"A Life"

Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei

Rated : T

Pairing : SasuFemNaru

Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll

By : Yamashita Runa

Secercah sinar menyilaukan menerpa wajah cantik yang tengah terlelap itu. Matanya yang masih terpejam sedikit bergerak karena terpaan sinar matahari yang menyilaukan. "Ugh." Gumamnya. Perlahan iris shappire itupun terlihat. Warna iris yang mampu membuat siapapun luluh dan terhipnotis.

Ia pun melirik jam yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. "Jam 07.00? Huh,untung saja sekarang libur." Gumamnya lagi. Gadis bersurai pirang panjang itu pun akhirnya bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk yang tersedia dan segera masuk kekamar mandi.

.

Tak lama kemudian ia sudah selesai mandi,kini ia menguncir rambutnya dengan gaya pony tail,dan menyisakan beberapa poninya. Ia juga memakai baju santai,celana levis pensil pendek selutut dan baju kaos berwarna biru.

"Sudah siap." Ucapnya seraya membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan.

Setelah sampai diruang makan,Naru terdiam. "Loh? Kalian kok ada disini?" Ucapnya.

Semua pun menoleh kearah Naruto. Lihat saja yang sedang duduk dikursi makan itu. Hinata,Temari,Gaara,Kiba,Shikamaru,dan Neji. Mereka sedang asyik mengunyah sarapan pagi yang tersedia.

"Kemarin kami datang untuk menemuimu,Naru-chan. Tapi kamu sudah tidur." Ujar Hinata.

"Eh,benarkah?" Naruto memiringkan kepalanya,dan secara tidak langsung membuat semua wajah lelaki diruang makan itu memerah. 'imut' pikir mereka.

"Iya,Naru-chan. Makanya semalam mereka menginap disini,karena semalam juga hujan deras." Ucap Mikoto seraya memberikan Naruto beberapa potong roti dan mengelus puncak kepalanya.

Naruto pun tersenyum,ingin rasanya ia menangis. mereka semua begitu menyayanginya,begitu memperhatikannya. Semua itu adalah hal yang sangat berharga untuk Naruto.

"Ah—Ohayou,Sasuke." Sapa Mikoto saat pemuda berambut reven itu baru datang. "Ohayou." Balasnya singkat lalu duduk disebelah Naru. Mikoto pun kembali ke dapur untuk membantu para koki nya. Sementara Sasuke langsung mengambil roti yang sudah diberi selai milik Naruto.

"Eh—ambil roti bagianmu sendiri dong,Teme!" Hardik Naru seraya menggapai-gapai rotinya yang sudah berada ditangan Sasuke.

"Buat lagi aja sih,dasar Dobe." Ucap Sasuke.

"Gah!" muncul perempatan kekesalan Naruto di dahinya. Wajahnya memerah menahan marah,(menahan marah apa menahan malu,Naruu? xD) ia masih menggapai-gapai rotinya yang berada ditangan kanan Sasuke,namun dengan mudah Sasuke selalu menghalaunya.

Set..

Onyx dan Shappire bertemu,saat Naru hampir mengambil rotinya,namun ia hanya terpaku. Keduanya sama-sama terdiam,seolah terhipnotis akan warna iris mereka masing-masing.

'Teme—Dia,matanya—Sial,aku menyukainya. Eh? Apa? Ugh,Kami-sama..' Naruto menggumam dalam hati. Sungguh demi apapun,matanya tidak bisa berpaling. Jujur,ia sedikit terpesona. #Yakin nih cuma sedikit,Naru?# #URUSAAAIIII,LO AUTHOR!# *Dilempar sendal*

Hening..

Shikamaru,Neji,Kiba,Temari,Hinata,dan Gaara hanya menatap dua sejoli itu tanpa berkedip. Mereka merasa seperti menonton film romantis dibioskop. Bahkan Kiba menghentikan aksi mengunyah rotinya,dan lebih memilih fokus pada acara tatap-tatapan itu.

"Tadaimaaaaa!"

"Eh?"

"Rotiku!"

Yap,suara menggelegar itu membuat adegan romantis dibioskop itu harus luntur seketika. Dan roti Naruto pun terjatuh karena Sasuke yang sempat tersentak. "Dasar baka aniki!" Runtuk Sasuke.

"Eh? Sedang ada tamu?"

"Itachi-nii!" Teriak Naru seraya berhambur memeluk Itachi erat.

Sementara Itachi hanya tersenyum dan membalas pelukan Naru yang sudah ia anggap sebagai adik itu.

"Kau menginap disini lagi Naru? Ah,biar aku tebak,kemarin kau terlambat lagi masuk sekolah?" Ucap Itachi dengan sedikit mengejek.

Sementara Naruto yang mendengar ejekan Itachi lagsung melepas pelukannya dan merenggut. Ia menatap Itachi tajam. "Huh,iya! Kemarin aku terlambat sekolah! Dan penyakitku kambuh,dan aku dibawa Sasuke kesini! Kau dengar itu ITACHI-NII?!" Ucap Naruto dengan kesal. Namun ucapan Naru malah membuat Itachi tertawa lepas.

Naruto memejamkan matanya sesaat lalu menghembuskan nafasnya. Tak lama kemudian ia kembali menunjukan wajah dinginnya. Ia berbalik menuju tempat makan kembali,tentunya masih dengan wajah dinginnya.

"Huh,kau payah,Aniki." Gumam Sasuke. "Kalian sudah selesai sarapan kan? Ayo kita ketaman belakang." Ajaknya seraya menyeret Naruto. Sementara Naruto hanya terdiam dan mengikuti langkah Sasuke.

"Kita akan mendengarkan dongeng! Yeah!" Ungkap Kiba seraya mengikuti langkah Sasuke.

"Huh,dasar kau,Kiba. Mendokusei."

"Hn."

"Ck,diamlah,Kiba."

Temari dan Hinata hanya terkikik melihat teman-teman Sasuke. Ya,mereka fikir teman-teman Sasuke memang sangat menyenangkan.

Naruto dan Sasuke duduk di atas permadani rerumputan hijau. Rerumputan yang terlihat segar dan indah dipandang mata. Jangan lupakan pula pohon plum besar yang memayungi mereka dari sorotan sinar matahari. Kelopak-kelopak bunga mawar,anggrek,dan bunga lainnya sedang bermekaran membuat nyaman orang yang memandangnya. Percaya atau tidak taman keluarga Uchiha yang terlihat seperti taman kota itu dirawat oleh 10 tukang kebun yang terlatih merawat tanaman sehingga taman itu terlihat sangat indah.

"Wow." Gumam Hinata kagum saat memandang taman yang terhampar luas dihadapannya.

Yang lain pun begitu,mereka berjalan pelan ke arah Sasuke dan Naruto seraya memandang luas dan indahnya taman yang ada.

"Ekhem,Naru.. Kau berhutang penjelasan pada kami." Ujar Kiba seraya duduk disebelah kiri Naru.

"Huh,iya iya." Ucap Naru sekenaknya. Sebenarnya moodnya sedang jelek untuk bercerita tentang masa lalu nya yang kelam. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka semua sudah terlanjur penasaran.

Naruto memejamkan matanya sesaat. Lalu kembali membuka kelopaknya sehingga iris blue shappire itu terlihat kembali.

"6 bulan yang lalu aku pernah mengalami kecelakaan. Dan karena kecelakaan itu jantungku menjadi lemah." Ungkap Naru. Ia mengalihkan pandangannya,ia tidak bisa menatap wajah dan tatapan menyorot teman-temannya. Ini terasa berat bagi Naru,mengingat sesuatu yang ingin dikuburnya dalam-dalam.

"Waktu itu aku ceroboh,aku kabur dari rumah dan entah mau kemana. Aku tidak tahu jika Sasuke mengikutiku sejak dari rumah. Ia sudah ada dirumahku saat aku bertengkar dengan kaa-san dan tou-san." Naruto mengambil nafas dalam-dalam dan mulai melanjutkan kembali ceritanya. "Aku lengah,aku terlau sibuk menangis sehingga saat menyebrang aku tidak melihat truk besar yang tengah melintas cepat. Aku tertabrak,dan yang terakhir ku dengar hanyalah suara Sasuke."

"Sejak saat itu,aku sempat koma selama seminggu. Setelah sadar,yang kulihat adalah keluarganya Sasuke. Bukan keluargaku. Dan saat itu pula aku mulai tahu kalau jantungku bermasalah karena benturan keras." Tidak terasa butiran-butiran air mata jatuh dari persinggahannya. "Jantungku akan terasa sakit jika aku terlalu lama lelah dan mengeluarkan emosi yang sangat berlebihan."

"Aku tau,orang tuaku tidak menjengukku sama sekali karena mereka berada di Indonesia untuk mengurus perusahaan mereka disana. Tapi yang paling membuatku sakit,mereka bahkan tidak mau tau kabarku sama sekali." Lirih Naru.

Mereka yang ada disana kecuali Naru dan Sasuke hanya tersentak. 'Sebegitu tidak dianggapkah Naru oleh keluarganya sendiri?'

"Dan—Dan mengenai hubunganku dengan Sasuke—Aku mengaggapnya seperti keluargaku. Aku mempunyai hutang budi pada keluarga Uchiha." Lirihnya.

"La—lalu,bagaimana awal pertemuan kalian?" Tanya Shikamaru. Semua ini membuat otaknya bekerja keras karena pertanyaan yang banyak sekali muncul dalam otaknya. Bahkan ia tidak bisa merasakan kantuknya.

"Awal pertemuanku dengan Sasuke.." Naruto mulai mengingat-ngingat kembali saat 10 tahun lalu.

Flashback..

Jamuan hangat antara kedua kolega itu telah berjalan dari beberapa menit yang lalu. Jas-jas dan dress bermerek terkenal menjadi pembalut tubuh berwibawa mereka. jangan lupakan anak-anak mereka yang telah didandani juga dengan berbagai barang mewah pula.

Keluarga Namikaze dan Uchiha,kolega yang sudah terlihat seperti saudara dekat. Mereka hanya serius dalam pekerjaan,namun terlihat sangat akrab ketika bertemu dalam jamuan seperti ini.

"Kaa-san—Naru ingin pulang.." Rengek seorang anak kecil.

Sang ibu pun hanya mendengus dan melirik anaknya dengan tajam. "Bisakah kau lihat kita sedang bertemu kolega,Naru?!" Bisik sang ibu dengan penekanan disetiap katanya.

Sementara Naru hanya terdiam dan matanya sedikit terlihat berkaca-kaca. Lagi,ia dibentak oleh sang ibu.

Berjam-jam kemudian pun berlalu. Naru tetap duduk manis disofa itu,meskipun ia sebenarnya sudah lelah,waktu sudah menunjukan pukul 22.30. sudah lewat dari jam tidurnya.

Sekali lagi,ia mencolek sang ibu. "Kaa-san —Naru ingin pulang.."

Dan lagi—sang ibu menatapnya tajam. "Berhenti merengek,dan terus tersenyum Naru!" Bisik sang ibu dengan ketus.

"Ini pertemuan penting,Naru. Cobalah bersikap dewasa." Kurama menyela,sang ibu yang mendengarnyapun hanya tersenyum lembut kearah Kurama.

Cukup. Naru benar-benar gerah sekarang. ia bangkit dari sofanya,dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Hey,mau kemana kau?!" Teriak Kurama.

"Sudahlah,mungkin dia ingin ketoilet." Ujar sang ayah.

Sementara keluarga Uchiha malah terlihat khawatir akan keadaan gadis pirang itu. "Maaf Kushina,Minato. Apa kalian tidak menyusul Naru-chan?" Tanya Mikoto.

"Ah—tidak usah,dia sudah besar. Umm,bagaimana tentang perusahaan kalian yang berada di Amerika?" Jawab Minato mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Itu—"

"Kaa-san,Tou-san. Aku ingin keluar sebentar." Ucap Sasuke menyela ucapan sang ibu.

"Aku ikut." Ucap Itachi seraya mengikuti Sasuke keluar ruangan itu.

Sementara Mikoto hanya tersenyum melihat kedua putranya. Ia yakin,kedua putra nya pasti ingin menemui si bungsu Namikaze.

.

.

Mata onyx Sasuke menyusuri setiap sudut tempat itu,hingga akhirnya kedua kaki kecilnya mengarahkannya keluar kafe. Diluar kafe ada sebuah taman dan sebuah bangku. Dan bingo! Si bungsu Namikeze tengah tertidur dibangku itu.

"Aniki,kasihan sekali dia." Ujar Sasuke.

Itachi mengangguk. "Ayo kita kesana."

Sasuke dan Itachipun menghampiri Naru. Mereka melihat wajah Naru yang tenang meski terlihat beberapa jejak air mata dipipi chubby nya.

"Hey.." Sasuke mencoba membangunkan sang bungsu Namikaze.

"Ungh.." Iris blue shappire itupun terlihat. Kelopaknya terlihat sayu. "Ah—Uciha-san!" Ucap Naru seraya menggeserkan posisi tidurnya menjadi duduk.

"Sasuke. Panggil aku Sasuke."

"Umm,baiklah. Sa—Sasuke." Eja Naruto.

"Aku Itachi. Panggil saja Itachi-nii." Ucap Itachi seraya tersenyum lembut.

"Umm,ya. Itachi-nii." Ucap Naru senang.

Itachi dan Sasuke pun duduk disebelah Naru. Tidak ada percakapan lagi yang terlontar dari bibir mereka bertiga. Mereka hanya menatap kumpulan bintang yang terhampar jelas didepan mereka. sesekali Naru menguap. Matanya sudah sulit sekali untuk dibuka.

Buk..

Akhirnya,Naru tertidur lagi. Kepalanya sukses berada dipangkuan Sasuke.

"Eh? Hoy. Dia kenapa aniki?!" Sasuke gelagapan,dia takut anak pirang ini tiba-tiba mati. *dia tidur,Sasuke. Bukan mati -_- * Diem lu author! #ditimpuk sendal sama Sasuke.

"Ah—dia tertidur. Bagaimana kalau kita pulang dan sekalian saja bawa dia menginap dirumah." Ujar Itachi.

"Tapi,bagaimana kalau keluarganya tidak menginjinkan?"

"Kau tau kan bagaimana sikap orang tua Naru tadi? Kurasa mereka akan mengijinkannya."

Sasuke pun akhirnya mengangguk,ia sedikit mengusap lembut helaian pirang Naru yang tegah tertidur dipangkuannya.

Itachi segera mengeluarkan ponselnya,mengetikkan beberapa kata dan segera mengirimnya. Setelah selesai mengirimkan sms,Itachi membantu Sasuke membawa Naru. Sasuke bersikeras ingin membawa Naruto sendiri akhirnya ia membawa Naru dipunggungnya. Sementara Itachi menjaga dibelakang,takut-takut Naru nanti terjengkang kebelakang.

Sementara Naruto,ia terbangun. Namun ia hanya melihat rambut dark blue reven dan leher putih pucat. Rasa kantuknya tidak bisa ditolerir lagi. Ia hanya mengeratkan pegangannya dileher Sasuke dan kembali menyenderkan kepalanya dibahu Sasuke. "Arigatou,Suke." Gumamnya.

"Hn." Seulas senyum lembut terpantri diwajah tampan Sasuke. Ia senang,gadis pirang itu nyaman didalam gendongannya.

Itachi yang melihat semua itu dari belakang mau tidak mau tersenyum juga. "Sepertinya aku dilupakan disini." Gumamnya.

.

Fugaku yang tengah berbincang dengan Minato dan Kushina terpaksa melihat ponselnya yang sudah bergetar beberapa kali. Dilihatnya layar ponsel mahal itu dan tertera nama 'Itachi'.

From : Itachi

Tou-san,Naru kami bawa pulang. Ia tertidur ditaman cafe. Kurasa ia lebih baik tinggal dirumah kita.

Fugaku pun tersenyum kecil saat membaca pesan singkat dari putra nya. Ia segera menyimpan kembali ponselnya.

"Minato,Kushina. Naru-chan sekarang berada dirumahku,maaf kan putra-putraku yang membawa putrimu kerumah. Bagaimana kalau Naru-chan tinggal dirumah kami selama kalian berada di Jerman?" Ujar Fugaku tanpa basa-basi. Mikoto yang mendengarnya sedikit mengangkat alisnya heran.

"Ya,tentu saja. Kami tidak keberatan. Tapi apa tidak apa-apa? Naru sangat merepotkan lho." Ungkap Kushina seraya tersenyum.

"Tentu saja tidak apa-apa Kushina-chan." Balas Mikoto seraya tersenyum juga.

Yap,kita tinggalkan kedua kolega itu bercengkrama kembali tentang perusahaan mereka.

.

Beruntung,Supir pribadi keluarga Uchiha masih setia menunggu diparkiran cafe itu. Sasuke yang masih menggendong Naruto segera meminta bantuan untuk masuk ke mobil.

Setelah masuk kedalam mobil,mereka pun segera melaju menuju rumah mewah keluarga Uchiha.

Sepanjang perjalanan,kepala Naru tetap menyender dibahu Sasuke dengan nyaman. Sasukepun sedikit merasakan kantuk,sesekali ia memjamkan matanya,namun kembali membuka kelopak matanya. Tidak lupa dengan menguap yang tidak berhenti. Sasuke akhirnya lelah juga menahan rasa kantuknya,dia tertidur dengan kepalanya yang menyender dikepala Naru. #duh Runa bingung ngejelasinnya gimana?! Readers ngerti gak maksudnya gmana? Ngerti kan?!

"Huh,dasar bocah." Itachi terkikik geli melihat adiknya tengah tertidur lelap bersama gadis imut itu.

Flashback end..

"Haha.. Benarkah itu? Sasuke menggendongmu? Dan—Ugh awal pertemuan kalian sangat lucu sekali." Kiba tertawa geli,ia sampai memegang perutnya yang sakit akibat tertawa terlalu lama.

Duak..

Sepasang sendal Sasuke sukses mendarat dikepala Kiba. Sontak Kiba menghentikan tawanya dan meringis sakit. "Ittai!~~"

"Diam kau ,Kiba." Hardik Sasuke seraya melancarkan deathglarenya.

Kiba pun diam,nyalinya tiba-tiba ciut begitu saja.

Naru pun hanya terkikik. Ia ingin tertawa lepas namun ia tahan.

"Jangan tertawa berlebihan,Dobe." Ujar Sasuke seraya kembali menyenderkan tubuhnya dibatang pohon plum besar itu.

"Huh,ia aku tau,Teme." Naruto memutar bola matanya bosan. "Yah,mulai saat itu aku selalu menginap disini. Mengingat rumahku selalu sepi karena keluargaku yg tidak pernah ada dirumah." Naruto menarik nafas. " Yah,sebenarnya sifat cuek dan dinginku itu sedikit-demi sedikit berkurang saat aku bersama mereka."

Mereka pun hanya mengangguk mengerti.

"Um,Naru. Apa karena penyakitmu itu,sifatmu jadi berubah dingin seperti disekolah?"Tanya Hinata.

"Umm,mungkin." Naruto menghela nafas beratnya.

"Eh iya,kenapa kau dan Sasuke menjaga jarak disekolah?" Kiba bertanya. Mereka yang ada disana pun mengangguk menyetujui.

"Itu karena sewaktu aku masih SMP aku pernah dibully habis-habisan sama fans Teme itu." Jawab Naru seraya menunjuk Sasuke. Sementara Sasuke? Dia hanya mendelik dan kembali memejamkan matanya.

"Eh? Serius kau,Naru?" Temari tidak percaya,Narupun hanya mengangguk.

"Hu'um. Karena dulu aku memang sangat dekat sekali dengannya disekolah. Sampai-sampai para fans nya itu—Aduh." Perkataan Naru terhenti karena rambut ponytail nya tengah ditarik pelan oleh Sasuke. "Ittai,Teme!"

"Berhenti bercerita tentang hal itu,Dobe." Ujar Sasuke seraya melepaskan kunciran rambut Naru.

"Huh." Naru mendengus. Naru tau,Sasuke tidak mau masalah tentang fans-fans gila Sasuke diungkit-ungkit lagi. Akhirnya Naru pun hanya diam. Tidak ada lagi suara dari mereka ber-8,semua fokus akan fikiran mereka masing-masing. Hanya hembusan angin dan gesekan dedaunan yang terdengar diantara mereka.

.

.

Satu hari bersama Sasuke cs,Temari dan Hinata berlalu. Naru sangat merasa bahagia,sifatnya terlihat sangat berbeda ketika berada disekolah. Ia sangat menyenangkan,dan friendly.

Kini hanya tinggal Sasuke dan Naruto saja diruang keluarga. Mereka sama-sama sedang menatap layar televisi yang menayangkan berita.

"Kau tidak lelah?" Suara Sasuke sedikit membuat Naru tersentak.

Naru pun hanya tersenyum. "Tidak." Jawabnya singkat.

"Bisa kau jelaskan padaku,soal sudut bibirmu itu?" Ucap Sasuke pelan.

".." Naru membuang muka. 'Kenapa masalah itu lagi sih yang dibahas?' Ucapnya dalam hati.

"Kau menyembunyikan sesuatu dari kaa-san dan aku,Naru?! Apa salahnya menjawab pertanyaanku?" Suara Sasuke meningkat satu oktaf.

"Itu hak ku." Ucapnya dingin seraya pergi meninggalkan Sasuke yang tengah menatap nanar dirinya.

.

Naruto duduk dipinggir kasur queen size nya. Ia termenung,ia menatap figura dirinya dengan keluarga Sasuke. 'Kenapa selalu kalian yang mengkhawatirkanku?' Batin Naru.

Setetes air mata akhirnya jatuh dari peraduannya. Naru memejamkan matanya sesaat. Ia mengambil figura yang berada di atas meja kecil itu. 'Kenapa selalu kalian yang terlihat seperti keluarga ku sendiri?' Batinnya lagi. Kini air mata itu semakin mengalir deras,ia tidak bisa membendung sakit hatinya lagi kepada kedua orang tua dan kakak nya. Mereka yang sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.

Naru semakin menggenggam figura itu dengan erat,sampai kuku tangannya memutih. Ia tidak perduli rasa berdenyut sakit pada buku-buku kuku nya itu. Yang ia perdulikan hanyalah sakit hatinya dan cara agar suara isakan nya tidak terdengar.

'Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikan keluarga kalian? Selama bertahun-tahun aku selalu menyusahkan kalian.' Batinnya.

Tok..

Tok..

Ctek..

"Naru ayo kita makan kaa-san,tou—Eh?" Itachi terkesiap,melihat Naruto yang tengah menangis.

Sementara Naru hanya bisa terbelalak dan terpaku. 'Shit! Aku lupa mengunci pintu!' Runtuknya dalam hati.

"Kamu kenapa,Naru?" Ucap Itachi seraya menghampiri Naru yang tengah mengusap kasar airmatanya.

Naru menggeleng,ia meletakkan kembali figura itu kemeja kecilnya lalu berdiri. "Aku tidak apa-apa,Itachi-nii." Lirihnya.

"Apa karena ucapanku tadi pagi? Akh,maafkan aku,Naru. Aku hanya bercanda." Ucapnya penuh penyesalan.

Naru tersenyum lembut,meski sebenarnya ia sedikit sulit untuk tersenyum karena memar disudut bibir kanannya yang mulai membiru dan sakit sekali. "Tidak kok. Ayo kita makan." Ujarnya seraya melenggang pergi meninggalkan Itachi yang masih terpaku.

'Kau menyembunyikan sesuatu lagi dari kami,Naruto.' Ucap Itachi dalam hati. Ia pun segera menyusul Naruto kemeja makan.

Acara makan malam dirumah mewah Uchiha itu berjalan hangat. Sesekali terdengar canda tawa dan pasti nya adu mulut antara Naru dan Sasuke. Semua itu sudah biasa terjadi dirumah Uchiha kalu Naruto sedang menginap disana. Bahkan Fugaku pun sering tersenyum ketika Sasuke dan Naruto bertengkar karena hal sepele. Hal yang sangat jarang,bukan?

Keluarga Uchiha juga tidak membahas tentang luka memar disudut bibir Naruto. Mereka seperti sudah melupakannya begitu saja.

Acara makan malam itu tiba-tiba rusak ketika seorang pelayan tergopoh-gopoh mendatangi mereka. "Maaf,nyonya,tuan. Nyonya dan tuan Namikaze memaksa bertemu dengan anda." Ucapnya terengah-engah.

Mata Naruto membulat. Tou-san dan Kaa-san nya? Ada apa ini? Kenapa perasaannya tiba-tiba jadi tidak karuan?

Naruto melirik cemas kearah Sasuke yang berada disamping kanan nya. Merasa diperhatikan,Sasuke pun menoleh dan kedua pasang iris itu bertemu. Sasuke tau Naruto sedang cemas,ia segera menggenggam tangan kanan Naruto erat berusaha menyalurkan perasaan hangatnya agar Naruto tidak cemas lagi.

Mereka semuapun segera menghampiri sepasang suami istri Namikaze itu. Wajah Namikaze itu terlihat serius,ketika mereka melihat Naruto yang tengah berlindung dibelakang tubuh Sasuke.

"Kami ingin bicara dengan Naruto." Ucap Minato tegas.

Suara tegas Minato semakin membuat pegangan tangan Naruto pada Sasuke semakin kencang.

Hening..

Tidak ada pergerakan pasti dari Naruto,ia hanya memegang erat tangan kanan Sasuke dan berlindung dibelakangnya.

"Baiklah,sepertinya kau memang tidak bisa diajak kompromi,Naruto." Ucap Minato kembali. Naruto semakin menunduk dalam,ia benar-benar tidak berani menatap langsung mata Minato.

Minato menghampiri Naruto dan menggenggam erat lengan kirinya. Sementara keluarga Uchiha hanya diam,mereka tidak bisa mencampuri urusan keluarga Namikaze begitu saja. Dengan terpaksa akhirnya Naruto melepaskan genggaman tangannya pada Sasuke,dan dengan cepat Minato langsung menariknya keluar rumah Uchiha.

"Arigatou,sudah mengurus anak menyusahkan itu." Ucap Khusina ketus lalu beranjak pergi dari hadapa keluarga Uchiha.

"Aku takut Naru-chan kenapa-kenapa." Gumam Mikoto.

Yang lain pun mengangguk,sementara Sasuke segera berlari kekamarnya.

.

Tangan Sasuke mengepal erat. Ia menahan marah. Orang itu telah mengambil paksa Naruto dari sisinya. Ia tau,orang itu adalah orang tua Naruto. Tapi Naruto tidak pernah mengharapkan mereka untuk jadi orang tuanya. Mereka tidak bisa mengambil Naruto dari sini,Naruto lebih nyaman berada dikeluarga Uchiha. Sasuke tahu itu.

Sasuke merebahkan dirinya di ranjang empuknya. Fikirannya masih berputar soal keadaan Naruto saat ini. Apa yang akan dilakukan kedua orang tua itu pada Naruto? Dan apa yang akan dibicarakan Minato adalah tentang kepindahan Naruto ke Amerika? Ia menghela nafas beratnya,semua yang ia fikirkan membuatnya penat. Otaknya seakan hendak pecah saat ini juga.

Akhirnya Sasuke memilih untuk memejamkan matanya,berharap semua fikiran negatif nya pergi. Dan berharap Naruto tidak akan pergi dari sisinya.

.

.

Mata Naruto membulat,ketika ia mendengar penuturan dari ayahnya. Tubuhnya kaku,lututnya lemas seketika,ia jatuh terduduk.

'Aku akan meninggalkan Sasuke?' Ucapnya dalam hati.

TBC

Yosh,Runa kembali lagi dengan chapter kedua fic ini! :D Runa seneng bgt baca review dari para readers semua :D

Yosh,bagaimana kehidupan Naruto selanjutnya? Apa yang dikatakan Minato? Bisakah Naruto menemui kebahagiaannya? Tunggu Chapter selanjutnyaa!

Review.. Review.. Segala kritikan,saran,dan kawan-kawannya Runa tunggu ^o^

Thank's To:

rahmatzzz, Yuuki Chen, Kurogane Namikaze Dragneel, Azura AI-Rin, hime koyuki 099, fajar jabrik, yuki amano, KouraFukiishi, Yasashi-kun, SelfNamikazeUchiha, athena athiya, Amira Novalinda, Aoi Uzumaki, NuruHime-chan19, NShirayuki, puchan, Nauchi Kirika - Chan, DheKyu, hanazawa kay, kirei- neko, Miss Ara Nightmare, miira, uchiha hani namikaze, LNaruSasu, sfsclouds, mamitsu27, BlackRose783, Dan Guest.

Runa ucapkan terima kasih banyak. Runa sampai nangis bombay baca review kalian. :'D yang pasti Runa seneng banget karena banyak yang suka samap fic Runa :D Dan semoga di chapter ini pertanyaan kalian ada yang terjawab yah jaaa...!