.

Disclaimer : Naruto_Masashi Kishimoto

Disclaimer : I ROBOT_ Dhiya Chan

Genre : Romance, Adventure, Conflik, FriendShip.

Pair : Sasuke Uchiha & Naruto Uzumaki

Rating: M

Warning : Shounen Ai, Ga Normal, YAOI, Ngaco Bin Ngaur, Typo ingin selalu hadir.
BoysxBoys, Gaje, Ga nyambung, Alur Kecepetan, Rusak parah, belum ada lemon harap bersabar, khusus untuk 17 Tahun keatas (Masih maksa mau baca, ga tanggung jawab dimarah Ortu!), de el el


.

.

'Kring-Kring-Kring!'

Bunyi jam beker bergema hebat pada salah satu ruangan serba orange di kediaman keluarga Namikaze. Bed cover putih bermotif rubah orange kemerahan di tengah-tengah, menampakan gundukan kecil disertai erangan tak suka menguar dibalik selimut. Tampaknya si empu kamar sangat terganggu dengan suara berisik yang keluar dari benda penunjuk waktu itu. Tangan berhiaskan kulit tan pun terjulur, berusaha menggapai benda laknat yang telah berani-berani menginterupsi tidur indahnya. "Hoaamm~, berisik sekali." Gumam sosok itu sembari membuka ujung selimut hingga menampakkan surai pirang bergaya tegak keatas. Wajah mungil dihiasi 3 garis halus nampaknya masih dilanda kantuk berat. Terlihat bibir tipis pemuda itu terus menguap lebar dengan mata kiri mengeluarkan setitik air, tangan kiri yang bebas mengucek-ngucek mata biru langit itu untuk melihat dengan jelas angka yang tertera di jam beker pada genggaman tangan kanannya.

"Ohh, masih jam 07.55." Pemuda itu pun kembali meletakan jam beker diatas meja kecil bersebelahan dengan robot setinggi 40cm. Dihempaskan punggung kecilnya diatas tempat tidur, gerakan merenggangkan kedua tangan ia lakukan, berusaha merilekskan seluruh tubuh yang kaku sehabis bangun tidur. Helaan nafas panjang terdengar, ia pun mencoba menutup kedua mata untuk bersantai sejenak sebelum melakukan segala kegiatan yang menjadi rutinitas kesehariannya dan tiba-tiba didetik itu juga kedua mata terbuka sempurna, disusul teriakan cempreng membahana ruangan berukuran 5x4 itu. "GYAAA~! Aku telat!"

Begitulah peristiwa yang selalu terjadi di kediaman Namikaze setiap harinya. Pria berambut pirang yang sedang menikmati secangkir kopi buatan sang istri diruang makan, tersenyum masam saat mendengar teriakan tersebut, wanita berambut merah yang tidak lain istri dari laki-laki itu hanya mampu menghela nafas berat. Mereka tidak bisa berbuat banyak, sebab segala daya upaya telah mereka lakukan, mulai dari panggilan lembut disertai usapan hangat di kening sampai teriakan berkapasitas 20 oktaf dengan satu tendangan di pinggang tak jua bisa membangunkan putra semata wayang mereka. Jam beker pun harus berdering sebanyak 7 kali baru berhasil membuat Namikaze muda itu terjaga. Benar-benar hari yang sulit bukan?

'DRAP-DRAP-DRAP!'

"Aku telat, aku telat, AKU TELAT!" Ketukan telapak kaki Naruto bergema di anak tangga. Dengan secepat kilat, Naruto langsung menyambar sepotong roti bakar lalu memasukannya didalam mulut, dan memasukan sekotak susu rasa jeruk siap minum yang berada diatas meja makan kedalam saku celana seragam sekolahnya. "Athu behangkat ulu, Taa-han, Too-han." Sebut Naruto pada kedua orang tuannya yang berarti Aku berangkat dulu, Kaa-san, Tou-san. Setelah mencium pipi kedua orang tuanya, Naruto bergegas menuju pintu keluar.

Sambil menguyah roti bakar dengan kecepatan super, menarik ujung sepatu yang belum terpasang sepenuhnya di kaki, Naruto pun segera menenteng sepeda Polygon keluar dari garasi. 'Cepat, cepat, cepat! Aku harus cepat, tinggal 3 menit lagi!' Inner Naruto menggebu-gebu, kedua kaki ia gerakkan secepat mungkin mengayuh sepeda agar cepat sampai ditempat tujuan.

Hampir 3 menit Naruto terus memacu sepeda menembus jalur trotoar yang dikhususkan untuk pengguna sepeda. Saking ngebutnya ia mengendari sepeda, nyaris saja Naruto menabrak palang parkir kereta api karna ingin berbelok kearah kiri, namun sebelum itu terjadi, ia berhasil mengantisipasi semua itu dengan menekan rem terlebih dahulu. Bunyi decitan pergesekan ban sepeda dengan trotoar pun terdengar, membuat orang-orang yang berlalu di sekitar jalan mengumpat sadis pada Naruto karna telah membuat telinga mereka terasa sakit. Tapi Naruto tidak terlalu memperdulikannya, sebab tinggal beberapa detik lagi, pintu gerbang akan segera ditutup. "Tunggu!" Teriak Naruto begitu melihat gerbang sekolah sudah setengah ditutup oleh security. Dari kejauhan terlihat security itu menghela nafas berat. Iya, ia telah bosan melihat sosok rambut pirang itu terus menerus menjadi langganan 'Siswa terlambat' setiap harinya.

"Oke!" Seru Naruto setelah sepedanya berhasil masuk kedalam kawasan sekolah sebelum pintu gerbang ditutup oleh security itu. Gerakan jari telunjuk dan tengah merapat diatas kepala, Naruto peragakan sebagai ucapan terima kasih pada sang security. Sesudah memasuki halaman sekolah, pemuda bermata blue sapphier itu mengayuh sepeda dengan pelan menuju kearah samping gedung sekolah. Buru-buru Naruto turun dari sepedanya, menuntun kendaraan beroda dua itu menuju tempat parkir. Setelah mengunci roda belakang, Naruto bergegas masuk kedalam kelas. Jam pelajaran pertama adalah pelajaran sejarah dengan Kurenai Yuhi sebagai guru yang mengajar. Kurenai termaksud salah satu guru yang sangat bermurah hati, tapi kalau untuk masalah keterlambatan. Tidak ada kata toleransi dari guru cantik itu. Kalau sudah begitu, hukuman pun mau tak mau harus Naruto terima.

"Sedikit lagi. Semoga Kurenai-sensei belum datang." Doa Naruto sela-sela berlari menyurusi lorong menuju tangga untuk mencapai lantai 3 dimana kelasnya berada. Baru berlari beberapa saat, suara berat dari arah belakang berhasil menghentikan langkah kaki remaja mungil itu.

"Terlambat lagi, Naruto."

DEG! Naruto membeku ditempat. Tidak salah lagi, suara itu adalah suara... "Ka-Kakashi se-sensei." Gagap Naruto begitu membalikan tubuh, sosok pria dewasa berambut perak bergaya mencuat keatas sedang tersenyum kearahnya.

"Yare-yare Naruto-kun. Belakangan ini, kau sering terlambat ya." Perlahan Kakashi berjalan mendekat kearah Naruto yang telah membeku ditempat. Guru itu! Itu si guru mesum yang ingin Naruto hindari setelah mendengar cerita dari sahabat bubble gum-nya?!

Naruto pun ikut mundur perlahan disaat Kakashi makin gencar mendekat kearahnya. "H-hehe, ti-dak. Si-siapa yang terlambat. A-Aku baru saja habis dari toilet Kakashi-sensei. Iya, toilet~." Cengiran lebar Naruto tampakkan, berusaha menghilangkan rasa gugup yang sedang menderanya.

"Benarkah?" Kakashi tampak menyeringai misterius. "Kelasmu ada dilantai 3 bukan? Apa toilet lantai 3 sedang rusak hingga repot-repot membuatmu pergi ke lantai satu hanya untuk buang air kecil? Aku rasa tidak. Dasi juga belum kau pakai," Kakashi menarik kecil kerah seragam Naruto dengan jemari tangan kiri. "Tas sekolah saja masih kau sandang. Masih mau menyangkal kalau kau tidak terlambat, Hn?"

"I-Itu... A-Ano-"

Kakashi menundukan kepalanya agar sejajar dengan tinggi badan Naruto. Ia pun menatap Naruto tajam dengan kedua bola mata beda warna miliknya. "Bisa kau ikut aku keruangan ku, Naruto? Sebab hari ini jadwal ku menjadi guru piket untuk mengurus murid-murid terlambat sepertimu."

.

.

.

Disebuah ruangan berukuran 5x5 meter terdapat dua orang manusia berbeda warna rambut saling berhadapan satu sama lain. Si rambut perak tampak sedang sibuk berkutat dengan kertas-kertas yang berserakan diatas mejanya, sedangkan si pirang hanya tertunduk dalam meratapi betapa sial sekali hidupnya hari ini bisa bertemu dengan guru bermarga Hatake yang terkenal dengan otak jenius, wajah rupawan, tapi sangat disayangkan pikirannya sangat luar biasa mesum.

"Jadi, kenapa kau bisa terlambat hari ini Naruto-kun?" Ucap Kakashi mengawali pembicaraan. Naruto tetap menundukkan kepala, kedua jari telunjuk saling bermain satu sama lain. Kakashi menautkan jari-jari kedua tangan, lalu disandarkannya siku tangan menyentuh meja dihadapan mereka, membuat jari-jari yang saling bertautan itu bisa menopang dagunya. "Kalau kau diam, aku anggap kau mau menerima hukuman atas keterlambatanmu hari ini. Kau pilih yang mana, Naruto? Membersihkan toilet, mencabut rumput halaman belakang sekolah, atau..." Jeda Kakashi sejenak. "Sepulang sekolah nanti, kau mau membantuku memeriksa ulangan murid kelas XII-C di apartemenku?"

"Ti-Tidak!" Teriak Naruto mengangkat kedua tangan dihadapan Kakashi, bermaksud menolak. "Ba-Baiklah, aku memang terlambat karna, ehem! Bangun kesiangan. Ja-di bisakah aku kembali ke kelasku, sensei?" Pinta Naruto setengah memelas. Kalau boleh jujur, Naruto lebih memilih dihukum Kurenai daripada dihukum oleh Kakashi. Sekali pun Kurenai menghukum Naruto berdiri didepan kelas dengan kedua tangan mencubit masing-masing telinga selama satu hari penuh dan menjadi bahan tertawaan teman-teman kelasnya, Naruto tidak akan keberatan.

Kakashi tersenyum samar. 'Benar-benar masih polos.' Inner Kakashi mendapat jawaban super polos dari Naruto mengenai keterlambatannya. Bangun kesiangan? Sungguh, sepanjang sejarah ia mengajar di Konoha High School hampir menginjak tahun ke 4, baru kali ini Kakashi bertemu dengan murid berbicara segamlang itu. Biasanya para murid akan mencari alasan yang lebih meyakinkan agar tidak terkena hukuman, paling tidak alasan tersebut bisa menutupi faktor sebenarnya agar tidak tercium dan tidak akan menambah masalah makin runyam tentunya. Tapi ini? Seorang remaja pirang memiliki wajah terbilang manis dari anak perempuan berbicara blak-blakan begini. Tidak tahukah dia bahwa kata-katanya itu bisa memancing amarah seseorang untuk menghukumnya tanpa ampun. Untung saja Kakashi bukan termaksud guru yang mudah naik darah, kalau guru yang lainnya sih bisa dipastikan nasip Naruto akan berakhir dengan membersihkan seluruh toilet sekolah. "Terlambat tetaplah terlambat, Naruto-kun." Kakashi berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan kearah Naruto, dan berakhir duduk diatas meja dengan kedua tangan memenjarakan Naruto yang sedang duduk diatas kursi. "Dan aku akan tetap memberikan hukuman untukmu."

'GLUP!' Naruto menelan saliva di kerongkongan dengan susah payah. Kenapa Kakashi harus duduk dengan posisi begini sih?! Ini sangat membuat Naruto risih, apalagi tatapan mata Kakashi yang sangat tajam serta sulit diartikan. Ughh! Benar-benar terasa tidak nyaman. "Se-Sensei," Naruto mendorong dada bidang Kakashi yang semakin mendekat kearahnya.

"Hn?" Gumam Kakashi tak jelas.

"Bi-Bisa menjauh sedikit? Aku-"

'BRAK!'

"KAKASHI!" Sosok pria berambut hitam jabrik dengan mata onyx kelam mendobrak pintu ruangan Kakashi. Pria itu tampak berkilat tajam menatap Kakashi yang berpose sungguh mengerikan dihadapan kedua matanya. Tubuh menunduk kebawah dengan kedua tangan menghadang Naruto. Heh! Siapapun yang melihat pasti bisa menebak kalau pria berambut perak itu seperti hendak mencium (baca: mencuri cium) pemuda berambut pirang itu.

Kakashi menegakkan tubuhnya menjauhi Naruto. "Yo~ Obito, ada masalah apa?" Tanya Kakashi innconent. Obito menyilangkan kedua tangan diatas dada. "Justru aku yang ingin bertanya, ada masalah apa sampai-sampai kau menyeret Naruto masuk keruanganmu?"

"Menyeret ya." Kakashi menggaruk surai peraknya yang tidak gatal. "Bagaimana ya, sepertinya kata menyeret itu tidak tepat kau tujukan padaku. Naruto datang terlambat, karna hari ini jadwal ku bertugas sebagai guru piket. Jadi, aku meminta dia datang keruanganku untuk mendiskusikan hukuman apa yang akan ia terima akibat keterlambatannya itu." Jelas Kakashi singkat.

Obito menatap Naruto sekilas, lalu kembali memandang Kakashi. "Baiklah. Naruto kau kembali ke kelas. Biar aku yang bertanggung jawab atas keterlambatan mu."

"Tidak bisa kawan. Hukuman tetaplah hukuman, itu sebagai konsekuensi atas perbuatannya sendiri. Kalau kau bertindak seperti ini, itu sama saja kau menyalahi aturan sekolah ini. Naruto akan semakin bertindak kekanak-kanakkan kau lindungi terus. Hukuman ini bertujuan untuk membuatnya lebih disiplin lagi dalam mengatur waktu supaya kedepannya ia tidak akan datang terlambat lagi." Sanggah Kakashi tak setuju dengan tindakan Obito.

"Aku tidak melindungi," balas Obito cepat. "Dia akan mengikuti ujian semester sebentar lagi, dan aku tidak mau waktu yang semestinya ia gunakan untuk mengikuti pelajaran kau ganggu dengan perintah membersihkan toilet. Hanya itu saja."

"Sudahku bilang itu konsekuensi atas keterlambatannya. Jika ia tidak ingin ketinggalan pelajaran, seharusnya dia datang lebih cepat." Kakashi berjalan kearah Obito sambil memasukan kedua tangan disaku celana. "Dan hukuman yang kuberikan hanya untuk memberikan efek jera saja. Tenanglah Obito, aku tidak akan memberi hukuman yang berlebihan. Karna aku tidak akan menyakiti murid kesukaanku." Bisik Kakashi pelan namun dapat terdengar jelas ditelinga Obito.

"Kau-"

"Permisi Kakashi-sensei, Obito-sensei." Ucap seseorang diambang pintu ruangan Kakashi. Kontan 3 penghuni didalam ruangan itu menoleh bersamaan kearah asal suara. "Maaf menggangu waktu anda, saya kesini hanya ingin memanggil Naruto. Dia sudah ditunggu wakil kepala sekolah diruangannya."

"Wakil kepala sekolah?" Obito menyerit tak yakin dengan ucapan pemuda berambut nanas itu. Mengerti arti tatapan Obito, pemuda bermata sebesar biji kuaci itu menatap kedua pria dewasa didepannya tajam. Seperti bertemu dengan musuh bebuyutan saja.

"Yaa, wakil kepala sekolah. Beliau ingin membahas pertandingan olahraga antara SMU se-Tokyo yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi." Nara muda itu menyenderkan lengan kirinya disisi pintu dengan tangan kiri ia masukkan kedalam saku celana. "Jika kira-kira tidak ada hal penting lagi yang ingin dibahas, bisa Naruto ikut denganku sensei? Sepertinya wakil kepala sekolah telah lama menunggu kedatangan kami."

Hening sejenak...

"Tentu saja Nara-kun." Ucap Kakashi seraya tersenyum. Naruto yang mendengar kata-kata Kakashi langsung beranjak berdiri dari kursi, kemudian berjalan kearah Shikamaru. "Umm, Naruto." Panggil Kakashi saat melihat Naruto hendak berjalan mengekori Shikamaru yang telah berjalan terlebih dahulu. Naruto menolehkan kepalanya kebelakang menatap Kakashi dan Obito. "Aku bebaskan kau kali ini, tapi bila kau terlambat lagi. Aku pastikan tidak akan ada lagi kesempatan seperti ini."

Naruto hanya melotot horor kearah Kakashi. Secepat kilat, Naruto langsung melesat berlari meninggalkan Kakashi dan Obito. Mengejar Shikamaru yang sudah cukup jauh dari tempatnya berada.

"Apa maksudmu tadi Kakashi baka!" Gerutu Obito menatap nyalang Kakashi. Kakashi menatap Obito sesaat lewat ekor mata, lalu berjalan kearah kursinya. "Hn, tidak apa-apa Obito."

"Hey, apa maksudmu dengan 'tidak apa-apa?!'" Balas Obito tidak terima dan kemudian terjadilah pertengkaran adu mulut yang lebih didominasi oleh Obito dengan Kakashi bergumam tak jelas merespon sahabat masa kecilnya itu.

Di koridor terlihat Shikamaru dan Naruto saling berjalan beriringan menuju kearah tangga. Satu tepukan dari tangan mungil berkulit tan mendarat mulus di bahu Shikamaru. "Hehe, terima kasih kawan kau sudah menyelamatkan ku hari ini. Fuh~, untung saja kau datang tepat waktu, kalau tidak aku benar-benar akan dihukum oleh guru mesum itu. Sepertinya dia benar-benar berniat sekali menghukumku tadi." Naruto mengusap peluh yang ada dikeningnya dengan punggung tangan.

"Aku sudah tahu akan terjadi hal ini, Naruto." Shikamaru memutar bola matanya bosan.

"Hehe, kau benar-benar teman yang pengertian." Cengiran lima jari terlihat jelas di bola mata Shikamaru. "Hey, kenapa kita malah naik tangga? Ruang wakil kepala sekolah ada dilantai bawah kan?" Seru Naruto menarik ujung seragam Shikamaru.

Shikamaru membalikan tubuhnya menghadap Naruto. "Kita tidak akan ke ruang wakil kepala sekolah." Jawab Shikamaru singkat dan memilih melanjutkan langkah kakinya.

"Bukannya tadi kau bilang wakil kepala sekolah menunggu kedatangan kita? Kenapa sekarang kita malah tidak kesana?"

Shikamaru menghela nafas lelah, benar-benar merepotkan sekali berbicara dengan manusia seperti Naruto ini. Lamban sekali mencerna situasi dan keadaan. Benar-benar! "Aku sudah menemui wakil kepala sekolah terlebih dahulu, karna kau datang terlambat, dan wakil kepala sekolah banyak urusan yang harus dikerjakan, jadi ia langsung membicarakan perihal pertandingan itu langsung denganku. Akan ku beritahu apa saja yang beliau katakan padaku tadi nanti dikelas."

Naruto hanya ber'oh saja mendengar perkataan Shikamaru. Tidak mengetahui maksud sebenarnya tindakan Shikamaru tadi. "Sore ini kau ada waktu?"

Naruto tampak berpikir sejenak, lalu ia pun menatap Shikamaru yang ada disebelahnya. "Tidak ada, memangnya kenapa?"

"Bagaimana kalau kita ke Dakaiyama? Salah satu toko elektronik disana sedang mengadakan promo, mungkin kita bisa membeli processor kosong untuk robotmu dan beberapa peralatan yang lainnya seperti kabel, lapisan logam untuk menanamkan ion-ion pada pin metal Processormu agar transistor-transistor pada robotmu nantinya saling terhubung. Bagaimana? Kau setuju?" Shikamaru menatap Naruto sekilas, ingin melihat raut wajah pemuda blonde itu. "Toko elektronik yang biasanya menjajakan alat-alat seperti itu rata-rata harganya cukup terbilang mahal. Kalau sedang diskon atau promo, kita bisa sedikit menghemat uang. Memang sih toko yang mengadakan promo umumnya tidak memiliki barang lengkap seperti toko lainnya. Aku rasa berkunjung tidak ada salahnya. Kalau barang yang kita cari tidak ada, kita bisa ke Shibuya. Lagi pula Dakaiyama dan Shibuya cukup dekat."

Naruto menganguk-anggukan kepala sembari melipat kedua tangan diatas dada. "Terserah kau saja, bagaimana baiknya, kalau aku sih oke saja. Habis aku tidak tahu menahu soal robot-robotan sih, hehe. Baiklah, sore ini kita ke Dakaiyama. Jam setengah empat. Bagaimana?"

"Setuju. Akan ku jemput kau setengah empat kalau begitu."

.

Bel pertanda pelajaran terakhir telah berbunyi. Siswa-siswi murid Kohona High School pun mulai membubarkan diri untuk pulang kerumah masing-masing, begitu juga dengan pemuda berkulit pucat dengan rambut merah bata yang sedang membereskan segala buku-buku pelajaran kedalam tasnya. Gaara yang baru keluar dari ruang kelas, menyerit heran melihat sosok familiar dikedua mata emerland-nya sedang berdiri sambil menyenderkan punggung didinding. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Neji?"

Pemuda berkulit putih dengan surai hitam panjang dikuncir satu pada ujung rambut, menolehkan kepala kearah Gaara. "Ohh, kau. Tidak. Aku hanya ingin bertemu dengan seseorang saja. Kau mau pulang?"

Gaara hanya mengganguk samar, "Kalau orang yang sedang kau tunggu itu adalah Naruto. Sangat disayangkan sekali, dia sudah pulang bersama dengan Shikamaru tadi."

Neji melipat kedua tangan diatas dada. Alis kirinya pun sedikit terangkat. "Shikamaru?" Gumamnya pelan seperti mengenali sosok yang dibicarakan oleh Gaara. "Ohh, pemenang olimpiade Sains, dan Matematika itu maksudmu. Ck, dasar!" Neji berdecak kesal, lalu menatap Gaara lagi. "Ngomong-ngomong, dari mana kau tahu aku sedang menunggu bocah pirang itu?"

"Insting. Kurasa," jawab Gaara sekenanya sambil mengangkat bahu.

"Aku tidak menyangka instingmu bisa setepat itu." Neji mulai berjalan mengikuti Gaara yang telah melangkahkan kaki terlebih dahulu. "Hmm. Mau ku antar pulang? Sekalian aku ingin kerumahmu menemui Kankuro. Bagaimana?"

Gaara berpikir sejenak, lalu ia pun menjawab. "Tidak masalah."

.


.

Naruto memasuki kamar serba orangenya dengan handuk biru yang melilit dipinggang. Ia pun berjalan perlahan kearah lemari pakaian yang ada disudut kamar. Sambil menyenandungkan beberapa bait lagu, kedua tangan mungil itu terus mengaduk isi lemari mencari pakaian yang cocok untuk pergi dengan sahabat rusa-nya ke Dakaiyama. T-shirt putih berlengan panjang dan celana jeans berwarna hitam menjadi pilihan sang Namikaze muda. Dilemparkannya kedua pakaian itu diatas tempat tidur, merasa keadaan kamar yang sunyi membuatnya merasa sedikit takut, terlebih saat Naruto pulang sekolah tadi ia mendengar bisik-bisik dari tetangga sekitar menyebutkan bahwa ada penampakan dikamarnya tadi malam. Ketakutan Naruto akan hal-hal berbau mistis semakin membuatnya paranoid sendiri. Tak ingin kamarnya sepi senyap bak dikuburan, ia pun berinistiatif menghilangkan kesunyian ini dengan memutar lagu rock kesukaannya lewat speaker mini.

"Dimana kabel dataku ya?" Naruto celingukan sendiri mencari kabel data ponsel I-phone 5 nya. "Ahh~, itu dia." Sebut Naruto saat melihat kabel data tergeletak diatas meja kecil tak jauh dari Notebook-nya berada. Naruto pun berjalan mendekati sisi meja, saking terburu-burunya mengambil kabel data itu, ia tidak menyadari kabel charger Notebook terjulur diatas karpet berbulu.

'Gubrak!'

"I-Ittai~." Keluh Naruto tersandung kabel charger yang mengakibatkan ia terjatuh dengan Notebook Acer 10" menimpa kepalanya. "Dasar! Siapa sih yang men'charge Notebook ku sembarangan begini!" Umpat pemuda tan itu sembari meletakan Notebook keatas meja.

"Dobe."

"Eh?!" Naruto melihat kekiri dan kekanan saat merasa pendengarannya menangkap suara ganjil. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa dikamarnya, Naruto pun kembali pada tujuan awal, yaitu memutar lagu kesukaannya. "Mungkin perasaanku saja." Gumam Naruto mengangkat bahunya singkat, diraihnya kabel data diatas meja, lalu ia pun berjalan ke arah meja belajar.

Sekilas mata seterang langit itu menatap rak buku yang terjejer rapi disudut kamar. Melihat benda bulat berwarna merah sebesar bola kasti berteger didepan deretan buku-buku yang tersusun rapi, Naruto pun segera berbalik arah menghampiri rak buku untuk mengambil benda tersebut. "Ini dia~." Seru Naruto girang sembari menjinjit kecil mencoba menggapai speaker mini yang terletak dirak paling atas. Karna rak buku dihadapannya cukup tinggi, Naruto yang bersusah payah ingin meraih speaker mini tak sengaja menyenggol miniatur patung kucing disebelah speaker mini itu.

'TUK!' Patung kucing sukses mengenai wajahnya yang sedang mendongkak keatas. "Aww!" Teriak Naruto sembari memijit pangkal hidung yang berdenyut hebat mencium patung karet itu. Tak hanya patung kucing saja, bola-bola kecil sebagai aksesoris di rak buku ikut jatuh berhamburan kearah kepalanya. "Aww, aww! Aduh! Ughh!" Naruto melindungi kepalanya dari bola-bola itu dengan kedua tangan.

"Benar-benar Dobe."

Lagi, Naruto lagi-lagi mendengar suara itu. Suara yang beberapa saat lalu ia dengar. Tidak seperti sebelumnya, suara tersebut kini terdengar lebih jelas dengan volume yang tidak bisa dikatagorikan pelan, sangat keras malah. Jadi tidak mungkin rasanya Naruto menganggap suara itu hanya halusinasi atau salah dengar saja. Naruto yakin, sangat yakin kalau saat ini ada 'orang' lain sedang bersama dirinya dikamar ini. "Siapa?" Sebut Naruto dengan lantang dan tegas, walaupun kelihatannya Naruto sangat pemberani dan tak kenal takut, tapi sebenarnya saat ini jantung Naruto sudah berdebar tak karuan. Takut kalau sosok yang sedang satu kamar dengannya kini adalah seorang penjahat yang ingin merampok rumahnya. Seberani-beraninya Naruto, kalau sudah berhadapan dengan pencuri membawa berbagai macam senjata tajam, tentu siapa pun akan takut. Naruto itu bukan seorang pahlawan yang bisa menghabisi penjahat dengan menggunakan Rasengan ataupun Kage bunshin seperti di anime kesukaannya. Ia hanya seorang pemuda berusia 15 tahun yang nilai pengalaman berkelahi pun tidak ada.

"Kau benar-benar Dobe," kepala robot yang semula tertunduk dalam diatas meja kecil samping tempat tidur, tiba-tiba tegak dengan sendirinya sambil memancarkan cahaya kemerahan dari mata bulat berbentuk seperti biji kelereng. "Naruto Uzumaki..."

"GYAAAAA~!" Teriak Naruto histeris mendapati robot yang seharusnya rusak (kata Shikamaru) itu dapat berbicara. Malah menyebutkan nama lengkap Naruto secara detail seperti itu, membuat pemuda berkulit tan bertambah shock berat.

"Naruto, jangan teriak-teriak di dalam kamar!" Bentak Kushina dari luar kamar. Namun bukannya berhenti, Naruto semakin kencang berteriak seperti orang kesetanan. Si robot hanya menatap Naruto dalam diam, membiarkan pemuda bersurai pirang itu terus berteriak. Nanti juga dia akan diam sendiri, begitulah pikir si robot.

"Kenapa kau teriak Naruto?" Sosok laki-laki berambut nanas dengan T-shirt putih dilapisi kemeja kotak-kotak berwarna hitam dan jeans biru gelap diambang pintu kamar, menyerit heran melihat Naruto terus berteriak bak orang gila.

Naruto bernafas lega saat melihat Shikamaru ada didekatnya. "GYAAA! Shika!" Naruto berlari kecil kearah Shikamaru, lalu bersembunyi dibalik punggung tegap itu. "H-Hantu... Ro-bot itu, a-ada hantunya." Tunjuk Naruto pada robot berkepala bulat diatas meja kecil samping tempat tidur.

"Hantu?" Ulang Shikamaru dengan alis terangkat, kurang yakin atas kata-kata Naruto. Naruto mengangguk cepat merespon pertanyaan pemuda Nara itu. Shikamaru memutar bola matanya bosan. Hantu? Di abad 21 yang telah maju begini, Naruto masih percaya dengan yang namanya, hantu? Ohh, ayolah. Jaman modern seperti ini mana ada hantu. Itu hanya tahayul, sesuatu hal konyol yang terus ditanamkan oleh orang tua jaman dahulu untuk menakut-nakuti anak-anak mereka agar tidak berbuat nakal. Naruto itu telah beranjak dewasa, masa hal-hal seperti ini masih ia takutkan. "Dengar Naruto, hantu itu tidak ada. Kau mengerti?"

"Ada Shika! Ro-Robot itu, robot itu hantunya?! Aku dengar sendiri robot itu bisa bicara. Malah, malah dia mengatai ku Dobe sambil memanggil nama lengkapku! Kau sendirikan yang bilang kalau robot pemberian Obito-sensei sudah rusak sejak awal sebelum beredar dipasaran. Nah, kalau dia bisa berbicara sendiri tanpa diperbaiki terlebih dahulu, itu artinya robot ini dirasuki hantu Shika." Jelas Naruto panjang lebar.

Shikamaru memijat-mijat pelipisnya, "Mungkin itu hanya perasaan mu saja, Naruto. Kau salah dengar." Shikamaru membalikan tubuhnya agar bisa menatap Naruto. "Kau terlalu terbawa pikiran menginginkan robot ini bisa berfungsi, hingga tanpa sadar saat melihatnya, kau jadi sedikit berhalusinasi oleh pikiran mu yang terus bersugesti ingin robot itu segera berfungsi. Dia tidak bisa bicara, Naruto. Alam bawah sadarmu lah yang membuat robot ini seolah-olah sedang berbicara padamu."

Natuto merenggut kesal, tidak suka dengan apa yang Shikamaru katakan padanya. "Aku tidak sedang berhalusinasi, Shika! Robot itu tadi memang berbicara denganku kok!"

"Baik. Akan ku buktikan padamu, kalau robot ini tidak bisa berbicara, tidak sedang dirasuki atau apalah namanya itu." Putus Shikamaru sembari melangkahkan kaki mendekat kearah robot. Naruto mendekap Shikamaru dari belakang dengan tangan kiri melingkar diperut Shikamaru dan tangan satunya menarik punggung kemeja. "J-Jangan Shika! Nanti kau kerasukan kalau memegang robot aneh itu!"

Shikamaru menghela nafas lelah, melihat pemuda mungil itu tanpa pertahanan sama sekali. Masih mengenakan handuk melilit dipinggang, memeluknya dengan erat seperti ini, apa si bodoh ini tidak memikirkan dampak negatif dari tindakannya sekarang? Shikamaru akui, ia memang menyukai pemuda bermata blue sapphier itu seperti yang dibicarakan teman-temannya saat berkunjung kerumah Naruto untuk memperbaiki robot pemberian Obito-sensei. Malah sudah sejak lama ia memendam perasaan itu. Masalahnya, Naruto adalah orang yang sangat tidak peka akan kondisi dan situasi, terlihat dari semua perhatian yang Shikamaru berikan padanya tak mendapat respon berarti. Jujur, Shikamaru itu orang yang sangat malas dalam melakukan segala sesuatu hal berbau rumit-rumit seperti ini, tapi demi Naruto ia rela datang jauh-jauh hanya untuk mengajak bocah pirang itu pergi ke Dakaiyama membeli PC kosong. Segala pengorbanan yang telah dilakukan dengan susah payah, tidak mendapat respon yang diharapkan, tentu akan membuat siapa pun akan sedikit sakit hati dan kecewa. Bila telah dilanda oleh kedua perasaan itu, sebagai pelampiasan tidak bisa mendapatkan hati orang yang kita sukai, tindakan diluar batas akan terjadi. Seperti yang dialami oleh Shikamaru saat ini, bila disungguhi pemandangan yang menggiurkan oleh sang pujaan hati, tentu ia akan kehilangan kendali hingga menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.

"Aku tidak akan kerasukan, Naruto. Hantu itu tidak ada, harus berapa kali aku bilang padamu agar kau mengerti." Shikamaru melepaskan tangan kiri Naruto diperutnya. Lalu berjalan kearah meja kecil samping tempat tidur dimana robot kepala bulat itu berada. "Lihat, aku tidak kerasukan, kan? Robot ini juga tidak berbicara seperti yang kau bilang tadi." Shikamaru mengancungkan robot ditangannya pada Naruto.

"Emm... Tapi-"

Shikamaru menghampiri meja kecil terlapisi karpet berbulu, meletakan robot kecil itu tepat diatas meja, lalu ia mendudukan diri diatas karpet berbulu sambil menyilangkan kedua kaki. "Sudahlah Naruto. Mungkin kau salah dengar. Robot ini masih rusak, tidak mungkin bisa berbicara. Lagipula kalau pun berfungsi, robot murahan seperti ini tidak memiliki program khusus sistem komunikasi layaknya sensor suara. Jadi mustahil rasanya robot ini bisa berbicara. Kalau pun benar robot ini bisa bicara, paling itu hanya sebuah rekaman kecil berisi sejumlah kata-kata tertentu yang akan terus diulangi pengucapannya saat dinyalakan."

Naruto menekan dagunya selama beberapa saat, mencerna apa yang dikatakan Shikamaru ada benarnya. "Be-Benar juga, mungkin hanya perasaanku saja." Ia pun ikut duduk disebelah Shikamaru sembari memperhatikan dengan seksama robot itu. Shikamaru menatap Naruto dalam diam, tak lama ia pun buka suara. "Naruto..."

"Eh?! Apa?"

Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Cepat ganti pakaian mu. Sekarang sudah hampir jam 4. Kau tahu sendirikan toko yang mengadakan promo akan cepat tutup karna diserbu pembeli. Jika kau lama seperti ini, bisa-bisa kita tidak akan mendapatkan apa-apa."

Naruto melirik jam rubah yang ada didinding kamar. Tepukan kecil dari telapak tangan kanan mendarat mulus dijidatnya. "Oh iya! Tunggu sebentar Shika, aku tidak akan lama." Naruto mengambil stelan baju diatas tempat tidur yang sebelumnya ia lempar, lalu berlari keluar kamar.

"Ha~h, mendokusei."

.

.

.

Dakaiyama, 17.30

Naruto berdecak kagum dengan kepadatan orang-orang yang berlalu disekitar jalan pinggiran etalase toko-toko. Berbagai pernak-pernik, toko kue, toko baju, jajanan-jajanan kecil Naruto jumpai disela-sela melangkahkan kaki menuju toko elektronik yang menjadi tujuan keberangkatannya dan juga Shikamaru. Memang sih Dakaiyama tidak bisa disamakan dengan Shibuya, sebab Shibuya adalah surganya para Shopaholic sedangkan Dakaiyama tempatnya anak-anak muda untuk jalan-jalan atau sekedar hunting bersama teman-teman. Dakaiyama terkenal sebagai tempat wisata kuliner, terlihat disepanjang jalan terdapat restoran, cafe-cafe, dan toko-toko makanan baik itu toko roti ataupun toko kue.

"Shika, kita kesana!" Tunjuk Naruto pada salah satu kedai ramen tak jauh dari tempat mereka berada. Mata Shikamaru mengikuti arah telunjuk Naruto, lalu ia menghela nafas lelah. "Kita kesana setelah membeli perlengkapan untuk Processor robot mu."

"Benarkah? Apa itu benar Shika? Ku pegang kata-katamu ya. Awas kalau kau berbohong." Naruto langsung menyeret lengan Shikamaru agar berjalan secepat mungkin. "Kalau begitu, ayo cepat kita pergi ketoko elektronik itu. Lalu setelahnya kita pergi ke kedai ramen~"

"Ck! Mendokusei." Gumam Shikamaru pasrah diseret oleh Naruto.

Naruto dan Shikamaru sampai disalah satu toko elektronik yang telah ramai dikunjungi banyak orang. Seperti kata pemuda Nara itu bilang, toko elektronik yang mengadakan promo cenderung tidak memiliki kelengkapan pada barang yang ia jual. Hal itu berlaku untuk toko elektronik lainnya sekalipun tidak mengadakan promo. Namun sepertinya perkiraan Shikamaru telah meleset, sebab tak hanya alat-alat merakit robot dijajakan oleh toko itu, bahkan PC-PC canggih seperti intel dan Amd yang tidak mudah didapatkan, mikrokontroler standar yang umum beredar seperti AVR, Basic Stamp, dan Basic Atom dengan kemampuan luar biasa, aktuator robot humanoid seperti servo, motor DC, stepper, pneumatic, dan Iainnya lengkap ditoko ini. Tak hanya itu, berbagai macam robot Humanoid seperti ASIMO diproduksi oleh Honda dan robot medis, serta robot Animonoid seperti AIBO (robot anjing) di produksi oleh Sony, robot kucing, robot ceetach, robot tikus, belalang, dan lain-lainya berjejer rapi distan-stan khusus ditengah-tengah ruang toko. Shikamaru mengerutkan alisnya dalam. Toko sederhana seperti ini bisa menjual perlengkapan robot super lengkap melebihi toko resmi yang ada di Shibuya? Heh! Patut dicurigai barang-barang yang ada ditoko ini. Biasanya barang-barang lengkap seperti ini sangat tidak mudah dijumpai, sebab perusahaan yang memproduksi barang seperti ini lebih sering menjual pada dealer-dealer resmi mereka, dan tentu harganya sangat selangit, stoknya pun terbatas. Kalau pun ada toko yang menjual perlengkapan robot yang susah didapatkan dengan stok banyak dan harga murah, umumnya barang yang mereka jual itu imitasi, atau palsu. Tapi setelah memeriksa benda tersebut satu persatu, mustahil rasanya semua barang ini adalah palsu sebab segel pada barang masih bagus, tidak cacat atau rusak sama sekali. 'Ada apa dengan toko ini?' Batin Shikamaru meneliti benda-benda dihadapannya intens.

"...ka, Shika? Hey Shika?!" Panggil Naruto menarik ujung kemeja pemuda lebih tinggi darinya itu.

"Eh?! Ada apa Naruto?" Tanya Shikamaru setelah sadar dari lamunan panjangnya. Naruto mengembungkan pipinya sembari menyilangkan kedua tangan didada. "Cepat pilih barang-barang yang ingin kau beli untuk perlengkapan robotku. Kau kenapa? Dari tadi kulihat, kau hanya diam saja."

Shikamaru menggaruk tengkuknya pelan. "Tidak ada apa-apa." Ia pun berjalan kearah rak-rak kecil berisi berbagai komponen elektronik. Dengan gesit jemari lentik terbalut kulit putih itu memilih berbagai alat-alat perlengkapan robot Naruto mulai dari kabel, logam metal, alat pelebur, Card Readres khusus PC, beberapa lembar silikon, wafer (*bukan makanan, tapi lempengan tipis berwarna hitam dengan bentuk bergelombang pada pembuatan PC atau Processor), dan beberapa kawat-kawat tembaga untuk menghubungkan aliran listrik nantinya pada PC.

"Aneh sekali." Gumam Naruto sembari menatap isi dalam tas sandang warna hitam dipunggungnya. Shikamaru melirik Naruto sekilas lewat ekor mata. Lalu kembali memilih berbagai komponen rak-rak dihadapannya, menelitinya sesaat, dan terakhir memasukan berbagai komponen itu kedalam keranjang belanja. "Kenapa dia bisa ada disini ya?" Naruto menekan dagu seperti sedang berpikir. "Perasaan aku tidak membawa ini tadi."

"Apanya yang aneh?"

Naruto menoleh kearah Shikamaru, lalu menyodorkan isi tas pada pemuda itu. "Aneh sekali, padahal aku tadi tidak membawa dia. Kenapa bisa ada didalam tas ku ya?" Shikamaru mencondongkan kepala kearah tas yang telah dibuka lebar oleh Naruto. "Kau bawa robot?" Tanya Shikamaru singkat.

Gelengan kepala terpampang jelas di mata sebesar biji kuaci itu. Naruto kembali mengancingkan resleting tasnya setelah mengambil dompet kecil dari dalam tas itu. "Aku tidak membawanya. Seingat ku, aku sudah meletakkan robot ini di atas rak buku. Kok bisa terbawa sih."

"Hn, mungkin kau tidak ingat saat membawanya." Shikamaru berjalan kearah kasir setelah benda yang akan ia beli telah dirasa cukup. Saat sampai dikasir, pemuda itu pun bertanya tentang satu lagi benda yang akan ia beli. "Apakah toko kalian menjual PC kosong?"

"PC kosong?" Ulang si penjaga kasir.

"Iya, PC kosong. PC berjenis IC LM339, ada?" Tanya Shikamaru lagi, si penjaga kasir tampak berpikir sejenak. Lalu ia pun mengambil telfon dimeja kasir sebelah kiri, berbicara selama beberapa saat, dan akhirnya buka suara, "PC IC LM339 saat ini barangnya sedang kosong, banyak diburu pembeli. Kalau untuk PC kosong berjenis IC LM339 katamu itu, sepertinya tidak ada. Ohh iya, Intel® Core™ i7 Processor produk terbaru itu ada loh ditoko kami, lebih bagus daripada PC IC LM339, tak perlu menambahkan data-data lagi karna Processor i7 lebih lengkap dan sempurna dari PC yang lain. Juga mudah dioperasikan untuk para pemula sekali pun yang baru mengenal dunia robot, apa kau mau? Bisa dicicil loh untuk pembayarannya."

"Heh! PC i7 saja ada ditoko kalian, kenapa IC LM339 kosong saja tidak ada. Benar-benar merepotkan." Ucap Shikamaru sarkastis, si penjaga kasir merenggut kesal atas perkataan Shikamaru. "Apa PC kosong yang lainnya juga tidak ada? Terserah jenisnya apa, yang penting berbentuk diagonal seperti IC LM339." Penjaga kasir menggeleng kepala cepat, menegaskan bahwa benda yang Shikamaru cari tidak ada di toko ini.

Shikamaru berdecak kesal. "Apa Mikrokontroler PIC 16F877A ada ditoko ini? Jangan bilang mikrokontroler seperti itu juga tidak ada atau sudah habis diburu pembeli."

"Tentu saja ada anak muda!" Ucap kasir itu ketus. "Kau ingin jenis apa? PIC 16F877A ada banyak sekali. 8kB code, 368B data, 256B EPROM, Ports A-E, 2xACMP, 2xCCP, PSP, 3xTimers, MSSP, USART, dan 8x10bit ADC."

"8x10bit ADC." Kata Shikamaru singkat. Kasir itu hendak berjalan kearah belakang menuju sebuah pintu. "Tunggu." Si kasir berhenti sejenak mendengar suara Shikamaru. "3 buah sensor ultrasonik ping parallax, 2 buah infrared Sharp GP2D12, sensor proximity, phototransistor, dan Uvtron Hamamatsu." Setelah mengerutu tak jelas, penjaga kasir itu menghilang dibalik pintu, dan kembali membawa benda yang diinginkan oleh Shikamaru.

"Ada lagi?"

"Tidak, terima kasih." Jawab Shikamaru singkat, ia pun menolehkan kepala kearah samping kiri tak ingin melihat wajah mengerikan dari petugas kasir yang sedang memasukan barang-barang mereka beli kedalam tas kertas.

"Shika," Naruto menarik ujung kemeja Shikamaru. Membuat pemuda itu menolehkan kepala kearah pemuda mungil disebelahnya. "Kenapa kau malah membeli mikro, mikro apa lah itu. Bukan PC yang kau sebutkan kemarin? Kalaupun tidak ada, kita bisa ke Shibuya membeli PC kosong itu. Memangnya robot ini bisa berfungsi jika tidak ada PC-nya? Kau sendirikan yang bilang PC itu adalah otaknya robot."

"Dengar Naruto, toko elektronik yang menjual alat-alat langka seperti ini saja tidak menjual PC kosong. Apalagi toko elektronik yang ada di Shibuya. Lagipula PC kosong memang susah dicari, sebab dari perusahaan pembuatannya sendiri jarang membuat PC kosong kecuali bila dipesan secara khusus. Memesan pada ahli pembuatan PC yang bukan berasal dari perusahaan pembuatannya juga bisa, atau membuat Processor sendiri juga bisa kalau memang mengetahui cara pembuatan Processor itu sendiri untuk membuat robot yang kita inginkan." Shikamaru menghirup nafas sejenak, lalu melanjutkan kembali. "Tapi membuat Processor itu sangat rumit, terlebih komponen-komponen pembuatannya yang sulit dan mahal. Lagipula tanpa Processor IC LM339, robot mu bisa berfungsi tetapi tidak secara otomatis, melainkan manual karna menggunakan Mikrokontroler PIC 16F877A yang diprogram menggunakan Proton+ dengan bahasa Basic. Mikrokontroler ini dilengkapi dengan dua PIC 16F877A. Dimana pada PIC pertama digunakan untuk memproses semua input dan menghasilkan output. Input yang dihasilkan berasal dari PIC kedua, Infrared Proximity, Limit Switch, dan DIP Switch. Sedangkan output yang dihasilkan adalah gerakan motor servo sebagai kaki-kaki dari robot dan motor DC sebagai motor agar tangan pada robot dapat bergerak juga."

Shikamaru mengambil kertas belanja yang telah dikemas oleh si petugas kasir. "Sedangkan pada PIC kedua digunakan untuk memproses input-an yang berasal dari sensor Ultrasonik, sensor UVtron, dan sensor Infrared Sharp GP2D12. Output dari PIC kedua ini akan menjadi input-an untuk PIC pertama. Nah, sebagai pengganti perilaku IC LM339 yang hanya menghasilkan logika 0 dan Z mengkonversi perintah data ke dalam bentuk digital dari pin-pin metal yang berfungsi sebagai kontak antara microchip dengan komponen mekanik dan elektronik, aku gunakan 3 buah sensor ultrasonik ping parallax, 2 buah infrared Sharp GP2D12, sensor proximity, phototransistor, dan Uvtron Hamamatsu."

Naruto menggaruk kepalanya seperti tidak mengerti. "Emm~. A-Aku tidak terlalu paham. Ya sudahlah, yang penting robotku bisa segera berfungsi, hehehe." Telapak tangan kiri dan kanan Naruto saling bergesekan satu sama lain seperti sedang menunggu hidangan lezat.

Shikamaru berdecak lidah melihat tingkah Naruto, lalu ia pun meraih dompet yang ada disaku belakang celana. "Berapa?" Tanya Shikamaru pada petugas kasir. Melihat Naruto bersiap-siap mengeluarkan uang dari dompet ditangan kanannya, Shikamaru pun menutup dompet ditangan Naruto dengan tangan kirinya. "Biar aku yang bayar."

"Tapi-"

"5.125 yen." Ucap si petugas kasir, tanpa buang-buang waktu, Shikamaru meletakan uang sepuluh ribu yen di meja kasir. "Tunggu sebentar." Petugas kasir menyiapkan uang kembalian Shikamaru dari brankas mesin kasir.

"Shika!" Naruto mengembungkan pipi tak suka sembari mengerutkan bibir.

"Aku yang mengajakmu, artinya aku juga yang mentraktirmu."

Naruto melipat kedua tangan dengan pipi terus dikembungkan. "Akan ku ganti nanti uangmu. Oh ya Shika, aku ingin melihat robot disana dulu ya?"

"Tidak usah diganti. Ya, pergilah." Setelah mendapat persetujuan Shika, Naruto pun bergegas meninggalkan Shika yang masih menunggu uang kembalian pergi menuju kestan robot ditengah-tengah toko. "UWAHH~~" Decak Naruto kagum melihat kegagahan robot-robot itu. "Andai saja aku punya robot seperti ini~."

'KRAK!'

'Eh?! Bunyi apa itu?' Batin Naruto mendengar bunyi aneh dari sekumpulan robot yang ada dihadapannya. Mata sejernih biru langit itu meneliti para robot dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu beralih ke stan yang terdiri dari besi-besi sebesar batang pepaya untuk menyangga robot. "Mungkin hanya perasaanku saja." Gumam Naruto hendak berbalik menyusul Shikamaru.

'KRAK-KRAK-KRAK!'

"Eh?!" Naruto berbalik lagi menghadap ke belakang. Lagi, Naruto mendengar bunyi aneh itu dari arah robot-robot yang ada dibelakangnya. Mata Naruto memicing tajam, namun setelahnya ia mengangkat bahu sesaat seperti tidak perduli dengan bunyi-bunyian aneh itu. 'Mungkin stan robot itu sudah berkarat jadi mengeluarkan bunyi aneh begitu.' Sebelum berbalik lagi kearah depan, Shikamaru telah memanggil Naruto terlebih dahulu. "Naruto, ayo!"

"Iya, tunggu sebentar." Naruto memacu kedua langkah kaki, berjalan perlahan menuju kearah Shikamaru. Shikamaru yang semula melihat kearah depan pintu keluar toko elektronik, terbelalak kaget saat memutar kepalanya untuk melihat Naruto yang ada dibelakang.

"NARUTO AWAS!" Teriak Shikamaru sembaru berlari kearah Naruto.

'JITT!'

'TREEEK~!'

'KRAKKK~! KRAKKK~! KRAKKK~!'

"Eh?" Naruto mendongkakkan kepala kearah belakang saat pendengarannya menangkap bunyi aneh yang ia dengar beberapa saat lalu. Seketika iris blue sapphier itu membulat sempurna melihat sosok yang ada dibelakangnya...

'DUM!'

.

.

To-be-continue...


.

..

Hallo Minna ^-^V

Kembali lagi dengan dhiya-chan disini, disana, dan dimana-mana, huehehe. /PLAK!/. Umm~, fic ini sepi banget y peminatnya, hiks-hiks (TT^TT). Apa ceritanya jelek en ga nyambung abis y? Atau terlalu norak? Atau terlalu gaje? Atau, atau.. BLETAKK! (Di gebukin readres rame-rame kebanyakan cincong).

Oke! Tidak perlu banyak bacot, dhiya mau bales review dolo~~

nayuya (Guest): hehe, ini udah lanjut. Hah? Sasu jadi penjahat? Hahaha, a~ano kyaknya ga bisa deh, coz because di anime Sasu udeh jahat tuh y, kalo disini jahat kaga polin in lop ntar ama si Naru. Kasian dia image-nya udeh jelek, kalo ditambahin jelek ntar gantung diri lagi dia nyusul si Itachi, hehe /PLAK!/. Review lagee yee~ ^_^

Ciel-Kky30: hehe, arigatou ciel-san udah ripiu fic gaje ini. Hehe, iya Naru banyak yang suka tuh. Dia jadi primadona gitu deh dikalangan para seme. KYAAA~ kawaii nee~ (treak ala FG). Gaara? Hehe, ditunggu aje dah si Gaara suka apa ga ama si Naru. Jujur, dhiya pun binggung mau bikin dia suka ama ga nya (lha?). Hehe, ripiu agy y~

kkhukhukhukhudattebayo: ga hebat kok khu-san. Hehe, dhiya banyak nyontek di tante google tuh komponen-nya. Arigatou y udeh mampir di fic abal ini (bungkuk-bungkuk). Shika ga pacaran ama Naru kok, cuma CiDaHa aje (Cinte Dalem Hati maksudnya), wkwkwk /PLAK!/. Sasuke? Fufufu~ (pake kacamata hitam sambil pegang kipas), udah tau belom tu orang beriman(?) jadi apa? Hehe, yosh! Ini udah update. Repiu agy y~ ^-^V

FBSN: hehe, Konichiwa Lillya! XD. (Abis dhiya ol-nya siang sih bukan malem, hehe ^-^?). Wahh, arigatou Lillya-san udah mau baca fic abal ini, hueee~ *nangis bombay*. Sungguh dhiya terharu sekali ada senior yang sudah berpengalaman seperti Lillya-san, mau review fic gaje bin parah, ga nyambung, en ancur-ancuran ini. Oke-oke! #hormat ama Lillya#. Dhiya akan perbaiki segala kekurangan di fic ini, hehe. Maklum, masih belajar, mohon bimbingannya y (bungkuk-bungkuk). Dan mohon bersabar dalam masa pembimbingan, dhiya masih melakukan kesalahan itu-itu terus (abis dobe-nya sama kayak Naru sih *di Rasengan Naru*). Ohh, onyx itu ga perlu pake hruf besar toh awalnya, cukup di italic aja y? Sipp-sipp. Hehe, iya si Suke jadi robot disini. Yosh! Ini udah update, arigatou Lillya-san atas ripiunya. Ditunggu kedatangan Lillya-san, hehe ^-^

Earl Louisia vi Duivel: Arigatou Earl-san atas reviewnya ^-^. Pusing? Sama dhiya juga pusing, /BUGGH!/. Ga jurusan kok, malah dhiya ga kenal tuh ama komponen-komponen. Cuma pas browsing di google tentang robot dan macam-macam PC untuk fic ini, dhiya ngerti dikit. Dan, eng-ing-eng~. Jadilah fanfic ini walaupun rada-rada maksa jalan ceritanya, hehe. Iya, ini udah lanjut. Review agy y ^-^V.

arriedonghae: hehe, iya ini udah lanjut. Arigatou arrie atas reviewnya. Sasuke? Ini udah tau belum Suke jadi apa? #PLAK! Ditabok arrie# (Arrie: Orang nanya, malah balik nanya!). Bentuk fisik Sasu disini untuk sementara robot pemberian si Obito, kedepannya... Rahasia, wkwkw (dihajar arrie sekeluarga). Review agy y~ ^^

PoeCien: hahaha, sama. Dobe-nya Naru menulari dhiya juga (dicekek Naru). Hehe, review lagi y ^^

Gunchan CacuNalu Polepel: hihi, Gun-chan setia kwan nee~. Muncul lagi di fic-nya dhiya. Hehe, tangkyu ye Gun-chan #meluk, ditendang Gun-chan#. Hehe, SAMA! Dhiya juga suka banget Naru direbutin ama semua Seme, KYAAAAA~! (Treak ala FC overdosis). Ho'o, mereka semua suka ama Naru, hehe. Kiba n Gaara? Maunya suka juga ama ga nih? Wkwkw, /PLAK!/. Aa' Suke udah mau nonggol nih, tapi seperti fic yang lainnya, si Suke harus muncul dengan penampilan cetar terkena badai dimana gitu, gkgkgk. Iya, ini udah lanjut. Review lagi y ^^

MJ (Guest): hayy~ juga MJ. Arigatou yaa udah mampir di fic gaje ini. Hehe, iya Shika suka ama Naru. Ini udah lanjut kok, ^-^. Review agy y..

devilluke ryu shin: hehe, iya arigatou y udah review fic aneh ini. Ini dhiya manggilnya apa nih? (Takut salah manggil nantinya, wkwkw). Fic ini juga banyak nyontek di google kok komponen robot nya, hehe. Maklum dhiya nih buta bgt ama yang namanya komponen robot, bukan bidangnya sih ^-^?. Review lagee y..

devilojoshi: hihi, ga kok dhiya bukan ahlinya robot. Cuma browsing aja di internet tentang komponen robot itu, terus dicocok-cocokin deh ama robot versi dhiya di I Robot ini, hehe. Iya, cius Shika suka ama Naru. Ho'o, Obito juga. Wkwkwk, klo Gaara masih tanda tanya nih mau di bikin suka ama ga nya, hehe. Sasu? Sabar ye neng, bentar lagi si aa' Suke muncul kok. Hehe, review lagi y ^^.

kimura shiba: nee Kimura-san, kayanya dhiya yang salah deh nama si oom terminator itu, wkwkwk. Bener kata kimura-san yang bener Arnold bukan Arlond, wkwkw. Tapi salah-salah dikit ga papa lah, huahahah (disantet Schwarzenegger sekeluarga). Yosh! Sasu jadi robot disini, hehe. Oke ripiu agy y kimura-san ^^.

AnakYunJae (Guest): L-Lemon? Entar dulu ye, dhiya mau cek stok dulu ada apa ga nya tuh lemon di kulkas dhiya, #BLETAKK# (bukan lemon itu woy!). Hehe, Shika emng DeBes kok dari ono'nya, wkwkw. ShikaKiba? Entar yaa, dhiya liat situasi dulu, wkwk. *plak! Banyak tawa mulu ni author stres*. GaNeji? Waduh, dhiya ga tau tuh bisa ga nya dhiya bikin Gaara-chan jadi seme. Abis Ga-chan imut-imut gimana getoh, sama kyk Naru-chan kuuu~ #dichidori Sasu#. Yosh! Ini udeh Ganbatte nih. Hehe, review agy yaa~.

Couphie: haha, Couphie-san jurusan yaa? Ada belajar komponen robot disekolah? Yupp! Seribu buat Couphie~! (Ngacungin 10(?) jempol). Begitulah kira-kira Couphie garis besar ch 1, tapi disini dhiya pake SD card, bukan micro sd. Micro sd itu memory untuk hp, kalo SD card itu untuk camera., begetoh. Wkwkkw, oke! Ini udah update, review lagi yaa~, ^^.

Shimizu Yumi (Guest): hehe, ga pinter kok. Dhiya nyontek loh komponen tuu robot di google. Dhiya tuh buta bgt loh ama yang namanya robot, wkwkwk. Iya, disini Naru banyak yang suka. Ho'o Shika suka ama Naru. Abis dhiya rada-rada suka nih ama pair ShikaNaru, xixixi. Sasuke jadi robot lah yang pasti Yumi. Hehe, dhiya pengen buat tuu Sasu ngelindung Naru-dobe seumur hidup, ga benci-bencian kyk di anime. Arggh! Kesel sendiri klo inget anime Naruto yang sekarang! Huh! Hehe, review lagi y Yumi-san, ^^.

kinana: arigatou kinana-san udah mampir di fic abal ini. Iya, udah update nih. hehe, mampir lagi y.. ^^

kitten-kitty (Guest): gomen kitty, bikin ribet pikiran mu, hehe. Hah? Komponen chocolate-cake? Ahh~, jadi laper nih baca repiu kitty, wkwk. Bagus? Bener nih bagus? Dhiya udah down loh, abis kalo dibaca-baca abal bgt, hehe. Alhamdulilah y suswanto upss! Maksudnya sesuatu, wkwk. Iya-iya, Klo ditahan-tahan jadi puyeng sendiri juga nih, hehe. Oke, review lagi yaa ^^.

Ar: oke? Apa artinya yaa? *cengo*.

Kira Hanazawa: hehe, ini udah agak terjawab belom kenapa mata robotnya merah? Hehe, iyes! Naru emang uke idaman. Review agy yaa.

akhir kata, Review please (maksa bener perasaaan). hehehe ^_^