Rumah Jodoh

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Rated: T

Story: Yukiko240

Pair: Akakuro, slight!akafuri dan pair lain yang akan muncul nantinya.

Warning: Yaoi, ooc, typo(s), EYD berantakan, dan kesalahan lainnya.

.

.

Don't Like Don't Read

Happy Reading

.

.

Chapter 2

.

.

Furihata Kouki menatap hasil tesnya. Wajahnya bertekuk. Dia melirik ke samping, ke arah sepupunya yang berambut hijau. Bibirnya maju beberapa senti, tak ikhlas sedikitpun nilai yang dia dapatkan masih di bawah nilai Midorima Shintarou. Padahal dia yakin dia lebih menguasai sosiologi di bandingkan Midorima. Dia melempar selembar kertas itu ke atas meja. Tak menimbulkan bunyi apa pun memang, tapi berhasil menarik perhatian satu-satunya eksistensi lain di sana.

"Kau tidak terima?" Tebak Midorima. Furihata mendengus. Memalingkan wajahnya ke arah jendela.

"Ini adalah hari keberuntungan untuk para cancer. Kami berada di urutan pertama sekarang. Jadi sudah takdir Tuhan jika kau kalah lagi dari ku." Ujar Midorima. Lelaki yang percaya akan horoskop itu mulai memasukan alat tulisnya ke dalam tas. Mengabaikan wajah Furihata yang makin bertekuk.

"Bagaimana mungkin zodiak menjadi takdir Tuhan?" Furihata mendengus keras, "Itu hanya tebak-tebakan yang di buat oleh seseorang untuk menipu para gadis labil." Celanya.

Midorima menoleh cepat. Wajahnya tampak tak senang. Kacamatanya berkilau terkena sinar mentari sore yang masuk melalui jendela kelas. Menimbulkan kesan angker untuk Furihata.

"Jadi.. kau ingin berkata kalau aku tak lebih dari seorang gadis labil yang gampang di tipu?" Tanya Midorima lamat-lamat. Dia berjalan mendekati Furihata, berdiri menjulang di depan sepupunya itu.

"Bu-bukan begitu maks-"

"Ramalan itu adalah praduga-praduga akan kejadian di masa yang akan datang! Selain itu, ramalan zodiak Oha-asa tak pernah salah! kau tau, Akashi Seijuurou berzodiak sagitarius dan Kuroko Tetsuya berzodiak aquarius dan menurut ramalan, kedua zodiak tersebut akan menjadi pasangan yang sangat cocok jika bersama." Sela Midorima. Tangannya menunjuk-nunjuk, membuat Furihata yang hendak berkilah menjadi terdiam. "Aku hanya ingin membuat mu mengerti.. jika jadi orang ketiga itu adalah kebodohan. Sekalipun hanya orang ketiga dalam persahabatan." Lanjutnya. Mengabaikan ekspresi Furihata yang tampak terluka, Midorima kemudian melangkah keluar. Sepupunya itu harus mengerti posisinya! Bukan karena Midorima tak percaya jika Akashi benar-benar menyukai Furihata, tapi karena Midorima takut, jika saudaranya dari pihak ibu itu akan terluka. Entah kenapa Midorima punya firasat yang kuat akan itu.

Furihata menghembuskan nafas, lelah. Tanpa ramalan pun, dia tau dan sangat mengerti telah jadi orang ketiga di dalam hubungan super akrab antara Akashi dan Kuroko. Dia juga paham, dia lah penyebab dari alasan kenapa seminggu ini Akashi dan Kuroko saling menjaga jarak.

"Haaah..! ini menyebalkan!" batin Furihata.

Dia mengambil kertas tesnya kasar, dan memasukannya ke dalam tas. Dia lalu berjalan ke luar menyusul Midorima. Furihata dapat melihat dengan jelas, jika Midorima sedang berdiri di depan lokernya. Di tangan lelaki itu ada sebuah kertas surat berwarna pink. Semakin mendekatnya langkah Furihata, semakin tercium wangi yang menusuk hidung. Membuat Furihata menggosok-gosok ujung hidungnya, menyerngit.

"Dia lagi?" Tanya Furihata. Pertanyaan retoris. Midorima bahkan merasa tak perlu untuk menjawabnya.

Midorima memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop. Dia membuka laci yang terletak di dasar loker, dan memasukkan amplop pink bunga-bunga itu ke dalamnya. Tertumpuk bersama amplop-amplop lain yang serupa. Midorima menutup lokernya. Kemudian merebahkan sisi kiri tubuhnya ke loker, sembari beralih ke Furihata yang sedang sibuk dengan isi loker pribadinya juga.

"Kenapa tak kau coba saja? Bukankah dia cukup manis?" Tanya Furihata.

Ceklek.

Furihata menarik kunci lokernya. Menatap Midorima yang belum menjawab pertanyaannya.

"Aku tak suka lelaki feminim." Cetus Midorima. Dia mengalihkan wajahnya ke samping, tangan kirinya membenaran letak kacamatanya.

"Tapi dia baik." Bela Furihata. Furihata dapat melihat kilat tak suka pada iris emerald Midorima.

"Dan penganggu." Tukas Midorima.

"Benarkah?" Goda Furihata. Mata coklatnya berkilat jahil. "Aaa... kau memang tampak sangat terganggu dengan semua surat-surat yang kau simpan itu, Shintarou"

Midorima mulai melangkah. Tak mengacuhkan godaan dari sepupu tak jelasnya itu.

"Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuangnya."

"Kau menunggu waktu yang tepat untuk mengencaninya? Wahhh.. jujur sekali shin chan~"

"Ku bilang membuangnya!"

"Ya! Ya! Kau tak perlu memproklamirkan ke seluruh sekolah jika kau akan mengencaninya.. ahahaha..." Furihata tertawa keras.

"Diamlah Kouki! Tawa mu itu seperti kuda!" Seru Midorima, kesal.

Plak!

"Adoowww! Jangan memukul kepala ku, Kouki!"

"Salah mu sendiri mengataiku seperti kuda!"

Mereka berdua terus bertengkar tanpa perlu khawatir ada yang terganggu. Waktu sudah cukup sore sehingga hanya menyisakan sedikit para murid yang masih sibuk dengan kegiatan klub. Langkah mereka menggema menjauh. Tanpa menyadari dari salah satu ruang kelas, sesosok pemuda menampakkan wujudnya. Matanya tampak terluka, walau senyum tegar tak lepas dari wajahnya yang berpoleskan bedak dan lipgloss. Kulit tangannya yang halus terawat, mencengkram erat tas ransel berwarna orange. Takao Kazunari, mendengar semua pembicaraan tadi sepenuhnya.

o-O-o

Furihata memasuki ruang pustaka. Matanya langsung di suguhi barisan rak yang berjejer rapi. Hanya ada seorang penjaga pustaka di sana, tersenyum ramah pada Furihata yang berjalan masuk ke dalam. Furihata berjalan keliling, mencari buku yang cocok untuk mengerjakan tugasnya. Ruangan itu sangat sepi, membuat Furihata menjadi tak nyaman. Mana Midorima menolak mentah-mentah untuk menemaninya kesini lagi. Membuat Furihata berniat untuk balas dendam lain kali.

Tapi Furihata tak satu-satunya pengunjung di sore nan mendung itu. Matanya berkilat senang melihat salah satu kakak kelasnya di sudut ruangan. Tapi dia sedikit ragu. Apa akan baik-baik saja jika dia bergabung ke sana? Furihata tau dengan jelas jika kakak kelasnya itu tak begitu menyukainya. Walau wajahnya selalu datar, entah kenapa Furihata dapat melihat raut tak suka yang amat sangat tipis di ekspresinya. Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Furihata memutuskan untuk tetap kesana. Ada hal penting juga yang ingin dia bicarakan, dan dia pikir inilah waktu yang tepat. Dia mulai membuka mulut, menyapa senpainya..

"Kuroko senpai.."

.

.

o-O-o

Akashi memasang jaket kulit berwarna coklat. Membungkus tubuhnya yang sudah di lapisi sweater abu-abu. celana jins dan sepatu hitamnya membuat penampilannya semakin menawan. Bukan tanpa alasan Akashi tampil begitu rapi malam ini. Dia sudah membuat janji dengan lelaki calon pacarnya di salah satu kafe. Ahhh.. mungkin malam ini akan berubah status menjadi pacar.

Akashi berjalan dengan semangat menuju motornya. Motor sport perpaduan merah dan hitam itu sudah menjadi teman baiknya sejak dia masuk SMA. Jangan tanya kenapa dia bisa membawa motor tanpa SIM, itu rahasia Illahi. Akashi mulai menggacak motor kesayangannya. Membelah Sang angin, menuju tempat Sang pujaan hati.

.

.

Klontang!

Suara berisik itu selalu berbunyi setiap kali ada pelanggan yang masuk di kafe kecil yang terletak di pinggir jalan raya itu. Furihata Kouki melambaikan tangan penuh semangat, memberi tanda pada lelaki yang di tunggunya. Lelaki itu berjalan masuk. Dia mengambil tempat di samping kiri Furihata, memberikannya akses pemandangan malam dari balik kaca.

Kafe itu berkesan hangat. Dindingnya berwarna coklat kekuningan dengan garis-garis coklat tua dan hitam yang saling bertabrakan. Warna karamel jadi pemisah nan manis di bagian atas. Ruangan itu bercahayakan lampu berwatt rendah. Bau manis menjadi salam pertama saat kau membuka pintunya.

"Kau ingin memesan apa? Biar aku yang traktir, tapi tolong jangan yang mahal yaa.." Ucap Furihata. Dia memberikan senyum ramahnya pada pria yang hanya menampilkan raut datar itu.

"Tidak usah. Aku datang karena kau terus meneror ku dengan telpon dan SMS mu." Sahut Kuroko.

"Aaa.. Kuroko senpai, kau tidak boleh menolak kebaikan seseorang. Jika kau melakukan itu, sama saja kau menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan." Tukas Furihata. "Bagaimana dengan vannila shake? Kau mau?" Lanjutnya.

Kuroko menatap Furihata sejenak, kemudian mengangguk pelan. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan ini. Entah kenapa sejak tadi perasaannya tak enak, seakan ada sesuatu buruk yang akan terjadi. Ini baru beberapa jam sejak kejadian di perpustakaan tadi. Otaknya tak berhenti menerka apa yang ingin di bicarakan Furihata dengannya.

Furihata memberi tanda pada waiter yang ada disana. Seorang lelaki berseragam berjalan menuju ke mejanya membawa sebuah catatan.

"Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin memesan apa?" Sebuah sapaan ramah bernada sopan menyapa Furihata dan Kuroko. Mereka melihat ke arah si waiter dengan kompak. Tak pelak, wajah keduanya langsung terkejut.

"Takao kun? Kau bekerja di sini?" Tanya Kuroko. Furihata mengangguk-angguk mendukung pertanyaan Kuroko, terkejut melihat keberadaan salah satu senpainya-sekaligus orang yang mengejar-ngejar sepupunya- sebagai pekerja di sana.

Takao tak bersuara, tapi kepalanya mengangguk mantap.

"jadi, anda ingin memesan apa?" Ulang Takao, bersikap profesional. Menghadirkan raut canggung pada dua wajah di depannya. Buku catatan kecil dan pena terselip di jari Takao yang di terawat. Wajahnya bebas dari masalah kulit dalam bentuk apa pun, dan rambutnya tampak lembut dan berkilau.

Inilah yang membuat Midorima tak menyukai Takao. Karena Takao terlalu feminim untuk seorang laki-laki. Walau Furihata yakin, walau hanya sedikit sebenarnya Midorima juga menyukai Takao. Cuma si Raja tsundere itu mati-matian menyangkalnya. Cih! Seperti Furihata bisa di tipu saja!

"Aaa... vanilla sha-"

Klontang!

Lagi-lagi pintu kaca itu berbunyi. Tapi kali ini, menampilkan wajah Akashi Seijuurou. Dia melangkah masuk dengan wajah heran.

Kenapa Tetsuya ada disini?, batinnya.

Akashi sampai di meja yang hanya memiliki tiga kursi itu, di iringi dengan senyum Furihata, raut kaget Kuroko, dan sikap tak peduli Takao. Akashi menatap Takao sejenak. Melihat seragam dan catatan yang di pegang Takao, Akashi menjadi urung untuk bertanya. Dia sudah dapat menyimpulkan alasan keberadaan laki-laki itu di sana. Lalu, apa alasan Kuroko berada di sini?

"Akashi senpai.. kau datang tepat waktu!" seru Furihata. Akashi menatap Furihata sekilas, sebelum duduk di kursi satu-satunya yang tersisa.

"Ada apa ini? kenapa Tetsuya ada di sini, Kouki?" tanya Akashi. Kuroko dapat merasakan jika Akashi tak menyukai kehadirannya dari nada bicara Akashi.

"Ohhh.. aku yang mengundangnya senpai. Ah! Pesanan!" Furihata mengalihkan pandangannya pada Takao yang sesaat merasa di abaikan. "aku pesan cappuccino dan vannila shake. Akashi senpai, kau juga mau cappuccino?"

Akashi mengangguk. Aura tak senang tampak jelas di sikap dan raut wajahnya. Bagaimana tidak, dia berharap di kencan kali ini akan mengubah status PDKT-nya menjadi pacar, tapi entah kenapa Kuroko juga berada di sini. Kencan macam apa yang di lakukan bertiga? Dia bahkan sangsi akan mendengar jawaban Furihata malam ini.

Akashi menghela nafas. Dia bukannya tak suka akan keberadaan Kuroko, tapi ini malam yang sangat penting untuknya. Lagi pula, alasan macam apa yang membuat Furihata mengundang Kuroko ke sini? Furihata ingin Kuroko menjadi saksi atas terjalinnya hubungan mereka berdua? Kepala Akashi mendadak berdenyut. Perasaannya jadi sangat tak enak.

Sesungguhnya Akashi merasa bersalah. Sejak pertengkarannya waktu itu, dia sengaja menjaga jarak dengan Kuroko. Akashi berharap Kuroko menyadari keegoisannya, dan menyesalinya. Tapi pemuda bermata aquamarine itu malah bersikap tak peduli. Membuat Akashi semakin kesal. Entah kenapa Kuroko jadi bersikap kekanak-kanakan akhir-akhir ini. Tak seperti sikapnya yang biasanya. haah.. Akashi cukup lelah dengan ini semua!

"Furihata kun, sebaiknya kita tunda saja pembicaraannya. Aku pulang dulu." kata Kuroko, menyadarkan Akashi dari dunianya sendiri. Dia beranjak berdiri, namun di tahan Furihata. Takao sudah tak tampak di sana.

"Tunggu dulu, senpai. Aku ingin membicarakannya sekarang." Cegah Furihata. Tangan Furihata menggenggam ujung baju Kuroko.

"Ku pikir Akashi kun tidak senang dengan kehadiran ku. Kita bertemu lagi besok." kata Kuroko lagi. Dia mencoba melepaskan genggaman kuat Furihata pada bajunya.

Furihata berpaling cepat pada Akashi. mengeluarkan permohonan tersirat lewat matanya untuk membantunya menahan Kuroko. Akashi menatap jengah.

"Duduklah, Tetsuya. Kau tak perlu bersikap kekanakan begitu." Ketus Akashi.

Kalimat itu terdengar begitu tajam di gendang telinga Kuroko. Apa Akashi semarah itu akan kehadirannya? Dia bahkan tidak tau sama sekali jika Furihata juga membuat janji dengan Akashi!

Kuroko pasrah saat Furihata kembali menariknya untuk duduk. Jika dia memaksa tetap pulang, dia yakin akan bertengkar lagi dengan Akashi. dia sudah cukup banyak bersabar atas seminggu ini. dia tak mau hubungannya dengan Akashi menjadi lebih buruk.

Tapi, apa yang ingin Furihata kun bicarakan sampai memanggil ku bersamaan dengan kencannya dengan Akashi kun begini?, pikir Kuroko

"Jadi, bisa kah kita selesaikan dengan cepat, Furihata kun?" Kuroko benar-benar merasa tak nyaman saat ini. dia ingin segera pulang, dan menyamankan dirinya di bawah selimutnya yang hangat. Di banding terus menerus di hunus tatapan dingin Akashi, yang membuat Kuroko semakin menyesali kedatangannya.

Furihata membalasnya dengan senyuman. Sesaat, Kuroko merasa melihat ada kilat aneh di tatapan ramah lelaki bersurai coklat itu.

"Akashi senpai, kau ingin mendengar jawaban ku kan, atas pernyataan mu tadi siang di sekolah?" Bukannya menjawab pertanyaan Kuroko, Furihata malah mengajak bicara Akashi. Akashi menatap terkejut. Dia melirik Kuroko sekilas yang sama terkejutnya dengannya.

"Tak apa, Kouki. Kita bisa menundanya." Jawab Akashi pelan. tak mungkin mereka membahas hal itu sekarang, di saat ada Kuroko di sini. Entah kenapa Akashi merasa jadi tak ingin membicarakannya.

"Tak perlu menundanya senpai. Aku memang ingin membicarakannya sekarang." Kata Furihata, keukeh.

Kuroko menatap bingung. Apa-apaan ini? kenapa Furihata membahas hal itu di depan Kuroko? Apa dia mencoba untuk pamer? Atau ingin menunjukkan pada Kuroko jika malam ini Akashi akan menjadi miliknya?

Kuroko menarik nafas. Dia amat sangat kesal berada di sini. Atmosfer kafe ini terasa berat. Beberapa pelanggan mulai beranjak pergi, hanya menyisakan mereka bertiga sekarang. Kota Tokyo semakin larut. Tapi Kuroko masih dapat melihat dengan jelas aktivitas malam di kota yang tak pernah tidur itu dari balik kaca kafe. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari hal yang sedang terjadi saat ini.

"Pesanan anda. Dua gelas cappuccino dan segelas vanilla shake." Takao datang membawa nampan berwarna coklat. Dia kemudian memindahkan minuman pesanan tadi ke atas meja. "Silahkan di nikmati. Jika butuh sesuatu silahkan panggil saya." akhir-nya. Takao kemudian beranjak pergi.

Kuroko meminum vanilla shakenya. Mencoba membasahi mulutnya yang mendadak kering. Di sebelahnya, Furihata juga menyesap cappuccinonya.

"Kuroko senpai, apa tanggapan mu terhadap ku?" tanya Furihata tiba-tiba. Kuroko menoleh, menatap bingung.

Tanggapan? Tanggapan apa yang dia tanyakan?, batin Kuroko.

Seakan menyadari kebingungan Kuroko, Furihata memperjelas pertanyaannya.

"Maksud ku, apa menurut mu aku cocok menjadi kekasih Akashi senpai?"

Kuroko tersedak. Pertanyaan macam apa ini? lagi pula kenapa di tanyakan pada Kuroko? Seharusnya dia bertanya pada Akashi, kan? Yang akan menjalani hubungan ini kan mereka berdua.

"Kouki, kenapa kau bertanya seperti itu pada Tetsuya?" Akashi menatap Furihata. Ekspresinya bingung. Dia mencoba mengira-ngira apa yang furiharata inginkan dengan memanggil Kuroko di saat mereka punya janji kencan begini. Tapi tak satu pun yang bisa dia jadikan jawabannya.

"Tak masalah, kan, Akashi senpai? Kuroko senpai sudah menjadi sahabat mu sejak dulu. Dia pasti bisa menilai apakah aku layak untuk mu atau tidak" jawab Furihata, ringan. Tak mempedulikan raut Akashi dan Kuroko yang sangat tak enak sejak tadi.

"Jika Akashi kun sudah memilih mu, berarti kau layak, Furihata kun. Pilihan Akashi kun tak pernah salah." tutur Kuroko.

"Ah! Benarkah?" Furihata menatap Kuroko, bahagia. "Aku senang mendengarnya senpai." Lanjutnya. Matanya beralih pada Akashi.

"Akashi senpai, antara aku dan Kuroko senpai siapa yang akan kau pilih untuk di jadikan pendamping seumur hidup? Dengan syarat yang satunya harus menghilang sejauh mungkin." Tanya Furihata lagi.

Akashi menatap Furihata. Tak habis pikir dengan maksud lelaki itu. kenapa Furihata menanyakan hal yang seperti ini, sih?

"Apa-apaan pertanyaan mu itu, Kouki. Apa maksud mu sebenarnya?"

Furihata hanya mengangkat bahu. "Jawab saja senpai, itu kan hanya sebuah pertanyaan." ujar Furihata.

Akashi terdiam. Hanya sebuah pertanyaan apanya?! Akashi dapat merasakan jika Furihata memiliki maksud lain di dalam pertanyaan itu. Apa Furihata merasa cemburu akan kedekatannya dengan Kuroko? Tapi dia dan Kuroko hanya sahabat, tak lebih. Dan dia juga tak mungkin meninggalkan Kuroko, sekalipun mereka sedang bertengkar sekarang. Hidup jauh dari Kuroko adalah hal yang tak pernah terfikir oleh Akashi. Dia selalu yakin jika akan menghabiskan waktu seumur hidupnya bersama Kuroko.

Tapi jika harus memilih, siapa yang akan dia perjuangkan untuk tetap di sisinya?

"Furihata kun, pertanyaan mu keterlaluan. Kau tak bisa bertanya seperti itu pada Akashi kun. Aku dan Akashi kun hanya teman." Kuroko merasa sudah tak tahan. Tak bisakah dia pergi sekarang juga dari tempat ini?

Furihata menyesap kembali cappuccinonya. Dia menatap Akashi dan Kuroko. Dia tau jika sudah menciptakan suasana tak nyaman, tapi dia ingin menyelesaikannya. Sejujurnya, Furihata sendiri sangat membenci percakapan ini. Dia ingin menghilangkan eksistensi Kuroko di dunia ini, dan memadu kasih dengan tenang bersama Akashi. Tapi dia tak bisa melakukan itu. Tidak, jika akhirnya dia yang akan menyesal! Hal ini harus di selesaikan malam ini juga!

"Kuroko senpai, apa kau masih ingin menyangkal perasaan mu sebenarnya?"

Kuroko menatap Furihata bingung. "Menyangkal apa maksudmu, Furihata kun?" tanyanya.

"Kuroko senpai, kau.. bukan kah kau juga mencintai Akashi senpai?"

Pertanyaan Furihata mengejutkan Kuroko maupun Akashi. Mata mereka melebar, menatap tak percaya pada Furihata. Kenapa Furihata memperumit keadaan begini? Apa yang menjadi tujuannya?

Akashi menatap Furihata, lalu berpaling pada Kuroko. Benarkah? Apa benar Kuroko mencintainya? Apa itu alasan atas tingkah aneh Kuroko selama ini? Tapi, masa sih Kuroko punya perasaan seperti itu terhadapnya?

Kuroko menggeleng panik. Dia tak mengerti kenapa Furihata bisa berkata seperti itu. matanya berkali-kali melihat ke Furihata dan Akashi bergantian.

"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi Akashi kun bagi ku hanya sahabat sejak kecil." jawab Kuroko, cepat.

Furihata mendengus. Sampai kapan Kuroko ingin menyangkalnya?! Sahabat? Saudara? Cih! Jelas-jelas dia menyukai Akashi sebagai laki-laki!

"Berhentilah menyangkalnya senpai! Jika kau terus menyangkalnya, aku tak akan segan-segan merebut Akashi senpai dari sisi mu!" ancam Furihata. Dia cukup muak dengan sikap naif Kuroko.

"Kouki, hentikan! Apa-apaan dengan semua pertanyaan ini! Aku bahkan tak mengerti kenapa kau jadi membawa-bawa Tetsuya." Akashi sudah mencapai batasnya sekarang. Kencan yang dia harap berjalan lancar, menjadi berantakan. Di tambah lagi Sang pujaan hati yang bersikap menyebalkan. Apa yang salah dengan malam ini?!

Furihata menatap Akashi, meremehkan. Pandangan matanya tak lagi ramah seperti biasa.

"Tentu saja Akashi senpai tak mengerti. Kau hanya lelaki egois yang tak peka pada lingkungan mu." hina Furihata. "Kau bahkan tak mengerti bagaimana orang-orang menggosip jika aku merebut mu dari Kuroko senpai." Lanjutnya. Pandangannya nanar. Semua emosinya terkumpul di iris coklatnya.

Akashi terperangah. Go-gosip? Gosip apa? Memangnya orang bodoh mana yang menyebar gosip seperti itu?

"Furihata kun, mereka hanya salah paham. Kau tak perlu memikirkan pendapat tak beralasan itu." Kuroko mencoba menenangkan Furihata. Mulai mengerti alasan keberadaannya di sini. Sebenarnya Kuroko juga tau tentang gosip itu, tapi dia tak menyangka jika Furihata merasa begitu terganggu.

"Benarkah salah paham?" Furihata menatap Kuroko tajam. "Kau belum menjawab dengan jujur, senpai. Kau juga mencintai Akashi senpai kan?"

"Furihata kun, aku dan Akashi kun adalah sahab-"

"Sahabat sejak kecil dan kemudian kau mencintainya diam-diam. Kuroko senpai, mungkin itu berhasil pada Akashi senpai, tapi kau tak bisa menyembunyikannya dari orang lain. Semua orang bisa melihat dengan jelas, jika kau tak sekedar menganggap Akashi senpai sebagai sahabat." potong Furihata. Nada suaranya menimbulkan getaran tak nyaman pada hati Kuroko.

Sejujurnya Kuroko mengerti dengan baik apa yang di takutkan oleh Furihata. Bukan gosip, tapi dirinya! Furihata pasti takut jika suatu hari nanti Kuroko mencoba merebut Akashi dari sisinya. Dan Furihata takut terluka akan itu.

Mencintai Akashi kun?!, batin Kuroko

Selepas kejadian di pustaka tadi sore, hal itu terus menjadi buah pikiran untuk Kuroko. Dan walau hanya sedikit, Kuroko mengakuinya. Kuroko akhirnya mengerti alasan kenapa dia tak begitu menyukai Furihata. Bukan karena Furihata membuat Akashi melupakan janjinya dengan Kuroko, tapi hal yang lebih khusus lagi, Kuroko merasa cemburu. Cemburu pada Furihata yang mulai menjadi prioritas Akashi. Cemburu pada Furihata yang mulai mengisi seluruh hati Akashi. Dan cemburu, karena Furihata lah yang mendapatkan cinta Akashi Seijuurou. Bukan Kuroko, yang sudah bersama Akashi sejak kecil.

Tapi Kuroko tak mungkin mengakuinya kan? Dia tak mungkin membuat keadaan semakin runyam lebih dari ini.

Kepala Akashi terasa sangat tegang. Dia sungguh tak mengerti pembicaraan ini! apa yang sebenarnya tak dia ketahui? Kuroko yang diam-diam menyukainya, atau sikap Furihata yang tampak berbeda?

"Kouki, itu hanyalah gosip. Kau tak perlu merasa begitu terganggu." Akashi mulai bersuara. Dia mencondongkan tubuhnya, menggenggam tangan Furihata untuk menenangkan. "Aku akan mengurus gosip tak jelas itu, jika bisa membuatmu lebih tenang" lanjutnya.

Kuroko membuang muka, merasa tak nyaman dengan suguhan romantis di depannya. Perutnya terasa seperti di aduk.

Furihata melepaskan genggaman Akashi dari tangannya. Matanya menatap ke arah Akashi yang membalasnya sendu.

"Aku tak bisa Akashi senpai." Katanya pelan. Suara rendah, hampir seperti sebuah bisikan.

"Tak masalah. Aku yang akan mengurus gosip-gosip itu."

"Bukan tentang gosipnya senpai, tapi.. aku tak bisa menjadi kekasih mu." Jelas Furihata. Dia menundukkan wajahnya dalam. Suaranya terdengar putus asa.

Akashi tercengang. Begitu pun Kuroko. Akashi benar-benar tak menyangka Furihata akan menolaknya.

"Apa maksud mu Kouki? Apa kau sengaja mengungkit tentang gosip itu sebagai alasan untuk menolakku!?" tuduh Akashi. dia langsung berdiri menjulang di depan Furihata. Matanya nanar, tampak kecewa.

"Senpai, ini adalah jawaban ku. Aku ingin kau menghormatinya." kata Furihata tenang.

"Jawaban?! Aku tak terima hal seperti ini kau sebut jawaban, Kouki!" sergah Akashi. dia menangkup kedua sisi wajah Furihata, memaksanya menegadah. "Aku memilih mu. Dengar, aku memilih mu Furihata Kouki" lirih Akashi. nadanya penuh dengan keyakinan.

Kuroko dapat merasakan hatinya serasa terhimpit. Jantungnya serasa membesar dan menolak menerima oksigen, membuat Kuroko harus menarik nafas dua kali lebih banyak dari biasanya. dia melihat bagaimana Akashi juga mulai tampak putus asa. Sial! Akashi begitu mencintai Furihata, membuat Kuroko mau tak mau harus sadar diri!

Furihata masih tak menjawab. Telapak tangan Akashi terasa hangat di permukaan kulitnya. Tatapan lelaki itu seakan menjeratnya kuat, memaksanya membatalkan apa yang baru saja dia lontarkan. Dari sudut matanya, dia dapat melihat Kuroko mulai berdiri. Dan Furihata yakin dapat melihat sedikit emosi kekalahan dari iris biru itu.

"Furihata kun, kau tak perlu khawatir. Aku tak akan mengganggu hubungan mu dengan Akashi kun. Jadi kau tak perlu menolak Akashi kun hanya karena keberadaan ku." Kuroko mencoba membantu. Berharap Furihata mau memikirkan ulang jawabannya lagi. "Aku pergi." Pamitnya.

Kuroko mulai beranjak. Berjalan dengan cepat ke pintu keluar. Akashi menatap punggung kecil itu dengan perasaan bersalah yang semakin besar. Oh, Tuhan! Dia baru saja membuang sahabatnya sendiri! Orang yang selalu bersamanya sejak kecil. Orang yang di janjikan untuk selalu dia lindungi. Akashi adalah manusia paling brengsek di dunia!

Furihata tak mencegah Kuroko kali ini. Dia yakin, Kuroko juga sudah tak tahan berada di sana. Memaksa Kuroko tinggal hanya akan menghancurkan hati lelaki itu. Walau Furihata sangat yakin, jika Kuroko sudah cukup hancur mendengar jawaban Akashi tadi. Dia merasa bersalah membuat Kuroko ikut terseret dalam masalah ini.

Furihata tak membenci kakak kelasnya itu. Kuroko cukup menarik perhatiannya. Sejak awal bertemu, Furihata berfikir akan sangat menyenangkan bisa menjadi teman dekat Kuroko. Tapi takdir membuat mereka berada dalam posisi yang sulit. Furihata sendiri tak merasa takut Kuroko akan merebut Akashi dari sisinya. Kuroko bukanlah orang yang picik. Dia hanya takut, jika suatu hari Akashi menyadari keberadaan Kuroko yang begitu penting untuknya. Dan Furihata tak ingin, jika nanti Akashi meninggalkannya hanya untuk mempertahankan Kuroko.

Furihata menggenggam tangan Akashi yang masih berada di pipinya. Meremasnya pelan, Furihata melepas tangan itu dari wajahnya. Dia menatap Akashi. Mata Akashi memerah. Ekspresi laki-laki itu penuh dengan harapan. Ini pertama kalinya Furihata Kouki melihat Akashi Seijuurou dalam keadaan berantakan. Dan hebatnya, dialah orang yang membuat Akashi jadi kacau seperti ini. Furihata merasa dia cukup layak untuk mendapat penghargaan. Haah.. itu hanya pemikiran konyolnya saja. Jangan diambil hati.

Akashi mulai duduk kembali. Menunggu lelaki bersurai coklat yang dia cintai untuk bersuara. Jantungnya serasa di pompa. Berdetak begitu kencang dan cepat.

"Aku tetap pada jawaban ku Akashi senpai. Tak ada yang berubah." Tegas Furihata. Matanya menatap menantang pada mata lawan bicaranya. Dia tak boleh memberikan celah sedikitpun pada Akashi. kalau tidak, lelaki itu akan kembali merasa masih memiliki kesempatan.

Akashi menatap tak percaya. Astaga! Apakah dengan membuang Kuroko masih belum cukup untuk Furihata? Apa lagi yang harus dia lakukan supaya lelaki ini percaya padanya?! Akashi tak menyangka jika cinta pertamanya akan sesulit ini. dia mengacak rambutnya, kasar.

"Kouki, apa lagi yang salah? Aku bahkan memilih mu. Tidak kah kau bisa melihat keseriusan ku dengan mu?" lirih Akashi. Suaranya parau.

Furihata ingin sekali menerjang lelaki di depannya ini. memeluknya penuh cinta, menciumnya penuh kasih. Tapi dia menahan dirinya. Dia menindih punggung kakinya dengan kaki kursi yang dia duduki, kala sesaat Akashi mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Jika Furihata tak melakukan itu, dia takut akan berjalan menuju Akashi. Memeluknya erat, dan membatalkan keputusannya. Furihata tak boleh goyah sedikitpun!

"Kouki.." panggil Akashi lagi, mencoba memohon untuk kesekian kalinya. Suaranya semakin pelan dan putus asa. Mengapa Furihata tak juga mengerti jika dia benar-benar mencintainya?!

"Senpai, aku mohon supaya kau menghormati keputusan ku. Jawaban ku tetap tak akan berubah. Tidak sekarang.. ataupun di masa depan!" putus Furihata. Dia menatap tepat ke manik mata Akashi. menyiratkan jika keputusannya sudah mencapai titik final, sekalipun pihak lawan masih belum menyerah. Dia tak ingin memperlarut masalah ini, di saat dia sudah merasa sangat yakin dengan keputusannya.

Furihata menahan betapa rasa perih begitu menusuk kakinya saat ini. Dia sedikit menyerngit, saat kakinya terasa mulai kebas. Dia tak boleh melepas tindihannya, atau kakinya akan berjalan tanpa perintah menuju Akashi. Wajahnya berpaling, menatap jalanan Tokyo yang makin tampak ramai, padahal beberapa toko mulai mematikan lampunya.

Akashi membeku. Mulutnya terasa berat untuk di gerakkan di saat emosinya terkumpul di benaknya, membuat otaknya serasa mau meledak. Nada suara Furihata begitu tegas, seakan tak ingin lagi di bantah. Akashi menghela nafas, lelah. Pasrah dengan keputusan yang tak dapat lagi dipatahkannya. Dia di pecundangi oleh takdir. Dan dia tak bisa melakukan apa-apa untuk membalasnya.

Akashi mulai berdiri. Dia nampak mencoba untuk bersikap tegar, walau emosinya masih sangat kacau. Dia memandang Furihata sekilas dan mulai berbicara.

"Baiklah." kata Akashi. suaranya berat dan dalam. "Jika kau begitu yakin pada keputusan mu, maka menghormatinya adalah hal terakhir yang bisa ku lakukan untuk mu." Dia kemudian mulai melangkah pergi. Meninggalkan Furihata, dan secangkir cappuccino yang belum terjamah sama sekali.

.

.

Furihata Kouki hanya diam. Tak mampu bergerak sedikitpun. Dia menatap keluar, kearah sepeda motor sport berwarna merah dan hitam melaju dengan sangat kencang menembus jalan Tokyo. Dia berharap tak terjadi hal buruk pada lelaki yang sedang mengendari motor dengan emosi itu. Dia akan mengutuk dirinya sendiri jika terjadi apa-apa pada Akashi.

Padam!

Seketika kafe itu menjadi gelap gulita. Hanya cahaya lampu jalan yang mebias masuk melalui dinding kaca kafe itu.

Tap! Tap! Tap!

Langkah itu berhenti tepat di sebelahnya. Seorang lelaki berseragam membawa sebuah baskom berisi es batu dan sehelai handuk kecil. Dia meletakkan baskom itu di meja, kemudian merangkul Furihata. Membantu lelaki yang sedang galau berat itu berdiri, lalu menarik kursi yang di duduki Furihata ke belakang. Menyelamatkan kaki Furihata dari himpitan kaki kursi besi itu.

Takao kembali mendudukan Furihata. Dia mengambil baskom dan berjongkok. Membuka sepatu Furihata yang tipis tanpa meminta izin. Dari cahaya yang minim itu, dia dapat melihat jika kaki Furihata memerah. Ada beberapa bercak merah kental di beberapa bagian.

Berdarah di dalam, batin Takao

Tentu saja! Sudah untung kursi besi itu tak menembus kaki Furihata! Lelaki bodoh ini tak berpikir ya, kalau dia menimpakan berat badannya pada kedua kakinya?! Takao merasa kesal dengan sikap bodoh Furihata. Jika ingin menahan diri, tak begini caranya!

Takao mulai membungkus pecahan es batu itu dengan handuk. Menekan-nekan pelan dan hati-hati pada punggung kaki Furihata yang dia letak di pahanya. Sentakan-sentakan terasa tiap handuknya menempel di permukaan kaki Furihata yang mulai membengkak. Tak terdengar suara apa pun sejak tadi. Seakan kedua makhluk itu enggan untuk membuka mulut.

Furihata membiarkan saja Takao yang mengompres kakinya. Rasa ngilu acap kali muncul setiap kali handuk dingin itu menyentuh permukaan kakinya yang terasa sangat perih. Tapi hatinya seratus kali lebih perih sekarang. Dia bahkan tak sanggup lagi menahan air matanya yang mulai membuat anak sungai. Furihata menggigit bibirnya., dan dia dapat merasakan rasa besi dari cairan merah kental mulai membaur di ludahnya. Tapi dia tak mengacuhkannya. Dia tak ingin Takao mendengar tangis memalukan miliknya.

"Kenapa kau melepaskannya?" Takao sudah cukup bosan dengan keheningan ini. dia juga tak mengerti kenapa Furihata malah melepaskan Akashi di saat lelaki itu sudah membuang sahabatnya yang paling berharga demi Furihata.

Furihata tak langsung menjawab. Dia mencoba menenangkan dirinya dulu. Dia tak ingin tampak lebih menyedihkan dari ini di hadapan Takao.

"Kenapa aku melepaskannya?" gumam Furihata, suaranya parau dan pecah. "Karena aku terlalu takut pada masa depan" jawabnya lirih.

Takao menoleh. Dia sudah menduga lelaki ini sedang menangis diam-diam, sehingga Takao memutuskan untuk tak berkomentar apa-apa tentang itu.

"Memang masa depan yang seperti apa yang kau takutkan?"

"Masa depan yang seperti apa?" Furihata diam sejenak. "Masa depan di mana dia mulai menyadari siapa yang lebih dia butuhkan untuk berada di sisinya"

Takao masih menekan-nekan lembut kaki Furihata. Suara kendaraan terdengar silih berganti. Seakan pengendaranya masih belum di goda oleh rasa kantuk.

"Tapi, bukankah dia memilih mu?"

Furihata tertawa, meledek. Akashi memilihnya? Memang benar Akashi memilihnya, tapi sampai kapan? Sampai Akashi menyadari jika Kuroko lebih berharga dari pada Furihata. Tidak bisa! Furihata tidak bisa menerima Akashi, dengan kemungkinan yang seperti itu.

"Dia tak akan mampu melepaskannya. Sekalipun dia melakukan itu sekarang, dia akan mencarinya lagi di masa depan. Akashi senpai pernah bilang, hidup jauh dari Kuroko senpai adalah hal yang tak pernah terfikir sama sekali olehnya. Dia pasti hanya terbawa emosi saja tadi." Suara Furihata terdengar bergetar di indra pendengaran Takao.

"Kenapa kau memikirkan sejauh itu? masa depan adalah hal yang tak pasti. Bukankah sebaiknya kau fokus pada kehidupan yang sedang kau jalani sekarang." Takao sungguh tak mengerti kenapa Furihata menolak Akashi hanya karena masa depan yang bahkan masih tidak jelas. Furihata itu, bodoh ya?!

Furihata mendengus. Katakan lah jika dia bodoh. Maka dia orang paling bodoh di dunia. Dia terlalu ketakutan akan kemungkinan yang akan terjadi nanti, sehingga dia memilih untuk keluar dari lingkaran takdir yang kejam. Akashi dan Kuroko. Furihata hanya pihak ketiga di sana. Akan segera datang masa, di mana si tak peka Akashi menyadari siapa yang lebih dia butuhkan. Dan itu bukanlah Furihata Kouki.

"Aku sudah memutuskannya. Dan aku tak akan menarik keputusan ku." Tandas Furihata. Merasa sudah tak ingin lagi membicarakan masalah ini.

Takao menatap sejenak ke arah Furihata. Wajahnya tersembunyi, tertutup oleh bayangan. Hanya bagian dada ke bawah yang di timpa bias cahaya lampu jalan. Pasti sangat berat, saat kau memaksa hati mu melepaskan lelaki yang sudah membuang hal paling berharga untuknya demi dirimu. Tapi memang benar, akan lebih sakit, jika nanti di saat bersama dan dia mulai menyesali keputusannya. Takao kembali menekan lembut punggung kaki Furihata. Jika Furihata memilih untuk melepaskan, Takao bisa apa? Dia hanya karyawan toko yang tak sengaja menguping sesaat, dan memutuskan sengaja menguping sampai akhir.

"Aku pasti sangat di benci." lirih Furihata. Terdengar sarat kesedihan.

"Kenapa kau harus di benci?"

"Karena aku sudah berani-beraninya menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Semua orang berkata jika aku adalah pengganggu."

Takao tau, tentang gosip yang beredar selama ini. dia mendengar sesekali saat berjalan ke kantin atau menghabiskan waktu istirahat di taman sekolah, tentang Furihata yang di benci oleh para murid perempuan. Mereka bersimpati pada Kuroko yang mulai terabaikan oleh Akashi. Mereka menyerang Furihata secara mental dan sosial, khas sifat perempuan, supaya Furihata sadar akan tempat dan posisinya. Dan tampaknya, mereka berhasil. Ketakutan Furihata adalah buktinya. Mungkin kejadian malam ini, tak lepas dari beban mental yang dia hadapi di sekolah.

Takao mengehembuskan nafas, sebelum mulai menjawab..

"Kau tau.. bahkan pemeran pembantu atau piguran sekalipun, adalah tokoh utama dalam kisah mereka sendiri. Mereka punya hak untuk jatuh cinta dan bahagia. Tak ada yang akan mengatakan kau pihak ketiga atau pengganggu hubungan orang, jika mereka mau mengubah sedikit sudut pandang mereka."

Memangnya kenapa jika kau hanya orang ketiga? Itu tak membuat hati mu menjadi keras, kan? Kau tetap menangis saat hati mu terluka dan bersembunyi dalam kegelapan supaya tak di kasihani. Kau bahkan tak mengacuhkan kaki mu yang kau tindih dengan kaki kursi yang terbuat dari besi demi menahan hasrat untuk menyerah padanya. Kau mengorbankan hati mu sendiri, melukainya dan mengancurkannya. Tapi kau masih mengumpulkan serpihannya. Berteriak betapa menyedihkan dirimu sekarang dalam keheningan. Dan kemudian, setelah itu.. kau pasti akan lega, jika suatu hari nanti kau bukanlah menjadi pihak yang di campakkan. Kau kalah dengan terhormat, Furihata Kouki!

"Tak perlu khawatir, Furihata. Tak ada yang perlu kau khawatirkan jika itu tentang cinta. Penyebab dan obatnya adalah hal yang sama. Jika kau terluka, itu berarti kau akan segera sembuh kembali." Tandas Takao. Dia meletakkan handuknya di baskom, dan memasangkan kembali sepatu Furihata dengan hati-hati.

"Itukah alasan mu tetap mencintai Shintarou sekalipun dia menunjukan sikap yang buruk padamu?" Furihata menoleh menatap Takao. Dia melihat lelaki itu membeku sesaat. Kemudian mulai membereskan baskom dan handuk yang dia pakai untuk mengompres Furihata tadi.

"Tunggulah sebentar, aku akan mengantarmu pulang." Takao tak menjawab pertanyaan Furihata. Dia bergegas ke dalam. Meninggalkan Furihata sendirian dalam keremangan kafe.

Furihata mencoba menggerakkan kakinya perlahan. Dia meringis, saat denyutan keras terasa menusuk ke tulangnya. Dan entah kenapa denyutan itu juga menyebar ke hatinya. Membuat isakan kembali menggantung di ujung lidahnya.

"Hiks!" satu isakan akhirnya lolos saat langkah Takao sudah tak terdengar.

"Hiks! Hiks!" Furihata tak cukup kuat. Demi Tuhan, dia mencintai Akashi! dia akan melakukan apa pun demi menahan lelaki itu di sisinya. Tapi apa dia sanggup, jika nanti takdir baik tak lagi berpihak padanya?

"Hiks! Ugh.. ah! Hi-hiks! Hiks!" Furihata tergugu. Dia memeluk dirinya sendiri dan menunduk, membenamkan wajahnya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar. Terlalu ringkih untuk menahan hatinya yang serasa terhimpit saat ini. Dia yang salah! Dia yang melepaskan Akashi! tapi, kenapa hatinya yang terluka begitu dalam? Dia sudah mempersiapkan dirinya, tapi kenapa dia tetap tak dapat menampung semua rasa sakit hatinya dalam ketegaran?

Furihata Kouki, menyerah kalah pada ketakutannya!

.

.

Akashi memelankan laju motornya. Motor sport itu perlahan dan pasti berhenti di pinggir sungai. Lampu-lampu hias menerangi pinggir sungai yang mengalir dengan tenang. Terasa menyakitkan di lensa mata lelaki bersurai merah itu. dia turun dari motornya, berjalan ke pinggir sungai. Akashi membungkuk, memegang pahanya. Raut wajahnya kacau. Matanya memerah dan tampak sarat akan emosi. Hatinya terluka! Sangat terluka!

Kenapa serumit ini? kenapa berakhir kacau seperti ini? Akashi tak pernah mengerti kenapa hidupnya yang nyaman bisa berubah hanya dalam beberapa jam. Kenapa takdir suka sekali melihatnya dalam kesulitan? Apa bisa bersama orang yang dia cintai, jadi sebegitu mustahilnya?!

Kuroko?! Furihata?! Gosip?! Akashi muak! Muak dengan hal-hal yang terlalu ikut campur mengambil bagian dari kisah hidupnya. Muak dengan hal-hal konyol yang malah mampu membelokkan takdirnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Berjalan mondar mandir, menendang apa pun yang tampak. Akashi mengambil sebuah batu, melempar kuat ke tengah sungai.

"AARRRRGGHHHHH!"

.

.

Ibunda Kuroko mencoba mengetuk pintu kamar anaknya. Iris birunya yang serupa, tampak khawatir. Dari belakang, dia dapat mendengar langkah kakii suaminya mendekat. Lengan kekar penuh kehangatan memeluk bahunya, menenangkan. Tatapan mata suaminya begitu teduh, membuat perasaannya sedikit tenang.

Orang tua mana yang tak terkejut, mendapati anak semata wayang mereka pulang dalam keadaan bak mayat hidup. Pandangan matanya kosong, tapi sarat penuh luka. Wajahnya tampak di liputi kesedihan yang dalam. Selama ini Kuroko tak pernah menunjukan ekspresi seperti itu. dia berjalan masuk tanpa memberi salam atau menyapa orang tuanya seperti biasa. Membuat ayah dan ibunya menjadi sangat khawatir.

Dan di sinilah kedua Kuroko senior itu sekarang. Mencoba memanggil dan mengetuk pintu kamar anak tercinta mereka. Belum ada respon sejak setengah jam yang lalu. membuat kekahawatiran Nyonya Kuroko semakin besar. Apa yang terjadi pada putranya? Kenapa dia tampak begitu hancur?

Ceklek!

Pintu kayu itu terbuka. Menampilkan wajah kacau Kuroko dengan mata sembabnya. Wajahnya memerah. Kuroko menunduk, berjalan pelan masuk dalam pelukan Sang ibunda. Tubuhnya bergetar dalam belain hangat yang menyapu punggungnya. Isakan bisu teredam di bahu bundanya yang terasa begitu hangat dan menenangkan.

Tuan Kuroko membawa anak dan istrinya masuk ke kamar. Duduk di tepian kasur yang tampak lecek. Bantal Kuroko tampak basah, mungkin bekas air mata. Kepala keluarga itu merangkul anak dan istrinya, berharap beban berat yang di tanggung anak kesayangannya dapat berpindah padanya walau hanya sedikit.

Kuroko melepas pelukan ibunya. Wajahnya masih menunduk. Rambutnya lepek dan tubuhnya basah oleh keringat. Dia merasakan rangkulan Sang ayah yang seakan menjaga tubuh kecilnya dari kekejaman takdir. Merasakan belaian Sang bunda pada surainya, dan genggaman hangat telapak tangannya. Kuroko mengambil nafas, menguatkan hati akan permintaan yang ingin segera dia lontarkan.

"Ayah, ibu. Bolehkah aku melanjutkan sekolah ku di luar negeri?"

.

.

.To Be Continue..

.

.

Cuplikan chapter depan

"Kurokocchi.. kau lolos sebagai peserta 'Rumah Jodoh'! selamat yaa~"

"A-apa?! Kenapa aku bisa masuk acara tak jelas begitu Kise kun?"

"Aaa.. jangan khawatir, aku juga pesertanya kokkk~"

"Kouki, kenapa kau seenaknya mendaftarkan ku dalam acara aneh begitu?"

"Itu bukan acara aneh, Shintarou. Itu 'Rumah Jodoh'. Tempat yang cocok untuk lelaki kesepian seperti mu"

"Siapa yang kesepian Furihata Kouki sialan?!"

"Hishashiburi danna, Tetsuya. Tak terasa sudah delapan tahun ya kita tak bertemu"

"Ak-akashi kun?! Kenapa kau ada di sini?'

"Tentu saja kan, itu karena Akashicchi jomblo!"

.

.

a/n: haloooo semua.. :D

makasih banyak untuk kalian yang udah baca, review, favorite, daan follow fic ini

aku beneran gak nyangka dapat respon sebanyak itu

oya, mulai chapter depan cerita akan mulai sama dengan summary :D

ceritanya juga gak bikin baper kayak dua chapter ini kok..

maaf ya aku kelamaan update ^^

jujur aja chapter 2 ini beneran bikin aku stres!

Aku itu tipe orang yang kalo nulis gak bikin kerangka. Kalo ada ide ya tancap!

Alhasil, aku jadi pusing tujuh keliling bikin cerita supaya tetap nyambung dengan ide-ide lain yang gak tersusun rapi di otak aku, haahh.. -_-

Karena itu, aku berharap banget bisa tau pendapat kalian untuk chapter ini

Mohon reviewnya yaa.. :D

.

.

Aku balas review untuk yang gak login dulu yaa~

nat04otakufor: jangan bejek furi dong.. kasian :D maaf updatenya kelamaan :D

Aziichi: makasih :D ini udah update.. ^^

Yuki: akakuro? Sabar.. chapter depan udah akakuro kok :D

Faira: ini udah update.. maaf ya kelamaan :D

Miku: haha.. akashi masih labil sih, 16 tahun gitu. Kuroko punya pasangan? Boleh juga tuh.. :D

Seidocamui: mulai chapter depan akakuro kok.. :D

Ai: tenang, karma itu pasti berlaku kok.. :D akashi yang menderita kan? Haha #ketawaiblis

Aka to Kuro: summary nya itu adalh poin penting cerita. Mulainya baru juga chapter depan :D ending akakuro? Pasti kok :D

Kyu: 1. Karena ini masih chapter satu :D 3. Karena aku udah bikin akakuro di summary. Kalo ada pair lain, aku pikir biar itu jadi kejutan aja. 4. Dislaimer? Jika yang kamu maksud nama mangakanya, aku mengakui jika aku salah gak cantumin itu. di chap ini udah aku perbaiki kok. Judul? Maksud kamu kenapa judulnya gak sama dengan isi cerita dan aku gak beri penjelasan? Karena fic ini multichapter dan masih on going. Sabar dong say.. :D 5. Akashi bokushi atau oreshi? Aaa.. gak mau kasih tau ah! Aku lebih suka kalo kamu penasaran :D aku gak anggap ini flame kok, makasih kyu udah baca fic gaje ini ^^