"Izaya.. ahh.. kapan aku bisa bertemu dengannya, ya~"
Gadis bernama Kaizen Katsumoto itu menghela napas panjang setelah selesai dengan kegiatan online di sosial media favoritnya.
.
.
.
Durarara ©Narita Ryohgo
We… are... HERE! Chapter 2 © Kaizen Katsumoto & Kuroko Tetsuragi.
Rate: T
Genre: Adventure, Friendship, Mystery, Supernatural.
.
.
.
Ikebukuro
29th Januari 2015
Kaizen Katsumoto tak pernah menyadari bahwa kehidupannya akan berubah 180 derajat. Mengendarai sebuah motor hitam bersama seorang gadis bergolongan darah B yang dengan tenangnya menabraki jalanan trotoar. Tak peduli berapa banyak teriakan terdengar tatkala motor melaju bagai jet tempur berkecepatan ratusan kilometer per jam.
Semua berawal ketika dirinya dan Tetsuragi terdampar di Ikebukuro – tepatnya di dunia dalam anime Durarara! Ketika Kaizen dan Tetsuragi sedang mencari tempat untuk tidur dan seorang tak dikenal mencopet tas kesayangan Kaizen. Tetsuragi melempar sebuah tiang hingga mengenai sang pencopet.
Di sinilah semua berawal.
.
.
.
Ikebukuro - Raira Gakuen
28th Januari 2015
"Tetsu-chan... orang itu.. " ucap Kaizen terbata, iris kecoklatannya terpaku pada seorang pemuda tinggi berhoddie bulu yang pingsan tak jauh dari tempat mereka berada.
"Siapa?" Tanya Tetsuragi yang masih mengibaskan tangannya. Salahnya sendiri sih melempar tiang sembarangan.
"IZAYA ORIHARA!" Kaizen yang kalem itu tiba-tiba menjerit sejadinya ketika bertemu sang idola. "KYAAA!"
Dan kita lewatkan adegan fangirlingan.
.
Ketika tak tau harus berbuat apa pada informan jenius Ikebukuro itu, kedua gadis asing itu hanya duduk berjongkok menemani Izaya yang masih tak sadarkan diri.
"Apa yang harus kita lakukan padanya?" Tanya Tetsu menoel-noel pipi Izaya yang masih koma menggunakan pisau lipatnya. Mengabaikan darah menguar dari pipi Izaya.
Kaizen tampak berpikir keras, menimbulkan uap mengepul keluar dari kepalanya.
"Kai?" Tetsu mundur.
Sebuah bohlam lampu akhirnya menyala tiba-tiba di atas kepala hitam milik Kai, "Bagaimana kalau kita bawa Izaya ke tempat Shizuo! Lalu biarkan mereka melakukan piiip pip piiip-"
–Srat.
Sebuah sayatan mengenai pipi gadis berambut pendek di atas bahu yang belum sempat menyelesaikan idenya. Tercengang melihat 2 pisau tajam nyaris menggores pipinya.
"Piip yang kau maksud apa, ya?" Tanya Izaya yang sudah bangun, masih mengacungkan pisaunya pada gadis fujoshi.
"Ingat rate fict ini, Kai-kun." Tetsuragi mengancam dengan aura yandere, membuat Kaizen menelan ludah.
"A-aku menyerah.." Kaizen angkat tangan dan membuat simbol peace dengan kedua jarinya.
Seketika itu pula kedua pisau ditarik.
"Kalian siapa?" Tanya pemuda berhoddie.
"KurokoTetsuragi dan Kaizen Katsumoto." Jawab Tetsuragi dengan wajah datar, yah, padahal di dalam hati menjerit juga karena bisa ketemu Izaya. Dasar, tsun.. *dibacok*
Izaya mengamati kedua gadis di depannya. Senyuman terkembang di bibirnya secara misterius. Dia melemparkan sesuatu – tampak seperti kartu nama dan berisi sebuah alamat pada mereka. "Selamat datang di Ikebukuro~" setelahnya Izaya pergi dengan seringaian.
"Sepertinya dia merencanakan sesuatu pada kita. Dia juga sepertinya tahu bahwa kita bukan orang sini." Tetsuragi mengelus dagu seolah berpikir a la detektif konan.
"Siapa peduli dengannya kalo DIA TELAH MENGAMBIL TASKU!" teriak Kaizen. "Padahal itu isinya uang dan koleksi hvmvku~" rengeknya kelewat alay yang hanya ditanggapisweatdrop-ria oleh Tetsuragi.
"Aku akan mencari tempat tidur." Tetsuragi memasuki Raira gakuen untuk mencari tempat tidur. Meninggalkan Kaizen yang masih patah hati kehilangan koleksi-koleksinya.
.
.
.
Ikebukuro – Russian Sushi.
29th Januari 2015
07.50
Sesuai janji dan kesepakatan kemarin yang dilakukan Kaizen dan Tetsuragi, mereka berdua akan bekerja di Russian Sushi.
"Tetsuragi~ Kaizen~ selamat datang~" sambut Simon menggunakan nada khas-nya.
Kedua gadis itu buru-buru memasuki bangunan penjual makanan Jepang tersebut.
"Huwaa~ sushi…Asli Jepang, ya~ uhh, sudah lama aku ingin memakannya~" Kaizen langsung melihat berbagai macam sushi yang ada di dalam. Perutnya sedikit bergemuruh dibuatnya, nasib Tetsuragi tak beda jauh dengannya. Gadis yang biasanya memasang wajah tembok itu tampak mengamati satu demi satu sushi.
Wajar saja sedari kemarin mereka belum makan apa-apa.
"Kalian lapar~?" tanya Simon sudah berdiri di belakang keduanya.
"Ya." Jawab si uke jujur.
"Ahahaha~" Simon hanya mengeluarkan tawa renyahnya, dia menunjuk salah satu meja. Di sana sudah ada sepiring sushi siap makan. "Kalian makanlah dulu~"
"ASIK!" kedua gadis itu berteriak girang, mereka menyerbu meja makan dan melahap sushi yang ada.
Selesai dengan kegiatan lahap sushi, mereka diberi masing-masing baju seperti milik Simon sebagai tanda bekerja di Russian Sushi. Awalnya mereka berdua menolak keras.
"Aku mau tetap memakai bajuku!" ucap Tetsuragi sembari mengacung-acungkan pisau lipatnya, sementara tangan satunya mengangkat salah satu meja di dalam warung.
"Tidaaak! Jangan telanjangi aku~"
Oke. Abaikan teriakan gaje Kaizen yang kebanyakan nonton blue film.
Pada akhirnya memilik restoran sushi – yang berarti bos Simon mengeluarkan ultimatum tak akan menerima mereka bekerja di Russian Sushi kalau tak mengenakan seragam. Berkat itu, mereka berdua akhirnya memakai seragam juga.
Dan di sinilah mereka, menyebarkan pamflet sushi di jalanan Ikebukuro yang ramai dipenuhi lalu lalang manusia.
"Sushi! Sushi!" teriak Kaizen melemparkan pamflet ke jalanan.
"Sushi enak! Sushi lezat!" lanjut Tetsuragi melakukan hal tak jauh beda dengan Kaizen.
"Aku bosan." Ucap si seme beristirahat.
"Aku juga." Balas si uke sependapat.
"Seharusnya kita melakukan hal yang menyenangkan!"
"Bagaimana kalau kita berkeliling Ikebukuro?"
"Bego! Kita kan lagi kerja!"
"Ck, aku lupa."
Di tengah kebosanan yang melanda kedua insan itu, mereka melihat sebuah mobil dengan pintu bergambar anime berhenti tak jauh dari tempat mereka berada. Keduanya saling pandang.
"Kau tau apa artinya ini, Kai-kun?" tanya Tetsu dengan raut serius. Dibalas anggukan mantap dari orang sebelahnya.
"Koleksiku akan bertambah." Sambung Kaizen yang dihadiahi jitakan yahud.
Baru Kaizen mau memprotes, sebuah suara menghentikannya.
"Apa kalian karyawan baru di Russian Sushi?" tanya seorang pemuda pemakai penutup kepala.
"Kadota!" kedua gadis itu malah bersorak riang.
"Ha?" pemuda bernama Kadota hanya meng-ha menanggapi.
"Yai yai~ Dotachin terkenal dikalangan gadis~" seorang gadis keluar dari mobil yang tadi berhenti.
"Masaka… ini seperti di anime-anime harem dan Kadota jadi tokoh utama cowok yang diperebutkan banyak gadis?" Seorang pemuda lain berdiri di sebelah si gadis dan keduanya pun mulai membicarakan hal-hal berbau otaku.
Baik Tetsuragi maupun Kaizen sudah cekikikan sendiri menyadari siapa yang ada di depan mereka – Erika dan Walker. Kedua gadis pekerja itu pun mempersilahkan mereka memasuki Russian Sushi.
Mereka berdua kembali menyebarkan pamflet, sebelum sebuah suara benturan kasar menerpa pendengaran keduanya. Tak jauh dari sana, tampak sebuah vending machinemendarat di samping seorang pemuda tak asing. Sebuah pisau lipat dalam genggaman pemuda itu.
Sementara di sisi lain,
"III-ZAA-YAAA-KUUN!"
Sebuah teriakan penuh cinta terdengar diikuti sebuah pembatas jalan maupun rambu lalu lintas melayang brutal ke arah pemuda bernama Izaya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan… Ya. Heiwajima Shizuo.
"Ara~ ara~ Shizu-chan~ Kau selalu saja begitu~"
Izaya bergerak lincah menghindari berbagai benda keras yang dilemparkan sang seme. Membalasnya dengan melempar pisau lipat kesayangannya. Adegan selanjutnya adalah kejar-kejaran kucing-anjing paling fenomenal di Ikebukuro.
"Itu Izaya Orihara!" teriak Kaizen sembari mengabadikan momen terindah di sepanjang hidupnya menggunakan hp bututnya.
"Dan itu Shizuo Heiwajima." sambung Tetsu histeris tapi masih dengan muka datar.
Kaizen mengingat sesuatu tentang pemuda bernama Izaya yang kemarin baru ditemuinya. Kalau tak salah ingat tas berisi koleksi hvmvnya masih belum dikembalikan oleh Izaya.
"Ayo kita kejar mereka!" celetuk Kaizen menarik paksa tangan Tetsuragi hingga pamflet terjatuh dan tersebar di jalanan.
"Aku sih setuju saja, tapi kita masih bekerja, Kaijen!" seru Tetsuragi yang tak digubris oleh si seme.
Mendecak kesal, gadis itu melihat sebuah motor hitam tak asing di matanya. Dia menarik tangan Kaizen yang tengah menariknya.
"Kita naik itu!" ujarnya menunjuk motor. Kaizen mengangguk mengerti. Membiarkan Tetsuragi naik di depan sementara dirinya di belakang.
"Kejar!" teriaknya memberi perintah.
"Berisik!" Tetsu emosi.
Motor bergetar, melaju menabraki palang jalan.
"Apa yang kau lakukan, Tetsu-chan! Jalannya di sebelah sana! DI SANA!" Kaizen menunjuk-nunjuk jalanan beraspal di sebelah kanannya, namun motor itu malah berbelok ke kiri dan kanan, nyaris oleng menabrak beberapa pejalan kaki di trotoar.
"Aku baru pertama kali menaiki motor yang seperti ini!" sahut Tetsuragi.
"Apa?"
Belum sempat protesan keluar, motor malah melaju melewati dinding gedung
"Kyaaa!"
"Kyaaah!"
Teriak beberapa pejalan kaki yang menjadi korban.
"Baka! Tarik remnya!" Teriak Kaizen melihat sebuah tong sampah menjadi korban tabrak lari.
"Sedang kucoba! Tapi motor ini tak ada remnyaa!" Tetsuragi menekan-nekan kemudi tanpa rem.
"Awas ada orang lewat!" Kaizen memperingatkan, namun jangankan mengemudi Tetsu sekarang malah sibuk menajamkan telinganya.
"Apa kau mendengarnya, Kai-kun?" Tanya gadis itu tenang walaupun keadaan sudah genting.
"IYAA! AKU MENDENGARNYA! ITU ADALAH SUARA TAWA DEWA KEMATIAN YANG AKAN MENJEMPUT KITA!"
Sebuah tampolan indah bersarang di wajah si seme. Tak benerapa lama, Kaizen pun mendengar apa yang Tetsuragi dengar. Suara ringkikan kuda. Dan suara itu makin terdengar jelas berasal dari motor yang mereka kendarai.
"Jangan-jangan ini..."
Tetsuragi mengangguk. "Ini motor milik Dullahan! KITA KELILING IKEBUKURO MENAIKI MOTOR DULLAHAN YANG MELEGENDA!"
Mereka berdua terlalu girang sampai tak menyadari di depan mereka segerombol polisi menghadang dengan mobil patroli disertai sirine yang berbunyi memekakkan telinga.
"KALIAN BERKENDARA TANPA HELM DAN MELEBIHI KECEPATAN YANG SEHARUSNYA!" Salah seorang polisi lelaki tampak gagah berani menghadang di depan Kai dan Tetsu.
.
.
.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
