I Hate You
Karya : Nakashima Aya


Summary : Apa yang kau lakukan ketika sahabat baikmu dipermalukan sedemikian rupa dihadapan publik oleh si megane menyebalkan itu? Siapa lagi kalau bukan Tsukishima Kei dan mulut ularnya. Aoi Cherika memilih untuk menampar pemuda itu dan menendang kaki kebanggaannya itu keras – keras. Dan hubungan mereka berawal dari rasa saling ingin menampar satu sama lain.

Disclaimer : Pokoknya Haikyuu bukan milik saya.

Genre : Friendship, Humor, Romance.

Warning : OC, OOC, OOT(maybe), Typo(s), KarasunoAU!, Tsukishima Kei X OC (Aoi Cherika)

.

.

.

Please Enjoy to Read!

.

.

.

2 of 10

Tsukishima Kei mendecih kesal ketika mendapati tatapan tajam dari arah yang berlawanan dari bangkunya saat ini. Dan ia tahu asal tatapan itu. Aoi Cherika. Kenapa juga ia harus sebegitu dendam pada Tsukishima? Sungguh Tsukishima tidak senang jika gadis itu menatapnya semacam itu, bukan tatapan yang biasanya ia tujukan padanya, tatapan cuek dan tidak peduli yang biasa ia keluarkan pada sekitarnya.

Tsukishima tidak berbohong jika ia mengatakan bahwa ia tertarik pada gadis itu. Bahkan sejak awal masuk ke kelas ini, hanya gadis itu yang mampu membuatnya mengalihkan perhatian dari pelajaran. Yang paling ia sukai dari gadis itu adalah cara bicaranya dan ketenangan yang selalu hadir setiap gadis itu berada dalam jarak jangkaunya. Yah, bukan berarti Tsukishima mencintainya, Tsukishima tidak peduli dengan emosi manusia yang menggelikan semacam 'cinta', namun ia berkata jujur jika ia mengangumi gadis beriris topaz dengan otak tercerdas di kelas 1-4 itu.

Ia jadi agak risih semenjak Aoi Cherika selalu menatapnya kasar, hanya gara – gara kejadian permainan Truth or Dare yang terjadi beberapa hari yang lalu. Jika bisa, Tsukishima ingin kembali ke masa lalu dan menarik kembali kata – katanya. Sebelum Cherika menamparnya dan membuat lutut bagian kanannya memar selama beberapa hari. Padahal satu minggu lagi akan ada latih tanding dengan sekolah lain. Ia tidak bisa tampil lemah di hadapan rekan se-tim nya.

Tsukishima semakin tidak fokus pada apa yang dijelaskan sensei di depan kelas. Sebenarnya alasannya mengatakan hal kurang menyenangkan pada Ayaka bukan karena ia membenci gadis itu atau apa, ia hanya ingin Ayaka segera melupakannya karena ia tidak ingin Ayaka kecewa jika tahu Tsukishima tertarik pada sahabatnya. Garis bawahi tertarik.

Pada akhirnya hingga jam pelajaran selesai, Tsukishima tetap tidak bisa fokus pada pembelajaran.

.

.

.

"Hah? Kau ingin meminta maaf padanya?" Cherika hampir saja tersedak bekal makan siangnya ketika Ayaka dengan entengnya mengatakan bahwa ia ingin meminta maaf pada Tsukishima.

"Yah, jujur saja, aku sudah tidak menyukai Tsukishima lagi. Aku tau diri jika Tsukishima tidak mungkin tertarik pada gadis biasa sepertiku. Tapi, kurasa memperbaiki hubungan sebagai seorang teman bukanlah hal yang buruk, ya 'kan Cherry – chan?" Cherika hanya bisa menghela nafas, ia tidak tau harus mengatakan apa. Ia tidak akan bisa membuat gadis ini mengubah pemikirannya. Yang ia takutkan adalah ketika gadis ini meminta maaf pada Tsukishima, ia takut si megane itu akan mencercanya lagi, dengan kata – kata yang kasar.

Lagipula seharusnya Tsukishima yang meminta maaf. Bukan Ayaka.

"Terserahmu sajalah," ujarnya sambil menutup kotak bekalnya. Ia menyerah sudah. Terserahlah apa yang ingin dilakukan sahabatnya itu. Tepat setelah itu, Tsukishima membuka pintu kelas, menimbulkan bunyi krieet perlahan yang tidak dipedulikan seisi kelas.

"Ah, Tsukishima – kun!" Cherika menoleh mendapati sang blocker Karasuno berada di depan pintu. Dan Ayaka langsung meninggalkan kotak bekalnya dan berlari kecil menuju Tsukishima. Cherika hanya mampu mendengus kesal.

Tsukishima memandang heran gadis yang memiliki hubungan erat dengan Aoi itu. Ia berdiri diam di depan pintu, bersama Yamaguchi yang masih setia menemaninya. Ia cukup terkejut ketika melihat Ayaka membungkukkan badannya secara tiba – tiba.

"Gomenasai. Aku sungguh meminta maaf jika aku membuatmu merasa risih atau semacamnya. Tapi kumohon jangan bermusuhan dengan Cherry – chan lagi." Hah? Tsukishima hanya mengangguk singkat sambil lalu beranjak ke bangkunya.

'Siapa juga yang ingin bermusuhan dengan gadis itu.' Tsukishima kembali memasang headphone-nya dan duduk sambil menutup mata. Ayaka berlari girang kembali ke bangku Cherika, tempat ia menghabiskan sisa jam istirahatnya.

"Sekarang semuanya akan baik – baik saja. Bagaimana aksiku tadi Cherry – chan?"

"Apa maksudmu? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu. Lagipula siapa juga yang ingin berbaikan dengan lelaki macam dia?" Cherika mengerucutkan bibirnya kesal. Sungguh ia tidak mengerti jalan pikiran gadis ini.

"Sudahlah… Kau akan berterima kasih padaku karena melakukan ini, suatu hari nanti. Dakara jangan menatapnya seperti itu lagi, Cherry – chan. Kau menakutkan ketika seperti itu." Dan dengan itu Ayaka melenggang pergi kembali ke tempat duduknya. Bersiap untuk pelajaran selanjutnya.

"Mou, terserah. Aku juga sudah lelah bersikap ketus terus – menerus." Meskipun hanya terdengar lirih, Tsukishima bisa mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan bibir mungil Cherika. Dan mau tidak mau seberkas senyum kini tengah merambat di wajah tampannya.

.

.

.

Chapter 2 finish!

Terima kasih atas segala dukungan kalian, melalui review, fave, bahkan hanya silent reader. Saya sangat senang karena kalian mau membaca karya ini.

Thank You!

Please your comment?

Salam Hangat,

Nakashima Aya