungmin... sayang... dengarkan aku... kau pindah kemana sayang? Orangtuamu tidak mau memberitahukan kepadaku, dan aku mencemaskanmu."
"Aku baik-baik saja." Sungmin menguatkan hatinya, merasakan matanya berkaca-kaca, lalu langsung mematikan ponselnya.
Dia terpekur cukup lama di depan laptopnya, menatap hampa kepada tulisannya yang masih setengah jadi. Saat ini yang dia lakukan adalah membuat kisah tragedi, dengan akhir yang tragis dan memilukan untuk tokoh-tokohnya, kisah menyedihkan yang sama seperti yang sekarang dia alami.
⧫⧫⧫ Red Night ⧫⧫⧫
Kyuhyun memperhatikan Sungmin dari dalam ruang kerjanya. Tentu saja Sungmin tidak menyadarinya, ruang kerja Kyuhyun terletak di lantai dua, di atas tangga dengan kaca yang gelap yang didesain satu arah. Di mana Kyuhyun bisa dengan leluasa mengawasi seluruh bagian cafe miliknya dan orang dari luar tidak akan bisa melihat menembus ke dalam.
Kyuhyun tidak pernah merasakan ketertarikan seperti ini pada perempuan manapun. Tetapi semalam, ketika kebetulan dia sedang berdiri di tempat ini, tempat yang sama, mengawasi cafenya, dia melihat perempuan itu masuk. Ia menatap keraguan perempuan itu, dan entah kenapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekati perempuan itu.
Padahal penampilan perempuan itu sederhana, dia mengenakan rok panjang dan kemeja warna polos yang membungkus tubuhnya yang mungil. Tidak ada yang istimewa dan heboh dari penampilannya, rambutnya dikuncir kuda sekenanya, dan perempuan itu tidak berdandan. Tetapi Kyuhyun tetap saja tidak bisa melepaskan pandangannya dari perempuan itu.
Bahkan kemudian dia tidak bisa menahan diri untuk menyapa perempuan ini, ingin melihat lebih dekat. Kyuhyun tidak pernah menampakkan dirinya di depan pelanggan. Dia selalu bersembunyi di balik dinding kaca gelap yang misterius, hanya Shindonglah yang dipercayanya sebagai tangan kanannya. Kyuhyun memiliki jaringan cafe dan hotel di seluruh kota ini, tetapi Garden Cafe adalah favoritnya. Tempat inilah satu-satunya dari seluruh tempat yang dimilikinya yang membuatnya merasa nyaman.
Dan kemudian dia menemukan perempuan ini, perempuan yang langsung merenggut hatinya. Ketika berucap "halo" dan menyambut uluran tangannya, lalu mengatakan namanya. Sungmin... Kyuhyun mencatat nama itu dengan penuh rahasia, jauh di dalam hatinya yang kelam.
.
.
.
Bersambung. . .
Nb : Ada yang nanya megenai cerita ini... ceita ini menceritakan satu couple saja, tetapi setiap cerita yang termasuk "Colorfull of Love" memiliki cerita yang saling berkaitan.
Next or Delete?
Thanks for review ^^
