Title:
Reincarnation or Illusion
Cast:
Choi Seungcheol / Scoups / Prince Coups
Yoon Jeonghan
Hong Jisoo
OC
Rated:
M (Mature for Sex Scenes, Some Blood Scene, Mental Breakdown, Fantasy creature, and many more)
Summary:
Ketika cinta melelehkan hati yang dingin dengan segala keindahannya.
Ketika hati yang menghangat kembali membeku
Melihat kekasih hati pergi menyisakan lubang di hati
Ketika janji membelenggu dengan segala siksaannya
Ketika cinta kembali datang sebagai renkarnasi baru
Atau kembali hilang sebagai ilusi?
.
.
.
.
London, 2015
Jeonghan membuka matanya perlahan, tangannya terulur untuk meraih jam weker yang masih berdering. Ia mematikannya dan bangun dari kasur. Masih belum beranjak dari alas tidurnya, ia mengambil ponselnya dan membuka notifikasi pesan.
From : Lee "Dino" Chan
To : Yoon1004Jeonghan
Sub/CC : None
Text :
Hyung!... Neomu Bogosippeo...! Jal jinasseoyo?
Aku baik baik saja disini. Sudah lama aku tak mengirim pesan untukmu. Aku minta maaf TT_TT. Aku sedang sangat sibuk untuk mempersiapkan ujian masuk ke universitas. Aku ingin masuk ke Music and Art Director Kyungnam University. Aku harus belajar bukan? Apalagi di nilai – nilai teoriku yang jeblok. Hufffttt...
Aku benar-benar kangen padamu hyung. Kapan kau pulang, kudengar London dilanda badai besar beberapa waktu lalu. Aku sangat khawatir hyung. Tolong jaga kesehatanmu, minum obat penambah darah. Aku tidak mau kau terlalu merepotkan Jisoo hyung disana karena anemia-mu sering kambuh.
Sudah ya hyung. Disini pukul 8 malam. Balaslah cepat setelah membaca pesanku.
Dino
P.S : Kartu telepon untuk Inggris sekarang mahal hyung. Jadi sekarang aku hanya bisa lewat pesan hehehe...
.
.
.
Jeonghan hanya terkekeh membaca pesan yang dikirim adiknya itu. Ia segera mengetikkan balasan untuk adiknya. Beberapa menit berselang, namja berambut pirang kebiruan sebahu itu beranjak dari tempat tidur untuk mempersiapkan diri. Mandi, menyiapkan sarapan, dan bergegas ke kampus.
Yoon Jeonghan, mahasiswa semester tiga jurusan Ilmu sosial di Universitas London, Inggris. Ya, dilihat dari namanya dia memang orang Korea. Jeonghan menempuh pendidikan di London setelah mendapat beasiswa. Kalian bingung kenapa marganya dan Dino berbeda?
Karena Jeonghan sebenarnya adalah kakak sepupu Lee Chan atau biasa dia panggil Dino olehnya. Orang tuanya meninggal saat ia masih berumur 7 tahun. Hak asuhnya dipindahkan ke tangan paman dan bibinya yang notabene ayah Dino.
Pemuda cantik itu mengambil tasnya dan bergegas ke kampus. Disini Jeonghan tinggal di sebuah apartemen sederhana yang tidak jauh dari kampus. Sebenarnya Jisoo sudah menawarkannya untuk tinggal di rumahnya –sejak semester awal— tapi Jeonghan menolak. Ia benar-benar ingin hidup mandiri di negeri orang ini.
Ngomong – ngomong tentang Jisoo. Dia satu-satunya teman Jeonghan di kampus yang juga orang Korea. Jisoo –atau Joshua disini— sejak kecil lahir dan besar San Fransisco, Amerika. Tapi sekarang ia dan keluarganya pindah ke Inggris. Jeonghan sangat bergantung pada Jisoo di masa awal semesternya karena bahasa Inggrisnya yang sangat buruk. Walaupun sekarang ia tinggal sendiri, ia merasa masih tetap bergantung pada Jisoo.
Perjalanan dari apartemen Jeonghan ke kampus tidak jauh, sekitar 15 menit berjalan. Jeonghan meraih ipodnya dan menyetel musik lewat headset sembari berjalan, menikmati lagu-lagu favoritnya sambil melihat keadaan kota di pagi hari yang sudah ramai.
Orang-orang di sekitarnya nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Inilah yang Jeonghan sukai dari London. Ketika di Korea berjalan di jalanan pinggir kota hanya akan menjadi masalah besar. Ia hanya akan menjadi tontonan sepanjang perjalanan. Mungkin karena sosoknya yang feminim dengan rambut panjang sebahu yang dikuncir kebelakang menyisakan sedikit surai di depannya.
Tapi orang-orang disini tidak. Di negeri ini sangat leluasa. Kau bisa menemukan stylemu disini. Tapi tidak dipungkiri bahwa terkadang Jeonghan merindukan kehangatan keluarganya, Paman dan bibi Lee, juga Dino.
Jeonghan sampai di kampusnya. Berdiri di hadapan gerbang mewah dengan desain tahun 1800 yang masih dipertahankan.
"Han-ah!"
Jeonghan menoleh ketika sebuah suara memanggilnya, didapatinya seorang pemuda tampan mengenakan setelan celana jeans dan kemeja berwarna biru tua. Pemuda tersebut berlari menghampiri Jeonghan,
"Selamat pagi!" sapa Jisoo dalam bahasa Korea. Ia dan Jeonghan memang masih menggunakan bahasa Korea jika ngobrol berdua.
"Pagi, Jisoo-ah" balas Jeonghan menampilkan senyuman manis. Senyuman yang sangat disukai oleh Jisoo.
"Ayo masuk!"
Jeonghan dan Jisoo masih asyik mengobrol menuju kelas mereka ketika seorang pria menabrak Jeonghan dan membuatnya jatuh. Jeonghan merintih ketika pantatnya membentur lantai dengan cukup keras. Jisoo segera berjongkok menolong Jeonghan ketika pria di hadapannya ini malah berdiam diri di tempatnya.
"Aigoo..!" rintih Jeonghan, Jisoo membantunya berdiri dan merapikan bajunya.
Jeonghan mendongak melihat seseorang yang menabraknya. Dan demi tuhan! Ia melihat seorang boneka berjalan!
Tidak, maksudnya hanya kiasan. Tapi sosok, di depan Jeonghan benar-benar sempurna. Tinggi, tampan, menawan. Tidak ada kata-kata yang bisa Jeonghan jelaskan ketika melihatnya. Jeonghan masih terpaku di alam bawah sadarnya. Ia berhasil kembali ke dunia ketika mendengar suara Jisoo yang sedikit membentak ke hadapan pria ini.
"Hey, watch your step. Please! Don't think this corridor as your home" ucap Jisoo dalam bahasa Inggris.
Pria itu hanya berdecih sebal, ia melirik –atau menyeringai?— ke arah Jeonghan sekali lagi membuat warna merah naik ke pipi pemuda cantik itu.
Tanpa sepatah kata pun, pria itu pergi meninggalkan mereka berdua. Jisoo hanya bisa mencibir. Ia melihat punggung pria yang menggenakan kaus abu abu itu berjalan menjauh,
"Si aneh itu!" gumamnya.
Jeonghan menoleh ke arah temannya, "Kau mengenalnya?"
"Ya. Kau tidak apa?" tanya Jisoo kembali.
"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku!" ucap Jeonghan. Jisoo hanya diam sebentar, raut mukanya menampakkan mimik tidak senang terhadap perkataan Jeonghan. Jujur saja, Jisoo sudah lama menyukai sahabat cantiknya ini. Bisa dibilang love at the first sight. Dan selama ini, Jisoo tahu jika tidak ada seseorang, baik pria maupun wanita yang menarik perhatian bidadarinya. Tidak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa cemburu dalam hati Jisoo ketika Jeonghan menanyai tentang dia.
Kesadaran Jisoo kembali setelah Jeonghan menjentikkan jari lentiknya di hadapan wajah Jisoo, "Kok melamun sih? Ada apa?"
"A-ah itu . . . tak ada. Ada yang salah?" tanya Jisoo.
Jeonghan hanya mengerucutkan bibirnya kesal "Aku bertanya padamu tentang pria tadi, Mr. Joshua Hong. Kenapa malah melamun?!"
"Oh itu ermmm..." Jisoo mengelus tengkuknya, "Aku mendapat kelas yang sama dengannya ketika semester satu. Aku hanya tahu namanya, Scoups "
"Scoups?!" teriak Jeonghan membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh, selang beberapa detik mereka kembali berjalan dan sibuk di kegiatan masing-masing.
"Scoups? si jenius itu? Yang sekarang semester akhir itu?" ucap Jeonghan bertubi-tubi.
Jisoo mengernyitkan dahinya,"Kau tahu?"
Jeonghan menggelengkan kepalanya pelan."Tidak secara pasti sih. Tapi bukannya seluruh kampus membicarakannya. Dia bukannya selalu mendapat sempurna di semua pelajarannya?" ucap Jeonghan melanjutkan berjalan dengan Jisoo di koridor kampus.
"Tidak semua, itu dilebihkan. Yah, sebagian besar" ucap Jisoo.
Jeonghan hanya mengangguk-angguk. Entah apa arti anggukan itu. Tapi Jisoo tidak suka, Ia tidak suka melihat Jeonghan begitu terpesona ketika melihat . Bahkan orang bodoh tahu, tatapan Jeonghan ke memiliki sesuatu di dalamnya, entah apa.
Jisoo juga tidak suka cara menatap bidadarinya. hanya orang misterius yang bahkan tidak sampai 5 menit bertemu dengan Jeonghan. Tapi ia sudah berani mencuri perhatian bidadarinya. Jeonghannya. Sial!
"Ayo bergegas, kelas kita dimulai sebentar lagi!" ucap Jisoo menarik tangan Jeonghan.
Dan kedua pemuda itu berlari di sepanjang lorong untuk mengejar waktu yang tersisa sebelum kelas mereka dimulai.
.
.
.
Reincarnation or Illusion
.
.
.
Pemuda itu hanya bisa berjalan, menghindari perasaan mengganjal di hatinya. Bertahun lamanya, perasaan ini tak pernah ia rasakan. Hampir lupa? Tentu saja. Ia masih berjalan di koridor sekolah. Harusnya ia ada 5 kelas hari ini. Tapi, kakinya justru membawanya ke halaman parkir sekolah. Menyalakan mobil dan segera keluar dari kawasan ini. Bahkan ia sudah tak peduli dengan tasnya yang masih ia tinggal di Ruang Klub Kesiswaan.
Mobil audi hitam itu melaju cepat menembus atmosfer udara Inggris yang sudah mulai dingin. Musim dingin akan segera tiba. Sama sepeti waktu itu.
Scoups –nama pemuda itu— menyetir cepat di jalanan kota London. Di 15 menit pertama, kita masih bisa melihat keindahan kota Ratu Elizabeth ini dengan gedung arsitektur yang berseni tinggi. Beberapa menit berlalu, Keadaan sudah mulai sepi. Hanya jalanan lenggang yang disekitarnya pemandangan ladang penduduk. Ia mencapai sebuah desa di pinggir London Utara. Tempat kebutuhan pokok dihasilkan mulai dari gandum hingga wine lokal.
Mobil yang dikendarainya berhenti di sebuah bangunan tua yang megah dengan arsitektur Inggris zaman pertengahan.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan. Ia memasuki kastil itu.
"Angel!. .." teriaknya lantang. Pantulan suaranya terderngar beberapa kali sebelum gelombang suara itu menghilang.
Seketika muncul sosok perempuan menggenakan gaun kuno yang turun dari tangga. Sosok itu melayang-layang di udara dengan tubuh transparan. Pemuda tampan itu berlari mendekati sosok itu di tangga. Dia berhenti di depan sosok itu. Arwah wanita itu tersenyum kecil.
Scoups tidak bisa berkata lagi. Yang ia inginkan hanya membenamkan dirinya dalam pelukan sang kekasih. Menggenggam tangannya, merasakan pelukannya, mencicipi bibir ranumnya. Sayang itu hanya ilusi semata.
Sosok wanita itu mengulurkan tangannya untuk mengelus pipinya,
Dingin. . .
Hanya itu yang bisa pria itu rasakan. Seperti hembusan angin musim dingin yang sebentar lagi datang,
Sebuah suara terdengar di dalam kepalanya,
'Ada saatnya dimana kau akan membuka hatimu, Pangeran. Besi yang dibiarkan terlalu lama akan menjadi berkarat dan tidak bisa digunakan, Aku telah datang kembali padamu, saatnya kau untuk kembali memilikiku'
Seiring dengan suara itu terdengar. membuka matanya, ia melihat sosok lain di hadapannya, bukan Angel lagi, melainkan seseorang yang satu jam lalu ditemuinya. Sosok Jeonghan yang tersenyum kepadanya.
Kepala ingin pecah rasanya. Rasa sakit di kepalanya menjadi-jadi. Hampir satu millenia ia habiskan hanya untuk berdiam diri di kastil di pinggir London Utara. Merenung dan berpikir apakah ia harus tetap hidup. Ia memang bukan manusia, tapi keberadaan Angel menjadikannya memiliki perasaan hangat di hatinya.
Dan setelah bertahun ia membentengi dirinya sendiri dari sebuah perasaan. Tiba-tiba benteng itu runtuh hanya dengan beberapa detik menatap sosok pria itu. Perjuangannya untuk tetap menjadikan dirinya hanya milik Angel runtuh dalam waktu singkat.
"Fuck!" rutuknya kesal.
Pening di kepalanya semakin menjadi, kakinya terantuk anak tangga membuat badannya limbung dan jatuh dari tangga. Badannya berhenti berputar ketika ia sudah mencapai dasar.
Setiap kali mengingat peristiwa berabad – abad yang lalu, kepalanya seakan mau pecah. Menyaksikan kekasihnya harus berakhir di ujung tebing karenanya. Karena dirinya.
Harusnya ia masih bisa bangkit dan mencari asupan darah segar dari manusia – manusia bodoh itu di luar. Tapi ini berbeda, kakinya merasa lemas. Seluruh tubuhnya merasakan sakit luar biasa.
Scoups masih berusaha untuk bergerak, ia merangkak hingga ke ujung pintu dan membuka pintu kastil. Berhasil! Sekarang ia tinggal berjalan keluar dan mencari makan. Hanya sedikit lagi.
Seorang pria desa menggenakan kaus dan celana untuk bertani kebetulan lewat di depan kastil itu. Ia melihat di depan pintu kastilnya sedang terkapar tak berdaya
"Please, help me. . . " ibanya
Pria itu akhirnya menaruh beberapa barang bawaanya dan berlari menuju kesana
"What the hell is happened?" ucap pria itu.
Dengan segenap kekuatan terakhirnya, Scoups berhasil menarik tengkuk pria itu dan menancapkan taringnya di sana
"ARGHHHHH..."
Wajah pria itu perlahan berubah menjadi pucat, bibirnya mengering, matanya melotot, urat-urat biru kehijauan dapat terlihat jelas di permukaan kulitanya, suhu tubuhnya menurun seiring dengan keluarnya darah dari leher pria malang itu. Keadaan ini berbanding terbalik dengan Sang Pangeran Kegelapan. Wajahnya tetap pucat tapi keringat dingin yang sedari tadi mengucur hilang. Pupil matanya berubah menjadi keemasan. Tenaganya seiring kembali dengan asupan yang berhasil ia dapatkan.
Tubuh pria desa itu tersungkur tak berdaya. Mati. Kehabisan darah. memandang tubuh tak bernyawa itu, seketika tubuh itu menghilang menjadi butiran debu. Berterbangan dengan ukuran partikel yang tidak mungkin ditemukan kembali.
Scoups menuju mobilnya. Kunci mobilnya masih tergantung di sana. Ia menyetir dengan cepat. Kembali ke kampus untuk menemuinya secara langsung.
Membuktikan apakah reinkarnasinya benar-benar datang setelah berabad – abad atau hanya ada di ilusi pikirannya?
Ataukah dia hanya akan menjadi mangsa selanjutnya?
.
.
.
.
Reincarnation or Illusion
.
.
Sang Matahari bertemu dengannya. Sosok lain yang bisa mengalihkan perhatiannya. Sosok lain yang dapat menerima dan memantulkan cahayanya kembali, seperti sang bulan. Apakah itu Bulannya dulu? Dapatkah Sang Matahari kembali berdampingan dengan sang Bulan?
Akankah ia menerima cahaya Sang Matahari?
Atau justru terbakar habis karena panasnya?
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
.
Akhirnya bisa update juga. Lama kah? ada yang nugguin? #ngarep. Makasih semua atas dukungannya. Yang subscribe yang komen yang follow juga makasih juga yang semuanya lah. Maaf ini chapter cuma pendek pendek soalnya masih awal pertemuan. gak mau bikin panjang panjang biar gak terlalu ngebut kesannya. let it go~~~ let it go~~~~ #apaseh
Dan terakhir makasih dah ngikutin nih penpik. Semoga jeongcheol tetap di hati aminnnn. Oh iya ini ff kayaknya bakal lumayan panjang sekitar 10 chapter mungkin? Bisa lebih juga. Jadi jangan capek buat baca ya. Aku usahain buat update cepet. Semakin banyak dukungan kalian semakin cepet aku update wuahahahahahahahahahah *ketawa evil*
kotak dibawah ini diisi saran & kritik ya ^^*terbangbarengseungcheol*
