Yesung menatap dengan serius jalanan yang ada di depannya. Jemarinya yang memegang roda kemudi meremasnya beberapa kali. Sementara namja manis yang duduk di kursi penumpang di sampingnya hanya terus terdiam seraya memperhatikan ke arah jemarinya yang meremas satu sama lain.
Yesung menghela napas lelah. Semuanya bubar. Pemotretannya ditunda lagi. Karena Ryeowook mendadak pingsan dan menghebohkan semua orang. Baru setengah jalan, baru sampai pose mencium kening, belum sampai pose mencium bibir sambil menggendong pengantin yeoja.
Yesung sangat kecewa, bukan karena dirinya gagal mencium bibir sang yeoja, akan tetapi karena ditundanya pemotretan itu, akan menambah agenda pekerjaannya. Melelahkan.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kesehatanmu belum pulih? Seharusnya kau mengatakan padaku kalau kau masih sakit."
Ryeowook menggeleng pelan. "Ini peringatan pertamanya." ucapnya dengan nada datar.
"Apa maksudmu?" Yesung melirik Ryeowook lewat ekor matanya.
"Ini hukuman yang diberikan ummaku. Beginilah hukumanya."
"Aku masih belum mengerti."
Ryeowook menghela napas berat lalu menatap Yesung lekat. "Sepertinya aku memang harus memberi tahumu sebelum terjadi hal buruk padaku. Yeah, walaupun memang sudah terjadi." ucapnya santai dan menatap Yesung pada akhir kalimatnya. Tersentak kecil karena Yesung meliriknya dengan wajah penuh amarah.
"Mian, sepertinya aku terlalu banyak bicara."
"Langsung saja ke intinya!"
Ryeowook menghela napas lagi. "Ada beberapa peringatan untukmu. Dan jika kau melanggarnya, sesuatu yang buruk akan terjadi padaku."
Yesung tertawa meremehkan. Ia menganggap ucapan Ryeowook adalah gurauan. "Cih, seperti aku peduli saja."
"Aku serius. Jika kau mencium kening seseorang, maka dadaku akan sesak dan hidungku mimisan. Jika kau sampai mencium bibir seseorang, aku akan sekarat. Dan jika kau sampai bersetubuh dengan seseorang, aku akan..."
Ryeowook menggantung kalimatnya. Matanya menatap kosong ke arah depan. Dan Yesung yang sedari tadi mendengarkan mengernyit aneh. Kenapa Ryeowook berhenti berucap. Begitu pikirannya.
"Kau akan mengalami apa jika aku bersetubuh?"
"A-aku akan... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Hanya itu yang dikatakan ummaku." Ryeowok melanjutkan ucapannya. Yang membuat Yesung berdecak. Semakin menganggap hal yang dikatakan Ryeowook bohong adanya.
"Kau tahu? Ucapanmu makin membuatku seperti berada di negeri dongeng." Yesung tertawa meremehkan. Tidak tahu kalau kini Ryeowook sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca, sudah terlalu lelah untuk meyakinkan Kim Yesung.
"Sunguh, aku tidak berbohong. Kenapa kau belum mengerti juga? Apa aku harus sekarat dulu baru kau akan percaya?" sulit untuk menahannya. Air mata akhirnya menetes juga dan yang bisa ia lakukan adalah terisak seraya menutup wajah dengan telapak tangan.
Yesung menggigit bibir. Merasa bersalah tentu saja. Tapi hey, semua itu bukan salahnya. Ucapan Ryeowook terlalu banyak mengandung fiksi. Jika orang lain berada di posisinya pasti akan menganggap Ryeowook gila.
"Aish! Arra arra. Sudah jangan menangis." dengan seluruh kekakuan dan rasa canggung yang ada, Yesung berusaha menenangkan namja manis itu. Cukup berhasil karena si namja manis mulai berhenti terisak.
"Umh, boleh aku bertanya sesuatu?"
Ryeowook menganggukkan kepala.
"Apa kesalahanmu sampai kau dihukum seperti ini?" tanya Yesung akhirnya. Walaupun masih belum percaya, ia ingin mengetahui alasan di balik semua yang terjadi.
"I-itu... um.. A-aku-" Yesung mengernyit dan melirik Ryeowook melalui ekor matanya. Ia pun menurunkan kecepatan mobil yang dikendarainya. Jika sampai Ryeowook tidak bisa menjawab, itu artinya Ryeowook berbohong.
"A-aku membunuh appaku."
"APA?!"
.
.
.-Magical Bloody Rose-.
.
by : Denies Kim
.
Disclaimer : Semua anggota (?) yang ada di fanfic ini, bukan milik Denies *sebenernya sih pengin memiliki* aku cuma pinjem nama demi kelangsungan cerita. Tapi
fanfic ini murni milikku khekhe.
.
Rate : T
.
Genre : Romance, Fantasy, Drama.
.
Warning : BL/Yaoi/Shounen-ai/Cowo x cowo, gaje, alur lambat, typo(s), serta bahasa yang tidak sesuai EYD,
dll.
.
Summary : Kim Yesung bertemu seorang namja manis yang mengklaim dirinya sebagai takdir atau bisa dikatakan pasangan hidup. Namja itu meminta hidup bersama dengan berbagai keanehan yang Yesung sendiri kurang memahaminya. Dimulai dari pertemuan hingga akhir yang entah bagaimana, semuanya ada dalam kisah ini.
.
Chapter Dua : Ryeowook's a murderer
.
.
~Selamat membaca~
.
.
Yesung mendongakkan kepala. Membiarkan butiran-butiran air yang berasal dari shower di atasnya mengenai wajah tampannya. Ia tidak mengunakan air hangat, karena menurutnya air dingin dapat menjernihkan pikirannya. Ia pusing. Bocah bernama Kim Ryeowook itu terlalu banyak membawa beban ke kehidupannya.
"Ada setangkai bunga mawar merah di taman istana. Mawar itu terlindungi kaca bening. Dan hanya orang tertentu saja yang dapat melihatnya."
Yesung mengingat ucapan Ryeowook tadi saat berada di mobil. Ucapan yang menurutnya benar-benar aneh.
"Aku sedang berlatih di sana, dan tanpa sengaja kekuatan terbesarku mengenai mawar itu."
Kata-kata itu muncul lagi di kepalanya. Berkeliaran seakan-akan mentertawakannya. Ini pertama kalinya ia memikirkan sesuatu hingga seberat ini. Sekarang ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang detektif yang memikirkan banyak masalah.
"Kaca pelindungnya pecah dan pecahan kaca itu mengenai kelopak merahnya. Tangkainya patah lalu mawar itu langsung mati. Begitu juga dengan appaku. Appaku mati karena mawar itu adalah pusat kehidupannya."
Cukup sudah. Yesung tidak ingin terlalu memikirkannya lagi. Ia mematikan kran shower. Air dingin itu tak bisa menjernihkan pikirannya. Malah membuat ingatannya makin kuat.
"Aku tidak sengaja melakukannya dan setelah ummaku tahu dia langsung menghukumku atau lebih tepatnya mengutukku."
Yesung meraih handuk lalu mengeringkan tubuhnya. Kemudian memakai celana piyama yang tadi di bawanya. Sembari mengeringkan rambut hitam basahnya, Yesung melangkah mendekati cermin yang menempel di dinding kamar mandi.
Sebenarnya hanya untuk melihat wajah suramnya. Tapi hal yang mengejutkan ia lihat. Di dada kirinya, tiba-tiba ada sebuah tatto besar berbentuk bunga mawar berwarna hitam.
"Apa-apaan ini? Bunga mawar lagi?!" serunya kesal, tetapi tak berani meninju cermin di depannya. Ya ampun tangannya terlalu berharga untuk melakukan itu.
Ia melangkah keluar kamar mandi. Bergerak cepat menghampiri Ryeowook yang sedang duduk memunggunginya di tepi ranjang. Ia langsung merangkak menaiki ranjang, menarik piyama namja manis itu hingga sedikit menghadapnya.
"Waeyo, hyung?"
Yesung menggertakkan giginya. "Tanda. Apa. Ini?" ucapnya sembari menunjuk bagian dada kiri.
Ryeowook mengerjapkan mata beberapa kali kemudian menatap Yesung dengan raut polosnya. "Aku tidak tahu."
"Kau pasti tahu! Tanda ini baru muncul, kemarin tidak ada. Katakan tanda apa ini?"
"Sungguh, aku tidak tahu apa-apa tentang itu."
Yesung memicingkan mata. Ia melihat sesuatu, seperti ada goresan hitam di bahu Ryeowook yang tak tertutupi piyama. Cepat-cepat Yesung membalik tubuh Ryeowook. Memegang masing-masing kerahnya dan menariknya berlawanan arah, hingga empat kancingnya terlepas dan menampilkan tubuh bagian depan namja manis itu yang begitu mulus.
Tanda yang sama ternyata juga ada di dada kiri Ryeowook. Bedanya, mawar hitam itu lebih besar dan terdapat beberapa garis seperti akar tanaman yang menjalar hingga leher.
"Whoa! Ini apa, hyung? Cantik sekali."
Yesung menekuk muka dan bersiap-siap untuk memarahi Ryeowook. "Jangan memuji, babo!"
"Ya! Kenapa kau marah-marah? Aku kan hanya memujinya saja."
Yesung menghela napas lelah. Telapak tangannya mengusap kasar tanda mawar tadi. Berusaha menghapusnya sampai timbul warna merah di kulit putihnya.
"Hyung, jangan. Nanti kulitmu lecet." ucap Ryeowook seraya menghentikan tangan Yesung. Menarik tangan itu agara menjauh dan mengusap lembut bekas merah di dada Yesung. Meniupkan napasnya pada bekas itu, menganggap hal yang dilakukannya bisa mengurangi rasa sakit Yesung.
Yesung sendiri memalingkan muka. Tak kuasa menahan wajah merah karena terlalu dekat dengan Ryeowook yang terbuka dadanya. Jangan sampai ia horny di hadapan Ryeowook.
"Sudahlah. Kita tidur saja. Aku banyak pekerjaan besok."
Yesung menjauhkan tangan Ryeowook lalu berbaring dan menarik selimut. Ryeowook menurut saja. Ia ikut berbaring menghadap Yesung yang memungunginya.
Dan pertanyaan yang mengganjal adalah, kenapa mereka tidur sekamar dan di ranjang yang sama pula?
.
:-Kim_Ryeowook-:
.
Keseharian Yesung, berjalan seperti biasa. Mandi, sarapan, melakukan pekerjaannya, pulang, tidur. Yang berbeda adalah adanya namja manis bernama Kim Ryeowook yang selalu berkeliaran di sekitarnya. Seperti hari ini, Yesung berangkat ke lokasi pemotretan, yang sama dengan lokasi pemotretan sebelumnya. Yeah, karena ia harus melanjutkan pemotretan busana pengantin itu. Ia sudah di kontrak, dan sebisa mungkin ia akan profesional.
"Kau sudah sehat, Ryeowookie?" Kim Heechul langsung mendekatinya. Tapi bukan dirinya yang disapa, melainkan Kim Ryeowook yang ada di sebelahnya.
"Ne, mianhae merepotkanmu."
"Ah, aniya. Aku hanya terkejut ketika kau tiba-tiba pingsan kemarin. Apa yang dikatakan uisa?"
Yesung berdecak. "Dia hanya kedinginan." ucapnya lalu menarik Ryeowook mendekati beberapa kru yang sedang bersiap. Ia menyuruh Ryeowook duduk di kursi taman.
"Kau tunggu di sini. Akan kucarikan minuman hangat."
Yesung berlalu pergi. Meninggalkan Reowook sendirian di kursi taman. Ia mendekati seorang kru yang menyediakan minuman hangat, kedua tangannya pun mengambil dua coklat yang masih hangat dan membawanya kembali menemui Ryeowook.
Baru saja ia meninggalkan Ryeowook sebentar, tapi kenapa sudah ada seorang namja berambut coklat ikal yang duduk di sebelah Ryeowook? Dan apa-apaan namja itu membuat Ryeowook tertawa. Sok akrab sekali.
"Ini." Yesung tidak punya pilihan lain. Ia harus mendekat dan menyerahkan coklat hangat di tangannya untuk Ryeowook.
"Gomawo, hyungie."
Yesung mengangguk lalu mengalihkan mata menuju namja berambut ikal yang cukup tidak disukainya, Cho Kyuhyun. "Sedang apa kau di sini? Tidak ada perkejaan lain kah?" ucapan bernada sinis itu terlontar, akan tetapi Kyuhyun tetap tersenyum meski sedikit tersinggung.
"Aku juga dikontrak untuk pemotretan yang sama denganmu, Yesung hyung."
Yesung mencebikkan bibirnya. "Minggir. Aku mau duduk."
"Ah, begitu? Baiklah. Kemari Ryeowookie, duduk di pangkuanku, agar Yesung hyung juga bisa duduk."
Yesung mendelik. Cho Kyuhyun benar-benar memuakan. Sudah terlibat skandal dengan seorang aktris kini mau membuat skandal lagi? Dengan pacar -teman- Yesung yang sejatinya namja tulen?
Dan apalagi itu? Kenapa Ryeowook beranjak bangun, apa ia akan menurut saja? Yesung sudah tak bisa menerimanya lagi. Ia menahan bahu Ryeowook dan mendorongnya agar duduk kembali. Ia menatap namja manis itu dengan tatapan sesangar mungkin yang ia bisa.
"Awas kalau kau berani melakukan itu! Kuhukum kau!"
Ryeowook menggelengkan kepala berulang kali lalu meminum coklat yang di berikan Yesung dalam diam. Suasana mendadak hening. Ryeowook sibuk dengan minumannya, Kyuhyun sibuk memandangi Ryeowook sambil tersenyum, dan Yesung yang sibuk memandangi dua namja di depannya.
What the- Yesung merasa seperti orang tua yang memergoki anaknya berkencan saja.
"Yesung! Kim Yesung!" seorang kru memanggil Yesung dengan tangan yang melambai-lambai dan Yesung hanya mengangguk saja.
"Aku akan terus mengawasi kalian." kata Yesung sebelum melangkah menjauhi Kyuhyun dan Ryeowook.
"Apa-apaan Yesung hyung itu, seperti kekasih Ryeowook saja." ucap Kyuhyun bermonolog saat Yesung sudah menjauh. Ia beralih menatap Ryeowook lagi, yang masih meminum coklat dengan diam. "Jadi, di mana itu Arthenia?"
.
-MBR-
.
Sementara Ryeowook dan Kyuhyun berdua, Yesung sedang mendengarkan arahan seorang kru. Sebenarnya ia tak terlalu memperhatikan. Pikirannya bercabang menjadi dua, antara mendengarkan perkataan sang kru dan mengingat perkataan Ryeowook. Ia sedang bimbang, jelas. Sebentar lagi adalah waktunya untuk melanjutkan pemotretan yang sempat tertunda, dirinya harus berpose mencium seorang yeoja yang menjadi pasangannya dalam pemotretan ini.
Ia harus mencium bibir yeoja itu, tapi sekarang ia teringat lagi pada ucapan Ryeowook kemarin. Katanya, Ryeowook akan sekarat bila ia mencium bibir sang yeoja. Ia masih belum bisa mempercayai hal itu sepenuhnya. Akan tetapi tuntutan pekerjaan mengingatkannya. Ia harus professional. Begitu prinsipnya.
"Yesung-ssi, segera berada di posisimu kita akan segera memulai."
Yesung menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Kedua kakinya melangkah pelan menghampiri Krystal, yeoja yang sudah berada di posisinya. Yeoja itu tersenyum manis, tampak senang sekali. Tapi apa daya, ia hanya membalas dengan senyuman tipis.
Keduanya berdiri berhadapan, menyamping dari arah kamera. Yesung menggenggam tangan yeoja itu, sementara tangan satunya hinggap di pipinya. Yesung melihat yeoja di depannya ini sedang menutup matanya. Ia pun menghela napas lagi. Kemudian barulah ia memajukan wajahnya hingga bibirnya mendarat tepat di atas bibir Krystal. Hanya mengecup tak ingin menyesap ataupun menjilat bibirnya.
Setelah yakin para kru sudah mendapatkan hasil jepretannya, Yesung hendak menjauhkan kepala. Mengernyit dalam ketika merasakan pergerakan bibir Krystal. Apa-apaan itu? Yesung langsung menarik kepalanya. Mengusap bibirnya sekali tanpa menatap muka Krystal.
Ia langsung beranjak untuk mengganti pakaiannya. Lalu buru-buru melangkah menuju tempat di mana terakhir kali ia meninggalkan Ryeowook. Ryeowook sudah tidak ada di sana, Kyuhyun pun sama. Salah satu kru yang kebetulan lewat dicegahnya. "Apa kau tahu ke mana Ryeowook?"
Yeoja itu mengerutkan kening tanda bawha ia tidak mengerti maksud Yesung. "Maksudku namja yang tadi datang bersamaku. Ke mana dia?"
"Un, dia tadi… pingsan dan ada darah yang keluar dari mulut dan hidungnya." Jawab yeoja itu lirih sambil menundukkan kepala.
Yesung melotot tak percaya, "Kenapa kalian tidak memberitahuku?" ucap Yesung dengan nada tajam membuat yeoja di depannya itu bergerak gelisah, ketakutan.
"PD melarangku. Katanya, pemotretan akan didelay lagi jika kau tahu."
Yesung mengepalkan tangannya. "Di mana dia sekarang?" ucapnya penuh penekanan.
Dan setelah mengetahui di mana sang takdir berada, Yesung langsung melesat ke arah mobilnya yang terparkir. Ia mengemudi secepat yang ia bisa. Tatapannya penuh dengan kecemasan. Tentu ia tidak bisa lupa apa yang dikatakan Ryeowook. Bahwa namja manis itu akan sekarat jika ia mencium bibir seseorang. Dan sekarang Ryeowook masuk rumah sakit. Ia membuat Ryeowook sekarat. Kejamnya dirinya.
Roda mobil berhenti bergerak. Terpakir rapi di basement rumah sakit. Yesung bergegas masuk. Menanyakan pada resepsionis kamar atas nama Ryeowook. Namun tidak ada. Yesung berdecak. Kemudian bergegas melangkah lagi. Kali ini menuju ruang ICU. Kemungkinan besar Ryeowook ada di sana. Ia melihat Kyuhyun. Duduk dikursi tunggu dengan kemeja bagian perutnya yang kotor dengan darah.
"Apa Ryeowook baik-baik saja?' tanya Yesung dengan nada cemas.
"Aku tidak tahu. Uisa sedang menanganinya." Kyuhyun menundukkan kepala. Kedua tangannya meremas rambut ikalnya yang terlihat berantakan.
Yesung sendiri menggigit bibir. Ia benar-benar takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ryeowook. Dengan adanya Ryeowook di rumahnya ia tidak merasa sepi lagi, ia tidak kesepian lagi, dan juga sikap kekanakan Ryeowook dapat membuat harinya bahagia. Tanpa sadar Yesung menekan dada kirinya yang terasa sesak.
"Apa yang terjadi pada Ryeowook, Kyuhyun-ah…"
Kyuhyun menegakkan kepala, ia menatap Yesung dengan muka lesu. "Sebelumnya dia baik-baik saja, masih ngobrol denganku. Tapi, tiba-tiba ia menekan dada kirinya, lalu tiba-tiba mimisan. Aku yang terkejut tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi sempat beberapa kali ia batuk darah. Apa ia memiliki penyakit, hyung?"
"A-aku tidak tahu, Kyuhyun-ah."
Kyuhyun mengernyit kecil. Tentu saja ia bingung, ia pikir Yesung tiinggal bersama Ryeowook, ia berpikir juga bahwa Ryeowook adalah dongsaeng Yesung. Jadi ia cukup bingung saat Yesung tidak mengetahui penyakit Ryeowook.
"Semoga Wookie baik-baik saja ne, hyung." Yesung terdiam. Tak ada niat sama sekali untuk membalas ucapan Kyuhyun. Ia lebih memilih melangkah dan mendudukkan diri di samping Kyuhyun, lebih dekat dengan pintu ruang ICU.
Lama menunggu. Yesung semakin cemas saja. Matanya bahkan menatap kosong ke depan. Kyuhyun pun sama, hanya saja tidak tertalu seperti Yesung. Terdiam terus, tanpa membicarakan sesuatu hingga tidak menyadari jika pintu telah terbuka dan seorang uisa keluar bersama beberapa perawatnya. Uisa tersebut mengernyitkan kening kemudian menepuk pelan bahu Yesung. Yesung terkejut, tentu saja. Ia pun menoleh begitu juga dengan Kyuhyun.
"Anda keluarga pasien di dalam?"
Yesung mengangguk. "Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?"
"Sulit untuk mengatakannya. Sekarang dia dalam kondisi koma. Paru-parunya terluka, tulang keringnya retak, beberapa jari tangannnya patah, jantungnya juga memompa darah secara berlebihan, ada memar di dada kirinya tepat di tato yang ada di tubuhnya, aku juga melihat kalau kepalanya bocor. Apa pasien adalah korban kecelakaan kendaraan?"
Yesung memegangi kepalanya yang mendadak pening, perahan ia terduduk lagi seperti sebelumnya. Tulang kering retak? Jari tangan patah? Memar? Dari mana semua berasal? Seandainya saja ia berada bersama Ryeowook, ia pasti tahu apa yang terjadi. Tapi tak mungkin hal itu terjadi. Ryeowook akan-baik-baik saja jika ia terus bersama dengannya.
"Kyuhyun, apa kau serius Ryeowook tidak tertabrak kendaraan?"
"Aku serius, Hyung. Aku berani sumpah, aku bahkan memangkunya saat tiba-tiba ia pingsan."
Yesung menggigit bibirnya lalu kembali menatap sang uisa. "Apa aku boleh bertemu dengannya sekarang?"
Sang uisa menatap ke arah pintu kemudian mengangguk. "Aku harus pergi sekarang, jika terjadi sesuatu, tekan bel secepatnya."
Yesung menghela napas. Setelah sang uisa dan para perawat pergi, ia langsung masuk. Kyuhyun sebenarnya ingin masuk juga, tetapi ia yang melarangnya. Ia ingin berdua dulu dengan Ryeowook. Tidak ada yang salah dengan keinginannya kan?
Yesung mendekati bangsal di mana Ryeowook berbaring di atasnya. Ia menatap Ryeowook sendu, tangan kanannya terulur dan mengelus pipi Ryeowook yang tampak pucat. "Jika kau sampai mencium bibir seseorang, aku akan sekarat." Kata-kata Ryeowook kembali menamparnya secara tak kasat mata. Ia semakin merasa bersalah.
"Ryeowookie, maafkan aku. Ini semua salahku. Aku selalu mencoba untuk professional dalam pekerjaanku, tapi karena itulah aku menyakitimu. Sungguh, aku benar-benar minta maaf." Ucapnya seraya duduk di sebuah kursi di samping Ryeowook. "Bangunlah… Buka kelopak matamu."
Tak ada respon tentu saja. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bukan penyihir, peri, atau apapun itu yang memiliki kekuatan sihir. Seandainya saja ia memiliki kekuatan itu, ia pasti akan membangunkan Ryeowook sekarang juga. Bersamaan dengan perandaiannya yang berhenti, gerakan telunjuknya pun berhenti tepat di atas bibir Ryeowook.
Seandainya saja ia adalah seorang pangeran yang mencium sleeping beauty, yang bisa membangunkan seorang puteri hanya dengan ciumannya saja. "Ryeowookie, apa kau akan bangun jika aku mencium bibirmu?" Ryeowook berasal dari negeri sihir kan? Jadi hal ini bisa terjadi kan?
"Aku akan menciummu, Wookie. Kumohon bangunlah." Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ryeowook. "Aku merindukanmu." Bisiknya dengan suara yang kian kecil. Lalu mengangkat kepalanya lagi. Menatap terus bibir merah muda Ryeowook sambil terus memajukan kepala.
Sampai bibirnya menempel di atas bibir Ryeowook, sedikit tersentak saat merasakan sesuatu yang berbeda saat ia mencium namja manis itu. Entah, sulit mendeskripsikannya. Ia bisa merasakan manisnya bibir Ryeowook, begitu lembut hingga Yesung berani mengulumnya. Rasa aneh juga datang. Ia merasa bersemangat, merasa segar kembali.
Dan saat artis tampan ini menjauhkan bibirnya, kedua manik hitamnya bertemu pandang dengan sepasang mata Ryeowook, huh?
"Kau sadar? Thanks god!" seru Yesung yang kelewat senang. Ryeowook sendiri terdiam dengan muka memerah, tentu saja karena Yesung menciumnya, tepat di bibir.
"Bagaimana perasaanmu? Adakah yang sakit? Atau kau ingin sesuatu? Aish! Kenapa aku bertanya banyak hal? Tunggu ne, kupanggilkan uisanim."
"Eh?" Ryeowook mengulurkan tangannya seakan mencoba meraih Yesung yang melangkah kian jauh. Lalu ia menatap tangannya sendiri, baru sadar kalau ia melakukan semua itu. Menundukkan kepala sambil memegang bibirnya sendiri, Ryeowook memejamkan mata erat. Ia sangat malu. Baru pertama berciuman dengan bibir.
Bunyi pintu yang terbuka sedikit mengejutkan Ryeowook. Kedua matanya langsung menatap ke arah pintu yang dilewati Yesung dan seorang uisanim. Ryeowook mengernyitkan dahi. Ahjussi berjas putih seperti itu datang lagi. Merasa takut jika ia akan digrepe-grepe seperti saat ia pingsan tempo hari. Uisanim itu mendekati Ryeowook, hendak memeriksa namja manis itu.
Ryeowook melihat Yesung berbalik lalu berjalan mendekati pintu. "Hyung," panggilnya sembari mengangkat tangan seperti tadi. Yesung merespon dengan membalik tubuhnya dan menatap Ryeowook heran. Tapi, melihat tangan Ryeowook yang mengambang di udara, Yesung mengerti. Ia berjalan mendekati Ryeowook dan menggenggan tangannya.
Ryeowook pun tersenyum. Ia terus-terusan menatap Yesung tanpa mengindahkan uisanim yang sedang meng'grepe-grepe' tubuhnya. Saling menatap sampai-sampai tak sadar raut wajah shock sang uisa dengan hasil pemeriksaannya. "Ini tidak mungkin." Gumam sang uisa begitu pelan.
.
.
.
"Kau memang bukan manusia." Ryeowook cemberut tanda tidak terima. Ia menggembungkan pipinya. Kini ia berada di mobil Yesung. Pulang ke rumah Yesung. Di hari yang sama dengan hari di mana ia sekarat. Ajaib kan? Ia dinyatakan sembuh seratus persen. Tulang retak sembuh kembali, memar hilang, kepala yang bocor seolah merapat(?) kembali dan kulitnya yang berubah cerah tidak lagi pucat.
"Aku setengah manusia, mengingatkan saja." Jawab Ryeowook terhadap ucapan Yesung tadi. Ia tersinggung. Ucapan Yesung seakan-akan mengatainya bukan makhluk hidup.
Yesung tertawa keras, "Kau sembuh, dalam satu hari. Ciumanku memang benar-benar menyembuhkan ne?" ucapan Yesung tak elak membuat Ryeowook merona mukanya. Ia jadi teringat lagi bagaimana Yesung mengulum bibirnya.
"Hm?" Yesung mengernyit heran. Kalau tidak salah, ia melihat Ryeowook merona. Kenapa Ryeowook merona? Bukankah ia sudah sering berciuman, mengingat salam antar bangsawan yang Ryeowook katakan dulu. Yesung kembali fokus ke jalanan, ia mempercepat laju mobilnya. Dan begitu sampai di halaman rumah, Yesung mencegah Ryeowook yang ingin membuka pintu.
"Ryeowookie, bolehkah aku bertanya?"
"Eung? Ne."
Yesung menatap dalam kedua mata Ryeowook, yang ditatapi tentu saja merasa gugup karena Yesung terus diam seperti tak berniat melontarkan pertanyaannya. Ryeowook hendak mengeluarkan suaranya saat Yesung langsung meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sambil memasang senyum tampannya, Ryeowook gugup lagi.
Cup
Yesung nekat, ia dengan berani mengecup bibir Ryeowook lalu tersenyum tanpa rasa bersalah. Ia menatap wajah Ryeowook yang merona. "Kenapa wajahmu memerah? Bukankah kau sudah terbiasa berciuman? Ataukah kau menyukaiku jadi kau merasa malu?"
"Aku tidak terbiasa melakukan itu."
"Hm? Kau tidak terbiasa melakukan itu? Bukankah ciumanku sama dengan salam antar bangsawan di duniamu?"
Ryeowook mengerjapkan matanya, raut polos benar-benar dipasangnya. "Maksudmu salam antar rakyat? Tidak, tidak seperti itu."
Kini gantian Yesung yang mengernyit bingung mendengar jawaban Ryeowook. "Lalu bagaimana salam itu? Tunjukkan padaku." Ryeowook menggeleng, langsung menolak apa yang diperintahkan Yesung.
"Aku bangsawan. Tidak patut melakukan itu."
"Argh! Kim Ryeowook, lakukan saja. Ini duniaku bukan duniamu, jadi kau bukan bangsawannya."
Ryeowook terdiam. Ia berpikir sebentar kemudian ia mengangguk menyetujui. Yesung langsung saja memejamkan mata. Begitu senang karena Ryeowook akan menciumnya. Yesung tidak mengerti, alasan kenapa ia menjadi seperti ini. Begitu senang kontak fisik dengan Ryeowook dan begitu possessive terhadap Ryeowook. Apa ini tandanya ia-
Yesung mengernyit lalu membuka matanya ketika merasa sudut bibirnya menyentuh sesuatu. Ia melihat wajah Ryeowook yang begitu dekat dengannya. "Sudah." ucap Ryeowook sembari menjauhkan wajah.
"Huh?" Yesung menatap Ryeowook tidak mengerti. Barusan ia merasa sudut bibirnya disentuh dengan sudut bibir Ryeowook. Jadi seperti itu ciumannya? Tunggu dulu, itu bukan ciuman.
"Apa maksudmu? Kau sedang mempermainkanku?" seru Yesung marah.
"Wae? Apa yang salah?" tanya Ryeowook yang tak mengerti.
"Itu bukan ciuman! Palli tunjukkan padaku salam itu!" Ryeowook mendesah lelah. Kenapa Yesung ngotot sekali ingin mengetahui salam antar bangsawan didunianya. Apakah begitu penting?
"Ck. Memang seperti itu, hyung!"
Yesung menatap Ryeowook dengan pandangan yang mengintimidasi. "Benar begitu? Jadi kau jarang berciuman seperti yang kulakukan padamu?" Ryeowook menggeleng tegas.
"Waeyo, hyung? Kenapa kau ingin mengetahui salam itu?"
"Aku tidak ingin takdirku adalah orang yang senang berciuman dengan banyak orang." Setelah mengatakan itu, Yesung keluar dari mobil. Ia meninggalkan Ryeowook yang terdiam dengan senyum mengembang di wajah sumringahnya.
"Ya! Sampai kapan kau ingin di situ?" Ryeowook tersentak kecil. Lalu cepat-cepat turun dari mobil. Berlari kecil mengejar Yesung dan bergelayut manja di lengan namja tampan itu. Ryeowook tersenyum saat Yesung tak menepisnya sama sekali bahkan tertawa kecil kepadanya. Bahagia sekali rasanya jika Yesung sudah mau menerimanya seperti ini.
*Bersambung*
Yeee, update. Nggak terlau panjang seperti kemarin yang sampe 4k+. Gimana? Ini masih kurang banyak? Mending yang 4k atau yang kaya begini? Apa nggak ada bedanya sama sekali ya? :D
Dan tentang bunga mawar, semua bunga mawar yang pernah desebutin di sini itu bisa jadi lambang tapi juga ada perannya masing-masing sesuai alur cerita. Jadi simak terus chapter-chapter selanjutnya ya^ Omong-omong buat yang re-view tentang bunga mawar hitam di chapter kemarin aku sempet bingung. Perasaan chap 1 belum ada mawar hitam. Nah loh, aku yang salah apa kamu yang mind reader hayoo~ :v
Terimakasih atas semua readers yang mau menyempatkan membaca dan yang menyempatkan diri untuk me review. Komen kalian adalah penyemangatku. See ya~
Penuh cinta,
Denies Kim
