First of all, terimakasih yang sudah review dan minta ff ini dilanjut. Dan maaf, update lama. Semester dua di kelas 12 sungguh menyita waktu :"D dan yah.. sekolah saya memakai sistem CBT, jadi doakan saya untuk UN nanti, readers sekalian! Dan yang mau UN juga tahun ini, semangaaaat! Ayo lulus bareng dan masuk sekolah/PTN favorit yaaa!
Btw, disini ceritanya semuanya satu line ya. Kelas 2 semuanya.
(o)
Hari pertama semester baru.
Wonwoo melangkahkan kaki jenjangnya memasuki gedung sekolah. Wajahnya yang biasanya akan nampak sangat dingin, berubah hangat dengan senyum yang mengembang menghiasi wajahnya. Pemuda berbadan tinggi itu bersemangat sekali rupanya. Tak jauh berbeda dengan kebanyakan siswa yang semangat menyambut semester baru.
"Seungkwan! Vernon!" Wonwoo melambaikan tangannya pada dua orang pemuda yang tak jauh darinya. Satu pemuda berpipi tembam dan satu lagi pemuda berwajah bule. Seungkwan dan Vernon, kedua sahabatnya—bisa disebut juga sebagai pasangan kekasih.
Pasangan itu menoleh dan balas melambaikan tangan pada Wonwoo. Wonwoo mempercepat langkahnya untuk menghampiri mereka.
"Mesra sekali di hari pertama sekolah, eh?" Pemuda manis itu tersenyum simpul melihat jemari Vernon dan Seungkwan yang saling bertaut. "Apa ini berarti aku menjadi orang ketiga?"
Seungkwan memerah. "Siapa bilang!" Si pipi tembam mengerucutkan bibirnya setelah melepas tautan jemarinya dengan sang kekasih. Vernon dan Wonwoo yang melihatnya hanya menahan tawa.
"Astaga, kalian membuatku semakin seperti orang ketiga saja." Keluh Wonwoo.
"Tidak akan, jika kau sudah memiliki kekasih." Timpal Vernon yang dibarengi anggukan Seungkwan. Wonwoo nyengir.
"Sudah, sudah, kita lihat pembagian kelas saja," usul pemuda yang lebih tinggi dari Seungkwan dan Vernon itu sambil menunjuk papan pembagian kelas yang tertempel di dinding sebelah mereka. Beberapa siswa nampak berkerumun disana, ingin mengetahui kelas manakah yang akan mereka tempati untuk setahun kedepan. Beruntunglah kerumunan itu tidak terlalu banyak, jadi ketiga pemuda itu bisa langsung membaca pembagian kelas.
"Aku di… 2-B," gumam Vernon pelan. "Ada nama kalian berdua juga—"
"Kita sekelas?! Lagi?!" pekik Seungkwan. Nampaknya dia senang akan berada dikelas yang sama lagi dengan sahabat dan kekasihnya.
Wonwoo tersenyum kecil melihat Vernon dan Seungkwan yang senang karena mereka berdua satu kelas. Sejenak, pemuda itu memicingkan matanya membaca daftar nama teman sekelas mereka.
Kedua mata sipitnya membulat saat melihat satu nama dengan awalan huruf M.
Mingyu Kim.
Tunggu… apa?
"Kau kenapa, Wonwoo-ya?" tanya Seungkwan yang khawatir melihat Wonwoo yang mematung didepan papan pengumuman itu.
"Mingyu.." gumam Wonwoo. Memutar badannya menatap Seungkwan dan Vernon. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
"Kita sekelas dengan Mingyu."
(o)
Wonwoo menatap pintu kelas dengan tanda 2-B diatasnya. Tersenyum kecil.
Kelas ini akan menjadi kelasnya selama setahun kedepan. Bersama kedua sahabatnya.
─dan jangan lupakan Mingyu juga satu kelas dengannya.
"Tidak masuk?" Seungkwan menepuk punggungnya. Vernon sudah lebih dulu memasuki kelas baru mereka.
"Kau duluan," Ucap Wonwoo yang dibalas anggukan Seungkwan. Setelah Seungkwan masuk, Wonwoo celingukan—seakan mencari seseorang.
Siapa lagi yang akan ia cari, kalau bukan Mingyu?
"Hei, kau ini kenapa berdiri disini? Anak baru?" Sebuah tepukan pelan di pipi kanan Wonwoo menyadarkan pemuda itu dari aktivitasnya. Lalu menoleh kearah kanannya. Seorang pemuda berambut hitam—Wonwoo tidak mengenal siapa pemuda itu—berdiri disana.
"Ini kelasku," jawab Wonwoo cuek. Entah kenapa Wonwoo merasa tidak menyukai pemuda ini.
"Oh, jadi kita sekelas," Gumam pemuda itu pelan. "Namaku Joshua, atau Hong Jisoo." Menyodorkan tangan kanannya pada Wonwoo—mengajak berjabat tangan. Senyuman mengembang di wajah Joshua.
Alih-alih membalas uluran tangan Joshua, Wonwoo menampik tangan pemuda itu. "Tidak usah," balasnya. "Namaku Jeon Wonwoo. Mohon bantuannya untuk setahun kedepan, ya."
Joshua tertawa. "Apa ini? Kau menolak berjabat tangan denganku?" Wonwoo mengernyitkan dahinya. "Kau tidak tahu siapa Hong Jisoo itu?"
Kerutan di dahi Wonwoo bertambah, dia menggeleng. "Tidak tahu dan tidak mau tahu."
"Kau bersekolah disini tapi tidak mengenalku? Tidak dapat dipercaya," Pemuda berambut hitam itu mengamati Wonwoo dari bawah ke atas. "Tapi, tunggu… sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat, tapi dimana?"
"Aku bahkan tidak yakin kita pernah bertemu."
"Dimana, ya? Oh, iya—" Joshua membulatkan matanya.
"Hah?—hei!" Belum sempat berkata apa-apa, Joshua sudah menarik lengannya. Membawa pemuda itu kedalam kelas.
"Hei, teman-teman! Lihatlah, teman sekelas kita ini menyatakan perasaannya pada Mingyu sebelum liburan di stasiun!" pekik Joshua. Seluruh siswa kelas 2-B sontak melihat kearah Joshua dan Wonwoo. Wonwoo menundukkan kepalanya malu.
"Benarkah? Wah, berani sekali dia!"
"Tapi, bukankah Mingyu sudah memiliki kekasih?"
"—dia pasti ditolak—"
"Kasihan sekali dia."
Beberapa anak berbisik membicarakan Wonwoo. Pemuda itu semakin menundukkan kepalanya. Dia malu. Dia tidak suka dipermalukan seperti ini. Dia ingin menangis—tapi tidak, tidak bisa di tempat seperti ini.
Vernon dan Seungkwan sempat akan menarik lengan Wonwoo saat mereka melihat sosok pemuda tinggi tegap yang baru saja memasuki kelas mereka.
Mingyu.
"Ada apa ini?" tanya Mingyu. Wonwoo mendongak.
"Beruntunglah kau disini. Hei, bukankah pemuda ini menyatakan perasaannya padamu sebelum liburan?" timpal Joshua.
Mingyu menatap Wonwoo yang kembali menundukkan kepalanya. "Kau, duduklah." Lalu menatap teman-teman sekelasnya yang masih memusatkan perhatian mereka pada Wonwoo dan Joshua. "Kalian, berhentilah melihat Wonwoo seperti itu. Perlakukanlah dia dengan baik," Semuanya mengangguk dan berhenti menatap Wonwoo.
Wonwoo sempat akan menempatkan pantatnya di salah satu tempat duduk kalau saja Joshua tidak berbisik padanya.
"Kau tahu? Sebenarnya kau ini terlihat manis juga,"
Pemuda itu hanya melongo.
(o)
Jam istirahat. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang pergi ke kantin untuk makan siang atau sarapan karena belum sempat—ataupun sekedar ngemil, ke perpustakaan untuk membaca buku ataupun ke kamar mandi. Yang pasti jarang yang akan menghabiskan waktu istirahat di kelas.
Tidak terkecuali Wonwoo, Seungkwan dan Vernon yang pergi ke kantin untuk membeli cemilan. Seungkwan dan Vernon nampak bersenda gurau sambil memakan cemilan mereka, sedangkan Wonwoo hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya. Tak jarang matanya menelisik ke seluruh penjuru kantin. Mencari keberadaan Mingyu.
"Wonwoo-ya, jika cemilan yang kau beli tidak akan kau makan, lebih baik kau berikan saja padaku," timpal Seungkwan menginterupsi aktivitas Wonwoo. "Kau ini kenapa? Masih memikirkan kejadian tadi pagi?"
"Kau ini, Seungkwanie. Makan saja yang ada di pikiranmu," cibir Vernon yang dibalas pukulan pelan Seungkwan di lengan kanannya.
"Makan saja kalau kau mau, Seungkwanie." Wonwoo tersenyum, menyodorkan cemilannya. "—dan, tidak, aku tidak sedang memikirkan kejadian tadi."
Seungkwan berbinar menatap cemilan yang di sodorkan Wonwoo. Vernon menatap kekasihnya dan berdecak, lalu mengalihkan pandangannya pada Wonwoo.
"Yakin kau tak apa?" tanya Vernon. Wonwoo mengangguk pelan.
"Ya. Hm, apa kau mengenal Joshua? Sebenarnya siapa dia?"
"Hum? Joshua? Oh—maksudmu, Jisoo? Si flower boy yang terkenal playboy itu?" Seungkwan nimbrung sambil memakan cemilannya.
"Playboy? Sudah kuduga Hong Jisoo yang menyebalkan itu adalah playboy," Wonwoo berdecak, menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak menyukai pemuda itu."
"Hei, manis, membicarakanku?" Joshua—yang datang entah darimana—tiba-tiba menempatkan dirinya di sebelah Wonwoo. Pemuda itu tersenyum dan mengerlingkan matanya.
Wonwoo baru saja akan minggir saat Joshua menarik lengannya—seperti tadi pagi.
"Mau kemana, manis?" tanya Joshua. "Duduklah saja disini denganku."
"Lepaskan, bodoh!" pekik Wonwoo. "Aku tidak akan mau duduk denganmu!"
"Aku tidak akan menggigitmu meskipun kau ini teramat sangat manis, terutama saat marah. Jadi duduklah saja disini denganku."
"Hei, hei, lepaskan Wonwoo." Timpal Vernon dan Seungkwan bersamaan. Joshua menuruti permintaan mereka dan melepas Wonwoo. "Ayo, kita kembali ke kelas." ajak mereka berdua. Wonwoo mengangguk dan mereka bertiga segera pergi meninggalkan Joshua.
Sepeninggal Wonwoo, Joshua hanya tersenyum kecil. Pandangannya tertuju pada punggung Wonwoo yang semakin mengecil dari visualnya. Tak menyadari beberapa orang perempuan yang datang menghampiri.
"Jisoo-ya, tumben sekali kau sendirian. Mau kutemani?" Interupsi salah seorang perempuan. Joshua menoleh dan tersenyum pada mereka, mempersilahkan gadis-gadis itu untuk duduk.
"Kau ada waktu untuk jalan-jalan dengan kami sore ini?"
Joshua menggeleng. "Maaf. Aku rasa aku tidak bisa lagi jalan-jalan dengan kalian."
Perempuan-perempuan itu nampak kecewa. Biasanya, Joshua akan mengiyakan ajakan mereka untuk jalan-jalan, bukankah aneh jika tiba-tiba flower boy ini menolak?
"Kenapa? Tidak biasanya kau menolak,"
"Hmm, bagaimana mengatakannya, ya?" Pemuda itu menggaruk tengkuknya. "..aku sudah jatuh cinta, sih." Lalu berdiri dan beranjak meninggalkan para perempuan yang kemudian saling berpandangan.
"Aku tidak salah dengar, 'kan?"
"Jisoo—jatuh cinta?"
"—tidak dapat dipercaya—"
(o)
"Mingyu-ya, bagaimana sekolahmu hari ini?"
"Lumayan, Jihoonie. Bagaimana kuliahmu dan pekerjaanmu?" Mingyu menggigit sepotong roti yang dibawanya. Tangan kirinya memegang handphone. Dia sedang video call dengan Jihoon. Jihoon memang dua tahun lebih tua darinya, dan baru saja memasuki bangku kuliah.
"Melelahkan, seperti biasa. Haah, aku merindukanmu, tahu!"
Pemuda itu tertawa. Untung saja roti yang baru ia gigit sudah ia telan, kalau tidak, bisa-bisa dia tersedak—beruntunglah Mingyu bukan orang yang mudah tertawa lepas.
"Aku mengerti. Aku juga merindukanmu, Jihoonie."
Dari layar handphone Mingyu, nampak jelas Jihoon sedang tersenyum kecil.
"Sudah pukul lima sore, aku masih ada jadwal. Sampai bertemu lagi, Mingyu!"
"Semangatlah, Jihoonie. Aku mencintaimu,"
"Aku juga mencintaimu, Mingyu."
Video call mereka terputus sampai disitu. Mingyu menaruh handphonenya di nakas lalu membaringkan badan di tempat tidur.
(o)
Segini dulu, nggakpapa, kan? :") maafkan sayaaa juga kalau jadi berantakan begini :"D Serius. Saya sedang sibuk, akhir bulan saya ada TO. Dan sejujurnya saya kemarin dapat beberapa ide cerita untuk ff SoonHoon dan Meanie yang akan saya ketik selanjutnya, mungkinsetelah ff ini kelar. Ada 6 ide, bayangin aja. Hiks.
See you in next chapter! Review, please?
