Disclaimer: Narita Ryohgo
Rated: M
Warnings: OOC, gaje, fict amatiran. Lemon here, Dan lain-lain (?)
Story by: Chronos002
Summary: / "Aku mencintaimu" / "Yang kucinta hanyalah Shizu-chan" / "Mulai besok kita rival" / "Kita lihat saja nanti" / Delic hendak mengacaukan pernikahan Shizuo dan Izaya! Apa yang Delic rencanakan? Apakah rencana itu berhasil? Chapter two update!
Chapter 2: Accident
Sejak acara "lamaran" kemarin, hubungan Delic dan Shizuo semakin merenggang. Tidak saling sapa ketika bertemu, saling membuang muka, dan enggan untuk bicara satu sama lain. Izaya juga bingung kenapa akhir-akhir ini Shizuo uring-uringan terus.
"Shizu-chan? Kau kenapa? Akhir-akhir ini kau murung terus?" Tanya Izaya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Shizuo yang datar. Shizuo tidak merespon. "Shizu-chan?"
"…"
"Shizu-chaaan?" Izaya menatap Shizuo dengan lekat. "Shizu-chan? Halo? Kau dengar aku tidak? Shizu-chan! Hei!" Izaya berteriak di telinga Shizuo. Namun itu tidak membuat Shizuo merespon. Merasa kesal daritadi diabaikan, Izaya menempelkan bibir plumnya ke bibir Shizuo.
Shizuo perlahan tersadar dan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Merasa bibirnya menempel pada sesuatu yang basah, dia melirik ke bawah dan mendapati Izaya sedang melumat bibirnya dengan lembut. Shizuo tersenyum dalam kecupan singkat itu.
"Kau ini daritadi kupanggil kenapa tidak merespon sih!" Izaya memukul-mukul dada Shizuo, tentu saja dengan pelan. Shizuo hanya tertawa renyah. "Maafkan Aku Izaya… Aku hanya sedang… memikirkan sesuatu."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Bukan apa-apa." Shizuo tersenyum.
"Bohong." Izaya mengerutkan dahinya. Shizuo menghela napas lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Izaya. "Dengar. Bagaimana kalau malam ini kita bersantai saja di atas kasur? Dengan sedikit penerangan dari lilin beraroma lavender dan…"
"Diam! Aku sudah mengerti! Tidak usah diucapkan lagi!" jerit Izaya sambil membekap mulut Shizuo dengan kedua tangannya dengan wajah yang sudah semerah saus tomat. "Ahahaha, sudah jam delapan malam, bagaimana kalau kita lakukan sekarang?"
"… baiklah… tapi jangan matikan lampunya."
"Eh? Kenapa? Tak mungkin kan Orihara Izaya takut kegelapan?" kekeh Shizuo.
"Diaaam!"
Shizuo hanya tersenyum melihat tingkah laku Izaya yang seperti anak kecil. Melihat mulut Izaya yang terbuka karena sedang ngomel-ngomel, tentu saja Shizuo tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dilumatnya bibir tipis Izaya dengan lembut.
"Nnh.. Shizu…." Izaya membuka mulutnya. Lagi-lagi kesempatan emas. Shizuo melesatkan lidahnya ke dalam mulut Izaya dan menjelajah tiap sudut mulut Izaya. Izaya hanya bisa mendesah. "Shi..shizu-chan… kita sedang tidak di kasur…"
"Hn? Sekali-sekali kita lakukan di atas sofa boleh kan?" Tanya Shizuo sambil membuka satu persatu kancing kemeja Izaya. Izaya menggeleng cepat. "Tidak! Nanti pinggangku sakit! Pokoknya kita lakukan di kasur atau tidak sama sekali, titik!"
Shizuo hanya menghela napas lalu menggendong tubuh ramping itu menuju kamar tidurnya.
"Kalau besok bagian bawahku sakit, aku salahkan kau." Izaya mengarahkan telunjuknya ke wajah Shizuo seraya Shizuo meletakkan tubuh Izaya di atas kasur. Shizuo hanya mengangguk singkat, tampaknya tidak peduli. "Sampai dimana kita tadi?"
"Kau membuka kemejaku."
Shizuo tersenyum. Melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. Shizuo menatap lekat-lekat tubuh porselen Izaya. Ooh… betapa indahnya tubuh lelaki ini. Benarkah dia seorang lelaki?
Izaya sedikit merinding ketika Shizuo memainkan nipplenya. Merabanya, mencubitnya, menjilatnya, menciumnya, menggigitnya. Aah… seperti di mimpi saja. Shizuo membuka resleting celana Izaya sembari terus bermain di daerah dada Izaya yang datar.
"Shizu..chan… ah!"
Cukup untuk bermain di daerah dada. Sekarang Shizuo turun ke bagian perut. Sepertinya kutu ini harus makan 4 kali sehari. Kurus sekali tubuhnya, pikir Shizuo. Shizuo tersenyum ketika melihat kejantanan Izaya yang sudah mengeras dengan sempurna. Shizuo mengulum benda panjang milik Izaya.
"Hyaaahh!" Izaya memejamkan matanya dan mencengkram seprai kasur sekuat-kuatnya.
"Rileks, Izaya…."
"A-Ah ah! Shi-Shizu! Aaah~!" Izaya terus mengerang, mengerang, dan mengerang. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya. Shizuo hanya tersenyum nakal mendengar erangan seksi yang keluar dari mulut Izaya.
"Tenang, aku tidak akan memasukkannya kok. Kutunggu sampai honeymoon kita." Shizuo tersenyum jahil.
"Shizu-chaaan!" Izaya mendorong kepala Shizuo. Shizuo hanya bisa tertawa melihat wajah calon istrinya yang memerah seperti cabai itu. Senang sekali rasanya bisa menggoda uke. "Malam ini kau tidur disini ya?"
"Ya…"
Dan mereka berdua merapatkan diri satu sama lain untuk berbagi kehangatan. Shizuo menarik selimut yang tadi ditendang oleh Izaya. Menyelimuti dirinya dan lelaki mungil yang ada di dekapannya. Ciuman di dahi adalah ucapan selamat tidur untuk kekasihnya tersebut. Shizuo mematikan lampu dan menutup matanya dengan perlahan. Membawa dirinya ke dalam alam mimpi yang indah, yang tidak akan bisa terjadi di dunia nyata.
.
.
Jam 7.30
"SHIZU-CHAN! BANGUUUN!"
"WUAAH!" Shizuo terbangun dari tidurnya dengan cara yang kurang beradab. Kepala terbalik (kepala di bawah kaki di atas), di ujung bibirnya masih ada sisa-sisa liur bekas mimpi semalam, boxernya sedikit sempit. Sebenarnya Shizuo mimpi apa ya semalam?
"Apa-apaan kau kutu! Ganggu orang tidur saja!" protes Shizuo sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit karena terbentur lantai.
"Salah sendiri tidak mau bangun! Aku sudah membangunkanmu dari jam 5 pagi!"
Jam 5 pagi? Yang benar saja.
"Jam 5 pagi itu jam orang masih terbaring lelah di tempat tidur!"
"Tapi kan… Aku mau Shizu-chan sarapan bersamaku… Aku sudah harus berangkat jam 8 pagi…" Izaya mengusap matanya yang mulai berair. Tentu saja dia hanya akting. Tapi dengan bodohnya, Shizuo terpancing. Shizuo yang panik melihat uke-nya menangis, mencoba untuk menenangkan uke tercintanya itu. "Iya, iya aku bangun sekarang."
Izaya akhirnya berhenti menangis. "Aku sayang Shizu-chan!"
"Ya ya, aku juga menyayangimu." Shizuo mengecup singkat bibir tipis Izaya. "Jadi dari jam 5 tadi kau belum makan?" Tanya Shizuo.
Izaya mengangguk. "Begitulah…"
"Kau ini… Ayo cepat makan, nanti kau sakit."
"Iya iya, cerewet."
Kediaman Delic
"Delic-san, aku juga pusing kalau melihat kau yang mondar-mandir seperti itu." Keluh Tsugaru, kembaran Shizuo yang lainnya. Delic hanya bisa mengeluarkan tatapan kematiannya, Tsugaru pun diam.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau Izaya… Izaya akan menikah dengan monster itu!" geram Delic.
"Bukannya kau juga monster?"
"Aku tahu tapi… Apa bagusnya dia! Aku jauh lebih baik daripada Shizuo! Dari segi kekayaan, ketampanan… oke, sepertinya ketampanan perlu dicoret, ketenaran… dan… dan…"
"Dan apa?"
"Dan… Aku masih tidak mengerti kenapa Izaya…. Mau bersama monster itu!"
"Delic-san, memang wajah kalian berdua sama, tetapi, Izaya-san tahu mana yang lebih cocok untuknya. Kau tidak bisa seenaknya memaksa Izaya-san untuk bersanding denganmu…" Tsugaru menasehati Delic dengan kata-kata bijaknya yang seperti biasa.
"Tutup mulutmu Tsugaru! Aku sudah muak mendengar kata-katamu yang berjiwa nenek moyang seperti itu! Aku harus mencari cara agar Izaya mau menikah denganku!"
Tsugaru hanya bisa diam dan mencerna kata-kata pedas Delic. Sebenarnya dia juga menyukai Izaya tetapi Tsugaru lebih mengutamakan kebahagiaan Izaya daripada dirinya. Tetapi Tsugaru tidak ingin campur tangan dengan rencana busuk milik saudaranya sendiri.
08.45, wedding hall
Izaya tersenyum cerah dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang terbuat dari sutra berkualitas tinggi. Wajahnya yang cantik merona melihat sosok tampan yang sekarang berdiri di hadapannya. Bibir plum-nya terlihap mengilap karena olesan lip balm.
Shizuo sendiri juga terlihat sangat tampan dengan tuksedonya yang berwarna senada dengan gaun Izaya. Keduanya saling berpandangan sampai sang pastur memberikan mereka kesempatan untuk menempelkan bibir mereka. Tetapi…
"AKU KEBERATAN!"
Semua menoleh kea rah sumber suara. Delic.
"Kau! Apa yang kau lakukan disini! Aku bahkan tidak mengundangmu!" geram Shizuo. Delic mencibir. "Aku datang atas kemauanku sendiri! Aku tidak terima kalau Kau yang menjadi pasangan Izaya! Ini tidak adil!" balas Delic.
"Apanya yang tidak adil!"
"Kau yang tidak adil!"
"Kau menghancurkan pernikahanku!"
"Kau menghancurkan hidupku!"
Mereka berdua berdebat selama beberapa menit sampai suara lembut Izaya menghentikan mereka berdua.
"Kalian berdua! Hentikan perdebatan ini!" jerit Izaya sambil menatap kedua orang tersebut. "Shizu-chan! Apa maksud semua ini! Kau ingin mempermainkanku hah! Dan Delic! Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tak mencintaimu sama sekali! Jauhi aku! Aku tidak ingin bersamamu!"
"Tapi Izaya…!"
"Tidak ada tapi-tapian! Aku ingin bersama orang yang kucintai! Yaitu Shizu-chan! Apa kau tidak bisa berpikir bagaimana kebahagiaanku nanti jika aku menjadi istrimu!? Kau ingin membuatku menderita hah!"
"Izaya aku…!"
"SUDAH CUKUP! Aku tidak tahan lagi! Aku tidak tahan lagi!"
"Izaya!" teriak Shizuo dan Delic secara bersamaan ketika Izaya berlari meninggalkan gereja. Di luar sedang hujan. Izaya bersusah payah berlari sejauh mungkin dari gereja itu. Dia menangis. Dia berpikir. Dia kebingungan. Dia tidak tahan dengan kehidupannya.
"Shizu-chan…"
.
.
Ugh… jadi.. gimana nih readers? ;-; aah, pasti jelek ya… tapi! Tenang! Masih ada chapter 3 kok! Dan maaf udah menbuat para readers /yang membaca cerita ini/ menunggu lama… sekali lagi gomenasai! DX
