Kutemui Pangeranku

AkashixReader, GoM, Kuroko, Seirin, Rakuzan

Tokoh yang bersangkutan hanya milik Fujimaki Tadatoshi

Disini reader sebagai sudut pandang orang pertama 'aku'

Warning : Typo, Ide Mainstram

Chapter 2 : Ulang Tahun Kuroko

"Teman-teman, Sabtu depan Kuroko ulang tahun. Kita adain pesta yuk." Sahut Furihata semangat.

"Iya bener, tapi kita doang nih anak kelas 10?"

"Ajak senpai juga lah, pokoknya anak-anak basket harus ikut."

"Tapi aku sabtu depan mau pergi, Ibuku nyuruh aku ikut."

"Emang pergi sampai jam berapa?"

"Paling sore sih."

"Yaudah pestanya malem aja, toh Kuroko juga bisanya malem." Kata Kagami setelah mengajak Kuroko ikut pesta.

"Okay."

Pada tanggal 31 Januari, negara beriklim sedang ini tengah mengalami musim dingin yang bertepatan dengan ulang tahun pemain basket nomor sebelas. Anak-anak Seirin awalnya ingin mengadakan pesta pada siang hari, namun karena yang berulang tahun tidak bisa dan aku juga pergi bersama keluarga akhirnya diundur menjadi malam hari. Turut menyesal aku tidak bisa ikut mempersiapkan pesta tersebut karena ibuku tercinta ingin shopping sekeluarga. Sebenarnya aku tidak ingin ikut, namun karena 'Ibu selalu benar' dan 'The Power of Emak' jadi harus nurut.

"Ibu, ayah, jangan pergi lama-lama ya ada acara ulang tahun temen."

"Kapan acaranya?" tanya ayah

"Nanti malem."

"Memangnya siapa yang ulang tahun?" tanya ibuku.

"Kuroko, Bu."

"Oh si Kuroko yang tiba-tiba muncul tiba-tiba ngilang?" tanya ayahku sambil mengingat ingat cerita tentang teman-temanku.

"Ga tiba-tiba muncul tiba-tiba ilang juga ayah, cuma hawa keberadaannya tipis jadi kesannya begitu, sebenarnya dia ga pernah ngilang, dia kan bukan hantu."

"Iya-iya, ayah ngerti kok. Bukannya dia itu temen SMP kamu juga ya? "

"Hmm, emang kenapa?"

"Waah berarti sekalian ketemu sama temen-temen basket SMP kamu dong?" tanya ibuku.

"Kayaknya engga deh, soalnya yang dateng anak Seirin aja."

"ih sayang banget ya, padahal bisa sekalian reunian tuh. Kan bisa sekalian ketemu si itu." Timpal ibuku sambil mengedipkan mata ke arahku. Entah mengapa jadi semangat seperti itu.

Sesampai di tujuan, aku dan ibuku pergi membeli kebutuhan sehari-hari sekalian membeli kado, sedangkan ayah dan adikku menunggu di Café. Aku pun bingung sebenarnya ingin membeli apa. Kalau jam tangan terlalu biasa, Bola basket kemahalan dan kebesaran, akhirnya aku putuskan untuk melihat-lihat dahulu.

"Ada Maibou rasa baru, beli dua gratis satu." Sahut mba-mba SPG dengan riang. Jadi ingat seseorang.

"Emang rasa apa Mba?" aku malah jadi tertarik.

"Rasa jagung, Kak." Jawab Mbaknya ramah. Anggap aja ada rasa jagung.

"Mau deh beli dua, biar jadi tiga."

"Terima kasih, mau beli rasa lain?"

"Oh tidak, terima kasih, ini aja."

Sebenarnya aku tidak terlalu suka maibou, namun pada dasarnya suka ngemil jadi penasaran ingin mencoba, toh aku punya adik juga jadi bisa ngasih ke dia.

Setelah ibuku selesai belanja aku memutuskan untuk pergi ke toko buku. Siapa tau aku dapat menemukan hadiah disana, lagipula Kuroko suka baca buku. Akhirnya aku bisa menemukan buku novel yang menurutku bagus, yah semoga dia suka karena buku yang kubeli pengarangnya sama dengan buku yang pernah ia baca dan buku ini terbitan baru.

Tak terasa langit mulai gelap, kami sekeluarga memutuskan untuk pulang sambil mengantarkan ku kerumah Kagami.

"Tok tok". Aku menunggu di depan pintu hingga Kagami datang.

"Kemana aja, udah pada dateng tahu." Sambut Kagami

"Ya maaf, kan aku udah bilang kalo pergi dulu sama ortu."

Saat aku masuk, ada laki-laki berambut dongker dengan poni menutup mata serta lelaki berambut dongker belah tengah.

"Loh, kok ada Takao-kun sama Himuro-san?"

"Konbanwa [name]-san." Sapa mereka berdua bersamaan.

"Konbanwa Takao-kun, Himuro-san."

"Kamu bakal lebih kaget lagi kalo ngeliat yang lain." Jawab Aida Riko.

"Selamat datang [name]cchi, kirain gadateng. Udah lama ya gak ketemu. Kangen-ssu" Dengan suara cempreng khasnya yang alay.

"Hallo [name]chin." Dengan suara malas.

"Yo [name], kemana aja?" Sambil melambaikan tangan yang baru dipake ngupil. Untung ga megang-megang

"Hai [name] baru dateng? Bukannya nungguin atau apa cuma nanya aja nanodayo?" you know lah si Tsundere

"Hallo [name], selamat datang." Denger suaranya aja udah dag dig dug. Gausah disebutin ya siapa, udah tau kan?

"[Name]chaannn….. aku nungguin kamu loh, minna juga." Sambil memelukku dengan kencang. Aku seneng sih dipeluk, tapi sadar diri dong 'itunya' besar, kan jadi sesak.

"Haai Kise, Mukkun, Aomine, Midorin, Akashi, Momoi. Sumpah aku gak nyangka banget kalo kalian pada dateng, apalagi Akashi sama Mukkun, kalian kan jauh banget."

"Soalnya tadi aku sama mereka ketemuan terus main basket, terus aku ajak kesini." Tiba-tiba Kuroko menjawab dan tentu saja aku kaget.

"Sejak kapan kamu disitu? Kebiasaan deh muncul tiba-tiba."

"Dari sebelum kamu dateng."

"Loh jadi kalian ketemuan? Kok ga ngajak aku sih?"

"Kata Kagami-kun kamu kalo pergi dari siang sampai sore jadi ga aku ajak."

"Ih kalo tau kalian bakal ketemuan aku bisa ngebatalin pergi padahal."

"Hmm pas kami mau ngadain pesta siang kamu bilang gabisa, pas kisedai mau pada dateng malah bisa ya, oh, jadi kamu gitu ya [name] sama kita-kita?" Celetuk Kawahara.

"Hehehe becanda kok becanda. Lagian kalo kalian kan tiap hari ketemu, kalo kisedai kan jarang." Jawabku enteng sambil cengengesan.

"Bilang aja ada udang di balik bakwan." Hyuga-san, sang kapten mulai deh. Apa coba maksudnya.

"Oh jadi disini ada bakwan pake udang ya? Jadi pengen." Jawabku ngaur.

"Oh ya Kuroko aku bawa sesuatu nih, anggap aja hadiah." Loh bukunya mana? Maibounya juga gaada lagi.

"Tok tok tok." Itu siapa lagi coba. Lalu Kagami menyambut tamu tak terduga itu.

"Ada apa-, Oh, ibunya [name], tumben kesini, mau ketemu anak tante ya?" tanya Kagami. Benar-benar tamu yang tak terduga. Mendengar ibuku datang, aku langsung mendekati pintu masuk.

"Ini hadiah kamu sama cemilan kamu, bisa-bisanya ketinggalan, masih muda juga." Omel ibuku sambil memberi barang-barangku.

"Arigatou, Okaasan."

"Konbanwa, Obasan, masih inget sama saya kan-ssu?" Tiba-tiba Kise menyapa Ibuku, maklum Kise waktu SMP suka main kerumahku dan cukup akrab dengan ibuku.

"Ohh Kise ya? Kirain kamu ga kesini. Berarti yang lain kesini juga dong. Udah lama ya ga ketemu. Makin ganteng aja Kise ini."

"Ah bisa aja-ssu, iya yang lain juga pada kesini."

"Eh itu yang rambutnya belah tengah sama yang poni nutupin mata siapa? Kok baru liat?" Ibuku antusias melihat dua lelaki berambut navy blue itu.

"Itu Takao sama Himuro-san."

"Ooh Ganteng juga ya." Bisik Ibuku. Ya ampun punya ibu kok gini amat sih, pantesan anaknya mupengin doi terus.

"Hissashiburi, Obasan". Sekarang malah Akashi nyapa Ibuku.

"Eh, Akashi makin ganteng aja, gimana kabar bapakmu?"

"Baik Basan, kabar Ojisan gimana?" sambil tersenyum manis, aku sih pura-pura gak liat.

"Baik-baik kok semua."

Lalu Ibuku menyapa teman-teman SMP dan SMAku yang lainnya. Anak Kisedai, Momoi serta Seirin mengenal Ibuku karena mereka pernah bermain kerumahku. Ibuku ini orangnya sangat terbuka dan ramah terhadap teman-temanku. Namun tidak semua anak Seirin Ibuku ingat namanya, paling hanya Riko-san, Hyuga-san, Kiyoshi-san, Furihata, Koganei-san dan pastinya sangat ingat kepada Izuki-san karena menurut beliau Izuki itu paling ganteng dan lucu. Kalau Kisedai beliau hapal semua karena warna rambut mereka terutama Kise dan Akashi. Intinya Ibuku langsung hapal sama orang ganteng dan nyentrik. Ibuku sebenarnya mengenal Akashi selain karena ganteng -kataibukusihtapiemangiya- juga karena orangtuaku dan orangtuanya saling mengenal satu sama lain, bisa dibilang mereka berteman.

"Akashi udah punya pacar belum?"

"Belum, Basan." Jawab Akashi singkat.

"Hmm, pantes aja kamu pengen kesini, ada udang dibalik bakwan." Kata ibuku sambil menoel-noel pipiku. Entah mengapa ada beberapa orang disekitarku mulai tertawa menyebalkan.

"Oh ya ibu mending pulang aja, kasihan ayah sama ade nungguin." Langsung aku potong, bisa-bisa makin ngelantur nanti.

Ibuku pamitan dan langsung pulang. Lalu aku memberi hadiah buku kepada Kuroko dan satu buah maibou ke Murasakibara. Entah mengapa wajah mereka yang satunya datar kayak triplek dan yang satunya ogah-ogahan berubah menjadi semangat seperti anak kecil melihat balon gratis.

Acara pesta pun berlangsung mulai dari pembukaan dimana Riko-san menjadi Master of Ceremony, acara makan-makan yang terbilang rusuh. Hingga akhirnya sesi penutupan dan foto-foto. Momoi dan Kise menyuapi Kuroko yang sudah kenyang, Aomine dan Kagami bersaing siapa yang paling cepat makannya, Lucky item Midorima dijadikan penyedap tambahan, Furihata sama Akashi jadi klop, sampai Kuroko menghilang lagi lalu diberi ucapan selamat.

"Pokoknya pertama-tama kita semua dulu foto, lalu anak Seirin, terus anak-anak alumni Teiko, abis itu terserah kalian. Tapi tertib ya, jangan rusuh." Sahut Riko-san agar lebih kondusif. Lalu apa yang Riko-san bilang terlaksana dengan baik. Namun setelah itu…

"Pokoknya aku mau foto sama Kuroko dulu berdua, lalu foto satu-satu sama anak-anak Kisedai, Momoi, Himuro-san, Takao-kun." Sahutku semangat.

"Gamau foto sama anak-anak Seirin?" Tanya Kagami.

"Gampang itu mah kapan-kapan juga bisa."

"Tapi Kuroko juga anak Seirin ."

"Kan Kuroko yang ulang tahun, jadi harus foto sama dia juga."

"[Name] tuh sebenarnya pengen foto sama salah satunya aja, tapi biar ga keliatan jadi sok pengen foto sama semuanya. Ada udang dibalik bakwan. Kitakore!" Kata Izuki.

Aku sih diem aja, bener soalnya. Tapi kenapa harus ada kalimat 'ada udang dibalik bakwan' sih? Bosen tau. Kenapa gak sambil menyelam minum air atau apa gitu.

Sang Master of Ceremony langsung mengabsen satu-satu untuk bergiliran foto. Aku pun mendapat giliran foto bersama dengan Kuroko dan yang lainnya satu per satu menggunakan hapeku. Akhirnya aku berfoto dengan Akashi dan saat itu hapeku mengalami gangguan.

"Ini kok hapenya tiba-tiba mati sih?" Tanya Kiyoshi sang photografer gaptek dadakan.

"Ooooh ini aku pake fingerprint, mungkin kamu kepencet tombol power kali makanya gabisa dibuka."

"Ini kamera yang mana ya?" Kiyoshi makin bingung

Aku pun mangambil kembali hapeku.

"Sini sama aku aja. Yaah kok malah Mob*le Leg*nd sih yang kepencet."

"Ya ampun gausah grogi kali, baru foto." Timpal Furihata. Padahal dia sendiri takut sama Akashi. Minta digiling ini orang. Akhirnya aku bisa sedikit lebih tenang dan memencat aplikasi kamera dengan benar.

"Tenang saja, aku tidak buru-buru kok, lagipula aku senang bisa foto bersama." Kata Akashi sambil menepuk pundakku pelan dan tersenyum. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku darinya. Wajah kami cukup dekat. Blusshhhh. Gaswat mukaku memerah.

"ppfftt hahahahahahaha." Furihata, Takao, Izuki, Kiyoshi pada ketawa semua. Akashi diam saja.

"Udah ih ayo cepetan fotoin." Aku harus menghentikan mereka dan foto sama Akashi.

Setelah insiden foto dengan Akashi, mereka masih rusuh foto-foto selfie, boomerang, dan sejenisnya. Mereka yang sudah merasa puas akhirnya pulang ke tempat masing-masing terkecuali anak-anak Seirin yang harus berbenah.

"Ciee yang habis foto bareng, cie yang akhirnya ketemu."

"Udah nyapu mah nyapu aja gausah nyenggol-nyenggol Koganei-san."

"Kamu keliatan banget tau sukanya." Kata Aida Riko sambil cuci piring.

"Kalian sih ngeledek terus."

"Kamu tuh harus keep calm and cool walau diledek gitu." Timpal Kagami sambil geser-geser meja.

"Au ah gelap."

Teng nong, anggap aja bunyi notofikasi chat di hape.

Akashi : Foto yang tadi dong

Aku : *send a photo*

*send a photo*

*send a photo*

Akashi : Thanks ya…

Btw warna baju kita sama-sama merah maroon ya

Aku : You are welcome. Hahaha iya bisa samaan gitu warnanya, tapi beda model sih.

Akashi : Iya kamu benar.

-Omake-

"Kayaknya [Name]cchi suka Akashicchi soalnya pas tadi kayak malu-malu gitu sama Akashicchi-ssu."

"Masa sih? Bukannya aku penasaran cuma nanya aja nanodayo."

"Aku suka [Name]chin kalo dia ngasih Maibou."

"Gaada hubungannya Murasakibara." Sahut Aomine

"Ihhh kalian gaasyik kalo ngomongin masalah beginian. Aku minta tanggapan Akashicchi dong atas omonganku tadi." Kise sedikit memanyunkan bibinya dan memelas pada Akashi.

Akashi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya. Bunyi ponselnya berdering dan ia membuka hapenya sambil tersenyum setelah melihat chat dari suatu instant message.

Mohon maaf ya guys, udah lama ga update karena belum sempat dan sempat ragu untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih bagi yang sudah mereview dan membaca cerita yang sudah hampir punah ini. Saya usahakan agar cerita ini tidak punah walau slow update.