Selamat pagi/siang/sore/ malem semuanyaaa^^ ini chapter duanya udah update, semoga cukup panjang yaa :') hehehe, oh iya sebelumnya aku mau ngasih tau, disini ada OC dari Indonesia gitu hehehe okay~ happy reading~

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Genre : Romance/Friendship/Humor(mungkin?)

Warning: OOC / Typo parah/ Kayak sinetron(?)/ Alur Kecepetan

Chapter 2

Stalking Disaster

.

.

.

Sakura berjalan gontai melewati koridor sekolahnya, ia sanagt lelah hari ini. Pasalnya tadi malam ia benar benar menunggu Sasuke keluar dari rumah kardus itu, tentu saja untuk memastikan apakah Sasuke benar benar tinggal dirumah kardus itu atau tidak, dan nyatanya Sasuke tidak keluar keluar dari rumah kardus itu. Tentu saja badan Sakura pegal pegal, menunggu selama enam jam itu bukan hal yang mudah loh.

Sakura's POV

Ugh! Badanku pegal sekali! Untung saja tadi malam, bi Rani dengan baiknya mau memijitiku. Memang bi Rani- pembantu yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri itu the best deh!

Aku segera menaruh tasku dimejaku, tiba tiba seseorang menepuk bahuku dengan kencang. Tepukan yang (sangat) kencang itu sukses membuatku terlonjak dan meringis kesakitan, bertambah sudah rasa sakit yang ada dibadanku hari ini.

"Ada apa sih pig? Kau bisa membuatku mati mendadak bodoh!" Bentakku pada Yamanaka Ino sahabatku yang menepuk bahuku dengan kencang itu. Biarkan saja, rasakan itu pig! Hahaha.

"Iya, gomen tidak perlu membentakku kasar seperti itu dong forehead! Lagipula niatku kan baik, ingin mengingatkanmu tentang PR kimia. Sudah kau kerjakan belum?"

"sudah tidak perlu berbasa basi lagi pig, ada gosip apa hah?" Tanyaku langsung, tentu saja aku sudah tahu kalau Ino pig ini hanya berbasa basi. Pasti ada gosip yang ingin dibicarakannya denganku. Seorang stalker dan tukang gosip, kami memag cocok bukan?

"E-eh kau tahu ya?" Tanya Ino sambil menggaruk lehernya dengan jari telunjuknya. Dan ia mulai bercerita. "Eh Sak, masa ya blablablablabla…"

Aku tidak mendengarkan dan memperhatikan lagi apa yang Ino bicarakan, tatapanku terpaku pada suatu objek yang sedang duduk ditempatnya, laki laki berambut raven. Uchiha Sasuke, targetku. Kemudian, aku teringat lagi pada kejadian rumah kardus kemarin.

End of Sakura's POV

Sakura melamun sambil memandangi Sasuke dengan pandangan penuh simpati, ia kasihan pada laki laki itu.

"Woy forehead! Kau dengar tidak sih apa yang aku bicarakan?" Seru Ino membuyarkan lamunan Sakura.

"E-eh? Tidak ehehehe."

"Ah! Kau payah! Lebih baik aku menggosip dengan yang lain saja!" Tutur Ino berpura pura merajuk.

"Iya, iya gomen pig."

"Hmm, iya. Sudah aku maafkan kok. Akan tetapi, aku tetap ingin bergosip dengan yang lain Sakura hehehe sudah dulu yaa~" Ucap Ino da segera menghampiri segerombolan perempuan yang sedang duduk duduk dipojok kelas.

Tanpa pikir panjang, Sakura segera berjalan menghampiri tempat duduk Sasuke.

Sasuke memperhatikan gadis yang sat ini berada dihadapannya yang tengah menatapinya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

"Apa?" Tanya Sasuke datar.

"Err, apakah kau sudah sarapan?"

Onyx Sasuke menatapi Emerald Sakura dengan tatapan aneh. Ada apa ini? Tumben sekali Sakura menanyakan pertanyaan yang biasanya ditanyakan oleh fans Sasuke. Setahu Sasuke, Sakura bukan fans nya gadis itu memperlakukan Sasuke sama seperti teman teman yang lainnya. Lantas, mengapa Sakura tumben sekali menanyainya? Apakah sekarang ini Sakura adalah fans Sasuke?

"Belum." Jawab Sasuke singkat.

'Tuhkan dia belum sarapan. Kasihan sekali dia, menjadi tulang punggung keluarga sampai lupa makan. Apa jangan jangan… dia kehabisan beras dan tidak memiliki uang lagi?! Kami-sama.. sungguh berat kehidupan Uchiha ini.' Tutur Sakura dalam hati.

"Ka-" Sakura hendak mengatakan bahwa ia ingin mentraktir Sasuke dikantin ati, akan tetapi terpotog karena Iruka-Sensei sudah masuk.

.

.

.

Waktu istirahat telah tiba, seperti biasa kantin KIHS ramai dipenuhi anak anak yang ingin membeli makan siang. Bersyukurlah bagi kalian yang kesekolah membawa bento. Hanya melihat ramainya kantin ini saja membuat Uchiha Sasuke malas membeli makanan, ia pun hanya duduk duduk saja dikursi yang ada dikantin tersebut sambil menunggu Uzumaki Naruto yang masih berdesak desakkan di tempat yang menjual Kari.

Sasuke sedang duduk termenung sendirian dikursi kantin itu, tiba tiba seseorang menghampirinya. Gadis berambut bubblegum bermata emerald. Mau apalagi sih dia kesini?

"He-hey, ini aku ada makanan untukmu." Ucap Sakura seraya memberikan bungkusan makanan kepada Sasuke. Sasuke menaikan sebelah alisnya. "Aku tahu kok, apa yang terjadi padamu. Yang sabar ya Uchiha ! Pasti ini semua akan segera berakhir."

"Hah? Apa maksudmu?

"Sudah sudah, terima saja ini. Dimakan ya aku hanya takut kau mati kelaparan. Jangan sampai tidak dimakan, hargai aku. Aku membeli ini dengan uang hasil kerjaku sendiri loh." Kata Sakura dan segera pergi dari meja Sasuke tadi. Uang hasil kerjanya? Hasil dari menstalk tentu saja.

Sasuke masih tercengang dengan perlakuan Sakura yang (sangat) aneh hari ini. Apa sekarang Sakura benar benar menjadi fansku?

"Hey Teme! mengapa melamun seperti itu? Kau seperti orang bodoh tahu." Kata Naruto yang sudah duduk manis disebelah Sasuke.

"Aku bingung dengan perlakuan Haruno hari ini."

"Hah? Haruno? Haruno Sakura si stalker itu? Memangnya kenapa dia?"

" Aneh, apakah dia sudah menjadi fansku?"

Naruto terkekeh kecil mendengar Sasuke yang menurutnya rada narsis itu. " Tentu saja tidak Teme, memangnya dia aneh kenapa?"

"Tidak tahu Dobe, tiba tiba saja dia perhatian padaku tidak seperti biasanya."

"Perhatian? Hmm tunggu." Naruto berpikir sebentar. "Ah! Iya, apakah kau tahu kalau kau adalah target baru Sakura?"

"Hah? Target? Maksudmu?" Tanya Sasuke heran, apa maksudnya?

"Masa kau tidak tahu sih Teme, kemarin Karin meminta Sakura untuk menstalkmu."

Kemarin? Ah sepertinya Sasuke sudah mengetahui alasan Sakura yang perhatian padanya, karena kemarin kan Sasuke ke rumah kardus itu. Hmm, bagaimana kalau Sakura itu dimanfaatkan saja? Kan lumayan bisa menghemat makan siangku.

.

.

.

"Tadaima!" Seru Sakura Lantang, dengan segera ia mencari bi Rani diseluruh apartemen itu. Begitu ia menemukannya, langsung saja dipeluknya bi Rani itu.

"Okaerinasai Saku-Chan~" Sambut bi Rani dengan bahasa Jepangnya yang sudah lancar. Bagaimana tidak lancar? Ia sudah tinggal di Jepang selama sepuluh tahun, menemani majikannya tersebut. Kalau siang hari kan majikannya harus sekolah, kalau ada apa apa bagaimana nanti? Maka dari itu bi Rani belajar bahasa Jepang.

"Ehm, oh iya ada yang suatu hal yang ingin bibi katakan padamu Saku-Chan." Bi Rani mengatakan kata kata tadi dengan ekspresi serius. "Sebenarnya dari kemarin bibi sudah mencoba untuk mengatakannya padamu, akan tetapi tidak sempat sempat juga. Mungkin sekarang lah waktu yang tepat." Bi Rani menatap dengan intens pada kedua bola emerald dihadapannya. "Maaf Saku-Chan, sebentar lagi bibi harus kembali ke Indonesia." Kata Bi Rani pelan, takut membuat majikanya bersedih.

Kata kata terakhir yang diucapkan bibinya tersebut sukses membuat gadis musim semi tersebut membelalakan matanya. Ia menahan tangisnya, kalau bi Rani akan pulang ke Indonesia nanti bersama siapa ia akan tinggal disini? Apakah ia harus merasakan yang namanya hidup sebatang kara?

"Ke-kenapa bi?" Tanya Sakura dengan suara parau.

Bi Rani berdehem pelan. "Maaf, Saku-Chan bibi sudah lama tidak berjumpa dengan anak bibi." Jawab bi Rani dengan nada sedih. Memang, sepuluh tahun hanya mendengar suara anaknya dari jauh saja itu tidak enak, tentu saja bi Rani penasaran seperti apa anaknya sekarang. "Ta-tapi masih nggak tahu kok kapan, yang jelas bibi hanya tahu sebentar lagi."

"Tahu darimana bi? Hah?"

"Dari ayahmu."

"Oh. Orang itu." Ia malas membahas orang itu sekarang ataupun nanti.

"Oh ayolah Sakura, dia tetap ayahmu kau tidak boleh seperti itu." Ujar bi Rani menasehati.

"Oh, dia ayahku? Apa ada seorang ayah yang tega meninggalkan anaknya sendirian diapartemen ini?" Tanya Sakura sedikit sarkastik.

"Kau tidak sendirian Saku-Chan, ada aku."

Flashback

Jakarta, 28 April 2002

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Haruno, pasalnya Haruno Mebuki istri dari Haruno Kizashi ini meninggal dunia karena kecelakaan dijalan tol. Haruno Mebuki yang merupakan ibu dari Haruno Sakura ini adalah wanita blasteran Jepang dan Indonesia. Ayahnya Katsuragi Shota yang menikahi Zavinna Syailendra memutuskan untuk menetap di Indonesia.

Satu persatu orang yang datang melayat kerumah keluarga besar Haruno dan Katsuragi mulai pulang kerumah mereka masing masing, toh percuma juga kan. Yang sudah pergi tidak akan kembali lagi. Kizashi datang menghampiri kedua mertuanya, raut wajahnya menampilkan ekspresi orang yang terluka, tentu saja. Kizashi sangat mencintai Mebuki, dan kini wanita itu telah tiada.

"Ayah, aku ingin membawa Sakura dan bi Rani pergi ke Jepang." Ucap Kizashi memohon.

"Kenapa?" Satu kata itulah yang hanya mampu diucapkan oleh Shota saat ini, baru saja dia ditinggalkan oleh anak perempuannya dan sekarang ia akan ditinggalkan oleh menantu dan cucunya.

"Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian, Sakura masih berumur enam tahun. Tentu akan sangat merepotkan ayah dan ibu, mengingat dia masih kecil, labil, dan cerewet." Jelas Kizashi panjang lebar.

Shota berpikir sebentar, benar juga apa yang dikatakan oleh Kizashi ini dengan umur yang sudah tua, tentu Shota dan Zavinna tidak sekuat dulu. Akan tetapi, Shota akan mengalah. Biarkanlah Kizashi mengurus keluarganya saat ini, Shota yakin Kizashi telah memutuskan rencana ini dengan matang.

"Baiklah, jaga Sakura baik baik Kizashi."

.

.

.

Akan tetapi, sesampainya di Jepang Kizashi menurunkan bi Rani dan Sakura yang masih kecil disebuah apartemen yang telah dibelinya. Kemudian Kizashi meninggalkan mereka berdua sampai saat ini, Kizashi hanya mentransfer uang bulanan dan kebutuhan lainnya untuk menanggung kehidupan Sakura dan bi Rani di Jepang. Sampai saat ini, Sakura belum bertemu kembali dengan ayahnya itu.

Sebenarnya Sakura menjadi seorang stalker untuk menunjang biaya uang jajannya, ia mendapatkan uang jajan dari ayahnya akan tetapi ia tidak mau memakainya. Sakura tidak mau memakai apapun dari ayahnya.

End of Flashback

"Saku-Chan, itu sudah sepuluh tahun yang lalu ayolah aku yakin jauh di lubuk hatimu itu kau merindukannya, iya kan?

"Ah sudah ah, tidak usah dibahas bi! Aku ingin tidur siang saja!" Kilah Sakura cepat, sebelum bi Rani menasihatinya lebih lama lagi.

.

.

.

Satu minggu telah berlalu, Sakura menjalani hari harinya dengan mentraktir Sasuke dikantin setiap hari, tentu saja hal itu sangat membuat tabungannya terkuras. Entah kenapa, selama satu minggu itu Sakura merasa menjadi pembantu Sasuke disekolah.

Makan siang, Sakura yang mentraktir. PR? Sakura juga yang mengerjakan, dan kalau Sasuke membutuhkan sesuatu pasti dia memanggil Sakura. Bagaimana bisa? Awalnya sih Sakura hanya mentraktir Sasuke untuk makan siang, akan tetapi lama kelamaan malah menyuruh nyuruh.

Sakura adalah anak yang gampang kasihan kalau melihat orang lain kesusahan, kalau Sakura tidak mau mengerjakan apa yang Sasuke suruh pasti Sasuke akan berkata.

"Badanku sakit semua kau tahu, tinggal dirumah kardus itu sangat tidak enak."

Atau "Kemarin aku makan nasi basi yang kutemukan ditong sampah, aku sakit perut jadi tidak bisa mengerjakan PR."

Atau "Tinggal dirumah kardus itu sangat panas dan pengap." Untuk kalimat yang ini diucapkan Sasuke saat meminta Sakura mengipasi dirinya. Karena rasa kasihan itulah Sakura menjadi seperti ini.

Saat ini, Sakura sedang mengintai Sasuke yang sedang berada didalam butik mahal yang menjual pakaian Ellie Saab, Prada, Chanel, dan sejenisnya. Sakura heran, katanya Sasuke ini orang miskin? Bagaimana sih. Sakura bersembunyi dibalik mannequin disana, dapat dilihatnya Sasuke yang sedang bersama seorang wanita berambut hitam panjang dan bermata onyx seperti Sasuke sedang melihat lihat pakaian.

Karena terlalu lama menunggui wanita itu memilah milih baju, Sakura pun ikut melihat lihat baju yang berada disekitarnya, walaupun tidak mungkin untuk membelinya setidaknya untuk cuci mata tidak apa apa kan? Sakura terus melihat lihat sampai tidak sadar menginjak kaki seseorang yang tengah berdiri dibelakangnya. Dengan segera Sakura balikkan badannya , ups. Itu Sasuke.

"Go-gomen Uchiha." Ucap Sakura pelan sambil membungkukan badannya.

"Makanya, jalan pakai mata bodoh." Sebenarnya Sasuke sedikit terkejut mendapati Sakura yag berada dibutik ini, kan bisa gawat bisa membuat Sakura curiga.

"Apa kau bilang? Aku bodoh? Hey yang ada itu kau yang bodoh, dimana mana itu jalan pakai kaki bukan pakai mata!" Kata Sakura meninggikan suaranya yang sukses membuat orang orang disekitar situ melihat kearahnya dan Sasuke.

"Ah ta-" Ketika Sasuke ingin membalas Sakura tiba tiba Uchiha Mikoto- ibu Sasuke datang memotong mereka berdua.

"Ada apa ini ribut ribut?" Lerai Mikoto sambil menatapi anaknya dengan tatapan ngapain-sih-ribut-ribut-malu-maluin-aja.

"Ma-maafkan aku, mungkin ini memang salahku." Kata Sakura pelan, ia kan kasihan kalau Sasuke yang disalahkan. Sakura tidak tau saja kalau ia tidak perlu mengasihani Sasuke.

Mikoto mengalihkan pandangannya dari Sasuke ke perempuan berambut gulali dan bermata emerald ini. Tiba tiba saja matanya terbelalak.

"Ka-kau…."

TBC~

Hehehehe, gimana? Udah panjang kan? Maaf kalo alurnya masih kecepetan._.V oh iya hayoo kenapa tuh Mikoto kaget gitu? Hmm kenapa yaa? *ih gila ngomong sendiri._.* eh iya btw OC nya aneh yaa? Hohoho kenapa harus dari Indonesia? Nanti ada alesannya. Aku ngetik fic ini ditengah tugas dan mati lampu, jadi belum dibaca ulang rada susah soalnya dan kalau ternyata masih ada typo.. maafkan aku m(_)m hehehe :D last, review please…