MY TRUE FEELS ch.2

Disclaimer : Eiichiro Oda-sensei

Warning : Gaje, OOC, (maybe) typos, hasil pikiran nista author, Shonen-Ai, dll.

Don't like don't give a shit

.

.

.

.

"ugh… Celaka!"

Law terbangun pagi harinya tanpa Luffy disampingnya ia sadar ia terlambat bangun dan dengan terburu-buru ia mengambil kimono dan menuju ruang tengah untuk mencari Luffy. 'Ceh, aku kesiangan lagi. Jangan-jangan dia tak sarapan gara-gara aku tak memasakkannya lagi hari ini'. Begitu kiranya yang dipikirkan Law.

Baru saja sampai diruang tengah kedua mata beiris abu-abunya menangkap bayangan seseorang, dan ketika pandangan mereka bertemu orang yang tak asing tersebut langsung menyapa dirinya.

"Yo! Law-san, baru bangun tidur rupanya?".

"Zoro-ya? Apa yang kau lakukan disini?".

"Ya ampun, sudah biasa bukan kalau aku kesini untuk menjemput Luffy? Dan kau masih saja menganggapku seperti orang asing".

"Masalahnya, aku juga bisa mengantarnya. Lagipula, kau harus putar arah kalau mau menjemputnya apa tak masalah? Apa lagi kau sering tersesat".

"Yah, bagaimana yah? Aku hanya ingin menjemputnya saja. Hei, kau menejekku? Sekarang aku selalu mengaktifkan GPS juga jadi, jangan khawatir!". Jawabnya sambil menyeringai.

Cih! Dia sama sekali tak menyukai sahabat Luffy yang satu ini, selalu saja mencari perhatian Luffy. Sudah beberapa kali ia melihat orang kurang ajar ini juga memeluk dan berkelakuan manis pada Luffy. Ugh! Law tak bisa bayangkan bagaimana hari-hari Luffy bersama dengan orang ini disana? Cemburu? Ya! Sangat.

"Eh! Torao! Sudah bangun rupanya! Shishishi. Nah, aku mau berangkat dulu ya?". Tiba-tiba Luffy keluar dari dapur sambil membawa tas dan beberapa dokumen.

"Lho? Kau belum sarapan bukan?".

"Shishishi, tadi Zoro membawakanku makanan! Tenang saja, sudah kubereskan kok!"

GREP! Dengan sigap Law mencengkram bahu Luffy dengan erat.

"Lho? Torao? Ada apa?".

"Maaf, aku terlambat bangun hari ini, tak bisa membuatkanmu sarapan dan mengantarkanmu".

"Ah, tidak apa-apa. Lagian, sudah ada Zoro untung dia membawakanku makanan juga! Shishishi, aku tau kau juga sedang kelelahan jadi tak tega membangunkanmu".

"Ehm! Maaf mengganggu tapi jam kuliah kita bakal dimulai, lho, Luffy". Praktis kata-kata Zoro mendapatkan deathglare dari sang dokter. 'Kalau saja kau bukan sahabat dekat Luffy, sudah lama aku ingin memotong-motong tubuhmu dan menjadikannya puzzle!'.

"Oke! Dahh! Torao!".

"Belajar yang benar, Luffy-ya".

.

.

.

CKLEK

"Hei, Law-kun". Sapa Monet setelah membuka pintu ruangan Law tanpa izin.

"Bisa kau mengetuk pintu dahulu?".

"fufufu, Gomen. Oh! Aku diperintah Master untuk mengirim beberapa arsip ini, dia bilang kau membutuhkannya?".

"Iya, taruh saja diatas meja".

"Eh? Serius sekali?" Komentar Monet melihat sang orang yang diajak bicara malah bermain ria dengan gadgetnya sendiri.

"Ne, Law-kun. Kenapa kau tidak menyatakannya saja?". Komentarnya lagi yang tahu bahwa Law sedang berkonsentrasi dengan gadgetnya bukan sedang membaca pesan atau browsing, melainkan memandangi potret sang otouto tercinta.

"Entahlah Monet, aku dan dia sudah sangat dekat sebagai saudara dan apa yang akan terjadi kalau tiba-tiba aku mengatakan itu? Aku takut hubungan kami yang sudah dekat seperti ini akan hancur seketika". Jawab Law dengan mata sayu. Ia tau ia menginginkan Luffy lebih dari sekedar saudara tapi mengetahui konsekuensinya ia sudah cukup normal untuk memutuskan.

"Bagaimana ya? Aku Lihat kau sedang tersiksa sekali hari ini?". Ucap Monet yang duduk didekat Law setelah meletakkan arsip-arsipnya. Monet sudah tau semua tentang Law dan Luffy setelah Law kepergok memandangi potret Luffy untuk pertama kali dan mendengar dokter dingin ini curcol adalah kesempatan yang sangat langka didapatkan siapapun didunia ini.

"Hufft, mungkin, aku cemburu pada salah satu temannya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya dia anggap sebagai kakaknya dan jika suatu hari nanti dia mendapatkan orang yang ia cintai…-".

Dengan sigap Monet mengelus punggung Law berniat menenangkan hati sang dokter tersebut.

"-Yang bisa aku lakukan hanya merelakannya".

Jujur saja, Monet-pun bingung harus berkata apa? Soalnya ini masalah yang sangat rumit dan yang bisa ia lakukan sekarang hanya menjadi sahabat curcol Law saja. "Lakukan yang terbaik yang bisa kau lakukan Law-kun, ikuti kata hatimu. Aku tau yang kita inginkan biasanya juga bukan yang terbaik untuk kita".

"Aku mengerti, Terima kasih".

"Nah, aku pergi dulu, bisa gawat kalau aku tidak ada disampingnya saat Master membutuhkanku".

"Maaf merepotkan".

"Ah! Itu gunanya teman kok, Law-kun". Jawab Monet sambil menutup ruangan praktik Law.

.

.

.

"Wah, kakakmu belum pulang juga yah?". Ujar Zoro sambil melangkah kedalam apartemen Luffy.

"Belum, seperti biasa ia pulang larut, mau main game denganku lagi?". Tawar Luffy sambil menunjukkan cengiran khasnya.

"Aku sih, mau-mau saja… Tapi, aku masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Kau 'kan gampang minta tolong ke kakakmu". Ujar Zoro kesal.

"Shishishi, tidak begitu juga! Aku juga menyelesaikannya sendiri kok!".

"Kelihatannya kakakmu sangat menyayangimu, Lu! Protektif juga kalau aku datang kesini menjemputmu. Ne, apakah kalian sering sayang-sayangan?". Goda Zoro sambil memegang dagu Luffy.

"Hei! Hentikan opini bodohmu itu! Zoro. Lagipula dia hanya sekedar kakak bagiku… Tak lebih!".

.

.

.

Law berlari menyusuri koridor apartemen, sangat senang hari ini bisa pulang sangat awal karena Shachi dan Penguin bisa menggantikannya. Dengan tangan penuh oleh-oleh hanya untuk otouto tercinta, Law dengan wajah sumringah menerka-nerka ekspresi senang macam apa yang akan Luffy berikan padanya nanti ya?

Sampai didepan kamar apartemennya ia menyadari bahwa Luffy tidak sendirian. 'ada Zoro-ya? Sedang apa mereka?'. Law-pun menempelkan telinganya kepintu kamar apartemennya berharap bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Kelihatannya kakakmu sangat menyayangimu, Lu! Protektif juga kalau aku datang kesini menjemputmu Ne, apakah kalian sering sayang-sayangan?"

Cih, kata-kata Zoro mau tidak mau membuat Law sedikit terkekeh.

"Hei! Hentikan opini bodohmu itu! Zoro. Lagipula dia hanya sekedar kakak bagiku… Tak lebih!".

DEG! 'Kenapa? Kenapa hati ini sakit sekali? Kenapa ketika ia mengatakan itu hati ini sakit sekali? Ya tuhan, sekarang aku benar-benar tahu. Dihatinya aku tak lebih dari seorang kakak'. Hati Law mencelos saat itu juga. Padahal ia sudah mempersiapkan hatinya, bukan? Tapi kalau mendengar langsung dari mulutnya begini. Hatinya hancur saat itu juga.

CKLEK!

"Eh! Law-san? Sudah pulang rupanya?". Kaget Zoro melihat Law sudah berada didepan pintu.

"Ya, aku ada pengganti jadi bisa pulang lebih awal". Jawab Law sekenanya setelah berhasil menenangkan hatinya.

"Ditunggu Luffy didalam, wah! Banyak sekali oleh-olehnya?". Ujar Zoro terkejut melihat begitu banyak makanan yang dibawa Law.

"Ceh, sudah biasa, lagipula dia pasti bisa menghabiskannya". Jawab Law dengan senyum yang dipaksakan.

"Lho! Torao! Sudah pulang! Senangnya! Ya ampun! Apa saja yang kau bawa". Teriak Luffy sambil menerjang Law.

"Yang kau suka".

"Baiklah! Aku juga lapar! Kau lapar juga 'kan? Lesu sekali! Eh! Zoro mau ikut gabung?".

"Ah, tidak ah… aku makan dirumah saja, aku yakin Oka-san sudah membuatkanku makanan dan akan marah jika tidak ku makan, jadi selamat bersenang-senang saja, aku pergi dulu!".

"Ya! Sampai besok! Zoro! Ayo, Torao!". Ajak Luffy sambil menarik tangan Law.

.

.

.

Walaupun Luffy tak terlalu peka terhadap perasaan orang lain tapi ia yakin kakaknya sekarang sedang merasa sedih. Dari mulai makan bersama sampai sudah terbaring ditempat tidurpun dia tidak berkata apapun hanya anggukan dan senyum yang dipaksakan yang ia tunjukkan, bahkan kemana pelukan selamat tidur untuk Luffy? Yang Law lakukan sekarang hanya memunggungi Luffy dan membungkam mulutnya tak jahil seperti biasa.

"Torao!". Panggil Luffy sambil mengguncang kakaknya yang berbaring disampingnya

"hn?". Law hanya berdehem tanpa memalingkan wajahnya.

"Ada yang mengganggumu ya? Kok, tak seperti kau yang biasanya?"

"Tak ada, hei sekarang sudah larut, tidurlah…". Ucap Law setelah menghadapkan tubuhnya ke Luffy dan mengelus rambut raven acak-acakannya.

Tanpa diduga oleh Law, Luffy menarik tangannya memaksa Law untuk memeluknya dan Luffypun melingkarkan tangannya ketubuh Law. Law hanya bisa melotot tak percaya. Padahal selama ini Luffy selalu menolak dipeluk oleh Law dan ini pertama kali Luffy memeluknya. Enta tapi rasa galaunya sepertinya benar-benar terhapus dengan sempurna.

"Kau suka memelukku 'kan? Mungkin itu dapat meringankan rasa sedihmu hari ini…. Apapun yang membuatmu sedih". Ucap Luffy sambil tersenyum lembut.

"Itu pasti…". Ucap Law senang sambil mengeratkan pelukannya. "Terima kasih….".

"Shishishi". Mungkin, kalau Luffy menganggapnya hanya sebagai kakak dan itu sudah membuat Luffy bahagia memiliki kakak sepertinya itu tak apa bukan? Yang penting Luffy bahagia bukan?

.

.

.

'Nafasnya sudah tenang, apakah dia sudah tidur?'. "Luffy-ya?". Panggil Law untuk memeriksa apakah otouto tercintanya ini sudah terlelap. 'Dia memang sudah tidur'.

"Kalau kau tau aku mengganggapmu lebih dari sekedar adik, apa reaksimu? Kalau aku berkata aku mencintaimu, apa reaksimu?". Law berhenti sejenak merasa kata-katanya tercekat, hatinya serasa diremas, ini sangat sakit. "Luffy-ya, aku mencintaimu… Kau orang yang dapat merebut hatiku yang tak dapat dimenangkan orang lain setelah takdir sudah merebut semua yang kusayangi dariku".

Mengingat masa lalunya kehilangan beberapa orang yang ia sayangi, ia tak mau mengambil resiko kalau yang satu ini akan pergi meninggalkannya lagi. "Aku sama sekali tak mau kehilanganmu… Apapun nanti keadaan yang menghampirimu, aku senang kau menganggapku sebagai kakak itu berarti kau menganggapku sebagai orang yang penting 'kan? Walaupun, aku takkan munafik aku ingin lebih".

Didekatkannya bibirnya kedahi Luffy dan menciumnya penuh perasaan, air matanya mengalir begitu deras sambil mengeratkan pelukannya. "Aishiteru, Luffy-ya…".

.

.

.